Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Surat Terbuka. Show all posts
Showing posts with label Surat Terbuka. Show all posts

Tuesday, March 2, 2021

Surat Terbuka Kepada Menteri Agama Dan Pendidikan Repuplik Indonesia, Mohon Di Perhatikan Dan Diluruskan.

*Surat Terbuka Kepada Menteri Agama Dan Pendidikan* *Repuplik Indonesia, Mohon Di Perhatikan Dan Diluruskan.*
Kepada
Yth.
*1.Bapak Menteri Agama Republik Indonesia*
*2.Bapak Menteri Pendidikan Republik Indonesia*
*3.Bapak Dirjen Bimas Kristen Republik Indonesia*
*4.Persekutuan Gereja Indonesia (PGI)*
*5.Yayasan, Kepala Sekolah dan Seluruh Guru Agama Kristen Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen*
*6.Penulis dan Editor Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas VII Untuk Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen*

Di
Tempat

Salam damai untuk kita semua;

Melalui surat terbuka ini, ijinkan saya terlebih dahulu memperkenalkan diri saya. Saya adalah Pastor Yohanes Kopong Tuan MSF yang sekarang bertugas sebagai Misionaris di Pilipina, tepatnya di Keuskupan Novaliches-Quezon City-Metro Manila.

Surat terbuka saya ini tidak mewakili lembaga resmi Gereja Katolik Indonesia dalam hal ini Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) juga tidak mengatasnamakan seluruh umat Katolik Indonesia. Surat saya ini merupakan surat pribadi yang mengatasnamakan pribadi saya sebagai seorang umat Katolik dan juga sebagai seorang imam dalam Gereja Katolik Roma.

*Beberapa hari ini, media sosial diramaikan oleh banyaknya postingan terkait isi dari Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas VII untuk Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Dikrektorat Pendidikan Kristen, Kementerian Agama Republik Indonesia yang mana pada halaman 24 buku tersebut dituliskan bahwa Gereja Katolik Roma merupakan bagian dari gereja Nestorian.*

Sebagai sebuah buku pegangan bagi para siswa dan juga buku pengajaran bahkan sebagai buku sejarah Gereja, jelas bahwa isi dari tulisan sebagaimana tercantum dalam halam 24 terkait Gereja Katolik Roma adalah SESAT dan SALAH BESAR.

Saya mengatakan bahwa isi dari buku itu adalah sesat dan salah besar karena:

*1. Gereja Katolik Roma tidak berafiliasi atau tidak merupakan bagian dari gereja lain manapun. Istilah Gereja “Katolik” sudah ada sejak abad awal, walau pertama kali diresmikan pada tahun 107 ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Nah Gereja Katolik yang dimaksud di sini adalah Gereja Katolik yang mengakui otoritas uskup Roma, sebagai penerus rasul Petrus. (Bdk. katolisitas.org).*

2. Dengan demikian ketika menjelaskan bahwa gereja Nestorian meliputi yang salah satunya adalah Gereja Katolik Roma, itu adalah sebuah kesalahan besar dan sesat karena Gereja Nestorian yang pengikutnya adalah para pengikut ajaran Nestorius yang mana Nestorius sendiri yang adalah seorang Uskup dari Konstantinopel dinyatakan sesat dan bidaah oleh Gereja Katolik Roma dalam Konsili Efesus (431) dan Konsili Kalsedon (451)-yang di dalamnya Santo Sirilius dari Alexanderia (370) sangat berperan besar-karena pengajarannya yang sesat terkait Yesus Kristus yang memiliki dua (2) kodrat dan dua (2) pribadi yaitu Allah dan manusia serta pengajarannya yang memandang Maria sebagai Bunda Kristus (Christotokos) dan bukan sebagai Bunda Allah (Theotokos) karena Yesus dilahirkan Bunda Maria adalah sebagai manusia biasa (bdk. hidupkatolik.com, katolikindonesia.com dan mirifica.net)

3. Dari fakta sejarah ini menunjukan dengan jelas bahwa Gereja Katolik Roma adalah satu-satunya Gereja yang berdiri sendiri tanpa pernah menjadi bagian dari gereja Nestorian. Bagaimana mungkin Gereja Katolik Roma yang mengutuk dan menyatakan sesat serta bidaah ajaran Nestorius berbalik arah menjadi bagian dari gereja Nestorian?

Oleh karena itu, berpijak pada fakta sejarah singkat sebagaimana yang saya jelaskan dalam ketiga point di atas dan atas dasar bahwa segala hal yang diajarkan dan dipelajari adalah untuk mencapai sebuah kebenaran berdasarkan fakta sejarah serta demi kebaikan bersama dan tidak menjadi jalan penyesatan bagi para siswa maka saya:

*1. Meminta kepada pihak terkait yang saya sebutkan diatas agar menarik dan merevisi kembali buku pengajaran ini bahwa Gereja Katolik Roma tidak pernah menjadi bagian dari gereja Nestorian.*

2. Meminta kepada penulis, editor dan penerbit agar mengedepankan kebenaran fakta sejarah dalam menuliskan sejarah agama dan gereja lain. Jika hal-hal yang berhubungan dengan gereja atau agama lain sebaiknya menggunakan sumber yang jelas dan benar atau minimal bertanya kepada pihak atau otoritas agama tersebut. Karena di dalam buku itu ditulis Gereja Katolik Roma, maka pihak yang bisa menjadi sumber yang tepat dan benar adalah KWI.

Salam damai dan salam hormat;
Manila: 02-Maret 2021
RP. Yohanes Kopong Tuan MSF
(Misionaris MSF, bertugas di Pilipina)
NEWS.IniOK.com

Thursday, February 25, 2021

Surat Terbuka Utk Wakil Rakyat NTT

 

SURAT TERBUKA UNTUK
BENNY K. HARMAN,
ANGGOTA DPR RI DAPIL NTT 1

Mengawali surat terbuka ini saya hendak menyapamu dengan sapaan “co, kreba leso ho’o, kraeng tua? Apa kabar hari ini, bapak? Sapaan itu adalah sapaan khas masyarakat Manggarai di tanah Flores, Nusa Tenggara Timur. Sapaan khas suara rakyat yang mengantarmu duduk di kursi parlemen Indonesia, dengan harapan mendapatkan balasan dari saudara dengan jawaban “porong dia-dia kaud” (saya baik-baik saja). 

Saudara Benny K. Harman yang terhormat, 

Hari Selasa tanggal 23 Februari 2021 menjadi hari yang sangat bersejarah bagi rakyat Sumba dan rakyat Flores, Nusa Tenggara Timur. Ya, penantian rakyat Sumba dan Flores akan kedatangan sang pemimpin, Presiden RI yang sejak awal pelantikannya hanya disaksikan melalui layar kaca akhirnya terjawab dengan hadirnya Presiden Jokowi di tanah Marapu dan Nusa Nipa. Hanya dengan melihat wajah sang Presieden dari kejauhan, masyarakat sangat bergembira. Sikap tulus rakyat Sumba dan Flores menyambut kehadiran Sang Presiden RI itu pun diutarakan lewat doa dan ucapan syukur rakyat Sumba dan Flores seperti dalam ungkapan “Tuhan, tolong jaga Jokowi, dia orang baik”. Mungkin saja ditengah merumunan masyarakat yang menanti hadirnya Presiden di tanah Sumba dan tanah Flores beberapa hari yang lalu terdapat sahabat kenalan, keluarga ataupun ipar Saudara yang merupakan masyarakat Kabupaten Sikka. Luapan emosi kegembiraan masyarakat dengan berbagai opini, pendapat, pesan dan kesan dalam kunjungan kerja Presiden ke NTT, dapat Saudara temukan jejaknya media sosial, haruslah Saudara tanggapi dengan cara pandang sosial masyarakat. 
Saudara Benny K. Harman Yang Terhormat, 

Tercatat dalam ingatan kolektif masyarakat Sumba dan Flores bahwa dari 13 wakil rakyat NTT di Parlemen Nasional, Saudara menjadi satu-satunya wakil rakyat NTT di Parlemen Nasional yang menyalahkan Presiden telah melanggar Protokol Kesehatan, padahal Saudara tahu betul kerumunan massa menyambut sang pemimpin itu terjadi secara apa adanya. Dalam pernyataan Saudara di Kompas TV beberapa hari yang lalu, Saudara secara sadar dan tega mendoakan masyarakat NTT di dua wilayah itu dengan mengatakan “Masyarakat NTT rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat pemimpinnya”. 

Kalau saja Saudara bukan berasal dari tanah Flores, Nusa Tenggara Timur, masyarakat Sumba dan Flores tidak terlalu memikirkan apalagi menanggapi pernyataan Saudara tersebut. Kalau saja Saudara bukan berasal dari Nusa Tenggara Timur, maka pernyataan Saudara akan disejajarkan dengan H. A Bakri HM, S.E., Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jambi yang mengatakan “Tak ada yang istimewa di NTT kecuali komodo”. Saudara H. A Bakri HM, S.E adalah wakil rakyat Jambi di Parlemen Nasional yang tidak memahami nilai-nilai antropoligis dan sosiologis masyarakat NTT. Hal ini berbeda dengan Saudara yang berasal dari rahim bumi Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor) tentu sangat memahami karakter masyarakat NTT sehingga pernyataan Saudara sebagai wakil rakyat Flores, Alor Lembata di Parlemen Nasional yang mengatakan “Masyarakat NTT rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat pemimpinnya”, menunjukkan minimnya apresiasi Saudara terhadap rakyat Sumba dan Flores, Nusa Tenggara Timur. Jika untuk mengapresiasi dan menghargai perasaan rakyat Sumba dan Flores dalam menyambut Sang pemimpinnya saja tidak Saudara miliki, lalu apa yang yang harus kami banggakan dari Saudara sebagai wakil kami di Parlemen Nasional?

Sebagai seorang anggota Parlemen Nasional berlatar belakang pendidikan Strata 3 seharusnya Saudara melihat luapan kegembiraan masyarakat Sumba dan Flores menyambut kedatangan Presiden RI tersebut dari sudut pandang sosiologis dan budaya menerima tamu ala orang NTT dan bukan melihat dari sudut pandang sempit Saudara sebagai oposisi Pemerintah. 
Saudara sebagai 1 dari jutaan rakyat Flores yang bernasib baik di tanah rantau seharusnya mengeluarkan pernyataan yang membuat rakyat Sumba dan Flores bersimpati dan mencintaimu seperti cinta rakyat Sumba dan Flores kepada Presiden RI. Saudara harusnya berpikir terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pernyataan itu, apakah pernyataan itu akan diterima oleh mayoritas masyarakat Sumba dan Flores atau sebaliknya mendengar nama mu saja masyarakat menjadi antipati. 

Saudara harus ingat bahwa kursi yang Saudara tempati di Parlemen Nasional saat ini tidak turun dari langit Cikeas tetapi dari ratusan ribu doa dan harapan suara masyarakat yang tak bersuara di tanah lahirmu, Flores, Nusa Tenggara Timur, rakyat yang beberapa hari yang lalu bergembira menyambut kehadiran sang Pemimpinya di tanah Sumba dan Flores telah Saudara doakan agar terpapar Covid-19. Saudara Benny K. Harman, tidakkah Saudara sadari bahwa karakter dasar yang dimiliki oleh rakyat Sumba dan Flores adalah loyal terhadap pimpinannya. Loyalitas itu pun telah ditunjukkan oleh rakyat Sumba dan Flores ketika menyambut Sang Presiden dalam kunjungan kerjanya ke NTT beberapa hari yang lalu. Di sisi yang sama dari sudut pandang yang berbeda, karakter loyal terhadap pimpinan itu pun telah mengantarkan Saudara untuk menempati sejumlah pos penting baik di Partai Politik  maupun di Parlemen Nasional. 

