Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Friday, February 28, 2020

Waspada Rancangan Undang-Undang KADRUN !!!


Waspada Rancangan Undang-Undang KADRUN !!! 

Thursday, February 27, 2020

UNTUNG MASIH ADA CINA.


Tulisan Iyyas Subiakto

Saya ingat tahun 60an ada PP 10 kalau nggak salah, yg mengharuskan keturunan Cina Indonesia harus balik ke Tiongkok. Saya dengar sayup2 ibu saya tanya ke kakek saya apa bapak juga harus pulang ke Tiongkok. Kakek saya yg mualaf dua jenjang diatasnya, malah nanya balik, pulang ke Tiongkok mana, wong aku ini taunya Indonesia, ya lebih baik mati disini daripada dipaksa ke Tiongkok.

Sisa dari kejadian PP 10 mungkin masih ada di Medan, tepat nya daerah Pulau Berayan. Disana ada satu komplek yg di huni keluarga keturunan yg tidak sempat di pulangkan. Mereka sampai thn 90an masih gak punya KTP dan identitas apa saja, mereka stateless. Tapi dasar orang Cina, makin di kurung makin produktif. Mereka produksi sapu, keset kaki, jualan makanan, dll. Akhirnya daerah itu menjadi sentra ekonomi yg menggerakkan ekonomi lingkungan.

Sekarang ini setelah sekian abad sejak bangsa Cina hadir disini, masih saja ada mulut bau yg memghujad Cina. Konon Wali Songo 3 diantaranya orang Cina, Laksamana Ceng Ho Cina, di Jatim ada beberapa masjid Ceng Ho, bentuknya seperti Kelenteng, warnanya merah hijau. Jadi memang Nusantara ini dibentuk bersama dgn bangsa Cina, lha kok sampean mendadak Arab.

Agama mayoritas di Indonesia kebetulan lahir di Arab, terus orang kita yg ndablek mendewakan Arab, wong sekarang bangsanya sendiri di bom, kerjasamanya dgn Amerika pula, kok kita malah mengkultuskan Arab, hadirnya mereka disini justru menebar bibit kerusuhan, lihat mulut dan prilaku Rizieq, Haikal Hasan, Yusuf Martak, sampai Arab palsu yg lain, nampil jadi Habieb teriak di pinggir jalan, menghasut masyarakat yg mendewakan agama tapi lupa Tuhan, mereka mau memecah belah dan memgganti pancasila. Apa yg sudah dibuatnya utk Indonesia, selain jualan muka Arab dan ayat, coba cek siapa mereka, apa usahanya yg bisa memperkerjakan warga, coba lihat orang Cina, jutaan warga Indonesia kerja di perusahaan Cina, ingat itu jutaan perut di nafkahi orang Cina. Belajarlah sampai ke negeri Cina kata Rasullulah , bukan ke negeri Arab. Kalian hanya di wajibkan naik Haji, setelah itu pulang. Titik.

Stigma orang Cina seolah merusak Indonesia adalah ke tololan akut, lihat saja Jakarta di benerin orang Cina, skrg di rusak Arab. Cinanya yg di bilang kafir kelakuannya mulia, lha yg di muliakan tuan Arab nya akhlaknya seperti kera, ngerusak terus kerjanya. Kita ini memang, suka dgn yg bau agama, tapi lupa kelakuannya justru merusak agamanya.

Saya setuju apa yg di sampaikan oleh KH. Islamudhin, kita sesak nafas tanpa Cina. Kita sudah berenang di laut Cina, dari CD yg 10 rb dapat 3, hp 300 rb, peniti, obeng, oleh2 haji, semua bisa kita beli karena barang yg di buat Cina, coba beli barang buatan Amerika, sampai jontor kalian gak bs beli iphone, audio Bose, mobil Jeep, semua harganya selangit, yg bisa kalian lakukan cuma dahi berkerit. Mau beli barang Arab, ya cuma korma, sama hajar jahanam. Akhirnya yg di import budaya Arab yg bejad.

JADI SODARA2 JGN BESAR KEPALA DAN BENCI AMA ORANG CINA, KALAU PAPER CLIP SAJA KITA TAK BISA MEMBUATNYA. KERJA SAJA BAIK2 AGAR GAK ASAL NGEMBIK.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3055308147826565&id=100000422280327

Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan


Peresmian Ruang Sistem Informasi (Media Center)
Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan

Sobat Hijau, Menteri LHK Siti Nurbaya, bersama Ketua Komisi IV DPR-RI dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, didampingi Wakil Menteri LHK, meresmikan penggunaan Ruang Sistem Informasi (Media Center) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL). .

Ruang Sistem Informasi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan memiliki fungsi utama yaitu ruang pameran (display) terhadap berbagai aktifitas dan capaian kinerja kegiatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dan pemantauan kualitas lingkungan yaitu:

(1) Sistem Pemantauan Kualitas Air Sungai Sungai secara real time (ONLIMO);

(2) Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan Dalam Jaringan (SPARING);

(3) Kualitas Udara Ambien (ISPU, Indeks Standar Polutan Udara) dan secara real time (AQMS, Air Quality Monitoring System);

(4) Sistem Pemantauan Emisi Industri Secara Otomatis, Kontinyu dan Terintegrasi (SISPEK);

(5) Sistem Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan Gambut, di berbagai lokasi seluruh Indonesia (SiMATAG-0.4m, Sistem Informasi Muka Air Tanah Gambut);

(6) Sistem Informasi Lahan Akses Terbuka (SILAT);

(7) Sistem Informasi Kualitas Air Laut (SIKAL); dan

(8) Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup (SIMPEL).
.

Data yang disajikan kepada masyarakat melalui sistem informasi pemantauan kualitas lingkungan hidup sebagai bagian dari inovasi, penggunaan teknologi, keterbukaan/transparansi dan akuntabilitas kinerja KLHK.

Sistem informasi ini diharapkan menjadi fasilitas yang lebih cepat, terintegrasi, real time, dapat dipercaya dan bertanggungjawab, sehingga dapat digunakan sebagai upaya pencegahan, penanggulangan, serta peringatan dini di bidang pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan.
.

Peresmian Ruang Sistem Informasi PPKL maupun sistem informasi pendukungnnya, diharapkan akan mendorong peningkatan berbagai upaya penurunan beban pencemaran dan kerusakan lingkungan di daerah maupun secara nasional.

šŸ‡®šŸ‡©šŸ‡®šŸ‡©šŸ‡®šŸ‡©šŸ™šŸ»✍šŸ»šŸ™šŸ»šŸ‡®šŸ‡©šŸ‡®šŸ‡©šŸ‡®šŸ‡©

BERKAT BANJIR, DENDAM KESUMAT ANIES KEPADA JOKOWI TERBONGKAR


Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi mati-matian mengendalikan banjir. Pengerukan sungai, penggalian dan pelebaran sungai, normalisasi waduk dan pembebasan bantaran kali dari rumah-rumah liar dilakukan secara membahana. Tetapi usaha Jokowi itu tidak maksimal. Ada satu kendala. Koordinasi, dukungan dan sinergi dari pemerintah pusat yang saat itu dikendalikan oleh SBY dan Demokratnya berjalan macet.

SBY dan Demokratnya berbeda haluan politik dengan Jokowi. Jokowi yang dari PDIP-Megawati merupakan lawan politik dari Demokrat-SBY. Jika SBY-Demokrat mendukung penuh Jokowi di DKI dan sukses, maka yang beruntung adalah Jokowi dan PDIP. Inilah intrik politik yang membuat DKI Jakarta menjadi korban.

Pengalaman Jokowi yang didera oleh intrik politik itu kemudian bersuara lantang. “Lebih mudah mengendalikan banjir dan membenahi kemacetan Jakarta bila dia menjadi Presiden”, ujar Jokowi dengan optimis lima tahun lalu, Februari 2014. Menurut Jokowi, seorang presiden akan mudah mengatur dan memerintahkan kepala daerah di kawasan Jabodetabek untuk bekerja sama.

Lalu mengapa setelah menjadi Presiden, Jokowi terlihat tak bisa berbuat apa-apa membenahi Jakarta?

Ternyata pembiaran banjir di Jakarta adalah bagian dendam kesumat Anies dan kaum kadrun kepada Jokowi. Dendam kesumat Anies dan kaum kadrun itu disebabkan oleh tiga hal. Pertama, pemecatan Anies dari kursi Menteri Pendidikan oleh Jokowi, kedua, gagalnya Jokowi dilengserkan lewat kasus Ahok dan ketiga pembubaran ormas HTI yang memukul impian pembentukan khilafah di Indonesia.

Saya tidak akan fokus mengulas tiga alasan dendam Anies dan pendukungnya di atas, tetapi saya fokus membahas dampak dari dendam Anies kepada Jokowi. Dendam kesumat Anies dan pendukungnya itu membuat pembenahan Jakarta terkendala. Jika tahun 2012-2014 kendala ada di pemerintah pusat, kini justru kendala ada di pemerintah Pemprov DKI.

Sejak tahun 2017, gubernur DKI Jakarta bukan lagi Ahok. Padahal ketika Jokowi naik menjadi Presiden, ia mengharapkan Ahok yang tetap menjadi gubernur. Ahok sangat loyal kepada Jokowi. Ketika Jokowi sukses menjadi Presiden, Ahok semasih gubernur DKI, pembenahan Jakarta dan pengendalian banjir sudah sangat terarah.

Dalam hal mengendalikan kemacetan, pembangunan MRT, LRT dan pengembangan bus Transjakarta, kebijakan three in one, penghapusan armada bus tua dan seterusnya sudah dimulai sejak era Jokowi dan diteruskan oleh Ahok. Hasilnya MRT, LRT, Transjakarta, sudah sangat dinikmati saat ini. Namun berhenti sampai di situ. Kebijakan Anies soal penanganan macet yang baru nol sama sekali. Anies hanya asyik dengan kebijakan ganjil-genapnya.

Terkait soal pendendalian banjir, kebijakan Jokowi-Ahok sudah dimulai ketika waduk-waduk dibangun, normalisasi sungai dan pemindahan penduduk dari bantaran sungai ke rumah-rumah susun dilakukan. Namun ada dua rencana besar yang baru dan bahkan dimulai di era Jokowi-Ahok. yakni normalisasi kali Ciliwung dan pembuatan waduk super raksasa di Pantai Utara Jakarta.

Rencana Jokowi-Ahok kala itu adalah meminjam dana besar dari World Bank. Lewat dana yang dipinjam dari World Bank, kampung-kampung kumuh di seluruh bantaran kali Ciliwung akan direvitalisasi total. Warga yang tergusur akan diberikan rumah murah dan lapangan kerja yang memadai. Dana dari World Bank ini akan dikucurkan lewat jaminan pemerintah pusat kepada Pemprov DKI.

Lalu apa yang terjadi? Belum sempat dana itu dicairkan, ternyata yang menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017 adalah Anis Baswedan, menteri pecatan Jokowi. Anies saat maju menjadicagub, aliran politiknya sudah berbeda total dengan Jokowi. Anies kemudian tidak lagi meneruskan progam Jokowi-Ahok, tetapi sebaliknya ia menghentikan normalisasi sungai dan menggantinya dengan naturalisasi sungai.

