Latest News

Saturday, July 7, 2018

Pengakuan-pengakuan Mengejutkan Jokowi


Pengakuan-pengakuan Mengejutkan Jokowi

Apa pengakuan-pengakuan mengejutkan Jokowi? Ia mengakui bahwa sebagai seorang incumbent, seorang petahana, dia telah dan sedang dihantam bertubi-tubi. Tetapi dia mengaku bahwa dia tidak bisa menyerang balik secara frontal. Dia lebih banyak bertahan dan menangkis serangan.

Mengapa dia tidak bisa menyerang? Karena di seluruh dunia, pemerintah yang sedang berkuasa, termasuk pemerintahannya, menginginkan kestabilan, ketenangan dan kedamaian. Jika dia menyerang balik, maka keadaan semakin hiruk-pikuk, gaduh dan ribut. Jika publik kemudian melihat Jokowi jarang menyerang partner demokrasinya, itu karena alasan di atas. “Lebih mudah merebut kekuasan dari pada mempertahankannya”, kata Jokowi. Lalu apa pengakuan Jokowi selanjutnya?

Jokowi mengaku bahwa saat dia memulai pemerintahannya, dia melihat perusahan negara, Petral, anak perusahaan Pertamina, sarat dengan para mafia. Ratusan triliun negara setiap tahun, mengalami kerugian akibat permainan mafia di Petral. Ketika dia mengeluarkan perintah untuk membubarkan Petral, dia ditakut-takuti oleh banyak pihak. Katanya, jika Petral di bubarkan, negara bisa runtuh. Diapun bisa jatuh. Sangat menakutkan.

Menteri dan tim yang diperintahkan untuk membubarkan Petral, tiga kali bertanya kepadanya. “Apakah Bapak Presiden telah matang-matang untuk membubarkan Petral? Apakah Bapak Presiden sudah sadar betul dampak, resiko dan konsekuensi jika membubarkan Petral?”

Bayangkan menterinya sendiri terpapar ketakutan dan ikut-ikutan menakuti Jokowi. Apa Jawaban Jokowi? “Bubarkan Petral!” Perintah Jokowi tegas. Akhirnya Petral dengan tegas dibubarkan. Lalu apa yang terjadi ketika Petral sudah dibubarkan? Sampai kini, tidak terjadi apa-apa. Ternyata pemerintah sebelumnya tidak berani membubarkan Petral karena takut.

Jokowi mengaku bahwa saat dia memulai pemerintahannya, dia melihat pencurian ikan di laut Indonesia terjadi secara masif. Ratusan juta ton ikan di laut Indonesia dicuri oleh negara lain. Lalu dia memberi perintah kepada Menteri Susi untuk menenggelamkan kapal-kapal asing itu. Jokowi mengaku bahwa Menteri Susi sendiri datang tiga kali bertanya kepadanya.

“Apakah Bapak Presiden benar-benar menenggelamkan kapal-kapal asing yang mencuri ikan? Apakah Bapak Presiden sadar reaksi marah negara-negara yang kapalnya ditenggelamkan? Apakah Bapak Presiden sudah tahu bahwa ada ‘orang-orang besar’ dari dalam negeri ikut bersengkokol mencuri ikan-ikan kita?” tanya Menteri Susi.

Bayangkan Menteri Susi sendiri ikut menakut-nakuti Jokowi. Lalu apa reaksi Jokowi? “Tenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan!” Perintah Jokowi tegas. Sejak dimulainya penenggelaman kapal-kapal asing, sudah lebih seribu kapal ditenggelamkan. Sampai kini tak terjadi apa-apa, termasuk serangan dari ‘orang-orang besar’ itu. Kini ikan-ikan di laut Indonesia dinikmati oleh orang Indonesia sendiri. Sekarang ekspor ikan Indonesia terus meningkat. Ternyata pemerintah sebelumnya menutup mata atas pencurian ikan karena takut ditakut-takuti.

Jokowi mengaku bahwa saat dia pergi ke Papua, dia mendengar dan melihat langsung harga BBM di lapangan yang selangit. Mengapa bisa terjadi begini? Siapa mafia yang bermain? Itu pertanyaan besar di benak Jokowi. Jokowi kemudian mengeluarkan perintah untuk menyamakan harga BBM di Papua yang seliternya Rp. 50.000 bahkan bisa sampai Rp. 100.000,- Harga itu harus sama harganya di Pulau Jawa yang Rp. 6.500 perliter. Para pejabat di kementerian BUMN, khususnya di Pertamina, berulang-kali menakut-nakutinya. “Itu adalah mimpi di siang bolong. Butuh biaya, usaha besar untuk mewujudkan satu harga BBM. Bisa-bisa Pertamina rugi besar dan bangkrut”, kata mereka. Lalu apa respon Jokowi?

“Samakan harga BBM di Papua dengan Jawa!” Perintah Jokowi tegas. Jokowi kemudian bolak-balik ke Papua untuk memastikan harga BBM satu harga. Setelah setahun berjuang berdarah-darah, harga BBM di Papua kini sama dengan Jawa. Demi rakyat Papua, Pertamina lewat orang-orang yang punya tekad tinggi membangun bangsa, berjuang setiap hari menantang medan berat untuk menyalurkan BBM di berbagai pelosok di Papua dan memastikan harganya sama dengan di pulau Jawa. Perjuangan berdarah-darah ini tak banyak orang yang tahu, tak banyak orang yang mengapresianya.

Saat demo besar 212 di Monas, seluruh menteri termasuk Menkopolhukam, Panglima TNI, Kapolri dan komandan Paspampres tak setuju mendatangi para demonstran di Monas. “Demi keamanan, Bapak Presiden sangat tidak disarankan ke Monas”! Lalu Jokowi menghitung.“Berapa menit kita jalan kaki ke sana?” tanya Jokowi. “Tujuh menit”, jawab ajudannya. "Saya harus ke sana. Tetapkan waktunya", kata Jokowi. “Jam 11.50 WIB”, jawab ajudan.

Begitu jam 11.40, situasi di istana masih menegangkan. Semua diam. Tak satupun yang berani mendorong Presiden Jokowi ke Monas. “Jam 11.41, Jokowi bangkit. “Mari kita ke Monas jalan kaki”. Di tengah jalan bertemu dengan JK yang berencana sholat ke Mesjid. Tetapi ketika JK diberitahu bahwa Jokowi ke Monas, JK kemudian berbalik langkah dan ikut dalam rombongan Jokowi. Setibanya di Monas, para pengawal hanya mengijinkan Jokowi di bawah panggung untuk mengucapkan sesuatu. Tetapi Jokowi ngotot naik ke atas panggung. Di atas panggung, Jokowi mengucapkan sebuah pidato singkat 2 menit. Setelah pidato, Jokowi segera balik ke istana dengan aman.

Jokowi mengaku bahwa saat dia memulai pemerintahannya, HTI yang tujuannya mendirikan negara khilafah, sudah berakar-berurat di seluruh wilayah Indonesia. Dia heran mengapa organisasi ini yang di banyak negara sudah dilarang, tetapi di Indonesia masih berdiri kokoh? “Bubarkan HTI lewat Perpu”! Dia pun ditanya tiga kali oleh Menkopolhukam Wiranto, Kapolri dan pejabat keamanan lain.

“Apakah Bapak Presiden sudah memikirkan matang-matang untuk membubarkan HTI? Apakah Bapak Presiden sudah sadar betul resiko dan dampak lain jika ormas ini dibubarkan?” Bayangkan, Menteri Wiranto ikut menakut-nakuti Jokowi. Lalu apa respon Jokowi? “Bubarkan HTI besok” Perintah Jokowi tegas. Esoknya HTI dibubarkan. Semua melongo dan menganga. Sejak HTI dibubarkan, keadaan baik-baik saja. Ternyata pemerintah sebelumnya tidak berani membubarkan ormas ini karena takut ditakut-takuti.