Dalam menyambut kehadiran Presiden di tanah Sumba dan Flores, masyarakat Sumba dan Flores tidak pernah menerima undangan, himbauan atau apapun bentuk pemberitahuan agar berkumpul dalam jumlah yang banyak menyambut sang Presiden. Luapan kegembiraan masyarakat menyambut kedatangan Presiden mengalir seperti air tanpa balutan kepentingan politik dan lain sebagainya. Hal yang sama pun terjadi di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT ketika menyambut kunjungan Presiden beberapa waktu yang lalu semuanya berjalan apa adanya tanpa balutan kepentingan politik dan lain sebagainya. Oleh karena itu penyataan Saudara di Kompas TV yang mengatakan “Masyarakat NTT rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat pemimpinnya”, sungguh sangat melukai perasaan masyarakat Sumba dan Flores. Dengan entengnya Saudara menyatakan “Presiden jelas kasat mata melanggar Prokes. Aturan yang dibikin Presiden sendiri”. Akan lebih bemartabat jika Saudara mengatakan “saya mengerti luapan kegembiraan masyarakat Sumba dan Flores menyambut kedatangan Presiden karena saya pun bagian dari mereka”. Pernyatan itu akan selalu dikenang oleh masyarakat Sumba dan Flores sebagai wujud penghargaan Saudara sebagai wakil rakyat NTT di Parlemen Nasional. Namun jika Saudara tidak dapat menghargai perasaan rakyat Sumba dan Flores dalam menyambut kedatangan Presiden, lebih baik Saudara diam. Ya, sikap diam menjadi pilihan yang tepat bagi Saudara untuk tidak mengomentari luapan kebahagiaan rakyat Sumba dan Flores menyambut kedatangan Presiden di tanah Marapu dan Nusa Nipa. Seperti dalam tutur lisan di tanah Manggarai, Flores, tempat Saudara dilahirkan terdapat sebuah ungkapan yang mengatakan “eme toe harga ami lehau ga, com hema hau” (jika kau tidak bisa menghargai kami, lebih baik kau diam). 

Saudara Benny K. Harman, masih terngiang dalam ingatanku beberapa saat yang lalu dalam sebuah kesempatan Saudara mengatakan bahwa orang Maumere hanya bisa omong. Dan kini ketika Presiden mengunjungi nian Sikka tanah Alok, Saudara kembali membuat pernyataan yang bertolak belakang dengan suara mayoritas masyarakat yang merindukan hadirnya Presiden di nian tanah Sikka. Kehadiran Presiden di nian tanah Sikka untuk meresmikan bendungan mega proyek “Napun Gete”, secara tidak langsung telah membuktikan kepada Saudara, bahwa orang Maumere tidak hanya omong tapi bekerja. Sekecil apapun kontribusi masyarakat, mereka telah mendukung hadirnya proyek strategis nasional tersebut. Di sisa masa jabatan Saudara sebagai anggota Parlemen Nasional saya mengharapkan hadirnya buah karya Saudara di tanah Sumba dan Flores seperti yang sudah dilakukan oleh Presiden sehingga Saudara pun tidak dikenang sebagai orang Flores yang suka mencari-cari kesalahan Presiden.

Dengan segala keterbatasan yang ada ditengah masyarakat, kami rakyat Sumba dan Flores tidak akan pernah membalas ucapanmu yang menyakitkan yang telah mengatakan “masyarakat NTT rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat pemimpinnya”. Tetapi suara rakyat Sumba dan Flores akan dibuktikan dibilik suara jika kelak Saudara akan mencalonkan diri kembali menjadi Gubernur NTT 2023-2028 seperti pada 2 periode sebelumnya. Disanalah pembuktian akan nilai argumentasi dan kewibawaanmu sebagai calon pemimpin, seperti sebuah adagium Romawi yang mengatakan “Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio” (nilai wibawa seseorang hanya setinggi nilai argumentasinya). 

Teriring salam dan doaku agar Saudara pun mempersembahkan buah karya mu untuk rakyat Sumba dan Flores seperti yang sudah dilakukan oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo. 

Fransisco Soarez

Monday, February 15, 2021

Yth Pak JK: Pak Jokowi Minta Dikritik, Bukan Dihina Apalagi Difitnah!

*Yth Pak JK: Pak Jokowi Minta Dikritik,* 
*Bukan Dihina Apalagi Difitnah!*
Oleh: Andre Vincent Wenas

*Apa sih susahnya membedakan kritikan dengan hinaan atau fitnah?*

Begitu sulitnyakah? Sampai-sampai seorang JK pun mesti mengajukan pertanyaan yang – maaf nih Pak – rasanya agak konyol!

Di laman berita Kompas.tv (Sabtu, 13 Februari 2021, pagi jam 00.45) tertera judul berita begini, “Tanggapi Jokowi, Jusuf Kalla: Bagaimana Caranya Kritik Pemerintah Tanpa Dipanggil Polisi?”

Lalu polemik di ruang publik. Instan reaksinya. Ada yang meledek-ledek Pak Jokowi, dan tentu ada yang “mempertanyakan tingkat kecerdasan seorang JK”. Masa sih gitu aja gak tahu?

Di hari yang sama, hanya beda jamnya saja, istana pun merespon lewat jubir Fadjroel Rachman. 

Katanya, "Jadi apabila mengkritik sesuai UUD 1945 dan peraturan perundangan, pasti tidak ada masalah. Karena kewajiban pemerintah/negara adalah melindungi, memenuhi dan menghormati hak-hak konstitusional setiap WNI yang merupakan HAM tanpa kecuali."

Dan tentu saja di era medsos ini Fadjroel juga menyinggung soal UU ITE. Singkatnya, pagar-pagarnya sudah ada dan jelas.

Selain pagar-pagar hukum, juga ada “pagar” etika, hati-nurani, kejujuran, tingkat kecerdasan (literasi) dan tentu saja niat baik. 

Apa itu definisi (pengertian) kritik dan syarat untuk bisa disebut kritik kok rasanya tak perlu diulang-ulang lagi disini ya.

Atau perlu? 

Ya sedikit saja, tanpa bermaksud menggurui, etimologis atau asal katanya dari bahasa Yunani “Kritikos” (dapat didiskusikan). Kritikos itu sendiri berakar dari kata “krenein” yang berarti memisahkan, mengamati, menimbang, dan membandingkan. Ada lingkaran interpretasi disitu. Ini jelas proses kerja intelektual.

Maka kritik adalah proses analisis dan evaluasi, yang tujuannya demi meningkatkan pemahaman, sekaligus berkontribusi dalam peningkatan kinerja serta memperluas apresiasi terhadapnya.

Dan syaratnya ya mesti kritis, bukan nyinyir lho ya. Kritis ya artinya mampu mengamati dengan tajam (obyektif), menimbang dengan bijak dan membandingkan dengan adil. Inilah lingkaran hermeneutikanya, atau proses interpretasi atau penafsirannya.

Beda sekali dengan istilah buzzer (atau istilah lokalnya: pendengung). 

Yang ini cuma seperti sekawanan lebah, mendengung, artinya bergumam-nyinyir terus menerus, tak jelas argumentasinya (lantaran logika memang tak penting disini). Yang penting asal nyahut. 

Tujuannya semata hanya bikin berisik, atau mengalihkan isu dan atau juga untuk – ini lebih canggih – membelokan opini publik.

Dalam proses komunikasi, para pendengung itu lebih terposisikan  sebagai ‘noise’. Pengganggu proses komunikasi. Semakin mendengung semakin tinggi tingkat ‘noise’-nya. 

Dampak dari ‘noise’ terhadap proses penyampaian (sending) serta proses pencernaan (decoding) pesan menjadi terganggu. Terjadi  distraction, distortion, kebingungan (confusing), dan teralihkan dari pokok soal (distracted), atau malah penggiringan opini tadi.

Contoh, pemerintah menindak pihak-pihak yang melanggar hukum, kebetulan si pelanggar hukum adalah pemuka agama. Maka para pendengung ini akan mendengungkan bahwa pemerintah telah menzolimi pemuka agama, dan bahkan dibumbui dengan tuduhan: memusuhi agama tertentu. 

Ini khan penyesatan opini yang luar biasa jahat dan ngawur.

Apalagi kalau dengungannya bukan sekedar nyinyiran dan hinaan, tapi juga bernada hoaks (berita bohong) yang implikasinya adalah fitnah.

Di era medsos, situasinya jadi “lebih rumit” sedikit.

Dimana kehadiran media sosial macam Twitter, Facebook, YouTube, Instagram atau Blog (seperti Kompasiana, Seword, MoJok), dll,  adalah media yang boleh dibilang “sangat terbuka”.

Siapa saja bisa punya akun, dan bisa meng-upload – hampir – apa saja yang ada di benaknya, dan siapa pun juga bisa mengomentari, jadi followers, atau merasa perlu untuk membagikan (share) postingan itu ke komunitas lainnya. Liberal banget deh.

Dan manakala, seorang komentator itu konsisten dan semakin banyak dirujuk oleh para netizen (warga internet) maka ia bakal jadi semacam ‘social-influencer’. Orang yang punya pengaruh sedemikian rupa untuk membentuk opini-publik.

Persis di titik inilah kita mesti kembali ke “pagar-pagar” yang disebutkan di atas tadi. Secara aturan hukum yaitu UUD, UU ITE, dll. Secara aturan moral ada hati nurani, rasa keadilan dan tentu saja budi pekerti serta kebijaksanaan batin.

Partisipan dalam wacana komunikasi di ruang publik mesti bisa membedakan mana yang kritik (kerja intelektual), mana yang cuma nyinyir dan hinaan (ini sekedar emosi). Ini indikasi luka batin, dendam, bahkan kebodohan, atau memang ada agenda tersembunyi? Walahuallam.

Jadi,

Pak JK yang terhormat, jelaslah bahwa Pak Jokowi minta dikritik, bukan dihina, apalagi difitnah!

“Well, if what you want to tell me is neither True nor Good nor even Useful, why tell it to me at all?” – Socrates.
14/02/2021
Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonom

Sunday, January 31, 2021

Surat Terbuka Untuk Bu Susi: Jangan Sok Bijak Kalau Gak Paham

*Surat Terbuka Untuk Bu Susi:* *Jangan Sok Bijak Kalau Gak* *Paham*
Mora Sifudan 

*Halo Bu Susi Pudjiastuti mantan menteri KKP*. Perkenankan saya menuliskan sepatah dua patah kata di tulisan ini terkait sikap Anda yang mengajak follower dan netizen untuk mengunfollow Permadi Arya aka Abu Janda dengan alasan yang bersangkutan ‘yang selalu menyinggung perasaan publik’.

*Untuk ibu ketahui saja, Abu Janda dan saya sendiri serta banyak lagi netizen lainnya* berada di pihak ibu selama menjadi menteri. Saya sendiri dulu merasa tidak peduli dengan kegaduhan yang Bu Susi akibatkan selama kebijakan itu demi kesejahteraan nelayan, keberlangsungan sumber daya laut, dan kedaulatan NKRI. Saya tidak peduli dianggap bodoh, goblok, cebong, dan penjilat karena saya menganggap kebijakan Ibu memang penting untuk negara. Ingat, sekalipun kebijakan itu menimbulkan kegaduhan hebat.

*Saya heran kemudian ibu menunjukkan sikap yang menurut saya kurang bijak* dan tidak paham dengan persoalan yang dibahas tetapi sudah meminta orang untuk berhenti mengikuti Abu Janda dan pada saat yang sama menuduhnya menyinggung perasaan publik dengan alasan situasi pandemic dan demi kedamaian dan kesehatan kita semua.

*Mari Bu Susi perhatikan dulu cuitan Abu Janda ini:* "Islam memang agama pendatang dari Arab, agama asli Indonesia itu sunda wiwitan, kaharingan dll. dan memang arogan, mengharamkan tradisi asli, ritual orang dibubarkan, pake kebaya murtad, wayang kulit diharamkan. kalau tidak mau disebut arogan, jangan injak2 kearifan lokal."

*Pertama, publik mana yang ibu maksud tersakiti dengan cuitan itu?* Kalau ada orang Islam yang tersakiti dengan kata ‘arogan’ maka mereka adalah golongan yang Permadi sebut yang mengharamkan tradisi asli, ritual orang dibubarkan, pake kebaya murtad, wayang kulit diharamkan. Atau mungkin bagian dari umat Islam yang melakukan itu semua sampai Bu Susi juga ikut marah?

