Latest News

Featured
Recent Posts

Monday, March 8, 2021

RAYAKAN HARI MUSIK NASIONAL, 9 MARET

*RAYAKAN HARI MUSIK NASIONAL,* 
*9 MARET*

*9 Maret adalah Hari Musik Nasional*
*Dengan bertemakan ´Musik Pemersatu Bangsa’ peringatan HMN 2021* patut kita renungi dan syukuri sambil berkontribusi untuk memajukan sektor musik tradisional. ´Tiada
Persatuan tanpa Kepedulian’.

*Nantikan di Konser7Ruang, DSS, mulai pukul 18.00 WIB s/d selesai.*
Didahului dengan webinar ‘Seputar Pemajuan Musik Tradisional’ melalui fasilitas Zoom, pukul 16.00 - 17.30 WIB. 

*PAPPRI, FESMI dan KONSER 7 RUANG mempersembahkan 56 Penampil Tanah Air. Didukung segenap organisasi, asosiasi dan komunitas musik Indonesia;* 

PAPPRI, FESMI dan KONSER 7 RUANG mempersembahkan 56 Penampil terbaik Tanah Air. 

*Didukung segenap organisasi stakeholders ekosistem musik Indonesia; LMKN, WAMI, KCI, ASIRI, LMK PAPPRI, RAI, PRISINDO, ARDI, APMINDO, ARMINDO, SMI, Musicblast, BPJamsostek dan PAREKRAF dan segenap sponsor.*

Prokes super ketat dimana ruang tunggu artis dimobil masing masing.
*Catet: Semua lagu ini tidak ada intrupsi iklan.*
*Full Album the Best - Lagu Tembang Kenangan* 
*Lawas Nonstop*
*Selamat Terhibur Bersama:*

*Catat: Video ini tidak ada intrupsi iklan.*
*Panbers,The Mercys , Dlloyd. Koes Ploes*
*LAGU.IniOK.com*
Lagu Nostalgia Seleksi Album Emas - Legenda Musik Indonesia
Lagu Nostalgia Seleksi Album Emas - Legenda Musik Indonesia

Ada Apa SBY-Moel ?

*Ada Apa SBY-Moel ?* 
Hendrajit, pengkaji geopolitik Global Future Institute dan wartawan senior. 

*Secara jurnalistik, fokus yang disorot oleh media harusnya hubungan antara SBY dan Moeldoko* dari masa ke masa. Khususnya ketika keduanya sama-sama bertugas di Kodam Jaya. Sehingga melalui konstruksi fakta-fakta masa silam keduanya, kita punya ruang untuk analisis maupun imajinasi, mengapa peristiwa yang begitu transparan dan vulgar itu sampai terjadi. 

*Ketika orang Jepang bilang jangan percaya pada sesuatu yang nampak terlalu jelas*, terlalu fokus menyorot istana (baca; Jokowi) versus SBY, meskipun itu terang-benderang sebagai pemantik pengambilan paksa atau hostile takeover seperti istilah yang dipakai dalam istilah perebutan kepemilikan saham perusahaan, namun kita tak akan dapat keterangan apa-apa baik secara faktual maupun secara imajinatif dalam menyingkap motivasi sesungguhnya di balik peristiwa yang orang jawa bilang ceto welo welo itu. 

*Mari kita telisik Moeldoko. Pada 1995,  Komandan Yonif 201/Jaya Yudha Komandan Yonif 201/Jaya* Yudha. Pada 1996, Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat . Pada 1999,  Komandan Brigif-1/Jaya Sakti Brigif-1/Jaya Sakti. 

*SBY, antara 1994-1995, Asisten Operasi Kodam Jaya, semasa Pangdam Jaya dipegang Hendropriyono.* 

Kalau ditilik dari kewenangan yang melekat pada jabatannya, Asisten Operasi merupakan posisi yang cukup strategis. Karena berwenang menyusun rencana strategis dan scenario building, kelak ini merupakan bakat utama SBY di kemiliteran. 

Pada 1995 jeda sejenak jadi Komandan Korem Pamungkas Jogyakarta, dan sekolah di Amerika, namun pada 1996 kembali ke Kodam Jaya. Kali ini sebagai Kepala Staf Kodam Jaya di bawah Pangdam Sutiyoso. 

*Pada momen SBY jadi Kasdam Jaya itulah, muncul peristiwa 27 Juli 1996* yang notabene rada mirip dengan kejadian KLB Demokrat di Medan minggu lalu. Sementara pada momen yang sama Moel pada 1996, Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat. 

Menelisik jejak karir SBY, nampak jelas Kodam Jaya merupakan kampung halamannya yang kedua setelah Kostrad, tempat SBY memulai meniti karir militernya. 

*Maka setelah SBY bertugas sebagai Panglima Sriwijaya Palembang, Moeldoko* pun beralih tugas sebagai sekpri Wakasad dan pos jabatan lainnya, namun 1999 kembali mudik ke Kodam Jaya, dan jadi Komandan Brigif-1/Jaya Sakti Brigif-1/Jaya Sakti.

*Menarikya lagi, saat SBY menjabat presiden, pada 2008 Moeldoko mengulang jejak jabatan strategis SBY di Kodam Jaya, jadi Kasdam Jaya*. 

Pada 2010, pada periode kepresidenan SBY yang kedua,  Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad TNI AD. 

Lagi-lagi Moeldoko menapak tilas   kesatuan yang jadi titik awal SBY meniti karir.  

Selain Kodam Jaya, Kostrad memang boleh dibilang ibarat daerah rintisan SBY mbabat alas karir militernnya:

Dan Topan Yonif Linud 330 Kostrad (1974 - 1976)
Dan Topan Yonif 305 Kostrad (1976 - 1977)
Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977 - 1978)
Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979 - 1981). 

*Moeldoko sendiri kemudian sempat jadi Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad TNI AD pada 2010.*  

Meskipun jabatan-jabatan strategis Moeldoko semasa SBY jadi presiden berada dalam kewenangan dan rantai komandan atasannnya langsung, namun pastilah sepengetahuan dan restu dari SBY. 

Kalau menelisik catatan karir militer keduanya yang sama-sama mendarahdaging di Kostrad dan Kodam Jaya, SBY dan Moel tidak mungkin hanya sebatas hubungan atasan dan bawahan, melainkan sepeti bapak-anak buah alias Patron-Client. 

*Sudah gitu keduanya sama-sama Jawa Timuran*. SBY asli Pacitan, Moel asli Kediri. Bukan berarti sukuisme, tapi teman sedaerah biasanya punya cita rasa atau taste yang sama. Dan kemistri psikologis yang nyambung. 

*Dan dalam dua peristiwa politik penting berskala nasional dan bersejarah, penyerbuan kantor PDIP Megawati di Diponegoro, maupun saat peralihan kekuasaan dari era Pak Harto ke era Reformasi pada 1999, baik SBY maupun Moel berada di rentang komando kemilteran yang sejalur. SBY sebagai Kepala Staf Teritorial TNI, adapun Moel komandan kodim Jakarta Pusat. Daerah jantung kekuasaan politik negara tempat mana istana berlokasi.* 

*Catatan singkat ini cukup diakhiri dengan satu pertanyaan singkat. Ada apa SBY-Moel,* sehingga hubungan yang begitu solid di masa lalu buyar begitu saja oleh sesuatu hal yang bersifat taktis seperti perebutan kursi kekuasaan partai? 

_*Benarkah Moel membuat kesalahan strategis yang begitu serius, atau diperintahkan untuk membuat kesalahan?*_ 

Keduanya yang sama sama pernah meniti karir sebagai perwira tempur, staf dan sospol, pastilah menghayati betul ungkapan berikut ini:

*"Sekali saja pemikiran strategi jadi kaku dan sombong, maka hasil gemilang di level taktis sekalipun, bakal jadi bencana di bidang politik."* 

Dengan kata lain, strategi yang salah akan menghancurkan tujuan politik. Padahal tujuan perang yang sesungguhnya adalah mencapai tujuan politik. 

*Dalam hal ini, SBY maupun Moel rasa-rasanya nggak masuk akal kalau tidak paham ini.* 

*Kembali pertanyaan laptop tadi. Benar-benar membuat blunder dan kesalahan, atau memang sedang mempertunjukkan kesalahan sebagai bagian dari alur cerita?*
NEWS.IniOK.com

SBY, DEMOKRAT & PDI. RAKYAT HARUS PAHAM SEJARAH KELAM MASA LALU, SOEHARTO MENERIMA KETUA PDIP SURYADI.


*SBY, DEMOKRAT & PDI. RAKYAT HARUS PAHAM* 
*SEJARAH KELAM MASA LALU, SOEHARTO* 
*MENERIMA KETUA PDIP SURYADI.*
*25 tahun yg lalu, PDI dibawah pimpinan Megawati direbut paksa oleh Suryadi, boneka pemerintah Soeharto melalui KLB di Medan. Akhirnya terjadi dualisme kepemimpinan. Ada PDI Megawati dan PDI Suryadi.*

Karena PDI Suryadi tak punya massa, pemerintah minta bantuan Yorris Raweyai dari Pemuda Pancasila untuk membawa massanya menyerbu markas PDI di jl. Diponegoro, Jakarta. ,

*Massa Pemuda Pancasila dibantu oleh tentara, menggunakan seragam PDI untuk berkamuflase agar wartawan memberitakan telah terjadi saling serang antar sesama kader PDI.*

*Peristiwa yg merenggut 5 korban jiwa dan ratusan orang yg luka berat & ringan itu, dikenal sebagai peristiwa Kudatuli, Kerusuhan Dua puluh tujuh Juli 1996*. 

