Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Friday, August 24, 2018

Ahok menanam benih keberanian mengajukan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games.



Ahok Menanam, Jokowi Menyiram, Rakyat Indonesia Menuai

Pembukaan Asian Games 2018 telah mengangkat nama bangsa dan negara ke level kelas dunia. Dunia memuji Indonesia. Semua mata dunia melihat gawean Asian Games 2018 itu naik kelas selevel Olimpiade.

Bagaimana bisa Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018?

Pada 2014, Ahok mengajukan diri Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Di Incheon Korsel, Ahok menerima bendera Asian Games setelah komite Asian Games menyetujui Jakarta sebagai tuan rumah 2018.

Ahok menanam benih keberanian mengajukan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games.

Komite Asian Games memberikan kepercayaan pada Ahok sebagai gubernur yang mampu membangun fasilitas olahraga sesuai standar dunia.

Ahok bersama sohibnya Jokowi ngebut siang malam membangun Velodrome melebihi standar Internasional. Semua fasilitas olahraga dan fasilitas pendukung seperti LRT, MRT di gesa demi kebanggaan sebagai bangsa yang besar. Indonesia pasti bisa. Fasilitas GBK dipercantik dengan serius. GBK jadi stadion megah.

Apa yang ditanam Ahok 2014 lalu kini dituai dan dipetik dengan manis oleh rakyat Indonesia.

Dari balik jeruji besi Mako Brimob, sayup-sayup Ahok mendengar sorak membahana nama sahabatnya Jo..ko..wi..Jo..ko..wi..Jo..ko..wi

Ada yang menanam, ada yang menyiram, ada yang menuai.
Ahok telah menanam dengan cinta,  Jokowi menyiramnya dengan cinta. Dan kita seluruh rakyat Indonesia menuai hasil kebanggaan sebagai bangsa yang besar, terhormat dan terpuji. Dipuji dunia. Dibicarakan dunia.

Terimakasih Koh Ahok atas keberanian dan kepercayaan dirimu mengajukan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 2018 pada 2014 lalu.

Kini rakyat Indonesia punya kehormatan dan kebanggaan sejajar dengan negara maju lainnya di dunia.

Salam perubahan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Dalam hati sy memohon pada sang khalik, maafkan hambamu yg sangat kejam membenci pemimpinnya ini.



Baca ini mbrebes mili.... air mata jatuh.....

Kepada bpk presiden RI
Saya bukan pendukungmu, bahkan sy pembencimu. Sy tak rela engkau kembali jadi presiden.
Bukan karna harga2 pada mahal spt kata orang, toh kami masih pada mampu untuk belanja, padahal kami bukan orang mampu.
Sy menolakmu karna masalah idiologi, masalah kapasitasmu dan semua predikat tentangmu spt yg sy yakini selama ini.
Maka ketika gempa menimpa kami, dan engkau datang berkunjung. Sy tetap tdk respek. Toh itu tugasmu pak presiden.
Maka ketika engkau datang ke Lombok Utara dan masyarakat pada menyambutmu, sy diam saja dan hanya melihatmu dari jauh dgn rasa sinis. Bahkan sy melarang anak istri untuk ikut larut dlm euforia kegembiraan menyambutmu. Padahal sy lihat istri sy pengen juga mendekat, ikut salaman bahkan berfoto2 spt yg dilakukan masyarakat lainnya.
Sampai datang waktu sholat. Kulihat bapak presiden tetap ingin sholat jamaah bersama kami walau diingatkan sarana yg tdk memungkinkan.
Dgn tenang bpk presiden menuju gentong biru tempat penampungan air untuk berwudhu. Sangat hati2 dan memakai air sedikit sekali, mungkin karna tahu air bersih sulit kami dapatkan. Dan agar jamaah lainnya tetap kebagian air untuk berwudhu.  Lalu menyilahkan orang lain berwudhu di tempat itu.
Sampai pada saat sholat sy masih mencari2 kesalahannya. Bacaannya standar2 saja spt imam lainnya.
Orang2pun bersalaman dgn bpk presiden  tanpa canggung. Tapi sy tetap menjauh dan tdk peduli.
Ketika bapak presiden ikut tidur di tenda, sy diam2 mulai memperhatikannya. Sosok yg mungkin sudah letih malam itu, tetap tampil penuh perhatian, menyapa rakyatnya dan berdiskusi pendek entah apa yg ditanyakan.
Tubuh pemimpin itu rela merebahkan tubuhnya di bawa tenda beralaskan karpet di lapangan sepak bola ini dgn kondisi yg sangat memprihatinkan.
Sejak tidur ditenda ini. Sy tdk pernah pulas, selalu was was dan terbangun begitu mendengar bunyi apapun. Khawatir dgn gempa susulan, khawatir dgn semua kemungkinan buruk yg siap menimpa kami.
Tapi malam ini,  alampun seperti diam memberi kenyamanan untuk kami beristirahat. Begitu syahdu, begitu damai perasaan keluarga sy.
Baru kali ini sy pulas tertidur seperti ada seseorang yg melindungi kami, menjaga istirahat kami, berada ditengah2 kami seperti rakyat lainnya.
Sebelum tertidur, sy masih melihat dari jauh sosok pemimpin itu terbangun duduk. Mengitari pandangannya melihat dgn seksama pada rakyatnya yg bergelimpangan diatas tikar.
Bapak presiden ikut merebahkan badannya, ikut bersama kami merasakan dinginnya malam,.
Malam ini begitu damai dan tenang. Bahkan suara tangis anak2 yg biasanya berisik malam ini tdk terdengar. Anak sy juga tidak rewel. Malam yg begitu tenang. Seakan tidur kami di nina bobokkan oleh seorang ayah pada anak2nya.
Ya, seorang presiden pada rakyatnya.
Sewaktu bapak presiden pamit untuk melanjutkan perjalanannya, barulah sy  mendekat untuk ikut menjabat tangan itu.
Dgn lirih sy ucapkan terimakasih dan kata maaf yg mungkin tdk dimengerti oleh bapak presiden.
Dalam hati sy memohon pada sang khalik, maafkan hambamu yg sangat kejam membenci pemimpinnya ini.
Kulihat ketulusan pada wajah kurusnya, kulihat keteduhan pada matanya. Kulihat senyum tipisnya yg ikhlas sambil menjabat tangan sy. Ingin rasanya memeluk tubuh kurus yg keletihan itu sambil memohon maaf, ampun atas kesalahan2 yg kulakukan.
Tapi sy hanya bisa berkata pelan " maafkan sy pak."
Hanya itu yg keluar dari mulut sy, karna bapak presiden dgn cepat menjabat tangan2 yg lain.
Sy melihat punggung itu menjauh ditemani bapak gubernur kami TGB.
Sosok pemimpin2 yg baru saja memperlihatkan jatidirinya, tabiat dan karakternya, bukan pencitraan spt yg selama ini sy tuduhkan...
Maafkan sy bapak presiden. Maafkan rakyatmu yg tdk tahu diri, yg hanya mengenalmu dari opini2 dan sosial media.
Walau sy masih bersyukur, masih sempat meminta maaf sebelum ajal menjemput dan mempertanggung jawabkan semua dosa2 sy terhadap sang ulil amry kepada sang Khalik Allah SWT...
   
