Latest News

Showing posts with label Isu Sara. Show all posts
Showing posts with label Isu Sara. Show all posts

Friday, February 7, 2020

SAVE UIGHUR, MENGASONG AGAMA LAGI ?


Hore ada isu baru lagi,” mereka bersorak gembira. Dengan memainkan isu ini bisa dapat sumbangan besar. Bisa juga digunakan menuding pemerintah. Bisa memobilisasi umat Islam yang kebelet jihad.

Maka isu muslim Uighur di China didengung-dengungkan. Sebentar lagi akan ada gerakan #SaveUighur, lalu spanduk permohonan sumbangan beredar di jalan-jalan. Menjual penderitaan atas nama agama. Gambar-gambar wajah anak yang sengsasa dibentangkan, di bawahnya tertera nomor rekening dengan font yang besar. Duit bakalan terkumpul banyak. Cihuiii.

Bagi kelompok politik pembenci, isu Uighur ini lumayan keren. Mereka akan memainkan isu ini untuk menimbulkan sentimen anti Cina. Menggelar demo besar-besaran seperti membela agama. Karena muslim Uighur memang berhadapan dengan pemerintah Tiongkok. Tujuannya membentuk persepsi rasial disini.

Sebagian ada yang menuding Jokowi. Kenapa gak membela Uighur? Mau belain pemerintah China, ya? Gak bersimpati pada umat Islam, ya? PKI, ya? Busyet, urusan yang terjadi luar negeri, yang kena Jokowi lagi.

Padahal kemarin di Poso, beberapa teroris yang tertangkap ternyata berasal dari Uighur. Mereka masuk ke Indonesia untuk membuat kekacauan. Targetnya membunuhi aparat. Bikin kerusuhan dan mencari korban sebanyak-banyaknya.

Teroris Uighur bukan hanya ada di Poso. Juga ada di Mindanao, bergabung dengan Abu Sayaf, menculik pelaut kita minta uang tebusan. Yang masuk ke Suriah atau Irak bahkan lebih banyak lagi.

Diperkirakan 100 ribu lebih, orang Uighur masuk ke Suriah, membantu Alqaedah menghancurkan negeri itu. Mereka masuk melalui Turki.

Seorang teroris asal Uighur di Suriah, dalam wawancara dengan AP, pernah berkata. “Kami hanya mau belajar memegang senjata. Belajar perang. Setelah itu kami akan kembali ke China untuk memerdekakan wilayah kami.”

Terus kamu pikir dengan semangat sparatis begitu pemerintah China cuma akan mengelus-elus mereka?

Warga Uighur tinggal di daerah Xinjiang. Tapi mereka lebih mengidentifikasi dirinya sebagai suku Turk, berkomunikasi dengan bahasa Turki. Sebagian besar tidak bisa bahasa Mandarin. Secara kebudayaan juga jauh berbeda dengan etnis Han, yang merupakan etnis terbesar Tiongkok.

Xinjiang adalah wilayah China yang berbatasan dengan banyak negara. Sebut saja Kazakhstan, Tajikistan, Rusia, Mongol, Pakistan, Afghanistan dan India. Nah, sebagian orang Uighur mendirikan sebuah gerakan sparatis yang dinamakan East Turkestan Islamic Movement (ETIM).

Tujuan gerakan ini melepaskan diri dari China, dengan slogan agama sebagai alasannya.
Kelompok ETIM inilah yang berdekatan dengan Alqaedah, Taliban bahkan ISIS. Sebagian tentara teroris disuplai oleh orang dari Uighur. Bahkan di China sendiri beberapa kali terjadi aksi teroris yang didalangi ETIM yang ujungnya menyebabkan konflik rasial, khususnya dengan suku Han.

Karena persoalan inilah pemerintah China mengawasi orang-orang Uighur secara ketat. Sebetulnya tidak semua penduduk Uighur radikal begitu. Hanya sebagian kecil saja. Tapi mereka memang terikat kekeluargaan dengan yang lain. Inilah yang membuat pemerintah China mencurigai keluarga-keluarga teroris yang masih berada di Xianjiang. Mereka yang keluarganya diketahui bergabung dengan teroris di Afghanistan, Suriah, atau Irak akhirnya terkena dampak. Diawasi secara ketat.

Untuk menangani gerakan sparatis di Uighur, China sudah menjalankan kebijakan asimilasi. Anak-anak Uighur diajar bahasa Mandarin agar mereka bisa berkomunikasi dengan warga lain. Juga bekerja di pemerintahan. Mungkin juga didoktrin kembali dengan ideologi negara. Inilah yang menjadi isu soal kamp konsentrasi dimana jutaan warga Uighur wajib menjalani metode pembelajaran.