Selama dua tahun Anies menjadi Gubernur, normalisasi sungai dihentikan. Anies malah memangkas anggaran Rp 500 miliar untuk penanggulangan banjir dan mengalihkannya untuk program Formula E, ajang balap internasional. Anies dan pendukungnya paham bahwa setiap Jakarta banjir, maka pihak yang akan disalahkan adalah Jokowi sebagai Presiden. Inilah niat jahat Anies kepada Jokowi sebagai bentuk balas dendam.

Ketika program normalisasi total kali Ciliwung digagalkan dan dicuekkan Anies, rencana besar Jokowi yang kedua juga gagal total. Jokowi-Ahok sudah merencanakan program tanggul raksasa sebagai solusi total mengatasi banjir. Seiring dengan tanggul raksasa, maka program reklamasi Pantai Utara Jakarta juga akan dibangun besar-besaran.

Jokowi bermimpi bahwa ketika program kali Ciliwung berhasil dilakukan, maka air akan mengalir langsung ke waduk super raksasa yang ada pada proyek reklamasi. Dari sana akan dipompa oleh puluhan bahkan ratusan mesin pompa raksasa ketika musim hujan tiba. Namun ketika musim kemarau, air waduk akan diolah menjadi sumber bahan baku air bersih.

Lalu apa yang terjadi? Lagi-lagi terkendala oleh dendam kesumat Anies Baswedan. Anies selaku penguasa DKI dengan berlindung di balik Undang-undang otonomi daerah berhak membatalkan proyek reklamasi dan membuang ke tong sampah ide waduk super raksasa Jokowi-Ahok. Bukan hanya membuang ide pompa raksasa ke laut, Anies malah memunculkan ide super dungu bahwa air hujan itu harus dimasukkan ke bumi lewat vertical drainase atau lubang resapan. Hasilnya gagal total.

Lagi-lagi warga DKI Jakarta, menjadi korban dendam Anies dan kaum kadrun kepada Jokowi. Ternyata jika normalisasi kali Ciliwung, pembuatan waduk super raksasa Pantai Utara Jakarta sukses dan didukung total Anies, maka yang dipuji habis adalah Jokowi. Hal ini sama sekali tidak diterima oleh Anies dan pendukungnya.

Janji Jokowi bahwa pembenahan Jakarta akan lebih mudah ketika ia menjadi Presiden gagal ditepati. Ternyata janji Jokowi itu hanya bisa terlaksana bila Ahok yang tetap menjadi gubernur dan bukan Anies. Anies malah sengaja menghalangi janji Jokowi itu agar tidak pernah bisa ditepati untuk memuaskan dendam kesumatnya.

Jelas demi dendam kesumatnya kepada Jokowi, Anies rela membuat Jakarta tenggelam karena banjir. Anies tidak ingin membuat Jakarta bebas dari banjir. Anies bahkan senang jika Jakarta banjir karena ia bisa mengejek habis Jokowi. Anies mengejek Jokowi. Hanya Anies yang bisa mengatasi banjir jika ia menjadi Presiden tahun 2024 mendatang.

Jadi sekarang berkat banjir, dendam kesumat Anies kepada Jokowi terbongkar. Warga Jakarta dan seluruh rakyat Indonesia bisa melihat sendiri dampak dari dendam kesumat Anies dan pendukungnya itu kepada Jokowi. Jakarta tenggelam. Tragis kura-kura.

Salam Seword,
======================================

ANIES MAU DIGOTONG SIAPA?

DPRD DKI adalah miniatur dari DPR Pusat

Artinya, dinamika di DPRD DKI saat ini, bisa dijadikan acuan untuk kontestasi Pilpres 2024

Presidential Threshold adalah sebesar minimal 25% kursi di DPR

Jika Nasdem + PKS + PAN + Demokrat merapat, maka jumlahnya sudah mencapai 36.1% - sudah SAH

Atau opsi Demokrat + PKS + PAN juga sudah mencapai 25.9% (jika Nasdem balik kanan) - sudah SAH meski mepet

Secara chemistry, PKS - PAN - Demokrat memang lebih mudah menyatu. Nasdem bisa jadi "kambing congek" kalau mau nyelip di koalisi ini

PDIP sendirian saja sudah 22.3% - kurang dikiiit aja

Bila PDIP tetap "mesra" dengan Gerindra, maka duet maut ini akan menjadi 35.9% - sudah SAH

Kenapa kok tau-tau muncul kombinasi di atas?

Ya karena "Pansus Banjir" di DPRD DKI hari ini mulai diwacanakan oleh: PDIP, Golkar, Gerindra dan PSI

Pertama, dengan diwacanakan oleh jumlah kursi mayoritas, "Pansus Banjir" hampir pasti akan bergulir

Kedua, peta koalisi 2024 mulai terbaca. Menarik melihat Nasdem merapat kemana

Ketiga, sudah jelas, Anies akan merapat ke Parpol apa..šŸ¤­šŸ¤”

===================================

APAKAH ANIES MEMANG LAYAK DIKRITISI TERKAIT MASALAH BANJIR ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan jawablah dengan jujur. Dan saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sejauh pengamatan saya.

Apakah Anies melakukan normalisasi untuk mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies melakukan naturalisasi untuk mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies membuat biopori-biopori untuk mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies membuat taman-taman yang berfungsi sebagai resapan air dalam rangka mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies melakukan pengerukan sungai atau kali sehingga dapat menampung debit air lebih banyak ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies melakukan pengecekan terhadap pompa-pompa yang ada sehingga dapat berfungsi optimal untuk mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies menggunakan secara optimal 450 pompa yang ada untuk mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies melakukan pengecekan terhadap rumah pompa di waduk Pluit untuk mengatasi banjir ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies langsung mengambil tindakan cepat terhadap bendungan kali yang ada di Jakarta sehingga tidak sampai jebol ? Jawabannya adalah TIDAK

Apakah Anies memotong anggaran pengendalian air / banjir ? Jawabannya adalah IYA

Apakah Anies justru malah membeton taman di bawah jembatan Casablanca yang dapat berfungsi sebagai resapan air ? Jawabannya adalah IYA

JIKA SAJA JAWABAN PERTANYAAN DI ATAS ADALAH SEBALIKNYA MAKA ANIES TIDAK PANTAS DIKRITISI ATAU DINYINYIRI.

TAPI JIKA ITU YANG MEMANG TERJADI, TOLONG SADAR DIRI.

SADAR DIRI LAH BAHWA ANIES TIDAK BISA BEKERJA, MINIMAL YANG DIKERJAKAN UNTUK MENGATASI BANJIR MASIH SANGATLAH SEDIKIT

Jakarta Tambah Amburaduuuuuul.


Monday, February 24, 2020

Dulu Demonya Berjilid-Jilid, Sekarang Banjirnya Berjilid Jilid


Dulu Demonya Berjilid-Jilid Biar Jadi Gubernur, Setelah Jadi Gabener Banjirnya Berjilid Jilid

==========================
Karena, ternyata ada JK dibelakang semuanya itu. Begitu Monas nggak dikasih ijin, JK langsung lobby ke Istana. Semua orang2 dibelakang Formula E Indonesia, orang2nya JK. Dari ponakan sampe mantan Jubir JK ada di Formula E.
Semuanya, karena kepentingan bisnis . Kerajaan bisnis kekuarga JK dan kroni2nya dapat manfaat besar, dengan Wan Aibon jadi Gubernur. Apalagi, jika jadi Presiden tahun 2024
Orang2 dibelakang Formula E dan Jakpro, ternyata keluarga dan orang2nya JK. Makanya, Wan Aibon tetep pede nerabas aturan, karena ada JK yang akan pasang badan
Salah satu kroni nya JK, Sofian Wanandi juga dapet keuntungan dari berkuasanya Wan Aibon. Anaknya Sofian Wanandi, Franchis Wanandi jadi Ketua Panitia Penyelenggaraan Formula E

 https://majalah.tempo.co/read/laporan-utama/159783/lingkaran-kalla-di-balapan-formula-e.



Wednesday, February 19, 2020

Baru Sadar Dibodohi Formula E, Anies Mau Kambinghitamkan Jokowi?


Ninanoor
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/baru-sadar-dibodohi-formula-e-anies-mau.html]
Saya kira sekarang ini Anies sudah menyadari betapa bodohnya dia termakan omongan dari orang sales-nya Formula E. Bahkan dulu sesudah Anies mengumumkan bahwa Jakarta akan menggelar ajang balap Formula E, cara Anies mengungkap adanya biaya yang harus dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta seperti orang bodoh terkaget-kaget. "Ternyata perlu bayar untuk bisa jadi tuan rumah Formula E,” ucap Anies Sumber. Iya lah, masa gretongan?

Hitungan terakhir biaya total Formula E ini adalah sekitar Rp 1,6 triliun. Di dalamnya termasuk Rp 360 miliar commitment fee untuk satu kali balapan dan Rp 545 miliar untuk asuransi. Sisanya ya buat persiapan infrastruktur, biaya pelaksanaan, biaya sosialisasi dan lain-lain. Ini rinciannya saya rujuk dari artikel liputan6.com tahun 2019 Sumber. Sementara di tahun 2020 ini, dilansir cnnindonesia.com, Jakpro mengajukan anggaran Rp 934 miliar untuk persiapan infrastruktur (Sumber.) Artinya, angkanya bisa melebihi Rp 1,6 triliun.

Dengan modal segitu banyak, apakah ada jaminan balik modal?
Ada jaminan penontonnya banyak? Apakah pihak sponsor bayarnya ke penyelenggara Formula E atau ke Pemprov DKI? Yang ada Anies sendiri pernah bilang bahwa gelaran ini akan rugi selama 3 tahun pertama (Sumber.)
Sementara dia juga pernah mengatakan bahwa asumsi keuntungan ekonomis selama balapan Formula E mencapai Rp 1,2 triliun (Sumber)
Itu dia sebut dulu di tahun 2019, waktu awal-awal kesenengan jadi penyelenggara Formula E. Tapi sekarang, sudah ketahuan dan dibongkar oleh politisi PDIP, Gilbert Simanjuntak, bahwa anggaran biaya Formula E di Jakarta ini dua kali lipat dari Hong Kong Sumber. Kok bisa? Ini bahaya buat Anies kalau sampai rugi bandar.

Waktu pun berlalu, Anies pun mulai sadar bahwa keuntungan yang diasumsikan itu hanya mimpi yang dia buat sendiri.
Formula E bukan Asian Games. Asian Games pesertanya dari negara-negara yang dekat dengan Indonesia. Peminatnya banyak sekali, karena cabang olah raganya banyak. Banyak pengembangan bisnisnya, dari kuliner, suvenir hingga hotel-hotel sampai ke Palembang pun kecipratan untungnya. Sementara Formula E? Tidak ada jaminan, apalagi sekarang sedang ada masalah virus Corona.
Waktu sudah mepet, tiketnya saja belum dijual. Kerugian besar pun nampak nyata di depan hidung Anies.

Masalahnya, semua juga tahu bahwa Anies mau memanfaatkan Formula E ini sebagai legacy, peninggalan di dalam karir politiknya.
Modal buat 2024.
Iya kalau sukses dan mendatangkan keuntungan.
Kalau merugi, sepi penonton dan rugi bandar? Ya sama, akan jadi “modal” buat Anies, tapi modal kekalahan. Anies bukan pengusaha macam Erick Thohir dan Jokowi.
Anies tidak punya kemampuan berhitung untung rugi, proyeksi dan spekulasi. Bahkan saya nggak yakin Anies punya kemampuan menyisir anggaran macam Jokowi dan Ahok.
Penentuan skala prioritas dalam anggaran saja amburadul.
Nah ini mau spekulasi mencari keuntungan dari ajang balapan yang kurang populer, di tengah cuaca yang masih hujan dan masih adanya ancaman virus Corona.