Tanjung, Lombok Utara. Agustus 2018
Muh. K. Anwar

Bukannya saya mendukung jokowi...saya hanya tidak betah melihat kebohongan berseliweran di medsos



Bencana Nasional Berupa Kebodohan dalam Menerima Informasi
10 Dzulhijah 1439 H/ 21 Agustus 2018 M Pukul: 23.00 WITA
Oleh : Dr.Andi Mohammad Ardan,SpBP-RE

Tidak ada di lokasi...tidak pula datang membantu...hanya berdasarkan katanya...katanya...dan katanya....katanya di lombok rakyat ditelantarkan...ktanya di lombok rakyat tidak diperdulikan....katanya...katanya...katanya pemerintah lebih sayang uang daripada rakyat...

Cukuplah apa yg saya sampaikan beberapa hari ini adalah bukti...betapa pedulinya pemerintah pada saudara kita di lombok...betapa “tidak sedikit” dana yg harus digelontorkan oleh pemerintah untuk membantu saudara kita di lombok....

Anggaplah untuk memberangkatkan saya dan tim yg saat ini bertugas...dana yg disiapkan oleh pemerintah sangatlah wah...tidak perlu saya sebutkan berapa besarnya...yang pasti cukup besar...bahkn sangat besar menurut saya... dua kali lipat ransum yang diberikan saat bencana merapi di jogjakarta...sehingga membuat kami sangat sungkan apabila sampai sini tidak bekerja...

Itu untuk kami saja...belum ongkos untuk membangun tenda...tau berapa biya sewanya?25 juta perhari...!!!kamar operasi darurat yang dibuat dari kontainer...lengkap dengan AC dan fasilitas operasi yang melebihi kelengkapan rumah sakit tipe A tempat saya bekerja...ah tidak sanggup saya menghitungnya....

Belum lagi tenda yang terus berdatangan tiap hari...yang jumlahnya sangat banyak...bahkan bantuan logistik yang datang tadi pagi melalui laut telah tiba...sehingga membuat KRI soeharso (Rumah Sakit Kapal) harus melaut karena kapal yang membawa bantuan ingin merapat di pelabuhan...

malam sebelumnya...bantuan datang melalui pesawat hercules....24 jam!!! Terus bergerak...bantuan dan logistik dari pemerintah terus mengalir...

Dari segi kurir...PT POS Indonesia menggratiskan biaya pengiriman semua bantuan dari daerah menuju lombok...semua GRATIS?!?!

Bukannya saya mendukung jokowi...saya hanya tidak betah melihat kebohongan berseliweran di medsos...ada tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran pertanggung jawaban kepada Allah rabbul alamin....dan sayangnya kebohongan itu disebarkan oleh mereka yg sebenarnya tidak ada di lokasi...hanya sekedar share berita...dan kalau dikejar dari siapa...katanya dari teman...apakah teman ada dilokasi...tidak...tapi dari temannya teman...ujung ujungnya....sanadnya terputus...dalam ilmu hadist masuk kategori hadist palsu!!!

Alhamdulillah...dari teman teman relawan yang memang benar benar telah berada dilokasi tidak ada satupun dari mereka yg complaint akan tindakan pemerintah

Mau tau kenapa???