Kerusuhan tersebut dirancang di markas Kodam Jaya, dipimpin oleh Brigjen Susilo Bambang Yudhoyono !!!

*Kini karma menimpa SBY.*
Partai yg dipimpin dia dan anaknya digoyang KLB. Di Medan pula..
Hari ini telah terjadi dualisme kepemimpinan di partai Demokrat. Ada Demokrat AHY, ada Demokrat Moeldoko..

*Akankah terjadi penyerbuan untuk merebut markas partai Demokrat di Jl. Proklamasi, Jakarta oleh Moeldoko yg di back up tentara ?*
Entahlah... saya tak mau berandai-andai..
*Yg pasti, SBY memakan buah dari perbuatannya 25 tahun yg lalu dg cara yg sama..*

*Menyakitkan, memang...*
News.IniOK.com

====================

*PERANG KILAT JENDERAL (PURN.)* 
*TNI MOELDOKO DAN KARMA SBY*

Oleh: Saiful Huda Ems.

*Luar biasa serangan kilat politik Moeldoko seorang mantan Panglima TNI jenderal bintang empat dan akademisi yang meraih gelar doktor ini, diluar dugaan banyak orang ia begitu cepat membuat mantan jenderal bintang tiga dan mantan presiden dua periode SBY dan putranya mantan mayor, yakni AHY terjungkal dari singgasananya di Partai Demokrat.* Serangan kilat politik yang spectakuler, mencengangkan banyak orang sebagai balasan atas fitnah SBY dan AHY yang ditujukan padanya. Hanya dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya aura kewibawaan mantan Panglima TNI ini mampu membelokkan dan menggerakkan para mantan loyalis SBY untuk datang ke KLB di Deli Serdang Sumetra Utara. Waowww...

*Serangan kilat ini mirip dengan strategi perang Jerman, Blitz Krieg, yang membuat negara-negara Eropa Barat dan Eropa Timur berguncang. Moeldoko sosok ahli strategi yang hebat sesungguhnya, bukan seperti SBY yang ternyata terbukti hanya sebagai mitos*. Moeldoko orang yang sangat kalem dan tenang, tidak seperti SBY yang nampak luarnya saja kalem namun sesungguhnya sangat reaktif dan emosional, hingga bidikan politiknya malah mengenai kepala banyak orang yang tidak tau menau soal internal Partai Demokrat. SBY bermaksud mencari simpati, namun hasilnya malah menuai caci maki dari banyak orang, yang selama ini terlanjur banyak tau sepak terjang drama sinetron politiknya.

*Partai Demokrat yang dahulu bisa diibaratkan dengan Panser kendaraan perang politik taktis yang pernah sempat menggilas suara partai-partai besar kelas menengah ke bawah, dan yang sempat membawa SBY menjadi Presiden RI dua periode itu, kini sudah berada di kendali tangan mantan Panglima TNI, Moeldoko!* Dan sebelum kejadian yang luar biasa ini terjadi, loyalis SBY berteriak-teriak histeris dengan mengancam bahwa Big Boss akan melakukan aksi demo ke istana jika KLB Partai Demokrat jadi diselenggarakan. Memalukan ! Rupanya Big Boss lupa, untuk mencari simpati atau dukungan Presiden dan rakyat itu harusnya menggunakan orang yang berintegritas, bukan orang atau politisi mantan penyabu dan penikmat mucikari. Bukan pula mantan narapidana koruptor Hambalang yang pernah beberapa tahun meringkuk di bui.

*Ketidak cermatan Big Boss dalam memilih penyambung lidahnya inilah yang mengakibatkan rakyat semakin muak pada Dinasti Big Boss, hingga kader-kader loyalisnya melarikan diri dan menyebrang ke Deli Serdang untuk kemudian menetapkan Dr. Moeldoko sebagai Ketua Umum partainya.* Dari berbagai pemberitaan 70 % lebih ketua-ketua DPC dan beberapa Ketua DPD masuk menjadi peserta Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat, mereka semua kompak menetapkan Dr. Moeldoko sebagai Ketua Umum hanya dalam hitungan menit tanpa ada satupun yang protes atau menentang ! Ruaaarrr biasa !. Dr. Moeldoko yang saat acara KLB tidak ada di tempat saja bisa memenangkan pertarungan politik yang dahsyat ini, apalagi jika beliau ada disana.

*Maka benar dan terbuktilah apa yang pernah dikatakan oleh Dr. Moeldoko sebagai jawaban atas tuduhan, teror dan intimidasi SBY padanya,"Jangan tekan-tekan saya karena selama ini saya diam. Kalau saya mau saya bisa melakukannya !".* Ya, Dr. Moeldoko benar-benar bisa melakukan itu, melakukan sesuatu hal secara kilat yang mampu membuat Dinasti SBY jatuh tersungkur melalui KLB Partai Demokrat ! Kendatipun demikian, Partai Demokrat dibawah kepemimpinan Dr. Moeldoko masih perlu menunggu proses lebih lanjut, yakni pengesahan dari Kementrian Hukum dan HAM RI. Dan jika nantinya Partai Demokrat dibawah kepemimpinan Dr. Moeldoko disahkan oleh Kementrian Hukum dan HAM RI, maka itu adalah karma besar bagi SBY yang konon pernah menyingkirkan Gus Dur dari PKB dengan meminjam tangan orang, serta konon turut menginstruksikan penyerbuan Kantor DPP PDI untuk mendongkel Megawati sebagai Ketua Umum PDI ketika SBY menjabat sebagai Kasdam Jaya. 

*Ada sebagian orang bertanya-tanya, apakah ini semua hanya sebuah strategi untuk menaikkan citra Dinasti Cikeas yang partainya sudah nyungsep alias tersungkur dari beberapa Pemilu terakhir?* Mereka menganggap dengan strategi ini citra Dinasti Cikeas dan suara partainya akan kembali terangkat, mengingat SBY selama ini dikenal paling mahir, piawai dalam memainkan stategi politik playing victim, hingga rakyat akan berbalik simpati padanya dan kembali ramai-ramai memilih partainya dan mendukung anaknya untuk jadi Capres 2024. Saya katakan, itu kecurigaan yang keliru besar ! Kenapa? Karena selain rakyat sudah sangat hafal "lagu lama" nya SBY yang seperti itu, rakyat juga masih belum puas untuk "mengejar dan menghajar" baik secara hukum maupun politik pada Dinasti Cikeas atas berbagai kasusnya di masa lalu dan yang terbaru. 

*Analisa berikutnya juga bisa saya sampaikan disini, bahwa pihak istanapun selama ini terlihat diam untuk merespon huru hara internal Partai Demokrat, ini semua tak lain sepertinya karena pihak istana tau, bahwa Dinasti Cikeas selama ini kerjaannya hanya membuat gaduh negara saja.* Sudah banyak proyek-proyek di masa kepemimpinan nasional SBY yang mangkrak, lalu negara harus menanggung hutang besar yang ditinggalkan SBY, eee...SBY tidak membantu pemerintah namun malah terus menerus mengganggunya. Kalau SBY Presiden bela, nanti Presiden dituduh intervensi. Kalau Presiden diam tetap juga akan dituduh ikut merekayasa KLB. Maka saya pikir, istanapun lebih baik memilih diam dan membiarkan SBY menerima karmanya sendiri, digilas pamor mantan Jenderal bintang empat, mantan anak petani dari desa yang miskin yang kemudian sukses menjadi Panglima TNI dan sekarang menjadi Kepala Staf Presiden RI ! 

*Sikap pihak istana yang diam seperti itu, merupakan pilihan dan sikap bijak yang rakyat kritis tunggu-tunggu*. Biarkan saja Dinasti Cikeas remuk karena kesombongan dan kebebalannya, karena Indonesia ke depan harus dipimpin oleh manusia-manusianya yang cemerlang, jujur dan siap mengabdi untuk bangsa. Itulah rahasia Presiden RI kita, yang sangat tepat dan jernih mempersiapkan kader-kader pemimpin bangsa selanjutnya. Tapi ini hanya analisa saya, pembaca silahkan mengeluarkan pendapatnya sendiri, sebab perbedaan pendapat yang ditujukan untuk kebaikan bersama adalah kunci sukses menuju Indonesia Raya yang jaya, maju, demokratis dan beradab ! Bravo untuk Dr. Moeldoko !...(SHE).
5 Maret 2021.
Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan pemerhati politik.



GANTIAN YUK.., Ini Hanya Bisa Mengerti Orang Yang Masih Hidup Dalam Sejarah Masa Lalu Brooo...Belajar Sejarah Agar Pahaaaaam.

 *GANTIAN YUK.., Ini Hanya Bisa Mengerti Orang Yang Masih Hidup Dalam Sejarah Masa Lalu Brooo...Belajar Sejarah Agar Pahaaaaam.*
https://news.iniok.com/2021/03/gantian-yuk-ini-hanya-bisa-mengerti.html
*GANTIAN YUK..*

*Masuknya Moeldoko di pusaran PD partai yg sedang lemah karena di pimpin oleh AHY yg notabene baru bisa manjangin kumis bukanlah acara iseng² dan bukan cuma mau menggoda SBY yg suka lebay. Ini kerjaan serius dan ada agendanya.*

Tapi ini bukan kerjaan mudah buat Moeldoko  karena di beberapa daerah yg pro SBY juga melawan, SBY sendiri seharian ini curhat dan mulai baper lagi. Makanya KLB itu juga singkatan dari Karena Loe Baper.

