Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Perang Politik. Show all posts
Showing posts with label Perang Politik. Show all posts

Friday, November 1, 2019

Kontroversi anggaran Lem Aibon DKI sebesar 82 miliar


Kontroversi anggaran Lem Aibon DKI sebesar 82 miliar, yang diplesetkan meme James Bond, membuat saya terkenang jaman ketertutupan anggaran masa sebelum Jokowi menjabat Gubernur DKI. Waktu itu saya masih menjadi direktur di Perkumpulan Prakarsa, kami diminta membantu Jokowi/Ahok sebagai gubernur/wagub terpilih DKI turut menyisir draf anggaran APBD yang dibuat pemerintahan sebelumnya.

Secara pro bono alias sukarela, kami diminta memelototi puluhan ribu item usulan program/kegiatan & anggaran yang janggal, markup atau tidak masuk akal. Benar-benar kami dibuat geleng2 kepala dengan penggunaan dana sekitar 40-an triliun waktu itu, yang mencakup sekitar 60-an ribu item.

Karena kejadian sudah cukup lama tahun 2012/2013, saya tidak terlalu ingat secara detail. Namun ada beberapa hal yang benar2 saya ingat, ada anggaran untuk membantu beberapa turnamen golf. Nilai bantuan tiap turnamen golf tidak kira2 sampai milyaran rupiah. Lalu, pengadaan untuk seragam nilainya juga beberapa miliar. Renovasi sebuah gedung pemerintahan nilainya juga puluhan miliar, belum lagi pengadaan mobil dinas. Ah Maftuchan yang sekarang jadi direktur Perkumpulan PRAKARSA mungkin lebih paham detailnya, karena yang memelototi draf anggaran dari hari-kehari.

Dari apa yang saya perhatikan anggaran waktu itu, saya tidak bisa melihat arah yang jelas akan kemana DKI dibawa. Puluhan ribu item anggaran seakan2 tinggal dimasuk-masukkan saja berdasarkan “wangsit”. Lalu khusus anggaran bantuan turnamen2 golf yang nilainya miliaran, sangat jelas terlihat modusnya. Bantuan diberikan untuk turnamen, namun pemberi bantuan akan dapat persenan yang sangat besar untuk jadi bancakan para oknum pemerintah.

Anggaran yang diketok palu telah berubah drastis karena pembersihan besar-besaran. Yang ekstrem, Ahok waktu itu yang menjadi wakil gubernur mengambil tindakan “kejam”. Anggaran proyek PU (pekerjaan umum) dipotong 25 atau 30 persen, namun diminta hasilnya tetap sama. Bisa dilihat di akun youtube pemprov DKI (saya tidak tahu sekarang, apakah masih atau sudah di-takedown pemprov DKI), Ahok bersuara keras dalam rapat waktu itu, yang tidak sanggup pejabat PU untuk segera mundur. Tidak ada pejabat PU DKI yang mundur.

Menurut perkiraan kami, markup proyek PU lebih dari 25/30 persen jadi proyek akan masih bisa berjalan dengan output yang baik, asal proyek dibersihkan dari penjatahan oknum2. Pengamatan saya selama pemerintahan DKI 2012-2017, anggaran PU yang dipotong signifikan atau anggaran2 lain dibersihkan tetap membuat berbagai proyek infrastruktur tetap berjalan baik, bahkan kebersihan sungai2 atau infrastruktur justru jauh lebih kinclong.

Tampaknya, waktu itu Jokowi/Ahok lalu bertekat membangun sistem agar penganggaran lebih terbuka dilihat oleh publik. Tak ada cara lain, sistem penganggaran lalu dibuat dengan elektronik (e-budgeting) dan terbuka untuk diakses publik. Artinya, setiap mata masyarakat bisa memelototi angaran DKI, kemana uang pajak yang mereka bayarkan dipakai pemerintah atau dianggarkan. Ini akan membuat markup atau penyelewengan anggaran bisa diantisipasi.

Ada yang telah kena batunya dengan sistem e-bugdeting, yaitu kasus penyusupan anggaran pengadaan UPS (power supply) senilai 6 miliar untuk satu sekolah. Jelas ini tidak masuk akal, mana ada sekolah yang pakai UPS senilai 6 mobil mercy baru. Beberapa anggota DPRD DKI, pejabat DKI & swasta bolak-balik diperiksa waktu itu, untuk memeriksa kongkalikong. Pejabat DKI lalu divonis 6 tahun. Namun saya agak heran, modus penyusupan anggaran berdasar berita yang saya ikuti tampaknya berasal dari satu komisi di DPRD DKI. Saya tidak terlalu mengikuti, apakah akhirnya ada anggota DPRD yang masuk bui juga setelah itu. Kalo melihat modusnya, mereka seharusnya justru yang kena duluan.

Kasus lem Aibon tampaknya justru menjadi titik balik transparansi anggaran publik. Dari berita yang saya ikuti, gubernur Anies justru menyalahkan sistem e-budgeting. Akses publik pada draf anggaran DKI juga sudah tidak bisa lagi. Kini pembahasan anggaran sudah tertutup lagi. Gelap gulita. Mata publik tidak bisa lagi memelototi anggaran. Apakah ada transaksi di belakang, markup atau ada penyelewengan anggaran, kita sudah tidak bisa antisipasi lagi. Di abad disrupsi teknologi ini, kini kita justru kembali ke jaman kegelapan.

Saya heran kenapa e-budgeting yang disalahkan. Jumlah anggaran yang keluar adalah penjumlahan antara banyaknya barang dikalikan harga per satuan, sesederhana itu. Apa yang salah? Bila tidak ditemukan, jelas ini akan sah jadi anggaran. Bukankah kita seharusnya bersyukur anggaran yang tidak masuk akal dihapuskan? Bukankah anggaran justru bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih produktif?

Saya juga berharap gubernur Anies tetap membuka akses pada draf anggaran DKI, agar bisa dipelototi oleh publik. Masyarakat (terutama DKI) tentu berkepentingan, untuk apa uang pajak mereka dibelanjakan. Lebih dari itu, saya juga sangat berharap gubernur Anies membuka penggunaan dana operasionalnya untuk apa saja seperti ini http://ahok.org/wp-content/uploads/2015/03/Lap-Dana-Penunjang-BTP-Jan-Des-2014.pdf. Bahkan, gubernur sebelumnya juga telah mengembalikan tunjangan operasionalnya hampir 5 miliar pada negara http://ahok.org/tentang-ahok/kenapa-ahok/laporan-pengembalian-sisa-tunjangan-operasional/. Ini pasti akan sangat luar biasa, bila dilakukan lagi oleh gubernur DKI saat ini.

Saya sangat berharap, apa yang sudah baik di masa lalu perlu kita teruskan. Jangan kita justru kembali lagi ke jaman gelap. Pemerintahan yang tertutup, gelap gulita dan masyarakat hanya jadi penonton, seharusnya sudah kita tinggalkan jauh-jauh. Tapi kok ini arahnya malah berbalik lagi, kita justru mundur jauh....😞😞😞

FB: Setyo Budiantoro

Monday, October 21, 2019


Masyarakat Adat Sunda Tolak Agenda Rizieq Shihab

Bandung, Gesuri.id - Masyarakat adat Sunda se Jawa Barat (Jabar) mendeklarasikan perang terhadap radikalisme, intoleransi dan terorisme di Kampung Rancage, Cileunyi, Bandung, Jawa Barat, Minggu (13/10).

Masyarakat adat se-Jabar juga menolak rencana dedengkot Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab untuk menggelar Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat se-Indonesia di Bandung, Jawa Barat pada 15 - 17 Oktober 2019.

Sekitar 100 tokoh dari masyarkat adat Sunda se-Jabar hadir dalam deklarasi itu. Mereka berasal dari Bandung , Sumedang, Sukabumi, Tasikmalaya, Karawang, Garut, Kuningan , Majalengka, Cirebon , Cianjur, Bogor, Ciamis dan sebagainya. .

Mereka juga menyatakan siap menjadi garda terdepan untuk membela NKRI dan siap menghadapi siapapun yang akan memecah belah bangsa.

Hadir dalam acara tersebut antara lain  Abah Anton Charliyan sebagai tokoh Jawa Barat, Abah Yusuf dari Bandung, Abah Alam, Abah Guriang dari Sumedang, Abah Endin, Wa Deden Pagar Nusa,  Ki Pamanah Rasa dari Sukabumi, Abah Asep, Keluarga  Dalang Asep Sunandar, Jaga Lembur, Ki Boedi Al Masoem, Damas Jabar dan berbagai komunitas adat lainnya.

“Untuk itulah para sesepuh inohong masyarkat  adat dan budaya Sunda se Jawa Barat  berkumpul dan dengan tegas siap jadi garda terdepan untuk melawan radikalisme menyelamatkan Tatar Sunda Jabar, menyelamatkan NKRI.” tegas Abah Anton Charliyan.

Abah Anton Charliyan yang mantan Kapolda Jawa Barat ini menegaskan semua pihak tidak perlu meragukan lagi  nasionalisme dari para pinisepuh. Dia menegaskan kelompok  yang mencintai budaya pasti akan lebih tinggi rasa cintanya terhadap Tanah Air.

“Saat ini mereka menyadari banyak komunitas yang mengatas-namakan agama, sekali lagi mengatas-namakan agama, bukan benar benar beragama. Mereka juga berkedok ulama, berkedok Habib , yang sesungguhnya, bukan ulama dan bukan juga habib tapi kenyataanya mengadudomba, memecah belah umat dan menyebar fitnah serta menjadikan suasana politik panas dan gadu,” tegas Abah Anton.

Abah Anton pun mengapresiasi berkumpulkan para inohong masyarakat  adat dan budaya Sunda se Jawa Barat  untuk mendeklarasikan perang terhadap radikalisme intoleransi ,  terorisme serta menolak agenda  Rizieq Shihab untuk mengadakan musyawarah ulama di Bandung.

 “Bahkan seluruh masyarakat Jawa Barat dan Indonesia harus memerangi tindakan radikalisme, intoleransi , dan  terorisme,”pungkasnya.

 https://www.gesuri.id/pemerintahan/masyarakat-adat-sunda-tolak-agenda-rizieq-shihab-b1WooZnzE

JOKOWI SULIT DIJATUHKAN, LAWAN JADI BEBEK LUMPUH


Setelah kalah telak di MK, lawan Jokowi menyusun strategi baru. Mereka memprovokasi Prabowo agar tidak bertemu dengan Jokowi. Mereka mati-matian melarang Prabowo bertemu dengan Jokowi. Tujuannya adalah agar mereka bisa memperalat dan menunggangi Prabowo untuk menggagalkan pelantikan Jokowi bulan Oktober dengan segala cara.

Strategi busuk lawan itu diamati Jokowi dengan seksama. Lalu dengan cepat Jokowi memetakan kekuatan inti lawannya. Ia paham bahwa poros kekuatan lawannya ada pada diri Prabowo. Jika Prabowo ditundukkan, maka lawan-lawan yang ingin menjatuhkannya tidak lebih dari bebek lumpuh, singa ompong dan lelaki yang ‘burungnya’ sudah dikebiri.

Itulah sebabnya Jokowi dengan sabar menunggu Prabowo berbalik badan. Dan ternyata walaupun alot, akhirnya Prabowo luluh mau bertemu dengan Jokowi. Prabowo berhasil dikunci. Jokowi senyum. Ia sukses mengunci Prabowo. Mengapa Prabowo mau bertemu dengan Jokowi? Lalu kemudian Megawati? Alasannya ada 3.

Pertama, Prabowo kecewa akurat stadium empat kepada massa 212, Amin Rais, Rizieq Shihab, para pengkafling surga, para ustad yang tak berhenti ber-istigma ulama dan PKS yang jungkir balik meyakinkan Prabowo menang.

Prabowo terlalu di-PHP. Janji gombal Amin Rais bahwa kali ini Jokowi akan menjadi bebek lumpuh, ternyata halusinasi. Strategi busuk kelompok radikalis bercelana cingkrang yang yakin seribu persen Jokowi kalah, ternyata hanya mimpi basah.

Pun doa tingkat dewa Neno Warisman yang mengatur Tuhan agar memenangkan Prabowo, bagai kentut yang menjijikan. FPI yang berpesta tujuh putaran merayakan kemenangan Prabowo ternyata hanya impian.

Gairah Prabowo memang luar biasa meninggi sampai Planet Saturnus saat masa kampanye Pilpres. Alasannya ia terus-menerus diyakinkan siang-malam akan menang telak melawan Jokowi. Jantung Prabowo benar-benar berdebar, berdetak kencang dan berdegup melihat pendukungnya sudah mempersiapkan panita pemulangan Jokowi ke Solo.

Kenyataannya kalah. Akhirnya Prabowo stress berat, tertekan ke dasar lumpur, frustrasi tingkat jengkol dan jengkel tingkat petai atas ulah yakin menang para pendukungnya.

Maka (alasan kedua) mau bertemu dengan Jokowi adalah Prabowo ingin membalas dendam kepada orang-orang yang ahli ber-PHP kepadanya. Ia ingin mengobati sakit hatinya yang tercabik-cabik dan diiris-iris oleh kelompok radikal yang menjanjikan kursi presiden sekaligus surga akhirat yang nikmat.