Yang pasti dan jelas...
memang karena mereka lebih fokus membantu dan bekerja...bukan mengkritik!!

Jadi saudaraku...mari kita fokus untuk membantu kalau memang kalian anggap pemerintah lamban dan malas...silahkan...datang langsung sendiri...terjun langsung...mari kita bahu membahu bersama...tidak ada yang melarang untuk kalian datang kemari...tidak ada pengusiran...tidak pula hukuman...jdi tidak ada alasan bagi kalian kalau memang niat membantu untuk tidak datamg kemari

Seperti seorang yang melihat kebakaran di depannya...bukannya memadamkan api...tapi malah sibuk mengomentari lambatnya pemadam kebakaran yang datang...

Jangan kalian tambah penderitaan saudara saudara kita di lombok dengan menjadikan penderitaan mereka sebagai alat para elite politik untuk mencapai ambisi mereka

Salam Satu Indonesia...untuk saudara di lombok!💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻

NB:
1.Foto di bawah adalah grup WA tim kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah lombok...tak pernah berhenti berdering...terus jalan koordinasi...24 jam
2.Buat relawan yang datang hrap melapor ke dinas terkait...agar terdata berapa tenaga yang tersebar di lapangan ini juga penting untuk pendistribusian bantuan seperti yang dilakukan oleh teman teman relawan BSMI yang melapor ke dinas kesehatan

Jokowi adalah panggilan TUHAN untuk menyelamatkan Indonesia



Pengakuan jujur Jusuf Kalla terhadap keberhasilan Joko Widodo dalam mengelolah negara, sehingga Indonesia perlahan lolos dari beban utang peninggalan era Soeharto dan masa SBY, yang telah membuat Indonesia harus menanggung utang hingga Rp. 6000 triliun dengan dalih 'subsidi,' yang hanya memperkaya dirinya sendiri dan konco-konconya; silahkan membaca tulisan berikut sampai selesai, agar kita paham mengapa kini Indonesia perlahan menjadi negara hebat di Asia dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama di era Joko Widodo.

"PERJUANGAN MORAL JOKOWI bagi INDONESIA"

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) dalam sambutannya di acara "Simposium Ekonomi" di MPR RI, Senayan, mengatakan bahwa ada 2 kebijakan keliru yang dilakukan pemerintah era Soeharto dan SBY, sehingga menghabiskan anggaran Rp. 6000 triliun.

Kebijakan itu menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari negara-negara tetangga. Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.

Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk menghentikannya. Saat Soeharto jatuh, tatkala fundamental ekonomi yang disimpan rapat bertahun-tahun terbuka lebar oleh aksi George Soros terkuak.

Nyatanya berpuluh tahun kita menyimpan data busuk dan kebohongan. Tidak ada kekuatan ekonomi secara nyata. Tidak ada. Soeharto tidak punya rencana hebat untuk membuat Indonesia hebat dalam sektor ekonomi, kecuali hanya menggali lubang sedalam-dalamnya melalui hutang tanpa rencana ril untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik.

Dari jumlah hutang yang digali Soeharto hanya 30% yang digunakan untuk membangun Indonesia. Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya menjadi penguasa selama 32 tahun.

Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah menanda tangani LoI dengan IMF sebagai blank cheque yang harus diselesaikan oleh rezim setelahnya. Beban masalah yang ditinggalkan Soeharto kalau dikurskan sekarang dan ditambah dengan bunga obligasi rekap mencapai Rp. 3000 triliun.

Era Habibie, Gus Dur, dan Megawati merupakan era tersulit bagi kita untuk berdamai dengan kenyataan. Indonesia dinyatakan sebagai negara insolvent. Semua financial resource tertutup. Pemasukan lebih kecil dari pada pengeluaran. Kehidupan politik tidak jelas.

Enam tahun proses transisi dari legislasi era Soeharto ke era reformasi seakan waktu terpanjang dalam sejarah. Selama itu tidak ada pembangunan real. Negara stuck.

Namun, akhirnya Indonesia bisa keluar dari proses transisi itu dengan terpilihnya SBY sebagai presiden secara demokrasi langsung. Harapan dipagut dan masa depan disongsong dengan ceria.

Tapi apa yang terjadi? Selama 10 tahun SBY berkuasa, untuk mempertahankan kekuasaannya dia membakar uang sebesar Rp. 3000 triliun untuk subsidi.

Periode 2004 hingga 2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi sebesar 21% dari APBN dan mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang mencapai 28%.

Di dalam subsidi energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar dengan mencaplok 80% dari seluruh subsidi energi. Dan menciptakan mega skandal dengan korupsi tak terbilang jumlahnya.

Andaikan uang sebanyak itu SBY gunakan untuk membangun jalan tol, maka kita sudah punya jalan tol Trans Sumatera dan Trans Jawa, juga kereta cepat Jakarta-Surabaya dan puluhan kawasan industri berskala internasional, puluhan bendung dan irigasi untuk ketahanan pangan, bahkan setiap kota besar sudah punya MRT.

SBY hanya bekerja membuat rencana dan membuang uang untuk ongkos politik, agar kekuasaanya stabil selama dua periode.

Era Soeharto kita abaikan, karena salah memilih pemimpin dan takdir kita berhasil mengubah tatanan politik yang diktator menjadi demokrasi.