Kita lihat ntar apa yg dilakukan pemerintah, kalau akhirnya hasil KLB ini diterima pemerintah, maka makin jelas arahnya. 

Moeldoko tidak merubah arah angin tapi dia bisa menyesuaikan arah layarnya. Dia dekat dengan Jokowi dan sangat tau kemana Indonesia harus di bawa.

Tidak terlalu menarik membahas Demokrat apalagi kalau bcr SBY, itu sudah masa lalu, tidak akan merubah masa depan. Justru lebih menarik mengintip Moeldoko.

*Lahir di Kediri Jatim 8 Juli 1957 dgn 12 bersaudara, ayahnya pedagang biasa, ibunya ibu rumah tangga dan hidupnya pas²an, makanya sejak SD Moeldoko sudah biasa cari uang membantu orang tuanya, dia jadi kuli angkut batu dan pasir dari kali pada saat masih sangat muda, atau lebih tepatnya anak².*

*Moeldoko juga bukan jendral orba, karena saat Soeharto lengser 1998 dia masih berpangkat letkol. Sehingga kedekatannya pada jajaran jendral saat itu kepada Cendana tidak sempat mampir pada dirinya, walau hrs diakui aroma orba pernah merasuk pada suasana hati AD.*

Tamatan Akabri 1981 dgn predikat terbaik ini bertugas di infantri, pernah bertugas di Tim Tim, Singapura, Jepang, Kuwait, Irak, Kanada, dan Amerika. 

Doktor lulusan pasca sarjana UI dgn sangat memuaskan ini dididik sangat ketat pada keluarga yg pas-pasan, dia mirip dgn Jokowi pada kehidupan masa kecilnya, beda dgn SBY yg anak tunggal ayahnya seorang ABRI walau berpangkat Peltu saat itu tetap saja hidup lebih baik dari Moeldoko si kuli angkut batu dan pasir, karena orang tuanya warga biasa yg hidup bersahaja.

Kedekatannya dgn Jokowi kelihatan saat menjadi juru bicara keluarga pada acara mantu Kahiyang di Solo, kemudian di percaya menjadi Kepala Staff Keperisedenan sampai sekarang.

Intervensinya ke Demokrat itu test case, iseng² berhadiah, kl gak menang, minimal sudah membelah, dan PD pasti terbelah. Jadi kl MDK mau buat partai sudah ada pasarnya. Di tambah lagi serpihan dari partai lain yg belakangan juga pada kepanasan karena partainya hanya jd partai hiburan dan figuran.

Kenapa MDK harus buat partai, ini pastilah diketahui Jokowi. Ini juga rasanya (menurut mimpi Naga Bonar) ada hubungannya dgn 2024. Kalau Jokowi gak bs tiga kali karena blm tentu DPR setuju mengamandemen UU pemilu, maka harus disiapkan pengganti yg mumpuni sekaligus sehati agar bisa melanjutkan pekerjaan yg sdg berjalan. Dan pilihan itu ada pada MDK.

Kenapa MDK, dia salah satu jendral yg gak kemaruk, dia juga pebisnis yg tidak ambisius. Lagian tidak dekat dgn Cendana yg bisa membangkitkan kenangan lama.

Mengantisipasi kekuatan 2024, PS lah yg paling siap,  apa lagi kalau ada isu akan di sandingkan dgn Puan, maka bisa di tebak ada kekuatan dua partai besar yg sulit di hambat, sementara partai lain tidak ada jago yg mumpuni, semua nyaris kartu mati.

*Jokowi harus realistis, membiarkan pekerjaan yg sdg berjalan di tangan PS yg ambisius dan susah di kontrol, maka yg sudah ada bakal ambrol. PS bukan negarawan, dia pebisnis liar yg lama di asramakan di Cendana.*

Bagaimana Mega apakah dia bisa mengontrol PS, Wallahu a'lam, yg penting Puan bisa di orbitkan. PS adalah kawan dalam pertikaian, sekaligus pernah mencoba berpasangan. Entah apa yg dibicarakan, bahwa bekas mantu Soeharto yg pernah mezholimi Megawati masih bisa sehati, kita yg ngeri. 

*Apa PS bisa tunduk kepada Mega, atau dia pura² iya kemudian dia main sulapan, akhirnya Mega yg gelagepan.* 

Bagaimana menghadirkan MDK yg pasti tidak populer di partai, tapi dia dapat di percaya. Satu²nya jalan harus dibuatkan kenderaan, dan bila hal itu terlaksana serta ada campur tangan Jokowi, maka konstelasi politik bisa berbalik, magnet sang maestro akan menyedot perhatian dan pasar. 

Dan yg lebih utama buat kita adalah Jokowi bisa melepaskan ikatan dgn partai lama yg berbudaya nyaris sama. 

MDK adalah jembatan, antara persiapan anak muda yg mulai ada khususnya Gibran yg menjadi harapan, sekalian menjalankan kebiasaan gantian di pemerintahan antara sipil dan tentara, tapi bukan tentara ternakan orba.

Ingat, Soekarno dikudeta Soeharto Indonesia di bantai luar dalam. Soeharto di ganti Habibie, GUSDUR dan Megawati, ternyata hanya hadiah setengah hati karena kekuatan orba masih merata. 

*Masuk lagi SBY, kembali ke style orba, barang baru stok lama.* 

Hadirnya Jokowi barulah Indonesia kembali dari negara sapi perah ke negara bermarwah. Inilah yg harus di jaga agar Indonesia yg sedang menuju menjadi negara maju bisa melaju tanpa di ganggu. 

MDK menjadi pilihan paling aman buat Indonesia sambil menunggu anak muda yg sedang masuk kawah candradimuka. Ada belasan anak muda menjadi kepala daerah saat ini. Usia mereka antara 28-33 tahun.

Andai MDK menjabat satu priode mereka berusia antara 36-41 tahun, tapi bila dua priode maka usia mereka antara 41-46 tahun, masih cukup belia menjadi pemimpin sebuah negara maju dibelahan Asia dgn populasi 300 jutaan manusia. Itulah Indonesia.

*Selamat datang Pak Moeldoko sembari menjembatani persiapan anak muda.* Kami yakin Bapak masih tidak terkontaminasi ambisi yg bisa menjual Ibu Pertiwi.

*Tapi harus tetap waspada karena diketinggian terpaan angin bisa mematikan, atau kl masih sempat bisa keri'an.* 

Namun tetap hrs terjaga agar angin busuk tak bisa masuk.
#SelamatkanIndonesia



Sunday, March 7, 2021

PKS Tak Ubahnya Seperti Partai Komunis Indonesia (PKI).

 
PKS Tak Ubahnya Seperti 
Partai Komunis Indonesia (PKI).

*Prof. Dr. J.E. Sahetapy (81) menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tak ubahnya Partai Komunis Indonesia (PKI)*.

*Guru besar ilmu hukum Universitas Airlangga, Surabaya. yang terkenal dengan cara bicaranya yang pedas tanpa rasa takut kepada siapapun ini mengkritik gaya PKS selama menjadi kubu Prabowo.*

“Kalau kalian mengamat-amati PKI dan PKS secara mendalam, kalian akan menemukan kesamaan diantara mereka,” demikian tulis Sahetapy dalam akun Twitternya @ProfSahetapy.

Narasumber di TVOne, Indonesia Lawyers Club (ILC) ini memang rajin sekali meng-update cuitanya. Banyak hal menarik sehingga merasa perlu untuk memposting cuitannya tanpa menambah mengurangi dan merubah isi dan menafsirkannya.

Cuplikan cuitanya dilakukan pada tanggal Posting 25 Juli 2014 dari jam 17.06 hingga 21.00 sebanyak 142 kali cuitan yang membahas masalah serangan PKS kubunya Prabowo terhadap Kubu Jokowi sebagai kubu sarang PKI dengan #PKSvsPKI. Begini tweet @ProfSahetapy:

@ProfSahetapy 5:06 PM – 25 Jul 2014
Selamat sore, sekarang saya akan memberikan materi pencerahan. Semoga ini dianggap sebagai pencerahan bukan penyesatan.

Karena informasi yang beredar selama ini sebetulnya penyesatan dan memprovokasi karena dibonceng oleh kepentingan politik.

#PKSvsPKI 1. TM2000 pernah, sory.. bukan pernah, tapi sering menyebutkan kalau Jokowi adalah anak PKI. Alasannya apa?

#PKSvsPKI 2. Apalagi kalau bukan karena kepentingan politik. Bukan hanya itu, TM2000 juga mengatakan kalau partai A juga partai yg begini2

#PKSvsPKI 3. Partai yang selama ini dibela-bela oleh TM2000 sebetulnya adalah partai yang lebih menjurus kepada PKI.

#PKSvsPKI 4. Apa sih sebetulnya arti dari Komunisme yang sesungguhnya? banyak orang yang menganggap komunisme itu hanya sebatas paham Hitler

#PKSvsPKI 5. Sebetulnya defenisi komunis itu terletak pada keegoisan yang dibawakan oleh partai itu, meskipun partainya demokratis.

#PKSvsPKI 6. Kalau partainya egois dan hanya menganggap pahamnya saja yang benar, sama saja dengan komunis.

#PKSvsPKI 7. Partai Demokratis, partai Agamis, Partai Sosialis, Partai Nasionalis, Partai Komunis atau partai kue lapis itu sama saja..

#PKSvsPKI 8. Semua partai ingin berebut kekuasaan dengan cara pendekatan yang berbeda-beda, tapi intinya hanya satu. Kekuasaan.

#PKSvsPKI 9. Saya akan meminjam kata orang bijak: “Maling teriak maling”.