Tapi mungkin saja, dalam proses itu ada kekerasan. Sebab ada sentimen rasial dari suku Han yang sering menjadi korban kekerasan oleh ETIM tadi. Pengawasan pada gerakan ekstrim Uighur menyebabkan sebagian penduduknya mengalami tekanan pemerintah China.

Artinya China lebih berkepentingan menangani gerakan sparatis yang membahayakan wilayahnya ketimbang memberangus warganya yang beragama Islam. Penanganan Uighur bukan karena agamanya. Tapi karena semangat sparatisnya.

Coba saja lihat. Etnis Hui yang juga beragama Islam hidupnya biasa saja di China. Masjid dan mushola banyak berdiri. Acara keagamaan bebas dilaksanakan. Tidak ada tekanan terhadap aktifitas ibadah mereka. Islam etnis Hui bebas berkembang di China.

Karena orang Hui tidak bermimpi untuk mengibarkan gerakan sparatis seperti Uighur. Corak keislaman etnis Hui mirip NU di Indonesia. Banyak mengikuti ajaran tarekat dan sufisme. Mereka menyatu dengan kebanyakan rakyat Tiongkok.

Berbeda dengan etnis Uighur yang terimbas pola pikir ekstrimis.
Lalu kenapa isu Uighur sekarang meledak? Kita ingat, AS lagi angot-angotnya dengan China. Mereka terlibat perang dagang yang keras. Nah, isu Uighur ini bisa digunakan untuk menekan China. Meskipun mereka juga tahu, Uighur adalah salah satu supplier teroris dunia. Dengan diangkat isu Uighur ini, akan ada tekanan dunia internasional khususnya dari negara-negara Islam kepada China.

Sebetulnya pemerintah China punya andil juga menjadikan sebagian etnis Uighur bertindak radikal. Dulu saat Uni Sovyet menyerang Afghanistan, China ikut membiayai Taliban untuk menahan ekspansi Sovyet. Sebagian pejuang Taliban juga berasal dari Uighur.

Seperti biasa, isu Uighur juga makanan empuk di Indonesia. Maka, ramai-ramai lah orang berteriak membela Uighur lalu menuding pemerintah China memerangi Islam. Sama persis, mereka juga berteriak Save Aleppo, justru ketika para teroris sedang digencet pasukan Suriah di Aleppo.

China memang menangani agak keras etnis Uighur. Tapi kita tidak mendengar ada pembantaian. Berbeda dengan Saudi terhadap Yaman. Rakyat Yaman dibantai. Distop jalur makanannya. Dihujani bom. Jutaan anak Yaman kelaparan. Jutaan nyawa rakyat melayang. Masjid dan madrasah hancur di Yaman.

Tapi pernahkah kita mendengar slogan Save Yaman di Indonesia? Pernahkah kita mendengar protes AS di PBB atas aksi brutal koalisi Saudi di Yaman? Pernahkah ada demo kedutaan Saudi memprotes kebengisannya terhadap rakyat Yaman?

Gak pernah. Karena isu Yaman gak menguntungkan AS untuk dimainkan. Oleh sebab itu, isu tersebut juga gak direspon di Indonesia. Apalagi isu Yaman tidak bisa digunakan untuk menembak Jokowi.

“Warga Yaman, kan semua Islam, mas. Kenapa mereka gak membela? Toh, Yaman maupun Uighur sama-sama manusia. Mestinya kan dibela,” tanya Abu Kumkum.

“Mereka sebetulnya gak peduli pada Islam atau pada penderitaan manusia, Kum. Mereka hanya peduli pada agendanya saja.”

“Karena isu Yaman gak bisa digunakan untuk cari sumbangan, ya mas?”.

Pimteeerrr...

by Eko Kuntadhi

https://www.facebook.com/803774136380640/posts/2848049061953127/

Thursday, June 7, 2018

KELOMPOK SAKIT JIWA YANG NGEBET BERKUASA



KELOMPOK SAKIT JIWA YANG NGEBET BERKUASA

Di negeri

ini ada sekelompok orang aneh, kelompok sakit jiwa tapi ngebet

sekali pingin berkuasa. Mereka teriak �Ganti Presiden� tapi

bingung jika ditanya siapa kader mereka yang dicintai rakyat

dan layak jadi presiden. Mereka gemar sebar fitnah, hoax, isu

SARA dan ujaran kebencian tapi justru merasa sedang

menjalankan perintah agama. Mereka mengaku sebagai

pejuang agama tapi perilaku dan tindakannya jauh dari nilai

agama bahkan aksi dan sepak terjangnya justru malah semakin

sukses mempermalukan agama jadi bahan tertawaan. Mereka

mengaku beragama tapi mulut fasih memaki �bangsat, anjing,

babi, halal darahnya�.