Jokowi mengaku bahwa jika ia rakus dengan prestasi ekonomi, silau pujian, maka ia hanya membangun pulau Jawa. Jika ia mau, ia bisa mengucurkan anggaran besar-besaran untuk membangun ekonomi di pesisir Jawa. Ekonomipun bisa dipastikan dengan cepat tumbuh hingga 7 persen. Lalu mengapa Jokowi tidak melakukannya? Keadilan sosil. Pemerataan. Itulah jawaban Jokowi. Ia membangun Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, demi keadilan sosial, demi pemerataan. Pembangun infrastruktur sekarang tidak langsung dinikmati hasilnya sekarang tetapi 20 tahun ke depan dan bukan di era pemerintahannya.

Jokowi mengaku bahwa seorang pemimpin harus mengambil keputusan-keputusan berani dan tepat. Keputusan-keputusan yang diambil tentu saja bukan tanpa perhitungan. “Ada hitung-hitungnya”, kata Jokowi.

Itulah pengakuan-pengakuan mengejutkan Jokowi. Ternyata menjadi Presiden itu berat. Jadi biarkan Jokowi tetap menjadi Presiden 2019 mendatang.

Asaaro Lahagu

Friday, July 6, 2018

ONE DAY IN YOUR HEART



SEBAR+VIRALKAN!!!
ONE DAY IN YOUR HEART🙏👍

Di suatu pagi, seorang Walikota sedang menyapu sendiri ruang kantornya.
 Ini dilakukan karena tukang sapu yg biasa mengerjakannya belum hadir.

Tidak lama tukang sapu itu datang tergopoh2, wajahnya pucat, terbayang di benaknya sang Walikota akan marah dan memecatnya.

Namun dengan santai Walikota menanyakan alasan kenapa tukang sapu terlambat.

Si tukang sapu berkata kalau anaknya sudah 5 hari ini sakit.
Sang Walikota memberikan peralatan kerja dan tukang sapu itu pun melanjutkan pekerjaan menyapu yg tadi sempat dilakukan Pak Wali.

Pak Walikota langsung memanggil ajudan beserta sopirnya.
Tanpa diketahui tukang sapu, mereka pergi menuju ke rumah si Tukang Sapu untuk melihat anaknya yg dikabarkan sakit.

Pak Wali membopong anak itu ke mobil. Dengan ditemani supir mereka berdua langsung pergi ke Rumah Sakit sementara sang ajudan diperintahkan untuk kembali ke balaikota untuk menyampaikan ke tukang sapu kalau anaknya dibawa ke rumah sakit supaya nanti tidak kebingungan mencari.

Di Rumah Sakit, semua berjalan biasa, justru di Balaikota lah terjadi kehebohan.
Sang ajudan yang memberi kabar pada tukang sapu harus kerepotan membopong tukang sapu karena pingsan mendengar sang  Walikota sendiri yg membopong anaknya ke rmh sakit.

Tahu kah anda?
Kapan kejadiannya?
Di mana?
Siapa walikota nya?

Jawabannya :
Sekitar th 2008
Di Solo
Walikotanya :
Ir Joko Widodo

Implementasi Pancasila



Implementasi Pancasila
Sila Pertama:
1. Berhenti saling menyakiti, mulailah saling menghargai.
2. Berhenti saling merendahkan, mulailah menghormati perbedaan.
3. Berhenti takabur, mulailah bersyukur.
Sila Kedua :
1. Stop marah-marah, mulailah bersikap ramah.
2. Berhenti memaki, mulailah memakai hati
3. Berhenti curiga, mulailah menyapa
Sila Ketiga:
1. Berhenti berseteru mulailah bersatu
2. Berhenti memaksakan, mulailah berkorban
3. Berhenti mencari perbedaan, mulailah bergandeng tangan
Sila Ke Empat :
1. Berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat
2. Berhenti besar kepala, mulailah berlapang dada
3. Berhentilah bersilat lidah, mulailah bermusyawarah
Sila Ke Lima
1. Berhenti malas mulailah bekerja keras
2. Stop diskriminasi, mulailah toleransi
3. Berhenti menang sendiri, mulailah berbagi.

INI BARU INDONESIA. SELAMAT MEMPERINGATI HARI LAHIRNYA PANCASILA 🇲🇨🇲🇨🇲🇨


Sebagai pengingat, hari ini,  1 Juni, Hari Kelahiran Pancasila... Mari kita renungkan....

BUTIR-BUTIR PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA
 
Lima asas dalam Pancasila dijabarkan menjadi 36 butir pengamalan, sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.

Butir-butir Pancasila ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa.

I. SILA PERTAMA : KETUHANAN YANG MAHA ESA

1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama & penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
3. Saling hormat-menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

II. SILA KEDUA : KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
2. Saling mencintai sesama manusia.
3.Mengembangkan sikap tenggang rasa.
4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu kembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

III. SILA KETIGA : PERSATUAN INDONESIA

1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan bertanah Air Indonesia.
5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

 IV. SILA KEEMPAT : KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN

1.Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat.
2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
3.Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

V. SILA KELIMA : KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

1.Mengembangkan perbuatan  luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
2. Bersikap adil.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak-hak orang lain.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
7. Tidak bersifat boros.
8. Tidak bergaya hidup mewah.
9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
10. Suka bekerja keras.
11. Menghargai hasil karya orang lain.
12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.


Prabowo Amien ke Arab, Jokowi ke Dunia Fantasi



Prabowo Amien ke Arab, Jokowi ke Dunia Fantasi

Dalam banyak kesempatan, beberapa kali Presiden Jokowi membuat publik tercengang. Aksi atau tindakannya kadang membuat kita terharu, termotivasi dan berani. Misalnya saat terjadi bom di Sarinah, beliau langsung balik ke Jakarta dan datang ke lokasi. Begitu juga saat terjadi bom di Surabaya, beliau datangi satu persatu, melihat apa yang terjadi. Menanyakan bagaimana itu bisa terjadi.

Tapi juga kadang Presiden membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Saat kasus Setnov disidang oleh MKD, Presiden dengan tanpa rasa bersalah mengundang pelawak ke Istana, melakukan sidang tandingan. Bahkan jam undangannya pun sama persis dengan jam sidang Setnov di MKD atas kasus papa minta saham.

Jokowi juga sempat ditanya bagaimana komentarnya tentang film G30S/PKI yang beberapa waktu lalu sempat menjadi polemik. Presiden diposisikan sebagai orang yang pasti tidak akan setuju dengan film tersebut mengingat fitnah terhadap Jokowi selama ini adalah beliau PKI, keluarganya PKI. Namun menanggapi hal semacam itu, Jokowi rupanya tidak menanggapi sesuai keinginan atau prediksi kelompok oposisi. Beliau menyatakan film itu bagus sebagai bagian dari sejarah. Cuma gambarnya sudah buram dan harusnya diproduksi ulang. Lagipula dulu film tersebut dibuat pada masa Soeharto berkuasa, rezim otoriter. Meski begitu, Presiden juga menyempatkan diri menonton bersama pemutaran film PKI tersebut.

Semua pengamat, politisi oposisi dan kampret-kampretnya kelabakan. Presiden berjalan di tempat yang tidak seharusnya, bukan di jalan yang sudah mereka persiapkan untuk melakukan penyerangan.

Yang belum lama ini terjadi, soal polemik boleh tidaknya mantan koruptor untuk maju sebagai caleg. Komentar Jokowi sangat sederhana, boleh, tapi diberi tanda bahwa yang itu mantan koruptor.

Komentar atau sikap Jokowi penuh simbol. Bahasanya tidak bisa langsung dimengerti, perlu penafsiran. Sehingga kalau boleh saya tafsirkan, Jokowi ingin bilang ke MKD bahwa mereka cuma ngelawak dalam sidang Setnov terkait kasus papa minta saham. Film PKI itu tidak enak ditonton, gambarnya saja jelek. Kalau sudah koruptor ya jangan nyaleg lah, ga tau malu! Dan terakhir soal bom, Jokowi seolah mengatakan “Saya nggak takut!”

Lalu mengapa saya menuliskan ini? bukankah semua kejadian-kejadian tersebut sudah berlalu? Hehe ini masih ada kaitannya dengan peristiwa politik terbaru. Di saat Prabowo dan Amien Rais terbang ke Arab untuk bertemu Rizieq, alasannya umroh, Presiden Jokowi juga melakukan sesuatu. Jokowi mengajak keluarganya, formasi lengkap dengan mantu dan cucu, untuk ngabuburit menunggu adzan maghrib.