Anies baru sadar ya? Betapa besar resiko kerugian ajang Formula E, sementara duit sudah disetor.
Tapi gimana caranya untuk menghindari kerugian merembet ke karir politik Anies?
Ya dengan mencari kambing hitam dong? Namun, untuk hal sebesar ini, tidak mungkin Anies menyalahkan anak buahnya seperti biasa. Karena idenya kan dari Anies sendiri. Lalu siapa lagi yang bisa disalahkan oleh Anies?
Siapa lagi kalau bukan pemerintah pusat.

Dalam skenario ini, pemerintah pusat harus jadi pihak yang membatalkan gelaran balap Formula E.
Anies akan nampak seperti “korban”. Jadi uang rakyat ratusan miliar hingga triliunan yang bakal hilang jika balapan batal, juga jadi “korban” akibat keputusan pemerintah pusat.
Nama Anies tetap terjaga, dan nama Jokowi yang akan jadi ternoda.
Anies aman, Jokowi nyungsep. Dalam mimpi Anies sih.

Apa indikasinya?

Bisa dilihat dari keukeuhnya Anies menetapkan Monas sebagai lokasi balap Formula E.
Dari melanggar Keppres tahun 1995 hingga membabat pepohonan di Monas. Ketika sudah mendapatkan izin dari Setneg, Anies langsung ketemu Presiden Jokowi. Alasannya buat memantapkan lokasi. Katanya sih antara Monas dan GBK.
Tapi pasca pertemuan itu? Tetap saja Monas. Dan tetap juga persiapan pembangunan infrastruktur tidak juga dimulai.
Padahal tanggal 6 Juni 2020 sudah sangat dekat. Malah yang jadi ramai adalah soal rekomendasi TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) yang katanya bohong, lalu dibilang salah ketik.

Soal kebohongan rekomendasi ini dibiarkan saja oleh Anies untuk mengalir dengan liar. Anak buahnya pun sibuk jadi bemper.
Seperti sengaja mengulur waktu agar soal lokasi balap di Monas jadi kisruh.
Memancing pemerintah pusat untuk menyalahkan Anies, dan tentu saja kemudian membatalkan acara Formula E.
Seperti harapan Anies. Oleh sebab itu, saya mendukung agar balapan Formula E ini terwujud pada awal Juni 2020. Soal akal-akalan Anies mencari kambing hitam, saya kira Presiden Jokowi sudah tahu kok.
Jokowi kok mau dikadalin?
Sekian dulu dari kura-kura!
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/baru-sadar-dibodohi-formula-e-anies-mau.html]
Y
=================

Dugaan pemalsuan itu terkuak setelah Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta membantah telah memberikan rekomendasi penyelenggaraan balap Formula E di kawasan Monas kepada Pemprov DKI. Padahal Rabu kemarin, Anies Baswedan mengaku telah mengantongi izim dari tim cagar budaya.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya DKI Danang Priatmojo bahkan menyebut balapan tersebut tak layak diselenggarakan di sekitar Monas. "Rekomendasi tidak pernah ada," kata Danang saat dihubungi Kamis 13 Februari 2020.

Ketua DPRD DKI mengatakan kecewa karena Pemprov DKI seolah sengaja menabrak aturan demi terselenggaranya Formula E di Monas.


"Saya akan memanggil dan saya hari ini masih punya palu. Kalau dia kan punya uang, saya punya palu. Kalau palu itu gak saya ketok, gak akan terjadi apa-apa," kata Prasetyo usai bertemu dengan Kementerian Sekretariat Negara, Kamis.

Rekomendasi tim cagar budaya yang diduga palsu ini ada di dalam surat Pemprov DKI Jakarta kepada Kementerian Sekretariat Negara. Adanya surat itu membuat Setneg memberi izin penyelenggaraan ajang balap Formula E di kawasan Monas.
https://metro.tempo.co/read/1307220/rekomendasi-formula-e-diduga-palsu-prasetyo-akan-panggil-anies

Kado Untuk Bapak dan Ibu guru.


Kabar gembira buat para guru.

PENTING, MOHON DISIMAK DAN BAGIKAN AGAR SEMUA TAHU.

MAHKAMAH AGUNG:
GURU TAK BISA DIPIDANA KARENA MENDISIPLINKAN SISWA,

BERIKUT ISI YURISPRUDENSI MA YANG BERHASIL KAMI KUTIP DI WEBSITE RESMI MAHKAMAH AGUNG.

TOLONG DISEBARKAN kepada BAPAK IBU GURU.

http://www.sinarberita.com/2016/08/mahkamah-agung-guru-tak-bisa-dipidana.html

Buat yg ber profesi Guru šŸ˜Š

Peraturan Pemerintah yg melindungi Guru dalam melaksanakan tugas nya adalah PP No. 74 tahun 2008

Hal ini perlu diindahkan oleh Murid/Wali Murid, kepolisian, kejaksaan, Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tinggi (PT)

Bunyi Pasal/Ayat tentang guru...

1⃣ Pasal 39 ayat 1.
"Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya,"

Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

2⃣ Pasal 40.
"Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing,"

Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja.

3⃣ Pasal 41.
"Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain,"

... tolong dibantu membagikan... supaya masyarakat paham.

Wow, Gaji Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama Dan Gaji Direksi BUMN, Silakan Simak Video ini.Anda Perlu Ketahui Supaya Jangan Malas Belajar dan Kerja.

Berapa Gaji Ahok

Gaji Komisaris Pertamina mencapai 47,23 juta dolar AS
Atau setara Rp.671 miliar per tahun.
Wow, Gaji Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama Dan Gaji Direksi BUMN,
Silakan Simak Video ini.Anda Perlu Ketahui Supaya
Jangan Malas Belajar dan Kerja.

Perhitungan Gaji di BUMN

SEMOGA YANG MULIA BAPAK PRESIDEN JOKOWI MEMBACA TULISAN INI


"SEHARUSNYA INI URUSAN SAYA.."
Kritikan buat Presiden Joko Widodo.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/semoga-yang-mulia-bapak-presiden-jokowi.html]
“Tuanku, madu yang Tuan makan tumpah di lantai,” kata penasihat raja.
Raja tidak menggubrisnya. Madu itu dimakan lalat. Lalu lalat dimakan cicak, seekor kucing datang dan memakan cicak itu, lalu kucing itu dikejar-kejar oleh anjing.
Raja hanya berkata, “Itu bukan urusan saya...”

Pemilik kucing emosi melihat kucingnya dikejar anjing lalu memukul anjing itu. Pemilik anjing marah dan bertengkar dengan pemilik kucing, masing-masing dibela oleh temannya.
Lalu, lewatlah sepasukan tentara. Setelah mendengarkan penjelasan mereka, sebagian tentara membela pemilik kucing dan sebagian lagi membela pemilik anjing.
Terjadilah pertempuran hebat.

Beberapa jam kemudian, sang raja dan penasihatnya berdiri di atas puing-puing kota yang hancur karena pertempuran itu.
Penasihat raja hanya tertunduk lesu kala sang raja berkata, “Seharusnya ini urusan saya”....

"Bukan urusan saya", nampaknya menjadi kalimat populer sejak Presiden Jokowi sering menjawab pertanyaan insan media perihal problem Indonesia. Menurutnya, persoalan daerah menjadi domain pimpinan daerah, bukan Presiden.

Sebagaimana yang pernah ia sampaikan dalam forum Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) tahun 2017, Jokowi meminta setiap permasalahan daerah tak diadukan kepadanya. “Jangan sampai persoalan-persoalan daerah dibawa ke saya, dikit-dikit saya, enggak lah,” ujar Jokowi seperti dilansir media-media nasional. “Nanti gubernur kerjanya apa, bupati, menteri, kerjanya apa? Ooh, ini ke menteri ya sudah selesaikan ke menteri, bupati selesaikan ke bupati, tidak semua di saya,” ucap Jokowi.

Menurut saya, apa yang diucapkan presiden Jokowi ada benarnya. Jangan semua urusan daerah harus diselesaikan oleh presiden...
Memang seharusnya presiden hanya fokus memikirkan dan melaksanakan hal-hal yang berskala nasional, yang berdampak pada kepentingan nasional ...

Namun tindakan Jokowi sendiri sering bertolakbelakang dengan apa yang diucapkannya.

Pernahkah anda mendengar nama waduk Godang ?
Saya yakin tak ada netizen yang tahu kecuali rumahnya di daerah situ..
Waduk Godang adalah waduk sangat kecil yang terletak di kabupaten Karanganyar. Luasnya tak sampai 100 ha. Bandingkan dengan waduk Gajah Mungkur yang luasnya 8.800 ha atau waduk Jatiluhur yang luasnya 8.300 ha.
Peresmian waduk Godang ini dilakukan oleh Presiden Jokowi sendiri ! šŸ˜Š

Suharto adalah presiden yang terbanyak membangun waduk. Namun beliau hanya meresmikan waduk-waduk besar saja. Waduk kecil diserahkan pada Gubernur atau bupati setempat. Ga diborong semua..

Indonesia sudah punya puluhan jalan underpass. Tapi Jokowi masih sangat ingin meresmikan setiap underpass. Underpass di Kabupaten Kulonprogo diresmikan presiden. Demikian juga underpass Kentungan, Jogja.

Belum lagi setiap ruas jalan tol yang rata-rata panjangnya kurleb 15 km, wajib diresmikan sendiri oleh presiden. Jadi pak Jokowi sibuk ke sana ke mari hanya untuk meresmikan setiap RUAS jalan tol. Pernahkan anda baca ada Menteri atau Gubernur yang pernah meresmikan sepenggal jalan tol di era Jokowi ? Kalau ada tolong saya diinformasikan.

Bolehkah presiden membagi-bagikan sertifikat tanah untuk rakyatnya ?
Sangat boleh...
Tapi kalau setiap kali ada pembagian sertifikat tanah kudu dilakukan sendiri oleh presiden, rasanya jadi aneh ...
Harusnya presiden cukup 1 atau 2 x membagikan sertifikat tanah secara simbolis saja. Selebihnya bisa dilakukan oleh Gubernur atau Bupati di masing-masing daerah. Sejak menjabat jadi presiden, sudah berapa puluh kali beliau keliling daerah untuk bagi-bagi sertifikat tanah ?
Wasting time banget kan...

Sementara kasus intoleransi agama yang sudah merebak kemana-mana malah dicuekin saja, beliau malah menyuruh pemdanya yang menyelesaikan padahal beliau sudah tahu, pemdanya sangat memihak pada kaum intoleran..

Bila ada 1 atau 2 kasus intoleransi agama di daerah, memang kepala daerahnya yang wajib menyelesaikannya. Namun kalau kasus intoleran ini sudah menjalar ke puluhan daerah, jelas pemerintah pusat kudu waspada dan harus bergerak cepat...
Jangan tutup mata dan bilang, "ini bukan urusan saya".