*Ketika kelompok Islam tertentu mengharamkan tradisi asli*, membubarkan ritual, yang pakai kebaya dianggap murtad, wayang kulit diharamkan, rumah ibadah kaum minoritas dibakar dan dilarang, mulut Bu Susi di mana? Kog sekarang tiba-tiba sok mengajak damai hanya karena Permadi mengungkap fakta?

*Kedua, kedamaian seperti apa yang ibu maksud?* Yang gaduh itu hanya orang-orang yang memang tidak siap dengan perbedaan pendapat dan pandangan, yang sukanya intoleran terhadap yang berbeda pendapat. Tapi bagi orang yang melawan intoleransi, damai-damai saja. Permadi Arya tidak pernah membubarkan ibadah orang lain, tidak pernah persekusi dan tidak pernah mengusik kedamaian orang lain kalau mereka tidak sedang mengusik kedamaian Indonesia.

*Dulu buat negeri ini gaduh karena kebijkan ibu. Bukan hanya publik* yang gaduh, kementerian yang satu dengan yang lainnya pun gaduh. Itukah kedamaian yang Bu Susi maksudkan?

*Prinsipnya harus sama*. Selama yang diperjuangkan itu adalah kebaikan bagi negeri ini, maka kegaduhan yang ditimbulkannya adalah reaksi manusia-manusia yang gerah dengan fakta yang ada. Sama seperti ketika Bu Susi menenggelamkan kapal dan melarang ekspor benur – yang bagi banyak orang sebagai langkah yang salah – juga menimbulkan kegaduhan. Tetapi Bu Susi tidak lalu diam dan menyerah saja bukan? Sekali lagi, selama kita benar, kenapa takut dengan kegaduhan.

*Ketiga, di mana mulut ibu ketika intoleransi dan diskriminasi yang dilawan Abu Janda selama ini?* Permadi Arya memang sangat vokal melawan kaum intoleran dan diskriminatif. Malah dia tidak peduli dengan adanya perlawanan dan ancaman terhadap dirinya. Dan sekarang pun dia sedang melakukan itu.

*Di mana ibu ketika nonmuslim dipaksa memakai jilbab di sekolah negeri?* Di mana mulut Bu Susi ketika minoritas dilarang membangun rumah ibadah? Kenapa Bu Susi tidak buka suara ketika kelompok intoleran memprovokasi dengan dalih agama dan menimbulkan kegaduhan? Kenapa Bu Susi tidak mengajak orang untuk tidak mengikuti Rizieq, Tengku Zulkarnaen, Haikal Hassan dan orang-orang yang seruannya sangat provokatif? Apakah karena mereka itu punya massa sementara Abu Janda tidak punya massa?

*Bu Susi,saya tidak akan kecewa dengan dedikasi Anda terhadap bangsa ini selama ini.* Kebaikanmu akan tetap saya apresiasi. Tetapi soal Permadi Arya, saya meminta Bu Susi diam saja. Tidak perlu ibu sok bijak dan sok mencintai perdamaian pada saat yang sama ibu pernah menjadi pemicu kegaduhan di negeri ini.

*Kalau Bu Susi belum pernah berdebat, berbeda pendapat dengan kadrun,*berhadapan dengan kaum intoleran, dan menghadang provokasi pecah-belah dari lawan Permadi Arya, lebih baik Bu Susi diam saja dech. Saya pastikan kalau Bu Susi memang seorang nasionalis yang cinta NKRI, berhadapan dengan pemecah-belah bangsa ini tidak cukup dengan minum kopi di tepi pantai sambil Twitteran.

*Oh iya, Bu Susi. Bagi banyak minoritas tertindas, Permadi Arya aka Abu Janda dianggap sebagai* *pejuang*. Bukan tanpa alasan. Ketika tokoh-tokoh nasional dan politisi termasuk Bu Susi diam terhadap nasib mereka diperlakukan secara diskriminatif, Permadi Arya justru berteriak lantang untuk memperjuangkan nasib mereka.

BTW, mohon maaf kalau ada kata yang salah dan kurang berkenan. Bu Susi dan Permadi Arya adalah dua pribadi yang saya hormati.

Salam dari rakyat jelata

Sunday, January 17, 2021

Surat Terbuka Univ Gajah Mada Kpd Ribka Tjiptaning DPR RI Jkt Soal Vaksin Sinovac


*VAKSIN SINOVAC RONGSOKAN ?*

Ir. KPH. *Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D.*
*Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta*

Kepada Yth,
*Ibu Ribka Tjiptaning*
*DPR RI, Jakarta*
Dengan hormat,
Saya tidak tertarik membahas soal bu Ribka menolak divaksin covid-19, karena hal itu urusan pribadi bu Ribka. Nanti kalau saya mengomentari hal itu, bisa dianggap melanggar HAM berat dan harus berurusan dengan Komnas HAM.

Saya juga tidak tertarik memahami pesan utuh yang ingin bu Ribka sampaikan pada saat rapat kerja dengan Pemerintah, dalam hal ini dengan Menkes RI dan tim. Karena, jujur saya tidak melihat sama sekali unique point yang anda sampaikan. Apakah itu suatu kritik, jelas bukan, karena ucapan bu Ribka hanya maki-makian ke Pemerintahan Presiden Jokowi dan pencitraan dalam melambungkan diri sendiri. 

*Kritik itu bukan hanya mengungkap hal yang dikritisi, namun juga mengusulkan alternatif solusi.* Di rapat kerja itu, sama sekali bu Ribka tidak mengusulkan alternatif solusi bagi bangsa ini dalam upayanya keluar dari cengkeraman pandemi covid-19.

Di surat saya kali ini, saya hanya mengomentari ucapan-ucapan bu Ribka yang disampaikan di rapat kerja dengan Pemerintah, tanpa saya harus memahami pesan utuh yang ingin bu Ribka sampaikan.

*Bu Ribka mengatakan kalau vaksin Sinovac adalah vaksin Rongsokan*. *Bu Ribka, anda bukan ahli Biology Molecular*, *bagaimana bisa anda mengatakan vaksin Sinovac rongsokan?* Apakah anda punya data akademiknya? Kalau ada, mohon dishared ke publik. Anda hanya berdasar omongan orang. Ilmu pengetahuan berdasar bukti, bukan ngrumpi.

Perlu bu Ribka ketahui, *vaksin hasil penelitian Oxford University, UK*, tahapan uji klinis pada binatang, dilompati, karena kedaruratan,  langsung uji klinis ke manusia. Vaksin ini kira-kira menurut bu Ribka vaksin jenis apa ya? Vaksin comberan? Vaksin Oxford University, UK ini diproduksi oleh Astra Zenneca.

Kalau vaksin Sinovac adalah vaksin rongsokan, maka sama artinya anda mengatakan BPOM dan MUI adalah lembaga rongsokan, karena BPOM telah mengeluarkan ijin edar dan MUI telah mengeluarkan Sertifikat Suci dan Halal bagi vaksin Sinovac. 

Sepertinya anda terjebak dalam istilah efikasi, yang ternyata setelah saya mendengarkan penjelasan anda di youtube, anda salah memahaminya. Ini link youtubenya: https://youtu.be/su27gwI2wTM

BPOM menjelaskan efikasi dari vaksin Sinovac adalah 65.3%. Itu artinya, jika 100 orang divaksin, maka secara random yang akan kebal adalah 65 orang dan yang 35 orang masih bisa terinfeksi. Anda di youtube di atas bilang, yang 35 orang itu dikorbankan. Dari sini jelas, anda tidak memahami arti efikasi sama sekali. Tidak ada yang dikorbankan. Vaksinasi bukan ditujukan untuk mengorbankan orang.

Saya lihat di channel youtube lainnya, ini linknya: https://youtu.be/tHTchGw-fB4, judul yang tertulis di situ adalah Ribka: bisa saja yang diberikan ke Jokowi bukan Sinovac. Ucapan anda sangat tendensius.  Sebaiknya bu Ribka buktikan kebenaran ucapan itu, agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Jangan sampai ada pendapat di masyarakat, yang di vaksin kan ke rakyat jelata adalah vaksin rongsokan Sinovac dan yang untuk pejabat negara merk lain yang dibenak bu Ribka adalah vaksin mahal. Saya faham, kemana ibu menggiring opini.

Nilai efikasi vaksin Sinovac itu berbeda antara di Indonesia dan di Turki, karena obyek ujinya beda. Di Indonesia, vaksin Sinovac oleh BPOM diuji ke publik awam, sedang di Turki diuji ke nakes dimana mereka dilengkapi dengan APD. Logis, nilai efikasi vaksin Sinovac di Turki lebih tinggi, yaitu di angka 90%, sangat logis. Perbedaan tersebut jangan diartikan kualitas vaksinnya berbeda. 

Bu Ribka dalam banyak kesempatan selalu menyebutkan bahwa anda seorang dokter. So what? Namun, saya yakin dengan seyakin-yakinnya, masih susah bagi anda untuk memahami fakta emperik perbedaan nilai efikasi diatas.

Presiden Jokowi tidak pernah mengatakan, bahwa vaksinasi covid-19 di tanah air ditujukan untuk memutus rantai infeksi virus covid-19. Beliau mengatakan vaksinasi covid-19 ditujukan untuk membangun Herd Immumity. Itu benar. 

Apakah bu Ribka faham pengertian fisis Herd Immunity? Kalau tidak faham, saya jelaskan. Herd Immunity adalah imunitas skala sosial, yang makna fisisnya adalah virus covid-19 sudah kesulitan menemukan korban baru, dengan mekanisme penularan hamburan stokastik dalam jarak efektif penularannya. Itu arti Herd Immunity. Menurut WHO, jika 70% warga bangsa sudah divaksin covid-19, maka Herd Immunity terbentuk. Penduduk Indonesia sekitar 260 juta, maka merujuk ke WHO, ada sekitar 182 juta warga bangsa yang akan divaksin. Pemerintah sudah benar.

Presiden Jokowi selalu bilang, sekalipun sudah divaksin, harus tetap mentaati protokol kesehatan, itu benar. Dan itu, karena, faktor efikasi tadi.

Jika, Herd Immunity sudah terbentuk, maka laju infeksi virus covid-19 akan mereda by the time.

Saya tidak  mengatakan bu Ribka kadrun, karena saya tidak punya bukti. Maki-makian bu Ribka yang kontroversial kemarin menjadi amunisi bagi kelompok-kelompok anti Pemerintahan Presiden Jokowi untuk menyerang pemerintah. 

Bagi saya pribadi, bu Ribka sosok yang sangat ekstrim, melebihi partai oposisi. Padahal Ideologi Pancasila tidak pernah bisa mengakomodir cara berfikir ekstrim. Pancasila adalah ideologi equilibrium: seimbang antara urusan pribadi dan sosial. Di rapat kerja DPR RI kala itu, tampak jelas, bu Ribka sangat egois, dimana manfaat vaksin untuk, kepentingan nasional anda abaikan demi kepentingan pribadi. Saya sekarang nggak yakin kalau bu Ribka faham Pancasila dengan baik dan benar. Perilaku politik bu Ribka bukan perilaku Marhenis Sejati.

Apakah bu Ribka selalu mengupdate perkembangan pademi covid-19 di tanah air? Datanya naik terus secara signifikan. Apakah bu Ribka punya ide cemerlang untuk meredakan pandemi covid-19 di tanah air diluar cara vaksinasi? Kalau ada, mohon disampaikan ke rakyat Indonesia, baik dalam bahasa akademik atau politis. Keduanya saya bisa faham.

Terimakasih.

Yogyakarta, 2021-01-16
Hormat saya,
BP. Widyakanigara

*Catat: Video ini tidak ada intrupsi iklan.*
*Berita Actual Dan Terpercaya,Perlu Anda Baca Segera Di *

Sunday, December 20, 2020

Habib Rizieq Syihab : Gusdur buta mata dan buta hati

Habib Rizieq Syihab : Gusdur buta mata dan buta hati
Ini tulisan baru ditulis tgl.14 Nov 2020, sy tsk tau siapa Padri Hans itu, tp klo baca dr bahasa tertulisnya sptnya beliau dari denominasi Katolik.....maaf klo saya keliru....