#PKSvsPKI 10. Kalau kalian mengamat-amati PKI dan PKS secara mendalam, kalian akan menemukan kesamaan diantara mereka.

#PKSvsPKI 11. Jangan memandang PKS hanya karena mereka membawakan misi agama yang anda percayai, anda salah besar.

#PKSvsPKI 12. Bagi anda Islam adalah agama, tapi bagi para politikus, agama adalah bisnis yang sangat menguntungkan.

#PKSvsPKI 13. Kesamaan yang pertama adalah Internasionalis yang dianut oleh PKI dan PKS. Internasionalis apa yang saya maksud?

#PKSvsPKI 14. Dahulu, PKI dianggap kepanjangan tangan Partai Komunis Uni Sovyet dan China. Pemikiran ini terus berkembang hingga sekarang.

#PKSvsPKI 15. Sama halnya juga dengan PKS yang merupakan perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin (IM) dari Mesir.

#PKSvsPKI 16. PKS mengambil IM versi Said Hawwa faksi Qiyadah Syaikh.

#PKSvsPKI 17. Cita-cita gerakan komunis agar tercipta keadilan distributif ala sosialisme di seluruh negri.

#PKSvsPKI 18. Sementara cita-cita PKS juga ingin menciptakan keadilan distributif ala Islam.

#PKSvsPKI 19. Sementara sudah jelas di Indonesia tidak hanya beragama Islam, tapi mereka ingin memaksakan semuanya sama.

#PKSvsPKI 20. PKI ingin menciptakan keadilan secara sosilis, sementara PKS ingin menciptakan keadilan secara Islamis.

#PKSvsPKI 21. Jadi PKI juga termasuk bagian dari partai Komunis yang ingin memaksakan dan menggeneralkan satu kebenaran menurut versi mereka

#PKSvsPKI 22. PKI tidak secara terang-terangan mengacu kepada gerakan Komunisme di Uni Sovyet maupun China. Demikian juga dengan PKS

#PKSvsPKI 23. Intinya kedua partai ini sama-sama ingin menyamaratakan masyarakat Indonesia dengan satu paham yang mereka anut.

#PKSvsPKI 24. Dalam piagam pendirian dan AD/ART tidak ada disebutkan PKS perpanjangan tangan IM dari Mesir

#PKSvsPKI 25. Meskipun demikian baik PKS atau PKI memiliki orientasi gerakan yang sama, gerakan Universal Internasionalis

#PKSvsPKI 26. Inilah yang menjadi masalah di Indonesia, apakah mungkin Indonesia disamakan dengan dunia luar?

#PKSvsPKI 27. Paham Universal Internasionalis ini tidak cocok dengan Indonesia, bagaimana mungkin Indonesia disamakan dengan agama Islam?

#PKSvsPKI 28. Paham Universal Internasionalis ini tidak cocok dengan Indonesia, bagaimana mungkin Indonesia disamakan dengan negara Komunis?

#PKSvsPKI 29. Itu sebabnya paham PKI harus dibersihkan dari Indonesia, demikian juga paham yang ingin menjadikan Indonesia jadi negara Islam

#PKSvsPKI 30. Paham Universal Internalis tidak cocok di Indonesia, apalagi pahamnya ini ingin memberlakukan peraturan dari salah satu agama

#PKSvsPKI 31. Ketika ada tokoh yang mengatakan memberantas paham ini, beberapa detik kemudian tokoh itu langsung dilabeli “Anti Islam”

#PKSvsPKI 32. Tidak ada yang anti Islam, para tokoh itu hanya anti paham Universal Internasionalis.

#PKSvsPKI 33. Kenapa ada orang yang mendukung paham yang dibawakan PKS? yaa.. karena orang itu beragama Islam, wajar kalau dia dukung.

#PKSvsPKI 34. Sayangnya tidak semua orang Indonesia yang beragama Islam, jadi paham universal ini tidak bisa diterapkan di Indonesia.

#PKSvsPKI 35. Jangan seenaknya dong menentukan peraturan dinegara seribu suku, seribu perbedaan, seribu keberagaman.

#PKSvsPKI 36. Ada partai yang melawan Universal Internasionalis di Indonesia, ketika partai ini bersuara, mereka langsung dituduh Komunis.

#PKSvsPKI 37. Ketika partai itu melawan, partai itu dituduh sebagai partai yang anti Islam. Kok anti Islam sih? mereka kan beragama Islam?

#PKSvsPKI 38. Sebetulnya kalian saja yang tidak paham apa yang diperjuangkan Partai yang menolak Universal Internasionalis itu.

#PKSvsPKI 39. Memaksakan hal yang berbeda menjadi satu paham bukanlah sesuatu hal yang bersifat positif.

#PKSvsPKI 40. Jika ada orang yang melawan PKS, mereka bukan melawan Islam, tapi mereka melawan Paham Universal Internasionalis. Catat!

#PKSvsPKI 41. Sebetulnya apa tujuan dari jaringan antar Komune (PKI) dan Ikhwan (PKS) ??

#PKSvsPKI 42. Tujuan mereka adalah untuk menjalin solidaritas dan persaudaraan lintas negara menjadi kuat.

#PKSvsPKI 43. Diluar partai masih ada ormas yang berorientas Internasionalis seperti Hizbul Tahir.

#PKSvsPKI 44. Sekalipun PKS membawa ajaran Agama, tapi mereka sebetulnya menggunakan cara-cara Komunis. Memaksakan kehendak.

#PKSvsPKI 45. Seandainya anda tidak beragama Islam, apakah anda setuju dengan ajaran yang ingin menjadikan negara ini menjadi Negara Islam?

#PKSvsPKI 46. dapat ditebak, anda juga tidak akan setuju dengan paham itu. Itu yang dilihat oleh partai yang menolak ajaran Universal itu.

#PKSvsPKI 47. Mereka sebetulnya bukan anti terhadap Islam, mereka hanya anti terhadap ajaran yang menyamaratakan perbedaan.

#PKSvsPKI 48. Saat partai anti yang universalis internasionalis ini bergerak, PKS pun menggunakan senjata Agama kepada masyarakat awam.

#PKSvsPKI 49. PKS langsung melabeli partai A dengan “Mereka anti Islam”. Anehnya, masyarakat Indonesia yg belum ngerti langsung percaya..

#PKSvsPKI 50. Sekarang saya akan membocorkan metode yang digunakan oleh PKS.

#PKSvsPKI 51. Partai itu – mau setengah mati dibilang paling agamis pun – tetap saja partai, bukan agama, apalagi Tuhan

#PKSvsPKI 52. Jadi kalau sudah melenceng jauh tidak perlulah dibela mati-matian dan dicari cari pembenarannya, sehingga fanatik buta.

#PKSvsPKI 53. Kalau anda membela mati-matian PKS, ntar malah jadi pemberhalaan loh.

#PKSvsPKI 54. Ini cara PKS berjaya menanamkan idealismenya kepada masyarakat Indonesia.

#PKSvsPKI 55. Giliran melobi, mendekati, dan seolah olah mendukung penguasa baru, ya Tifatul Sembiring jagoannya.

#PKSvsPKI 56. giliran Teriak-teriak sesuka hati – mau bilang sinting, mau bilang apa kek – alias mengumbar mulut bau ya Fahri Hamzah

#PKSvsPKI 57. giliran tebar pesona kepada khalayak ramai ya Anis Mata.

#PKSvsPKI 58. giliran ngritik tajam ya Hidayat Nurwahid..

#PKSvsPKI 59. Cara seperti ini mengingatkan saya dengan permainan catur. Masing-masing punya fungsi, punya langkah dan cara yang berbeda.

#PKSvsPKI 60. Namun tujuan akhirnya adalah memenangkan si raja hitam atau si raja putih. Inilah politik kawan..

#PKSvsPKI 61. Jangan harap PKS itu murni seratus persen membawakan ajaran Islam, justru mereka yg mencoreng Islam kawan..

#PKSvsPKI 62. Nanti kalau saya bilang gini, saya dituduh anti Islam, padahal saya bukan anti Islam, saya hanya anti paham Universalisme dong

#PKSvsPKI 63. Demikian juga partai lain yang melawan PKS, mereka bukan melawan ISLAM, mereka melawan IDEOLOGI Komunis yg ada dalam PKS

*#PKSvsPKI 64. Jaringan Internasionalis antar komune (PKI) dan ikhwan (PKS) menjadikan solidaritas & persaudaraan lintas negara menjadi kuat.*

#PKSvsPKI 65. Seperti PKI yang membantu mengembangkan gerakan komunis di Vietnam, dan merespon ketegangan blok soviet dan Amerika.

#PKSvsPKI 66. Demikian halnya dengan PKS, yang sangat cepat merespon HI Palestina bernama HAMMAS dalam perjuangan melawan Israel.

#PKSvsPKI 67. Makanya tak PKS lebih peduli dengan isu Palestina, ketimbangan isu Tenaga Kerja Indonesia di Arab yang menderita.

#PKSvsPKI 68. Karena PKS lebih terikat pada ideologi Internasionalis daripada ikatan ideologi Nasionalis. Apakah ini yang anda inginkan?

#PKSvsPKI 69. Padahal TKI yang menjadi korban di Arab sana, mayoritas Muslim.

#PKSvsPKI 70. Kalau ada ketegangan di Palestina misalnya, PKS seperti kebakaran jenggot. Padahal ada ketegangan di Indonesia..

#PKSvsPKI 71. PKS tidak perduli, mereka lebih memperdulikan Internasionalisme ketimbang Nasionalisme.