Gereja GKI Yasmin, Bogor dan HKBP Filadelfia, Bekasi sudah puluhan tahun punya izin yang lengkap. Bahkan gugatan sudah inkrach di tingkat Mahkamah Agung dan  dimenangkan mereka. Namun mereka tetap dilarang ibadah oleh pemdanya yang ketakutan karena ancaman kekerasan oleh kaum beringas. Akhirnya selama bertahun-tahun mereka setiap minggu beribadah di trotoar depan istana negara. Masa panjenengan cuekin terus, pakdhe... padahal panjenengan dibekali 450 ribu polisi dan 500 ribu tentara bersenjata lengkap untuk menegakkan keadilan dan ketertiban. Belum lagi dukungan dari puluhan juta umat NU yang sangat toleran. Masa panjenengan masih keder terhadap sekelompok kecil kaum beringas..??
Karena pemerintah melakukan pembiaran inilah, kaum beringas jadi semakin kalap melakukan persekusi terhadap rumah-rumah ibadah di banyak daerah..

Puluhan kasus intoleransi agama di Indonesia Barat kini mulai dibalas dengan intoleransi juga di Indonesia Timur. Bila terus dibiarkan tanpa solusi yang adil dan tegas, akan terjadi baku balas dan bukan hanya kota yang bakal luluh lantak..  negeri ini bisa hangus terbakar, pakdhe...
Jangan nanti setelah semuanya hancur lebur, baru panjenengan menyesal dan berkata,"Seharusnya ini urusan saya.."
Yahh... terlambat sudah ..

"Pakdhe, kritikan akan menguatkan panjenengan...
Puja-puji hanya akan menghancurkan panjenengan.."
Percayalah..
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/semoga-yang-mulia-bapak-presiden-jokowi.html]
#agoes_ibram

Bappenas Dorong Perguruan Tinggi Untuk Berinovasi Demi Menghasilkan Lulusan Terbaik

[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/bappenas-dorong-perguruan-tinggi-untuk.html]
Pemerintah Republik Indonesia, khususnya dalam hal ini melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memberikan keleluasaan kepada Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia untuk menjalin kerjasama dengan dengan berbagai pihak termasuk industri dan dunia kerja demi peningkatan kualitas pembelajaran.

“Kementerian PPN/Bappenas mendorong kepada Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia untuk bekerja sama dengan berbagai pihak terkait demi meningkatnya mutu pembelajaran di Indonesia,” ujar Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas, Dr. Hadiat M.A pada hari Selasa (18/02/2020).

Lebih lanjut Dr. Hadiat M.A mengungkapkan, apabila Perguruan Tinggi mau bekerja sama dengan pihak-pihak, diharapkan Perguruan Tinggi tersebut mampu menelurkan lulusan-lulusan terbaik yang bisa langsung beradaptasi dengan dunia kerja dan industri dan mampu menghasilkan karya yang inovatif..

“Saya berharap, dari kerjasama ini nantinya Perguruan Tinggi mampu memberikan lulusan-lulusan terbaik yang langsung beradaptasi dengan dunia kerja dan juga menghasilkan karya-karya inovatif,” tambah Dr. Hadiat M.A.

Selain itu, Dr. Hadiat M.A juga memberikan masukan tentang literasi perpustakaan. Baginya keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan Perguruan Tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses peningkatan literasi dan pemberdayaan masyarakat.

 “Adanya perpustakaan, baik perpustakan umum, perpustakaan Perguruan Tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses terbentuknya masyarakat dan lulusan literate dan pembelajar,” kata Dr. Hadiat M.A

Dr. Hadiat M.A juga menilai perpustakaan saat ini mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena perpustakaan bertugas mengumpulkan mengelola dan menyediakan pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari serta memperkuat kapasitas masyarakat pembelajar.

“Perpustakaan saat ini mempunyai peranan yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena bertugas mengumpulkan, mengelola dan menyediakan pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari serta memperkuat kapasitas masyarakat,” tutup Dr. Hadiat M.A
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/bappenas-dorong-perguruan-tinggi-untuk.html
Selasa 18 Februari 2020
Tim Komunikasi Publik
Kementerian PPN/Bappenas

Tuesday, February 18, 2020

Kalau Ndak Ketahuan Jadi Ndak Rencana Abas Korupsi Lem Aibon ?



Debat Panas Fahira Idris dan Ade Armando Soal Meme Joker Anies Baswedan
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/kalau-ndak-ketahuan-jadi-ndak-rencana.html]

Toleransi adalah tali pengikat,Tanpa ada toleransi Indonesia BUBAR.


Toleransi !!
Masih banyak orang tidak paham mengapa harus ada toleransi , mengapa  perlu ada pluralisme di Indonesia ?
Sebagian orang menjadi alergi dengan kata kata Toleransi dan Pluralisme karena banyak pihak membenturkan kata kata itu dengan paham agama dan diarahkan seolah bertentangan dengan agama.Padahal jelas sama sekali tidak bertentangan.

Orang asing melihat orang Indonesia itu meruoakan satu kesatuan etnis. Padahal bukan ...kita terdiri dari ratusan  macam suku . Orang Batak ,orang Bali, orang Menado , atau orang Papua merasa berbeda satu sama lain.
Orang luar melihat orang Jawa itu satu suku. Padahal bukan , suku Jawa terdiri dari berpuluh sub suku. Orang Jawa tengah merasa tidak sama dengan orang Jawa timur. Orang Banyumasan merasa diri bukan orang Jawa tengah .
Orang Jawa tengah Solo merasa tidak sama dengan orang Jawa Jogja atau Klaten. Orang Jogja merasa tidak sama dengan orang Gunungkidul atau Kulonprogo.
Arek Malang merasa berbeda dengan arek Suroboyo.,apalagi dengan orang Madiun atau Banyuwangi  Demikian pula sesama orang Sunda, orang Cianjur merasa tidak sama dengan orang Kuningan atau Lebak
Bahkan orang turunan Tionghoa Solo merasa beda dengan Tionghoa Medan dan Makassar.
Rumit bukan ? ... Kita sangat sangat sangat  Plural atau beragam .
Keberagaman jelas identik dengan perbedaan.  Gudeg Solo dengan gudeg Jogja saja sudah beda rasanya walau hanya berjarak 60 km.

Di Rwanda hanya ada dua suku besar, Tutsi dan Hutu, antara keduanya saling bantai sampai negaranya hancur.
DiYugoslavia hanya terdiri dari 5 sukubangsa, pecah perang saudara saling bantai dan Yugoslavia hancur .
Di Syria didominasi satu etnis Arab, dua aliran agama Syi'ah dan Sunni. Itupun perang saudara  hancur .
Di Indonesia ? Jangan ditanya betapa kompleksnya keragaman kita  Baik dari dimensi etnis, suku, agama dan lokasi..
Bicara Indonesia,bicara keberagaman atau pluralisme. Bicara pluralisme bicara Toleransi. Toleransi adalah tali pengikat .
Tanpa ada toleransi Indonesia BUBAR.
Jadi pihak atau oknum yang mulai mengotak atik masalah toleransi,itu seperti orang yg berupaya menggunting tali yang mengikat sebuah sapu lidi.
Kemungkinan besar dia agen asing yang membawa misi membubarkan Indonesia.

Harus ditindak tegas atau dimusnahkan   dikirim ke Wuhan.

Agenda AS di Indonesia (Politik)


By Babo EJB
[politikandalan.blogspot.com]
Tahun 2009, ABAS mendampingi SBY untuk menerima penghargaan dari Club Boston. Wikileak membocorkan, bahwa sebelum berangkat ke AS, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta mengirim pesan diplomatik ke ke Central Intelligence Agency (CIA), Defense Intelligence Agency, National Security Council dan Menteri Luar Negeri AS.

Apa isi pesan tersebut? Dalam file berkategori sensitive but unclassified (SBU) itu, Kedubes AS di Jakarta melaporkan tentang profil Anies. “Teman AS..,”

Mungkin tidak banyak orang tahu, apa itu Boston Club. Kalau anda mau riset lebih dalam lagi di google maka anda akan tahu bahwa club Boston adalah think thank pembaharuan AS dalam rangka New world order era yang dibiayai oleh konglomerasi Yahudi, yang salah satunya Rotchild, mitra Hashim Djoyohadikusomo dan Carl Icahn, pemegang saham utama Freeport McMoran.

Boston Club adalah club sosial yang paling bergengsi di AS. Tidak mudah menjadi membersnya. Hanya orang tertentu, dan paling elite di AS yang bisa jadi members. Mereka adalah para politisi, pengacara Top, pengusaha papan atas.

Akses ABAS ke Boston Club, tentu tidak datang begitu saja. Itu bukan karena koneksinya dengan elite politik. Tetapi memang sudah dipersiapkan AS sejak lama. Ia adalah salah satu alumni dari program AFS yaitu pertukaran pelajar antar bangsa dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.

Setamat dari UGM, dia mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di University of Maryland, College Park (USA). Kemudian mendapat beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow untuk meraih gelar doktoralnya.

Artinya sejak SMA dia memang sudah qualified dalam program binaan antar bangsa AS.

Bulan April 2018, ABAS berkunjung ke AS sebagai pembicara pada acara Annual Global Conference 2018 yang dilaksanakan di Los Angeles. The Global Conference merupakan pertemuan para pemimpin dan tokoh penting dari seluruh dunia untuk bersama-sama mencari solusi bersama terhadap permasalahan dan isu global seperti pasar finansial, industri, kesehatan, pemerintahan dan pendidikan melalui 150 diskusi panel.

Jadi memang Anies itu anak emas Elite politik AS. Tahun ini pengaruh AS semakin besar terhadap indonesia. Itu tanda semakin akomodatif nya Indonesia terhadap politisasi agama, dan karena itu terkesan pemerintah tidak bisa tegas kalau sudah menyangkut kelompok islam, termasuk tidak bisa tegas terhadap ABAS.

Dari dulu AS menggunakan ARAB menyebarkan paham wahabi ke seluruh dunia bertujuan memecah belah umat islam, dan sekaligus menjadi pressure terhadap pemerintah yang bukan golden boy AS.   Belakangan setelah perang dingin, bukan hanya Paham Wahabi, AS juga berada dibelakang Ikhwanul muslimin, untuk tujuan sama.

Menciptakan radikalisme islam untuk menggoyang pemerintah yang tidak bisa menerima agenda AS. Lihatlah bagaimana petinggi PKS terbang ke Washington bertemu dengan elite politik AS untuk meminta dukungan dari AS menekan China dalam kasus muslim Uighur.

Makanya kalau sekarang setiap pembahasan partai tentang calon presiden dan wapres maka selalu nama Anies disebut, itu bagian dari agenda orang yang ada di Boston club untuk menanamkan pengaruh dan hegemoni AS di seluruh dunia.

Bisa saja, bagi para patron Islam menganggap kini adalah era kebangkitan umat. Niat untuk menjadikan ABAS sebagai presiden (atau Wapres  2024), untuk melancarkan agenda mereka mengubah UUD 45 yang bersyariah. Namun mereka lupa, ketika rezim pro AS berkuasa, yang pertama kali disikat adalah radikalisme islam itu sendiri. Mengapa?

Karena AS sangat paham radikalisme, dia creator nya dan itu hanya diperlukan AS untuk mencapai tujuannya, bukan untuk menjalankannya. Lihatlah fakta sejarah. Soeharto berhasil menjatuhkan Soekarno berkat dukungan Islam, namun setelah Soeharto berkuasa, gerakan islam di bungkam secara sistematis.

Lihatlah fakta Turki, Erdogan yang IM berhasil mengalahkan partai sekular, namun setelah dia berkuasa, pendukung militannya lebih dulu ditangkapi lewat kudeta direkayasa. Ribuan ulama IM ditangkap, yang lari keluar negeri, diburu.