Dan alasan ketiga adalah Prabowo tergoda rayuan maut kelompok Jokowi yang mengiming-iming kursi empuk menteri, dukungan pada tahun 2024 dan tanahnya yang ratusan ribu hektar itu tidak diambil alih oleh negara. Dan seperti yang publik tahu, Jokowi-Prabowo bertemu dan berhaha-ria di MRT. Lalu menikmati nasi goreng bersama Megawati.

Jokowi melihat kunci membabat habis strategi lawannya berada pada diri Prabowo. Ketika Prabowo dikunci, maka apapun strategi lawan akan dengan dengan mudah dibaca, dihancur-leburkan dan dikacau-balaukan.

Mari kita lihat bagaimana strategi ini berjalan. Pertama, ketika Jokowi sudah bertemu dengan Prabowo, Jokowi langsung berani luar biasa mengumumkan di hadapan moncong Fadli Zon dan Fahri Hamzah dengan tatapan mengejek bahwa ia akan memindahkan ibu kota ke Kalimantan.

Ocehan Amin Rais yang meminta membatalkan pemindahan ibu kota dianggap angin kentut yang cepat berlalu. Permintaan Fadli Zon agar ibu kota dipindahkan ke Jonggol dianggap ocehan sinting lelaki pengangguran. Pun ngingauan Fahri Hamzah agar ibu kota dipindahkan ke tanah reklamasi dianggap bonyolan kosong lelaki busuk. Jokowi tetap memindahkan ibu kota Jakarta dari cengkraman Anies.

Ketika Prabowo sudah dikunci oleh Jokowi, maka bau amis kerusuhan rasisme terhadap Papua di Surabaya dengan mudah diatasi. Bahkan kerusuhan di tanah Papua yang diprovokasi oleh asing tidak berjalan mulus.

Rencana kerusuhan yang susul-menyusul di Papua dapat dengan mudah digagalkan. Bahkan para pemuda Papua kini kembali sadar mereka telah ditipu. Justru para provokator sudah dijadikan tersangka dan akan menikmati bau pengapnya penjara dengan menu ikan asin.

Jokowi pun sambil ketawa tidak terjebak oleh desakan para pembencinya termasuk Zulkifi Hasan agar cepat datang ke Papua. Jokowi paham bahwa kendali kerusuhan ada di Jakarta, ada pada kroni keluarga kunyuk. Ketika Prabowo sudah dikunci, maka keluarga kunyuk panic dan kalang kabut, mabuk membiayai kerusuhan.

Ketika Prabowo sudah dikunci oleh Jokowi maka kita bisa melihat lelucon Rizieq di Arab yang hanya bisa berkoak-koak dizalimi. Dia baru menyesal sekarang mengapa dulu dia pergi ke Arab. Sekarang entah kapan pulang di tanah air. Mungkin tahun 2050.

Provokasi para pembenci Jokowi termasuk menyulut kemarahan orang Kristen atas mulut busuk Abdul Somad soal jin di salib, tidak berhasil. Orang Kristen memang marah, melapor ke polisi namun tidak turun ke jalan dan demo berjilid-jilid di Monas.

Ketika orang Kristen demo misalnya maka massa 212 akan membuat demo tandingan membela si penista agama Abdul Somad. Mereka dengan gegap-gempita memanasi situasi. Tujuannya membuat rusuh lalu pelantikan Jokowi gagal.

Tentu saja bau busuk strategi ini sudah dicium oleh para operator istana. Itulah sebabnya Polisi tidak akan langsung memproses Somad seperti Ahok. Kasus pelaporan Somad ini akan diendapkan dan baru diproses jika ada waktu yang tepat.

Provokasi elemen-elemen yang mabuk agama dengan membubarkan ibadah orang Kristen, merobohkan gereja, melarang ibadat dan seterusnya juga tidak menyulut kerusuhan. Orang Kristen paham bahwa kelakuan tersebut hanyalah amukan kekalahan pendukung Prabowo yang sulit sampai tujuh turunan move on.

Lagi pula pembubaran ibadat dan perubuhan gereja hanyalah jebakan kepada Jokowi agar marah dan membela orang Kristen yang disebut kafir itu. Jika itu terjadi maka dibuat demo, Jokowi anti Islam dan justru pembela kafir.

Pertanyaannya adalah apakah Prabowo sudah benar-benar dikunci Jokowi? Untuk sementara saya katakan sudah. Sekurang-kurangnya Prabowo sudah mengikhlaskan kemenangan Jokowi. Prabowo pun sudah siap menghadiri pelantikan Jokowi bulan Oktober.

Pertanyaan kedua apakah kuncian Jokowi sudah di tingkat tujuh? Menurut saya masih kuncian tingkat dua. Jika kuncian lima, maka Jokowi setelah pelantikan ia langsung menghabisi lawan-lawannya. Mari kita lihat kuncian Jokowi selanjutnya setelah pelantikan. Begitulah kura-kura.

Salam SayWar....
IS "Daddy"

Monday, September 30, 2019

MEREKA MAU MEMBAKAR INDONESIA



Malam mendekati demo "Mujahid 212", beberapa orang kumpul di rumah seorang dosen di Institut Pertanian di Bogor.

Dosen ini kemudian memberikan arahan ingin membuat kerusuhan seperti 1998. Caranya adalah dengan membakar ruko-ruko "Cina" disepanjang Grogol sampai Roxy dengan bom molotov.

Sesudah itu, puluhan orang bayaran akan dikoordinir untuk membuat kerusuhan dan diarahkan untuk menciptakan korban jiwa supaya masyarakat makin terbakar dan menimbulkan demo lebih besar.

Tujuannya, supaya Jokowi mundur seperti mundurnya Soeharto.

Untung saja, Densus 88 mengetahui rencana ini dan menangkap para pelaku, sehingga demo Sabtu kemarin berjalan dengan aman. Dengan ditangkapnya jaringan teroris ini, maka terputuslah rantai mereka antara pimpinan dan pendemo bayaran.

Siapa para pelaku yang ditangkap Densus 88 itu ? Jangan kaget. Mereka adalah para relawan Prabowo. Mereka dibayar 300 ribu rupiah untuk membuat kerusuhan. Bayangkan, 300 ribu rupiah saja...

Saya sebelumnya juga mendengar, triliunan rupiah uang disiapkan untuk membuat "Indonesia terbakar". Miliaran rupiah sudah ada ditangan beberapa elit dan sudah disalurkan ke beberapa tangan di lapangan.

Kerusuhan sudah disusun sedemikian rupa sesudah gagal aksi 22 Mei saat pengumuman MK yang menimbulkan beberapa korban jiwa.

Aura Pilpres 2019 sebenarnya belum selesai. Jadi jangan dikira bahwa lawan politik sudah pasrah dengan situasi yang ada. Mereka terus membangun situasi supaya negeri ini rusuh dan mereka mengambil alih kekuasaan.

Para pendukung khilafah juga mengambil momentum ini sebagai aksi dengan pengerahan massa. Sayangnya, karena pendana lapangan dan penyedia senjata ditangkap Densus 88, mereka yang dilapangan pun bingung dan pulang ke rumah karena logistik tidak ada.

Padahal sebelumnya, dengan jaringan mereka di kelompok pengajian dan BEM mahasiswa yang merupakan kader mereka, bara apinya sudah dipanaskan. Ditambah dengan jaringan mereka melalui para guru di sekolah menengah, para pelajar sudah mengipas api supaya baranya tetap menyala.

Dan puncaknya di acara Mujahid 212, mereka berencana akan membakar Jakarta dengan bom molotov yang sudah disiapkan..

Tapi Tuhan tidak ingin negeri indah ini kembali memerah. Melalui Densus 88 yang menyusup di berbagai kantung mereka, puncak kerusuhan berhasil diredam.

Terimakasih Densus 88. Terimakasih TNI dan Polri..

Percayalah. Kami juga tidak tinggal diam. Narasi jahat mereka di media sosial, biar netizen yang melawan. Karena ini perang jihad. Mereka "jihad" untuk menghancurkan negeri ini, kami jihad untuk mempertahankannya.

Ini bukan tentang Jokowi. Ini tentang NKRI..

Seruput kopinya...

Denny Siregar
https://politikandalan.blogspot.com/2019/09/mereka-mau-membakar-indonesia.html
politikandalan.blogspot.com


Denny Siregar: SAYA BERSAMA JOKOWI

Denny Siregar: Seujung Rambut Lagi, Indonesia Perang Saudara
Denny Siregar berbicara tentang faktor- faktor yang membuat radikalisme berkembang di Indonesia. Denny dalam video ini juga menuturkan pendapatnya, apa yang akan dilakukan oleh Joko Widodo lima tahun ke depan setelah Pilpres 2019. Tulisan menarik dari Denny dapat dilihat melalui tautan ini https://www.tagar.id/tag/dennysiregar disajikan di Tagar. Video ke2 : https://youtu.be/a2gqbYAJXQU








Friday, September 6, 2019

JOKOWI DIKEROYOK KORUPTOR, TERORIS, KHILAFAH GABUNG OPM

Gambar Ilustrasi saja

JOKOWI DIKEROYOK KORUPTOR, TERORIS, KHILAFAH GABUNG OPM

Ya. Jokowi dikeroyok oleh koruptor, para teroris, eks HTI di Papua, khilafah yang telah bergabung dengan OPM – yang sangat militan. Ideologi yang tidak menyambung disatukan oleh tujuan merusak Indonesia. Untuk kepentingan ekonomi. Akhirnya, Jokowi itu sendirian. Kasus Papua memilukan.

Benar. Hanya Jokowi yang bisa meredam. Sepanjang sejarah baru Acub Zaenal dan Jokowi yang berbuat untuk Papua. (Dia tak akan ikuti jebakan Fadli Zon dan kamu Kampret agar Jokowi ke Papua saat ini. Jokowi Presiden RI. Bukan kroco pilek seperti Zonk, atau Kampret.)

Padahal bahaya menganga mengancam Papua. Kenapa? Teroris khilafah mulai bergabung dengan pemberontak Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sekali lagi. Semua kelompok kanan bergabung. HTI, khilafah, penjual senjata, koruptor, semua bermain.

Munculnya Jokowi merusak kepentingan para begundal. Kekalahan Pilpres 2019 merupakan langkah sementera mundur HTI dan khilafah yang menunggangi Prabowo.

Padahal, sebenarnya yang dibutuhkan rakyat Papua adalah keadilan. Nyatanya duit Otonomi Khusus tidak sampai ke rakyat Papua. Isu rasisme digunakan untuk menutupi Dana Otonomi Khusus hilang. Rakyat Papua harusnya bisa menerima uang Rp 17,5 juta per orang.

Wajar Rakyat Papua marah. Namun, ketika kemarahan rakyat mereda, yang tersisa Gubernur dan pejabat Papua terpojok. Yang dibakar pun gedung DPRD, gedung MRP (Majelis Rakyat Papua) kantor pejabat yang terkenal galak ke Pusat, perantara aspirasi. Namun, rakyat tetap tidak menerima duit Otsus.

KIP (Kartu Indonesia Pintar), PKH (Program Keluarga Harapan), beasiswa khusus anak-anak Papua, pembangunan infrastruktur secara langsung mengurangi peran ‘perantara’ para pejabat Papua. Hilang peran untuk mengelola dan menilep duit besar. Juga BBM Satu Harga merusak bisnis pejabat yang mencekik rakyat Papua.

Belum lagi masalah keamanan. Banyak yang berkepentingan. Campur baur. Yang jelas tak menguntungkan rakyat Papua. Dari mulai Gereja, ASN, pejabat Papua, LSM, dsb. Benny Wenda di luar negeri. Bahkan oknum TNI pun ditangkap karena menjual amunisi ke OPM. Mengenaskan.

Tak heran pengkhianat negara bermain, semacam Susi Trisusanti (caleg Gagal Gerindra), Sayang (Ketua Perindo Sorong), Veronica (provokator). Mereka bersekutu dengan pemilik modal rezim Orde Baru. Mereka akan terus bekerja untuk menggiring disintegrasi Indonesia.

Maka Papua meledak. Pelaku rasisme lambat ditindak. Tri Susanti lambat dicokok. Vero pun demikian. Setelah bakar-bakaran, bukan sejak video beredar Tri Susanti dicokok. Bukan segera. Setelah Manokwari. Jayapura. Sorong. Paniai. Bahkan Fak Fak yang dikira steril dari gerakan khilafah yang menunggangi kasus Papua.

Hanya sedikit yang paham, di Papua banyak pemberontak OPM mulai bergabung dengan teroris pengikut khilafah. Militansi Papua plus khilafah ini sangat membahayakan. Papua dan NKRI dalam bahaya.

Puncak dahsyat ‘kesalahan’ Jokowi adalah merebut Freeport. Bancakan Orde Baru itu disikat habis oleh Jokowi. Meski sebenarnya seluruh bisnis masih dikendalikan oleh anasir Orba di level dari hulu sampai hilir, namun terjadi perubahan ‘nilai’ dollar dan rupiah. Tidak bisa lagi seperti sebelum di tangan sepenuhnya Freeport. Orang-orang LSM pun tercekik oleh kebijakan Jokowi. Daya tawar untuk ‘unsur’ dan ‘atas nama’ keamanan hilang. OPM yang dulu sering mendapat upeti, kesulitan nanti sejak 2021. Seret uang.

