Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Monday, November 25, 2019

Ade Armando: SESAT PIKIR PECUNDANG ANTI CINA


https://politikandalan.blogspot.com
Ade Armando mempertanyakan nalar berpikir orang-orang yang selalu mengampanyekan nilai-nilai anti-Cina. Apakah sentimen mereka beralasan atau hanya sebuah bentuk mentalitas pecundang? Simak selengkapnya di Logika Ade Armando.
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/ade-armando-sesat-pikir-pecundang-anti.html
#AntiCina #AbdulBasith Ikuti kami di: Website: https://cokro.tv/ Facebook: https://fb.me/cokrotv Twitter: https://twitter.com/CokroTV Instagram: https://www.instagram.com/cokro.tv/ Youtube: https://www.youtube.com/channel/UC1dx...

Eko Kuntadhi: SOMAD OVERDOSIS HARAM!


Belum lama ini Somad mengharamkan drama korea, sekarang catur. Kira-kira, ia akan mengharamkan apa lagi ya? Simak selengkapnya di Channel 17+ bersama Eko Kuntadhi.
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/eko-kuntadhi-somad-overdosis-haram.html

Jika Ingin Menguasai Orang Bodoh, Bungkus yang Batil dengan Agama


Jika Ingin Menguasai Orang Bodoh, Bungkus yang Batil dengan Agama
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/jika-ingin-menguasai-orang-bodoh.html

Judul ini diambil dari sebuah pesan Ibnu Rusyid, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama”. Atas dasar fakta yang belakangan memang sedang menimpa di banyak negara, pesan ini seperti keras menampar dan menusuk. Negara-negara yang sejak dahulu dikenal sebagai barometer kemajuan peradaban Islam sperti Irak, Suriah, Libya, Yaman dan lainnya kini menjadi negara yang sedang dalam masa kehancuran bahkan masuk dalam katagori negara gagal karena konflik yang tak berkesudahan. Nyawa sudah tidak ada harganya oleh konflik berbungkus agama padahal sebenarnya berebut kuasa.

Di Indonesia, memang tak setragis itu, tapi dimana-dimana sudah bertebaran tanda akan upaya-upaya licik demi memuluskan kepentingan ingin berkuasa lalu dibungkusnya dengan embel-embel agama. Sungguh, bila ini dibiarkan bukan tidak mungkin Indonesia akan senasib dengan mereka.

https://artikel867913207.wordpress.com/2019/04/08/jika-ingin-menguasai-orang-bodoh-bungkus-yang-batil-dengan-agama/
[ politikandalan.blogspot.com ]

Siapa Ibnu Rusyid ?

Abu Walid Muhammad bin Rusyd (Ibnu Rusyid), adalah seorang cendikia & ilmuwan muslim yang lahir di Andalusia Spanyol tahun 1128 M, pada masa invasi Kekaisaran Ummayah ke Eropa.

Selain seorang hafidz (hafal Al-Quran), Ibnu Rusyid memiliki “pengetahuan ensiklopedik” (jenius) mahir berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, hukum, matematika, filsafat, dll. Ibnu Rusyid adalah seorang Hakim yang juga seorang Fisikawan.

Pemikiran Ibnu Rusyd digadang sebagai karya filsafat berpengaruh abad pertengahan. Ibnu Rusyid juga tokoh perintis penelitian jaringan tubuh (histology) berjasa di bidang kedokteran, sampai mendapat gelar “Si Jenius dari Andalusia”.

Batil Berbungkus Agama

Ibnu Rusyid, salah satu cendikiawan terjenius dalam sejarah Islam, memperingatkan umat Muslim akan bahaya “alih fungsi agama”. Ibnu Rusyid memperingatkan akan datangnya satu masa ketika Islam akan diselewengkan justru dijadikan “alat” untuk Membenarkan yang batil.

Sepanjang sejarah kemanusiaan, tak terhitung banyaknya konflik dan perang yang menggunakan agama sebagai dalih untuk justifikasi (pembenaran) aksi perang, juga untuk manipulasi massa agar mau dijadikan mesin pembunuh.

Manipulasi sang Fuhrer

Adolf Hitler, orator terulung dalam sejarah umat manusia, membius bangsa Jerman dengan bungkus gerakan Nazi adalah “gerakan Kristiani”. Slogan “gerakan Nazi adalah Kristiani” selalu terdengar dalam setiap pidatonya (sumber: Bundesarchiv Berlin-Zehlendorf).

Buku suci Nazi “M-e-i-n K-a-m-p-f” yang ditulis Hitler, hampir setiap halaman nya selalu terdapat penegasan gerakan Nazi adalah gerakan “Relijius”, bahwasanya Nazi mengemban misi dari Tuhan untuk menghapus etnis yahudi dari muka bumi.

Bangsa Jerman terbius oleh manipulasi sang fuhrer lalu pergi berperang yang menyebabkan puluhan juta jiwa tewas, belum termasuk korban genosida pembersihan etnis yang dilakukan Nazi terhadap yahudi eropa.

Agama Dibuat Senjata oleh Kelompok Ekstrem untuk Pemusnah Massal

Sebut “konflik agama” yang pernah ada di muka bumi, dari Crusade (perang salib), sampai konflik Bosnia, sampai Perang Suriah, tidak pernah urusan agama, melainkan urusan Wilayah, Kekuasaan dan Uang (minyak), dan agama jadi dalih nya.

Karena tidak ada cara lebih efektif untuk manipulasi “orang bodoh” agar mau melakukan “hal bodoh” yaitu dengan menggunakan agama.

Kita menyaksikan sendiri berbondong-bondong orang bodoh pergi ke Surah & Irak untuk bergabung dengan ISIS rela MATI SANGIT (mati konyol) berpikir akan masuk surga plus bonus 72 bidadari #Bodoh

Kita menyaksikan betapa ayat dan dalil dijual lebih murah dari kacang goreng saat Pilkada untuk kampanye negatif menjatuhkan calon lawan dan memenangkan calon yang diusung.

Begitu dahsyat daya bius dan daya hipnotis agama terhadap orang-orang bodoh, sehingga akal sehat mereka berhenti total, berkat dogma “menggunakan akal adalah sesat”.

Makar Berbungkus Agama

Yang diperjuangkan oleh Ormas terlarang adalah mendirikan khilafah menggantikan falsafah Pancasila adalah gerakan makar tidak ada bedanya dengan PKI.

Bedanya dengan PKI, gerakan ini dibungkus agama, dibungkus dengan bendera tauhid, dibungkus dengan dalil sehingga orang-orang bodoh tidak bisa melihat kebatilan karena terlanjur “silau” oleh kemasan agama.

Wejangan Ibnu Rusyid “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama.”, memang nyata adanya. Kita hanya bisa berdoa semoga populasi orang bodoh lebih sedikit daripada populasi orang cerdas, aamiin.

Tak lupa juga, mari kita berdoa agar Revisi UU terorisme segera disahkan, supaya gerakan-gerakan makar berkedok agama dapat segera dibasmi tuntas, tas, tas, tassss, aamiiin.
Jangan mau tertipu…
Khilafah No Pancasila Yes
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/jika-ingin-menguasai-orang-bodoh.html
[ politikandalan.blogspot.com ]

Friday, November 22, 2019

Ini kata-kata Nazaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Berita Teraktual, Jakarta -

Islam melarang pelacuran. Hukumnya sangat pasti dan tegas. Ketika Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?

Islam melarang Narkoba. Ketika Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam melarang korupsi. Ketika Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?https://politikandalan.blogspot.com

Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah. Ketika Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. Ketika Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan kebersihan. Ketika Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. Ketika Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/ini-kata-kata-nazaruddin-umar-imam.html

Karma Ahok, Sekarang Warga Tanjung Priok Digusur Paksa Anies Tanpa Ganti Rugi


KARMA A.Hok
Karma Ahok, Sekarang Warga Tanjung Priok Digusur Paksa Anies Tanpa Ganti Rugi

Itulah akibatnya kalau terbuai oleh kata-kata manis.
Dan sekarang warga di Jalan Agung Perkasa 8 yang melintasi Kelurahan Sunter Agung dan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara harus merasakan pahitnya buaian kata-kata manis yang mereka terima.

Dulu, ketika Basuki Tjahaja Purnama menjadi Gubernur DKI Jakarta. Setiap penggusuran yang dilakukan sudah disediakan rusun untuk ditempati oleh warga yang terkena dampak penggusuran tersebut.

Ahok tidak sembarangan menggusur begitu saja. Meskipun bangunan-bangunan liar yang digusur tersebut memang sudah selayaknya.
Karena mereka menempati jalur hijau yang bukan diperuntukkan untuk mendirikan bangunan.

Tapi Ahok masih mempunyai sisi kemanusiaannya.
 Bagaimanapun juga warga yang digusur adalah warga Jakarta yang juga adalah warganya juga.
 Sehingga sebelum melakukan penggusuran Ahok sudah menyediakan rusun untuk mereka tinggali bersama keluarga.

Semua gratis untuk warga pindahan.
Mereka hanya dikenakan biaya sewa yang murah per bulan.
Namun sayangnya, kebaikan hati Ahok untuk melihat warganya menempati hunian yang layak ditampik begitu saja.
Warga lebih senang tinggal di daerah kumuh yang boleh dibilang tidak layak huni.

Mereka menolak untuk dipindahkan. dg.berbagai alasan.
 Rusun jauh dari tempat pekerjaan. Biaya hidup semakin mahal kalau tinggal di rusun dan berbagai macam alasan yang absurd.
Mereka tetap menolak untuk dipindahkan ke rusun.

Kemudian datanglah Anies, sang penyelamat!
Anies dengan konsep menggeser dan bukan menggusur membuat warga terpesona.
Bagaimana tidak, tawaran Anies sangat menggiurkan.
Warga tidak akan digusur ke rusun tetapi akan digeser ke tempat yang lebih layak di sekitar tempat tinggal mereka.