Hanya soal kaos �Ganti Presiden� saja

mereka tega mempersekusi ibu dan anak di acara CFD. Tapi

bukannya mengakui, menyesali dan meminta maaf atas insiden

memalukan itu namun mereka justru balik memfitnah bahwa ibu

dan anak itu adalah penyusup yang melakukan akting dan

rekayasa untuk menyudutkan mereka. Mereka suka mendzalimi

tapi justru memutar balik fakta dan gantian teriak merasa

sebagai pihak yang didzalimi.

Bayangkan bagaimana jika

orang-orang licik dengan kwalitas rendahan semacam ini bisa

berkuasa di negeri ini? Pastilah ini bakal jadi bencana dan

kemalangan besar bagi bangsa ini. Jika saat kampanye saja

mereka sekasar, sebarbar dan seprimitif ini maka bagaimana

jika mereka memegang amanah dan tanggung jawab besar

dalam pengelolaan negara dengan anggaran ribuan trilyun?

Pastilah bakal segera hancur nasib negara ini.

Ideologi konflik,

politik identitas, politik kebencian, isu SARA, primordialisme,

radikalisme dan sentimen agama adalah alat utama agar

mereka bisa berkuasa di negeri ini. Tempat ibadah dijadikan

ajang kampanye, propaganda, sarana menghasut massa, ajang

caci maki dan menyebar kebencian. Bagi mereka asal Anda

bisa bertakbir sambil memaki Jokowi, pemerintah dan kyai NU,

Anda sudah akan langsung disebut ulama tanpa harus susah

payah menimba ilmu agama di pondok pesantren selama

puluhan tahun. Instan, cepat dan setengah gila !!

Tidak ada

program, misi visi dan prestasi kerja nyata yang bisa mereka

tawarkan selain hanya politik adu domba, siasat pecah belah

dan penyebaran fitnah dan kebencian saja yang mampu mereka

lakukan. Hanya itu yang mereka bisa lakukan karena

sesungguhnya hanya itulah hal yang mereka punya. Hanya

kebencian yang bisa mereka tunjukkan karena hanya itulah

yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Parahnya ajaran

radikal mereka sudah merasuk cukup dalam mulai dari sekolah

TK, SD, SMA, Perguruan Tinggi, BUMN hingga instansi-instansi

negara.

Fungsi oposisi yang mereka jalankan bukanlah oposisi

yang cerdas, berkwalitas, berimbang, profesional dan punya

kontribusi untuk negara melainkan sekedar libido berkuasa dan

hasrat menjegal lawan dengan segala cara. Mereka tidak

pernah berpikir untuk mengabdi dan melayani demi kebaikan

bangsa melainkan hanya ambisi berkuasa bagi kelompoknya

saja. Setiap saat mereka sibuk mencari dan menyebarkan isu,

hoax dan fitnah baru untuk menjatuhkan pemerintahan.

Mereka

teriak isu kebangkitan PKI padahal yang sebenarnya bangkit

adalah kelompok radikal dan sel-sel teroris. Mereka teriak isu

serangan tenaga kerja asing padahal tenaga kerja Indonesia

lebih banyak yang kerja di luar negeri dan disana tidak ada

seruan �serangan tenaga kerja Indonesia�. Mereka teriak soal

hutang luar negeri padahal rasio hutang kita sehat dan memiliki

peringkat bagus sebagai negara tujuan investasi. Mereka teriak

Jokowi anti Islam padahal pemerintah sekedar anti radikalisme

dan kampretisme yang membahayakan kedamaian, kerukunan

dan kesatuan bangsa.

Jokowi tidak pernah korupsi sapi, tidak

pernah culik orang, tidak pernah bakar sekolah dan tidak

pernah bikin chat porno tapi dibenci setengah mati bagaikan

setan saja. Sementara yang korupsi sapi, yang pernah culik

orang dan yang bikin chat mesum justru dibela layaknya orang

suci. Yang bersih, jujur dan mengabdi untuk rakyat malah

dimusuhi sementara yang ga jelas manfaat dan jasanya bagi

negara justru disanjung puji bagai pahlawan.