Dalam kondisi seperti ini, gerakan HTI dan khilafah secara masif masuk ke Bumi Papua. Kegerahan Gereja hanya sebatas gereja. Karena dana Timur Tengah begitu masif masuk Papua. Bahkan pembangunan lembaga pendidikan di kantonng-kantong Kristen tak bisa dihentikan. Karena sejatinya orang Papua sangat toleran. Ini pintu masuk mereka. Mereka memanfaatkan kebaikan, kearifan rakyat Papua sebagai alat masuk teroris, khilafah, koruptor, merusak Papua.

Dan itu dikendalikan dari Jawa. Tri Susanti, Vero, Ginting, dan lain-lain. Bahkan asrama mahasiswa Papua di luar Papua adalah tempat persemaian anti NKRI, jadi simpatisan OPM. Harus dibersihkan. Dari luar negeri menyebut satu dedengkot: Benny Wenda. Proxinya para bule kere dan LSM, Australia, Inggris, Jerman, AS. Anehnya, imigrasi Indonesia dikibuli para perusuh Aussie – dikiran festival budaya Papua.

Maka Jokowi diam. Menahan diri. Konsolidasi masalah. Dia juga mampu membungkus yang dia tahu. Ada strategi di dalam diamnya. Namun dia adalah Panglima Tertinggi TNI, Presiden RI, Kepala Pemerintahan, yang berkuasa membuat kebijakan.

Kata-katanya menentukan hitam putihnya Papua. Hancur atau aman. Jokowi adalah Bung Karno kecil. Gus Dur dalam bidang infrastruktur untuk Papua. Dan, dia SENDIRIAN. Untuk Papua dia berbuat. Sendirian. (Penulis: Ninoy N Karundeng).
https://politikandalan.blogspot.com/2019/09/jokowi-dikeroyok-koruptor-teroris.html

Tuesday, July 30, 2019

Kuburan Bus Transjakarta dan Bagaimana Pendukung Anies Men-fitnah Jokowi dan Ahok


Kuburan Bus Transjakarta dan Bagaimana Pendukung Anies Men-fitnah Jokowi dan Ahok

Beberapa hari ini pendukung Anies gencar menyebarkan foto dan video kuburan bus-bus Transjakarta yang dikaitkan dengan kebijakan Jokowi dan Ahok saat menjabat gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Seolah-olah mereka berdua bertanggung jawab, dari fitnah terlibat kasus korupsi, hingga keduanya melakukan pemborosan uang milyaran rupiah. Inilah fitnah yang dilakukan pendukung Anies.

Bagaimana faktanya?

Bus-bus itu memang ditolak oleh Ahok, karena cacat dan rusak, bus-bus produk China yang abal-abal. Tapi Dishub DKI zaman itu (yg pejabat-pejabatnya warisan dari era sebelumnya) malah bersikeras agar bus-bus itu diterima oleh Pemprov DKI dengan dalih: asas manfaat & TransJakarta kekurangan armada bus pengangkut.

Bukan Ahok namanya kalau tidak melawan. Ahok tetap melawan, dia tidak mau terima bus-bus abal-abal itu. Ahok malah curiga kalau ada kongkalikong di balik pembelian bus-bus itu. Dan benar, Kadishub saat itu, Undar masuk penjara karena kasus suap.

Korupsi Bus TransJakarta, Eks Kadishub Udar Pristono Dihukum 13 Tahun Penjara http://detik.id/6TZxMd

Hukuman Udar Pristono Diperberat Jadi 13 Tahun Penjara
 https://megapolitan.kompas.com/read/2016/03/23/21130951/Hukuman.Udar.Pristono.Diperberat.Jadi.13.Tahun.Penjara

Justeru Ahok lah yg membongkar kasus korupsi pengadaan bus Transjakarta dan menolak bus-bus karatan itu, sehingga menyelamatkan penumpang bus Transjakarta dari celaka, misalnya yg pernah terjadi: kebakaran.

Dari pengalaman ini, Ahok tidak mau lagi ada pengadaan bus-bus dari China:

Ahok Tidak Mau Terima Bus Transjakarta Abal-abal dari Tiongkok http://poskotanews.com/2015/12/29/ahok-tidak-mau-terima-bus-transjakarta-abal-abal-dari-tiongkok

Pusing Urus Bus China, Ahok: Sekalian Aja ada Dingdong atau Tongtong http://detik.id/6FzKRc

Kembali ke kuburan bus-bus Transjakarta yang diviralkan lagi oleh pendukung Anies yg dipakai untuk memojokkan dan memfitnah Jokowi dan Ahok, padahal faktanya bus-bus itulah yang ditolak Ahok, karena cacat, karatan dan rusak, kalau saja Ahok saat itu terima, maka, dia bisa dituduh terlibat korupsi. Kalau dia terima maka dia bisa dituduh ikut memesan pengadaan bus-bus cacat. Kalau Ahok terima berarti mencelakakan penumpang Transjakarta. Justeru di era Jokowi dan Ahok, kasus korupsi pengadaan bus Transjakarta dibongkar!

Jokowi dan Ahok yg membongkar korupsi Transjakarta, kok malah disalahkan oleh pendukung Anies saat ini. Ini sama saja pendukung Anies mendukung terpidana korupsi seperti Udar Pristono dan mencelakakan penumpang Transjakarta dengan memakai bus-bus yang abal-abal itu.

Sunday, July 21, 2019

Membandingkan Hakim MK dengan Hakim Ahok


Membandingkan Hakim MK dengan Hakim Ahok

Oleh: Mercy Sihombing.

Kondisi peradilan hukum tidak pernah sama, waktunya beda, terdakwanya beda, saksinya beda, hakimnya beda, jaksanya beda, bahkan petitum dan positanya beda. Namun sengaja saya bandingkan Hakim MK versus Hakim Ahok dalam hal keberanian dan kejujuran sebagai penegak hukum.

Mana Hakim yang layak disebut Yang Mulia, mana yang hakim “ayam sayur” yang ketakutan ditekan massa atau ditekan atasannya.

Ke-9 hakim Mahkamah Konstitusi yang merupakan pilihan DPR, MA, dan Presiden, masing-masing tiga hakim. Hakim-hakim MK adalah senior, terpilih, dengan latar belakang pengalaman, pendidikan, dan yang paling penting mental dan etika sebagai hakim terhormat.

Keputusan malam ini membuktikan "kelasnya" Hakim MK kali ini. Satu persatu posita (rumusan dalil dalam surat gugatan) dikuliti ke-9 Hakim secara bergantian. Sidang yang menghabiskan ratusan jam dan pembacaan putusan dari Pk 12.30 sampai 21.16 membuktikan semua yang ditampilkan dalam sidang, terpantau semua. Mana saksi bohong, mana bukti abal-abal, mana penjelasan ahli abal-abal, semua lengkap dinilai Hakim MK.

Karena itu posita (hal yang dimintakan penggugat kepada hakim untuk dikabulkan) Tim BPN, ditolak seluruhnya dengan mantap oleh seluruh Majelis Hakim MK.

Sekalipun demikian, kita tidak bisa melupakan proses pemilihan Hakim MK adalah proses politik, sehingga peluang untuk hakim terhina, korupsi, jual perkara, doyan suap, dan culas tetap ada.

Masih ingat, Patrialis Akbar dan Akil Mochtar, dua manusia hina yang mengotori kursi hakim Mahkamah Konstitusi.

Semoga ke-9 hakim MK tahun ini menjadi idola bagi semua orang, terutama para sarjana hukum junior dan senior. Doa saya, semoga ke-9 hakim MK ini sehat, berumur panjang dan setia menjaga dirinya sebagai penegak hukum.

Bandingkan Hakim MK dengan Hakim Ahok

Buat para pendukung hukum dan keadilan, maka pendapat pengacara Todung Mulya Lubis jadi catatan penting. Ia menyebutkan putusan majelis hakim atas Ahok bisa disebut sebagai ' pembunuhan'.

Karena Jaksa tidak menuntut Ahok untuk penistaan agama. Malah Majelis hakim yang menyeret Ahok menjadi penista agama.

Putusan Hakim Ahok tidak cuma diprotes penegak hukum Indonesia, bahkan para ahli hukum internasional. Normalnya majelis hakim mendasarkan vonisnya pada tuntutan jaksa. Sangat tidak biasa, jika ada majelis hakim memeriksa dan mengadili sendiri.
Jadi digunakannya pasal penistaan agama oleh majelis hakim adalah inisiatif majelis hakim untuk menjustifikasi terjadinya penistaan agama.

Bahkan, dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim mengabaikan keterangan saksi-saksi fakta yang hadir dalam pidato Ahok di Pulau Pramuka pada 29 Oktober 2016. Para saksi fakta menyatakan tidak ada penodaan agama oleh Ahok.

Kok malah Majelis hakim condong pada saksi-saksi pelapor yang tidak hadir dalam pidato Ahok dan memiliki kebencian pada Ahok.

Singkatnya Majelis Hakim kasus Ahok tidak adil, tidak berimbang dan bahkan condong mendengar pada pelapor yang tidak ada di lokasi, dan ahli-ahlinya. Majelis Hakim mengabaikan saksi-saksi fakta, ahli-ahli yang meringankan Ahok, keterangan Ahok sebagai terdakwa, nota pembelaan Ahok dan penasihat hukumnya bahkan tuntutan jaksa itu sendiri.

Jadi silakan nilai sendiri kualitas Hakim MK versus Hakim Kasus Ahok

Apa kabar Hakim dan Jaksa Kasus Ahok ?

Begitu selesai membuat putusan Ahok, dalam hitungan hari, ternyata tiga dari 5 Ahok langsung mendapat promosi dari Mahkamah Agung.

Walau dibantah, tetapi malah jadi jelas jelas bahwa tiga hakim kasus Ahok cuma boneka dari Mahkamah Agung dalam sidang Ahok. Ketua MA Hatta Ali lewat anak buahnya boleh berbusa busa membela diri.

Dan ini dugaan saya, dan semoga saya salah.
 Hatta Ali ada di balik keputusan hakim Ahok. Dan di balik Hatta Ali, ada JK, sang wapres. Sudah jadi rahasia umum, JK sangat ambisius mendorong Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Untuk itu Ahok harus disingkirkan.

Mungkin JK dan Hatta Ali dan Tiga Hakim dan Jaksa kasus Ahok lupa, bahwa kejahatan meninggalkan jejak. Demikian juga segala tipu muslihat.

Berikut tiga dari lima hakim yang menangani perkara Ahok yang langsung dapat promosi :

Dwiarso Budi Santriarto, dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara promosi menjadi hakim di Pengadilan Tinggi Bali.

Abdul Rosyad, dari hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara promosi menjadi Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah.

Jupriyadi, dari Wakil Pengadilan Negeri Jakarta Utara promosi menjadi Kepala Pengadilan Negeri Bandung.

Sementara, dua hakim lainnya, Didik Wuryanto dan I Wayan Wirjana tidak mendapat promosi. Kabarnya dua hakim terhormat ini mengajukan dissenting opinion, perbedaan pendapat.

Catatan menarik dari para "penegak hukum" yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam kasus Ahok (ini fakta, dan saya ikut menghaturkan turut berduka cita).

Kabar terakhir, baru beberapa bulan jadi hakim Pengadilan Tinggi Bali, Dwiarso ditolak masyarakat Bali.
Mengutip pandangan Tokoh masyarakat Bali, I Gusti Ngurah Harta, menyatakan tidak setuju Dwiarso ke Pengadilan Tinggi Bali. "Saya tidak setuju dengan penempatan itu. Karena seperti ada grand design dia bertugas di Bali untuk manangani kasusnya juru bicara FPI Munarman.”

Ditolak di Bali, buru-buru Dwiarso ditarik ke Mahkamah Agung dan dicari cari posisi, kabarnya Dwiarso "terpilih" jadi hakim di Badan Pengawasan Mahkamah Agung.

Kabar duka bagi Hatta Ali, Ketua MA. Anak bungsunya meninggal dengan kondisi patah leher saat kecelakaan tunggal dalam turing motor gede di Namimbia Afrika. Yang bikin nyesek, duit banyak dan jabatan bapake ternyata tidak bisa membeli nyawa. Irfan, anak kedua dari dua anak Hatta Ali sebenarnya bisa tertolong, tetapi nasibnya mengalami kecelakaan tunggal di lokasi 70 km dari kota terdekat di Afrika.

Satu dari empat Jaksa kasus Ahok, bernama Andri Wiranofa tewas di pesawat Lion Air JT 610. Andri berada di pesawat naas itu bersama istrinya, yang membuat dua anak perempuannya yang masih balita menjadi yatim piatu.

Entah apa ada hubungan fakta itu dengan Sumpah Ahok atau tidak.

Tetapi percayalah Gusti ora sare. Jangan main main sebagai penegak hukum, apalagi menghukum orang yang tidak terbukti melakukan tindak pidana atau perdata.

PANGGUNG POLITIK JOKOWI YANG TIDAK TERLIHAT OLEH AWAM..


Kirimin ini nih ke Group yang banyak KAMFRETZZ nya πŸ‘ŽπŸ»:

ADA YANG MAU BACA KORAN PAGI???
YUK SIMAK DIBAWAH INI.