Lokasi yang dipilihpun luar biasa, Dunia Fantasi (Dufan) Ancol. Wahana yang dipilih juga luar biasa menarik, berhasil membuat saya tertawa; komedi putar lengkap dengan 40 tunggangan dan istana boneka.

Apa yang bisa ditafsirkan dari kegiatan Presiden kali ini? sebenarnya itu adalah simbol komunikasi sangat telak kepada Prabowo yang jauh-jauh ke Arab untuk bertemu Rizieq. Prabowo tak punya keluarga yang utuh, bercerai dengan istrinya, dan anaknya adalah…. Ah tak perlu saya lanjutkan.

Tidak ada pembalasan yang lebih menyakitkan dibanding menunjukkan bahwa kita bahagia dengan keluarga yang kita miliki. Tidak ada. Dan Prabowo serat Amien tidak memiliki itu, di usianya yang mulai renta. Malah menemui Rizieq yang bukan siapa-siapa mereka.

Pertemuan Prabowo, Amien dan Rizieq tak ubahnya pertemuan di Dunia Fantasi. Mereka membicarakan hal-hal besar, padahal semuanya hanya berputar-putar seperti komedi putar. Saling menunggangi. Mereka seolah-olah membahas hal-hal yang sangat penting, padahal salah satu dari mereka hanyalah boneka yang dimanfaatkan.

Semua mereka tahu bahwa itu hanyalah permainan, wahana. Pertemuan tersebut pun hanyalah pertemuan di Dunia Fantasi. Namun mengapa mereka tetap melakukan hal tersebut? karena mereka merasa gembira melakukannya. Meskipun lelah dan jauh.

Itu semua tergambar oleh aktifitas Presiden kemarin. Bedanya, beliau benar-benar bergembira karena memiliki keluarga yang harmonis dan utuh. Tidak seperti Prabowo. Selain itu, Jokowi tak perlu jauh-jauh mencari keluarga, tak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan.

Lalu apa pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa politik ini? bagi saya, berpura-pura itu tidak pernah menyenangkan. Kabur dari tanggung jawab dan kasus itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Menggalang dukungan padahal sudah berkali-kali ditolak rakyat Indonesia, itu seperti orang yang tidak tahu malu.

Seharusnya Amien dan Prabowo mulai legowo. Menerima kenyataan bahwa Jokowi adalah Presiden terbaik Indonesia saat ini, sampai tahun 2024 mendatang. Jika itu tidak bisa mereka lakukan, maka segala hal hanya akan nampak seperti Dunia Fantasi. Sujud syukur padahal kalah. Begitulah kura-kura.

KELOMPOK SAKIT JIWA YANG NGEBET BERKUASA



KELOMPOK SAKIT JIWA YANG NGEBET BERKUASA

Di negeri ini ada sekelompok orang aneh, kelompok sakit jiwa tapi ngebet sekali pingin berkuasa. Mereka teriak “Ganti Presiden” tapi bingung jika ditanya siapa kader mereka yang dicintai rakyat dan layak jadi presiden. Mereka gemar sebar fitnah, hoax, isu SARA dan ujaran kebencian tapi justru merasa sedang menjalankan perintah agama. Mereka mengaku sebagai pejuang agama tapi perilaku dan tindakannya jauh dari nilai agama bahkan aksi dan sepak terjangnya justru malah semakin sukses mempermalukan agama jadi bahan tertawaan. Mereka mengaku beragama tapi mulut fasih memaki “bangsat, anjing, babi, halal darahnya”.

Hanya soal kaos “Ganti Presiden” saja mereka tega mempersekusi ibu dan anak di acara CFD. Tapi bukannya mengakui, menyesali dan meminta maaf atas insiden memalukan itu namun mereka justru balik memfitnah bahwa ibu dan anak itu adalah penyusup yang melakukan akting dan rekayasa untuk menyudutkan mereka. Mereka suka mendzalimi tapi justru memutar balik fakta dan gantian teriak merasa sebagai pihak yang didzalimi. 

Bayangkan bagaimana jika orang-orang licik dengan kwalitas rendahan semacam ini bisa berkuasa di negeri ini? Pastilah ini bakal jadi bencana dan kemalangan besar bagi bangsa ini. Jika saat kampanye saja mereka sekasar, sebarbar dan seprimitif ini maka bagaimana jika mereka memegang amanah dan tanggung jawab besar dalam pengelolaan negara dengan anggaran ribuan trilyun? Pastilah bakal segera hancur nasib negara ini.

Ideologi konflik, politik identitas, politik kebencian, isu SARA, primordialisme, radikalisme dan sentimen agama adalah alat utama agar mereka bisa berkuasa di negeri ini. Tempat ibadah dijadikan ajang kampanye, propaganda, sarana menghasut massa, ajang caci maki dan menyebar kebencian. Bagi mereka asal Anda bisa bertakbir sambil memaki Jokowi, pemerintah dan kyai NU, Anda sudah akan langsung disebut ulama tanpa harus susah payah menimba ilmu agama di pondok pesantren selama puluhan tahun. Instan, cepat dan setengah gila !!

Tidak ada program, misi visi dan prestasi kerja nyata yang bisa mereka tawarkan selain hanya politik adu domba, siasat pecah belah dan penyebaran fitnah dan kebencian saja yang mampu mereka lakukan. Hanya itu yang mereka bisa lakukan karena sesungguhnya hanya itulah hal yang mereka punya. Hanya kebencian yang bisa mereka tunjukkan karena hanya itulah yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Parahnya ajaran radikal mereka sudah merasuk cukup dalam mulai dari sekolah TK, SD, SMA, Perguruan Tinggi, BUMN hingga instansi-instansi negara.

Fungsi oposisi yang mereka jalankan bukanlah oposisi yang cerdas, berkwalitas, berimbang, profesional dan punya kontribusi untuk negara melainkan sekedar libido berkuasa dan hasrat menjegal lawan dengan segala cara. Mereka tidak pernah berpikir untuk mengabdi dan melayani demi kebaikan bangsa melainkan hanya ambisi berkuasa bagi kelompoknya saja. Setiap saat mereka sibuk mencari dan menyebarkan isu, hoax dan fitnah baru untuk menjatuhkan pemerintahan. 

Mereka teriak isu kebangkitan PKI padahal yang sebenarnya bangkit adalah kelompok radikal dan sel-sel teroris. Mereka teriak isu serangan tenaga kerja asing padahal tenaga kerja Indonesia lebih banyak yang kerja di luar negeri dan disana tidak ada seruan “serangan tenaga kerja Indonesia”. Mereka teriak soal hutang luar negeri padahal rasio hutang kita sehat dan memiliki peringkat bagus sebagai negara tujuan investasi. Mereka teriak Jokowi anti Islam padahal pemerintah sekedar anti radikalisme dan kampretisme yang membahayakan kedamaian, kerukunan dan kesatuan bangsa.

Jokowi tidak pernah korupsi sapi, tidak pernah culik orang, tidak pernah bakar sekolah dan tidak pernah bikin chat porno tapi dibenci setengah mati bagaikan setan saja. Sementara yang korupsi sapi, yang pernah culik orang dan yang bikin chat mesum justru dibela layaknya orang suci. Yang bersih, jujur dan mengabdi untuk rakyat malah dimusuhi sementara yang ga jelas manfaat dan jasanya bagi negara justru disanjung puji bagai pahlawan.

Mereka seringkali lebih sok peduli pada bangsa lain daripada terhadap bangsa sendiri. Mereka ngamuk ketika ada warga Palestina terusir tapi diam seribu bahasa saat negeri sendiri diguncang teror bom yang menewaskan banyak orang. Mereka bikin demo membela pemain sepakbola negara lain yang kebetulan seagama hanya karena urusan sepele yaitu cedera dalam permainan tapi diam seribu bahasa saat komunitas Ahmadiyah di negeri ini diserang, diusir, dirusak, dibakar bahkan dibunuh oleh kelompok mereka. 

Saya rasa hanya orang gila saja yang membawa urusan olahraga ke ranah agama dan politik. Hanya orang sinting saja yang menganggap satu orang atlet sepak bola luar negeri sebagai representasi umat Islam sedunia yang harus dibela, disakralkan dan tidak boleh disenggol sampe cedera padahal cedera dalam olahraga adalah hal yang wajar dan biasa. Sungguh memalukan, sampai sekonyol dan segoblok itulah sikap mereka dalam beragama.