Tetapi setelah demokrasi, kita justru melahirkan gerombolan maling yang menjarah lebih dahsyat dari 32 tahun Soeharto berkuasa.

Selama itu tidak ada gerakan agama yang hebat yang hendak menggulingkan Soeharto atau SBY. Tidak ada demo berjilid-jilid hendak menjatuhkannya.

Mengapa? Karena para tokoh agama maupun politik mendapat berkah uang dan konsesi bisnis dari politik lendir tebar uang oleh penguasa.

Era Jokowi, seorang yang bukan elite politik di tubuh partai, bukan jenderal berkaliber nasional, bukan konglomerat kaya dari bisnis rente, bukan pula tokoh budayawan atau agama yang selebritis.

Dia muncul ke panggung politik karena kehendak TUHAN. Tak ada satu pun kekuatan yang mampu menghentikannya, karena Tuhan telah mengirim wakil wakil NYA mengawal Jokowi sehingga si tukang kayu krempeng itu masuk ke Istana Negara dengan selamat tanpa rintangan apapun juga. Inilah takdir dan nasib Bangsa Indonesia yang memang harus berubah dan menjadi baik dan kuat atas kehendak TUHAN serta KuasaNya.

Ketika Jokowi berkuasa, subsidi tipuan seolah  memanjakan rakyat dihentikan Anggaran direformasi secara fundamental dari berorientasi konsumsi ke produksi. Efisiensi anggaran dilakukan dengan sangat ketat.

Walau pun diawali dengan fundamental ekonomi yang retak karena current account defisit, Jokowi tetap melaju dengan agenda besarnya. Menciptakan kemandirian, bukan hanya lewat restruktur APBN dan hutang, tetapi juga revolusi mental dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia di semua lini.

Negeri para gangster tersingkir dan menghimpun rakyat dan kader partai positip serta pejabat pejabat bermoral yang mau bekerja keras sehingga dapat mengubah negeri ini jadi para pekerja keras. Status quo didobraknya, menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup manja berfoya foya dan menipu rakyat

Apa hasilnya? Hanya dua tahun berkuasa, semua rating internasional berkaitan dengan indeks korupsi, pembangunan, dan ekonomi jadi membaik. Sekarang Indonesia termasuk negara peringkat 3 terbaik ekonomi di antara anggota G-20.

Saya membayangkan setiap langkah Jokowi tidaklah mudah dan penuh resiko. Karena semua elite politik yang kini ada adalah bagian dari kekuasaan Orde Baru yang pernah kong kali kong dan merampok kekayaan Negara hingga  Indonesia dan rakyatnya menjadi sengsara dan meninggalkan beban hutang dan kerugian  sebesar Rp. 3000 triliun dan juga bagian dari kekuasaan era SBY yang membakar uang negara sebesar Rp. 3000 triliun demi melanggengkan kekuasanya.

Semua mereka ingin, agar si tukang kayu ini dihentikan. Karena Jokowi bukan hanya menghancurkan kekuasaan mereka sebagai ladang bisnis mendatangkan harta mereka, tetapi juga menjadikan rakyat cerdas berpolitik dan mempermalukan elite politik di mana banyaknya elite politik terancam masuk bui karena aksi OTT KPK. Pesta usai.

Dulu, Ahok dijadikan pintu gerbang untuk menjatuhkan Jokowi dengan alasan menistakan agama. Dan dari keadaan ini, Jokowi berhasil keluar dengan selamat.

Kini, PERPPU Pembubaran Ormas Radikal dijadikan alasan untuk menjatuhkannya, karena dibilang anti demokrasi dan anti Islam.

Padahal, tidak ada dalam PERPPU itu yang menyebut Islam atau ormas tertentu. Namun, oleh para gangster mafia menciptakan semua kegaduhan ini, agar pesta kekuasaan kembali marak. Karena itu, emosi agama kembali dibenturkan.

Andaikan PERPPU itu ditolak DPR, maka ketahuilah kita bahwa agenda menjatuhkan Jokowi memang datang dari segala penjuru mata angin.

Apakah Jokowi akan jatuh? Jawabannya TIDAK karena Jokowi adalah panggilan TUHAN untuk menyelamatkan Indonesia ,bangsa dan rakyatnya dari segala kesusahan dan kesulitan dan Tuhan telah mengirim wakil Rakyatnya yaitu Bapak Jokowidodo yang berhak dan pantas berkuasa sebagai pemimpin dan penyelamat bangsa dan rakyat Indonesia.

Saya Yusup Kalla sudah tua, namun dengan segenap tenaga saya yang masih ada saya tetap memberikan kontribusi positip pada Jokowidodo dalam membangun Negara Indonesia jadi bangsa besar kuat bermatabat rakyat jadi makmur dan sejahtera.
Memang pada saat usia saya yang sudah lebih dari 50 tahun. Saya tak berdaya, dan tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan sepak terjang pada era Soeharto dan penikmat subsidi BBM era SBY, yang membakar uang ribuan triliun.

Apa yang saya lakukan sekarang adalah berusaha setiap hari berbuat kebaikan, agar negara ini lebih baik. Melalui tulisan, lewat interaksi dengan teman-teman politisi dan aktivis, saya berusaha menyampaikan pesan moral bahwa "bukan sistem yang menjadi masalah, tetapi akhlak kita yang buruk."