PANGGUNG POLITIK JOKOWI   YANG TIDAK TERLIHAT OLEH AWAM..

Ketika awal Jokowi berkuasa, teman saya mengatakan bahwa yang paling berbahaya secara politik adalah sikap Jokowi yang ingin memaksa Freeport mengakhiri Kontrak Kerja dan patuh kepada UU Minerba.

Karena ini menyangkut kepentingan AS yang Lima Presiden sebelumnya tidak mampu menghadapi.

Apalagi Jokowi bukan presiden yang pemimpin Partai, yang tentu tidak punya kekuatan terorganisir di akar rumput menahan gejolak serangan politik dalam negeri.

Benarlah.

Tahun 2015 suhu politik memanas dengan munculnya skandal “Papa minta saham” yang berkaitan dengan Dirut PT. Freeport Indonesia dan Setya Novanto bersama Murez.

Isi rekaman itu menyeret nama nama mantan presiden sebelumnya yang terlibat dalam konspirasi tingkat tinggi.

Setya Novanto lolos dari kasus ini karena dia tidak mau bersaksi atas isi rekaman itu.

Secara tidak langsung Novanto menyelamatkan muka para presiden sebelumnya.

Tanpa operasi Intelligent Asing tidak mungkin rekaman yang sudah setahun lebih muncul lagi kepublik dan membuat gemetar elite politik.

Ini seakan sinyal kepada Jokowi bahwa jangan main main dengan Freeport.

Apakah itu cukup?

Belum. !!

Pada bulan Februari 2016, Kapal selam AS berkekuatan nuklir mendekati perairan Indonesia.

Ini provokasi yang berbahaya.

Jokowi telah memerintahkan TNI AL harus tanpa ragu menjaga teritori Indonesia.

Makanya Tim reaksi cepat Western Fleet Quick Response (WFQR) TNI AL dipiloti Kapten Laut (P) S Hayat dan Lettu Laut (P) Asgar Serli bergerak cepat menuju wilayah perairan Nongsa, Batam.

Pusat Penerbangan TNI AL yang bermarkas di Tanjungpinang harus melaksanakan prosedur tetap dalam Standar operasi tempur untuk menjaga teritory Indonesia.

Berita ini tidak begitu di perhatikan oleh Publik.

Padahal saat itu prajurit TNI berhadapan dengan Angkatan laut AS yang menggunakan Kapal selam modern untuk mendekati perairan Indonesia.

Saya yakin apalah arti kekuatan Helikopter Helikopter BO 105 nomor lambung NV-408, di bandingkan dengan kekuatan angkatan laut AS.

Tapi prajurit TNI tanpa sedikitpun ragu terus me shadow kapal selam itu untuk segera menjauh dari perairan Indonesia.

Selesai?

Belum. !!!!

Masih ada lagi…

Di penghujung tahun 2016 atau bulan november terjadi aksi massa umat islam yang dikenal dengan gerakan GNMF MUI untuk memenjarakan Ahok yang dituduh menistakan agama.

Namun sebetulnya diarahkan untuk menjatuhkan Jokowi.

Terbukti dalam aksi 411 ratusan ribu orang berdemontrasi mengepung istana negara.

Aparat dengan kesetian tinggi kepada Presiden berhasil menjaga ketertiban demo tersebut walau sempat terjadi gesekan dengan aparat.

Selesai?

Juga Belum!

Sebulan kemudian diadakan lagi aksi 212, tujuan tetap sama memenjarakan Ahok dengan target Istana negara.

Kali ini Jokowi datangi peserta demo dengan percaya diri, dan memastikan dia tidak takut dan dia bukan musuh umat islam.

Apakah itu cukup?

Belum!!

Pada saat hari Pilkada DKI, Kapal induk bertenaga nuklir milik Amerika Serikat (AS) USS Carl Vinson memasuki wilayah Indonesia  dengan alasan mengawal kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Indonesia.

Kunjungan dengan kawalan berkekuatan besar ini secara tidak langsung AS menerapkan smart power terhadap Indonesia.

“Kamu jangan coba coba melawan saya“.

Pada bulan itu memang sedang dilakukan perundingan dengan Freeport.

Jokowi menghadapi tekanan itu dengan tenang.

Dalam pertemuan dengan Jokowi, Mike tidak menyinggung soal Freeport.

Provokasi AS di perairan Indonesia dan adanya pressure group sebagai proxy AS yang membuat stabilitas politik dalam negeri terganggu, menguatkan argumen para elite politik dan Jenderal bahwa berhadapan dengan kepentingan AS di Indonesia sangat berbahaya.

Tahun 2017 Prabowo mengatakan bahwa Indonesia harus menghormati kepentingan AS. 

Bahkan Prabowo sampai mengingatkan pemerintah Jokowi bahwa Amerika Serikat pernah membantu bangsa Indonesia pada beberapa hal.

Tentu ini berkaitan dengan kekisruhan perundingan dengan Freeport.

Sikap Jokowi sudah jelas sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pemegang KK harus beralih operasi menjadi perusahaan IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Kewajiban divestasi hingga 51 persen.

Sikap ini dipegang dengan konsisten.

Teman saya bilang bahwa bukan hanya AS yang dibuat Jokowi tidak berdaya.

China juga merasakan sikap keras Jokowi.

Dalam pertemuan APEC di Beijing.

Jokowi dengan tegas akan memberikan ruang ALKI kepada AS.

Dengan demikian tidak berdesakan dengan China di Malaka.

Bahkan Jokowi menolak dengan keras klaim Cina atas laut Cina Selatan & menggantinya dengan Natuna Utara!!!

Yang membuat pemerintah Cina geram, tapi apa daya yang dihadapi adalah Jokowi si manusia keras kepala yang sangat mencintai negerinya.

Dan kalian masih bilang Jokowi antek Cina???

Kalian mau tahu muka antek Cina dan penjilat pantat cina?

Nih.....!! πŸ‘‡

Setelah pertemuan APEC di Beijing Jokowi akan membangun pelabuhan check point di Nusa Tenggara Barat (NTB) & Sulawesi.

Waktu itu baik China & AS setuju untuk mengakhiri konflik laut cina selatan.

Atas kesepakatan itu China merasa aman dengan program OBOR untuk menghubungkan China ASEAN.

Pembangunan kereta logistik digelar dari Guangxie melalui Vietnam, Thailand, Malaysia Singapore dan rencana dengan jembatan laut Malaka akan terhubung dengan Indonesia ( Dumai ).

Saat sekarang jalur kereta sudah sampai di Malaysia.

Dan sedang membangun tunnel ke Singapore.

Sementara AS sedang memperkuat investasi explorasi gas di blok santa fee dan marsela ( laut Arafuru- Maluku ) dan Mahakam, kalimantan timur.

Tetapi dalam perjalanannya Jokowi tidak pernah komit dengan kesepakatan APEC itu.

Jokowi tidak menanggapi proposal jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai dengan Malaka.

Padahal proyek itu sudah dapat izin prinsip dari pemerintah SBY.

Program Toll laut Jokowi bukannya mendukung OBOR malah bersaing dengan OBOR.

China pusing.

Bagaimana dengan AS?

Blok Mahakam di take over oleh Pertamina awal tahun ini dan Blok marsela di bangun di darat dan sekarang justru Jokowi akan membangun pangkalan militer di Kepulauan Arafuru.

AS tambah pusing.

“Bagaimana mau kerjasama kalau tidak ada yang komit".

Jokowi seenaknya mengabaikan komitment yang dibuatnya.

Kata teman konsultan Geostrategis kepada saya.

Saya hanya tersenyum.

Saya katakan kepada teman bahwa OBOR ( One Belt One Road ) tidak akan dapat peluang menyentuh Malaka sebelum Sumatera terkoneksi dengan toll laut maupun toll darat.

Jokowi tidak mau mengorbankan Geostrategisnya untuk kepentingan asing.

Janji China akan menggelontorkan dana USD 30 miliar untuk jalan toll Sumatera & toll laut, nyatanya hanya 10% saja cair.

Mau komit bagaimana?

Amerika juga sama, tidak ada niat baik menyelesaikan masalah Freeport dengan mulus.

Mau komit bagaimana ?

Saya rasa ini hanya pertimbangan fairly.

Kalau mau bersinergi, China dan AS harus tunjukkan itikad baik.

"Sekarang Indonesia, ada atau tidak ada china atau AS pembangunan jalan terus sesuai agenda.

"Agenda Jokowi untuk Indonesia", Kata saya.

“Jadi apa usul kamu ?" Kata teman sambil mengerutkan kening.

"Menurut saya, china selesaikan saja komitment membiayai jalan toll Sumatera dan toll laut, dalam koridor B2B.

Kemudian AS gunakan Jepang & Eropa bangun koneksitas Kalimatan & Sulawesi.

Dukung penyelesaian masalah freeport.

Nah kalau itu semua sudah selesai, Jokowi akan komit.

Mengapa?

Karena kalau infrastruktur terbangun, Indonesia juga siap bersaing atas program OBOR nya China dan Grand Pacific nya Amerika.

Kan tidak mungkin Indonesia hanya jadi penonton.”

“Wah saya yakin Jokowi akan gagal Pilpres 2019.
Terlalu banyak musuh."

Apalagi proxy China dan AS ada disemua Partai Politik di Indonesia.

“Kata teman saya hanya tersenyum. Memang perjuangan mempertahankan NKRI itu tidak mudah".

Mengapa ?

Musuhnya bukan saja orang asing tetapi juga dari dalam negeri yang berkedok pengamat, tokoh agama, politisi & mereka tanpa rasa malu secara vulgar menunjukan keberpihakannya terhadap asing.

Tidak ada mereka berdemo memberikan dukungan kepada Presiden dalam upaya nasionalisasi SDA kita.

Bagi mereka bagaimana caranya agar agenda asing terkabulkan dan Jokowi jatuh, entah bagaimana caranya.

Yang penting mereka dapat uang dan kekuasaan.

“Negeri kami merdeka berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Engga ada yang kami takuti dengan asing apalagi proxy kambing, proxy sapi, proxy kampret.

Karena yang menjaga kami adalah Tuhan..Allah SWT.

Apakah ada yang lebih hebat dari Tuhan? “ kata saya.

Tidak percaya?

Nah! ...

Terbukti kini di penghujung tahun kekuasaan Jokowi, Blok Mahakam, Blok Rokan dan divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia selesai dan Jokowi masih bisa tersenyum tanpa beban menyapa rakyat dengan gaya jenakanya.

Belakangan AS dan China harus bermanis muka kepada Jokowi agar Indonesia berperan dalam proposal Indopacific dan tetap saja Jokowi menentukan arah proposal itu sesuai dengan kepentingan Indonesia.

Sementara gerakan pressure group semakin kehilangan ide dan pijakan politik.

Beberapa diantara mereka kini tersangkut kasus pidana dan mungkin ada yang hampir gila karena ngoceh salah terus.

Pemilu 2019 adalah panggung Jokowi, untuk periode kedua dengan dukungan penuh dari koalisi partai yang akan menguasai kursi  minimal 70% di DPR.

Wahai anak negeri... Jangan biarkan Jokowi berjalan sendiri.πŸ™.

Friday, July 5, 2019

Ini Dampak Negatifnya Perang Dagang Amerika atas China



Gila, Ternyata Sederhana Caranya Menjadi Negara Lebih Besar dari Amerika

Thursday, June 20, 2019

Persamaan perkembangan politik sama polanya dengan apa yang terjadi di Timteng

-gambar ilustrasi-

Mengamati perkembangan politik dalam negeri akhir-akhir ini, sebagai pengamat Timteng, saya langsung melihat persamaan polanya dengan apa yang terjadi di Timteng. Mengapa bisa sama? Ya karena memang para inisiator Arab Spring ‘berguru’ pada konsultan yang sama. Google saja nama NED atau Srdja Popovic. Keduanya adalah proxy dari kekuatan adidaya ekonomi dunia. Saya juga pernah cerita tentang hal ini di buku saya Prahara Suriah, bisa didonlot gratis. [1]

Revolusi Tunisia dipicu oleh tewasnya Bouazizi (membakar diri). Sebelum Bouazizi, sudah ada beberapa pemuda frustasi yang bunuh diri, tapi 17 Desember 2010 (hari kematian Bouazizi) adalah momen di mana para inisiator demo dengan kekuatan penuh memanfaatkan kematiannya dengan memainkan isu yang memang ‘relate’ (terhubung) dengan keresahan masyarakat umum (misal, kesulitan ekonomi, korupsi elit, dll) sehingga massa bisa didorong untuk turun ke jalan secara besar-besaran. Akhirnya, Presiden Ben Ali tumbang.

Di Mesir, ketika aksi-aksi protes mulai terjadi di awal Februari 2011 (dengan isu kesulitan ekonomi), tiba-tiba saja beberapa orang berkuda dan ber-unta menerobos kerumunan, terjadi kerusuhan, dan yang dituduh pelakunya tentu saja rezim Mubarak. Aksi-aksi demo semakin tereskalasi, semakin banyak korban berjatuhan, massa semak  , demo semakin besar, dan akhirnya, Mubarak tumbang.