SURAT TERBUKA KEPADA TUAN RIZIEQ

Salom tuan Rizieq, maaf bila saya salah menulis nama tuan. Dan mohon maaf pula saya tidak menyebut "habib" di depan nama tuan, sebab saya seorang padri yang tidak paham arti kata tersebut. O iya, padri artinya rohaniwan Kristen. 

Saya langsung saja tuan Rizieq ya, karena tuan juga orangnya blak-blakan kalau cuap-cuap bahkan cukup kasar dan suka memaki-maki kalau berbicara kepada siapa pun yang tuan benci. 

Bahkan Gus Dur, orang yang sangat dihormati di negeri ini, yang seagama dengan tuan, tuan bertutur, "Gus Dur buta mata dan buta hati." Seluruh rakyat Indonesia bisa saksikan kekasaran verbal tuan di sini: 
https://youtu.be/77I3SdCAfGA

Untung sekali para Banser dan Anshor serta keluarga besar NU tidak beringas datangi tuan dan menggantung tuan di Tugu Monas. Saya bangga karena mereka penganut Islam Nusantara yang memang menjadi rahmat bagi semesta Indonesia sampai hari ini.

Saya mau segarkan kembali memori otak tuan ketika tuan menghina Tuhan dan Juruselamat saya, Yesus Kristus. 

Kalau tuan lupa hinaan tuan tersebut karena cukup lama kabur meninggalkan Indonesia, saya persilahkan tuan saksikan di sini: https://youtu.be/rlk5LtB-6W4

Saya memeringatkan tuan yang sudah begitu nekad menghina Yesus Kristus atau Isa Almasih, Tuhan dan Juruselamat satu-satunya bagi umat Kristen.

Beliau juga begitu dihormati oleh umat muslim di seluruh dunia. Karena beliau dicatat dan disanjung dalam Al Quran dengan sangat baik reputasi-Nya. 

Maaf kepada seluruh umat muslim bila saya salah mengutip isi Al Quran. Bukankah tertulis dalam QS 43 Az Zukhruf 61: Isa AS itu jalan yang lurus supaya diikuti (bandingkan ayat 85). QS 43 Az Zukhruf 63: Isa AS itu pembawa terang supaya ditaati. QS 19 Maryam 34: Isa AS mengatakan perkataan yang benar. QS 4 An Nisa 171: Isa AS itu utusan Allah dan Firman-Nya. Hadits Anas bin Malik halaman 72: Isa AS adalah Roh Allah dan Kalimat-Nya. QS 19 Maryam 17: Isa AS adalah Roh Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna. Hadits Ibnu Majah: Isa AS adalah satu-satunya Imam Mahdi. QS 21 Al Anbiyaa 91: Isa AS dilahirkan bukan dari Bapa insani tetapi dari Roh Allah. QS 19 Maryam 33: Isa AS lahir, mati, dan dihidupkan kembali. QS 3 Ali Imran 55: Isa AS mati, diangkat, dan pengikut-Nya di atas orang kafir. QS 3 Ali Imran 49: Isa AS menyembuhkan orang buta sejak lahir. QS 5 Al Maaidah 110: Isa AS menghidupkan orang mati. QS 2 Al Baqarah 253: Isa AS diberi mujizat dan Roh Kudus. QS 4 An Nisaa 156: Kafir orang yang menolak Isa AS?
Al Quran begitu menghormati Yesus Kristus atau Isa Almasih, karena itu tuan tidak sepantasnya menghina Yesus Kristus dengan begitu rendahnya. Koq sikap tuan tidak sebangun dengan Al Quran yang begitu menaruh hormat pada Yesus Kristus?

Maaf tuan, hanya kedunguan tuan saja yang tidak mengerti tentang pribadi dan karya Yesus Kristus sehingga tuan merasa pantas menghina Dia. 

Tuan terlihat begitu polos tatkala menyebut Yesus sebagai Anak Allah dalam pengertian biologis. 

Saya beri tahu tuan sekarang. Anak Allah itu dalam pengertian teologis. Paham? Tuan cari sendiri apa arti teologisnya kalau tuan mau tahu siapa Dia.

Bila tuan masih bingung, saya beri pertanyaan sederhana saja pada tuan supaya mesin otak tuan bisa berputar bagus dan tidak gagal paham pada doktrin Anak Allah ini. 

Kenapa ada yang disebut anak kunci, anak tangga, anak cobekan? Kalau dulu di zaman orang tua kita, ada yang namanya anak batu tulis yang berfungsi sebagai pensilnya? 

Kapan kunci, tangga, batu cobekan, dan batu tulis itu menikah lalu bersanggama dengan siapa sehingga lahirlah anak kunci, anak tangga, anak cobekan, anak batu tulis itu? Siapa bidannya yang membantu persalinan anak-anak ini?

Saya pikir tuan seharusnya mulai siuman dengan pertanyaan sederhana saya tadi kalau memang mesin logika tuan masih normal.

Tuan nampak pongah sekali memahami Yesus sebagai Anak Allah dalam pengertian biologis bukan?

Ini kebiasaan orang yang tidak pernah mau belajar serius sehingga jadi manusia picik dan sempit otak dan hatinya. Apa yang berbeda dengan logika tuan, serta merta tuan haramkan dan caci maki. 

Saya tak heran mengapa sampai tuan tanpa rasa hormat merendahkan Yesus Kristus, Pribadi dan Karya-Nya yang begitu Agung dan Mulia! 

Tuan harus tahu. Manusia berdosa tidak perlu agama. Agama tidak perlu dibangga-banggakan. Agama hanya seperangkat konsep yang tidak bisa menyelamatkan manusia berdosa.

Yang diperlukan manusia berdosa adalah JURUSELAMAT. Bukan GURU SELAMAT! Tuan kalau berkeinginan masuk surga, terimalah Yesus sebagai Juruselamat tuan. 

Sebab yang pantas jadi JURUSELAMAT hanyalah TUHAN. Yesus Kristus adalah TUHAN yang memakai tubuh manusia supaya Dia dapat menghapus dosa-dosa dan menanggung akibat dosa manusia yaitu maut.

Yesus ketika berada di bumi ini memroklamirkan dan mendeklarasikan diri, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku", Yohanes 14:6. 

Tuan harus tahu, "Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan", Kisah Para Rasul 4:12.

Sekarang saya mau beri tahu tuan. Tuan sebenarnya adalah manusia minder dan penakut. Barangkali tuan jadi pemberani karena merasa diri didukung massa dan orang-orang yang punya syahwat kepentingan tertentu di negeri ini bahkan mungkin kepentingan asing untuk menghancurkan NKRI?

Saya pastikan tuan bukan seorang pemberani. Seorang pemberani adalah orang yang berbicara apa yang benar meskipun dia hanya seorang diri tanpa dukungan massa tujuh juta orang. 

Saya menulis surat terbuka ini tidak karena didukung oleh umat Kristus Indonesia atau umat Kristus sedunia yang jumlahnya miliaran manusia. 

Saya menulis surat terbuka ini atas nama saya sendiri. Saya hanyalah debu, ulat, dan cacing yang tidak berguna. Saya bukan pemberani, tapi tuan harus tahu, saya juga bukan manusia penakut. 

Saya hanyalah seorang padri yang sederhana yang mau mengimani dan mengamini ajaran Yesus Kristus Tuhan saya yang tuan hina itu yang telah mengajarkan saya, "Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia (Yesus Kristus) yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka", Matius 10:28.

Tuan, saya yakin tuan tak akan berani garang-garang dan ganas-ganas kalau tuan hidup di Amerika atau di Tiongkok atau di Eropa. Bahkan di Arab Saudi, tuan pun melempem selama di sana bukan? Semua orang bisa jadi pemberani kalau dia sadar dirinya dikelilingi oleh para pengikutnya yang banyak dan ada suplai dana yang banyak.

Namun saya mau beri tahu tuan bahwa hinaan dan olok-olokan tuan pada Yesus Kristus sama sekali tidak mengurangi keilahian Yesus Kristus. 

Dia tetap sebagai Penguasa surga dan bumi (Matius 28:18). Dia Raja di atas segala raja dan Dia adalah Hakim Mahaadil yang pasti akan datang kedua kalinya untuk menghakimi seluruh manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah di dalam liang lahat.

Oh ya, tuan jangan salah duga, umat Kristus Indonesia selama ini diam dengan hinaan tuan pada Yesus Kristus junjungan kami, itu bukan karena umat Kristus adalah orang-orang penakut.

Umat Kristus Indonesia masih sama-sama seperti tuan makanan utamanya nasi, singkong, ubi, jagung. Kalau tuan makan besi dan lauk pauknya beling, mungkin umat Kristus takut pada tuan.

Selama ini kalau umat Kristus Indonesia diam terhadap hinaan tuan itu, itu semata-mata karena kami mau taat pada ajaran junjungan tertinggi kami, Yesus Kristus. 

Dia mengajarkan kami, "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar", Matius 5:43-45.

Betapa indahnya ajaran Kristus itu. Dia bahkan mengajarkan, "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! (Roma 12:20). Apakah tuan tidak akan terkagum-kagum dengan ajaran Kristus yang sangat menakjubkan ini?

Tuan harus tahu ajaran Tuhan kami, Yesus Kristus, tidak ada taranya di muka bumi ini. Dunia mengajarkan mata ganti mata dan gigi ganti gigi, namun Tuhan Yesus yang tuan hina itu mengajarkan, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi", Matius 22:37-40.

Tuan, saya tidak akan berpanjang lebar. Saya hanya mau beri saran pada tuan sebagai sesama manusia, tolong segeralah cabut hinaan tuan itu terhadap Yesus Kristus dan lekas-lekaslah sujud tersungkur di bawah kaki Yesus Kristus.

Minta ampun dan bertobatlah serta akui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi tuan. Sekarang waktunya. Jangan tunda. Jangan berkeras hati. Yesus masih menunggu tuan. Yesus mengasihi tuan!

Tetapi jika tuan merasa tuan adalah sosok terhebat dan paling benar, tidak pernah salah, orang suci, saya harus ingatkan tuan tentang satu peristiwa sejarah yang tercatat dalam Alkitab.

Semoga tuan mau belajar dari kisah binasanya raja Herodes ribuan tahun yang lampau. Raja yang sangat angkuh dan dungu ini binasa mengerikan karena ia lupa diri. 

Dia meninggikan diri karena dipuja- puji oleh manusia malang yang kebablasan. Merasa diri paling hebat di muka bumi ini.

Kitab Kisah Para Rasul 12:21-23 menjelaskan kisah tragis Herodes ini demikian: "Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia! Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing." 

Yesus Kristus tidak perlu turun tangan langsung untuk membinasakan para lawan-Nya. Dia bisa saja memerintahkan malaikat-Nya untuk melakukan pembinasaan. 

Simak pernyataan Yesus Kristus kepada Petrus seorang muridnya, "Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?" (Matius 26:52-53).

Saya perlu beri tahu tuan, satu malaikat saja bisa menewaskan 185.000 orang sekaligus apalagi kalau ada dua belas pasukan malaikat. Kitab 2 Raja-raja 19:35 menjelaskan, "Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!"

Saya berdoa supaya tuan Rizieq tidak mengalami seperti yang raja Herodes alami dan seperti yang dialami orang-orang Asyur. Begitu juga dengan tuan Somad, tuan Waloni, tuan Sanihu, dan tuan-tuan lainnya para penghina Kristus.

Tapi ingatlah, tuan sudah menghina Yesus Kristus yang adalah Allah sejati itu. Juga dengan tuan-tuan lainnya. Tapi tuan dan tuan-tuan itu sampai hari ini tidak pernah sadar dan mau berhenti dari menghina Yesus Kristus Sang Penguasa surga dan bumi (Matius 28:18), Sang terkemuka di dunia dan di akhirat (QS 3 Ali Imran 45) itu!