Marilah kita memperbaiki moral. Sudahilah niat mengubah sistem, agar impian makmur menjadi kenyataan. Perbaiki akhlak dan perbaiki etos kerja, maka rahmat TUHAN akan datang by the time.

Saya Yusup Kalla dengan hati tulus ingin menyerukan kepada segenap generasi muda berkualitas dan menyintai tanah Pertiwi ini ,  Serra rakyat Indonesia, Marilah kita bersama-sama menjadikan KEKUATAN MORAL untuk menghadang serta melawan semua niat jahat mereka yang ingin merusak negeri ini dengan alasan agama, budaya, suku, ras, antara golongan, atau apalah.

Kita membela Jokowi bukan bertujuan politik, tetapi demi kekuatan moral sebagai orang Indonesia yang turut membangun dan ingin menjadi bangsa besar bermatabat diatas bumi . Jadilah gerakan moral untuk mendukung Jokowi orang baik yang fitur penyelamat bangsa dan rakyat, agar semakin berprestasi baik bagi pembangunan negeri kita tercinta Indonesia.

SEMOGA BERMANFAAT dan MENAMBAH ILMU serta MENAMBAH WAWASAN KITA SEMUA.

Silahkan bantu viralkan tulisan ini ke seluruh anak negeri Indonesia di mana pun mereka berada, agar putra bangsa kita lebih cerdas dalam berpikir dan menganalisa sesuai data. Yusup Kalla.

Monday, August 20, 2018

Saya akan mendukung dengan syarat ABJ yaitu Asal Bagus Jualannya

“Mau BBM murah, mau listrik murah, mau sembako murah, mau penghasilan meningkat, mau hutang negara lunas, mau negara ini aman dan terkendali, pilih Prabowo sebagai Presiden 2019 nanti.”
Jujur saat baca status tersebut, saya bertanya-tanya “segitu hebatnya kah Prabowo jika jadi Presiden Indonesia hingga bisa memberikan kepuasan seperti yang sales itu katakan?”. Saya terpaksa bilang yang buat status itu sales karena dia begitu gencar menawarkan kecap dia adalah kecap no 1. Ini bukan soal merendahkan kemampuan Prabowo, tapi mari kita beradu logika berdasarkan apa yang ditawarkan oleh sales tersebut mengenai poin-poin yang ditawarkan.
MAU BBM MURAH ???
Bagaimana cara Prabowo akan menciptakan BBM murah? dengan melakukan subsidi seperti 10 tahun zaman SBY? Darimana dana untuk mensubsidi BBM itu? Apakah subsidi BBM itu tepat sasaran? Apakah akan tercipta BBM satu harga seperti era Jokowi saat ini? Apakah akan menghidupkan kembali Petral? Apakah Pertamina akan membeli BBM dari Petral? Eta terangkanlah !!!
MAU LISTRIK MURAH ???
Apakah kubu sebelah tidak tahu bahwa dengan harga listrik saat ini saja PLN masih mengalami kerugian karena harga jual ke konsumen harus mengikuti arahan pemerintah? Bukankah dengan menurunkan harga jual listrik akan semakin menambah kerugian PLN? Jika PLN terus mengalami kerugian yang besar, maka kalau tidak mau tutup pemerintah harus mensuntik dana ke PLN, dana dari mana untuk menyuntik modal agar PLN tetap beroperasi?
Bukankah seharusnya rakyat diajarkan untuk hidup dengan pola hemat energi? Listrik murah pun kalau pemakaian boros dan tidak tepat sasaran maka akan percuma! Camkan itu wahai sales !!!
MAU SEMBAKO MURAH ???
Becak sales, murahnya harga sembako itu tergantung hukum ekonomi yaitu demand vs supply ! Sepanjang supply melimpah ruah maka harga akan turun. Pun sebaliknya jika permintaan tinggi dan ketersediaan barang sedikit, maka harga akan naik. Pemerintah bisa intervensi pasar saat stok menipis agar harga tidak naik. Apakah sales itu tidak tahu bahwa sudah 2 tahun belakangan ini harga sembako tidak bergejolak walaupun dalam bulan puasa dan lebaran? Mau sembako murah seperti apa? Yang disubsidi terus menerus sama pemerintah dan bikin rakyat jadi malas? Situ suka teriak sembako mahal tapi pulsa telepon dan rokok masih sanggup beli? Becak sehat ???