Di Suriah, muncul aksi demo di Daraa (Maret 2011), sebuah kota kecil di dekat perbatasan Yordania. Kisah yang disebar melalui medsos&media mainstream: ada anak muda yang tewas disiksa polisi karena membuat grafiti. Dalam aksi demo itu, ada sniper yang menembak, jatuh korban, baik di pihak massa maupun aparat keamanan.

Versi media mainstream: “Demo di Daraa memicu aksi protes di berbagai kota lainnya dan dihadapi dengan kekerasan oleh rezim Assad. Dan karena itulah rakyat pun angkat senjata untuk membalas.” Tentu saja awalnya, media mainstream (CNN, BBC, Aljazeera dkk) tidak menyebutkan bahwa yang angkat senjata sebenarnya adalah milisi-milisi Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, dan Al Qaida (tahun 2013, ISIS dideklarasikan).

Menurut Irjen Pol. Drs. Suntana, M.Si. (Wakabaintelkam Polri) yang pernah ke Suriah, di awal-awal masa demo itu banyak sekali polisi Suriah yang tewas karena mereka dilarang untuk melawan, akibatnya malah mereka yang diserang massa atau sniper. [beliau cerita di acara Bedah Buku Prahara Suriah di PP Muhammadiyah, 18 Jan 2019]

Cerita Irjen Suntana persis seperti yang pernah saya tulis di berbagai artikel dan di buku Prahara Suriah (2013) berdasarkan penelusuran berbagai berita non-mainstream. Awalnya pemerintah Suriah memang terlalu kalem, demo-demo dibiarkan, polisi dilarang menembak, bahkan tahanan politik (IM, HTI, Al Qaida) dibebaskan demi ‘mengambil hati’ para demonstran. Bukannya melunak, mereka semakin garang, dan perang Suriah pun berlangsung hingga 8 tahun.

Sampai saat ini, para teroris (atau “mujahidin”, menurut mereka sendiri) masih bercokol di Idlib, sisa-sisa ISIS masih ada di beberapa lokasi.

Benang merah aksi demo di Timteng dan Indonesia (dalam kasus pilpres) ada 4:
1. Isu ekonomi dipakai untuk membangkitkan kemarahan massa.
2. Isu orang yang “tewas dibunuh rezim” diblow-up besar-besaran melalu medsos.
3. Ada negara adidaya yang berperan di balik layar [2], istilah di Indonesia: ada ‘bohir’-nya.
4. Pelaku demo baik di Tunisia, Mesir, maupun Suriah, banyak orang IM dan HT (di Suriah, mereka bahkan angkat senjata).

Baik IM maupun HT punya cabang di Indonesia, dan seperti bisa Anda perhatikan, merekalah yang sangat militan menyebarluaskan isu kesulitan ekonomi (=Indonesia dijajah China) dan isu “orang dibunuh rezim” (petugas KPPS yang gugur dalam menjalankan tugas). Bahkan akhir-akhir ini mereka menyebarluaskan narasi yang sangat berbahaya: emak-emak disuruh menimbun bahan pangan dan menarik uang di bank.

Mengapa sangat bahaya? Bila rakyat berhasil dibuat panik, terjadi rush, bank-bank tumbang, sembako mahal dan langka, mereka akan mudah diprovokasi untuk turun ke jalan. Di saat yang sama, sel-sel tidur sudah siap meledakkan bom di mana-mana. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Syekh Al Buthy sebelum beliau gugur syahid (dibom oleh “jihadis”, tak lama setelah Yusuf Qardhawi, ulama IM, memberikan fatwa di Aljazeera, bahwa wajib membunuh siapa saja yang bekerja sama dengan pemerintah Suriah), menasehati para demonstran Suriah:

“Wahai umat, jangan sekali-kali membuka pintu kemudian kalian memasuki sebuah lorong yang tidak kalian ketahui kemana akhirnya; jangan pernah membuka pintu menuju kehancuran; dimana satu langkah kalian ayunkan akan diikuti oleh langkah lain yang makin membuat kalian terpuruk.” [3]

Yang beliau maksudkan, segera terbukti kebenarannya. Para demonstran Suriah, mengira sedang berjuang tapi akhirnya membuka pintu kepada para ‘penunggang’ dan negeri mereka pun dilanda perang bertahun-tahun.

Dalam ceramahnya yang lain, beliau berkata, “Ketika pintu fitnah dibuka, hanya orang pintar yang tahu ketika awal pintu itu dibuka, sedangkan orang bodoh baru mengetahuinya setelah semua hancur.”

Mari jadi orang pintar, mulai bergerak, nasehati kalangan terdekat untuk jangan coba-coba membuka pintu yang akan membawa kita pada kehancuran. Di grup-grup WA dan medsos, lawan narasi mereka. Ingatlah, negeri ini ibarat kapal, jika tenggelam, semua penumpangnya akan ikut tenggelam.
https://politikandalan.blogspot.com/2019/06/persamaan-perkembangan-politik-sama.html
[1] https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/01/01/pdf-prahara-suriah/
[2] https://www.youtube.com/watch?v=lpXbA6yZY-8
[3] https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/362515347587349/
https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/06/10/waspadai-bisnis-penggulingan-rezim/

Thursday, May 9, 2019

Di Depan Media Asing, Prabowo Permalukan Bangsa Indonesia dan Dirinya Sendiri



Di Depan Media Asing, Prabowo Permalukan Bangsa Indonesia dan Dirinya Sendiri

Dengan bangganya di depan beberapa wartawan media asing, Prabowo dan Rizal Ramli yang selama kampanye selalu mengancam dan memfitnah media, serta mendeklarasikan sebagai calon pemimpin yang anti asing, justru seolah merengek dan mengadu kalau Prabowo kalah Pilpres 2019 karena dicurangi. Ada delapan poin rengekan Prabowo di depan para wartawan asing, yang faktanya justru mempermalukan dirinya sendiri karena apa yang ia sampaikan ngawur. Apa saja itu?

1⃣ Poin pertama, Prabowo mengatakan bahwa kecurangan pemilu merupakan penghinaan terbesar bagi demokrasi suatu negara.
"Begitu fakta terungkap, seorang pemimpin yang mengambil alih kekuasaan lewat pemilihan yang curang, dianggap tidak sah oleh rakyat dan karenanya kehilangan kemampuannya untuk memerintah secara efektif,"

FAKTA: Bertindak curang dalam pemilu memang penghinaan terbesar bagi demokrasi suatu negara, maka dari itu seharusnya Prabowo terlebih dahulu menasihati para kadernya di Partai Gerindra yang melakukan politik uang (money politic) jelang pemungutan suara untuk mendongkrak suara Prabowo. Prabowo juga seharusnya menasihati tim suksesnya untuk tidak menyuruh panitia pemungutan suara mencoblos surat sisa untuk 02 (kasus di Serang, Banten). Itu tindakan curang yang memalukan! Sudah curang tetapi tetap kalah, itu lah Prabowo.

https://www.liputan6.com/news/read/3943219/video-bawaslu-tangkap-pelaku-dugaan-money-politik-di-posko-gerindra

https://www.bantennews.co.id/coblos-sisa-surat-suara-untuk-capres-02-gakkumdu-kota-serang-tetapkan-empat-tersangka/

2⃣ Poin Kedua menyampaikan tuduhan kecurangan pemilu adalah langkah yang serius dan tidak boleh dianggap enteng hanya berdasarkan kecurigaan saja oleh pihak yang kalah. "Itu harus didasarkan pada fakta-fakta,"

FAKTA: Kubu Prabowo yang justru menuduh pemilu curang tanpa fakta, bahkan terkesan tidak serius. Hingga hari ini Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang bertanggung jawab terhadap temuan pelanggaran pemilu, bahkan belum menerima laporan adanya kecurangan Terstruktur Sistematis dan Masif seperti yang selama ini dikoar-koarkan di media oleh kubu Prabowo. Teriak dahulu, data dan buktinya ada atau tidak itu urusan belakangan, kira-kira begitu logikanya kubu Prabowo.

https://nasional.kompas.com/read/2019/05/02/21425711/bawaslu-belum-temukan-indikasi-kecurangan-pemilu-terstruktur-sistematis-dan

3⃣ Poin ketiga, Prabowo mengklaim bahwa dirinya bisa menyajikan fakta seperti yang disebutkan di atas. "Kami di sini untuk mengungkapkan kepada Anda bagaimana kami berhasil mengumpulkan bukti yang terdokumentasi, yang menunjukkan bahwa kecurangan pemilu dengan niat jahat memang terjadi dalam pemilu 2019," (Prabowo)

FAKTA : Bukti yang mana? Apakah Koordinator tim sukses Prabowo Dahnil Anzar Simajuntak yang menemui salah satu Ketua KPU di Sumatera Barat secara diam-diam sebelum Pemilu digelar adalah niat jahat yang dimaksud? Pantas saja, Prabowo di Sumatera Barat menang telak jika seperti itu cara curang yang dilakukan Prabowo.
http://jambi.tribunnews.com/2019/04/11/ketua-kpu-dipecat-karena-bertemu-dengan-juru-bicara-bpn-prabowo-sandi-dahnil-anzar

4⃣ Poin keempat, Prabowo menyebut bukti utama kubunya didasarkan pada penggunaan instrumen sederhana, yakni smartphone. Pengamat pemilu dari seluruh negeri dan relawan, ujar dia, telah  mengambil foto penghitungan suara yang direkam di masing-masing dari sekitar 800.000 tempat pemungutan suara atau TPS. Dengan menggunakan foto-foto itu, kubu 02 sejauh ini telah mengaudit hasilnya di 477.000 TPS. "Dan kami telah mengungkap 73.715 kasus data ringkasan C1 yang salah dimasukkan ke dalam Situng yang merupakan 15,4 persen dari total yang diaudit hingga saat ini,"


FAKTA : Justru kubu Prabowo melakukan tindakan yang curang dan memalukan sekaligus merusak demokrasi, yaitu memalsukan C1 hanya untuk mengklaim bahwa pemilu ini curang dan hasilnya berbeda dengan C1 palsu yang dimiliki Prabowo. Selain itu, salah input tidak hanya merugikan Prabowo juga merugikan Jokowi. Dan yang terpenting Prabowo bahkan tidak mengerti bahwa suara yang diakui UU adalah suara yang terdata melalui rekapitulasi manual, bukan melalui situng KPU. Situng hanya sebagai alat transparansi KPU kepada public. Ini hal dasar yang bahkan Prabowo dan pendukungnya tidak paham.

https://news.detik.com/berita/d-4537486/ribuan-form-c1-untungkan-02-diamankan-dari-mobil-di-menteng

https://www.liputan6.com/pilpres/read/3954079/ketua-kpu-sebut-data-situng-bukan-hasil-resmi-penghitungan-suara

5⃣ Poin kelima, Prabowo menuding ada upaya sistemik oleh pemerintahan Jokowi untuk merusak dan memanipulasi sistem pemilu. Diantaranya, ujar dia, dengan tidak mengundang pemantau internasional yang kredibel, seperti Carter Center dan tidak mendukung IT KPU dengan sistem keamanan yang memadai sehingga dinilai rentan terhadap penipuan siber, serta banyak hal lainnya yang dituduhkan Prabowo kepada pemerintah.

Fakta: Di hadapan media asing saja Prabowo berani mempermalukan dirinya sendiri karena menyebar berita bohong. Pada kenyataanya, KPU dan Bawaslu bahkan mengundang lebih dari 11 lembaga pemantau independen, dua di antaranya adalah lembaga pemantau asing yang kredibel. Kenapa tidak Carter Center sesuai keinginan Prabowo? Ya jelas saja, tidak dipilih karena Carter Center asal AS kemungkinan besar memiliki hubungan bisnis dan deal-deal politik tertentu dengan keluarga Hashim (adik Prabowo). Konflik Kepentingan yang menyebabkan tidak independennya lembaga pemantau sangatlah dihindari.

https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/poz3h8428/dua-lembaga-organisasi-asing-akan-jadi-pemantau-pemilu-2019

6⃣ Poin keenam, Prabowo menilai pilpres 2019 begitu rumit karena diselenggarakan serentak bersama pemilihan legislatif. "Mengapa itu dirancang seperti ini oleh pemerintahan Jokowi dan untuk tujuan apa? Pemilihan sebelumnya tidak begitu rumit," ujar Prabowo

Fakta : Prabowo di depan media asing begitu serius mempermalukan kapasitas dirinya sebagai seorang capres. Bagaimana mungkin Prabowo bahkan menuduh pemerintah Jokowi yang merancang pemilu serentak? Karena faktanya keputusan pemilu serentak adalah keputusan Mahkamah Konstitusi pada Januari 2014 sebelum Jokowi terpilih menjadi presiden (Lembaga Yudikatif di mana Presiden Jokowi sebagai eksekutif tidak bisa intervensi) yang kemudian peraturannya dibuat oleh DPR (Legislatif) Gerindra partai yang dipimpin Prabowo beserta semua partai koalisinya ikut mengesahkan Pemilu serentak yang rumit ini.