Mereka juga lebih bangga dengan negara lain tapi justru merendahkan negerinya sendiri. Mereka menyanjung puji pemimpin negara lain seperti Raja Arab dan Presiden Turki tapi justru mencaci maki Presiden sendiri. Padahal jika Jokowi punya kebijakan seperti Raja Arab dan Presiden Turki pasti sudah ada ribuan dari mereka yang masuk penjara atau kehilangan kepalanya karena dianggap melawan negara atau menghina kepala negara. 

Anehnya lagi, mereka demo ketika ada satu warga Palestina yang tewas dibunuh Israel tapi diam seribu bahasa saat ada 10.000 warga Yaman yang tewas dibantai militer Arab Saudi. Jika pembantaian dilakukan oleh sesama orang Islam mereka diam saja. Mereka sama sekali bukan pembela kemanusiaan melainkan sekedar budak, kacung atau bahkan zombie yang memperjuangkan ego dan ambisi kelompoknya saja.

Para tokoh, ormas dan partai mereka tidak pernah mengutuk aksi terorisme seakan teroris adalah bagian dari mereka sendiri yang wajib dilindungi. UU revisi terorisme diganjal dan terkatung-katung selama 2 tahun di Senayan dan baru disahkan setelah ada banyak korban tewas akibat ulah barbar para teroris, desakan masyarakat dan ultimatum dari Presiden yang akan terbitkan Perppu untuk memberantas terorisme. 

Mereka bahkan teriak HAM bagi para pelaku teror tapi tidak pernah memikirkan HAM para korban teror dan masyarakat lain yang terancam hak hidupnya. Wakil Ketua MPR dari partai mereka bahkan usul pelaku teror ditembak pake peluru bius saja seolah para teroris itu juga nge-bom nya hanya pake bom bius saja. 

Mereka ngamuk dan bikin demo berjilid-jilid saat ada pejabat publik yang bilang “jangan mau dibodohin pake......” tapi justru diam dan bahkan membela saat ada penistaan lebih parah yang dilakukan oleh kelompok mereka sendiri dengan perkataan “Prabowo titisan Allah SWT”. “Nabi Muhammad gagal mewujudkan rahmatan lil alamin” dan “Kitab suci adalah fiksi.” Mereka rame-rame demo saat ada musisi yang terlibat video porno tapi diam saja saat ada anak / keponakan majikannya yang terlibat video porno. Mereka juga diam saja bahkan malah membela soal kasus chat mesum dan foto porno yang melibatkan junjungannya. 

Mereka sangat mudah mengkafirkan orang lain dan menganggap mereka yang tak sepaham dengan kelompoknya sebagai sesat, munafik, halal darahnya dan bakal masup neraka. Mereka berlagak sok suci dan sok benar sendiri padahal kelakuan, etika, adab dan sopan santunnya kadang malah di bawah rata-rata. Menyembah sandal jepit dan ember pecah tapi tidak membunuh orang lain bagi saya adalah lebih baik daripada yang mengaku menyembah Tuhan Yang Maha Pengasih tapi malah tega membunuh sesama manusia.

Mereka bilang Pancasila haram tapi justru menganggap air pipis onta dan minum air bekas olahan tinja adalah halal. Mereka bilang demokrasi haram tapi tidak pernah mengecam aksi penipuan trilyunan duit puluhan ribu calon jemaah umroh dan gubernur yang korupsi 6 milyar hanya karena pelakunya termasuk bagian dari kelompok mereka sendiri. Mereka bilang mengucap selamat hari raya agama lain haram tapi tidak pernah ada kutukan dan fatwa sesat untuk terorisme seolah terorisme itu halal. 

Mereka takut dengan patung dan simbol agama lain tapi tidak takut dosa karena bikin hoax dan fitnah. Mereka berfatwa bahwa ngopi di Starbucks bakal masup neraka. Ada juga yang berfatwa bahwa yang percaya bumi bulat bakal masup neraka tapi tak ada satupun ustadz mereka yang berfatwa bahwa pelaku terorisme yang sudah membunuh banyak orang bakal masup neraka. Bahkan ustadz mancung sendiri bilang bahwa bisa saja Imam Samudra yang sudah bunuh 200 orang malah masuk sorga. Saya rasa hanya orang bodoh saja yang percaya bahwa membunuh bisa mendapat grand prize sorga. Mirisnya lagi yang model gini malah banyak pengikutnya.

Mereka bilang Jokowi kafir tapi justru bilang ISIS yang hobi perkosa, hobi bunuh dan hobi penggal kepala sebagai sesama saudara yang tidak boleh dihujat dan dimusuhi. Bahkan teroris Santoso yang pernah gorok leher seorang petani tua justru dianggap sebagai pahlawan yang mayatnya tersenyum dan wangi bau sorga. Parahnya lagi pendukung terorisme semacam ini bisa duduk di Senayan sebagai wakil rakyat dan pembuat undang-undang. Jika sudah begini maka Indonesia mungkin akan segera berubah menjadi Indonistan.

Mereka bikin acara “Peluk Aku” di CFD agar orang bersimpati pada mereka. Padahal justru merekalah yang seharusnya bersimpati dan memeluk keluarga para korban bom teror. Mereka juga bikin film “Power of Love” untuk mendokumentasikan peristiwa demo yang didalamnya penuh ujaran kebencian seperti “Bunuh, gantung, bakar, penggal, salib, penjarakan dll”. Sungguh aneh, mereka tidak mau menunjukkan rasa simpati, cinta dan kasih sayang terlebih dahulu tapi menuntut agar dicintai dan disayangi.

Saat aksi demo di DKI mereka mengajari anak-anak kecil di bawah umur untuk ikut demo bahkan teriak dan nyanyi “Bunuh, Bunuh”. Tapi saat ada keluarga religius yang menjadi pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya mereka malah bilang “Teroris tak beragama”. Mereka selalu menyangkal, berdalih, menyalahkan pihak lain dan cari alasan dengan mengatakan bahwa aksi teror hanyalah rekayasa dan pengalihan isu saja tanpa memikirkan bagaimana perasaan keluarga para korban teror. Lebih parah lagi mereka selalu cuci tangan dan mencari kambing hitam bahwa ini adalah konspirasi polisi, aparat, pemerintah hingga Amerika, Freemason, Illuminati, Aliens, agen CIA, agen Zionis hingga agen togel dan agen elpiji segala.

Mereka nyinyir soal anggaran tim BPIP sebesar 6 milyar tapi diam saja dengan anggaran TGUPP sebesar 28 milyar. Padahal tim BPIP memiliki amanat dan tanggung jawab besar untuk seluruh negara dalam mengawal Pancasila dan terdiri dari tokoh-tokoh kompeten seperti mantan Presiden, mantan Wapres, pemimpin ormas agama terbesar (NU), ketua majelis ulama dll. Sementara tim TGUPP hanya bertugas untuk satu wilayah DKI saja dan itupun terdiri dari orang-orang yang ga jelas dan ga jelas pula kerja, tugas dan manfaatnya selain hanya jadi penggembira dan tim hore saja.

Pejabat publik yang kompeten, profesional, jujur, bersih dan anti korupsi dibenci dan dijatuhkan hanya karena alasan beda agama. Sementara yang ga becus kerja dan suka bagi-bagi jatah duit rakyat buat kelompoknya tetap dibela hanya karena dianggap seiman. Tapi yang bersih, jujur, anti korupsi dan seiman seperti Jokowipun akan tetap dibenci, dimusuhi dan berusaha dijatuhkan hanya karena tidak sepaham dengan mereka dan tidak mendukung agenda besar mereka untuk mengubah dasar negara dan menjadikan NKRI sebagai Negara Agama.

Sungguh lucu, konyol, menggelikan sekaligus menyedihkan saat kita melihat ada sekumpulan orang sakit jiwa yang ngebet berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Mereka merasa paling benar dan paling suci dengan menafikan pihak lain. Apapun akan dilakukan hanya agar kelompoknya bisa berkuasa meskipun itu harus menjual martabat dan kehormatan dirinya. Jangankan kehormatan dirinya, bahkan martabat bangsa, Tuhan dan agamapun juga siap mereka jual dan gadaikan. 