Muhammad Morsi yang IM, berhasil menang pemilu menjatuhkan Mubarak, juga akhirnya dijatuhkan oleh AS lewat kudeta Militer. Berteman dengan srigala, hanya memberikan cara efektif dan efisien memangsa anda. Percayalah!
[politikandalan.blogspot.com]

TANGGAPAN DARI JMG

Langkah persiapan Abas sangat tepat.Saya tdk tau apakah ada perjanjian tertentu atau bargaining antara Abas dgn AS.Tetapi,sejauh saya ketahui  mulai setelah Soekarno dari Jokowi jadi presiden semua atas "restu" dari AS.Betuuul termasuk Jkw.Bedanya dipersimpangan Jokowi ambil atau pilih jalan penuh resiko.Jokowi seperti dihadapkan dua pulihan pilihan: mau mati bersa rakyatmu atau engkau dan kronimu mau aman hidup 10 turunanmu ?? Jokowi tetap pilih biar mati bersama rakyat, tidak ikut AS.Anda lihat dengan lihainya menghabisi/melibas free port,proyek tambang,antek radikalume di Indonesia.Siapa presiden seberani Jokowi sebelumnya,TIDAK ADA !!! Walau mereka dilatih meliter tapi nyali pres sebelumnya banci.Satupun tdk berkutik berhadapan AS, kecuali Soekarno dan Jokowi menghabisi mengusir virus AS dari Indonesia.Save Jokowi !!!

Friday, February 14, 2020

Ini Daftar Menteri Kabinet Indonesia Maju dan 7 "Warning" Jokowi.


PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’aruf Amin telah mengumumkan susunan menteri dalam kabinet yang akan membantunya menjalani roda pemerintahan periode 2019-2024. Mereka mengumumkan di Istana Negara, Rabu pagi (23/10).
“Pagi hari ini saya ingin mengenalkan Kabinet Indonesia Maju yang dalam jangka pendek ini, dalam lima tahun ke depan, kita akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, serta pemberdayaan uasha mikro,” ujar Jokowi.
Berikut nama Menteri yang diberi nama Kabinet Indonesia Maju:
  1. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan: Mohammad Mahfud

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Airlangga Hartarto

    3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhajir Effendy

    4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan
5. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto

6. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno

7. Menteri Dalam Negeri: Tito Karnavian

8. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi

9. Menteri Agama: Fachrul Razi

10. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yasonna Laoly
11. Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati

12. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim

13. Menteri Kesehatan: dokter Terawan

14. Menteri Sosial: Juliari Batubara

15. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziah
16. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita

17. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto

18. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Arifin Tasrif

19. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono

20. Menteri Perhubungan: Budi Karya
21. Menteri Komunikasi dan Informatika: Johnny G. Plate

22. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo

23. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya

24. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo

25. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Abdul Halim Iskandar
26. Menteri Agraria, Tata Ruang, dan Kehutanan: Sofjan Jalil

27. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa

28. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Tjahjo Kumolo

29. Menteri BUMN: Erick Thohir

30. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki
31. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Wishnutama

32. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Gusti Ayu Bintang Darmavati

33. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro

34. Menteri Pemuda dan Olahraga: Zainudin Amali
35. Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko

36. Sekretaris Kabinet: Pramono Anung

37. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Bahlil Lahadalia

38. Jaksa Agung: ST Burhanuddin
Kepada para pembantunya, Jokowi menyampaikan tujuh pesan penting berupa warning, yakni: Pertama, jangan korupsi. Ciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi. Kedua, tidak ada visi misi menteri, yang ada visi misi Presiden dan Wakil Presiden. Pesan ketiga Jokowi, dia meminta para menterinya kerja cepat, kerja keras, dan kerja produktif.
Pesannya yang keempat, mantan gubernur DKI Jakarta ini meminta menterinya tidak terjebak pada rutinitas yang monoton. Selanjutnya, Jokowi menuntut kerja yang berorientasi pada hasil nyata.
Dua pesan lainnya, Jokowi meminta menterinya untuk selalu mengecek masalah di lapangan dan menemukan solusinya serta serius dalam bekerja.
“Saya pastikan, yang tidak bersungguh-sungguh, tidak serius, bisa saya copot di tengah jalan,” tegasnya.
Selain itu, Jokowi berharap para menteri yang dipilih bekerja keras dan cepat. Dia juga ingin para menteri sering mengeluarkan terobosan baru dan tidak terpaku pada kebiasaan lama.
“Saya ingin para menteri terpilih adalah sosok yang inovatif, produktif, pekerja keras dan cepat. Sosok yang tidak terjebak rutinitas yang monoton,” tutur Jokowi melalui akun twitter @jokowi pada Senin (21/10).
Setelah diumumkan, menteri kabinet baru Jokowi langsung dilantik di Istana Negara sekitar pukul 11.00 WIB. (ARP)


Jakarta, majalahspektrum.com –

Wednesday, February 12, 2020

Bantu share agar terdengar sampai ke Istana.


Tetap Kuat Lae Romesko Purba
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/bantu-share-agar-terdengar-sampai-ke.html]
Barusan, saya mendengar Humas Gereja Katolik St Joseph Karimun Romesko Purba  sedang diteror untuk diusir dari Kabupaten Karimun.

Sekelompok orang dengan spanduk bernada provokasi berdemo menuntut agar Romesko Purba diusir dari tempat tinggalnya.

Bahkan Gereja St Joseph yang lebih tua umurnya dari umur republik ini dipaksa untuk dipindahkan. Dipaksa untuk dijadikan cagar budaya.

Mohon Bapak Presiden dan Bapak Kapolri memastikan bahwa hukum masih tegak di negeri ini. Hukum masih menjadi panglima di negeri ini.

Untuk Lae Romesko Purba jangan takut dan gentar. Tetap tenang. Kami akan membelamu. Sabar saja.

Terimakasih.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/bantu-share-agar-terdengar-sampai-ke.html]
**Bantu share agar terdengar sampai ke Istana.

SURAT TERBUKA KEPADA YTH PAK JOKOWI, TOLONGLAH SAUDARA KITA NONMUSLIM

01)
Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Kepada Yth,
Presiden Jokowi
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Jakarta

Dengan hormat,
Hati saya sangat sedih melihat tindakan intoleran yang dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan Kelompok Mayoritas, yang membatasi, menteror dan merampas kebebasan beragama saudara-saudara kita yang nonmuslim.

Pengerusakan, penggusuran, penghancuran dan penutupan Rumah Ibadah Nonmuslim terus saja terjadi. Terakhir, yang terjadi di Paroki Santo Joseph Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepri.

Sebagai muslim saya sungguh amat malu. Ini sungguh biadab.

Toleransi seolah dimaknai sebagai perampasan hak hidup dan hak kebebasan beragama kelompok minoritas demi memuaskan birahi bejat sekelompok orang yang mengatasnamakan Kelompok Mayoritas.

Jika hal ini dianggap lazim, neraka bagi Indonesia, karena rusaklah tatanan kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang Berbhinneka Tunggal Ika yang berdasarkan Pancasila.

Pancasila tidak mengenal Mayoritas vs. Minoritas, yang mayoritas bisa keblinger yang minoritas bisa benar. Musyawarah untuk mufakat atau musyawarah untuk sepakat. Bukan politik menang-menangan untuk menindas orang lain.

Indonesia adalah Negara Kebangsaan, bukan Negara Agama.

Negara menjamin kebebasan bagi umat agama-agama negara yaitu agama-agama yang secara resmi diakui negara: Islam, Katholik, Kristen Protestan, Hindhu, Budha dan Konghucu, untuk menjalankan ibadah keagamaannya.

Jelas bagi saya, ada masalah serius di masyarakat kita saat ini yaitu tidak bisa membedakan antara kehidupan keagamaan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam suatu masyarakat Indonesia yang plural ini yang berdasarkan Pancasila.

Pancasila bukan hanya Ideologi Negara atau Dasar Negara, namun lebih sebagai kompromi politik terbaik dalam hidup berbangsa dan bernegara yang berbhinbeka ini.

Pak Jokowi, saya harus terantuk pada dinding kokoh yang memaksa saya berkesimpulan, bahwa saya tidak bisa berharap banyak pada Menteri Agama RI saat ini, karena Beliau sedang sibuk berwacana memulangkan eks WNI anggota ISIS dari Timur Tengah ke Indonesia yang sudah bukan negaranya lagi.

Sekali lagi, pak Jokowi, mohon lindungilah saudara-saudara kita yang Nonmuslim, agar mereka mempunyai kebebasan beragama sama seperti saya yang bergama Islam. Jauh dari tindakan teror, intimidatif, dan provokatif. Harmoni dalam keberagaman.

Terimakasih. Viralkan!

Yogyakarta, 2020-02-08
Hormat saya,
(KPH. BP. Widyakanigara)

02
Dibawah ini status FB mbak Ayon Marion Apitule-Sudewo.
Semua baru sadar (pdahal aku sudah merasakannya dan mempersoalkannya sejak awal, dan aku digrudug rame2 di sini krn sering mempersoalkannya) bhw pakdhe memang sangat buruk (nilai merah tua) dlm hal perhatian dan penanganannya dlm masalah HAM dan demokrasi. Sungguh mengecewakan!!!

šŸ˜° MAAF, SAYA KECEWA DAN SEDIH, PAK JOKOWI šŸ˜°

Saya kira pak Jokowi akan adil dalam perlakuan thd umat Islam dan yg bukan Islam.  Ternyata saya salah.

Di Minahasa, orang2 yg menolak adanya musholla tanpa ijin, langsung ditangkap, dan izin musholla segera keluar.  BERES!
Dan itu memang sudah BENAR;  BEGITULAH SEHARUSNYA! Tidak ada yang boleh melarang orang beribadah sesuai dgn agamanya. 

Tapi apa yg terjadi dgn rencana renovasi gereja St. Joseph di Karimun.. ?! šŸ¤¬  Renovasi yg notabene  sdh mendapatkan IMB dari Pemerintah setempat?! (setelah ditunggu selama DELAPAN TAHUN)?!

Teman2 cari sendirilah di internet; saya bahkan sdh malas utk menulis ttg ketidak-adilan itu.  Capek!  BLUDREG! (=bloeddruk/tekanan darah naik).  Dan pak Jokowi membiarkannya!

Beliau hanya kasih "motherhood statement":  "harus adil"  APA MAKNANYAAA...?! šŸ¤¬; menyuruh KAPOLRI tegas!?  Hahaha... MANAAA?!  Di Minahasa tegas, tapi di Karimun...?! šŸ¤¢šŸ˜ 

Malah bikin saya makin marah!! Kenapa beliau tidak mau (tidak berani?) mengatakan dengan TEGAS  bhw semua peraturan sdh dipenuhi oleh umat gereja di Karimun tersebut, bhw IMB sudah di tangan, shg TIDAK BOLEH DIHALANGI!  TIDAK ADA ALASAN UTK MENGHALANGI!!!

Dlm hal gereja St.Joseph di Karimun itu, kok malah dibiarkan langkah ngawur para pembenci itu utk bahkan (OMG!! šŸ˜–) memperkarakannya ke PTUN?! ASTAGAA!!

DAN Mahfud bilang "Tunggu keputusan PTUN"?!  šŸ˜±šŸ˜”šŸ¤¬
Jadi PTUN BERSEDIA menerima gugatan ngawur?!  Lalu hasil APA yg diharapkan? šŸ˜±šŸ˜”šŸ¤¬

Saya kecewa dan marah!!!