*#PKSvsPKI 72. Bukan hanya itu, mereka hanya memperdulikan orang yang berada dalam lingkupnya saja. Bukankah ini ciri-ciri komunis?*

#PKSvsPKI 73. PKS adalah komunis dalam kemasan agamais..

#PKSvsPKI 74. Untuk menunjang ikatan solidaritas persaudaraan, PKI membangun Poros Jakarta Peking.

#PKSvsPKI 75. Sedangkan PKS, membangun poros Indonesia Turki.

#PKSvsPKI 76. Selain membangun komunikasi juga membuat program pendidikan para kader.

#PKSvsPKI 77. Persis dengan PKI yang mengirim kadernya untuk belajar di Universitas di China, Moskow, Prancis dan negara Eropa lainnya.

#PKSvsPKI 78. PKS pun mendapat jalan untuk mengirimkan kadernya untuk belajar di berbagai Universitas di Timur Tengah dimana IM ada disana.

#PKSvsPKI 79. Saat ini IM cukup berkembang di Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Turki, Arab Saudi, Yaman dan Sudan. Oopps.. Yordania??

#PKSvsPKI 80. Sekedar informasi, Saat pendirian awal PKS pada tahun 1998, IM dari negara di Timur Tengah banyak membantu pendanaan..

#PKSvsPKI 81. Baik PKI ataupun PKS sama-sama lebih mementingkan Internasionalisme dan sistem sekutu-sekutu.

#PKSvsPKI 82. PKS berusaha mencari sekutu dari negara Islam. Tidak masalah memang paham Internasionalisme, tapi utamakan Nasionalisme dulu.

#PKSvsPKI 83. PKI, PKS, Komunis, Agamis punya musuh bersama. Paham ini yang menjadi dasar pemikiran Internasionalis PKI dan PKS.

#PKSvsPKI 84. Siapa musuh mereka? kita semua sudah tau. Tak perlu dijelaskan lagi..

#PKSvsPKI 85. Perbedaan ideologi memacu ketegangan antar blok dunia.

#PKSvsPKI 86. Meskipun Indonesia secara nyata berada pada posisi Non Blok, akan tetapi karena pengaruh PKI.

#PKSvsPKI 87. Sukarno sering menyerang kebijakan Amerika dan Inggris karena PKI menerima semua masukan dari orang Indonesia, termasuk PKI

#PKSvsPKI 88. Kebencian komunis terhadap Amerika dan Inggris, sama dengan partai komunis di negara manapun.

#PKSvsPKI 89. Mengapa anda membenci Amerika dan Inggris? ya itu dia.. dalam otak anda masih tersisa ajaran-ajaran PKI.

#PKSvsPKI 90. Demikian juga dengan PKS, yang memandang Amerika dan Israel sebagai musuh bersama.

#PKSvsPKI 91. Dimanapun IM berada dan di negara manapun itu, musuh mereka tetap sama. Musuh IM tetap Amerika, Inggris dan sekutunya.

*#PKSvsPKI 92. PKI dan PKS berusaha menanamkan ajaran yang Internasionalis kepada anda*.

#PKSvsPKI 93. Sementara partai Nasionalis ingin mengajak anda mementingkan Indonesia dulu, baru mementingkan Internasional.

#PKSvsPKI 94. Bendera PKS mengajak anda adalah Bendera Agama.

#PKSvsPKI 95. Inilah yang menjadi dilema bagi masyarakat Indonesia, mengutamakan Internasionalisme atau Nasionalisme?

#PKSvsPKI 96. Untuk identifikasi musuh, maka diciptakan jargon bersama.

#PKSvsPKI 97. PKI menyebut Amerika dan sekutunya sebagai bahaya Imperialisme

#PKSvsPKI 98. Sedangkan PKS & IM menyebutnya sebagai bahaya Zionis. Jelas sekali PKS dan PKI punya misi menghancurkan musuh yang sama.

*#PKSvsPKI 99. PKS & PKI termasuk Komunis juga sebetulnya, hanya saja mereka dalam kemasan yang berbeda, yang satu Sosialis, yang satu Agamis*

#PKSvsPKI 100. Jargon PKI dan PKS itu sama dinegara-negara yang menganutnya, Secara tidak langsung menunjuk pada sasaran yang sama.

*#PKSvsPKI 101. Sasaran PKS dan PKI adalah Amerika, Israel, Inggris. Sudah jelas.. PKS dan PKI punya musuh yang sama.*

*#PKSvsPKI 102. Seperti itulah cara PKS dan PKI untuk melawan musuh Internasionalnya. Lalu bagaimana dengan menghadapi Musuh dalam negeri?*

#PKSvsPKI 103. Untuk musuh di dalam negri, mereka biasa menyebut dengan istilah “antek atau agen”. Voila.. terbongkar sudah..

#PKSvsPKI 104. PKI menyebut antek atau agen Imperialis, sedang PKS menyebunya antek atau agen Zionis.

#PKSvsPKI 105. Siapapun orang atau organisasi yang dianggap PKS dan PKI sebagai musuh, maka akan keluar stigma Antek asing..

#PKSvsPKI 106. Saya membenarkan kalau ada gerakan Zionisme, tapi sebetulnya itu mengacu pada kekuasaan yg ingin diciptakan oleh USA.

#PKSvsPKI 107. Sayangnya negara/gerakan yang tidak sepaham dengan paham Imperialis hanyalah Komunis… hanya kedua paham ini yg ada.

*#PKSvsPKI 108. Kalau PKS dan PKI membelot dan menolak Amerika, artinya PKS dan PKI adalah….. (Jawab sendiri)*

*#PKSvsPKI 109. Yang terjadi di Indonesia, TM2000 menyebut Jokowi agen Asing. Artinya TM2000 itu kalau tidak Komunis, pasti PKS.*

*#PKSvsPKI 110. Baik PKI dan PKS tidak menyukai hal yang berbau “barat”, TM2000 juga seperti itu.*.

*#PKSvsPKI 111. Bagi mereka barat identik dengan Liberal. PKI sering menuding pejabat negara dengan hidup mewah dicap sebagai prilaku Liberal*

*#PKSvsPKI 112. Demikian juga dengan PKS yang sering menuding orang dengan cap serupa: Liberal.*

*#PKSvsPKI 113. Diantaranya menuding Liberal kepada media massa. Padahal senyatanya prinsip kebebasan pers hanya tumbuh di negara demokratis.*

#PKSvsPKI 114. Hanya negara yang otoriter yang membatasi ruang kebebasan pers.

#PKSvsPKI 115. Ketika Uni Soviet berhadapan dengan sekutu yg dipimpin oleh Amerika dalam perebutan Jerman tahun 1945

#PKSvsPKI 116. maka saat itu juga, kebencian terhadap Amerika dan sekutunya lahir dan menyebar luas dinegara komunis.

#PKSvsPKI 117. Kebencian Uni Soviet terhadap Amerika ditularkan gerakan komunis di Indonesia.

#PKSvsPKI 118. Demikian juga dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang secara langsung terlibat perang di Palestina melawan Israel.

#PKSvsPKI 119. Kebencian terhadap Israel zionis Amerika, ditularkan juga ke Indonesia melalui ajaran PKI dan PKS.

#PKSvsPKI 120. Padahal kalau kita menelisik sejarah, musuh Indonesia adalah Belanda, Jepang dan NICA Inggris.

#PKSvsPKI 121. Kok bisa yah secara tiba-tiba kita membenci Amerika? Belum pernah bangsa Indonesia berkonfrontasi langsung dengan Amerika.

#PKSvsPKI 122. Inilah paham yang disebarkan oleh PKS dan PKI. Aneh kan orang Indonesia lebih membenci Musuh Komunis daripada musuh Nasional?

#PKSvsPKI 123. Padahal Amerika yang membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang dengan cara tidak langsung.

#PKSvsPKI 124. Kalau seandainya Bomb tidak jatuh di Hirosima dan Nagasaki, tidak akan pernah terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia.

#PKSvsPKI 125. Tapi inilah paham yang diajarkan PKI dan PKS. Kita diajak untuk memusuhi musuh Komunis. Musuh komunis siapa?

#PKSvsPKI 126. Siapa lagi kalau bukan Amerika?

#PKSvsPKI 127. Namun bibit permusuhan dengan Amerika dibawa oleh komunis Soviet, maka PKI pun mengangap sebagai musuh bersama.

#PKSvsPKI 128. Demikian juga Israel belum pernah terlibat konfrontasi langsung dengan Indonesia.

#PKSvsPKI 129. Tapi secara misterius Indonesia langsung membenci Israel, hanya karena agama.

#PKSvsPKI 130. Ingat, agama anda sudah dimanfaatkan oleh para komunis untuk melawan Amerika.

#PKSvsPKI 131. Saya bukan orang Komunis dan juga bukan Imperialis, saya netralis.. saya hanya pengamat..

#PKSvsPKI 132. Sebaliknya, PKI tidak pernah menjadikan zionis atau Israel sebagai isu yang menyulut api permusuhan.

#PKSvsPKI 133. Demikian juga dengan PKS, tidak pernah menjadikan komunis Soviet (Rusia) dan China, sebagai isu permusuhan

#PKSvsPKI 134. Padahal jika dilihat ajaran komunisme dianggap ateis atau tidak mengakui adanya Tuhan.

#PKSvsPKI 135. Itu sebabnya saya mengatakan kalau PKS adalah Komunisme dalam kemasan yang berbeda, mereka komunis dalam kemasan Agamais.