Bersiap-siaplah tuan Rizieq dan para penghina lainnya sebagai laki-laki hebat yang harus memberikan pertanggungjawaban atas penghinaan tersebut di hadapan Tuhan Yesus Kristus!
Salam kasih teriring doa buat tuan:
Padri Hans, Sabtu, 14 November 2020, 11.45 WIB.

Thursday, December 17, 2020

Kepada yang terhormat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

 
Kepada yang terhormat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Hal. “Revolusi Habib Rizieq” Adili Habib Rizieq.

Dengan Hormat.

Pekenankanlah saya Prof Otto Conelis Kaligis, dalam hal ini bertindak dalam kedudukan saya Selaku Praktisi dan Pengamat Hukum menyampaikan himbauan kepada Bapak Panglima yang punya tugas utama mempertahankan NKRI, untuk hal berikut ini:

Di era Pemerintahan Bapak Presiden Soehato, disekitar tahun 1982, sebagai seorang advokat, saya pernah membela Adah Djaelani tokoh pergerakan Darul Islam yang hendak membawa Indonesia menjadi Negara Islam Indonesia.

Disaat itu Bapak Pesiden Soeharto tegas, menyapu bersih anasir-anasir yang hendak meruntuhkan NKRI. Peradilan atas Adah Djaelani berjalan lancar. Tanpa adanya pengerahan massa pendukung. Akhirnya semua anasir-anasir pemecah belah persatuan dihabisin.

Sepulangnya Ulama Habib Rizieq (yang konon dihormatinya karena dia adalah seorang keturunan Nabi), bahkan sejak Habib Rizieq diluar negeri, saya telah turut menyaksikan provokasi provokasi si Habib.

Dia tidak mengakui Pemerinahan Jokowi- Ma’ruf, menyebutnya sebagai Presiden ilegal, memprovokasi kemungkinan timbulnya perang saudara bila tentara secara resistensi melakukan perlawanan, menyerukan dilakukannya revolusi achlak (memangnya bangsa Indonesia sudah tidak lagi berachlak?), menyerukan ganti Presiden/Pemerinahan, mencap Pemerintah sebagai rezim curang. Bermaksud menjadikan NKRI yang berdasarkan Pancasila menjadi Indonesia sebagai negara Syariah.

Dari penyataan-penyataan Habib Riezieq terbukti bahwa dia benar-benar mempovokasi pengikutnya untuk melawan Pemerintahan yang sah, dan gerakan separatisnya makin menjadi, karena Penguasa Hukum melakukan Pembiaran aksi provokasi Habib yang makin berani.

Provokasi adalah awal makar. Mungkin Bapak masih ingat Provokasi Osama bin Laden. Provokasi Osama: “We-with God’s help- call on every Muslim who believes in God and wishes to be rewarded to comply with God’s order to kill the Americans and plunder their money wherever and whenever they find it” Provokasi Osama ini mengindroktinasi kaum Muslim untuk membenci orang Amerika serta mensahkan perampokan harta mereka”

Provokasi serupa untuk meruntuhkan Pemerintahan sah Jokowi kini dilancarkan oleh Habib Rizieq dengan mengjustifikasi provokasinya sebagai gerakan bela ulama, khususnya ulama besar Habib Rizieq yang katanya keturunan Nabi yang difitnah oleh Pemerintah Indonesia. Atas Dasar itu Habib Rizieq mengajak umat Islam merapatkan persatuan untuk melawan rezim Jokowi yang disebutnya sebagai rezim curang.

Apabila Provokasi itu dibiarkan berlangsung, maka menurut teori terorisme, ucapan Provokasi tersebut akan menjelma menjadi tindakan terror, sehingga tujuan mencapai kekacauan akan terjadi, yang dampaknya berlanjut kepada tindakan makar.

Sebelum runtuhnya Twin Tower di New York, dikenal dengan peristiwa 11 September 2001 semua Provokasi kelompok terorisme dibenarkan di bawah naungan kebebasan berbicara.

Hanya tindakan nyata yang dihukum. Setelah runtuhnya twin Tower di New York, Badan Intellijen Amerika mulai merobah sikap mereka terhadap kelompok terorisme, yang oleh Osama bin Laden, diperintahkan agar semua Muslim membenci Amerika dan berhak merampok kekayaannya.

Di negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura misalnya memberlakukan “Security Act” semacam Undang Undang subversif, untuk mengatasi Provokasi pemecah belah persatuan bangsa, dan menghukum mereka yang ingin menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Sebenarnya kalau saja Polisi berani bertindak dan tidak melakukan pembiaran atas Provokasi Provokasi Habib Rizieq, Polisi bisa menjerat Habib melalui Kitab Undang Hukum Pidana . 

Baca Buku Kedua mengenai Kejahatan. Bab I. Kejahatan terhadap keamanan negara mulai Pasal 104 sd. 129. Bab. II. Kejahatan Kejahatan terhadap Martabat Presiden Dan Wakil Presiden. Mulai dai Pasal 130 sampai dengan Pasal 139.

Mengapa Habib Rizieg makin besar kepala? Kepulangannya saja diamankan super ketat oleh Polisi. 

Kunjungan silaturahirm dilakukan oleh Gubernur DKI. Anis Baswedan, Amin Rais. Program DKI mengenai prosedur pengamanan Covid 19, dilanggar. Bahkan Masker dibagikan dalam acara perkawinan anaknya. Di acara itu Habib masih sempat melemparkan kata Lonte kepada Nikita Mirzani. Bila mendengar kata-kata Provokasi Habib, saya kira semua orang terdidik, terkaget-kaget mendengar ocehannya.
 
Kecendrungan menuju negara syariah makin deras didengungkan. Penghinaan terhadap agama lain, seperti ada Jin kafir disalibnya orang kristen, atau Injil itu Palsu, dibiarkan oleh Penyidik Polisi. Beda dengan adanya poster poster “jangan Pilih kafir” diera Pilkada AHOK. Padahal the founding father menolak keras dimajukannya Piagam Jakarta.

Saudara kandung Agus Salim ada yang beragama katolik, atau saudara Buya Hamka yang pendeta, tidak dicap oleh keluarga mereka sebagai Kafir. Bahkan Perdana Menteri Sjafruddin Prawiranegara, memegang Injil sebelumnya dieksekusi. Banyak pendiri NKRI bukan Islam, turut bersama membangun NKRI dalam wadah pluralisme. Presiden Soekarno tidak menghendaki Indonesia menjadi negara Agama.

Semoga dengan ditegakkannya Hukum tanpa tebang Pilih. Penghinaan Habib terhadap pemerintahan yang sah, seruan Habib untuk mengganti Presiden, dan segala bentuk Provokasi lannya yang merisaukan Masyarakat, dapat dibawa ke ranah Hukum, demi amannya negara ini.

Saya menulis Surat ini kepada Bapak Panglima, karena saya yakin melalui Doktrin Sapta Marga, Tentara bisa mengatasi Provokasi Habib Rizieq yang berniat mengganti Pemerintahan yang sah.

Sukamiskin, Minggu 15 November 2020.
Prof. Otto C. Kaligis.

Cc. Ade Armando, Denny Siregar, Jappy M Pellokila, dan para kelompok akal sehat.
Cc. Yth Arteria Dahlan.
Cc. Pertinggal
Cc. Medsos pencinta keutuhan NKRI.

Monday, November 30, 2020

Perihal Aksi Teroris di Kab. Sigi Sulteng - Surat Terbuka Kepada Presiden RI


SURAT TERBUKA
Kepada Yth.
Yang Mulia Presiden RI
Bapak Ir. H. Joko Widodo
Di
Jakarta

Perihal : Aksi Teroris di Kab. Sigi Sulteng
Dengan hormat,

Bapak Presiden,
Saya sangat yakin Bapak sudah mengetahui telah terjadi tragedi serangan teror kepada penduduk di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 27 November 2020 yang menewaskan empat orang penduduk dan pembakaran rumah sekaligus tempat ibadah. Menurut informasi yang saya terima kejadian itu terjadi pukul 08.00 WITA dan pukul 12.00 WIB berita dan foto kekejaman teroris sudah menyebar di media sosial dan media massa. 

Selama kurang lebih 3 x 24 jam sejak peristiwa itu saya selalu mengikuti berita tentang hal tersebut. Namun yang membuat saya sedih, kecewa dan prihatin justru berita yang paling saya tunggu-tunggu tidak pernah ada yaitu "Pernyataan Mengutuk Aksi Teroris dan Ucapan Duka Cita dari Presiden RI". Bagi saya ini sangat aneh, janggal dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang Presiden RI tidak segera tampil di media massa menyikapi aksi teroris super kejam yang terjadi di bagian negeri ini. Sangat tidak mungkin Presiden RI tidak mendapat informasi A-1 terkait aksi teror yang menimpa rakyatnya. Berdasarkan literatur apapun pola serangan yang menimpa korban bukan kejahatan kriminal biasa, tapi jelas terang benderang polanya adalah aksi teroris yang ada indikasi kuat bernuansa SARA. Apalagi Polri sudah memberikan informasi bahwa pelaku kekejaman teror tersebut adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Kemana Presiden saya? 
Itu pertanyaan jutaan orang di negeri ini dalam tiga hari terakhir. Mengapa reaksi Bapak Presiden sangat berbeda saat Bapak mengutuk aksi teror di Nice Perancis, bahkan Bapak serta merta mengecam pernyataan Presiden Perancis Emmanule Macron yang sedang melindungi rakyatnya dari ancaman dan kekejaman teroris. Ada kontradiksi yang sangat kental, saat itu Bapak serta merta mengumpulkan semua pemuka agama dan para Menteri untuk membahas serangan teror di suatu tempat di benua lain. Sedangkan aksi teror terhadap rakyat sendiri di negeri sendiri, Bapak terkesan diam seribu bahasa.

Bapak Presiden yang terhormat,
Memang ada pernyataan Pemerintah yang disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD. Tapi bobot psikologi sosial politiknya jauh berbeda dibanding apabila Bapak Presiden menyampaikan kepada rakyat secara langsung dalam waktu yang secepat-cepatnya. Dalam komunikasi politik tentunya Bapak Presiden jauh lebih hebat dibanding saya. Mengapa Bapak tidak melakukan komunikasi politik yang seharusnya? Tidakkah Bapak merasa seluruh rakyat Indonesia sedang menunggu pernyataan Bapak? Apa yang terjadi Bapak Presiden? Terlalu sibukkah Bapak Presiden atau menganggap aksi teror di Nice Perancis lebih penting dibanding aksi teror di Sigi Sulteng?

Satu hal lagi yang ingin saya tanyakan Bapak Presiden yang terhormat. Apakah Bapak pernah mengevaluasi hasil capaian kerja Satgas Tinombala? Sudah berapa puluh bulan mereka bekerja dan sudah berapa milyar uang negara untuk membiayai mereka? Apa hasilnya? Jadi mohon maaf Bapak Presiden, kalau ada dugaan miring dari sebagian masyarakat, jangan-jangan ini hanya sekedar modus agar tugas operasi Satgas Tinombala dilanjutkan? Rakyat Indonesia perlu bukti  aksi nyata bahwa dugaan miring itu salah Bapak Presiden.

Bapak Presiden yang terhormat,
Setelah bertubi-tubi beberapa bulan terakhir negeri ini dihantam berbagai masalah mulai penanganan pandemi Covid-19 yang tidak kunjung membaik, silang sengkarut masalah UU Cipta Kerja Omnibus Law, kemudian kegaduhan sosial dan ujaran kebencian yang merajalela dari Pemimpin FPI Rizieq Shihab. Semua masalah tersebut sampai saat ini belum tuntas diselesaikan. Dan sekarang terjadi aksi teror di Sigi Sulteng. Apa yang terjadi di negeri ini Bapak Presiden?