Anies datang membawa angin segar (yang kemudian berubah menjadi angin puting beliung).
Konsep Anies sangat diterima oleh warga. Dan membuat mereka semakin membenci Ahok, yang dianggapnya sudah semena-mena terhadap warga.
Main gusur paksa dan tidak manusiawi.

Tentu saja, saat Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka ramai-ramai memilih Anies yang membawa konsep yang sangat layak untuk mereka terima.
 Mereka tetap akan tinggal di sekitar rumah mereka sekarang daripada mereka harus pindah ke rusun yang sangat jauh dari tempat mereka semula.

Mereka acuhkan Ahok-Djarot. Mereka lebih memilih Anies-Sandi yang lebih amanah menurut mereka.
Apalagi dengan intimidasi dari ormas pembenci Ahok, maka mereka semakin yakin untuk memilih gubernur yang seiman.
Gubernur yang akan membawa mereka lebih baik. Anies menang dan Ahok pun terpaksa harus dilengserkan.

Setahun, dua tahun Anies memerintah.
 Tidak sesuai dengan janji-janjinya.
Tidak sesuai dengan apa yang telah diucapkannya dulu.
Warga yang sudah termakan oleh buaian manis Anies, kini mulai merasa bahwa gubernur yang mereka pilih tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Rencana menggeser hunian mereka sekarang, tidak ada tindak lanjutnya.
Warga semakin dibiarkan untuk menempati ruang yang seharusnya bukan untuk hunian.

Gubernur yang diharapkan amanah untuk menjadikan Jakarta lebih baik, ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Dan waktunya pun tiba. Warga yang semula begitu mengharapkan Anies dapat membuat perubahan di lingkungan mereka menjadi lebih baik.
Ternyata lebih mengerikan dari gubernur sebelumnya.

Itulah yang kini dirasakan oleh warga Tanjung Priok. Warga yang semula menolak Ahok dan memilih Anies, kini harus merasakan pahitnya telah memilih gubernur yang salah.

Kamis, tanggal 14 November 2019 merupakan hari yang tak akan dilupakan oleh warga Jalan Agung Perkasa 8, bagaimana tidak, jika hari itu bangunan-bangunan yang mereka tempati saat ini dihancurkan secara paksa oleh Satpol PP.

Bukan hanya itu saja, selain kehilangan harta benda mereka. Kini mereka juga tidak tahu harus tinggal di mana setelah hunian mereka dibongkar paksa oleh Satpol PP.

Salah satu keluhan warga yang sangat miris dilaporkan oleh Warta Kota, seorang warga yang dipanggil Nur yang sudah menetap di sana sejak tahun 1988, kini harus merelakan huniannya dibongkar paksa.

Ia mengungkapkan kekecewaannya kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang dinilai tidak berpihak orang-orang seperti dirinya.

"Saya sempet dukung Pak Gubernur, Pak Anies, cuman Pak Anies nggak tanggung jawab, nggak respon," katanya. "Nggak ada (bantuan) sama sekali. Kita kayak hewan begini Pak, kayak begini," ucap Nur.

Sementara warga lainnya, Setio bersama istri dan seorang anaknya, belum tahu akan tinggal di mana setelah tempat tinggalnya dibongkar petugas.

"Belum ada tujuan, belum ada pemikiran mau pindah ke mana, belum ada pandangan, belum ada tempat," katanya.

Meskipun kita turut bersedih atas apa yang telah menimpa saudara kita di Tanjung Priok tersebut. Namun kita tahu bahwa itulah konsekuensi dari pilihan warga sendiri.

 Ketika diberikan seorang gubernur yang baik, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal mereka tolak. Mereka justru memilih gubernur yang belum jelas kinerjanya hanya karena seiman dan janji-janji manis belaka.

Karma Ahok semakin banyak membawa korban.
Entah siapa lagi yang akan menjadi korban berikutnya.
Bahkan yang di Arab pun kini mulai tersiksa. Badan lepas, jiwa terpenjara.

Bukan begitu kura-kura?

https://seword.com/politik/karma-ahok-sekarang-warga-tanjung-priok-digusur-Z5vefykYTW

RAKSASA Itu Bernama INDONESIA


"Saya akan membangun superholding BUMN di Indonesia.." kata Jokowi saat kampanye menjadi Capres di periode kedua.

Apa itu Superholding BUMN ?

Untuk tahu tentang rencana Jokowi, kita harus belajar dulu pada Temasek Singapura.
Temasek adalah sebuah lembaga investasi yg berada dibawah Menteri Keuangan Singapura.

Temasek lahir disaat kondisi ekonomi Singapura terpuruk karena baru merdeka. Pengangguran adalah masalah terbesar mereka dan kondisi geografis Singapura yg miskin sumber daya alam.

Untuk menciptakan lapangan kerja,
Lee Kuan Yew Perdana Menteri pertama Singapura, membangun daerah perkebunan di kawasan industri Jurong. Lalu dibentuklah Dewan Pengembangan Ekonomi EDB sebagai kendaraan payungnya.

EDB ini selain bertugas untuk menarik investor asing, juga mengambil saham2 di perusahaan swasta lokal mereka. Semakin lama semakin banyak perusahaan lokal yg ada dibawah EDB, lalu digabungkanlah semua aset mereka dalam satu bendera perusahaan holding, yaitu :
Temasek.

Ngapain aja Temasek ?
Ya mereka juga tugasnya mengakuisisi banyak perusahaan, tapi kali ini bukan lokal, melainkan internasional.
Mereka masuk membeli saham di Danamon, DBS, Standar Chartered sampai Telkomsel.

Tanpa Temasek, Singapura tidak akan seperti sekarang. Temasek bukan menunggu investor asing masuk ke Singapura, mereka membeli saham di perusahaan asing itu dan memaksa berinvestasi di Singapura. Dahsyat, kan ?

Oke, kembali ke Indonesia.

Total aset BUMN kita jika disatukan, nilainya mencapai lebih dari 8 ribu triliun rupiah. Dan Jokowi memang berniat menyatukan seluruh aset BUMN dalam satu payung Superholding seperti Temasek.

Dia bahkan sudah merencanakan nama untuk Superholding itu, yaitu :
Indonesia incorporation atau Indonesia Inc.

Dengan Indonesia Inc. maka Jokowi akan membeli saham2 di perusahaan multinational, dan memaksa mereka untuk berinvestasi di Indonesia.
"Kalau kamu tidak bisa memaksa mereka, beli mereka.."
begitu filosofinya. Dan dengan begitu, masalah ekonomi dan pengangguran akan teratasi.

Negara akan menjadi leader dalam ekonomi, bukan lagi diatur oleh pengusaha-pengusaha berdasi.

Dan jika ini terjadi, Temasek Singapura dan Khazanah Malaysia bisa deg2 plas, karena akan menemukan saingan berat luar biasa. Mereka tidak akan bisa meremehkan lagi Indonesia kelak, bahkan akan berebut menjadi partner.

Lalu siapa yg cocok memimpin Superholding seperti ini ?

Erick Thohir lah,
siapa lagi ?
Dalam skala menengah, dia sudah melakukannya dengan perusahaan2 yg dia miliki. Dan kini dia punya kapal raksasa. Dia nahkodanya. Dibawah kepemimpinan Jokowi dan rakyat Indonesia sebagai pemilik kapal besarnya.

Itulah kenapa dia merombak banyak eselon yg tidak sesuai dengan visi besar negara ini.
Orang-orang dibawah Superholding ini kelak adalah orang2 yg paham kemana arah dan tujuan mereka.

Kalau sudah paham, mari kita seruput kopinya..

Denny Siregar

Ahok Cuma Kelas Glodok ?

(Tanggapan untuk RR)

By Babo EJB

Rizal Ramli sebagai mantan Menteri dan pengamat ekonomi kawakan, tidak seharusnya tendesius terhadap Ahok dengan menyebut “ Ahok cuma kelas Glodok”., sehingga tidak pantas memimpin BUMN sekelas Pertamina. Satu satunya yang saya tidak suka adalah apabila ada orang menyerang secara personal, apalagi dikaitkan dengan rasis dan bersifat pembunuhan karakter. Saya ingin membuka gambar utuh terhadap satire merendahkan dengan sebutan “ kelas Glodok”.

Ok. Semua tahu kalau glodok itu identik dengan etnis China. Apa salahnya kelas Glodok. Rendah? Pastinya tidak. Mereka pedagang ulet yang tidak dapat fasilitas dari pemerintah. Mereka berdagang di kios yang harganya mahal. Mereka tidak dapat fasilitas lapak kaki lima di trotoar atau bahu jalan, yang bayar ala kadarnya. Mereka bayar pajak dan tidak hidup dari subsidi. Mereka tidak berbisnis rente yang menguras APBN lewat proyek fiktif atau mark up. Mereka tidak terlibat mafia komoditas yang mengontrol stok dan harga, yang mengakibatkan ekonomi nasional tidak efisien. Mereka terbiasa berkompetisi dan mengambil resiko karena itu.https://politikandalan.blogspot.com

Namun apakah kehidupan “ kelas Glodok” itu lebih rendah dari kelas pejabat dan atau ekonom? Tidak. Mereka yang berdagang di GLodok itu punya standar penghasilan kelas menengah atas. Sebagian besar putra putri mereka sekolah di Amerika. Tinggal di real estate. Liburan di pusat wisata kelas dunia.  Mereka bukan komunitas kaleng kaleng yang ngeluh rumahnya digusur. Yang mengeluh pasar sepi pengunjung. Mereka tangguh dan kreatif mengatasi masalah yang tidak ramah. Mental mereka bukan mental KW yang doyan nasi bungkus dan uang lendir.