Mereka seringkali

lebih sok peduli pada bangsa lain daripada terhadap bangsa

sendiri. Mereka ngamuk ketika ada warga Palestina terusir tapi

diam seribu bahasa saat negeri sendiri diguncang teror bom

yang menewaskan banyak orang. Mereka bikin demo membela

pemain sepakbola negara lain yang kebetulan seagama hanya

karena urusan sepele yaitu cedera dalam permainan tapi diam

seribu bahasa saat komunitas Ahmadiyah di negeri ini diserang,

diusir, dirusak, dibakar bahkan dibunuh oleh kelompok mereka.

Saya rasa hanya orang gila saja yang membawa urusan

olahraga ke ranah agama dan politik. Hanya orang sinting saja

yang menganggap satu orang atlet sepak bola luar negeri

sebagai representasi umat Islam sedunia yang harus dibela,

disakralkan dan tidak boleh disenggol sampe cedera padahal

cedera dalam olahraga adalah hal yang wajar dan biasa.

Sungguh memalukan, sampai sekonyol dan segoblok itulah

sikap mereka dalam beragama.

Mereka juga lebih bangga

dengan negara lain tapi justru merendahkan negerinya sendiri.

Mereka menyanjung puji pemimpin negara lain seperti Raja

Arab dan Presiden Turki tapi justru mencaci maki Presiden

sendiri. Padahal jika Jokowi punya kebijakan seperti Raja Arab

dan Presiden Turki pasti sudah ada ribuan dari mereka yang

masuk penjara atau kehilangan kepalanya karena dianggap

melawan negara atau menghina kepala negara.

Anehnya lagi,

mereka demo ketika ada satu warga Palestina yang tewas

dibunuh Israel tapi diam seribu bahasa saat ada 10.000 warga

Yaman yang tewas dibantai militer Arab Saudi. Jika

pembantaian dilakukan oleh sesama orang Islam mereka diam

saja. Mereka sama sekali bukan pembela kemanusiaan

melainkan sekedar budak, kacung atau bahkan zombie yang

memperjuangkan ego dan ambisi kelompoknya saja.

Para tokoh,

ormas dan partai mereka tidak pernah mengutuk aksi terorisme

seakan teroris adalah bagian dari mereka sendiri yang wajib

dilindungi. UU revisi terorisme diganjal dan terkatung-katung

selama 2 tahun di Senayan dan baru disahkan setelah ada

banyak korban tewas akibat ulah barbar para teroris, desakan

masyarakat dan ultimatum dari Presiden yang akan terbitkan

Perppu untuk memberantas terorisme.

Mereka bahkan teriak

HAM bagi para pelaku teror tapi tidak pernah memikirkan HAM

para korban teror dan masyarakat lain yang terancam hak

hidupnya. Wakil Ketua MPR dari partai mereka bahkan usul

pelaku teror ditembak pake peluru bius saja seolah para teroris

itu juga nge-bom nya hanya pake bom bius saja.

Mereka ngamuk

dan bikin demo berjilid-jilid saat ada pejabat publik yang bilang

�jangan mau dibodohin pake......� tapi justru diam dan bahkan

membela saat ada penistaan lebih parah yang dilakukan oleh

kelompok mereka sendiri dengan perkataan �Prabowo titisan

Allah SWT�. �Nabi Muhammad gagal mewujudkan rahmatan lil

alamin� dan �Kitab suci adalah fiksi.� Mereka rame-rame demo

saat ada musisi yang terlibat video porno tapi diam saja saat

ada anak / keponakan majikannya yang terlibat video porno.

Mereka juga diam saja bahkan malah membela soal kasus chat

mesum dan foto porno yang melibatkan junjungannya.

Mereka

sangat mudah mengkafirkan orang lain dan menganggap

mereka yang tak sepaham dengan kelompoknya sebagai sesat,

munafik, halal darahnya dan bakal masup neraka. Mereka

berlagak sok suci dan sok benar sendiri padahal kelakuan,

etika, adab dan sopan santunnya kadang malah di bawah rata-

rata. Menyembah sandal jepit dan ember pecah tapi tidak

membunuh orang lain bagi saya adalah lebih baik daripada yang

mengaku menyembah Tuhan Yang Maha Pengasih tapi malah

tega membunuh sesama manusia.