Kami kecewa dan marah!
Lupakah pak Jokowi bahwa jumlah non-Muslim di Indonesia ada 15%, yg ketika itu nyaris semua berharap Bapak akan adil dalam menjaga SEMUA UMAT, juga kami? Begitu salahkah kami?!  šŸ˜³šŸ˜±šŸ˜­

Oh, dan omong2,  teman2 saya yg Islam pun tidak suka dgn cara pak JKW menangani masalah intoleransi ini.  SANGAT BURUK!!

https://www.facebook.com/100000081121805/posts/3099843000028374/


CHINA BERLARI, INDONESIA BERMIMPI


Oleh Budiman Soedjatmiko

Mengapa China Melaju Cepat Melebihi Bangsa-Bangsa Lain??
Hanya 25 tahun Sejak Reformasi Deng, China Sudah Sejajar Dengan AS Dari Segi Kemakmuran. Kini China sudah melewati Barat dari segi ilmu & teknologi. Ini terbukti dalam periode 10 tahun terakhir 60% lebih jumlah paten dunia berasal dari China
Mengapa? Karena negara berperan efektif, fokus dan profesional.
[ politikandalan.blogspot.com ]
1. Seluruh pejabat dan presiden adalah karir profesional. Presiden diseleksi berdasar track record kerja dipemerintahan selama 30 tahun lebih.
Jadi tidak berdasarkan partai politik tetspi karir profesional. Para wakil rakyat yg jumlahnya lebih dari 1000 orang dipilih dan merupakan perwakilan daerah dalam proses pemilihan yg sederhana.

Jadi China tidak perlu ongkos untuk Pemilu dan repot membiayai wakil rakyat yang kerjanya nyinyir dan omong kosong belaka. Bayangkan saja biaya pemilu adalah 40 T hanya untuk memilih seorang presiden & wakil serta 500 wakil rakyat. Biaya yg sama cukup untuk biayai pembangunan Trans Sumatra.

2. Dalam segi hukum, China sangat sederhana dan murah.
- Mencuri dengan kekerasan, hukuman mati.
- Korupsi diatas Rp. 1 miliar, hukuman mati,
- Mencuri ringan tanpa kekerasan, hukumannya kerja paksa.
- Korupsi dibawah Rp. 1 miliar kerja paksa
- Kejahatan sosial seperti PSK, berjudi secara ilegal, berdagang ditempat terlarang, hukumannya kerja paksa.
Lama kerja paksa tergantung kadar hukumannya. Proses peradilan di China juga sederhana dan murah. Makanya China tidak butuh banyak pengacara dan penjara. Bayangkan jika 1,3 miliar penduduk menerapkan hukum seperti Indonesia, berapa banyak penjara harus disediakan dan pengacara harus dibiayai negara.

Selain itu kerja paksa selalu diarahkan negara utk menyelesaikan proyek-proyek pembangunan, misalnya pembuatan jalan, saluran air dsb maka para tahanan dipekerjakan secara produktif.

3. Semua orang bisa pinjam uang ke bank tanpa jaminan karena semua asset milik negara dengan bunga yang sangat murah sekitar 3% per tahun dan 0% jika di investasikan di luar negeri.

Semua bank milik negara jadi ngemplang hutang = korupsi, diatas Rp. 1 miliar hukuman mati. Di bawah Rp. 1 miliar kena hukuman kerja paksa.
Semua boleh berdagang ditempat yang disediakan pemerintah. Apabila dagangan tidak laku karena pemerintah salah menempatkan, maka kerugian di tanggung negara tapi kalau kerugian karena malas, maka di black list untuk berdagang, di China tidak ada tempat untuk orang malas.

4. Agama tidak di larang untuk dianut oleh siapapun namun di larang mengorganisir orang banyak untuk kepentingan politik atas nama agama.

Pengalaman berbangsa beribu-ribu tahun mengajarkan kepada mereka bahwa hidup damai itu adalah berkah yang luar biasa dan bukan pemberian gratis tapi harus diperjuangkan

Kehidupan masyarakat yang damai, politik yg stabil, hukum yg tegas tapi sederhana dan murah serta akses kredit perbankan yg terbuka bagi semua orang
menggerakkan seluruh rakyat China untuk fokus membangun. Enerji pembangunan dari 1.3 M rakyat inilah yang membuat China terus berlari.

Bagaimana dengan Indonesia?? Terus sibuk berpolitik dan rakyatpun dibuai berbagai janji-janji yang membuat mereka sibuk bermimpi.

 Sebagian rakyat Indonesia di buat mabok agama, diancam neraka dan di iming2i surga, jadi lupa berkarya.....šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚

Deng Xiao Ping bilang :

 tidak perduli warna bulu kucing hitam atau putih ,
Asal bisa menangkap tikus .

Berkarya -berkarya - berkarya
Bekerja - bekerja - berkerja
Lalu jadi kaya raya .
dalam beberapa tahun kedepan.

Oooo itu rupanya rahasia Sukses orang Cina ya, ayo ini Peringatan bagi Para Pejabat NKRI, bagi para Pemuka Agama dan bagi semua rakyat kita, ayo bergandeng tangan, rukun dan bangun Negri ini ber sama2, Jangan Hanya Bisa Nyinyir aja Komplain ini itu, Tunjukkan bahwa kita Bisa Melakukan yg Lebih Baik.
[ politikandalan.blogspot.com ]
Salam Perdamaian dan Tetap Bersatu, NKRI dan Pancasila, Jaya Selalu !!!

JIHAD SAVE BABI

Gambar ilustrasi saja
by Eko Kuntadhi
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/jihad-save-babi.html]
Lama-lama problem di negeri ini nyebelin. Sesuatu yang mestinya bukan masalah, sekarang jadi masalah berat banget. Dari dulu di Sumatera Utara, masyarakatnya suka mengkonsumsi daging Babi. Babi bukan hanya jadi bahan konsumsi, juga bagian dari tradisi. Bagian dari upacara adat.

Sama kayak kambing saat Idul Adha.

Wajar. Wong mereka yang mengkonsumsi agamanya bukan Islam. Ya, gak masalah. Kalau orang Islam dilarang mengkonsumsi babi oleh kitab suci, larangan itu hanya berlaku buat muslim saja. Bukan buat selurruh dunia.

Nah, sialnya, banyak muslim geer. Mereka merasa bahwa apa yang diyakini harus juga menjadi keyakinan orang lain. Mereka memaksakan kehendaknya pada orang. Di Sumut, ada rencana pelarangan menjual daging babi. Kan, babi?

Muslim gak makan babi. Ya, silakan. Tapi muslim melarang orang beragama lain mengkonsumsi babi, berlebihan namanya. Apalagi sampai menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak. Itu sih, keterlaluan.

Lagian kalau orang yang beragama selain muslim makan babi, emang kenapa? Apa ruginya buat umat Islam? Sebagai mulism, lu gak dosa, kalau lihat teman lu yang Kong Hu Cu mengkonsumsi babi. Gak ada kedzaliman yang dilakukan teman lu.

Lu baru dosa, kalau teman lu lagi makan, terus lu minta suapin sedikit. Selain dosa, lu juga tergolong celamitan dan malu-maluin.

Jadi kalau ada orang makan babi, masalahnya apa? Kecuali kalau dia doyan makan orok, baru deh, bisa lu laporin polisi. "Pak polisi, anak gue tangannya ilang. Dimakan sama tetangga."

Sebagai muslim, gue gak pernah makan daging babi. Setidaknya secara sengaja. Pernah sekali waktu di Tokyo, gue laper. Masuk kedai makan. Pesen ramen. Ada irisan dagingnya. Rasanya enak juga.

Habis makan, gue mikir, tadi daging apa ya? Kayaknya gue belum pernah nyobain?

Gue lihat menunya. Untung Bahasa Jepang. Gue gak ngerti. Sampai sekarang gue gak tahu, itu daging apa?

Apa gue dosa? Jikapun itu daging babi, kayaknya gue dosa karena gak bisa bahasa Jeoang. Bukan karena makan daging babinya. Hahahahaha...

Sama kayak umat Hindu yang mensucikan sapi. Mereeka meyakini gak makan daging sapi. Tapi kalau ada muslim yang doyan burger atau sirloin steak, ya gak apa-apa dong. Di Bali aja, banyak restoran yang jual steak.

Beragama itu gak harus kepo dan nyebelin seperti itu. Jangan mentang-mentang berkuasa lalu bertindak seenaknya. Jangan gunakan ukuran-ukuran personal kita untuk membuat sebuah kebijakan publik.

Jadi kalau orang di Sumatera Utara demo berduyun-duyun protes rencana pelarangan warung yang jual Babi, ya harus dimaklumi. Itu Pemdanya saja yang norak. Belagu. Egois. Childish. Mau menang sendiri. Gak perhatian. Udah gak sayang lagi.

Kalau pemerintah bikin larangan gak boleh makan opor ayam, semur daging kepala, sambel goreng ati plus ketupat saat lebaran, gue juga bakalan ngamuk. Mendingan gue jihad ketimbang gak boleh makan masakan emak gue saat lebaran.

Kayaknya, orang di Sumut juga lagi jihad. Melawan rencana aturan yang membuat mereka gak nyaman. Memperjuangkan haknya.

Itu baru soal Babi. Di Karimun ada gereja yang dibangun pada 1928. Mau direnovasi. Eh, ada umat muslim protes. Takut terganggu imannya. Padahal sebelum emak-bapaknya pacaran, gereja itu sudah berdiri disana.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/jihad-save-babi.html]
Lagian kalau gereja berdiri, orang katolik kebaktian, terus yang muslim merasa keganggu? Kebaktian juga gak pakai toa. Lu gak akan dengar doa Maria dibacakan saat Misa. Ngapain protes?

Kanapa sih, semakin beragama ada orang yang semakim nyebelin? Bawaanya mau menyusahkan orang aja? Apa dengan begitu lu merasa sedang berjuang mempercantik agama lu?

Begini, akhi. Orang non muslim gak lihat agama lu dari isi Alquran. Gak lihat dari kitab hadist. Yang dia lihat dari nilai agama lu, ya dari perilaku lu. Kalau pelaku lu nyebelin, kayak sepauh ISIS. Orang akan beranggapan, agama lu barbar.

Padahal bukan begitu. Lu teriak-teriak, Islam rahatan lil alamin. Rahmat buat seluruh alam. Boro-boro seluruh alam. Sama tetangga lu aja, lu selalu bikin susah.

Artinya, perilaku lu, yang merusak agama lu sendiri.

Sudah cukup Islam dipersepsikan buruk karena perilaku ISIS, Alqaedah, Hizbut Tahrir, Boko Haram, Abu Sayaf, atau Santoso di Poso. Sudah cukup Islam dibuat rusak oleh para teroris bom bunuh diri. Oleh ustad-ustad yang menjual kebencian dalam ceramahnya.

Lu jangan ikut-ikutan menjelekkan agama dengan ikut berperilaku barbar. Kalau semua orang Islam barbar begitu, lu yakin di masa depan anak cucu lu masih mau memegang teguh agama ini, jika yang dilihat hanya kekacauan dan keegoisan melulu??

Masa sih, kebodohan kita ikut kendorong orang untuk menjauh dari agama ini.