MAU PENGHASILAN MENINGKAT ???
Bagaimana cara Prabowo meningkatkan penghasilan? Setahu saya dari rekaman waktu debat pilpres 2014, yang ada malah Prabowo lebih memikirkan bagaimana meningkatkan gaji para pejabat agar tidak korupsi, katanya! Yakin dengan gaji tinggi korupsi akan hilang? Meningkatkan penghasilan itu hanya dengan kerja keras dan rajin bekerja. Pemerintah hanya fasilitator saja, semua tergantung rakyat apakah mau kerja keras demi sejahtera atau mau malas-malasan yang tahunya cuma pemerintah harus subisidi ???
MAU HUTANG NEGARA LUNAS ???
Ini yang paling seru. Sebutin dengan apa Prabowo mau lunasin hutang negara baik itu dalam negeri maupun luar negeri? Jual asset negara? Mau berikan konsesi SDA kepada pihak asing? mau naikin pajak? Sekarang saja kalian teriak katanya pajak mencekik rakyat tapi begitu target penerimaan pajak tidak tercapai eh kalian ngomel-ngomel. Mau genjot BUMN untuk menghasilkan keuntungan bagi negara? Lah PLN saja kalian mau minta harga listrik murah, bagaimana bisa ada untung? Mau menasionalisasi perusahaan asing di Indonesia? Tapi siap tidak hadapi gugatan hukum internasional? Mau pinjam lagi dari pihak luar? Coba kalian kasih tahu saya bagaimana cara Prabowo lunasin hutang ???
MAU NEGARA AMAN DAN TERKENDALI ???
Numpang tanya dulu sebelumnya, memang sekarang kondisi negara kita lagi kacau balau? Lagi terjadi huru-hara? Situ pastinya tahu dong siapa yang suka bikin masyarakat jadi khawatir kalau lagi ada demo teriak mencaci maki pemerintah? Apakah Becak sales merasa sekarang tidak aman?
Becak sales berangkat ke kantor,istri belanja ke Mall,anak2 jln ke sekolah semua *aman dan nyaman*
Cuma orang yang terlibat terorisme, penyebar hoax, ujaran kebencian dan tukang fitnah serta terlibat ormas terlarang yang merasa dirinya tidak aman. Kalau warga biasa yang hidupnya normal dan ingin damai, pastinya saat ini merasa aman-aman saja tuh. Jadi apa sih maksudnya dengan kalau Prabowo jadi Presiden maka negara aman dan terkendali ???
PENUTUP
Bagi mereka yang sudah ngebet ingin ganti Presiden Jokowi melalui berbagai gerakan dan juga Asal Bukan Jokowi (ABJ), catat ini baik-baik:
“ Saya akan mendukung dengan syarat ABJ yaitu Asal Bagus Jualannya ”
Artinya kalian harus bisa meyakinkan saya dengan program yang ditawarkan akan lebih bagus dari apa yang sudah dikerjakan oleh Presiden Jokowi. Kalau hanya sekedar mengajak tanpa bisa meyakinkan, saya pun bisa. lebih baik saya ajak kalian untuk mendukung Pak Jokowi menjabat 2 periode karena apa yang telah beliau kerjakan untuk bangsa ini sudah nyata hasilnya dan diakui oleh dunia internasional.
Kalian boleh teriak kecap kalian no 1 tapi bagi saya dan juga yang masih sehat logika berpikirnya, kecap kalian tidak bisa memuaskan lidah kami!!! Rasanya hambar, warnanya tidak jelas dan sudah terlalu sering ditawarkan tapi tidak laku-laku.
https://www.facebook.com/deddy.y.sitorus/posts/10156481078875930?__tn__=K-R