Terakhir, saya hanya ingin menyampaikan rasa kekecewaan saya yang mendalam atas sikap diam Bapak Presiden terkait aksi teror bernuansa SARA yang terjadi di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Secara jujur saya harus mengatakan, akhir-akhir ini saya seperti kehilangan sosok Jokowi yang dulu sangat saya banggakan. Sosok yang penuh empati, penuh perhatian dan peduli terhadap rakyat, sosok tegas tanpa kompromi. Sosok yang menjunjung tinggi keberagaman, sosok yang anti intolerasi dan radikalisme. Kemana Bapak Jokowi yang saya kenal dulu? 

Mudah-mudahan saya salah karena saya memang sudah tidak tahu lagi seperti apa Presiden yang saya dukung selama dua kali Pilpres saat ini. Mudah-mudahan Bapak Presiden tidak berubah dan tetap seperti dulu.

Harapan saya meskipun sudah SANGAT TERLAMBAT, sebaiknya Bapak Presiden tampil di depan media massa untuk menyatakakan sikap tegas dan jelas terhadap kasus aksi teror di Sigi Sulteng. Biar rakyat Indonesia tahu bahwa negeri ini masih punya Kepala Negara yang empati dan peduli terhadap keselamatan rakyatnya.

Salam sehat, saya mendoakan Bapak Presiden selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Hormat saya,
Rudi S Kamri
Rakyat Indonesia
30 November 2020

Monday, November 23, 2020

Surat Terbuka Kyth Bpk Panglima TNI - Dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta

 

TERIMAKASIH TNI

Ir. KPH.  Bagas Pujilaksono Widyakanigara,  M. Sc.,  Lic. Eng.,  Ph. D. 
UNIVERSITAS GADJAH MADA, Yogyakarta

Kepada Yth, 
Bapak Panglima
Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jakarta


Dengan hormat, 
apa yang telah dilakukan TNI beberapa hari ini, sungguh membuat kami bahagia, lega, dan merasa kembali hidup tenang. Sejak awal reformasi,  kami resah dan gelisah, karena TNI dijauhkan dari kehidupan kami.  Terimakasih TNI.  Ini yang sangat kami tunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya, tindakan tegas dari TNI kepada siapapun (ormas-ormas radikal,  politikus-politikus busuk termasuk Politikus Cebol Berkumis (Mr.Chaplin) yang Sangat Jahat Perilaku Politiknya yang Memprovokasi,  Menebar Kebencian,  dan Memecah-belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa INDONESIA. 

Sejarah panjang bangsa Indonesia menunjukkan, bahwa  TNI selalu sukses menumpas habis para separatis dan pembrontak negara: DI/TII, PRRI/PERMESTA, RMS, PKI Madiun 1948, PKI 1965, dll. TNI adalah alat negara yang paling bisa dipercaya dengan komitmen dan soliditasnya yang sangat tinggi dalam menjaga keutuhan NKRI. 

Reformasi 1998 menggulirkan kebebasan,  demokrasi dan HAM. Sayanya,  ketiga hal tersebut banyak disalah gunakan oleh orang-orang radikalis agama,  dan politikus busuk untuk mengacau kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan cara merampas kebebasan dan HAM orang lain. Demokrasi, HAM,  dan kebebasan di Indonesia saat ini over dosis alias serba kebablasan. (teruskan baca bwh...👇 )

Sekolah-sekolah dan kampus-kampus negeri begitu radikal yang selalu berujung pada deskriminasi pada kelompok-kelompok minoritas.  Mohon maaf,  saya memakai terminologi minoritas,  yang hanya saya tujukan pada jumlahnya,  bukan pada pemenuhan atas hak hidupnya termasuk kebebasan beragama.  Pancasila tidak mengenal istilah Mayoritas-Minoritas: musyawarah untuk mufakat atau musyawarah untuk sepakat.  Radikalisme di sekolah dan kampus, sangat mengganggu kehidupan akademik, karena kampus kehilangan ruhnya,  yaitu Kebebasan dan Rasionalitas. Kebebasan kampus adalah kebebasan mimbar akademik yang sifatnya melatih befikir kritis, obyektif dan jujur, namun sayang nya justru diarahkan untuk men deskriminasi kelompok minoritas,  mematahkan sendi-sendi kebhinnekaan Indonesia dan meruntuhkan negara Sedang rasionalitas ditampilkan dalam panggung-panggung kebohongan yang tidak adakemis sama sekali, karena segala sesuatunya serba dibalut dengan pernak-pernik politisasi agama. Kampus-kampus negeri yang konon katanya menggotong konsep kerakyatan,  dengan leluasa dan bebas sebebas-bebasnya mendirikan rumah ibadah bagi kelompok agama tertentu,  namun tidak ada satupun rumah ibadah yang dibangun di dalam kampus bagi kelompok agama lain. Apakah ini bukan deskriminasi?  Mana konsep kerakyatannya?  Rakyat yang bagaimana?  Dengan dasar apa saya harus percaya pada civitas akademika semacam ini,  yang menurut saya sangat deskriminatif,  bisa berkifir rasional,  akademis, obyektif dan jujur?  Mana rasa keadilan yang manusiawi?  Ini hanya salah satu contoh,  penyusupan-penyusupan kaum radikal agama,  sudah terjadi di segala aspek kehidupan: lembaga negara,  kantor-kantor pemerintah,  BUMN,  dll.  Modusnya,  persis sama dengan apa yang dilakukan PKI di jaman dahulu. Keberadaan mereka sangat berbahaya,  karena modus politik identitasnya yang sangat ekstrim. Sekolah dan Kampus adalah tempat vital,  yang harus segera diselamatkan dari perilaku politik radikal agama.  Bahaya besar! 

Kelompok minoritas dipersulit untuk mendirikan rumah ibadah,  padahal kebebasan beragama sesuai keyakinannya adalah hak azasi manusia paling mendasar.  Mereka dipersekusi dan diteror bahkan dibom saat beribadah atau merayakan acara keagamaannya. Lebih dari itu,  mereka masih dikatakan kafir.  Ini sungguh biadab dan tanpa ada rasa kemanusiaan sama sekali.  Bagaimana mereka bisa dikatakan kafir,  sedang agama mereka adalah agama negara?  Orang dengan mudah dicap PKI,  dikatakan penista agama, penista ulama, ulama mereka berbuat kriminal dikaburkan dengan istilah kriminalisasi ulama,  dll.  Saya muslim dan saya sudah tidak tahan melihat keadaan bangsa Indonesia seperti ini.  Kelompok minoritas di indonesia saat ini adalah kelompok yang tertindas.

Pancasila sebagai ideologi politik bangsa,  dan dasar negara tidak akan pernah bisa menerima politik ekstrim: baik kanan maupun kiri.  Karena, pada dasarnya keduanya sama saja,  sama-sama anti Pancasila dan demokrasi, dan otoriter. Pancasila adalah ideologi politik yang sifatnya seimbang (equilibrium), bukan politik ekstrim.  

Kami sangat berharap TNI bisa memulihkan kehidupan bangsa Indonesia yang, plural,  damai,  toleran dan gotong-royong.

Kami juga memohon TNI membubarkan ormas-ormas radikal agama yang kerjaannya hanya menteror,  memprovokasi,  mempersekusi,  menebar kebencian,  mengkafir-kafirkan orang,  menebar ketakutan dan lain sebagainya.  Bubarkan!

Bersama surat ini,  saya mengusulkan kepada Yth.  Bapak Presiden Joko Widodo untuk secara signifikan menaikkan anggaran belanja TNI guna memoderenisir dan merawat peralatan perang dan memperbaiki kesejahteraan bagi anggota TNI dan keluarganya,  dan berikan kemudahan dan keleluasaan pendidikan secara gratis hingga pendidikan tinggi bagi putera-puteri TNI. Agar,  anggota TNI bisa fokus menjaga keutuhan NKRI, tegaknya Pancasila di bumi pertiwi demi utuhnya ragam pesona kebhinnekaan Indonesia,  dan kembali ke UUD 1945 tanpa amandemen.

Kami semua mendukungmu TNI.  We all love TNI. 

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada NU,  Banser, Ansor,  bapak Habib Lutfi Pekalongan, Gus Nuril,  Gus Yaqut,  dll. Mereka adalah idola dan panutan kami yang tidak pernah lelah menjaga keutuhan NKRI. Terimakasih. 

Secara khusus, kami ucapakan Selamat Ultah kepada PP.  Muhammadiyah. Saya yakin,  kedepan PP.  Muhammadiyah akan semakin gigih mewujudkan perjuangan Islam yang moderat dan kultural.  Islam yang rahmatan lil allamien.  

Terimakasih. 

Yogyakarta,  2020-11-21
Hormat saya, 
BP. Widyakanigara.
Mohon bantu untuk diviralkan. Tks

Friday, November 20, 2020

Kepada Yth, Para Saudaraku Keturunan Arab Di Indonesia.

Kepada Yth, 
Para Saudaraku Keturunan Arab 
Di Indonesia.

Hal : Tabiat tak bermartabat.
Assalamualaikum, WW.

Semoga Bapak, Ibu selalu dalam lingkup kebaikan dan di jaga Allah dalam bermuamalah. 

Bapak, Ibu, seperti kita ketahui dan rasakan bersama bhw akhir-akhir ini khususnya sejak Rizieq Shihab mendirikan FPI, seolah dia mengambil alih peran ulama, peran ustadz, peran satpol PP, bahkan peran penegak hukum. Dia menyebut dirinya imam besar umat Islam Indonesia, entah siapa yg mengangkatnya. Padahal sejak Wali Songo pun tidak ada klaim imam besar umat Islam Indonesia, karena kita sadar betul bhw Islam di Indonesia juga beragam aliran.

Setelah rentetan keributan dan penghasutan dari mulut kotornya Rizieq,  seperti rentetan demo murahan, Minggu ini kita dibuat lelah melihat prilakunya sejak pulang ke Indonesia setelah 3,5 thn kabur dari kasusnya, dia seolah bak manusia dewa dgn kelakuan bejatnya mengumbar gaya. Membiarkan penjemputan dan melakukan hajatan dgn mengumpulkan ribuan masa di tengah pandemi Corona, yg bisa memicu penularan massal. Melakukan orasi tak senonoh di atas mimbar di acara maulid nabi yg di adakannya sendiri. Ngaku cucu nabi, habib kok kelakuan jongkok.

Pengakuan imam besar atas dirinya terus dilanjutkan dgn mulut tak pantasnya, sampai orang mengatakan tema maulid nabi dgn isu " lonte ", ini sangat memalukan umat Islam secara keseluruhan. Agama jadi mainan, nabi dilecehkan, Bahkan Tuhan dipermainkan. Ini keterlaluan, sekali lagi keterlaluan.( baca terus surat terbuka di bwh ini...👇 )

Tidak dapat dipungkiri bhw prilaku dan tindakannya yll mengganggu ketenteraman umat Islam sendiri dan umat yg beragama lain. Karena saat ramadhan FPI bs mensweeping orang jualan makanan, saat Natal mereka bisa masuk ke Mall mengganggu org yg bekerja memakai baju Sinter Class. Kebiasaan itu berkembang menebar permusuhan sampai ke tingkat penghinaan kepada Pancasila, ulama, bahkan Kepala Negara.

Saya tidak menyamaratakan kelakuan saudara kita keturunan Arab yg tinggal di Indonesia seolah "berengsek" semua, masih banyak ulama dari saudara keturunan Arab yg berilmu dan mulia, ada Prof. Quraisy Shihab, dst. Tapi dalam berpolitik warga keturunan Arab yg seolah mengklaim warga kelas atas karena nabi Muhammad lahir disana, hanya saja sebagian yg ada di Indonesia ternyata keturunan Abu Jahal, dan Ibnu Muljam. Buktinya mereka jahat dan kejam merusak tatanan ke islaman dan keamanan sosial serta mengancam negara kesatuan RI yg lahir dari darah pahlawan, bukan hadiah dari raja Arab.

Jenderal Purnawirawan Hendro Priyono pernah beberapa kali memperingatkan dgn keras dan menyebut warga keturunan Arab jgn membuat onar di Indonesia. Namun tanpa meminjam kalimat beliau pun didepan mata kita dgn kasat bisa kita lihat, bahwa kalimat itu nyata adanya. 