#PKSvsPKI 136. PKI dan PKS sangat kaya perbendaharaan kata untuk memberi stempel bagi musuh-musuhnya.

#PKSvsPKI 137. Dahulu ada cap seperti kaum sarungan, tuan tanah, feodal, kapitalis birokrat (kabir), sekterian, revisionis, anti rakyat.

#PKSvsPKI 138. Kalian anak muda yang membaca Twit ini mungkin tidak akan tau dengan sebutan-sebutan ini, karena belum lahir.

#PKSvsPKI 139. Sekarang PKS muncul dan memberikan cap kafir, dajjal, tukang fitnah, thogut, musyrik kepada musuh-musuhnya.

*#PKSvsPKI 140. Pendek kata, baik PKI dan PKS sangat mudah memberi cap stempel kepada musuh-musuhnya.*

#PKSvsPKI 141. Saya sudah menjelaskan Prinsip Internasionalis dan Musuh Bersama PKI dan PKS, sebetulnya masih banyak yg ingin saya jelaskan

#PKSvsPKI 142. Tapi untuk beberapa menit kedepan kuliah kita Istrahat dulu, saya mau membuat secangkir kopi hangat.

*Jadi silahkan pembaca tafsirkan sendiri apa yang terkandung di dalamnya. Dan tentu saja sangat panjang, perlu kemauan untuk mambacanya.*

Sumber: Akun Twitter Prof. Sahetapy

Saturday, March 6, 2021

Ketika AHY Belajar Brutalitas Politik

*Ketika AHY Belajar Brutalitas Politik*
*"Seorang diktator alergi terhadap reformasi, dan pastinya penyintas yang licik. Dia akan melakukan apa pun demi mempertahankan kekuasaan untuk diwariskan kepada keturunannya, tidak juga peduli berapa banyak darah yang harus berakhir di tangannya.Dia adalah penipu ulung dan manipulator berbakat yang tidak bisa dipercaya untuk berubah,"* Igor Ivanov menulis dalam buku hariannya. Ekonom itu berteriak di Bratislava ketika para politisi sibuk mewariskan partai kepada keluarganya. Ivanov sebenarnya meneriaki para orang tua yang tak pernah puas berkuasa. Mereka yang sibuk dengan hegemoni partai dan membinanya dari bilik meja makan.

*Politik itu tidak pernah menjanjikan apa-apa kata Jose Saramago, "uma promessa enganosa".* Begitu seseorang berupaya membangun mesin politik yang besar, dia belum tentu menjadi orang yang akan menjalankannya. Peristiwa politik kadang datang tanpa makna, dan peristiwa itu bisa membuat hidup harus mati berkali-kali. Menoreh luka dan menghafal trauma.

*Tak ada yang aneh dari Partai Demokrat hari ini*. Ia filosofi barang bekas: jika tidak dijual akan diambil orang begitu saja, dijual pun akan ditawar dengan harga sekenanya. Pertarungan politik ini adalah buah dari kekuranggaulan SBY. Gaya politiknya belum berubah, dia masih merasa menjadi "presiden" di sangkarnya sendiri, menunggu untuk dikerumuni dan bukannya mengerumuni. SBY akhirnya berkesan terlalu "ningrat" dalam sebuah kompetisi demokrasi. Dia tak berkawan dengan orang luar selain dengan para pengelusnya, yang akhirnya melahirkan orang-orang yang hanya hafal jurus feodal ketimbang loyalitas.

*AHY dibentuk oleh SBY dengan pola itu.Dia dipaksa "stylish", tidak boleh bermain bola di tanah* kampung yang becek, gundul tanpa rumput. Padahal politik itu kerumunan yang guyub: ketawa ketiwi, anggur, kopi atau cerutu. Politik tidak memberi tempat kepada mereka yang biasa diatur istri atau suami, karena mereka harus siap berangkat pagi pulang pagi. *"Politisi harus siap pasangannya diambil orang", kata komedian Chris Rock.* Tentu saja Rock becanda. Tapi menurut saya ada benarnya, karena jika tidak justru partainya yang diambil orang.
#lawanintoleransi
#antiradikalisme 
- Islah Bahrawi -
☕☕☕

Presiden Jokowi Akan Lakukan Peletakan Batu Pertama Istana Presiden Di Kaltim Tahun Ini.

*Presiden Jokowi Akan Lakukan Peletakan Batu* 
*Pertama Istana Presiden Di Kaltim Tahun Ini.*
*Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking* pembangunan Istana Kepresidenan di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur akan dilakukan pada tahun ini. Lokasi tersebut juga akan menjadi Ibu Kota Negara (IKN) yang baru.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, mengatakan informasi itu didapatkannya dari Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa.


*"Kalau kita dapatkan informasi dari Menteri Bappenas, beliau dalam rapat bersama Presiden* mengatakan tahun ini direncanakan peletakan batu pertama Istana Presiden di Sepaku, Penajam, Kalimatan Timur," kata Fadjroel dalam acara tanya jawab dengan netizen yang disiarkan langsung melalui Instagram @jubir_presidenri, Jumat (5/3/2021).

*Fadjroel berujar, rencana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur masih terus berproses. Misalnya, dalam rapat terbatas dua pekan lalu, pembicaraan mengenai itu sempat dibahas*


*"Pertama RUU IKN yang akan diselesaikan bersama DPR. Kedua terkait dengan tata ruang.* Kedua...... kemudian layanan infrastruktur dasar di sekitar ibu kota negara tetap dilaksanakan. Kalau Anda pernah menuju ke Balikpapan sampai ke Samarinda, sedang diupayakan penyelesaian 100 kilometer jalan tol," pungkasnya.

MENDENGAR SBY SETELAH KLB VERSUS “REALPOLITIK”

MENDENGAR SBY SETELAH KLB VERSUS “REALPOLITIK”

Denny JA
“Jika dua ahli hukum berdebat, maka akan ada tiga pendapat.” 

Itulah adagium yang sudah diajarkan pada kepada mahasiswa fakultas hukum, sejak semester pertama.

Seketat apapun hukum yang dibuat, di tangan para ahli hukum, apalagi ahli hukum yang tengah bermanuver, aturan itu dapat ditafsir berbeda.

Adagium atau pepatah ini pula yang akan merumitkan Partai Demokrat. Sejak 5 Maret 2021, publik dibingungkan oleh hadirnya dua versi Partai Demokrat.

Pengurus versi mana yang sah? Yang mana yang legal? Yang mana yang akan mendapatkan “sertifikat” keabsahan” dari Menkumham? 

Apalalagi pastilah dua kubu yang bertarung itu masing-  masing diback-up oleh ahli hukum.

Yang satu dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Satu lagi hasil KLB Demokrat 5 Maret 2021, yang dipimpin Moeldoko.

Bobot Moeldoko menambah rumit situasi. Ia kini kepala KSP (Kantor Staf Presiden) lingkaran utama presiden yang sedang berkuasa. Ia juga pernah menjabat panglima TNI.

Dibiarkannya KLB ini terjadi, tanpa dibubarkan polisi. Dibiarkannya Moeldoko berpartisipasi dalam KLB tanpa dilarang presiden. Dua hal itu juga menambah komplikasi persoalan.

Kitapun teringat dengan istilah Realpolitik. Istilah ini diciptakan oleh Ludwig von Rochau, di tahun 1853. Sekitar 168 tahun lalu. (1)

Pemenang pertarungan politik acapkali ditentukan oleh Realpolitik. Bukan moral atau etika yang utama, tapi hukum pragmatisme politik yang bekerja.

Siapa yang menguasai opini publik? Siapa yang paling bisa membujuk ketua wilayah dan cabang setelah KLB?

Dan siapa yang paling mampu meyakinkan pemegang lisensi “keabsahan partai politik,” yakni penguasa yang riel itu sendiri? 

Ia yang menguasai sekaligus tiga variabel di atas yang akan menang.

Sila pertama Realpolitik: Bukan etika atau moralitas, tapi mereka yang bekerja sesuai dengan hukum besi politik  itulah yang akan berjaya.

-000-

SBY seperti biasa tampil dengan elegan. Ia memberi pernyataan, jumpa dengan wartawan, setelah KLB Demokrat selesai.

Ia menyatakan kekagetannya. Mengapa Moeldoko, orang yang dulu Ia percaya menjabat ketika SBY menjadi presiden, Ia beri amanah, kok “tega” dan “berdarah dingin” mengambil alih Demokrat.

SBY juga bercerita. Ketum Demokrat yang sah bahkan sudah membuat surat kepada Presiden Jokowi soal manuver pembantu dekatnya. 

Tapi tak ada respon yang signifikan dan akhirnya KLB itu terjadi.

SBY pun memaparkan betapa syarat KLB yang diatur dalam AD/ART Demokrat tak terpenuhi. 

Satu persatu syarat itu, SBY urai. Mulai dari syarat 2/3 jumlah Dewan Pimpinan Daerah, 1/2 jumlah pimpinan cabang. Dan disetujui Majelis Tinggi Partai yang ketuanya adalah SBY sendiri.

Sudah diduga, pihak penyelenggara KLB pasti pula memiliki tim hukum sendiri. Mereka melakukan manuver yang bisa ditafsir “sah” dan legal, sesuai dengan UU kepartaian.

Bagi penyelenggara KLB, pemilik suara, DPD dan DPC, tak perlu hadir secara fisik. Tanda tangan mereka atas KLB sudah cukup. 

Penyelenggara mengklaim sudah mengantongi tanda tangan itu dalam jumlah yang cukup.

KLB pun dianggap sah. Ia menjadi forum tertinggi.