Apakah kehidupan seperti “kelas glodok “ itu mudah? tidak! Pastinya butuh kecerdasan luar biasa untuk survival. Tapi pastinya lebih mudah hidup sebagai Rizal Ramli. Pengamat ekonomi, modal cuma congor dapat uang. Modal retorika dapat fee. Modal kasak kusuk dapat jabatan Menteri dan hasilnya hanya cerita tanpa bukti , dan pantas dipecat.  Modal gaya  intelek dapat istri artis yang janda. Tentu dengan kemudahan dan kemelimpahan pujian itu memabuat RR dengan mudah pula merendahkan orang lain. Tapi pada waktu bersamaan jusru merendahkan dirinya sendiri.

Ahok itu secara pendidikan, dia mumpuni. Dia insinyur geologi. Mendapatkan master dibidang Management. Punya pengalaman sebagai pengusaha dan profesional. Punya pengalaman sebagai politisi dan berkantor di Senayan, dengan track record bersih. Jadi bupati terbaik. Menurut Sri Mulyani, semasa kepemimpinan Ahok, terjadi penghematan APBD DKI yang sangat luar biasa. Dengan modal sekecil-kecilnya ahok mampu membangun dengan maksimal. Ahok juga berhasil membongkar Dana Siluman di Jakarta sebesar Rp.12T. Dari hasil audit terbukti dari pendapatan APBD DKI yang spektakuler.

Bagaimana pendapat Jokowi ? Pujian diberikan Jokowi karena Ahok dan jajarannya di DKI dinilai cerdas mencari sumber pendanaan pembangunan di luar APBD. Atau AHok jago mengelola APBD berdasarkan kinerja. Sebagai contoh konkrit adalah Simpang Susun Semanggi alias Semanggi Interchange tanpa menggunakan dana APBD.  Semua pembiayaan di luar APBD itu didukung dengan legalitas yang kuat dan transfarance. Jadi kalau Rizal Ramli bilang Ahok mendapatkan dana non budgeter itu ilegal, jelas salah total. RR tidak paham aturan pengelolaan keuangan daerah berdasarkan kinerja.

Kalau sampai AHok jadi Preskom atau Dirut Pertamina, itu jelas bukanlah politik balas budi. Itu murni karena alasan kompetensi dan kapabilitas serta trust. Secara hukum tidak ada yang dilanggar bila Ahok terpilih jadi boss pertamina. Saya tidak mengerti, mengapa selalu menilai orang dengan cara merendahkan profesi dan etnis. Apakah kehilangan alasan rasional untuk menjegal Ahok jadi pejabat BUMN. Kalau memang tidak bisa cerdas berargumen, sebaiknya diam.
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/ahok-cuma-kelas-glodok.html








Kapal NKRI sedang dilubangi dari dalam

Melengkapi...
IYYAS SUBIAKTO

VIETNAM..

Viral beberapa hari ini karena Jokowi sempat berang gara-gara 33 perusahaan Cina yg hengkang dari negerinya tak satupun melirik Indonesia, yg mengejutkan kita, 23 diantaranya memilih Vietnam sbg basis produksi dan pengembangan usahanya. Kenapa Vietnam, kenapa mereka menjauh dari Indonesia, padahal katanya kita dekat dgn Cina, kita antek aseng, dst.

Thn 2017, saya mampir ke Vietnam, setelah 1 minggu mengagumi Korea Selatan dgn segala kemajuannya. Vietnam tentulah jauh vs Korea Selatan, tapi Vietnam sdg menuju kesana. Vietnam membuka diri dgn isi kepala yg ditata agar mereka kebagian dari berkembangnya dunia nyata, bukan minum kencing onta, terus menghayal masuk surga.

Di Vietnam kami mengunjungi bekas desa Vietkong yg penuh bekas terowongan yg dulu dipakai saat perang Vietnam dgn Amerika, perang yg memakan waktu 20 thn ini ( 1955-1975 ) konon menewaskan 2 jt rakyat Vietnam dan 50 rb tentara Amerika, apakah Vietnam kalah, tidak, Amerikalah yg pulang, Amerika prustrasi menghadapi Vietnam,  Amerika sampai menjatuhkan bom Napalm yg mengerikan, membuat anak² cacat, dan konon mengkontaminasi sampai 5 keturunan.

Menuju desa ex Vietkong, guide yg mengantar kami pria muda Vietnam yg energik, dia bercerita bgmn negaranya hancur, jutaan nyawa melayang di hajar Amerika, tapi apakah kami harus dendam dgn Amerika, tidak sambungnya. Ibu Bapak bisa lihat, skrg ada Starbucks, Kentucky, Mc Donald, dll. Mereka orang Amerika, produk Amerika, yg menanamkan modalnya disini dan kami mendapat pekerjaan darinya. Hidup tidak bisa di besarkan dgn dendam, perut harus makan, anak-anak harus berpendidikan, negara ini ditangan anak muda yg hrs menata masa depan, bukan pikiran dendam yg bisa membuat kami tenggelam ditengah kemajuan zaman.https://politikandalan.blogspot.com

Apakah dia tdk nasionalis, apakah mereka kaum muda yg mengkhianati bangsanya. Tidak, bukan itu esensi melepas dendam dan meredam rasa marah karena mereka pernah bersimbah darah.

Mahatma Gandhi berkata; Rasa marah dan dendam ibarat bejana yg disisi air raksa, sebelum air disiramkan kepada orang lain, air akan merusakkan bejana penampungnya.

Jelas, rakyat Vietnam tidak ingin menjadi bejana rusak karena amarah yg terus dipendam. Mereka skrg bangkit, mereka belajar menanam kopi ke Indonesia, skrg kopi mereka mengalahkan kita, investor melirik mereka, kenapa, karena regulasi dan produktifitas tenaga kerjanya tinggi. Contoh, saya pernah punya pabrik garmen thn 2010, dapat jahitan jeans Lecooper. 1 line mesin terdiri dari 23 org, output perhari 8 jam kerja, rata² perorang 2,6 pcs. Vietnam 3,4, Bandladesh 3,1, Cina 3,8. Ini baru urusan menjahit. Kenapa mrk tinggi outputnya, karena saat kerja mrk fokus, ulet, telaten. Kita kebanyakan ngobrol, disuruh menjahit cerita sinetron dan tolah toleh.

Kenapa dari 33 perusahaan Cina 23 diantaranya ke Vietnam, dan Indonesia tak kebagian, selain produktifitas kita rendah, kita kebanyakan demo, ribut UMK. Kerjanya didua alam, berhayal dan rebutan kunci surga, orang sudah kemana-mana, kita gak kemana-mana. Jokowi gemes dan marah karena dia merasa kerja sendiri, sementara yg lain cuma berteori gak pernah ada yg bisa dieksekusi.

Kita larut dlm kebencian yg mendalam sampai kita lupa terjadi kerusakan sebuah kehidupan, bernegara dgn makian, pemimpinnya dihina, produknya dicela, bgmn orang mau datang, kalau menjaga dirinya saja tak bisa, orang mau datang berinvestasi jadi ngeri. Dan ini bkn peringatan dini tp sudah terjadi.

Kita harus sadar sepenuhnya bahwa negara ini skrg sdg dianiaya oleh segelintir orang yg akan menghancurkan negerinya, bahkan sekelompok ormas yg meraup dana dari topeng donasi uangnya dibuat meracuni anak² utk membenci negerinya sendiri, ngeri dan ini sedang terjadi. Kita sedih tdk dihampiri investor, tapi sebagian orang dungu senang akan hal itu.

Bukan Vietnam yg akan membuat kita tenggelam, tapi negeri ini sedang dibocori penumpangnya sendiri, kita yg sadar harusnya tidak membiarkan, mari bersama menjaga kapal besar Indonesia agar terus mengarungi samudra bangsa², menjadi bangsa yg hadir bersama bangsa besar lainnya di dunia, karena kita bisa. Syaratnya kita harus cepat menambal mulut bocor dan para penista.
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/kapal-nkri-sedang-dilubangi-dari-dalam.html
#MARIJAGAINDONESIA

KADAL GURUN MEMANG MAHLUK CARI GARA-GARA

Masih ingat kasus First travel, biro jasa haji dan umroh, yang menipu jemaah dengan harga murah,  umroh cukup dengan 12,5 juta - 14,5 juta plus bonus koper dan baju perlengkapan umroh. Sebanyak 63 ribu jemaah gagal umroh, dengan total 950 Milyar rp.

Hasil PN Depok memutuskan bersalah dan menghukum  pemilik first travel, suami - istri dengan tahanan 15 -20 tahun dan putusan yang ini jadi biang keributan, PN Depok memutuskan menyita asset First travel untuk Negara.

Putusan PN Depok dikuatkan oleh PT dan MA.

Begitu  putusan MA yang menguatkan pengadilan Negeri Depok, artinya asset First Travel disita oleh Negara. Para kadar gurun dan promotornya berteriak -teriak tidak terima. Seperti biasa menuduh pemerintah menilep uang jemaah. TV one -pun tidak ikut2an dan acara ILC -pun sangay provokatip : Jemaah tertipu-Negara untung. Lagi-lagi, seperti biasa-nya menyalahkan Jokowi.

Tengku Zulkarnaen,   wasekjen MUI , turut membuat cuitan2 di medsos, menuduh pemerintah, intinya pemerintah menilep uang  jemaah umroh dsb. Tanpa konfirmasi dahulu, yang penting umatnya terprovokasi.

Mari kita sejenak mengenang kembali peristiwa masa lalu. Entah ada hubungan atau tidak, kasus 212 dan demo berjilid-jilid,  mendorong orang makin religius dan pemilik first travel memanfaatkan situasi ini. Menjadi sponsor 212 serta menawarkan paket umroh dan haji murah.

Dari ini saja, kita dapat menyimpulkan, inilah salah satu dari  efek  212.

Tapi anehnya, setelah banyak korban, mereka2 yang terlibat dalam 212 diam saja dan sekarang malah menyalahkan pemerintah.

Malah menuduh pemerintah menilep uang jemaah..

Kenapa Pengadilan Negeri memutuskan asset First Travel di sita Negara dan tidak dikembalikan ke Jemaah. Pasti ada sebabnya kan..