"Mas, restoran Ramen di Tokyo, alamatnya dimana? Kalau kesana, aku mampir, ah," ujar Abu Kumkum.

Gaya lu, Kum...
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/jihad-save-babi.html]
www.ekokuntadhi.id

Tuesday, February 11, 2020

Ilusi Identitas Tunggal


Identitas bisa menjadi persoalan rumit. Begitu pendapat Amartya Sen, Penerima Hadiah Nobel bidang Ilmu Ekonomi (1998), menyimpulkan pengalamannya di Bandara Heathrow, London, Inggris, beberapa tahun silam. Dari pengalaman kecil di Bandara Heathrow itu, juga pengalaman hidupnya, Sen sampai pada kesimpulan bahwa ”sesungguhnya, berbagai masalah sosial-politik saat ini, berkisar di seputar perseteruan akibat penegasan identitas yang berlainan di antara kelompok yang berbeda-beda, sebab konsepsi tentang identitas ini memang memengaruhi pikiran dan tindakan kita melalui berbagai cara” (Amartya Sen, 2006).
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/ilusi-identitas-tunggal-by-trias.html]
Di panggung global pun demikian. Politik global didominasi identitas ketimbang ideologi. Sen mengatakan, pertikaian politik global kerap kali dipandang sebagai suatu kewajaran akibat adanya perbedaan agama atau budaya di dunia. Masih menurut Sen, makin lama dunia ini makin dipahami, meskipun hanya secara tersirat, sebagai suatu federasi agama-agama atau peradaban-peradaban. Pemilahan penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama itu melahirkan sebuah pendekatan “soliteris” terhadap identitas manusia. Yakni, pendekatan yang memandang manusia hanya sebagai bagian dari suatu kelompok semata; dalam hal ini berdasarkan peradaban atau agamanya. Dengan demikian, pendekatan soliteris tersebut, mengabaikan aspek-aspek lain, yang dipakai seseorang untuk membedakan dirinya dengan orang lain.
Politik Identitas

Istilah identity (identitas) dan identity politics (politik identitas), dipopulerkan oleh ahli psikologi Erik Erikson selama dasawarsa 1950-an. Kemudian, istilah tersebut dipakai dalam politik kultural pada tahun 1980-an dan 1990-an (Francis Fukuyama, 2018). Tetapi, menurut Frank Furedi (2017), benih-benih mulai tersemainya politik identitas terjadi pada akhir abad ke-18. Pada saat itu, politisasi identitas menarik energinya dari reaksi konservatif terhadap Fajar Budi (Enlightenment), dan terutama kemenangannya atas universalisme. Mereka ini mengecam gagasan universalitas manusia dan mengklaim bahwa hanya identitas yang penting yakni kelompok-kelompok dan orang-ortang tertentu. Tetapi, segera setelah PD II, politik identitas nasionalis menjadi termajinal (karena pengalaman kekejaman Nazi Hitler).

Sejak itu, politik identitas membutuhkan dua dekade untuk bangkit lagi. Tetapi, saat itu,yang muncul adalah politik identitas kiri bukan politik identitas kanan. Yakni yang mempromosikan politik identitas berkaitan dengan kelompok. Secara substantif, ketika itu, politik identitas dikaitkan dengan kepentingan anggota-anggota sebuah kelompok sosial yang merasa diperas dan tersingkir oleh dominasi arus besar dalam sebuah bangsa atau negara. Di sinilah ide tentang keadilan untuk semua menjadi sangat relevan. Di AS, para penggagas teori politik identitas berdalil bahwa praktik pemerasanlah yang membangun kesadaran golongan yang diperas, khususnya masyarakat kulit hitam, masyarakat yang berbahasa Spanyol, dan etnis-etnis lainnya yang merasa terpinggirkan oleh roda kapitalisme yang berpihak kepada pemilik modal yang umumnya dikuasai golongan kulit putih tertentu (Ahmad Syafii Maarif, 2012). Di Indonesia, menurut Ahmad Syafii Maarif dalam acara “Nurcholish Madjid Memorial Lecture” (NMML), di Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, pada 21 Oktober 2009, politik identitas lebih terkait dengan masalah etnisitas, agama, ideologi, dan kepentingan-kepentingan lokal yang diwakili pada umumnya oleh para elite dengan artikulasinya masing-masing.

Ideologi kebencian menempatkan secara khas orang ke dalam komunitas berdasarkan dimensi tunggal sehingga mengalahkan afinitas beraneka segi (multifaceted) klas, seks, politik, dan kepentingan personal yang membentuk identitas individual. Di Eropa, hal tersebut diungkapkan oleh partai-partai anti-imigran (yang dikaitkan dengan terorisme, identitas agama dan budaya; mereka anti-imigran dari Timur Tengah dan Afrika) dan anti-Uni Eropa. Misalnya, Front Nasional (FN) di Perancis, Partai untuk Kebebasan di Belanda, Partai Kebebasan (FPƖ) di Austria, Partai Sosial Demokrat di Swedia, Jobbik di Hungaria, Partai Demokratik Slovenia, dan Alternatif untuk Jerman (AfD). Kemenangan kelompok Brexit di Inggris dan Donald J Trump di AS juga merupakan contoh lain, kuatnya politik identitas. Kedua-duanya didorong oleh perlawanan terhadap imigrasi. Karena para imigran dianggap akan menyerobot atau merebut pekerjaan dari para pekerja asli, kelahiran Inggris dan AS.
Identitas Nasional

Sen memperingatkan bahwa pandangan “soliteris” terhadap indentitas manusia adalah jelas-jelas palsu, dan pandangan itu juga dapat berbahaya. Pandangan semacam itu bertentangan dengan pandangan klasik, tetapi masuk akal dan terbukti menjadi kekuatan, yakni bahwa “kita umat manusia semua sama” dan bahwa “kita semua berbeda-beda dalam keberagaman”; bahwa “manusia itu beragama-ragam suku, agama, etnis, ras, dan budaya”; dan “yang beragam-ragam itu semestinya diyakini sebagai rahmat dan menjadi kekuatan.” Akan tetapi, pandangan “soliteris” mengingkari pluralitas tersebut. Padahal, semestinya pluralitas dimuliakan menjadi pluralisme, yakni kesadaran menerima perbedaan, mengakui keragaman secara sadar untuk mencapai tataran kebersamaan lebih baik sesuai dengan idealitas perjuangan bangsa dan negara. Banyak contoh negara yang hancur karena menafikan kemajemukan, pluralitas dan lebih menonjolkan kebencian sektarian. Kebencian sektarian bila terus-menerus diteriakkan, digembar-gemborkan, dihembus-hembuskan akan berubah menjadi nyala api yang mahadahsyat dan akan membakar serta bahkan menghanguskan, menghancurkan sebuah bangsa. Apa yang terjadi dulu di Bosnia, Rwanda, Kosovo, Sudan, Nigeria, dan banyak negara lain menjadi contohnya. Semua itu terjadi karena lemahnya identitas nasional atau juga karena ilusi adanya identitas tunggal. Persoalan besar yang dihadapi negara-negara di Timur Tengah—seperti Suriah, Yaman, dan Libya—adalah lemahnya identitas nasional itu.

Negara-negara itu telah menjadi negara gagal. Negara-negara lain seperti Afganistan, Irak, dan Somalia begitu menderita karena tercabik-cabik perang saudara, pemberontakan, dan khaos. Negara-negara lain, seperti Kenya (berpenduduk 51 juta, dengan paling kurang 40 kelompok etnik berbeda) dan Nigeria (berpenduduk 196 juta, dengan 250 kelompok etnik berbeda) misalnya, secara etnik dan agama terpecah; stabilitas (meski tidak benar-benar stabil) bisa terjaga karena kelompok-kelompok etnik silih berganti memegang kekuasaan untuk merampok negara (korupsi). Tentu, negara-negara tersebut berbeda, misalnya, dengan Jepang, Korea, dan China yang identitas nasionalnya sudah mapan, bahkan sebelum mereka mulai memodernisasi diri. Mereka telah melalui jalan penderitaan perang saudara, pendudukan, dan perpecahan. Namun, mereka dapat membangun di atas fondasi tradisi yang kuat dan tujuan nasional bersama, setelah konflik berhasil diatasi. Fukuyama mencatat, sekurang-kurangnya ada enam arti penting identitas nasional untuk mempertahankan tatanan politik moderen berhasil. Pertama, keamanan fisik (tidak terpecah-belah seperti Suriah atau Libya). Kedua, identitas nasiona penting bagi kualitas pemerintah: tingkat korupsi rendah dan pelayan public efektif. Ketiga, memfasilitasi pembangunan ekonomi.

Jika orang tidak bangga terhadap negaranya, mereka tidak akan bekerja atas nama negara. Kuatnya identitas nasional di Jepang, Korea Selatan, dan China telah menghasilkan elite yang sangat fokus pada pembangunan ekonomi negerinya. Keempat, meningkatkan radius kepercayaan (trust). Kepercayaan bagaikan minyak pelumas yang memfasilitasi baik partisipasi politik dan ekonomi. Kelima, identitas nasional penting untuk mempertahankan jaringan pengaman sosial yang kuat sehingga mengurangi ketimpangan ekonomi. Dan, keenam, indentias nasional memungkinkan demokrasi liberal berjalan sebagaima mestinya. Kiranya pengalaman bangsa-bangsa lain, baik yang identitas nasionalnya lemah dan yang memiliki identitas nasional kuat, menjadi cermin yang bisa kita gunakan untuk berkaca. Dengan demikian, kita memiliki pilihan bebas, mau ke mana hendak melangkah: mau hancur atau berjaya. Apabila, kita cenderung menonjolkan kebencian sektarian dan menganut pandangan soliteris, demi yang namanya kekuasaan, maka kita akan mengikuti jalan negara-negara gagal.***
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/ilusi-identitas-tunggal-by-trias.html]
Source : https://triaskun.id/2018/10/23/ilusi-identitas-tunggal/

KUDA TROYA SBY SEDANG "MEMBANTAI" JOKOWI DI DALAM ISTANA

Gambar ilustrasi
Oleh : Aznil Tan
Bukan sosok yang hebat diri SBY kalau bukan  sosok yang bisa jadi Presiden RI selama 2 periode. Masih banyak yang meremehkan kepiawaian mantan Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI ini dengan  menganggap dia bisa menjadi orang nomor satu di republik ini karena faktor keberuntungan.

Para filosof sering mengatakan "didalam politik itu tidak ada yg kebetulan, semuanya by design".

Begitu juga  ketika kehadiran sosok SBY. Dia bukan hadir secara kebetulan.

Dalam kondisi sulit  pada Pilpres 2004, dia mampu menjadi presiden RI mengalahkan Megawati melawan incumbent dan sosok yang sangat berpengaruh. Sementara kala itu dia cuma seorang menteri bawahan Megawati, yaitu sebagai Menkopolhukam dan baru memiliki partai yang pertama kali mengikuti pemilihan umum pada tahun 2004 yang hanya meraih suara sebanyak 7,45%.

Sekarang ketika paska presiden RI, apakah SBY duduk manis menikmati masa pensiunannya? Jawabnya : Tentu, tidak !

Syahwat untuk kembali berkuasa masih tinggi. Pria kelahiran 9 September 1949 ini di pemilu 2024 nanti masih berumur 75 tahun. Sebuah umur tidak tua-tua amat kembali jadi presiden dibandingkan Mahathir Mohamad  yang bisa kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia diusia 92 tahun.