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52e131d88b072/mk-putuskan-pemilu-serentak-tahun-2019

https://sp.beritasatu.com/politikdanhukum/dpr-sepakat-pemilu-2019-dilakukan-serentak/16936

7⃣ Poin ketujuh, Prabowo mempertanyakan peristiwa kematian hampir 500 Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada hari pemilihan. "Tragedi ini lebih besar daripada kecelakaan Boeing 737 Max. Kami berharap pemerintah melakukan penyelidikan serius terhadap masalah ini," ujar dia

FAKTA : Kubu Prabowo adalah kubu yang paling bertanggung jawab terhadap banyaknya petugas yang meninggal. Psikolog mengatakan, factor tekanan psikis menjadi hal yang memiliki andil besar dalam hal ini. Kita tahu sejak sebelum pemilu sampai sesudah pencoblosan kubu Prabowo yang serempak mengkampanyekan dan menuduh tanpa bukti bahwa petugas KPU bertindak curang. Itu membuat para KPPS ketakutan dan mendapat tekanan psikis yang berlebih.

https://kumparan.com/infodompu/psikolog-tekanan-sosial-dan-fisik-picu-tumbangnya-petugas-pemilu-1qyVKSFyKZo

8⃣ Poin kedelapan Prabowo menyebut dirinya dan tim akan terus mengumpulkan bukti kecurangan pemilu seperti yang mereka sebutkan. "Kita seharusnya tidak melihat cerita ini berakhir pada tanggal 22 Mei. Kita harus menyampaikan kasus ini kepada publik secara transparan dan membiarkan mereka memutuskan apa yang harus dilakukan," ujar Prabowo di akhir kalimatnya.

FAKTA : Keputusan resmi KPU sebagai penyelenggara Pemilu atas amanat UU akan mengumumkan hasil pemenang Pilpres pada 22 Mei. Jika Prabowo tidak mau persoalan Pilpres selesai pada 22 Mei, maka Prabowo telah menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah sosok yang tidak bisa menerima kenyataan, dan tidak siap bertarung secara fair dalam demokrasi.

Sebagai calon pemimpin, bahkan hal dasar yaitu siap kalah dan siap menang tidak dimiliki olehnya. Prabowo bahkan tidak mau mengakui suara rakyat yang telah berpartisipasi dalam Pemilu kemarin. Partisipasi menyentuh angka 80 persen, salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah republik Indonesia.

https://www.kompas.tv/article/45563/litbang-kompas-meningkat-dari-2014-tingkat-partisipasi-pemilu-2019-sebesar-80-90

Rofiq Al Fikri
Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu / JAMMAL

Friday, April 5, 2019

Lagi! Prabowo Dikuliti Aibnya oleh Teman Seangkatan dan ‘Mati Karir’!

Tuesday, April 2, 2019

LEGENDA KAMPRET DUNIA TERBALIK



LEGENDA KAMPRET DUNIA TERBALIK

Fadli Zon yang mengidolakan Karl Marx pendiri komunisme, Jokowi yang dituding PKI.

Prabowo yang menghadiri perayaan nasional berdirinya RRC bersama para petinggi partai komunis China, Jokowi yang dituding antek aseng.

Hasyim Joyohadikusumo, adik Prabowo bersekutu dengan Nathaniel Rotschild, konglomerat Yahudi dunia, Jokowi yang dituding antek asing.

Sumitro Joyohadikusumo, ayah Prabowo yang jadi pemberontak PRRI / Permesta, Jokowi yang dituding anak pemberontak PKI.

Prabowo berasal dari keluarga Kristen, ga paham tata cara sholat, wudhu, shalawat, baca Quran dan menurut anak buahnya di Kopassus ga pernah puasa Ramadhan malah dibilang titisan Allah SWT. Jokowi yang berasal dari keluarga pribumi muslim, sudmah haji, rajin shalat, dekat dengan para santri dan ulama malah dibilang kapir dan istana iblis.

Prabowo tolak ijtima ulama dan tolak gandeng ulama jadi Cawapres sedang Jokowi justru pilih ulama untuk jadi Cawapres, Jokowi yang dituding anti Islam.

Pemerintah Arab Saudi yang mencekal Rizieq Shihab, Jokowi yang dituding kriminalisasi ulama.

Jokowi ambil kembali blok Rokan dari Chevron dan 51% saham Freeport dari Amerika, Jokowi pula yang dituding jual aset negara.

Prabowo yang pernah menculik dan menghilangkan orang, malah Jokowi yang dituding rezim otoriter.

Achmad Dhani dukung LGBT, cebong yang dituding pro LGBT.

Anies yang bohong soal rumah DP 0% dan Sandi yang bohong soal program OK OC dimodalin, malah Jokowi yang dibilang pembohong.

Prabowo naik kuda bawa keris dan bikin upacara agustusan serta main presiden-presidenan sedang Jokowi bangun 369 kilometer spoor rel kereta, 11 bandara baru, dan 397 kilometer jalan tol dan 477 lokasi tol laut, malah Jokowi yang dibilang pencitraan.

Jokowi jujur dan sederhana, anaknya cuma jualan pisang, martabak dan ga lolos tes CPNS sedang anak Fadli Zon foya-foya ke Amerika pake fasilitas negara dari Kedutaan malah Jokowi yang dibilang bikin rakyat susah.

Soeharto, mertua Prabowo yang korup selama 32 tahun meninggalkan utang Rp 551,4 triliun dengan rasio utang mencapai 57,7 persen terhadap PDB sedang rasio utang Jokowi cuma 27,5 persen dari PDB, malah Jokowi yang dituding raja hutang.

Jokowi bikin kebijakan BBM satu harga dari harga 100 ribu per liter jadi 6.450 per liter di Papua serta bangun wilayah-wilayah perbatasan demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, malah Jokowi dituding sebagai penguasa dzalim.

Bla bla bla..... percuma saja. Jelasin ke kampret sama aja ngomong sama tembok. Tapi ya maklum saja lha wong namanya Kampret. Akalnya kebalik, kaki di atas kepala di bawah. Yang bagus dibilang buruk sedang yang buruk malah dianggap bagus. '

πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‰πŸ˜Ž☝

https://m.facebook.com/groups/1664786336974781?view=permalink&id=1836220803164666

••>Tulisan Jenderal Seangkatan Dengan Prabwo<••

Lucunya negeri ini...
ada anak penghianat teriak nasionalis...

Ada anak pengkudeta proklamator (Ir.Soekarno-Presiden RI Pertama) tapi sekarang kampanye dengan dandanan menyerupai Soekarno.. kok Gak malu..?!

Kalau memang golonganmu menganggap Soekarno tidak pantas memimpin kenapa harus bohongi diri sendiri meniru nya..?

Selalu teriak asing tapi ternyata sekeluarga penjilat dan antek USA..

Mau membantah gimana pun, sayangnya rekam digital gak bisa bohong.. teriak TNI tapi nyatanya pecatan TNI..

Teriak keadilan... hallooo..?
Bagaimana kabar anak bangsa yg kamu bunuh sampai sekarang gak ada kejelasan kasusnya..?

 Suka pakai atribut TNI.. masih gak malu juga..!?

Teriak rasis China... menyebar isu sara...
Kamu gak punya kaca ..? Lalu kamu anak siapa..?

Selalu teriak orang lain PKI tidak Pro NKRI tidak pro Rakyat... Haaloooo...!?

Kamu pikir orang jaman sekarang gak melek sejarah..?

Kamu pikir sejarah palsu doktrinan Soeharto masih berlaku..?

Sekarang orang sudah pintar gak bisa dibodohi dengan sejarah palsu orde baru/NWO (new world order)

Hmmm..... baca sejarah dulu aahh..

Bapakmu adalah tokoh besar yang membentuk PRRI-PERMESTA, gerakan pemberontak buatan bapakmu dan teman-temannya (Letkol Ahmad Husein, Mayor Eddy Gagola, Kolonel Alexander Evert Kawilarang, kolonel D.J Somba, Kapten Wim Najoan, Mayor Dolf Runturambi, Letkol Ventje Sumual) yang beragenda mengkudeta Presiden Soekarno...

Dibentuk di Sungai Dareh, Sumatra Barat, Januari 1958.
Dengan cara apa mengkudeta pemerintahan..?
dg cara ciptakan pemerintahan tandingan dan menciptakan chaos di Indonesia berawal di akhir thn 50an (1958) sampai awal 60an (1961)..

Bapakmu merupakan figur utama yang mengendalikan dan mengorganisir pasokan kebutuhan pemberontakan dari Amerika Serikat.

Semua persenjataan serta alat komunikasi modern disalurkan kepada gerombolan pemberontak melalui Singapura.

Walau kudeta tdk berhasil tetapi situasi "panas" tetap terjadi setelah 1961 yang berlanjut dg chaos 1965-1966..

Karena apa..? Kenapa begitu ngotot melengserkan Presiden Soekarno..?

Karena Soekarno tidak pernah menyetujui kontrak karya freeport dari USA untuk eksplorasi Papua

Dengan agenda makar, kudeta, lalu Kalian ciptakan chaos, kalian naikkan isu komunis yang berujung lengsernya Soekarno dan dengan di rekayasanya SUPERSEMAR (11 Maret1966), sejak saat itu Suharto menjadi orang pertama pengambil keputusan negara menggantikan Soekarno dan dengan bangganya dia menandatangani kontrak karya 1 (pertama) Freeport pada tahun 1967

Saat Soekarno telah lengser, dan saat pion Asing telah berada di pucuk pemerintahan negeri ini..(Soeharto) bapakmu baru berani pulang indonesia (29-Mei-1968) setelah sebelumnya sempat lari -/+10 tahun ke LN karena kudeta pertama (PRRI) tidak berhasil.

Dan karena bapakmu juga sempat terlibat kasus korupsi besar pada era kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno (saat menjadi menteri 1955-1956)

Dengan istimewa bapakmu dirayu dan dijemput dari Bangkok.. oleh Adam Malik yg diutus langsung oleh Suharto..

Gak heran kalau bapakmu langsung diangkat jadi menteri di kabinet Suharto (Juni 1968)

Yang pada akhirnya dengan kedekatan itu karna persamaan visi anti Indonesia maju... persamaan mental korup bapakmu nanti besanan juga dengan Soharto..
Yang artinya kamu jadi menantu presiden.

Lalu... terciptalah dinasti korup selama berpuluh puluh tahun... terwujudlah cita cita NWO menguasai berbagai sumber daya alam negeri ini...

Tapi namanya kejahatan gak akan bisa selamanya berkuasa/menang.

Jaman semakin modern.. masyarakat semakin pintar...

Masyarakat telah bosan dengan kepalsuan.. Lengserlah mertuamu dari pucuk pimpinan negri ini...

Akhirnya kamu dipecat juga khan dari TNI... berbagai kasus mengikuti...

Dan..... kamu pun lari..!
Padahal pada masa kekuasaan Soeharto dengan status sebagai menantu presiden sangat memuluskan karir militermu..

Boleh dikatakan, sebenarnya Kamu hanyalah anak manja yang mendompleng kekuasaan mertuamu

Karena kalau bukan menantu presiden, mana bisa setahun naik pangkat 3 kali.... padahal indisipliner setiap saat kamu lakukan.. Itu jadi dimaklumi karena kamu menantu presiden... (rekam digital pernyataan atasanmu gak bisa hilang)

Naah.. sekarang seakan ingin balas dendam kepada rakyat... kamu mencalonkan beberapa kali sebagai pemimpin negeri....
Tapi.. semua tahu.. tidak segampang itu...

Langkahmu basi... caramu kuno... langkah2 mu mulai terlihat sama dengan bapakmu dan mertuamu... kamu mau menguasai negri ini... membodohkan lagi kami.. disaat negeri ini sudah mulai membangun peradaban maju.. Saat negeri ini semakin disegani negara lain.. saat negeri ini sudah ingin mandiri..

Kamu, kalian antek kaki tangan NWO... Tidak akan senang dengan semua kemajuan negri ini...
Kalian perlahan tetapi bergerilya mulai menggiring opini... kalian ciptakan isu agama... isu ras... menaikkan lagi Isu PKI...

Tidak cukup itu saja...
Karena saat ini pemerintah sedang giat membangun Indonesia tercinta
, pemerintah saat ini sedang mewujudkan sila ke 5 dari Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan cara:
1. Bayar ganti rugi korban LAPINDO.