Harta yang berhasil disita dari First Travel, di nilai oleh lembaga apraisal Negara, sejumlah 30-40 milyar.  Waktu sebelum putusan PN Depok, hakim hendak memutuskan hendak menyerahkan asset sitaan kepada Paguyuban Jemaah First Travel sebagai penggugat, yang jumlahnya 10 paguyuban  mewakili 63 ribu jemaah. Tapi semua paguyuban menolak. PN Depok memutuskan ini berdasarkan asas keadilan dengan dikembalikan ke jamaah.

Akhirnya PN Depok, karena tidak ada yang mau menerima, diputuskanlah asset disita Negara.

Jelas kan kenapa putusan PN, PT dan MA berbunyi seperti itu.

Tapi kurang ajarnya, para jemaah ini yang mewakilkan gugatan kepada paguyuban menyebarkan issue Δ·alau uang jemaah ditilep Negara.

Kita paham kalau paguyuban menolak menerima, karena asset hanya sekitar 4 persen dari nilai uang jemaah. Tapi kurang ajarnya seperti tutup mulut kalau asset First travel hanya sebesar itu. Sehingga masyarakat mempercayai kalau asset First travel yang ditilep pemerintah sebesar 950 milyar.


Mereka sendiri yang ceroboh tapi malah menyalah-nyalahkan pemerintah. Menuntut memberangkatkan umroh sebanyak 63 ribu orang. Emangnya duit dari mbah -mu.
https://politikandalan.blogspot.com/2019/11/kadal-gurun-memang-mahluk-cari-gara-gara.html
Efek 212 memang membius banyak orang

Wednesday, November 20, 2019

Kisah Kaisar Gaozu Menyisir Pejabat Korup.


Oleh: Suhana Lim

Kaisar Gaozu of Han nama kelahirannya Liu Bang adalah pendiri sekaligus sebagai kaisar pertama dari Dinasti Han. Dinasti Han adalah dinasti kedua (setelah Dinasti Qin) yang berkuasa dari 206 BC - 220 AD.
Gelarnya ialah Taizu," dan gelar nya setelah wafat adalah "Gaozu of Han."

Ada kisah menarik mengenai Kaisar Gaozu. Beliau punya seorang sahabat bernama Zhang Er.
Zhang Er ini dikenal sebagai seorang yang banyak akalnya. Pada suatu hari, Kaisar Gaozu mengutarakan keinginannya sekaligus kekhawatirannya kepada Zhang Er.
."Saya ingin mengidentifikasi mana-mana pejabat di daerah yang kerjanya baik dan tidak korup. Tapi bagaimana cara untuk menscreening/ menyisir nya?"

Zhang Er pun tertawa, dan berkata: "Mudah sekali Yang Mulia. Yang Mulia tunjuk saja Xiao He dan Cao Shen, Dua sosok pejabat kelas menengah yang selama ini bereputasi lurus dan jujur di posisi Portfolio Hukum! Nanti Yang Mulia perhatikan saja, mana-mana yang bersuara keras menentang pengangkatan Xiao He dan Cao Shen; mereka lah yang berindikasi kuat tidak jujur dalam menjabat dan patut dicurigai!".

Singkat cerita, Kaisar Gaozu pun memanggil semua kepala daerah dan pejabat utama ke istana. Beliau mengumumkan bahwa akan mengangkat Xiao He sebagai kepala polisi dan Cao Shen guna membenahi masalah hukum. Serta merta sebagian pejabat yang hadir mengutarakan keberatan mereka dengan berbagai alasan. Komentar dan keberatan mereka di terima dan dicatat. Tetapi the show must go on, Xiao He dan Cao Shen tetap dilantik. Secretly, Kaisar Gaozu memberikan perintah khusus untuk lebih "memerhatikan" kinerja semua pejabat yang menyatakan keberatan mereka atas pengangkatan mereka berdua.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian, sebagian besar dari para pejabat yang tak setuju atas penunjukan Xiao He dan Cao Shen pun either di copot atau di hukum mati karena memang benar terbukti adalah korup dan tidak adil sebagai pejabat!

Tidak ada yang baru didunia. Hampir semuanya pernah berlangsung seperti Cerita yang berulang, Hanya beda jaman, beda setting nya, dan berganti pemerannya. Kejadian yang pernah terjadi ribuan tahun silam di era Dinasti Han pun most likely sudah berulang-ulang terjadi di berbagai pelosok dunia di era jaman Disrupsi!

Begitu ada sosok jujur dan lurus "datang," maka pihak-pihak yang bengkok dan kotor pasti akan bereaksi keras menentang. Kelangsungan status quo yang selama ini sudah dinikmati pasti akan terganggu. Atau jangan-jangan bukan hanya bakul nasi yang hilang, jabatan pun bisa raib and worst bisa masuk bui. Hence, penunjukkan individu lurus jujur pun harus ditentang dengan aneka alasan dan argumentasi. Mostly, semakin keras penentangannya, semakin kuat pula indikasinya yang bersuara keras tadi ada sesuatu yang tidak baik yang disembunyikannya!

(Renungkan Kisah tsb diatas dan perhatikan perkembangan situasi politik di mana Anda berada, utk membuktikan kebenaran Kisah Sejarah Dynasty Han tsb.)

Wow ! Inilah Pidato Presiden Jokowi dihadapan Gubernur se-Indonesia

Monday, November 18, 2019

Presiden Jokowi Blakblakan, Gampang Tertidur Termasuk di Helikopter



Presiden Joko Widodo mengaku mudah tertidur saat perjalanan dinas. Bahkan, orang nomor satu di Indonesia itu pernah tertidur di dalam helikopter. “Saya tidur sering, di mobil dari Jakarta ke Bogor atau dari Bogor ke Jakarta saya bisa tidur. Di pesawat saya bisa tidur 20 sampai 30 menit. Di helikopter juga (bisa tidur),” ujar Jokowi di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Jokowi mengatakan, dirinya mudah tidur di mana saja karena saat malam hari jam tidurnya sedikit. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku kerap bekerja hingga larut malam. 

“Kalau malam saya tidur lebih sedikit dari yang lain. Alhamdulillah saya diberi kenikmatan itu, gampang tidur di mana pun dengan suara apapun,” kata Presiden. 

Bahkan, Jokowi mengaku sering menelepon menteri-menterinya di malam hari. Hal itu dia lakukan jika ada permasalahan yang harus diselsaikan sesegara mungkin. 

“Kalau tengah malam saya telepon (para menteri), bisa jam 10 malam, 12 malam, jam 1 malam, 1.30 dan 2.30 malam. Kalau menterinya sulit (dihubungi) ajudannya saya telepon suruh bangunin. Kalau (lagi situasi) penting begitu,” ucap dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketika Jokowi Mengaku Bisa Tertidur di Helikopter...", https://money.kompas.com/read/2019/11/14/151742426/ketika-jokowi-mengaku-bisa-tertidur-di-helikopter.
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Erlangga Djumena

Thursday, November 7, 2019

DKI Jakarta menganggarkan dana untuk revitalisasi kebun binatang Ragunan, Jakarta Selatan, mencapai Rp75 miliar.


Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, berang ketika mengetahui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menganggarkan dana untuk revitalisasi kebun binatang Ragunan, Jakarta Selatan, mencapai Rp75 miliar.

Kekesalan Nova Paloh semakin memuncak ketika Pemprov DKI Jakarta menganggarkan biaya sebesar itu menggunakan modus-modus tertentu untuk berupaya mengelabui anggota DPRD DKI. Pasalnya, dalam pengajuan anggarannya, judul yang diajukan yakni untuk revitalisasi. Tapi ternyata biaya Rp75 miliar itu hanya untuk jasa konsultan.

“Saat rapat kemarin, ada usulan anggaran jasa konsultan margasatwa Ragunan sampai Rp75 miliar. Judul (yang diajukan) revitalisasi, tapi ternyata itu hanya untuk jasa konsultan saja,” kata Nova di Gedung DPRD DKI, Jakarta, Selasa (5/11).

Nova menegaskan menolak usulan anggaran konsultan untuk revitalisasi Ragunan itu yang dianggapnya sebagai program yang tidak wajar. Penolakan tersebut dia sampaikan saat rapat kerja bersama Dinas Kehutanan Pemprov DKI.

Nova menceritakan, saat dirinya melontarkan kritik terhadap program tersebut, Dinas Kehutanan DKI sempat mengusulkan untuk mengurangi anggaran menjadi Rp55 miliar. Namun, Nova kembali menegaskan tetap menolak usulan tersebut. Menurutnya, usulan tersebut tidak efektif dan hanya menghabiskan anggaran saja.

“Jadi, sama mereka diturunkan menjadi Rp55 miliar katanya buat efisiensi," kata Nova.

Setelah berdebat cukup panjang, kata Nova, Komisi D akhirnya menyetujui anggaran konsultan untuk revitalisasi Ragunan dengan biaya yang turun drastis menjadi Rp4 miliar saja.

“Terus kita pertanyakan lagi, buat apa ini, karena kita menyangka untuk perbaikan dan keseluruhan. Enggak tahunya itu hanya konsep. Akhirnya kita sepakati turunkan jadi Rp4 miliar saja untuk biaya konsultan,” ucap Nova.

Dengan demikian, pihaknya pun mengetok usulan anggaran untuk jasa konsultan revitalisasi Taman Margasatwa atau kebun binatang Ragunan senilai Rp4 miliar.

Sumber :
https://www.alinea.id/nasional/dprd-dki-bongkar-biaya-konsultan-revitalisasi-ragunan-rp75-m-b1XpJ9oMR πŸ‘πŸ»πŸ˜Ž

WILLIAM : SUARA KEBENARAN YANG DICOBA UNTUK DIBUNGKAM


Oleh :
Rudi S Kamri
politikandalan.blogspot.com
Saya tidak tahu, masihkah para tuan dan nyonya penyelenggara negara khususnya di DKI Jakarta masih punya nurani atau tidak. Kalau dikatakan oknum kok begitu banyak kadal burik disana, kalau disama- ratakan juga tidak fair buat pegawai atau anggota DPRD yang selama ini masih lurus,  jujur dan tulus mengabdi.