Kita sebut saja prilaku Anis  Baswedan dgn mengacak Jakarta, Yusuf Martak, Ba'asyir, Heikal Hasan, dst. Bicaranya selalu revolusi, dan sejenisnya menggertak NKRI, memaki Pancasila. Mengaku beradab, menyanjung keturunan kesayangan Tuhan, namun kelakuannya membahayakan negara kesatuan. Bahkan sekelas anaknya Rizieq sdh bs memprovokasi di dalam pengajian, seolah Indonesia akan di kuasai China. 

Dari statistik thn 2018, warga keturunan Arab di Indonesia populasinya ada 11.000, dan China 3,2 juta. Jujur kalau kita bicara muamalah warga keturunan China lah yg jauh lebih bermanfaat ada di republik ini karena  dengan populasi sebesar 1,2% itu mereka menguasai 80% perekonomian Indonesia, jutaan tenaga kerja di tampung pada industri mereka, dari mulai makanan sampai baja dan pakaian. 

Terus maaf warga keturunan Arab sumbangannya apa, import gamis sebagai budaya, sekalinya ngaku ulama jadi provokator, jualannya ngasi janji surga, padahal selama di dunia perut inilah yg harus diurus, nah warga China lah yg mengurusi perut sebagian besar rakyat Indonesia, bukan orang Arab yg janjikan surga gak pernah ngasi apa-apa.

Coba melek mata dan hati. Anis ngaku pribumi, jadi gubernur Jakarta menggantikan Ahok yg China, padahal Anis juga bukan pribumi, dia berlindung di balik keislamannya yg berengsek. 

Hasilnya Jakarta diacak-acak seperti orang tak berpendidikan, apalagi beragama. Mulutnya penuh kebohongan, munafik, dan menjijikkan untuk seorang manusia, kecuali kalau dia binatang.

Lihat Minggu ini Jakarta dirusak dua orang keturunan Arab, Anis dan Rizieq dgn prilaku bejadnya, sayang kaum inalnder ini yg terlalu tolol dan kelamaan minum air rendaman sorban orang Arab, walhasil ada orang bejat ngaku ustadz jadi panutan, absurd. Korbannya dua Kapolda bego di copot, dan TNI bergerak menertibkan baliho imam keparat yg menantang aparat.

Wahai saudaraku keturunan Arab, lihat foto yg ada, begitu mesranya kaummu dijamu keluarga Cendana yg 32 thn merusak Indonesia, apakah ini pilihan kalian menjadi embrio meneruskan perusakan nyata dgn memakai tameng agama karena kalian telah mengukir bahwa Islam Indonesia adalah Islam kelas dua. Dan kalian mencemooh Islam Nusantara yg memang telah ada sejak Wali Songo dan sebelumnya. 

Jadi jangan klaim bahwa kalianlah yg pertama mengajari kami berislam, karena 3 diantara Wali Songo adalah orang China. Jadi biarkan kami beragama Islam gaya China, melakukan hablumminallah dan hablumminnas dgn cerdas, bukan teriak takbir, kelakuan kafir. Kami akan ikuti akhlak Rasullulah sbg pedagang dan menghidupi jutaan manusia, itulah yg dilakukan orang China, tak salah Rasullulah berkata; belajarlah sampai ke China bukan ke Arab, dan sifat pedagang Rasullulah diteruskan orang China, sementara jazirah Arab dipenuhi perang saudara. Jangan kalian tularkan kebiasaan perang, biarkan kami membiasakan jadi pedagang, tapi bukan dagangan agama, menjual surga.

Pelajaran diatas harusnya cepat di respon oleh paguyuban Arab, apakah itu kumpulan para habib, atau apalah, yg penting hentikanlah keturunan Arab yg banyak membuat ulah dan membuat resah, jangan lagi agama dijadikan komoditi, China dihina padahal kalian gak ada guna-gunanya buat Indonesia. 

SELAMAT BERKACA SEBELUM TERAMBAT, ATAU MASIH MAU MINTA BANTUAN LAGI KE CENDANA. 

Sidoarjo, 19 Nop 2020.
Tulisan Iyas Subiakto

GERAK SIGAP TNI DAN "ARAB SPRING"

Respon TNI terhadap gelagat memecah persatuan bangsa layak diapresiasi. Nampaknya setelah kecolongan di bandara Soetta,   kini TNI -  khususnya Pangdm Jaya -  tak mau dipermalukan lagi.  Atau Pangdam  akan hilang jabatan seperti Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jabar.   

Saya kira intelejen sudah mencium gelagat yang lebih masif.  Bahwa  "refolusi akhlak" yang didengungkan itu hanya kedok untuk merebut kekuasaan. 

Patut dicurigai bahwa ada banyak elite lokal yang menumpang isu itu.  Khususnya kubu Cendana dan pengusaha dan dan mantan penguasa yang diuntungkan oleh rezim sebelumnya.  Akumulasi kekecewaan karena tidak kebagian posisi - kehilangan jabatan dan pengungkapan berbagai kasus yang melibatkan mereka. Juga pundi pundi dari bisnis gaya mafia yang hilang.  

WAJAH WAJAH yang hadir dalam acara Maulid Nabi dan resepsi pernikahan di Petambuaran -  Jakarta Pusat,  beberapa hari lalu - menunjukkan siapa saja yang menyuntik energi sang Imam cabul itu punya nyali lebih.  Karena backing-nya kuat dan massanya militan.  

Afif Fuad Saidi, sorang kolumnis di media Islam moderat  Cyber Waroom PP GP Ansor,  menandai bahwa tanda tanda "Arab Spring" sudah nampak di sini.  Dia menyebut tiga cirinya. 

"Arab Spirng" adalah gelombang musim semi politik di jazirah Arab yang awalnya menjatuhan rezim korup di Tunisia namun pada akhirnya  merembet dan meluluh lantakkan negara.  Dimulai dari Tunisia,  Libya, Yaman dan Suriah.  

Target berikutnya adalah Indonesia. Dan kini tengah diupayakan.  

Negara negara muslim di Timur Tengah itu  sudah hancur luluh  dan jadi negara gagal akibat gerakan propaganda kaum radikalis yang mengatasnamakan revolusi. 

Penjaja revolusi menjanjikan seribu janji manis, khilafah Islam, keadilan,  perdamaian, kesejahteraan. Surga.  Namun yang terjadi kebalikannya, perang sipil berkobar, sling bunuh sesama,  negara  hancur dan menyiskan penyesalan. Neraka dunia.  

Gerakan yang dimotori oleh kelompok ‘radikal’ tersebut, sudah nampak di sini.  Sudah siaga. 

Mereka akan melakukan apa yang dilakukan oleh idola mereka di jazirah Arab sana untuk menghancurkan negeri. Massa pendukung mereka adalah orang orang yang kalah - gagal dalam hidup -  kurang pendidikan dan korban hasutan politik berkedok agama.  

Mimpi khilafah Islamiyah di Suriah, Irak, dan Libya menyebabkan gelombang pengungsian ke Eropa.  

Ikhwanul Muslimin yang  memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia harus kecewa karena  negara-negara tersebut luluh-lantah akibat kekacauan. 

Dan kini mencuci otak generasi muda di sini melalui dakwah tarbiyah PKS. Hampir semua kebiajakan pemerintah ditentang PKS.  Meniru Mesir. 

Keberhasilan kelompok radikal menghancurkan jazirah Arab menjadi semangat jejaring mereka di Eropa, Afrika, Asia, Australia, bahkan kini sampai ke Indonesia. 

Inilah tiga tandanya, kata  Afif Fuad Saidi : 

PERTAMA, politisasi agama. 

Sedang gencar dikobarkan.  Gerakan mereka mengatasnamakan "umat" dan "Tuhan", gerakan mereka seolah membela "agama" dan umat Islam, serta menjadikan simbol-simbol Islam sebagai basis gerakan mereka. Di Damaskus, mereka menggunakan Masjid Jami’ Umawi sebagai markas demonstran,

Sedangkan di Indonesia, pengajian pengajian dan mimbar masjid - khususnya pada khutbah Jumat - mereka gunakan untuk propaganda kebencian pada pemerintah.  Jika Yusuf Al Qardlawi pimpinan Ikhwanul Muslimin pernah menyerukan “Jumat al-Ghadab” atau "Jumat kemarahan", itu yang sudah dipraktikkan di Indonesia.

KEDUA, melakukan pembunuhan karakter pada ulama. 

Khususnya ulama yang menjadi lawan politik dan gerakan mereka.  Ulama yang pro pemerintah, pro kebangsaan dan NKRI mereka tuding "penjilat istana"

Di Danaskus - Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi, ulama besar yang karyanya bertebaran di perpustakaan kampus Islam dunia, wafat di masjid al-Iman Damaskus saat pengajian tafsirnya berlangsung. Al-Buthy dan 45 orang lainnya harus terbunuh hanya karena berbeda pandangan politiknya.

Al-Buthi juga dianggap “penjilat istana” dan dianggap sebagai pengikut Syiah -  padahal Al-Buthi adalah ulama Aswaja, ceramah dan karyanya getol menyuarakan Aswaja : ashul sunah wa jama'ah - hanya karena pandangan kebangsaannya, beliau harus terbunuh.

Lalu, bagaimana di Indonesia? Kurang lebih sama, para ulama dibunuh karakternya, Prof. Quraish Shyihab adalah salah satunya. Mereka menuduhnya sebagai seorang syiah, Kiai Mustafa Bisri dituduh liberal, begitu juga Kiai Said Agil Siradj, dituduh Syiah dan liberal, yang berseberangan pandangan politiknya dihabisi, difitnah, ingat kasus TGB Zainul Madji? 

Tokoh yang awalnya mereka puja, karena pandangan politiknya berubah, mereka memfitnahnya sedemikian rupa.

Sebaliknya mereka memanggungkan ustadz abal-abal yang lebih menghibur. Atau enteng mencaci maki.   

KETIGA propaganda anti pemerintah.  

Mereka melakukan agitasi dan seruan ketidakpercayaan pada pemerintah dan istana. 

Di Suriah, Basyar al-Assad dituduh Syiah, dituduh kafir dan membantai kaum sunni. Sedangkan di Indonesia, Jokowi dituduh anak PKI, keluarganya dituduh sebagai Kristen, antejlk China. Polanya sama. 

Mereka juga menggugat ketidak-percayaan pada sistem dan pelaksana negara. Mereka menawarkan “Teko ajaib” bernama khilafah islamiyah sebagai solusi dari sistem demokrasi. 

Masalah apa pun yang ada di Indonesia, solusinya adalah Khilafah Islamiyah, dengan melemahkan sistem dan pelaksana negara di Indonesia. 

Di Suriah ada jargon tertentu yang selalu diteriakkan, seperti "al-sha’b yurid isqat al-nizam"  (rakyat menghendaki rezim turun) dan "irhal ya Basyar"  (turunlah Presiden Basyar), di Indonesia juga sama, apa pun demonya, intinya tetap "turunkan Presiden Jokowi".

Polanya sangat mirip, jika tidak boleh dikatakan sama. 

Suriah saat ini luluh lantak karena membiarkan dan terlena pada gerakan ‘radikal’ tersebut. Jangan sampai di Indonesia terjadi seperti Suriah. 

Semoga TNI dan Polri - khususnya Polda Metro Jaya dan Pangdam Jaya - tidak kecolongan lagi. 

Mari bersama lawan propaganda mereka.  

Sing waras ojo ngalah! 

Yang waras jangan ngalah. 

[Supriyanto Martosuwito]

Wednesday, November 18, 2020

Kepada yang terhormat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ( Surat Terbuka) Penting Untuk Ditanggapi Panglima


Kepada yang terhormat *Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto*.

Hal. *“Revolusi Habib Rizieq” Adili Habib Rizieq*.