Bagi mereka “politik identitas & politik kebencian” adalah komoditas yang harus bisa mereka manfaatkan sebesar-besarnya demi tujuan & kepentingan mereka. Mereka bersembunyi dibalik logika absurd boleh “membenci karena Tuhan” seolah Tuhan adalah Maha Pembenci yang memerintahkan mereka untuk juga menjadi kaum pembenci. Ideologi kebencian yang sudah meluluhlantakkan banyak negara di Timur Tengah ini ingin dibawa kesini untuk menghancurkan negeri ini. Dan mereka akan terus membenci sampe grup band Metallica bikin album religi.

Mabok dogma memang bisa bikin orang kehilangan akal sehat dan hati nuraninya. Bahaya dari racun ideologi Kampretisme yang berkembang di masyarakat saat ini bisa membuat kita kehilangan nalar, jati diri dan sifat kemanusiaan kita. Bangsa ini bakal hancur, pecah, terpuruk dan ngesot mundur ke belakang jika para Kampreters ini berkuasa. Jika silent majority yang waras diam saja menyaksikan semua kekonyolan ini maka akan lebih cepat lagi bangsa ini runtuh dan kembali ke pola pikir dan peradaban ala abad pertengahan.

Mereka tidak mau mengakui kinerja bagus Presiden dalam membangun infrastruktur tapi malah mengklaim hasil kerja tersebut sebagai prestasi dari tokoh kelompok mereka yang sebenarnya ga kerja apa-apa. Jokowi yang kerja tapi mereka berterima kasihnya sama Aher. Ahok yang kerja tapi mereka klaim sebagai prestasi Anies. Jokowi yang sibuk kerja pontang-panting siang malam demi kesejahteraan negara tapi mereka justru mengidolakan Erdogan presiden Turki yang ga ada jasa dan hubungannya sama sekali dengan mereka.

Mereka teriak anti aseng tapi sebar proposal ngemis duit THR pada para pengusaha. Saat ketahuan, mereka jadi malu dan bilang itu cuma buat lucu-lucuan. Padahal kenyataannya di lapangan jika hal itu tidak dipenuhi maka biasanya akan muncul perusakan, ancaman dan intimidasi. Mereka teriak anti kapir tapi tidak malu terima gaji dan THR dari boss dan majikannya yang katanya kapir. 

Mereka teriak anti kapir tapi tidak malu sehari-hari pake produk hasil ilmu pengetahuan dan tehnologi bangsa kapir. Hampir semua tehnologi dan fasilitas yang kita gunakan saat ini (seperti telepon, internet, mobil, motor, televisi, listrik dll) adalah jasa, sumbangsih, ide dan karya dari bangsa kapir. Jadi nikmat kapir manakah yang mereka dustakan?

Mereka getol teriak “Ganti Presiden” tapi tidak malu mudik lewat jalan tol yang dibangun oleh Presiden. Tapi karena bukan Presiden Turki maka semua jasa dan jerih payah ini tidak bakalan mereka akui. Ini bukan saja tidak tahu malu, tidak tahu diri, tidak tahu bersyukur, tidak tahu balas budi dan tidak tahu terima kasih tapi memang sudah sakit jiwa akut sejak dari sononya. Sakit jiwa yang diridloi Tuhan katanya. Tuhan kok paranoid, begitu jawaban saya....

Salam Waras nan Tak Kunjung Datang

#2019 Ganti Otak Kampret

copas dr FB


PELAYAN RAKYAT DAN PENGUASA FEODAL

Ahok menolak undangan dari PBB untuk datang ke New York sebagai pembicara dan lebih memilih tetap di Jakarta untuk melayani warga Jakarta. Beda dengan Gabener yang diusung partai Varokah dengan cara jualan ayat dan mayat. Dia bikin TGUPP yang terdiri dari 73 orang kroninya dengan anggaran uang rakyat sebesar 28 milyar. 

Dan di saat warga Jakarta Selatan kebanjiran hingga 1,2 meter dan Tanah Abang makin macet dan semrawut dia malah jalan-jalan ke luar negeri dengan pesawat first class yang dibayar dengan uang rakyat ke Maroko dan Turki hanya untuk belajar mengatur PKL. 

Untuk belajar pengaturan PKL tidak perlu jauh-jauh pergi ke Maroko-Turki. Cukup ke Mako Brimob dan belajar dari masternya yang ada disana (Ahok) yang telah terbukti sukses menata dan mengatur kota Jakarta yang kemudian malah justru dirusaknya sendiri. Lalu buat apa 73 orang tim TGUPP yang menghabiskan anggaran milyaran itu?

Dan di Turki ternyata dia malah hanya berusaha bisa mencegat di pinggir jalan dan salaman dengan Erdogan agar bisa mendongkrak reputasinya di kalangan pemuja Erdogan dan warga negara Turki KW alias Turkimin dan Turkiyem yang ada di Indonesia. 

Habis itu dia masih juga jalan-jalan ke Los Angeles, Amerika. Dia teriak kebangkitan pribumi padahal dia juga bukan pribumi asli. Dia kritik feodalisme tapi prakteknya dia sendiri yang melakukan feodalisme. Piye jal?

Salam Waras

Dari FB Muhammad Zazuli

Pengakuan jujur JUSUF KALLA terhadap keberhasilan JOKO WIDODO dalam mengelolah negara



Akhirnya Tabir Kebenaran Terbuka ... 

Teman teman bacaLah pengakuan seorang JUSUF KALLA berikut sebagai : 

 ðŸ‡®ðŸ‡© ♥ Saksi sejarah INDONESIA ♥ 🇮🇩

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
🇮🇩  ARTIKEL SANGAT BERHARGA 🇮🇩

Pengakuan jujur JUSUF KALLA terhadap keberhasilan JOKO WIDODO dalam mengelolah negara, sehingga 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 perlahan lolos dari beban utang peninggalan era Soeharto dan masa SBY, yang telah membuat  🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 harus menanggung utang hingga Rp. 6000 triliun dengan dalih 'subsidi,' yang hanya memperkaya dirinya sendiri dan konco-konconya; silahkan membaca tulisan berikut sampai selesai, agar kita paham mengapa kini 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 perlahan menjadi negara hebat di Asia dalam kurun waktu yang tidak terlalu di lama di era JOKO WIDODO.

_"PERJUANGAN MORAL JOKOWI bagi 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩.

Wakil Presiden Republik Indonesia, JUSUF KALLA (JK) dalam sambutannya di acara "Simposium Ekonomi" di MPR RI, Senayan, mengatakan bahwa ada 2 kebijakan keliru yang dilakukan pemerintah era Soeharto dan SBY, sehingga menghabiskan anggaran Rp. 6000 triliun.

Kebijakan itu menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari negara-negara tetangga. 

Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.

Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk menghentikannya. 

Saat Soeharto jatuh, tatkala fundamental ekonomi yang disimpan rapat bertahun-tahun terbuka lebar oleh aksi George Soros terkuak.

Nyatanya berpuluh tahun kita menyimpan data busuk dan kebohongan. 

Tidak ada kekuatan ekonomi secara nyata. 

Tidak ada. 

Soeharto tidak punya rencana hebat untuk membuat 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 hebat dalam sektor ekonomi, kecuali hanya menggali lubang sedalam-dalamnya melalui hutang tanpa rencana ril untuk merubah 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 menjadi lebih baik.

Dari jumlah hutang yang digali Soeharto hanya 30% yang digunakan untuk membangun 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩.

Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya menjadi penguasa selama 32 tahun.

Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah menanda tangani LoI dengan IMF sebagai blank cheque yang harus diselesaikan oleh rezim setelahnya. 

Beban masalah yang ditinggalkan Soeharto kalau dikurskan sekarang dan ditambah dengan bunga obligasi rekap mencapai Rp. 3000 triliun.

Era Habibie, Gus Dur, dan Megawati merupakan era tersulit bagi kita untuk berdamai dengan kenyataan. 

🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 nyatakan sebagai negara insolvent. 

Semua financial resource tertutup. 

Pemasukan lebih kecil dari pada pengeluaran. 