Izin Majelis tinggi tak mereka hiraukan. Mereka menafsir izin Majelis Tinggi itu bertentangan dengan hukum demokrasi. KLB partai menjadi tergantung dari satu orang saja (Ketua Majelis Tinggi). Padahal partai itu milik anggota.

Ketika KLB digelar, yang pertama kali diubah adalah aturan AD/ART. Termasuk menghapus institusi majelis tinggi. Sehingga dalam AD/ART hasil KLB, tak perlu persetujuan Majelis Tinggi untuk memilih ketua umum berikutnya.

KLB juga memberikan kartu anggota khusus kepada Moeldoko. Saat itu pula ditetapkan Moeldoko sah untuk maju dan bertarung memperebutkan Ketua Umum baru.

Forumpun dirancang untuk tidak aklamasi. Moeldoko harus berkompetisi dengan kandidat lain sebagai ketua umum: Marzuki Ali.

Cepat sekali pemilihannya. Cukup dengan voting berdiri, tak usah dihitung lagi, kasat mata, pendukung Moeldoko lebih banyak.

KLB pun memutuskan Moeldoko ketum Demokrat baru. Marzuki Ali yang kalah ditetapkan Ketua Dewan Pembina.

Setelah terpilih, Moeldoko baru hadir secara fisik di arena KLB. Ia pun berpidato, menerima posisi Ketum Demokrat baru, setelah diyakinkan (meyakini) prosedur AD/ART dipatuhi.

-000-

Sebelum KLB, pertarungan Realpolitik sudah terjadi. 

Pertarungan opini publik sudah disebar. Semua pihak memainkan istilah dan citra, menyerang lawan, dan membenarkan posisinya.

Pihak AHY, menghidupkan istilah “kudeta, politik Orde Baru, Istana terlibat, KLB abal- abal, broker politik yang bekerja, uang bermain, Demokrat  is not for sale.”

Pihak pro KLB memainkan isu lain: “Dinasti politik, partai terbuka dan modern diubah menjadi partai keluarga, turunnya perolehan partai sejak pemilu 2014 dan 2019, kekecewaan DPD dan DPC akibat DPP melakukan mahar politik.”

Mengapa istana terlibat? Dimainkan pula isu lain, yang publik tak tahu pasti benar salahnya. SBY dikabarkan acapkali ikut “membiayai” anti kebijakan pemerintah, seperti demo UU Cipta Kerja.

Atas nama stabilitas politik, apalagi di masa sulit, demokrat perlu ditertibkan. Kekecewaan anggota senior yang berujung pada KLB, dianggap momen yang pas menertibkan demokrat.

Ke depan, kita akan menyaksikan dua jenis pertarungan berikutnya dari dua versi demokrat.

Pertama, mereka akan saling berebut dukungan DPD dan DPC. Rebutan tak hanya dengan “wortel” (insentif), tapi juga stick (punishment).

Demokrat versi KLB bisa dipastikan menawarkan “gula gula,” aturan baru yang menambah wewenang DPD dan DPC.

Jika DPD, DPC tak tunduk, mereka akan diancam diganti.

Kedua, dua versi Demokrat saling berebut sertifikat pengurus yang sah dari Kemenkumhan. 

Kini Kemenkumham adalah Yasonna H Lauly. Untuk kasus sebesar KLB demokrat membuat sang menteri mempertimbangkan banyak hal.

Tentu sang menteri akan mendengar arahan presiden (jika ada). Bahkan juga arahan ketum PDIP (jika ada).

Bisa pula, dua versi demokrat ini, Ia ambangkan saja. Ini sudah cukup untuk membuat versi manapun tak lagi beroposisi dengan pemerintah. 

-000-

Bahkan di era reformasi, kita sudah cukup menyaksikan. Aneka partai politik direbut dan lepas dari patron utamanya.

PKB Cak Imin lepas dari Gus Dur. Partai Berkarya Muchdi PR lepas dari Tommy Suharto. PAN Zulkifli Hasan lepas dari Amien Rais. 

Dulu, Golkar juga sempat terbelah antara Golkar Aburizal Bakrie versus Golkar Agung Laksono. Akhirnya kedua kubu itu bersatu dibawah ketum alternatif: Airlangga Hartarto.

Untuk banyak kasus, partai itu lepas dari patron utama ketika sang patron utama beroposisi terhadap pemerintah (presiden). Pihak di dalam partai bermanuver, melawan sang patron. 

Akhirnya, sang patron utama dikalahkan dan ditinggalkan.

Akankah Realpolitik membuat Partai Demokrat versi KLB yang menang dan meninggalkan SBY?

Kita belum tahu apa yang akan terjadi. Realpolitik adalah satu hal. 

Tapi rasa sedih kita melihat mudahnya partai politik terubrak- abrik, adalah hal lain lagi.*

Maret 2021

CATATAN

1. Realpolitik itu sejenis hukum besi dunia politik praktis yang acapkali menujukan bahwa yang memenangkan politik di dunia nyata itu bukan etika atau moralitas.

en.m.wikipedia.org › wiki › Realpol...Web resultsRealpolitik - Wikipedia

Sumber tulisan: Facebook DennyJA_World https://
www.facebook com/100044483107470/posts/287696326056469/?d=n

Part 1 Saat ini beredar dimedia massa daftar pendiri partai demokrat. Part 2 Respon Atas Pidato Politik Pak SBY

gambar ilustrasi saja
*Saat ini beredar dimedia massa daftar pendiri partai demokrat. *
Perlu saya jelaskan bahwa ;   

(1).Itu daftar nama 99 Pendiri Partai Demokrat yg  dimuat dalam Akte Arswendi Kamuli SH, berdasarkan UU Parpol 2021. 
Romo berada dinomor 11, sebetulnya Nama lengkapnya : WISNU HERRYANTO KRESTOWO PROBOJATI NOTONEGORO, karena terlalu panjang, karena kolomnya tidak muat, oleh Dukcapil di KTP hanya tertulis nama depan saja seperti dinomor 11 tersebut.

(2). Sebelum formasi 99 tersebut diatas disyahkan oleh Menkumham, sebenarnya cikal bakal berdirinya partai demokrat hanya 3(tiga) orang yakni, Romo sendiri, Vence Rumangkang & Kurdi Mustofa.

Kemudian dari tiga orang pemrakarsa/penggagas sekaligus pendiri awal Partai Demokrat sebelum diterbitkannya UU Parpol 2001, maka disusunlah kepengurusan sebanyak 9 (sembilan) orang, yakni masing-masing dengan membawa 3 orang.
Saya membawa/mengajak Prof. S.Budhisantoso & Irzan Tanjung, kemudian Vence membawa/mengajak Prof,Rompas & Henky Luntungan,....kemudian Kurdi karena militer aktif tidak boleh bertindak sebagai pendiri partai, maka dia menunjuk temannya yakni Ahmad Yani, Mubarok dan satu lagi saya lupa. 
9(sembilan) nama pengurus tersebut setelah didaftarkan ke Depkumham waktu itu, ditunda sementara pengesahannya karena menunggu UNDANG-UNDANG PARPOL baru Tahun 2001.
Setelah UU Parpol 2001 terbit, ternyata salah satu syaratnya mengharuskan sebuah Partai Politik bisa didirikan, minimal oleh *50(lima puluh) orang.

(3). Kemudian dari 9(sembilan) pengurus tersebut masing-masing mengusulkan/membawa teman-temannya hingga jumlahnya menjadi 99(sembilan puluh sembilan) orang.
Kesembilan puluh sembilan orang itulah yang akhirnya menanda tangani Akte Notaris berdirinya Partai Demokrat, yang kemudian disyahkan oleh Menkumham.
Catatan : Awalnya diusulkan dari sembilan orang pengurus pertama waktu pembentukan, membawa teman-temannya masing-masing sebanyak 10(sepuluh) orang hingga totalnya ada 90 orang.
Namun saya dan Vence akhirnya sepakat karena partai ini kami persiapkan untuk mengusung SBY maju di Pilpres 2004, maka kemudian kami mengambil inisiatif tanggal lahirnya SBY 9 September, sebagai jumlah penanda tangan Akte berdirinya Partai Demokrat menjadi 99 orang, karena awalnya mau dibuat100 penanda tangan. 
Saya bilang jangan seratus (100) nanti jadi KURAWA...!!! 
Maka kesepakatan akhir dari 99 orang penanda tangan ini sekaligus juga sebagai deklarator berdirinya Partai Demokrat...!!!

(4). Awalnya SBY meragukan Partai Demokrat yang kami dirikan, karena sudah mendapat jaminan dari PKB yang akan mengusungnya pada Pilpres 2004.
(5). Namun dengan kerja keras dan kesungguhan kami bahwa kami sangat serius menjadikan Partai Demokrat sebagai kendaraan politik SBY untuk maju di Pilpres 2004, akhirnya SBY percaya setelah kami memasukkan nama istrinya, sebagai tambahan untuk menjadi  Wakil Ketua Umum, diluar 99 orang yang telah menanda tangani Akte Pendirian Partai Demokrat.

(6). Dari 3 (tiga) cikal bakal Pendiri Partai Demokrat tersebut, konon saya dengar saudara Vence & Kurdi sudah wafat, sayapun sebenarnya dikabarkan sudah tidak ada, karena sedang  menjalani topo ngrame, yakni bersembunyi ditempat terang dan bertapa ditengah keramaian.... karena SBY telah ingkar janji kepada leluhur tanah Jawa..!??
Namun syukur alhamdulillah hingga saat ini Allah masih memberikan karunia-Nya kepada saya, sehingga masih bisa ikut menyaksikan dinamika partai yang telah kami dirikan 20 tahun yang lalu.