Saya hanya bisa berandai-andai, kalau saja Jokowi tidak hanya dua tahun jadi Gubernur DKI Jakarta, tentu saja cerita pat-gulipat anggaran yang dilakukan oleh para maling uang rakyat di Pemda dan DPRD DKI Jakarta tidak seperti sekarang. Mereka pasti tidak berani berbuat ganas meranggas seperti saat ini.

Kebiadaban para manipulator anggaran di DKI Jakarta ini sudah pada level di luar batas kewajaran. Mereka bisa seenaknya memperkosa akal sehat kita karena selama ini mereka melakukan kerjasama dengan kuat. Konspirasi legislatif dan eksekutif akhirnya menjadi komunitas sesat atau kumpulan para garong.

Kehadiran William Aditya Sarana dan kawan-kawan dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sudah pasti merupakan gangguan besar buat para garong itu. Dan seperti telah kita tebak mereka sekuat tenaga pasti akan berusaha membungkam suara jernih dari William dkk. Mereka tidak peduli apa yang William dkk lakukan adalah suara rakyat yang sebenarnya. Mereka selama ini terbiasa hanya mendengar suara maling, sehingga pada saat mendengar suara kebenaran mereka kebakaran jenggot teu kepuguh.

Sebagai warga Jakarta dan warga negara Indonesia yang masih waras apa yang harus kita lakukan ?

PERTAMA, kita mutlak harus memberikan dukungan moral kepada William dkk. Karena kewarasan dan nurani kebenaran kita telah disuarakan dengan jernih oleh William dkk. Apabila nanti William dkk mendapat tekanan kuat untuk bungkam dari sesama anggota DPRD atau dari pihak eksekutif, kita harus membantu dengan memberikan perlawanan frontal melalui media sosial, media massa maupun secara langsung.

KEDUA, kita tetap konsisten memberikan perlawanan kuat kepada para kelompok garong anggaran di Pemda dan DPRD DKI Jakarta. Suara jernih William harus kita berikan amplifikasi kuat dari luar untuk menekan para kelompok garong tersebut.

William adalah suara kebenaran yang tersisa dari kita. Dan jangan biarkan suara kebenaran nurani rakyat dibungkam oleh keangkaramurkaan yang merajalela. Siapapun yang mencoba membungkam dia termasuk Gubernur atau partai-partai besar harus kita lawan dengan kuat. Kita harus tunjukkan bahwa suara kebenaran pasti akan menang melawan suara setan dari kumpulan para garong anggaran.

Salam SATU Indonesia
06112019
politikandalan.blogspot.com
#IStandByWilliam
#SaveWilliam

Wednesday, November 6, 2019

JAWABAN TELAK AHOK ! BIKIN ANIES STREES !!

Monday, November 4, 2019

Problem Jakarta Itu Salah Pilih Gubernur! Bukan Salah Sistem, Salah Ketik Atau Salah Hitung!


Tahukah kamu, dulu, dengan sistem e-Budgeting, Ahok berhasil menyelamatkan Rp 8,8 triliun anggaran yang diajukan DPRD untuk sosialisasi SK Gubernur DKI. Kasus ini akhirnya menghasilkan sebuah kalimat legendaris “pemahaman nenek lu”. Sistem e-Budgeting Ahok ini akhirnya mendapat penghargaan dari Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan dicontoh oleh kota-kota lain.

Sekarang di era Anies, berita-berita di media beberapa hari terakhir ini justru didominasi oleh hebohnya kabar anggaran Rp 5 miliar untuk membayar lima influencer, pengadaan lem aibon senilai Rp 83,8 miliar, pengadaan bolpen senilai Rp 123,8 miliar, hingga kenaikan anggaran Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang sempat melonjak hingga Rp 26 miliar. Jumlah fantastis yang sangat janggal.

Dengan sistem yang sama, Ahok bisa dengan baik menjaga uang rakyat. Lalu kenapa Anies tak bisa? Anies malah tega menyalahkan Ahok untuk menutupi kebusukannya.

Akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan. Carut marut problem yang sedang dihadapi Jakarta saat ini bukan akibat salah ketik, salah input, salah tulis, salah lihat, salah hitung, salah Si A, Si B, salah ini itu dan lain sebagainya. Problem Jakarta saat ini cuma ada satu yaitu SALAH PILIH GUBERNUR. Karena akhirnya terbukti dengan sendirinya. Menyalahkan orang lain tak bisa serta merta membenarkan anda. Hal ini justru semakin mengindikasikan bahwa andalah yang tidak bertanggung jawab. Itulah Anies Baswedan. Dan jika ada di antara kalian yang masih membela Anies yang sudah nyata-nyata gabener ini dengan alasan seiman, itu artinya memang ada yang salah dengan caramu beragama. Itulah JKT58.

https://seword.com/politik/problem-jakarta-itu-salah-pilih-gubernur-bukan-3nXELiDp6D

---------------------------------------------
Terbongkar lg anggaran mencengangkan  PEMPROV DKI 2020 - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

1. Sewa Dekorasi Stand - 29 Milyar
2. Sewa Dekorasi & Tempat Pameran - 15 Milyar
3. Bangun Kantor - 23 Milyar
4. Pagelaran Kesenian dan Festival - 22 Milyar
5. Baliho - 10 Milyar
6. Acara di TV - 7,6 Milyar
7. Software Big Data & NLP + Gmaps API Premier - 9,5 Milyar
8. Roadshow ke TIMTENG - 5 Milyar + Buku 5 Milyar total 10 Milyar
9. Event Promo Komunitas & Pameran Wisata - 11 Milyar
10. Festival2 lagi - 8 Milyar
11.  Festival lagi - 9 Milyar

Hajar trus boss.. Kuras duit Jakarta.. Jgn ada sisa, usahakan defisit πŸ˜’πŸ˜’https://news.detik.com/berita/d-4768548/kadis-pariwisata-dan-kebudayaan-dki-mundur-mendadak-mengapa

---------------------------------------

KRIKIL DALAM SEPATU NEGARA BERNAMA ANIES...
Oleh: Saiful Huda Ems.

Anies ini bagi saya merupakan sosok politisi yang sangat pragmatis dan oportunis.
Ia mudah berubah-ubah seperti bunglon dan lidah ucapannya suka mlenceng kesana kemari bagai kadal.
Saya pernah berdebat soal ini dengan teman facebook saya yang kritis, yakni Usi Karundeng sebelum PILKADA DKI Jakarta beberapa tahun lalu. Saya katakan pada Usi beberapa tahun lalu hingga sempat viral di medsos, bahwa Anies itu politisi oportunis. Ketika SBY menjabat sebagai Presiden, Anies kerap menyerang SBY dan Partai Demokratnya, namun ketika Partai Demokrat berencana melakukan Konvensi Capres, Anies ikut mendaftar sebagai salah satu kandidat Capres dari Partai Demokrat.
Lalu setelah Konvensi Capres itu bubar di tengah jalan karena ternyata media dan masyarakat lebih tertarik pada pertarungan figur Jokowi dan Prabowo, Anies tiba-tiba melompat jadi pendukung Jokowi menjelang Pilpres 2014.
Dan ketika Jokowi menang dan Anies jadi menteri, Anies tidak berprestasi lalu dibuang dari posisinya sebagai menteri, lalu bergabunglah Anies dengan Prabowo di Pilpres 2019.

Meski demikian bagi saya itu barulah satu hal dari watak politiknya Anies yang menyimpang, masih ada lagi watak Anies yang menyimpang dan sangat berbahaya, yakni inkonsistensi dan model pemikiran Anies yang sangat rasis.
Bukankah kita semua telah tau, siapa inisiator utama benturan antar ras dan antar pemeluk agama di Indonesia kalau bukan Anies yang dimulai dari kampanye-kampanye provokatifnya di PILKADA DKI beberapa tahun lalu? Bagi yang mengikuti kiprah politik dan pemikiran Anies hanya sejak menjelang PILKADA mungkin hal itu tidak terlalu heran, tetapi saya yang sudah lama mengamati kiprah politik dan pemikiran Anies jauh sebelum PILPRES 2014 dan 2019 sungguh sangat terheran-heran.

Dahulu Anies itu selalu tampil moderat, kata-katanya sejuk mirip salju di pegunungan Alpen Swiss, hingga kalau orang yang hanya melihatnya sekejap Anies sepintas mirip cendekiawan ulung Indonesia alm. Cak Nurcholish Madjid, dimana Anies pernah jadi rektor di Universitas Paramadina yang didirikan alm. Cak Nurcholish Madjid. Tapi entah mengapa sejak dari dulu saya sudah punya firasat, bahwa tabiat Anies itu hanya topeng belaka. Sejarah kemudian membuktikan Anies ternyata rasis dan pernah dengan bangga menyatakan bahwa dialah yang berhasil "menghabisi" pengaruh pemikiran Cak Nur di Paramadina, yang sangat masyhur dengan ide-ide pemikiran plurasisasi agamanya dan segudang ide-ide pemikiran Islam Moderatnya.
Gila !
Firasat saya jadi terbukti, Anies selama ini bertopeng !