Mereka bilang Pancasila

haram tapi justru menganggap air pipis onta dan minum air

bekas olahan tinja adalah halal. Mereka bilang demokrasi haram

tapi tidak pernah mengecam aksi penipuan trilyunan duit

puluhan ribu calon jemaah umroh dan gubernur yang korupsi 6

milyar hanya karena pelakunya termasuk bagian dari kelompok

mereka sendiri. Mereka bilang mengucap selamat hari raya

agama lain haram tapi tidak pernah ada kutukan dan fatwa

sesat untuk terorisme seolah terorisme itu halal.

Mereka takut

dengan patung dan simbol agama lain tapi tidak takut dosa

karena bikin hoax dan fitnah. Mereka berfatwa bahwa ngopi di

Starbucks bakal masup neraka. Ada juga yang berfatwa bahwa

yang percaya bumi bulat bakal masup neraka tapi tak ada

satupun ustadz mereka yang berfatwa bahwa pelaku terorisme

yang sudah membunuh banyak orang bakal masup neraka.

Bahkan ustadz mancung sendiri bilang bahwa bisa saja Imam

Samudra yang sudah bunuh 200 orang malah masuk sorga.

Saya rasa hanya orang bodoh saja yang percaya bahwa

membunuh bisa mendapat grand prize sorga. Mirisnya lagi yang

model gini malah banyak pengikutnya.

Mereka bilang Jokowi

kafir tapi justru bilang ISIS yang hobi perkosa, hobi bunuh dan

hobi penggal kepala sebagai sesama saudara yang tidak boleh

dihujat dan dimusuhi. Bahkan teroris Santoso yang pernah

gorok leher seorang petani tua justru dianggap sebagai

pahlawan yang mayatnya tersenyum dan wangi bau sorga.

Parahnya lagi pendukung terorisme semacam ini bisa duduk di

Senayan sebagai wakil rakyat dan pembuat undang-undang.

Jika sudah begini maka Indonesia mungkin akan segera

berubah menjadi Indonistan.

Mereka bikin acara �Peluk Aku� di

CFD agar orang bersimpati pada mereka. Padahal justru

merekalah yang seharusnya bersimpati dan memeluk keluarga

para korban bom teror. Mereka juga bikin film �Power of Love�

untuk mendokumentasikan peristiwa demo yang didalamnya

penuh ujaran kebencian seperti �Bunuh, gantung, bakar,

penggal, salib, penjarakan dll�. Sungguh aneh, mereka tidak

mau menunjukkan rasa simpati, cinta dan kasih sayang terlebih

dahulu tapi menuntut agar dicintai dan disayangi.

Saat aksi

demo di DKI mereka mengajari anak-anak kecil di bawah umur

untuk ikut demo bahkan teriak dan nyanyi �Bunuh, Bunuh�. Tapi

saat ada keluarga religius yang menjadi pelaku teror bom bunuh

diri di Surabaya mereka malah bilang �Teroris tak beragama�.

Mereka selalu menyangkal, berdalih, menyalahkan pihak lain

dan cari alasan dengan mengatakan bahwa aksi teror hanyalah

rekayasa dan pengalihan isu saja tanpa memikirkan bagaimana

perasaan keluarga para korban teror. Lebih parah lagi mereka

selalu cuci tangan dan mencari kambing hitam bahwa ini adalah

konspirasi polisi, aparat, pemerintah hingga Amerika,

Freemason, Illuminati, Aliens, agen CIA, agen Zionis hingga

agen togel dan agen elpiji segala.

Mereka nyinyir soal anggaran

tim BPIP sebesar 6 milyar tapi diam saja dengan anggaran

TGUPP sebesar 28 milyar. Padahal tim BPIP memiliki amanat

dan tanggung jawab besar untuk seluruh negara dalam

mengawal Pancasila dan terdiri dari tokoh-tokoh kompeten

seperti mantan Presiden, mantan Wapres, pemimpin ormas

agama terbesar (NU), ketua majelis ulama dll. Sementara tim

TGUPP hanya bertugas untuk satu wilayah DKI saja dan itupun

terdiri dari orang-orang yang ga jelas dan ga jelas pula kerja,

tugas dan manfaatnya selain hanya jadi penggembira dan tim

hore saja.

Pejabat publik yang kompeten, profesional, jujur,

bersih dan anti korupsi dibenci dan dijatuhkan hanya karena

alasan beda agama. Sementara yang ga becus kerja dan suka

bagi-bagi jatah duit rakyat buat kelompoknya tetap dibela hanya

karena dianggap seiman. Tapi yang bersih, jujur, anti korupsi

dan seiman seperti Jokowipun akan tetap dibenci, dimusuhi dan

berusaha dijatuhkan hanya karena tidak sepaham dengan

mereka dan tidak mendukung agenda besar mereka untuk

mengubah dasar negara dan menjadikan NKRI sebagai Negara

Agama.