Maafkan rakyatmu yg tdk tahu diri, yg hanya mengenalmu dari opini2 dan sosial media.

Kepada bpk presiden RI:
Saya bukan pendukungmu, bahkan sy pembencimu. Sy tak rela engkau kembali jadi presiden. Bukan karna harga2 pada mahal spt kata orang, toh kami masih pada mampu untuk belanja, padahal kami bukan orang mampu. Saya menolakmu karna masalah idiologi, masalah kapasitasmu dan semua predikat tentangmu spt yg sy yakini selama ini.
Maka ketika gempa menimpa kami, dan engkau datang berkunjung. Sy tetap tdk respek. Toh itu tugasmu pak presiden.
Maka ketika engkau datang ke Lombok Utara dan masyarakat pada menyambutmu, sy diam saja dan hanya melihatmu dari jauh dgn rasa sinis. Bahkan sy melarang anak istri untuk ikut larut dlm euforia kegembiraan menyambutmu. Padahal sy lihat istri sy pengen juga mendekat, ikut salaman bahkan berfoto2 spt yg dilakukan masyarakat lainnya.
Sampai datang waktu sholat.
Kulihat bapak presiden tetap ingin sholat jamaah bersama kami walau diingatkan sarana yg tdk memungkinkan. Dgn tenang bpk presiden menuju gentong biru tempat penampungan air untuk berwudhu. Sangat hati2 dan memakai air sedikit sekali, mungkin karna tahu air bersih sulit kami dapatkan. Dan agar jamaah lainnya tetap kebagian air untuk berwudhu. Lalu menyilahkan orang lain berwudhu di tempat itu.
Sampai pada saat sholat sy masih mencari2 kesalahannya. Bacaannya standar2 saja spt imam lainnya.
Orang2pun bersalaman dgn bpk presiden tanpa canggung. Tapi sy tetap menjauh dan tdk peduli.
Ketika bapak presiden ikut tidur di tenda, sy diam2 mulai memperhatikannya. Sosok yg mungkin sudah letih malam itu, tetap tampil penuh perhatian, menyapa rakyatnya dan berdiskusi pendek entah apa yg ditanyakan.
Tubuh pemimpin itu rela merebahkan tubuhnya di bawa tenda beralaskan karpet di lapangan sepak bola ini dgn kondisi yg sangat memprihatinkan. Sejak tidur ditenda ini. Sy tdk pernah pulas, selalu was was dan terbangun begitu mendengar bunyi apapun. Khawatir dgn gempa susulan, khawatir dgn semua kemungkinan buruk yg siap menimpa kami.
Tapi malam ini, alampun seperti diam memberi kenyamanan untuk kami beristirahat. Begitu syahdu, begitu damai perasaan keluarga sy.
Baru kali ini sy pulas tertidur seperti ada seseorang yg melindungi kami, menjaga istirahat kami, berada ditengah2 kami seperti rakyat lainnya.
Sebelum tertidur, sy masih melihat dari jauh sosok pemimpin itu terbangun duduk. Mengitari pandangannya melihat dgn seksama pada rakyatnya yg bergelimpangan diatas tikar.
Bapak presiden ikut merebahkan badannya, ikut bersama kami merasakan dinginnya malam,.
Malam ini begitu damai dan tenang. Bahkan suara tangis anak2 yg biasanya berisik malam ini tdk terdengar. Anak sy juga tidak rewel. Malam yg begitu tenang. Seakan tidur kami di nina bobokkan oleh seorang ayah pada anak2nya.
Ya, seorang presiden pada rakyatnya.
Sewaktu bapak presiden pamit untuk melanjutkan perjalanannya, barulah sy mendekat untuk ikut menjabat tangan itu. Dgn lirih sy ucapkan terimakasih dan kata maaf yg mungkin tdk dimengerti oleh bapak presiden.
Dalam hati sy memohon pada sang khalik, maafkan hambamu yg sangat kejam membenci pemimpinnya ini. Kulihat ketulusan pada wajah kurusnya, kulihat keteduhan pada matanya. Kulihat senyum tipisnya yg ikhlas sambil menjabat tangan sy. Ingin rasanya memeluk tubuh kurus yg keletihan itu sambil memohon maaf, ampun atas kesalahan2 yg kulakukan.
Tapi sy hanya bisa berkata pelan "maafkan sy pak." Hanya itu yg keluar dari mulut sy, karna bapak presiden dgn cepat menjabat tangan2 yg lain. Sy melihat punggung itu menjauh ditemani bapak gubernur kami TGB. Sosok pemimpin2 yg baru saja memperlihatkan jatidirinya, tabiat dan karakternya, bukan pencitraan spt yg selama ini sy tuduhkan...
Maafkan sy bapak presiden. Maafkan rakyatmu yg tdk tahu diri, yg hanya mengenalmu dari opini2 dan sosial media. Walau sy masih bersyukur, masih sempat meminta maaf sebelum ajal menjemput dan mempertanggung jawabkan semua dosa2 sy terhadap sang ulil amry kepada sang Khalik Allah SWT...
Tanjung, Lombok Utara. 
Agustus 2018
Muh. K. Anwar
https://www.facebook.com/deddy.y.sitorus/posts/10156481130900930?__tn__=K-R

Thursday, August 16, 2018

Ahok Bercahaya, Dukung Jokowi-Ma’ruf, Luhut Habisi Provokator



Ahok Bercahaya, Dukung Jokowi-Ma’ruf, Luhut Habisi Provokator

Ribuan provokator di kubu lawan sedang bergerak. Pendukung Ahok vs Jokowi kini sedang diadu. Tujuan provokator hanya dua: membenci Jokowi atau menjadi Golput. Wacana Golput pun menyeruak dimana-mana. Kekecewaan para pendukung Ahok kepada Jokowi, terus dibakar di segala tempat.

Tindakan Ma’aruf Amin yang memvonis Ahok telah menghina Al-Quran dan Ulama, diangkat tinggi-tinggi. Masa lalu Ma’aruf Amin vs Ahok dimunculkan secara membabi-buta. Narasi permusuhan dibangun dengan menolak lupa.

Ma’ruf adalah aktor utama yang menghabisi Ahok. Dipicu fatwanya, demo menggelenggar, mengguncang DKI akhir 2016 hingga awal tahun 2017. Perjuangan Ahok semakin berat, ketika Ma’ruf datang di pengadilan dan memberi kesaksian memberatkan kepada Ahok.

Lewat demo bergelombang, para penegak hukum ditekan habis-habisan. Hasilnya, Ahok menjadi tersangka. Politisasi ayat dan mayat kemudian terjadi secara masif. Jakarta menjadi kota SARA paling mengerikan.

Ahok pun akhirnya kalah menyakitkan dari Pillgub DKI. Tidak cukup sampai di situ, Ahokpun masuk penjara. Di penjara Ahok diterpa badai dahsyat. Isterinya satu-satunya dan belahan jiwanya, Veronika, selingkuh tak terkendali. Ahok sudah jatuh, tertimpa tangga pula dan terjerembab.

Para provokator tak berhenti. Tensi politik dimanfaatkan secara licik. Cerah dan ruang-ruang fitnah disusupi. Narasi kebencian, kedengkian dan dendam kesumat dibangun. Sakit dan dendam Ahok diungkit kembali. Para provokator ikut menyamar sebagai pendukung Ahok. Ada juga yang menyamar sebagai pendukung Jokowi. Mereka sesuara berbalik menyerang Jokowi dan Ma’ruf. Gaung suara mereka bulat: menjadi Golput.