Apa yang saya kemukakan di atas itu baru soal bahaya pragmatisme dan oportunismenya Anies, belum lagi menyangkut soal kasus-kasus hukum yang menjeratnya seperti:
kasus yang pernah dilaporkan ke KPK soal gratifikasi yang diterimah Anies dalam penerbitan IMB pulau reklamasi, kasus penyimpangan Pameran Buku Frankfurt (Frankfurt Book Fair) 2015 yang diduga menyelewengkan dana sebesar Rp. 23 miliar, kasus over budgeting guru sebesar Rp. 23 Triliun, kasus Swastanisasi Air Minum Prov. DKI Jakarta dengan kerugian negara sekitar Rp. 1,2 Triliun dll.nya.
Bahkan untuk kasus tersebut sampai KPK telah menyuratinya sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh jubir KPK Febri Diansyah.
Kalau kasus-kasus Anies ini benar-benar didalami dan ditindaklanjuti secara serius oleh KPK, saya pastikan Anies akan kena !
Tunggu saja aksi KPK dalam kepemimpinan Firli Bahuri di masa depan...?

Inkonsistensi pemikiran, pragmatisme dan oportunisme politik Anies yang diperberat dengan persoalan kasus-kasus korupsi yang telah membelitnya, tidak bisa lagi dibantah bahwa Anies bukanlah figur politisi yg tdk bermasalah.
Ini bermasalah, sangat bermasalah, dan menjadi super bermasalah ketika Anies diduga banyak memprovokasi orang dan menggunakan dana-dana APBD DKI untuk menyuburkan dan mengembang biakkan ORMAS-ORMAS yang melawan ideologi negara, siapa yang bisa bantah?
Maka jangan heran jika kemudian saya katakan, bahwa Anies tak ubahnya Krikil Dalam Sepatu Negara !
Ia kecil namun sangat mengganggu perjalanan bangsa ini dalam merajut kebhinekaannya !
Ia kecil namun sangat mengganggu perjalanan bangsa ini dalam usaha mewujudkan Indonesia yang adil, sejahtera, makmur, damai sentosa !
Ini negeri Garuda bukan negeri Kadal Gurun, kami tak suka Indonesia terus dibuat gaduh dan dipecah belah !
(SHE).

26 September 2019.

Saiful Huda Ems (SHE).
Advokat dan Penulis.


Sebuah Catatan: Melihat Mas Ulil Bicara Menggebu-Gebu


Sebuah Catatan: Melihat Mas Ulil Bicara Menggebu-Gebu
Politikandalan.blogspot.com
@Aruelgete: Oktober 30, 2019

Baru kali ini saya melihat seorang Ulil Abshar Abdalla bicara menggebu-gebu. Seperti marah, tapi agak tertahan. Selama ini, yang saya tahu, menantu Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) ini selalu bicara dengan intonasi yang santai. Akan tetapi, berbeda saat dia diundang pada sebuah diskusi membincang radikalisme.

Saat diberi kesempatan bicara, Mas Ulil–sapaan akrab saya untuknya–langsung menegaskan dua hal. Pertama, dalam menghadapi radikalisme, komitmen Nahdlatul Ulama tidak perlu diragukan. Termasuk juga komitmen NU kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga Ideologi negara: Pancasila.

Sejak berdiri hingga kini, dengan tegas dikatakan Mas Ulil, NU tidak pernah melakukan pengkhianatan kepada negeri ini. Belum pernah NU memberontak kepada pemerintahan yang sah, dan tidak pernah juga NU mendukung gerakan terorisme. Komitmen tersebut akan selalu ada, selama NU masih eksis di negeri ini.

Namun, komitmen NU yang seperti itu bukan politis. Komitmen itu murni untuk kepentingan NKRI dan berkenaan dengan akidah warga Nahdliyin, para kiai, serta ulama NU. Lebih besar dari sekadar kepentingan politik praktis, tidak ada sama sekali kaitannya komitmen NU itu dengan kepentingan politik. Watak NU sejak lahir adalah cinta tanah air.

Bahasan Mas Ulil itu disampaikan dengan intonasi yang tinggi, menggebu-gebu, tegas, dan bahkan raut wajahnya memerah, serius sekali, tidak seperti biasanya. Seketika itu, saya ngeh, bahwa sebenarnya Mas Ulil sedang menyadarkan warga NU terkait 'cawe-cawe' kabinet Jokowi yang tidak menempatkan tokoh NU sebagai menteri agama –walaupun setelahnya ada Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid.

Kedua, radikalisme sebagai isu bisa dijadikan sebagai komoditas politik. Hal ini berbanding terbalik dengan NU, yang menganggap radikalisme bukan untuk kepentingan politik, tapi murni sebagai musuh bersama agama dan bangsa. Siapa pun presiden yang sedang menjabat, Nahdliyin akan tetap cinta tanah air.

Gerakan antiradikalisme yang dilakukan oleh NU selama ini tidak sama sekali untuk mencari suara dalam Pemilu atau Pilpres. Walau demikian, rupanya ada yang menjadikan isu radikalisme itu menjadi komoditas politik. Kemudian radikalisme ini menjadi tunggangan politik untuk meraup suara dalam mencapai kursi kekuasaan.

"Kita (Nahdliyin) tidak boleh lugu seolah-olah tidak ada yang menjadikan radikalisme sebagai tunggangan politik. Kita juga tidak boleh lugu bahwa ada yang menunggangi NU untuk menggebuk radikalisme. Radikalisme itu bukan isu politik tapi komitmen tanah air," kata Mas Ulil, masih dengan intonasi yang tinggi, menggebu-gebu, dan raut wajah yang memerah.

Dikatakan Mas Ulil, NU punya cara sendiri untuk melawan radikalisme. Sebuah cara yang jelas sangat berbeda dengan cara yang dilakukan oleh pemerintah atau militer. Pendekatan NU bukan pendekatan gaya militeristik yang semata-mata hanya keamanan, sekalipun memang kemanan itu sangat penting. Namun, tugas NU dalam menangani radikalisme ini dilakukan dengan pendekatan kultural dan pemahaman keagamaan, bukan pendekatan keamanan.

NU harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk menangani radikalisme ini. Seperti misalnya bekerjasama dengan polisi, tentara, bahkan pemerintah. Namun perlu diingat, bahwa penanganan yang dilakukan Nahdlatul Ulama untuk melawan radikalisme sangat jauh berbeda dengan cara yang dilakukan oleh polisi, tentara, dan pemerintah.

Watak Islam

NU merupakan interpretasi dari corak Islam yang rahmah, penuh kasih, dan rahmatan lil alamin. Dalam berbagai kesempatan, NU selalu menampakkan wajahnya dengan ceria, dengan perilaku yang santun, dan dengan gaya dakwah yang bersedia menerima berbagai perbedaan; termasuk pemikiran.

Namun corak Islam seperti itu, bukan hanya NU dan tidak hanya terdapat di Indonesia saja. Islam di berbagai belahan dunia mana pun, terutama Islam Ahlussunnah wal Jamaahatau Sunni, pasti memiliki corak yang sama dengan NU. Maka bisa dikatakan, bahwa corak yang seperti itu merupakan wajah Islam yang sebenar-benarnya.

Mayoritas Islam di dunia, dengan corak keislaman itu pasti memiliki kesadaran dan pemahaman untuk menerima sebuah negara-bangsa, yang secara otomatis menolak sistem Khilafah ala Hizbut Tahrir atau Daulah Islamiyah ala ISIS.

Seperti itulah watak Islam. Sejak dulu, bahkan sejak zaman Nabi Muhammad, tidak pernah berubah. Islam itu pasti tawassuth (moderat), tidak mungkin tidak. Maka, tak perlu ragu dengan komitmen NU terhadap kecintaannya kepada NKRI, juga tindak-tanduknya melawan wacana dan gerakan radikalisme.

Radikalisme di Kampus

Menurut Mas Ulil, radikalisme di kampus itu sudah barang tentu bukan dikembangkan oleh kader, aktivis, atau warga NU. Kemudian, radikalisme itu pasti marak di kampus-kampus umum, bukan di kampus yang berlatar belakang agama. Sebab, kampus agama justru tidak tertarik dengan gagasan radikalisme itu. Maka tidak heran, wacana radikalisme ini justru laris-manis di kampus nonagama.

Dalam menangani radikalisme di kampus, pendekatannya harus berbeda. Yakni harus dengan pendekatan emosional, dengan pendekatan dialog yang berkala, terus-menerus, dan tidak terbawa emosi. Seperti itulah corak NU dalam beragama yang jika dipraktikkan, sudah dengan sendirinya punya efek deradikalisasi.

"Jauh sebelum pemerintah yang punya program deradikalisasi itu, NU justru sudah melakukannya," kata Mas Ulil, tegas.

Deradikalisasi di Pesantren

Dikatakan Mas Ulil, pesantren-pesantren di Indonesia dalam ajaran kitab kuning, sesungguhnya sudah mengandung deradikalisasi. Semua orang yang pernah belajar di pesantren NU, ketika ngaji fiqih, pasti diujungnya akan mengaji tentang jihad (perang). Hampir semua kitab fiqih terdapat hal itu.

Dalam Fathul Mu'in misalnya, jihad dihukumi fardhu kifayah dan harus dilakukan minimal setahun sekali. Karenanya, setiap tahun harus jihad (dalam arti perang). Kalau tidak ada, maka seluruh orang yang berada dalam satu wilayah (katakanlah, Indonesia), akan menanggung dosa.

Pertanyaannya kemudian, "Kenapa santri di pesantren NU yang pernah ngaji jihad justru tidak pernah atau tidak tertarik dengan jihad? Sementara orang-orang yang tidak pernah ngaji Fathul Mu'in justru sangat tertarik untuk melakukan jihad?"

Jawabannya adalah karena ada peran sentral kiai yang sangat luar biasa. Para kiai di pesantren itu tidak hanya memiliki keahlian membaca kitab kuning, tetapi juga lihai membaca kondisi sosial-politik yang sedang terjadi.

Menurut Mas Ulil, kitab itu ada dua jenis. Pertama, kitab yang tertulis dan berwarna kuning. Kedua, kitab yang tidak tertulis. Yaitu sebuah kitab yang oleh KH Sahal Mahfudh disebut sebagai konteks sosial, yakni gabungan antara kitabun-maktubun dengan kitabun ghairu maktub.