2. IKAN Melimpah karena Kapal-kapal  Pencuri ikan ditenggelamkan oleh bu SUSI PUDJIASTUTI.

3. SINGAPURA Semakin "Segan" Kepada INDONESIA karena kebijakan TAX AMNESTI.

4. Pulau NATUNA sudah direbut oleh JOKOWI dari tangan CHINA.

5. Saham FREEPORT 51% untuk INDONESIA.

6. Mafia PETRAL yang merugikan negara bubar di tangani JOKOWI.

7. Bencana KABUT ASAP sudah berhasil diminimalisir nyaris tidak ada lagi.

8. INDONESIA jadi anggota OTDC karena PDB diatas 1T.

9. BBM satu harga seluruh INDONESIA di realisasikan.

10. SERTIFIKAT TANAH untuk rakyat miskin.

11. Dana desa, KIP, KIS untuk rakyat.

12. Listrik sudah menyala di desa terpencil

13. Jalan TRANS PAPUA di selesaikan.

14. Jalan TRANS SUMATRA dan jalan yang mnghubungkan antar provinsi sedang dalam proses penyelesaian.

15. Listrik tenaga angin di SIDRAP.

16. IRIGASI, BENDUNGAN, EMBUN dibangun untuk mengairi sawah pertanian agar bisa panen 3x setahun. ( menuju swasembada pangan)

17. Pembangunan 10 JEMBATAN GANTUNG di BANTEN sudah selesai.

18. Pembangunan 32 JEMBATAN GANTUNG sedang dalam penyelesaian.

19. Bandara KERTAJATI selesai ditangan JOKOWI sehingga menggerakan ekonomi rakyat.

20. Pelabuhan TANJUNG PRIOK sekarang bisa untuk transit kapal besar sehingga tidak perlu transit di Singapura.

21. Pemerintahan pak JOKOWI sudah bisa Mencicil utang rezim SBY 1600 T.

22. Hari SANTRI nasional di berlakukan

23. Proyek proyek mangkrak dibereskan

24. HTI pencinta KHILAFA di bubarkan

25. GOOGLE bayar pajak di wajibkan

26. Bandar NARKOBA nyawanya dihilangkan

27. Pengemplang pajak dipaksa ikut aturan

28. TEAM CYBER pungli di berdayakan

29. OTT gencar dimana mana

30. BLOK ROKAN dan BLOK MAHAKAM direbut kembali

31. OPM kembali kepangkuan ibu pertiwi

32. Pabrik gula terbesar di lampung

33. 15 bandara baru disiapkan

34. Jalan tol 5000 km diselesaikan 3,5th berjalan

35. PLBN mega di setiap perbatasan

36. Dunia mengakui kemajuan REPUBLIK
INDONESIA

37. Atlit Berprestasi Diperhatikan dengan Memberikan Bonus sebelum "Keringat Kering".

39. Bagi Pasien Cuci Darah, Operasi Jantung yang masuk Program BPJS gratis.

40. Anggaran Dana Desa.  program dana desa telah berhasil membangun jalan desa di seluruh pelosok Indonesia sampai 121.709 kilometer. Belum pernah ada dalam sejarah di Indonesia.

Dan Masih banyak lagi prestasi presiden Jokowi.

So what gitu loh...?

✍🏻 Share ini berulang-ulang agar tidak buta dan tuli lagi bagi mereka yang nyinyir ✊🏻✊🏻 

#JOKOWILAGI










OTT KPK Bulan Maret dan Analisa Politik

Gambar Ilustrasi
Just info ,

1. Sdg hot kasus OTT KPK dgn barang bukti sekitar 400 rb amplop milik anggota DPR @Golkar5 Bowo Sidik yg diduga akan digunakan utk “Serangan Fajar”. karena Golkar adlh koalisi @jokowi , maka kubu @prabowo ramai2 mengiring opini bhwa itu amplop utk pemenangan Jokowi di pilpres.

2. Kasus OTT ini juga tdk disia2kan oleh media2 yg memang sudah “dibeli” oleh kubu @Prabowo seperti vivanews yang memframing seolah-olah amplop tsb berlogo jempol. Hl itu jg didukung olh gimmick @KPK_RI yg ckup aneh dlm kasus ini. berpolitik?
https://t.co/k0Motd7oEu

3. Namun fakta yg public tdk bnyk tahu adlh yg terlibat dlm OTT Bowo Golkar ini adlh Bowo dengan PT Humpuss Transportasi Kimia, prusahaan milik @hputrasoeharto (Ketum @BerkaryaOfc). Mreka korupsi pupuk. Gw mau tanya, Tommy itu di kubu siapa?
https://t.co/0qPxvnn6il

4. Bahkan, transaksi haram Bowo dan perusahaan @hputrasoeharto jg dilaksanakan di Gedung Granadi, yg seblmnya merupakan kantor DPP Partai Berkarya. Gedung itu jg sampai skrg adlh kantor tetap Titiek Soeharto, ibu negara imajiner para pendukung @prabowo . sdh paham?

5. Gedung Granadi aldh saksi biksu aksi korupsi slma pluhan thun rezim Orba. Oleh pengadilan gedung itu diputuskan mrupakan aset negara, nmun smpai skrg kluarga Soeharto yg kni total mendukung @prabowo masih belum mau mengembalikan gedung itu.
https://t.co/Whb1BDX7Gd

6. Dari sni hrusnya jlas, dri mana uang di dlm amplop yg di OTT KPK dan di mana transaksi itu dlakukan. Smuanya itu justru ada di kubu 02 via keluarga cendana. Prtanyaan slnjtnya, bukankah Golkar mendukung lawan dari @prabowo? pertnyaannya apakah @Golkar5 solid?

7. Dri hsil survei dketahui hmpir stengahnya kader atau pemilih @Golkar5 justru mndukung @Prabowo. Gk heran, Golkar adlh prtai yg besar di zaman Soeharto. Bnyak kroni Soeharto yg msih memegang kendali di @Golkar. Survei Litbang Kompas pun membuktikannya.

https://t.co/UvvHvoeYGe

8. Bahkan bnyak tuan tanah/elit Golkar yg terganggu dengan kbijakan @jokowi yg membagi2kan tanah kepada rakyat. Tanah mereka terancam dibagikan ke rakyat. Mereka keberatan dengan azas keadilan, salah satunya Erwin Aksa. @Pak_JK

9. Jika mlihat prjalanan karir politik Bowo Sidiq yg dmulainya dari aktif di Organisasi Kepemudaan Golkar (Kosgoro) sjak tahun 1998, maka kita tidk ckup sulit utk paham bahwa Bowo dekat atau bahkan bagian dari keluarga Cendana, keluarganya @hputrasoeharto

https://t.co/N5quqczMau

10. Jd, bsa sja memang Bowo brencana mnjatuhkan nama @jokowi yg mrupakan skenario licik dri kubu 02 yg sdh trbiasa bermain kotor. Tidak mnutup kemungkinan jg, Bowo dimanfaatkan/“dijebak” oleh @hputrasoeharto Ya, anak itu memang sdh biasa bertindak criminal
https://t.co/mPosWK6b55

11. Selain fakta bahwa kubu 02 via Cendana yg sebenarnya terlibat penuh dalam kasus OTT Amplop serangan fajar. Gw juga mencium bau amis dari “gimmick” @KPK_RI dlm kasus ini. Perilaku KPK dlm kasus ini cenderung memberi celah bagi kubu 02 menyerang kubu 01 dengan menutupi barbuk

12. KPK jg trbiasa membiarkan pra penyidiknya memberi info yg seolah benar kepada wartawan. Info itu akhirnya menjadi wacana liar. Lihat sja dalam berita di @asumsico, ada penyidik yg berbicara kepada media tanpa mau bertanggung jwb mnyebut siapa namanya
https://t.co/EQ7bVB7TqS

13. Apesnya, KPK sdh dianggap sbgai malaikat dan dewa yg tanpa cacat olh public. Jd, sgla perilaku @KPK_RI yg melanggar etika politik dan bertentangan dengan hukum, dapat hilang seketika di benak publik. Gw sepakat pemberantasan korupsi, tp gw jg tdk sepakat jika KPK berpolitik!

14. KPK yg berpolitik sdh sngat jelas terlihat khususnya akhir2 ini. Mulai dari meng OTT Ketum @DPP_PPP (koalisi 01), hingga OTT Caleg Golkar. Sampai di mana kasus korupsi yg dilakukan oleh elit @Official_PAN Taufik Kurniawan? Anak kesayangan Amien Rais?

https://t.co/Aw17Ll2Gyu

15. Atau memang ini strategi @KPK_RI yg sengaja menahan untuk mengungkap kasus korupsi yg berkaitan dengan kubu lawan 02 menjelang Pemilu agar itu lebih lekat di benak masyarakat yg akan memilih secara psikologi politik? Apa pun alasannya KPK tidak boleh berpolitik!

16. Bhkan ada info yg bredar, saat ini KPK tngah mngincar dan trus mencari2 ksalahan org2 trdekat @jokowi untuk dikasuskan, nmun hingga kini blm dtemukan bukti. Tjuannya jlas, untk mruntuhkan persepsi rakyat bhwa JKW sosok yg jujur. Mreka ingin menggulingkan JKW di Pilpres 2019.

17. Mnuver KPK itu didalangi oknum di KPK, khususnya kubu Novel Baswedan yg memang diisi olh penyidik2 yg radikal. Tdk prcaya? Dtglah ke @KPK_RI saat konpers, gw dpt info ndr wartawan, pkaian penyidik mengarah ke Islam radikal, clana ngatung, jilbab panjang

https://t.co/KxblWh0fUv

Thursday, March 21, 2019

Terima Tantangan Amien Rais, Jokowi Siap Adakan Pertemuan!

Thursday, March 7, 2019

MENGHARUKAN! Jokowi Menangis Saat Menyebut "Rakyat Kecil"

5 Kehebatan Jokowi yang membuat dunia takut dengan Indonesia

Boom !!! Budiman Sudjatmiko Hajar Habis Rocky Gerung

Monday, March 4, 2019

Beruntungnya saya bisa mendapatkan penjelasan bening ini dari bapak Lutfi


Selepas Jumat Bersama Bapak Lutfi

"Saya gak mengerti, mengapa ada orang yang ingin balik ke masa orde baru." Suara Pak Lutfi mengalun empuk. Pelan. Jelas. Sangat enak didengar. "Di zaman orde baru itu, orang berdagang saja, musti minta izin ke anak Soeharto. Urusan baru lancar setelah ngasih saham untuk anaknya," sambung Pak Lutfi lagi. Dalam pertemuan di rumah ibu Suhartini, ibu dari bapak Lutfi sendiri.

"Oleh sebab itu, dalam pemilihan calon president ini, kita musti memilih pemimpin yang tepat. Jangan sampai balik lagi ke orde baru. Kita harus memilih pemimpin yang akan membawa tanah pusaka Indonesia ini melewati middle income trap."

Apa itu Middle Income Trap? Suatu keadaan dimana suatu negara sudah mencapai tingkat pendapatan menengah tapi tidak dapat keluar dari keadaan itu, untuk menjadi negara maju. Korea Selatan berhasil melewatinya. Thailand gagal. Tersebab masalah kepemimpinan nasional.

Jadi, yang dilakukan Jokowi saat ini, pembangunan infrastrukur, electricity, menarik masuk investasi, bersikap terbuka dengan negara lain, adalah suatu KEHARUSAN jika ingin melihat Indonesia berkibar maju. Berhasil melewati middle income trap itu.

Tak mudah. Tapi bisa. Asalkan Indonesia diarahkan oleh orang yang tepat. Indonesia maju. Kelak anak kita akan menikmatinya.

Karena tak mudah itulah, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Bidang pendidikan misalnya. Sudah lama terabaikan. Mustahil sebuah negara bisa maju jika kualitas pendidikannya tidak unggul. Oleh sebab itu, jika terpilih kembali, Jokowi akan memberikan Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Kartu yang akan menjamin bahwa setiap anak cerdas Indonesia diberi bantuan untuk mencicipi bangku perguruan tinggi.

Bukan hanya Kartu Indonesia Pintar Kuliah saja yang akan diberikan, tapi juga Kartu Pra-kerja, bagi para pencari kerja yang ingin menambah ketrampilan selama proses mencari kerja.

Beruntungnya saya bisa mendapatkan penjelasan bening ini dari bapak Lutfi. Mantan Menteri Perdagangan era SBY.

Apakah Pak Lutfi baru mengenal dan mendukung sosok Jokowi menjelang pilpres ini saja?

Dengan kerendahan hatinya, Pak Lutfi yang ganteng itu mengakui. Saat ia menyusun kebijakan Perizinan Satu Pintu, semasa ia menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, ia terinspirasi dan mencontoh apa yang diperbuat oleh seorang walikota nun di Solo sana. Joko Widodo nama walikota hebat tersebut.

Jadi layaklah Pak Lutfi berkeliling dari satu tempat ke tempat lain bahkan sampai ke LN untuk menjelaskan program Jokowi serta karakter baik yang melekat pada seorang Jokowi. Toleran, jauh dari gaya otoriter apalagi mau menang sendiri. Penting pula diketahui, Jokowi dan keluarganya adalah antitesa keluarga Soeharto.

Jika keluarga Soeharto menjadikan Indonesia ini ladang untuk mengeruk kekayaan maka Jokowi menjauhkan keluarganya dari semua itu. Jokowi bersih. Jokowi jujur.

Menurut saya. Sayangnya, ada jiwa-jiwa gelap yang tak berjiwa ksatria dalam berkompetisi. Kalau mau mengalahkan Jokowi, seharusnya tandingilah Jokowi dengan prestasi. Dengan karakter yang lebih mumpuni. Lebih sabar, lebih merakyat, lebih tak tamak, dan sebagainya. Tapi ternyata bukan itu yang dipilih, justru langit Indonesia mereka penuhi hoax fitnah. Rakyat yang miskin bacaan, yang hanya terbiasa dengan tradisi 'katanya-katanya' dicekoki hoax fitnah melalui pesan berantai di WA dan media sosial lainnya.