Kehidupan politik tidak jelas.

Enam tahun proses transisi dari legislasi era Soeharto ke era reformasi seakan waktu terpanjang dalam sejarah. 

Selama itu tidak ada pembangunan real. 

Negara stuck.

Namun, akhirnya 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 bisa keluar dari proses transisi itu dengan terpilihnya SBY sebagai presiden secara demokrasi langsung. 

Harapan dipagut dan masa depan disongsong dengan ceria. 

Tapi apa yang terjadi? 

Selama 10 tahun SBY berkuasa, untuk mempertahankan kekuasaannya dia membakar uang sebesar Rp. 3000 triliun untuk subsidi.

Periode 2004 hingga 2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi sebesar 21% dari APBN dan mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang mencapai 28%.

Di dalam subsidi energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar dengan mencaplok 80% dari seluruh subsidi energi. 

Dan menciptakan mega skandal dengan korupsi tak terbilang jumlahnya.

Andaikan uang sebanyak itu SBY gunakan untuk membangun jalan tol, maka kita sudah punya jalan tol Trans Sumatera dan Trans Jawa, juga kereta cepat Jakarta-Surabaya dan puluhan kawasan industri berskala internasional, puluhan bendung dan irigasi untuk ketahanan pangan, bahkan setiap kota besar sudah punya MRT.

SBY hanya bekerja membuat rencana dan membuang uang untuk ongkos politik, agar kekuasaanya stabil selama dua periode.

Era Soeharto kita abaikan, karena salah memilih pemimpin dan takdir kita berhasil mengubah tatanan politik yang diktator menjadi demokrasi.

Tetapi setelah demokrasi, kita justru melahirkan gerombolan maling yang menjarah lebih dahsyat dari 32 tahun Soeharto berkuasa.

Selama itu tidak ada gerakan agama yang hebat yang hendak menggulingkan Soeharto atau SBY. 

Tidak ada demo berjilid-jilid hendak menjatuhkannya.

Mengapa? 

Karena para tokoh agama maupun politik mendapat berkah uang dan konsesi bisnis dari politik lendir tebar uang oleh penguasa.

Era JOKOWI, seorang yang bukan elite politik di tubuh partai, bukan jenderal berkaliber nasional, bukan konglomerat kaya dari bisnis rente, bukan pula tokoh budayawan atau agama yang selebritis.

Dia muncul ke panggung politik karena kehendak TUHAN. 

Tak ada satu pun kekuatan yang mampu menghentikannya, karena TUHAN telah mengirim wakil wakil NYA mengawal JOKOWI sehingga si tukang kayu krempeng itu masuk ke Istana Negara dengan selamat tanpa rintangan apapun juga. 

Inilah takdir dan nasib Bangsa Indonesia yang memang harus berubah dan menjadi baik dan kuat atas kehendak TUHAN serta Kuasa-NYA.

Ketika Jokowi berkuasa, subsidi tipuan seolah  memanjakan rakyat dihentikan 

Anggaran direformasi secara fundamental dari berorientasi konsumsi ke produksi. 

Efisiensi anggaran dilakukan dengan sangat ketat.

Walau pun diawali dengan fundamental ekonomi yang retak karena current account defisit, JOKOWI tetap melaju dengan agenda besarnya. 

Menciptakan kemandirian, bukan hanya lewat restruktur APBN dan hutang, tetapi juga revolusi mental dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia di semua lini.

Negeri para gangster tersingkir dan menghimpun rakyat dan kader partai positip serta pejabat pejabat bermoral yang mau bekerja keras sehingga dapat mengubah negeri ini jadi para pekerja keras. 

* Status quo didobraknya, menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup manja berfoya foya dan menipu rakyat*

Apa hasilnya? 

Hanya dua tahun berkuasa, semua rating internasional berkaitan dengan indeks korupsi, pembangunan, dan ekonomi jadi membaik. 

Sekarang 🇮🇩 INDONESIA 🇮🇩 termasuk negara peringkat 3 terbaik ekonomi di antara anggota G-20.

Saya membayangkan setiap langkah JOKOWI tidaklah mudah dan penuh resiko. 

Karena semua elite politik yang kini ada adalah bagian dari kekuasaan Orde Baru yang pernah kong kali kong dan merampok kekayaan Negara hingga  INDONESIA 🇮🇩 dan rakyatnya menjadi sengsara dan meninggalkan beban hutang dan kerugian  sebesar Rp. 3000 triliun dan juga bagian dari kekuasaan era SBY yang membakar uang negara sebesar Rp. 3000 triliun demi melanggengkan kekuasanya.

Semua mereka ingin, agar si tukang kayu ini dihentikan. 

Karena JOKOWI bukan hanya menghancurkan kekuasaan mereka sebagai ladang bisnis mendatangkan harta mereka, tetapi juga menjadikan rakyat cerdas berpolitik dan mempermalukan elite politik di mana banyaknya elite politik terancam masuk bui karena aksi OTT KPK. 

Pesta usai.

Dulu, AHOK  dijadikan pintu gerbang untuk menjatuhkan JOKOWI dengan alasan menistakan agama. 

Dan dari keadaan ini, JOKOWI berhasil keluar dengan selamat.

Kini, PERPPU Pembubaran Ormas Radikal dijadikan alasan untuk menjatuhkannya, karena dibilang anti demokrasi dan anti Islam.

Padahal, tidak ada dalam PERPPU itu yang menyebut Islam atau ormas tertentu. 

Namun, oleh para gangster mafia menciptakan semua kegaduhan ini, agar pesta kekuasaan kembali marak. 

Karena itu, emosi agama kembali dibenturkan.

Andaikan PERPPU itu ditolak DPR, maka ketahuilah kita bahwa agenda menjatuhkan JOKOWI memang datang dari segala penjuru mata angin.

Apakah JOKOWI akan jatuh? 

Jawabannya TIDAK karena Jokowi adalah panggilan TUHAN untuk menyelamatkan INDONESIA 🇮🇩 . 

Bangsa dan rakyatnya dari segala kesusahan dan kesulitan dan TUHAN telah mengirim wakil Rakyatnya yaitu Bapak JOKO WIDODO yang berhak dan pantas berkuasa sebagai pemimpin dan penyelamat bangsa dan rakyat INDONESIA 🇮🇩.

Saya JUSUF KALLA sudah tua, namun dengan segenap tenaga saya yang masih ada saya tetap memberikan kontribusi positip pada JOKO WIDODO dalam membangun Negara INDONESIA  🇮🇩 jadi bangsa besar kuat bermatabat rakyat jadi makmur dan sejahtera.

Memang pada saat usia saya yang sudah lebih dari 50 tahun. 

Saya tak berdaya, dan tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan sepak terjang pada era Soeharto dan penikmat subsidi BBM era SBY, yang membakar uang ribuan triliun.

*Apa yang saya lakukan sekarang adalah berusaha setiap hari berbuat kebaikan, agar negara ini lebih baik. 

Melalui tulisan, lewat interaksi dengan teman-teman politisi dan aktivis, saya berusaha menyampaikan pesan moral bahwa "bukan sistem yang menjadi masalah, tetapi akhlak kita yang buruk."*

Marilah kita memperbaiki moral. 

Sudahilah niat mengubah sistem, agar impian makmur menjadi kenyataan. 

Perbaiki akhlak dan perbaiki etos kerja, maka rahmat TUHAN akan datang by the time.

Saya JUSUF KALLA dengan hati tulus ingin menyerukan kepada segenap generasi muda berkualitas dan menyintai tanah Pertiwi ini ,  

Serra rakyat Indonesia, Marilah kita bersama-sama menjadikan KEKUATAN MORAL untuk menghadang serta melawan semua niat jahat mereka yang ingin merusak negeri ini dengan alasan agama, budaya, suku, ras, antara golongan, atau apalah.

Kita membela JOKOWI bukan bertujuan politik, tetapi demi kekuatan moral sebagai orang Indonesia yang turut membangun dan ingin menjadi bangsa besar bermatabat diatas bumi . 

Jadilah gerakan moral untuk mendukung JOKOWI orang baik yang fitur penyelamat bangsa dan rakyat, agar semakin berprestasi baik bagi pembangunan negeri kita tercinta INDONESIA 🇮🇩 .