Jadi, para kiai di pesantren itu sudah sangat memahami bagaimana membaca kitab. Itulah sebabnya santri Nahdlatul Ulama tidak pernah jihad, sekalipun pernah mengaji tentang jihad. Pengajaran yang telah dilakukan oleh kiai di pesantren itu, dalam tradisi tasawuf, disebut hikmah atau kebijaksanaan.

Gus Dur pernah menulis dengan mengutip pernyataan KH Ali Maksum Krapyak, "Sing bener durung mesti apik." Sebuah falsafah jawa yang disebut sebagai hikmah. Artinya, orang yang benar dalam pembacaannya terhadap teks kitab kuning, belum tentu baik saat dipraktikkan di lapangan.

Kebijaksanaan Melawan Radikalisme

Dalam Al-Quran dijelaskan, barangsiapa yang diberikan kemampuan membaca kitab yang tertulis sekaligus kitab yang tidak tertulis, maka dia akan mendapat kebaikan yang berlimpah dari Allah.

Itulah ilmu yang perlu dirawat dalam khazanah keilmuan dalam NU. Oleh karena ilmu yang dimiliki para kiai di pesantren itu, yakni kebijaksanaan, maka Nahdliyin tidak perlu khawatir sekalipun NU dikecewakan dalam politik. Sebab, melawan radikalisme itu bukan semata-mata karena politik.

"Komitmen kita dalam radikalisme bukan karena politik. Kalau dikecewakan, kemudian marah sebentar, itu merupakan hal yang wajar. Tetapi jangan marah yang terus-menerus dan membabi-buta," kata Mas Ulil.

Terakhir, Pengampu Kopdar Ihya' ini mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama adalah partner pemerintah secara ideologis, yang setia melawan radikalisme. Maka, jangan pernah sesekali mengecewakan teman yang baik dan punya prinsip yang matang secara ideologis, untuk menghadapi radikalisme.
Politikandalan.blogspot.com

Friday, November 1, 2019

Kontroversi anggaran Lem Aibon DKI sebesar 82 miliar


Kontroversi anggaran Lem Aibon DKI sebesar 82 miliar, yang diplesetkan meme James Bond, membuat saya terkenang jaman ketertutupan anggaran masa sebelum Jokowi menjabat Gubernur DKI. Waktu itu saya masih menjadi direktur di Perkumpulan Prakarsa, kami diminta membantu Jokowi/Ahok sebagai gubernur/wagub terpilih DKI turut menyisir draf anggaran APBD yang dibuat pemerintahan sebelumnya.

Secara pro bono alias sukarela, kami diminta memelototi puluhan ribu item usulan program/kegiatan & anggaran yang janggal, markup atau tidak masuk akal. Benar-benar kami dibuat geleng2 kepala dengan penggunaan dana sekitar 40-an triliun waktu itu, yang mencakup sekitar 60-an ribu item.

Karena kejadian sudah cukup lama tahun 2012/2013, saya tidak terlalu ingat secara detail. Namun ada beberapa hal yang benar2 saya ingat, ada anggaran untuk membantu beberapa turnamen golf. Nilai bantuan tiap turnamen golf tidak kira2 sampai milyaran rupiah. Lalu, pengadaan untuk seragam nilainya juga beberapa miliar. Renovasi sebuah gedung pemerintahan nilainya juga puluhan miliar, belum lagi pengadaan mobil dinas. Ah Maftuchan yang sekarang jadi direktur Perkumpulan PRAKARSA mungkin lebih paham detailnya, karena yang memelototi draf anggaran dari hari-kehari.

Dari apa yang saya perhatikan anggaran waktu itu, saya tidak bisa melihat arah yang jelas akan kemana DKI dibawa. Puluhan ribu item anggaran seakan2 tinggal dimasuk-masukkan saja berdasarkan “wangsit”. Lalu khusus anggaran bantuan turnamen2 golf yang nilainya miliaran, sangat jelas terlihat modusnya. Bantuan diberikan untuk turnamen, namun pemberi bantuan akan dapat persenan yang sangat besar untuk jadi bancakan para oknum pemerintah.

Anggaran yang diketok palu telah berubah drastis karena pembersihan besar-besaran. Yang ekstrem, Ahok waktu itu yang menjadi wakil gubernur mengambil tindakan “kejam”. Anggaran proyek PU (pekerjaan umum) dipotong 25 atau 30 persen, namun diminta hasilnya tetap sama. Bisa dilihat di akun youtube pemprov DKI (saya tidak tahu sekarang, apakah masih atau sudah di-takedown pemprov DKI), Ahok bersuara keras dalam rapat waktu itu, yang tidak sanggup pejabat PU untuk segera mundur. Tidak ada pejabat PU DKI yang mundur.

Menurut perkiraan kami, markup proyek PU lebih dari 25/30 persen jadi proyek akan masih bisa berjalan dengan output yang baik, asal proyek dibersihkan dari penjatahan oknum2. Pengamatan saya selama pemerintahan DKI 2012-2017, anggaran PU yang dipotong signifikan atau anggaran2 lain dibersihkan tetap membuat berbagai proyek infrastruktur tetap berjalan baik, bahkan kebersihan sungai2 atau infrastruktur justru jauh lebih kinclong.

Tampaknya, waktu itu Jokowi/Ahok lalu bertekat membangun sistem agar penganggaran lebih terbuka dilihat oleh publik. Tak ada cara lain, sistem penganggaran lalu dibuat dengan elektronik (e-budgeting) dan terbuka untuk diakses publik. Artinya, setiap mata masyarakat bisa memelototi angaran DKI, kemana uang pajak yang mereka bayarkan dipakai pemerintah atau dianggarkan. Ini akan membuat markup atau penyelewengan anggaran bisa diantisipasi.

Ada yang telah kena batunya dengan sistem e-bugdeting, yaitu kasus penyusupan anggaran pengadaan UPS (power supply) senilai 6 miliar untuk satu sekolah. Jelas ini tidak masuk akal, mana ada sekolah yang pakai UPS senilai 6 mobil mercy baru. Beberapa anggota DPRD DKI, pejabat DKI & swasta bolak-balik diperiksa waktu itu, untuk memeriksa kongkalikong. Pejabat DKI lalu divonis 6 tahun. Namun saya agak heran, modus penyusupan anggaran berdasar berita yang saya ikuti tampaknya berasal dari satu komisi di DPRD DKI. Saya tidak terlalu mengikuti, apakah akhirnya ada anggota DPRD yang masuk bui juga setelah itu. Kalo melihat modusnya, mereka seharusnya justru yang kena duluan.

Kasus lem Aibon tampaknya justru menjadi titik balik transparansi anggaran publik. Dari berita yang saya ikuti, gubernur Anies justru menyalahkan sistem e-budgeting. Akses publik pada draf anggaran DKI juga sudah tidak bisa lagi. Kini pembahasan anggaran sudah tertutup lagi. Gelap gulita. Mata publik tidak bisa lagi memelototi anggaran. Apakah ada transaksi di belakang, markup atau ada penyelewengan anggaran, kita sudah tidak bisa antisipasi lagi. Di abad disrupsi teknologi ini, kini kita justru kembali ke jaman kegelapan.

Saya heran kenapa e-budgeting yang disalahkan. Jumlah anggaran yang keluar adalah penjumlahan antara banyaknya barang dikalikan harga per satuan, sesederhana itu. Apa yang salah? Bila tidak ditemukan, jelas ini akan sah jadi anggaran. Bukankah kita seharusnya bersyukur anggaran yang tidak masuk akal dihapuskan? Bukankah anggaran justru bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih produktif?

Saya juga berharap gubernur Anies tetap membuka akses pada draf anggaran DKI, agar bisa dipelototi oleh publik. Masyarakat (terutama DKI) tentu berkepentingan, untuk apa uang pajak mereka dibelanjakan. Lebih dari itu, saya juga sangat berharap gubernur Anies membuka penggunaan dana operasionalnya untuk apa saja seperti ini http://ahok.org/wp-content/uploads/2015/03/Lap-Dana-Penunjang-BTP-Jan-Des-2014.pdf. Bahkan, gubernur sebelumnya juga telah mengembalikan tunjangan operasionalnya hampir 5 miliar pada negara http://ahok.org/tentang-ahok/kenapa-ahok/laporan-pengembalian-sisa-tunjangan-operasional/. Ini pasti akan sangat luar biasa, bila dilakukan lagi oleh gubernur DKI saat ini.

Saya sangat berharap, apa yang sudah baik di masa lalu perlu kita teruskan. Jangan kita justru kembali lagi ke jaman gelap. Pemerintahan yang tertutup, gelap gulita dan masyarakat hanya jadi penonton, seharusnya sudah kita tinggalkan jauh-jauh. Tapi kok ini arahnya malah berbalik lagi, kita justru mundur jauh....😞😞😞

FB: Setyo Budiantoro

MMD. "SEKARANG SAYA MENKOPOLHUKAM, SAYA TANTANG KALIAN..."


MMD. "SEKARANG SAYA MENKOPOLHUKAM, SAYA TANTANG KALIAN..."
politikandalan.blogspot.com
Penampilan Mahfud MD sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Kabinet kedua Jokowi di acara ILC dengan tajuk “Kabinet Indonesia Maju Yang Menangis dan Tertawa", sungguh sangat memukau sekali.

Mahfud MD muncul sebagai pembicara kedua setelah Hendri Satrio yang panjang lebar menguraikan analisa cara Jokowi memilih menteri. Lalu Karni Ilyas meminta Pak Menkopolhukam untuk menanggapi analisis Hendri Satrio. Dengan santai Mahfud MD mengatakan, “Itu analisis Hendri Satrio. Namanya analisis, tentu orang lain juga memiliki analisis yang lain, Saya tidak akan membahas itu” hahahaaa belum apa-apa sudah memukul, memang tidak penting juga sih analisis Hendri Satrio ini. Apalagi isi analisa dia tidak ada yang istimewa, sangat standar dan kita sendiri sudah sering membaca atau mendengarnya.