*Dengan Hormat.*

Pekenankanlah saya *Prof Otto Conelis Kaligis*, dalam hal ini bertindak dalam kedudukan saya Selaku Praktisi dan Pengamat Hukum menyampaikan himbauan kepada Bapak Panglima yang punya tugas utama mempertahankan NKRI, untuk hal berikut ini:

Di era Pemerintahan Bapak Presiden Soehato, disekitar tahun 1982, sebagai seorang advokat, saya pernah membela Adah Djaelani tokoh pergerakan Darul Islam yang hendak membawa Indonesia menjadi Negara Islam Indonesia.

Disaat itu Bapak Pesiden Soeharto tegas, menyapu bersih anasir-anasir yang hendak meruntuhkan NKRI. Peradilan atas Adah Djaelani berjalan lancar. Tanpa adanya pengerahan massa pendukung. Akhirnya semua anasir-anasir pemecah belah persatuan dihabisin.

Sepulangnya Ulama Habib Rizieq (yang konon dihormatinya karena dia adalah seorang keturunan Nabi), bahkan sejak Habib Rizieq diluar negeri, saya telah turut menyaksikan provokasi provokasi si Habib.

*Dia tidak mengakui Pemerinahan Jokowi- Ma’ruf*, menyebutnya sebagai *Presiden ilegal*, memprovokasi kemungkinan timbulnya perang saudara bila tentara secara resistensi melakukan perlawanan, menyerukan dilakukannya revolusi achlak (memangnya bangsa Indonesia sudah tidak lagi berachlak?), *menyerukan ganti Presiden/Pemerinahan*, *mencap Pemerintah sebagai rezim curang*. *Bermaksud menjadikan NKRI yang berdasarkan Pancasila menjadi Indonesia sebagai negara Syariah*.

Dari penyataan-penyataan Habib Riezieq terbukti bahwa *dia benar-benar mempovokasi pengikutnya untuk melawan Pemerintahan yang sah*, dan gerakan separatisnya makin menjadi, karena Penguasa Hukum melakukan Pembiaran aksi provokasi Habib yang makin berani.

Provokasi adalah awal makar. Mungkin Bapak masih ingat Provokasi Osama bin Laden. Provokasi Osama: “We-with God’s help- call on every Muslim who believes in God and wishes to be rewarded to comply with God’s order to kill the Americans and plunder their money wherever and whenever they find it” Provokasi Osama ini mengindroktinasi kaum Muslim untuk membenci orang Amerika serta mensahkan perampokan harta mereka”

*Provokasi serupa untuk meruntuhkan Pemerintahan sah Jokowi kini dilancarkan oleh Habib Rizieq* dengan mengjustifikasi provokasinya sebagai gerakan bela ulama, khususnya ulama besar Habib Rizieq yang katanya keturunan Nabi yang difitnah oleh Pemerintah Indonesia. Atas Dasar itu Habib Rizieq mengajak umat Islam merapatkan persatuan untuk melawan rezim Jokowi yang disebutnya sebagai rezim curang. ( teruskan baca surat penting... 👇👇👇)

Apabila Provokasi itu dibiarkan berlangsung, maka menurut teori terorisme, *ucapan Provokasi tersebut akan menjelma menjadi tindakan terror*, sehingga tujuan mencapai *kekacauan akan terjadi, yang dampaknya berlanjut kepada tindakan makar*.

Sebelum runtuhnya Twin Tower di New York, dikenal dengan peristiwa 11 September 2001 semua Provokasi kelompok terorisme dibenarkan di bawah naungan kebebasan berbicara.

Hanya tindakan nyata yang dihukum. Setelah runtuhnya twin Tower di New York, Badan Intellijen Amerika mulai merobah sikap mereka terhadap kelompok terorisme, yang oleh Osama bin Laden, diperintahkan agar semua Muslim membenci Amerika dan berhak merampok kekayaannya.

Di negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura misalnya memberlakukan “Security Act” semacam Undang Undang subversif, untuk mengatasi Provokasi pemecah belah persatuan bangsa, dan menghukum mereka yang ingin menjatuhkan pemerintahan yang sah.

*Sebenarnya kalau saja Polisi berani bertindak dan tidak melakukan pembiaran atas Provokasi Provokasi Habib Rizieq, Polisi bisa menjerat Habib melalui Kitab Undang Hukum Pidana* . 

Baca Buku Kedua mengenai Kejahatan. Bab I. *Kejahatan terhadap keamanan negara mulai Pasal 104 sd. 129*. Bab. II. Kejahatan Kejahatan terhadap Martabat Presiden Dan Wakil Presiden. Mulai dai Pasal 130 sampai dengan Pasal 139.

*Mengapa Habib Rizieg makin besar kepala?* Kepulangannya saja diamankan super ketat oleh Polisi. 

*Kunjungan silaturahirm dilakukan oleh Gubernur DKI*. Anis Baswedan, Amin Rais. Program DKI mengenai prosedur pengamanan Covid 19, dilanggar. Bahkan Masker dibagikan dalam acara perkawinan anaknya. Di acara itu Habib masih sempat melemparkan kata Lonte kepada Nikita Mirzani. Bila mendengar kata-kata Provokasi Habib, saya kira semua orang terdidik, terkaget-kaget mendengar ocehannya.
 
*Kecendrungan menuju negara syariah makin deras didengungkan*. Penghinaan terhadap agama lain, seperti ada Jin kafir disalibnya orang kristen, atau Injil itu Palsu, dibiarkan oleh Penyidik Polisi. Beda dengan adanya poster poster “jangan Pilih kafir” diera Pilkada AHOK. Padahal the founding father menolak keras dimajukannya Piagam Jakarta.

Saudara kandung Agus Salim ada yang beragama katolik, atau saudara Buya Hamka yang pendeta, tidak dicap oleh keluarga mereka sebagai Kafir. Bahkan Perdana Menteri Sjafruddin Prawiranegara, memegang Injil sebelumnya dieksekusi. Banyak pendiri NKRI bukan Islam, turut bersama membangun NKRI dalam wadah pluralisme. Presiden Soekarno tidak menghendaki Indonesia menjadi negara Agama.

Semoga dengan ditegakkannya Hukum tanpa tebang Pilih. Penghinaan Habib terhadap pemerintahan yang sah, seruan Habib untuk mengganti Presiden, dan segala bentuk Provokasi lannya yang merisaukan Masyarakat, dapat dibawa ke ranah Hukum, demi amannya negara ini.

*Saya menulis Surat ini kepada Bapak Panglima*, karena saya yakin melalui Doktrin Sapta Marga, Tentara bisa mengatasi Provokasi Habib Rizieq yang berniat mengganti Pemerintahan yang sah.

Sukamiskin, Minggu 15 November 2020.
Prof. Otto C. Kaligis.

Cc. Ade Armando, Denny Siregar, Jappy M Pellokila, dan para kelompok akal sehat.
Cc. Yth Arteria Dahlan.
Cc. Pertinggal
Cc. Medsos pencinta keutuhan NKRI.

Thursday, November 12, 2020

SEPUCUK SURAT DARI TEMAN DI ARAB SAUDI😗

 

SEPUCUK SURAT DARI TEMAN DI ARAB SAUDI😗

Warta islami ~ Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa saya, Indonesia tercinta

Bukan pula menyerang negara Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana saya berdomisili saat ini.

Tujuan tulisan singkat saya ini untuk memberikan wawasan / kesadaran kepada teman-teman, kakak, dan adik-adik saya dan sesama saudara warga negara Indonesia di mana saja berada

Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan panutan / pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai.

Harapan saya hanya satu :
Semoga Bangsa Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta, Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini - termasuk saya - tidak menjadi bangsa yang inferior (rendah diri), tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.

Begini, saya melihat hubungan antara Arab ( khususnya Arab Teluk ), Barat ( khususnya Amerika ), dan Indonesia ( khususnya yang mengagumi Arab ) itu unik, menarik, dan lucu !

Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas2 pro-Amerika (dan Inggris)

Hampir semua produk2 Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast foods) sampai yg berkelas dan bermerk untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan ini.

Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk-produk Barat tadi.

Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping
(bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).

Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah). ( baca terus surat terbuka di bawah.... )

Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat & inferior (rendah diri) terhadap orang-orang Barat.

Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat pameran barang-barang branded tsb, dan mereka menganggap saya adalah “jongosnya”.

Bagi orang2 Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka adalah “Kelas Buruh”, sementara org bule, sekere & sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama, dianggap “kelas elit”

Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.

Sejumlah universitas2 beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, Texas A & M, Carnegie Melon Univ, dll).

Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa (jg Aussie).

Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia !
Sementara (sebagian) warga Indonesia memimpikan belajar di Arab Saudi
Lucunya, para fans/penyembah Arab Saudi dan Arab-Arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri tidak “menggubris” mereka (penyembah Arab)

*Para “cheerleaders/pengidola” Arab ini (para fans Arab di Indonesia),
juga mati2an anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela Barat*

Kita bertutur memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum, dan berbagai istilah arab lainnya, padahal, mereka merendahkan kita). Kita seolah gagal faham untuk membedakan antara Islam dan Arab
Islam menghargai kita sedangkan Arab menganggap kita ini bangsa budak

Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak sekali dari “dua dunia” ini

Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yang tetap orang kampungan Jawa

Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi dan kebudayaan leluhur kita

Itulah orang Saudi, mereka menganggap kecil terhadap orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mrk menyangka saya cuma tenaga profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka CUMA 2 ribu atau 3 ribu Real. (1 real = 3700)

Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama dengan orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu.

Saya bilang, saya pernah training di Inggris dan di Amerika, dan ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi.

Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau Nationality profiling.

Mudah-mudahan pemerintah tidak mengirim lagi TKI atau TKW sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia bangsa budak.

Tetapi kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.

Sekali lagi :

Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat - saya cuma orang Jawa, Indonesia - yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli yang dibayar berdasarkan keahliannya.

Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan diri, saya merasa bangga ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya dijemput oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif.
Itu kebanggaan saya, karena biasanya yg jadi sopir itu orang Indonesia.

Mudah-mudahan kita tidak jadi bangsa budak dan budak di antara bangsa lain.

Belum lama ini sy mengadakan survei dg responden para mahasiswaku (sekitar 100 mahasiswa) yg mayoritas beretnik Arab & Saudi. Survei ini bersifat “confidential” dan identitas mahasiswa tdk diketahui. Salah satu pertanyaan dlm survei adl : "Agar lebih Islami, apakah masyarakat Muslim non-Arab harus meniru & mencontoh masyarakat Arab & menjalankan kebudayaan mereka?” Jawaban mrk, sekitar 60% bilang “tidak”, 12% bilang “ya”, selebihnya “mungkin” & “tidak tahu”.

Saya tdk tahu secara pasti apakah jawaban mrk itu ada kaitannya dg “doktrin2” pentingnya menghargai pluralitas budaya, agama, & masyarakat yg selama ini sy “ajarkan” di kelas atau mungkin karena pengaruh pendidikan yg semakin meningkat atau gelombang modernisasi & “internetisasi” yg mewabah di kawasan Arab.

Apapun faktor2nya, yg jelas hasil survei ini “sedikit menggembirakan” (setidaknya buatku), meskipun masih banyak tantangan cukup besar menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yg mustahal jika kelak kaum Muslim Arab & Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju, terbuka, dan toleran. Dan bukan suatu hal yg mustahal pula jika kelak kaum Muslim Indonesia justru “nyungsep” menjadi umat yg bebal, tertutup, dan intoleran.

Di saat masyarakat Arab mulai lelah dg konflik & kekerasan serta mulai menyadari pentingnya keragaman & hidup bertoleransi, sejumlah kaum Muslim di Indonesia justru menjadi umat intoleran dan anti-kemajemukan…

( Sumanto Al Qurtuby, seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.)

Untuk menambah wawasan..
Menarik untuk di ketahui👍

PS/NB.
#Orang Arab sdh meninggalkan doktrin dogmatis...sedangkan orang Indonesia  sdg asyik2nya dengan doktrin dogmatis dan kadang2 mengalahkan logika nalar sehatnya..sedangkan kemajuan peradaban dunia bagaikan gelombang besar yg siap menerjang dan melumat bg bangsa yg tdk siap dan bisa adaptif secara komprehensif dg setiap perubahan kemajuan global dunia yg terjadi..

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)