SEMOGA BERMANFAAT dan MENAMBAH ILMU serta MENAMBAH WAWASAN KITA SEMUA.

Silahkan bantu viralkan tulisan ini ke seluruh anak negeri INDONESIA 🇮🇩 di mana pun mereka berada, agar putra bangsa kita lebih cerdas dalam   dan menganalisa sesuai data. 

JUSUF KALLA.

NU DAN MUHAMMADIYAH MULAI TERSINGKIR OLEH ISLAM TRANS-NASIONAL



Analisa Rasional

NU DAN MUHAMMADIYAH MULAI TERSINGKIR OLEH ISLAM TRANS-NASIONAL

Upaya terselubung Islam Anyaran untuk mendirikan Khilafah Daulah Islamiyah :

1. Siapa di Indonesia yang tak kenal Nahdlatul Oelama dan Muhammadiyah ? Di atas kertas, merekalah dua Organisasi Islam terbesar di RI.

2. Sekitar 85 juta umat Islam di Indonesia adalah NU, dan 50 juta  Muhammadiyah. Artinya, sekitar 65 % seluruh penduduk muslim Indonesia.

3. Ini jumlah yg besar,  tapi dalam  kenyataannya, tampaknya 135 juta anggota NU dan Muhammadiyah hanya  sebatas besar di angka statistik semata.

4. Buktinya ? Lihat bagaimana NU dan Muhammadiyah tidak bisa lagi memegang Kepemimpinan Ummat.

5. Ummat justru dikendalikan oleh pergerakan Islam Trans-Nasional yang di Indonesia telah menjelma dalam wujud Islam ”anyaran/baru”.

6. Mereka adalah penerus gagasan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tharir yang ingin mendirikan Khalifah Daulah Islamiyah.

7. Pelan2, mereka terus menggerus Kepemimpinan NU dan Muhammadiyah yang masih setia dengan Pancasila dan NKRI.

8. Kenapa itu bisa terjadi ? Karena kelompok Islam "anyaran" itu justru dibiarkan tumbuh subur di era SBY (2004-2014).

9. Dlm 10 th itu, kelompok Islam Trans-Nasional banyak mendapatkan ruang hidup, memperoleh subsidi dan juga difasilitasi untuk tumbuh.

10.Dengan cara itu, kelompok Islam Trans-Nasional makin besar. Mereka mulai memotong kaki NU dan Muhammadiyah di Mesjid, Pengajian, dan Sekolah.

11. Awalnya Islam Trans-Nasional hanyalah kelompok kecil yang mulai hadir pada era tahun 1970-an.

12. Di era Orde Baru mereka masih tiarap, tapi setelah reformasi mereka mulai unjuk gigi.

13. Melihat tren ini, SBY justru membiarkan kelompok ini untuk bergerak dan mengakomodassi mereka utk memperkuat kekuasaannya.

14.Akhirnya, kelompok Trans Nasional tumbuh, bantuan asing dari Timur Tengah, Dana Wahabi mengalir deras bersamaan dengan fasilitasi dari SBY.

15. Selama 10 tahun cukup untuk mereka membesar dengan Dana Asing yang tidak ber-seri (sangat banyak)

16. Mari lihat satu-persatu para Islam Trans-Nasional yang mulai membuat NU dan Muhammadiyah gigit jari.

17. Pertama, Ikhwanul Muslimin atau yang sering dikenal dengan nama Moslem Brotherhood kalau di luar negeri.

18. Didirikan di Mesir pada Maret 1928, saat ini mereka menyebar di 70 negara dengan menggunakan metode Halaqah.

19. Gerakan Ikwan terbelah menjadi 2 arus utama: Ikhwan Tarbiyah yg menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera.

20. Serta Ikhwan Jihad yg gunakan kekerasan yg jadi embrio Jamiatul Muslimin, Jama’ah Islamiyah dan Jamaah Jihad yang berujung pd Al Qaeda.

21. Di Indonesia, Ikhwanul Muslimin dideklarasikan tahun 1994, lebih banyak gerak di kelompok Tarbiyah SMA dan Perguruan Tinggi (LMD/ LDK).

22. Setelah reformasi, mereka berubah bentuk jadi Komite Aksi Muslim Indonesia, lalu berubah jadi Partai keadilan dan selanjutnya jadi PKS.

23. Tujuan utama Ikhwan Tarbiyah yaitu membentuk Daulah Islamiyah dgn cara non kekerasan.

24. Mereka manfaatkan instrumen demokrasi dgn mendirikan partai dan merebut kursi di Parlemen utk mewujudkan cita2 Daulah Islamiyah.

25. Mereka turut bentuk jaringan Ikhwan Tarbiyah diseluruh dunia, yaitu The International Forum for Islamic Parliaments (IFIP).

26. IFIP pernah adakan pertemuan di Indonesia tahun 2007 di Jakarta, bahkan Jakarta ditetapkan sbg Sekretariat IFIP.

27. Waktu itu SBY dengan bangga membuka acara IFIP di Jakarta  m.tempo.co/read/news/2007…      

28. Sedangkan Ikhwan Jihadi atau Ikhwan sayap radikal muncul di Indonesia setelah dipicu oleh perang Afghanistan.

29. Dan gerakan ini menemukan bahan baku pada aktivis Darul Islam Indonesia (DII). Kelompok ini jg dirikan *Jammaah islamiyah (JI) pada th 1991.

30. Tujuan utamanya: Mendirikan Khilafah Islamiyah dengan menggunakan metode kekerasan.      allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/09/

31. Kedua, adalah Hizbut Tahrir yg menolak konsep demokrasi dan menekankan tentang paham kekhalifahan.

32. HTI jelas tidak menerima NKRI dan Pancasila. HTI jg tidak mau hormat kpd bendera merah Putih.      muslimedianews.com/2014/08/ustadz…

33. Metode perjuangan HTI adalah kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan.

34. Gerakan HT di Indonesia berawal dari aktivis masjid kampus Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor yg disebarkan melalui halaqah2.

35.  Kader-kadernya HTI aktif melakukan sosialisasi dan kaderisasi dgn memanfaatkan Masjid2.

36. Sejalan dgn gerakan Tarbiyah, mereka juga lakukan kaderisasi ke sekolah dan kampus-kampus, selain mengajak ke pengajian HT Indonesia.

37. Karakter dari HTI : angkat isu struktural dan global, bahaya kapitalisme, dominasi USA serta sistem ekonomi dan politik alternatif.

38. Jawaban mereka (HTI) hanya satu: ganti NKRI dgn sistem Khalifah. Bagi mereka Khalifah adalah harga mati!!!

39. Ketiga adalah gerakan Salafi Dakwah dan Salafi Sururi yg berkembang dgn bantuan dana pemerintah Arab Saudi.

40. Awalnya mereka adalah alumni Lembaga Ilmu pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Perkembangan mereka berbasis pesantren.

41. Keempat adalah Syiah yg berkembang setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan menyebarnyanya alumnus Qum.

42. Di Indonesia muncul dua organsiasi Syiah ; pertama, Lembaga Komunikasi Ahlul Bait yg merupakan wadah alumni Al Qum.

43. Organisasi kedua tergabung dalam IJABI yg lebih berkiblat ke Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah.

44. Pengikut Syiah keturunan Arab lakukan bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri). Jaringan Syiah yg kuat ditemukan di Jatim dan Pekalongan.

45. Di era SBY, perkembangan Syiah dianggap ancaman oleh kelompok Sunni termasuk Tarbiyah dan HTI krn Iran sangat mengganggu kepentingan Arab Saudi.

46. Inilah yg membuat kelompok Wahabi justru menyerang kelompok Syiah dan Ahmaddiyah.

47. Sekali lg demi dukungan, menyingkirkan NU dan Muhammadiyah, maka jaringan SBY fasilitasi konflik Sunni-Syiah ini.

48. Kelima adalah Jamaah Tablig juga masuk kategori gerakan trans-nasional.

49. Jamaah Tablig ini berpusat di perkotaan dan bersifat non-politis.  Anggotanya kurang lebih 20.000 orang.

50. Dlm 10 tahun di era SBY, gerakan Islam Trans-Nasional banyak menggerogoti basis2 organisasi massa.

51. Masjid2 NU dan Muhammadiyah mulai dikuasai oleh Ikhwan dan HTI.  Jemaah Tabliq menggerogoti beberapa basis penting NU di perkotaan.