Pada malam itu Mahfud MD lebih tertarik untuk menjabarkan tujuan yang digariskan untuk mencapai visi yang ditentukan oleh Presiden, salah satunya adalah Deradikalisasi, yang akan dioperasionalkan oleh pemerintah untuk lima tahun ke depan, untuk menjamin jalannya pemerintahan secara baik dalam rangka menuju kemakmuran sesuai dengan tujuan Negara.

Sebuah kata pembuka yang sangat sophisticated, determined, formal, tapi santai dalam waktu yang bersamaan. Aura Mahfud MD sebagai sosok Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan begitu memancar disokong oleh gelar dan keahlian yang dia miliki. Setiap kata yang dia ucapkan seakan menjadi sebuah hukum yang menentukan. Lalu Mafhud MD melanjutkan…

“Saya akan bicara hubungannya Deradikalisasi itu dengan persoalan agama yang sering disalahpahami” Saya langsung tersenyum. Sungguh sebuah ancang-ancang yang kuat. Apalagi kalau kita melihat orang-orang yang hadir dan duduk sebagai tokoh pembicara di acara di ILC malam itu. Ada Haikel Hassan PA 212, Agus Subagio Pengamat Kebijakan Publik, Akbar Faizal Nasdem, Fadli Zon Gerindra, Gazali Effendi Pakar Komunikasi Politik, Inaz Nazrulah Zubair Hanura, Ngabalin tentu saja, Kapitra Ampera PDI Perjuangan, Bambang Harimurti wartawan, Fuad Bawazair, dan Salim Haji Said yang nanti akan menjadi The Wrapping up.

Mahfud MD selain seorang Pakar Hukum Tata Negara yang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, juga seorang yang dikenal sangat menekuni agama Islam. Tanpa basa basi, Mahfud MD memulai mimbarnya dengan mengungkapkan keberatannya terhadap sekelompok orang yang memplintir pernyataannya tentang kata Kafir. “Saya tidak pernah mengatakan dilarang mengatakan kafir. Yang saya bilang adalah kita tidak boleh mengkafir-kafirkan orang lain atau bersikap takfiri!”. Setelah merasa puas dengan protesnya, Mafhud MD mulai masuk pada inti pemaparan tentang Khilafah dan sistem Khilafah, yang dia kupas dari sisi agama Islam.

“Di dalam Islam, ada ajaran tentang Khilafah. Nanti saya bacakan dalil-dalilnya. Tapi di dalam Islam itu tidak ada ajaran tentang Sistem Khilafah!”

See? Kalian lihat perbedaannya bagaimana dulu Wiranto sebagai Mekopolhukam dan sekarang Mahfud MD menjabat posisi yang sama menyampaikan isu yang maha penting ini? Siapa di antara keduanya yang lebih mengena akal dan pikiran kita? Saya berani mengatakan Mahfud MD. Wiranto juga bagus, namun status dia yang seorang Jendral TNI dengan sejarah yang agak kelam di masa lalu, menghalangi seluruh keilmuannya tentang politik hukum dan keamanan. Wiranto sebagai Menkopolhukam sepertinya lebih bermanfaat ke dalam memberi masukan pada presiden dan para menteri yang ada di bawahnya, daripada ke luar memberikan penjelasan pada rakyat Indonesia.

Panjang lebar, dengan melantunkan beberapa kutipan ayat dari Kitab Suci Al-Quran, Mahfud MD sangat lancar mengupas dan menguliti apa itu Khilafah dan apa itu sistem Khilafah. Mahfud MD seperti sedang mengajari orang-orang yang duduk di depannya, terutama si utusan dari PA 212. Hingga kemudian dengan lantang Mahfud MD berkata, “Jadi Khalifah itu, Khilafah itu, di dalam khasanah Islam, ADA. Tetapi tidak ada sistem pemerintahan di dalam Islam itu. Sistemnya Bebas berdasarkan pilihannya sendiri sehingga Negara kita Negara Republik Indonesia ini sistem pemerintahannya sudah sesuai dengan Islam. Karena Islam Tidak Mengajarkan Sistem. Coba saya tanya yang suka ngajak-ngajak ke Khilafah itu, sistemnya seperti apa? Saya mau ikut kalau ada. Sekarang saya jadi Menkopolhukam, kalau ada yang punya dalil Al Quran dan HAdist bahwa Sistem Pemerintahan itu ada menurut Islam, saya akan ikut dan saya akan mengkampanyekannya!!”

Kalau sudah begini, dengan seluruh keilmuannya yang dimiliki oleh Mahfud MD, siapa yang berani menentang? wkwkwk,..

Setelah itupun Mahfud MD masih terus memaparkan dalil-dalil Islam tentang sistem pemerintahan yang berbeda yang sah dan sudah sesuai dengan Agama Islam dan dengan penekanan suara, Mahfud MD menyatakan bahwa sistem pemerintahan yang dijalankan di Indonesia sekarang sudah sangat sesuai dengan ajaran Islam. “Oleh karena itu jangan mengkafir-kafirkan orang karena berbeda cara bernegara!”

Sekarang kita mulia melihat benang merah antara protes Mahfud MD terkait pernyataannya tentang kata Kafir yang diplintir oleh sekelompok orang dan Khilafah. selanjutnya akan kemana MAhfud MD membawa kita? Itu datang setelahnya,...

Ibarat seorang peselancar yang sangat professional, berdiri tegak di atas papan selancar dan meluncur dengan tenang melewati ombak besar yang menghadang. Mahfud MD masuk ke ranah pembicaraan tentang radikalisasi dengan sangat luwes tanpa memotong benang merah tadi…

“Kenapa sekarang kita di sini ada gerakan kofar kafir? Kita sudah hidup nyaman-nyaman selama puluhan tahun rukun beragama, lalu sekarang muncul kaum-kaum takfiri itu yang selalu ingin mengkafirkan orang. Dan Saudara Itulah Yang Disebut Radikal!! Tetapi jangan salah paham ya, kalau kata radikal seakan-akan kita menuduh orang Islam radikal. TIdak! Orang Islam Justru Tidak Radikal Di Indonesia Ini!!” Jelas sekali yach,.. lanjut,...

“Ada seorang tokoh baru kemarin bilang nich ‘Umat Islam tersinggung karena pemerintah menuduh orang Islam radikal!’, pemerintah yang mana yang nuduh? Pemerintah tidak pernah bilang orang Islam itu radikal. Tapi Ada Orang Islam Yang Melakukan Gerakan Radikal Itu Pasti!! Dan sudah banyak. Melalui dunia pendidikan,..” Hasan Haekal mesem-mesem nggak enak duduk.

Ini catatan kedua untuk saya, setelah mencatat tentang perbedaan antara Khilafah dan sistem Khilafah, sekarang tentang perbedaan antara radikal dan gerakan radikal.

Kemudian ini yang menarik, Mahfud MD menantang para pembuat hoax! hahahaaa…

“Saya Islam, maksudnya, saya dan anda yang di medsos yang selalu membuat ‘hit and run’, nyerang lalu lari menghilang, ketika ditanya mana dalilnya, ayo ketemu, tidak ada. SAYA TANTANG KALAU BENAR ANDA MENEMUKAN SATU SISTEM YANG DIAJARKAN PERSIS OLEH YANG ALQURAN, ALHADIST, TENTANG KHILAFAH, SAYA AKAN JADI PENGIKUTNYA…”

Sampai akhirnya, Mahfud MD menutup mimbarnya yang berdurasi hampir setengah jam itu dengan sebuah penjelasan tentang pembubaran HTI dimana saat ini kita semua masih melihat pentolan-pentolannya bebas berkeliaran, berbicara dan berkumpul menyampaikan dalil-dalil mereka. Tidak seperti dulu waktu PKI dibubarkan orang-orangnya ditangkap dan dihukum. Dan penjelasan ini menjadi catatan saya yang ketiga bahwa pemerintah sekarang sudah sangat baik karena HTI dibubarkan Hanya Dari Sudut Hukum Administrasi Bukan Dari Sudut Hukum Pidana. Kalau HTI dibubarkan dengan sudut hukum pidana, jelas, sudah ditangkapi mereka semua. Di dalam hukum Administrasi, tindakan hukum itu diambil sebelum ke Pengadilan. Kalau di dalam hukum pidana, kita bawa ke pengadilan dulu baru dihukum.

Pembubaran HTI dari sudut Hukum Administrasi, sama halnya ketika pemerintah membubarkan sebuah perusahaan yang membakar hutan. Perusahaannya dibubarkan, tetapi orang-orangnya tidak dihukum, hanya perusahaannya saja sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan usaha.

Paham di sini, kawan-kawan?

Menohok, mengena, tepat sasaran, pas, menyentil, mencubit, perih, malu, menjadi tolol, itu adalah impact dari kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Mahfud MD terhadap kelompok pengusung khilafah, kelompok radikal, kelompok yang hobi mengkafir-kafirkan, kelompok takfiri dan kelompok ormas berbasis agama Islam.

Lucunya, orang-orang yang hadir di acara ILC itu mulai terlihat sibuk membuat oretan-oretan di kertas mereka masing-masing. Saya pikir mereka sedang menulis pertanyaan untuk Menteri Menkopolhukam, ternyata bukan. Mereka mencatat rencana isu-isu yang akan diserangkan pada pemerintah yang baru, setelah isu khilafah dibabat tuntas oleh Mentri Menkopolhukamnya, tanpa meninggalkan celah sedikitpun juga.

Dan benar saja, setelah Mahfud MD selesai berbicara dan pergi, orang-orang itu mulai mengalihkan isu pembicaraan dari isu “mengapa susunan kabinet sekarang dibentuk seperti mau berperang dengan khilafah” ke isu ekonomi dan isu lain.

Salam Indonesia Satu, Salam Bhineka πŸ’ž
Semangat Erika Ebener ✍
Politikandalan.blogspot.com

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)