Sungguh lucu, konyol, menggelikan sekaligus

menyedihkan saat kita melihat ada sekumpulan orang sakit jiwa

yang ngebet berkuasa dengan menghalalkan segala cara.

Mereka merasa paling benar dan paling suci dengan menafikan

pihak lain. Apapun akan dilakukan hanya agar kelompoknya

bisa berkuasa meskipun itu harus menjual martabat dan

kehormatan dirinya. Jangankan kehormatan dirinya, bahkan

martabat bangsa, Tuhan dan agamapun juga siap mereka jual

dan gadaikan.

Bagi mereka �politik identitas & politik

kebencian� adalah komoditas yang harus bisa mereka

manfaatkan sebesar-besarnya demi tujuan & kepentingan

mereka. Mereka bersembunyi dibalik logika absurd boleh

�membenci karena Tuhan� seolah Tuhan adalah Maha

Pembenci yang memerintahkan mereka untuk juga menjadi

kaum pembenci. Ideologi kebencian yang sudah

meluluhlantakkan banyak negara di Timur Tengah ini ingin

dibawa kesini untuk menghancurkan negeri ini. Dan mereka

akan terus membenci sampe grup band Metallica bikin album

religi.

Mabok dogma memang bisa bikin orang kehilangan akal

sehat dan hati nuraninya. Bahaya dari racun ideologi

Kampretisme yang berkembang di masyarakat saat ini bisa

membuat kita kehilangan nalar, jati diri dan sifat kemanusiaan

kita. Bangsa ini bakal hancur, pecah, terpuruk dan ngesot

mundur ke belakang jika para Kampreters ini berkuasa. Jika

silent majority yang waras diam saja menyaksikan semua

kekonyolan ini maka akan lebih cepat lagi bangsa ini runtuh dan

kembali ke pola pikir dan peradaban ala abad pertengahan.

Mereka tidak mau mengakui kinerja bagus Presiden dalam

membangun infrastruktur tapi malah mengklaim hasil kerja

tersebut sebagai prestasi dari tokoh kelompok mereka yang

sebenarnya ga kerja apa-apa. Jokowi yang kerja tapi mereka

berterima kasihnya sama Aher. Ahok yang kerja tapi mereka

klaim sebagai prestasi Anies. Jokowi yang sibuk kerja

pontang-panting siang malam demi kesejahteraan negara tapi

mereka justru mengidolakan Erdogan presiden Turki yang ga

ada jasa dan hubungannya sama sekali dengan mereka.

Mereka

teriak anti aseng tapi sebar proposal ngemis duit THR pada

para pengusaha. Saat ketahuan, mereka jadi malu dan bilang

itu cuma buat lucu-lucuan. Padahal kenyataannya di lapangan

jika hal itu tidak dipenuhi maka biasanya akan muncul

perusakan, ancaman dan intimidasi. Mereka teriak anti kapir

tapi tidak malu terima gaji dan THR dari boss dan majikannya

yang katanya kapir.

Mereka teriak anti kapir tapi tidak malu

sehari-hari pake produk hasil ilmu pengetahuan dan tehnologi

bangsa kapir. Hampir semua tehnologi dan fasilitas yang kita

gunakan saat ini (seperti telepon, internet, mobil, motor,

televisi, listrik dll) adalah jasa, sumbangsih, ide dan karya dari

bangsa kapir. Jadi nikmat kapir manakah yang mereka

dustakan?

Mereka getol teriak �Ganti Presiden� tapi tidak malu

mudik lewat jalan tol yang dibangun oleh Presiden. Tapi karena

bukan Presiden Turki maka semua jasa dan jerih payah ini tidak

bakalan mereka akui. Ini bukan saja tidak tahu malu, tidak tahu

diri, tidak tahu bersyukur, tidak tahu balas budi dan tidak tahu

terima kasih tapi memang sudah sakit jiwa akut sejak dari

sononya. Sakit jiwa yang diridloi Tuhan katanya. Tuhan kok

paranoid, begitu jawaban saya....

Salam Waras nan Tak Kunjung

Datang

#2019 Ganti Otak Kampret

copas dr FB

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (16) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Denny Siregar (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Free Port (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)