Para provokator dengan liar dan licik memanfaatkan keterbatasan Ahok di penjara. Ahok jelas tak bisa berbicara langsung dengan media. Pun dia tidak bisa menulis status di facebook atau di twitternya. Jika ia menulis surat, maka para provokator dengan mudah mengeditnya. Hoax akan menghujani ruang publik.

Melihat pergerakan para provokator yang luar biasa, Luhut B. Panjaitan, sekaligus Menkopolhukam, langsung turun tangan. Ia bertemu dengan Ahok di penjara. Kepada Luhut, Ahok menegaskan bahwa ia mendukung duet Jokowi-Ma’aruf. Bahkan Ahok ingin masuk menjadi bagian tim kampanye Jokowi-Ma’aruf.

Pernyataan Luhut itu, langsung membuat para provokator lari terbirit-birit. Luhut terus mengambil kendali. Ia bergerilya ke sana ke mari mengumandangkan dukungan Ahok kepada Jokowi-ma’ruf. Luhut terus membungkam provokator dengan membongkar skenario jahat adu-domba mereka.

Ternyata Ahok di penjara telah sedang mengkuliti jati dirinya. Ia bukanlah seorang pendendam. Ia justru mengampuni musuhnya. Dan bukti pengampunan itu, ia kumandangkan lewat dukungan kepada Jokowi dan bekas musuhnya Ma’aruf Amin. Inilah cahaya Ahok yang luar biasa.

Para pendukung Ahok kini dengan cepat kembali sadar telah diprovokasi. Tulisan-tulisan status di sosmed yang mengajak Golput semakin mengecil. Para pendukung Ahok dan Jokowi kembali satu suara. Demi NKRI, demi negara tercinta berlandaskan Pancasila, perpecahan harus dihindarkan. Suara bulat: mendukung Jokowi-Ma’ruf menjadi Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia 2019-2024.

Ahok Bercahaya

Dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma’ruf lahir dari imannya yang kuat. Mengampuni musuh adalah perkara yang berat bagi seorang manusia. Tetapi Ahok telah melompati fase itu. Di penjara, ia telah menguliti jati dirinya.

Ahok dengan ikhlas mampu mengampuni musuhnya. Dendam adalah masa lalu yang terus-menerus menggerogoti jiwa. Mengampuni adalah energi super untuk membangun pernik hidup masa depan. Itulah sebabnya seberapa besar keimanan seseorang, bisa dilihat seberapa mampu dirinya mengampuni orang lain.

Ahok sesuai dengan namanya, Basuki Cahaya Purnama, bercahaya dimana pun ia berada. Kendatipun di penjara, Ahok dengan cahayanya masih bisa memberikan motivasi kepada semua orang. Insting manusianya sebagai manusia pekerja, masih bisa menghasilkan uang.

Di penjara, Ahok mampu menulis dan menjual buku. Hasil penjualan buku itu yang mencapai Rp 2 miliar, ia salurkan membangun ekonomi di sekitar penjara dan mensubsidi beberapa keluarga di luar penjara. Luar biasa.

Ahok sebetulnya bukanlah sosok istimewa. Ia adalah manusia biasa, sama seperti kita. Ahok bukanlah nabi, bukan santo, bukan malaikat apalagi Tuhan seperti yang disematkan oleh para penentangnya. Lalu dimana letak perbedaannya dengan manusia lain? Perbedaannya terletak pada penghayatan imannya. Ahok beriman dengan kata dan perbuatan. Sesederhana itu.

Cahaya kecil Ahok itu tentu saja menjadi sangat berharga dan bernilai tinggi di tengah pekatnya kegelapan malam politik kotor dan keji. Cahaya itu menjadi terang, menerobos kemana-mana mengikuti arah jalan Ahok kemanapun ia pergi. Ia tetap bertahan dan mengibarkan cahayanya.

Cahaya kecil Ahok itu anomali (menyimpang dari kebiasaan). Ia hadir di tengah-tengah kaum beragama yang berperilaku munafikin dan mengembalikan nilai-nilai yang sebenarnya menjadi nilai dasar orang beragama, yaitu keadilan sosial.

Ketika, Ahok masih gubernur, cahaya Ahok cahaya Ahok menyentak para pejabat di republik ini. Jabatan bagi Ahok adalah sebuah kesempatan untuk menegakkan peraturan, melawan para maling, preman, mengambil kembali tanah negara, memberantas tanpa takut para tikus-tikus anggaran, dan seterusnya. Ahok menggunakan cahaya jabatannya untuk memajukan negeri ini dan membangun keadilan sosial.

Tidak lama lagi Ahok akan keluar dari penjara. Sepak terjangnya dan kritik pedasnya kembali menjadi konsumsi publik. Di dalam penjara saja, ia masih ditakuti apalagi saat keluar dari penjara. Nama Ahok memang telah menjadi momok menakutkan bagi para koruptor, kaum beragama munafikin, para mafia dan maling anggaran.

Ketika Ahok dengan tegas mengumandangkan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf, para provokator diam tak berkutik. Para pendukungnya kini kembali sadar dan mengedepankan masa depan bangsa dan negaranya. Begitulah kura-kura.

Salam Seword, Asaaro Lahagu
By Asaaro Lahagu
August 12, 2018 - wa bmrk

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)