52. Sedangkan gerakan Salafi mengambil jemaah @Nahdlatul Oelama purin dg pendekatan pesantren.

53.jadi strategi kuasai Mesjid dr kelompok Trans-Nasional relatif berhasil, dgn cara itu mereka menguasai Marbot, takmir sampai pendakwah.

54. Aktivitas mesjid digunakan untuk halaqah para Ikhwan dan HTI.

55. Selain itu para Ikhwan Tarbiyah (PKS) dan HTI aktif juga bergerak di sekolah dan perguruan tinggi.

56. Mereka masuk melalui dua cara: pertama, melakukan kaderisasi yg sangat agresif di forum Kerohanian Islam (Rohis).

57. Kader2 mereka aktif mendekati pelajar dan mahasiswa dgn pendekatan emosional, empati dalam Liqo.

58. Dan selanjutnya mengajak bergabung dlm Halaqah Jaringan kaderisasi seperti bergerak berjenjang dalam model sel-sel kecil.

59. Tentu ini mengherankan karena model kerja sel kecil ini awal muasalnya diciptakan oleh komunis internasional.

60.padahal kita tahu, kelompok Islam Trans-Nasional gaungkan anti-komunis, tapi cara penguatan jaringan ala komunis ternyata mereka pakai juga.

61. Dg kaderisasi di perguruan tinggi, gerakan Tarbiyah pelan2 masuk ke  sektor negara jadi PNS, anggota TNI, Polri dan profesional.

62. Di era SBY mereka juga menikmati fasilitasi  beasiswa dan  tugas belajar ke luar negeri.

63. Di luar negeri mereka aktif membangun jaringan dan semakin terbentuk setelah kembali ke tanah air Joxzin Jogja.

64. Mereka kemudian mulai menguasai Mesjid kementerian/BUMN dengan pendakwah dari kader Tarbiyah dan HTI.

65. Dakwah lain yg dikembangkan adlh melalui media dan medsos Kelompok ini aktif mengisi acara dakwah di TV maupun radio @RRI TVRI Nasional.

66. Di era SBY mereka diberi ruang gerak karena SBY mengangkat Menteri Kominfo yg kader PKS @tifsembiring.!!!

67. Dengan penguasaan kementerian Kominfo oleh Tarbiyah, mereka mengendalikan media resmi seperti TVRI, RRI dan Antara.

68. Dan menempatkan kader mereka di posisi eselon 1 sampai 3 untuk jaga kontrol internet dan medsos.

69. Mereka juga agresif menyediakan jasa Ustad2 utk mengisi pengajian-pengajian komunitas Islam.

70. TV yg memerlukan penceramah agama juga disediakan oleh mereka secara gratis dan juga melakukan dakwah melalui pengajian di radio2.

71. Di media sosial mereka juga berjaya  Pendekatan pada generasi muda dilakukan melalui media sosial baik WA Groups, BBM maupun SMS.

72. Hal ini membuat metode dakwah dari NahdlatulOelama dan Muhammadiyah menjadi ketinggalan kereta.

73. Bahkan para Islam Trans-Nasional sudah membentuk pasukan dunia maya (cyber army) di medsos.

74. yg bukan hanya sebarkan dakwah ala Tarbiyah dan HTI tapi jg sebarkan fitnah dg bungkus dalih agama untuk mulai serang kelompok lawan mereka.

75. Kelompok Trans nasional terutama Ikhwan dan HTI mulai ubah strategi dg membuat aliansi strategis antar kelompok Islam dg berbagai nama.

76. Bisa menggunakan Forum Umat Islam (FUI) ataupun Front-front Aksi yg bersifat taktis seperti GNPF-MUI.

77. Dengan cara itu, mereka tidak terkungkung oleh dominasi kepemimpinan @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah.

78. Upaya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah juga dilakukan SBY dgn membentuk Majelis Dzikir Nurussalam.

79. Dg bentuk kelompok ini, SBY ingin punya kendali langsung atas massa Islam tanpa harus bernegoisasi dg NU dan Muhammadiyah.

80. Cara ini jg berkembang sejalan dgn trend maraknya para Habib dirikan kelompok Dzikir yg pengikutnya ribuan.

81. Kegiatannya sekilas hanya berdizikir, namun dgn acara itu, bisa jadi ajang baru utk melakukan konsolidasi massa terutama anak2 muda.

82. Alasan itu yg melatar belakangi SBY memobilisasi Majelis Dzikir Nurussalam yg dipimpin oleh Utun Tarunadjaja pada thn 2000.

83. Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam disebut sebagai mesin politik dan mesin uang tim sukses SBY. nasional.inilah.com/read/detail/25.

84. Kelompok Trans-Nasional melanjutkan aksinya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah.

85.Dengan cara merebut kepengurusan organisasi fatwa seperti Majelis Ulama Indonesia.

86. Dengan menancapkan pengaruh di MUI maka mereka bisa memberikan legitimasi pada aksi yg dipakai dgn bekal fatwa MUI.

87.Mereka memanfaatkan kelengahan NU dan Muhammadiyah pasca berpulangnya KH Sahal Mahfud.

88.Dien Syamsudin dan KH Mahruf Amin yg menggantikan Sahal Mahfud justru lebih bersikap oportunis pada kelompok Trans-Nasional.

89.Dua orang pengganti Sahal ini dikenal punya nafsu politik yg tinggi dan sptnya rela meninggalkan Muhammadiyah dan NU demi posisi politik.

90.Dengan penguasaan MUI ditambah dgn terbentuknya Front aksi, maka kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam.

91.kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam dari NU dan Muhammadiyah, serta bisa kendalikan agenda politik keumatan.

92.Ini yg jelaskan knapa kelompok Trans-Nasional setir ummat utk kepentingan politik ideologi, yakni terwujudnya Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan.

93. Berbagai cara mereka gunakan untuk menguji kepemimpian mereka (kelompok islam trans-nasional).

94.Mulai safari Maulid Nabi ke berbagai daerah, salat subuh berjamaah sampai dgn pengumpulan dana untuk bergerak.

95.Terakhir ada upaya untuk kumpulkan dana untuk mendanai kelompok teroris di Suriah.  cnnindonesia.com/nasional/2016.

96.Demi persatuan aksi Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan, para Islam Trans-Nasional terpaksa mau terima Rizieq sebagai pemimpin gerakan.

97.Walaupun kelompok islam trans-nasional ini tahu, bahwa Rizieq FPI dulu dibesarkan oleh elit tentara.

98.Tapi mereka  jg tahu kelemahan Rizieq yg mudah dibeli oleh elit politik dan punya sejumlah “cacat” yg bisa setiap saat utk disingkirkan.

99.@syihabrizieq didorong-dorong masuk perangkap makar. Setelah itu gantian kelompok Ikhwan dan HTI yg akan memimpin.

100.Kelompok islam trans-nasional sudah siap mengganti Pancasila dan NKRI dengan Negara Khalifah Daulah Islamiyah.

101.Sekali lagi, kepemimpinan NU dan @muhammadiyah semakin jauh disisihkan secara sistematis.

102.Entah apakah NU dan Muhammadiyah merasa ”tertampar” dgn berbagai aksi Islam Trans-Nasional belakangan ini.

103.Atau mungkin NU dan Muhammadiyah masih belum sadari ini ? Mereka masih merasa posisinya *aman walau nyatanya sudah berdiri di atas batang lidi ?

104. Ketika kepemimpinan NU dan Muhammadiyah jatuh, maka jatuh pula NKRI dan sangat mudah  digantikan dengan Negara Khilafah Daulah Islamiyah.

105. Semoga kita Indonesia masih bisa berharap munculnya kembali kepemimpinan ummat Islam di tangan NU dan Muhammadiyah demi tegaknya NKRI.

Matur nuwun sederek sedoyo masyarakat twitterland
Jangan pernah lelah mencintai keragaman Indonesia dalam balutan NKRI 
Gutbai cuk!!
  
https://chirpstory.com/li/341836


_*Renungkanlah logikanyaa..

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (16) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Denny Siregar (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Free Port (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)