Maka rakyat lugu itu, hampir tiap hari mengkonsumsi hoax fitnah : Jokowi memasukkan tenaga kerja asinglah, PKI-lah, anti Islamlah, perlunya test DNA-lah gak boleh azanlah..πŸ˜…..dan lain lain..dan lain lain. Setiap hari ada ribuan hoax fitnah, caci maki diproduksi di negara yang rakyatnya taat beragama iniπŸ˜…

Mungkin bagi mereka, hanya itulah satu-satunya celah untuk mengalahkan pelayan rakyat yang rajin bekerja tersebut.

**

Hai, hati dan fikiran yang masih terbuka..
Ayo kita lawan hoax dan fitnah..
Jangan takut, jangan menghindar..
Agar Indonesia mempunyai pemimpin yang tepat untuk membawa Indonesia pusaka, berkibar jaya. Bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Rote.

Thursday, February 28, 2019

Delapan orang pentolan gerombolan rasis dan brutal


Delapan orang pentolan gerombolan rasis dan brutal Front Pembela Islam FPI hari ini diringkus polisi karena membuat onar dan ingin membubarkan acara Tabligh Akbar Nadhlatul Ulama (NU) ke 93 yang digelar di Lapangan Sri Mersing, Kota Tebing Tinggi, Rabu, 27 Februari 2019.

Awalnya kegiatan yang dihadiri langsung oleh Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, Wali Kota Tebing Tinggi, para tokoh agama serta sejumlah pemuka masyarakat tersebut berjalan lancar dan aman.

Namun tiba-tiba sekelompok Makhluk beringas yang mengaku FPI itu berteriak dan mencoba menerobos masuk.

Mereka berteriak-teriak meminta acara tersebut dibubarkan, kontan polisi yang sedang berjaga langsung menghadang Tamu Tak di undang tersebut.

Namun salah satu oknum FPI tersebut berhasil masuk ke lokasi acara dan meminta acara tersebut dibubarkan sambil berteriak Kesurupan #2019GantiTuhan.

Kapolres Tebing Tinggi AKBP Sunadi yang berada di lokasi langsung memerintahkan anggotanya untuk mengamankan dan membawa Gerombolan Lapar Balik itu ke Polres Tebing Tinggi untuk ditahan.

Kapolda Sumut yang juga berada di lokasi kegiatan sebagai tamu undangan mengaku Kecewa dengan tindakan gerombolan liar FPI yang anarkis dan menjurus premanisme itu.

“Saya kecewa dengan tindakan preman-preman biadab ini, tidak benar dan harus dilawan. Negara tidak boleh kalah dengan sekelompok orang atau preman,” kata Kapolda tegas.

Berikut nama-nama kedelapan orang-orang gila agama yang berhasil diringkus aparat hari ini:

1. Syahrul Amri Sirait (Ketua DPC FPI Padang Hilir)
2. Amiruddin Sitompul (Panglima Jihad FPI)
3. M Husni Habibie (Wali Laskar FPI),
4. Anjad (Anggota DPC FPI Tebing Tinggi)
5. Arif Darmadi (Anggota DPC FPI Tebing Tinggi)
6. Mohammad Fauzi Saragih (Anggota FPI)
7. Suhairi (Anggota DPC FPI Tebing Tinggi)
8. Oni Qital (Kadiv Aksi FPI)

Atas kejadian provokasi brutal ini, seruan masyarakat untuk mendukung pembubaran FPI kini semakin menggelora.

Tagar #BubarkanFPI saat ini menjadi trending topic di Tebing Tinggi dan sekitarnya.

semburnya:
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190227175657-32-373202/serukan-ganti-presiden-di-acara-nu-8-orang-dari-fpi-dibekuk

https://digtara.com/2019/02/27/ini-kronologi-penangkapan-delapan-pentolan-fpi-yang-ingin-membubarkan-haul-nu/


Mengapa Orang padang benci Jokowi?
( Politik).

//Erizeli jely bandaro

Kekuatan Indonesia itu ada pada pancasila yang menjadi mukadimah ( pembukaan ) atas UUD 45. Prof. Notonagoro menyatakan bahwa “kebaikan hukum positif Indonesia, termasuk (tubuh) UUD, harus diukur dari asas-asas yang tercantum dalam Pembukaan. Dan karena itu, Pembukaan UUD 45 harus dipergunakan sebagai pedoman bagi penyelesaian soal-soal pokok kenegaraan dan tertib hukum Indonesia”. Jadi walau UUD 45 di buat dengan terburu namun para pendiri negara sepakat bahwa kalau nanti ada pasal dalam UUD 45 tidak sesuai dengan Pancasila akan diberbaiki kemudian. Yang penting batang tubuhnya sudah ada. Atas dasar itulah negeri ini tegak. Itulah buah konsesus para pendiri negara ini.

Namun apakah semua tokoh sepakat ? tidak. Ada dua kekuatan yang tidak bisa menerima Pancasila secara utuh, Yaitu Komunis dan Islam. Masing masing punya agenda berbeda , namun tujuan sama yaitu menguasai negeri ini dengan platform perjuangan mereka.  Dua tahun setelah negeri ini merdeka, terjadi pemberontakan Madiun , dimana Muso bersama PKI menyatakan tidak setia kepada Sokarno Hatta. Saat itulah Soekarno memerintahkan TNI untuk memadamkan pemberontakan. Kemudian dua tahun kemudian atau tahun 1950, diterbitkannya Perda No. 50 tentang pembentukan wilayah otonom oleh provinsi Sumatera Tengah waktu itu yang mencakup wilayah provinsi Sumatera Barat, Riau yang kala itu masih mencakup wilayah Kepulauan Riau, dan Jambi sekarang. Ini cikal bakal kelak terjadinya pemberontakan PRRI yang dimotori oleh gerakan ingin mendirikan negara Islam.

Tokoh Masyumi,  Isa Anshary, pada tahun 1951, dalam majalah Hikmah, menulis, ”Hanya orang yang sudah bejat moral, iman dan Islamnya, yang tidak menyetujui berdirinya Negara Islam Indonesia.”. Tahun 1955, Pemilu pertama sejak proklamasi di gelar. Partai Masyumi mendapatkan nomor tiga partai pemenang Pemilu. Hasil Pemilu itu bertugas menyusun perbaikan UUD yang ada. Dari tahun 1956 sampai 1959, perdebatan berlangsung—untuk menentukan manakah yang akan jadi dasar negara, Pancasila atau Islam—pelbagai argumen dikemukakan oleh masing-masing pendukungnya. Banyak yang cemerlang, banyak yang membosankan, tapi sedikit yang segalak pidato Isa Anshary dalam majelis yang bersidang di Bandung itu,

”Kalau saudara-saudara mengaku Islam, sembahyang secara Islam, puasa secara Islam, kawin secara Islam, mau mati secara Islam, saudara-saudara terimalah Islam sebagai Dasar Negara. [Tapi] kalau saudara-saudara menganggap bahwa Pancasila itu lebih baik dari Islam, lebih sempurna dari Islam, lebih universal dari Islam, kalau saudara-saudara berpendapat ajaran dan hukum Islam itu tidak dan tidak patut untuk dijadikan Dasar Negara… orang demikian itu murtadlah dia dari Agama, kembalilah menjadi kafir, haram je-nazahnya dikuburkan secara Islam, tidak halal baginya istri yang sudah dikawininya secara Islam….

Sampai tahun 1959, Konstituante belum berhasil membentuk UUD baru. Pada saat bersamaan, Presiden Soekarno menyampaikan konsepsinya tentang Demokrasi Terpimpin. Sejak itu diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan Indonesia kembali ke UUD 1945. Dari 3 pemungutan suara yang dilakukan, sebenarnya mayoritas anggota menginginkan kembali ke UUD 1945, namun terbentur dengan jumlah yang tidak mencapai 2/3 suara keseluruhan. Keadaan gawat inilah yang menyebabkan Soekarno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959, yang mengakhiri riwayat lembaga ini. Tentu yang paling meradang atas dekrit Soekarno ini adalah kelompok Masyumi. Mengapa ? Cita cita mereka mengubah UUD sesuai dengan Islam gagal.

Itu sebabnya para tokoh Masyumi seperti Natsir, Safrudin Prawiranegara. Dan Soemtro Djoyohadikusumo dari PSI dan lain lain bergabung dengan gerakaan PRRI, yang sebelumnya pada tanggal 20 Desember 1956, Letkol Ahmad Husein berhasil merebut kekuasaan Pemerintah Daerah dari Gubernur Ruslan Nuljohardjo. Dalihnya Gubernur yang ditunjuk Pemerintah tidak berhasil menjalankan pembangunan Daerah. Gerakan  ini memicu terbentuk dewan kekuasaan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara. NKRI berderak. Pemerintah Soekarno berusaha mengajak mereka bermusyawah  namun gagal. Pada tanggal 15 Februari 1958 Letkol Ahmad Husein mengumumkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Padang. Pemerintah tersebut membentuk Kabinet dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menterinya.

Soekarno tidak punya pilihan kecuali memerintahkan TNI untuk menghentikan gerakan separatis tersebut. Namun apa hendak dikata, Kekuatan milter dari PRRI bisa dengan mudah memukul mundur Pasukan yang dipimpin Kolonel Ahmad Yani yang berkekuatan dari Divisi Diponegoro - Jawa Tengah. Mengapa? Karena peralatan militer PRRI lebih canggih. Ini berkat bantuan dari AS melalui operasi CIA. Akhirnya Soekarno memerintahkan pasukan Siliwangi  bersama RPKAD. Pemberontakan itu berhasil di tumpas, Karena ,para prajurik Siliwangi umumnya religius, sehingga mudah merebut hati orang padang yang agamais.  Beberapa tokoh di balik gerakan itu ditangkap dan ada juga yang melarikan diri seperti Soemitro Djoyohadikusumo ( ayahanda Prabowo). Adik Hamka melarikan diri ke AS, sementara Hamka sendiri ditangkap.

Setelah itu, Soekarno memecah mecah Sumatera Tengah menjadi tiga provisi yaitu, Sumbar, Riau dan Jambi. Orang Padang sangat marah dan dendam dengan Soekarno. Apalagi jauh sebelum merdeka, gerakan mendirikan Khilafah itu sudah ada di MInang dengan munculnya gerakan wahabi. Bagi orang padang, Soekarno adalah penanggung jawab hancurnya gerakan NKRI bersyariah atau Negara Islam. Makanya ketika ada momentum menjatuhkan Soekano, akses kepada AS yang sudah dimiliki tokoh pendukung PRRI dulu seperti Soemitro digunakan agar dapat memudahkan aksi Soeharto merebut kekuasaan secara konstitusi. Dan PKI yang merupakan pendukung utama Soekarno jadi korban paska kejatuhan Soekarno.

Makanya di era Soeharto, tidak ada gerakan dari orang Padang yang anti Soeharto. Begitupula ketika SBY berkuasa , orang Padang sangat mendukung, bahkan Gubernur Sumbar diangkat jadi Menteri Dalam Negeri. Artinya dendam orang padang kepada TNI yang terlibat langsung dalam operasi penumpasan tidak ada. Yang ada adalah dendam kepada Soekarno. Makanya jangan kaget bila sebagian orang Padang masih membenci Jokowi. Mereka sebetulnya tidak membenci Jokowi tetapi membenci PDIP sebagai pendukung Jokowi. Dan kalau mereka membenci PDIP Itu karena ketua umumnya adalah Putri Soekarno, yaitu Megawati. Stigma politi seperti ini sengaja di ciptakan oleh lawan Politik PDIP agar mampu mengalahkan PDIP di Sumatera Barat.

Seharusnya Orang padang membaca sejarah dengan baik. Bahwa para Tokoh masyumi akhirnya menyadari kesalahan mereka mendukung PRRI. Makanya ajakan Soekarno kembali kepangkuan ibu pertiwi mereka terima begitu saja. Dan mereka ikhlas dipenjara. Karena mereka memang salah. Mengapa ? karena gerakan mereka ditunggangi oleh Asing, yaitu AS, Dan mereka sadar bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah kemerdekaan dari pengaruh asing. Dan Soekarno telah bersikap jelas sesuai dengan konsesus berdirinya Negara ini berdasarkan Pancasila, yang tadinya mereka ikut menyetujui.

Jadi kalau sekarang masih ada gerakan islam bersama Partai berbasis islam yang ada di sumatera barat menyudutkan Jokowi, itu hasil rekayasa politik yang sengaja menciptakan stigma negatif terhadap PDIP dan Jokowi. Logika politik berkaitan dengan fakta sejarah masa lalu punya tempat sebagai bentuk balas dendam atas sikap Soekarno yang membubarkan Masyumi. Dan ini dimanfaatkan oleh AS untuk menggoyang Jokowi agar bisa menggantinya dengan presiden Pro AS. Yakinlah, setelah presiden pro AS terpilih orang padang engga akan dapat apa apa.

Kehadiran Jokowi ke Padang dengan memberikan dukungan penuh atas pembangunan sumatera barat adalah cara cerdas yang seakan mengatakan kepada rakyat sumbar : Kita bersaudara. Musuh kita orang luar. Mengapa kita tidak bersatu dalam jalinan NKRI dan Pancasila. Lupakan masa lalu dan kita songsong masa depan dengan harapan melalui kerja keras pada hari ini. Jokowi sadar bahwa secara budaya orang minang itu tidak pendendam dan tidak anti pluralisme.  Rakyat hanyalah korban politik

//Erizeli jely bandaro

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)