(7). Itulah kronologis singkat asal muasal muasal BERDIRINYA PARTAI DEMOKRAT....!!!
Yang kemudian di- klaim secara sepihak oleh SBY dan kroni-kroninya anak-anak kemarin sore, yang tidak tahu sejarah bahwa seolah-olah SBY dan dynasti yudhoyono yang menjadi pendiri dan pemilik tunggal Partai Demokrat...???? Dari mana ceritanya....bro....!!????
SBY awalnya hanya sebagai USER (pengguna),.... koq setelah jadi besar dan berhasil mengantarkan dirinya ke-singgasana Istana Negara, sekarang main klaim sepihak bahwa partai demokrat milik dynasti yudhoyono....????? Apa tidak MALU...????, saya sebagai cikal bakal yang menjadi pelaku dan saksi hidup sejarah berdirinya partai demokrat masih ada, dan alhamdulillah masih segar bugar -sehat wal afiat, sehingga bisa menulis peristiwa sejarah yang sebenarnya....!!!!!

(8). DEMOKRAT yang kami gagas dan kami dirikan 20 tahun yang lalu, sekarang sudah  menjadi milik publik yakni milik para kader dan konstituen.
Tidak boleh ada, siapapun yang yang merasa dirinya paling berhak atas partai demokrat...!!!
Kami menggagas dan mendirikan Partai Demokrat 20 tahun yang lalu, adalah untuk menjadi Partai Kader dan Partai Masa Depan..,!!!
......  Bukan partai yudhoyono..!!!

(9). Kepada para kader, terutama yang telah ikut berjuang bersama kami dari sejak deklarasi hingga sekarang, saya menyerukan bahwa tidak ada satupun dari dynasti yudhoyono yang berhak memecat kalian sebagai kader partai demokrat..!!!
Saya yang jadi jaminannya...!!! karena tidak ada satupun manusia termasuk sby,.... yang bisa memecat saya selaku inisiator sekaligus cikal bakal berdirinya partai Demokrat.
Jika diperlukan SBY sebagai Mr.NO THANK YOU, bisa head to head langsung dengan saya.

Sebagai pelaku dan saksi sejarah yang masih hidup, saya akan MEMBERIKAN TESTIMONI SEJARAH BERDIRINYA PARTAI DEMOKRAT DI INDONESIA YANG SEBENARNYA....!!!!!
Wassalam,
WHKP Notonegoro (Ki Ageng Noto).
Sabtu, 6 Maret 2021.

====================

RESPON ATAS PIDATO POLITIK PAK SBY
Ir.  KPH.  Bagas Pujilaksono Widyakanigara,  M. Sc.,  Lic. Eng.,  Ph. D. 
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Saya sebagai rakyat jelata dan bukan bagian dari Partai Demokrat, ingin merespon isi pidato pak SBY tersebut.

      

Pak SBY dengan gamblang dan runtut menjelaskan dan mencoba berperilaku defensif adanya KLB Deli Serdang yang kemudian tiba-tiba secara normatif pak SBY menyimpulkan, bahwa KLB Deli Serdang ilegal,  abal-abal,  dan melawan hukum.

Pak SBY kembali secara eksplisit menyebut nama pak Moeldoko dengan sebutan KSP Moeldoko.  Sebutan KSP Moeldoko menurut saya sangat bernuansa politik yaitu mengkaitkan jabatan pak Moeldoko sebagai Kepala KSP dengan gonjang-ganjing internal Partai Demokrat (PD). Itu artinya,  ada upaya politik pencitraan dari pak SBY secara implisit mengarahkan logika waras rakyat Indonesia ke arah dimana Pemerintah terlibat atas gonjang-ganjing internal PD, walau pidato politik pak SBY selalu diakhiri dengan kalimat SAYA YAKIN PRESIDEN JOKOWI TIDAK TAHU. Bagi saya ini pidato politik ambigo.  

Lebih jauh pak SBY menilai langkah poltik pak Moeldoko tidak perwira dan memalukan korps TNI.

Sikap Presiden Jokowi sudah benar: tidak perlu komentar dan ikut campur urusan internal Partai Demokrat. Ini murni permainan politik praktis dan itu bukan urusan Presiden. 

Menurut saya,  Presiden Jokowi juga tidak punya hak melarang orang bermain politik praktis,  karena itu hak politik seseorang,  sekalipun seseorang itu pejabat negara.  Bukannya ibu Presiden Megawati Soekarnoputri tidak pernah melarang Mengkopolhukamnya bermain politik praktis untuk nyapres 2004?

Menurut saya,  pak SBY sebagai mantan Presiden RI dua periode, tidak bijak dalam melihat kasus ini. Pak SBY lupa, bahwa gonjang-ganjing internal PD adalah suatu peristiwa politik adanya distrust atas suatu kepemimpinan partai.  Dan ini adalah murni suatu permainan politik. Tidak perlu membawa-bawa moral dan etika segala,  karena di sisi lain banyak yang lebih tidak beretika dan tidak bermoral. 

Permainan politik bisa memasuki wilayah chaos,  sehingga untuk memahaminya, pola pokir atau mindset-nya harus bertransformasi dari kondisi normal ke abnormal.

Kondisi chaos adalah suatu obyek kajian chaotic Mathematics yang kita kenal dengan istilah game theory.  Dalam kondisi ini,  pidato pak SBY sungguh tidak berguna,  karena substansi pidato politik pak SBY kondisinya normatif normal. 

Terlalu dini saat ini, sepihak, mengatakan KLB Deli Serdang ilegal atau abal-abal atau melawan hukum.  Fakta politik saat ini, menurut saya, adalah adanya dualisme kepemimpinan PD yaitu AHY dan Moeldoko. Suka atau tidak suka,  itulah faktanya. Solusinya di pengadilan. 

Pak SBY dalam pidato politiknya di link atas mengungkit jasa pak SBY terhadap pak Moeldoko yang telah mengangkatnya menjadi Panglima TNI.  Apakah pengangkatan jabatan Panglima TNI hanya sekedar jasa?  Bukannya harus memenuhi persyaratan yang rumit dan pelik? Pak SBY juga meminta maaf kepada Tuhan atas penunjukan pak Moeldoko menjadi Panglima TNI pada kala itu.  Pertanyaan yang sama juga bisa dimunculkan,  apakah pak SBY juga meminta maaf kepada Tuhan atas penunjukan pak Andi Malarangeng menjadi Menpora RI pada kala itu,  yang akhirnya,  faktanya,  pak Andi Malarangeng tersandung kasus korupsi dan divonis bersalah di pengadilan Tipikor? Perbuatan korupsi pak Andi Malarangeng jelas merugikan rakyat Indonesia.

Ingat,  tingginya angka kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh tingginya indeks tingkat korupsi di Indonesia. Dan di era pak SBY, korupsi begitu heboh,  termasuk yang dilakukan oleh kader-kader PD. 

Logika pak SBY rancu,  karena tidak bisa membedakan antara SBY sebagai pribadi dan Mantan Presiden RI dua periode. 

Logika yang samapun bisa dimunculkan dengan apa yang dialami oleh almarhum Gus Dur dengan PKB-nya dan ibu Megawati Soekarnoputri pada kala itu. 

Saya tegaskan disini,  saya tidak punya kepentingan politik secara terbuka mendukung pihak manapun, karena saya orang di luar PD.  

Jika gonjang-ganjing politik PD ini saya analis dengan kaidah Game Theory dan saya proyeksikan dalam format NKRI,  Pancasila,  UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,  ada hal baik yang sedang berproses lewat jalur pendewasaan berpolitik. The nature will find the way. 

Saran saya kepada pak SBY untuk lebih banyak mawas diri,  dan mencoba melihat segala permasalahan secara obyektif,  dan adil.

Saya ada di Kementerian ESDM antara tahun 2012-2014, membantu terpidana Mantan Menteri ESDM Jero Wacik dalam pengembangan Renewable Energy di Indonesia.  Saya ikut mengawal di tahap awal proyek geothermal (panas bumi) Sarula hingga tuntas,  walau harus sampai di era Presiden Jokowi. Saya tahu persis banyak proyek-proyek energi yang mangkrak.  Saya yang menulis surat ke Pemerintah soal larangan ekspor konsentrat termasuk detail tatakelola smelter, yang kemudian keluar Peraturan Pemerintah Larangan Ekspor Konsentrat pada Januari 2014. Ternyata keliru memahami tulisan saya. 

Saya juga bisa tunjuk-tunjuk kegagalan suatu rezim,  misal program BBM bersubsidi salah sasaran,  liberalisasi sistem pendidikan nasional,  radikalisme dan intoleransi agama yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, reformasi birokrasi yang hanya pepesan kosong,  dll.

Tidak perlu tunjuk-tunjuk kesalahan orang yang belum tentu bersalah.  Lebih baik menunjuk kesalahan pribadi dan meminta maaf secara terbuka ke publik. Elegan dan jantan!

Terimakasih. 
Yogyakarta,  2021-03-06
BP.  Widyakanigara
Videos

Tags

Analisis Politik (270) Joko Widodo (149) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (58) Pembangunan Jokowi (54) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (30) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Pembangunan Indonesia (21) Perangi Radikalisme (20) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Politik Luar Negeri (18) Lawan Covid-19 (17) Bravo Jokowi (15) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Denny Siregar (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Lawan Radikalisme (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Perangi Korupsi (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pembubaran Organisasi (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basmi Radikalisme (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Berita Baru (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Free Port (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalan Toll (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)