Sebagai mantan Kaster TNI dan seorang bergelar Doktor, dia memahami strategi dan karakter masyarakat Indonesia. Dia adalah seorang pengangung perfeksionis. Sosok yang tenang tapi menghanyutkan. SBY menyusun barisannya dengan rapi dan tertib.

Analisa saya, SBY sedang menjalankan sebuah operasi senyap yang mematikan.  Yaitu muslihat Kuda Troya. Sebuah muslihat memasukkan orang-orangnya ke dalam istana untuk "membantai" Jokowi dari dalam.*

Bagi SBY legenda Kuda Troya zaman Yunani bukan sekedar dongeng. Mitologi itu menginspirasi dirinya dalam kancah dunia persilatan politik.

Alkisah pada abad 13 SM , sebuah kota Troya selama 10 tahun dikepung oleh Yunani tetapi selalu gagal. Timbullah ide oleh panglima perang Yunani bernama Odysseus membuat sebuah tipu muslihat untuk menaklukkan benteng kota Troya yang kokoh dan sulit ditembus.

Odysseus lalu membangun patung kuda kayu raksasa yang di dalamnya berongga dan bisa diisi sepasukan tentara Yunani.  Pada pagi hari, orang-orang Troya tidak lagi melihat pasukan Yunani, mereka lantas mengira Yunani telah menyerah. Mereka hanya melihat patung kuda raksasa tergeletak tidak jauh dari benteng Troya.

Dibuatlah skenario, Sinon ditugaskan untuk mengelabui tentara Troya untuk keluar. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah calon korban bagi Athena yang marah karena Palladium dicuri. Lalu dia kemudian melarikan diri pada malam hari dan tidak mau lagi menjadi orang Yunani.

Dengan tipu licik, Sinon berkisah bahwa kuda kayu raksasa tersebut adalah persembahan kepada dewa Athena yang hendak dibakar oleh Yunani. Apabila dihancurkan oleh pihak Troya maka kemarahan dewa Athena akan berbalik kepada Troya.

Mendengar itu, orang-orang Troya tidak menghancurkan atau membakarnya melainkan mengangkut kuda raksasa beroda tersebut ke dalam kota.

Ketika semua penduduk sudah terlelap pada malam hari, pasukan Yunani keluar dari dalam patung, membuka pintu gerbang kota, dan balatentara Yunani yang ternyata hanya bersembunyi di sebuah pulau, mengalir masuk ke dalam kota. Malam itu kota dibakar, penduduknya dibantai, dan Troya dihapus dari muka bumi.

Kisah Kuda Troya hampir persis sedang terjadi pada diri Jokowi saat sekarang.  Masuknya orang-orang SBY ke istana kuat diduga untuk "membantai" Jokowi dari dalam seperti legenda Kuda Troya.

Kisah ini dimulai dengan memasukkan Moeldoko kedalam istana yang diduga berperan sebagai Odysseus. Mantan panglima TNI yang kaya raya di era SBY ini berpura-pura berkhianat kepada SBY. Lalu ada berapa orang pembisik Jokowi yang tamak dan rakus berperan sebagai Sinon sang pembohong bahwa Moeldoko seorang prajurit bisa dipercaya dan siap pasang badan untuk Jokowi menghadapi oposisi dan menangkis isu radikalisme yang sedang lagi marak. Tak lupa Pembisik bayaran tersebut membisikkan bumbu strategi Sun Tzu, yaitu "menyandera lawan dari dalam."

Lalu diaturlah timingnya pada waktu pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby di Graha Saba Buana pada tanggal 8 November 2017. Moeldoko secara misterius diplot sebagai perwakilan keluarga Jokowi memberi kata sambutan dengan pidatonya "Istana Hati" ditengah para dedengkot Jokower hadir pada saat itu.

Jokowi pun terpesona dengan tipu daya tersebut. Pada tanggal 17 Januari 2018, Moeldoko yang pernah menjadi panglima TNI semasa pemerintahan SBY tiba-tiba secara mengejutkan ditunjuk oleh Jokowi sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) mengantikan Teten Masduki.

Dari sinilah petaka dimulai.
KSP yang seharusnya diisi oleh "All President Man" sebagai mata telingga Jokowi mengawal program-program prioritas nasional tetapi Jokowi begitu ceroboh mempercayakan kepada musuh. Para Jokower yang setia dari awal dan berperan besar dalam kemenangan Jokowi terpaksa mengurut dada atas masuknya Moedoko menempati posisi tersebut. Sejak itu hubungan batin relawan dengan Jokowi mulai terhambat secara pelan-pelan, kecuali relawan yang dimanfaatkan oleh Moeldoko untuk "didagangkan".

Moeldoko yang sudah berhasil masuk ke dalam istana lalu membuka pintu gerbang istana untuk memasukkan bala tentara SBY yang sedang tidak sabaran menunggu di seberang istana.  Meski waktu masih senja hari, hal itu tidak membuat kecurigaan para penjaga istana. Para relawan pun menganggap hal tersebut wajar-wajar saja sebagai hak prerogatif presiden. Apalagi beberapa relawan  berhalusinasi sedang diproses sebagai daftar komisaris dan berbagai posisi jabatan lainnya yang dihembuskan oleh para pasukan Moedoko.

"Pembantaian Jokowi" Dimulai
Ada 3 misi Kuda Troya masuk Istana yang kuat diduga sedang dioperasikan :
1. Menggagalkan program-program prioritas nasional Jokowi agar menjadi mangkrak dan kacau.
Bahwa pencitraan Jokowi sebagai  sang presiden eksekutor yang gila kerja menjadi terbalik. Opini publik menilai bahwa Jokowi adalah pembohong dan lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya serta tidak produktif dan hanya menambah hutang negara.
Targetnya SBY adalah dia dikenang rakyat sebagai presiden terbaik dimiliki oleh Indonesia yang bisa membangun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5% dibandingkan Jokowi yang hanya 5%.

2. Menyelamatkan SBY dan kroni-kroninya dari kasus skandal korupsi yang marak terjadi di semua lini semasa pemerintahan SBY selama 10 tahun.
Targetnya agar kasus korupsi tidak terungkap dan Jokowi dituding sebagai pelakunya.

3. Membuat kejahatan dari dalam  sehingga publik menyalahkan Jokowi sebagai sosok presiden yang tidak baik dan lebih busuk.
Targetnya adalah publik membenci Jokowi dan pemerintahan Jokowi goyang serta mengalami krisis kepercayaan rakyat.

Untuk melaksanakan misi pertama, Moeldoko sebagai Kepala KSP bertugas melakukan pelemahan pada program Nawa Cita (sekarang Program  Indonesia Maju) yang sedang diharapkan rakyat terjadi perubahanj pada nasibnya. Tugas KSP sebagai tangan kanan Jokowi dalam pengendalian Program-program Priotas Nasional dibawah kepemimpinan Moeldoko tidak berfungsi dan malah dijadikan alat bermain kebusukan ditengah kebusukan. Terbukti Jokowi sering mengalami kelabakan dan kekecewaan berat tidak terlaksananya program-program yang ia perintahkan.

Penyelesaian konflik agraria yang ditangani oleh KSP nyaris tidak ada titik penyelesaiannya. Ganti lahan tanah masyarakat yang dipakai untuk pembangunan proyek infrastruktur terjadi permasalahan dimana-mana. Pembangunan kilang minyak mangkrak. Penetapan harga gas yang standar bebas mafia belum juga terkendali. Begitu juga berbagai program-program lainnya yang membuat Jokowi mulai marah.

Untuk melaksanakan misi kedua, Moeldoko memasukan Harry Prasetyo mantan direktur keuangan Jiwasraya ke dalam patung kuda Troya yang ikut masuk ke dalam istana. Dia sebenarnya dipersiapkan sebagai martir dalam melaksanakan misi SBY yang dia sendiri tidak sadar atas raja teganya menumbalkan dirinya.

SBY sadar bahwa pada tahun 2019 akan menjadi  tahun bencana bagi dirinya beserta kroninya jika tidak diantisipasi dari dini. Beberapa perusahaan asuransi plat merah yang sudah mereka rampok keuangannya akan mengalami kebangkrutan dahsyat.

2019 adalah tahun jatuh tempo pembayaran para pemegang polis asuransi Jiwasraya yang nilainya mencapai hingga Rp 13,74 triliun. Begitu juga asuransi ASABRI yang nilainya mencapai hingga Rp 16 triliun.

Selama ini kebusukan perampokan uang Jiwasraya dan Asabri dengan menyulap laporan keuangannya agar terlihat sehat.  Sedangkan perampokan tersebut sudah lama berlangsung sejak 2006.

Dari revaluasi asset diketahui bahwa PT Jiwasraya tidak ada lagi punya cash flow karena duitnya sudah habis dirampok yang kuat diduga digarong para gerombolan SBY bersama koruptor lainnya  berpesta-pora pamer kemewahan dan menumpuk harta kekayaan.

Untuk mengantisipasi ledakan bom waktu Jiwasraya dan Asabri tersebut maka dimasukkan lah Harry Prasetyo kedalam istana dengan status sebagai Tenaga Ahli Utama KSP.

Ketika terbongkarnya kasus Jiwasraya dan Asabri yang membuat rakyat goncang lalu publik ramai-ramai menuding Jokowi pelakunya.

Jokowi dianggap mengunakan Harry Prasetyo sebagai orang istana untuk merampok uang Jiwasraya untuk biaya pemilu.

Agar operasi terlihat alami, Moeldoko melakukan klarifikasi bahwa dia kecolongan merekrut Harry Prasetyo dan tidak melindunginya. Sedangkan Harry Prasetyo itu adalah bagian dari by design yang dipersiapkan sebagai tumbal dalam operasi Kuda Troya SBY.

SBY pun tak kalah gesit lalu menyambar kasus ini dengan membuat rilis bahwa ada dana Jiwasraya mengalir ke istana pada pemilu 2019.
Seperti biasa, SBY berlagak orang bijak dan komprehensif melihat permasalahan. SBY menulis pesan di akun  Facebooknya, Tak perlu ada gerakan atau teriakan “turunkan Jokowi”.

Sekarang Demokrat bersama PKS meminta diadakan Pansus di DPR.

Operasi Kuda Troya tidak sampai disitu saja. Untuk melaksanakan misi ketiga, sekarang Moeldoko sedang membuka gembok pintu istana selebar-lebarnya buat orang-orang SBY untuk masuk kedalam istana.

Tanpa ada nomenklatur diatur dalam Perpres No. 83 tahun 2019, Moeldoko membentuk 13 Penasihat KSP untuk memasukan orang-orang tangan kanan SBY, seperti Kuntoro, Purnomo dan beberapa orang lainnya.
(Silahkan baca : Jokowi Kecolongan Lagi, Moeldoko Angkat Kroni SBY dan Orang Bermasalah Masuk Lingkaran Istana)

Aksi Bersih-bersih
Ini adalah sebuah muslihat yang sangat licik dan sangat mematikan.  Jokowi pun seperti terrsandera. Cita-cita Indonesia Maju yang ditunggu oleh rakyat terancam sedang dijegal. Relawan pun sudah mulai terpecah. Partai politik pengusung Jokowi seperti saling jegal-jegalan .

Secara hukum kasus Kuda Troya ini sulit dijadikan sebuah konspirasi kejahatan untuk diseret ke ranah hukum sebagai tindakan upaya kudeta. Ini harus dilawan dengan cara politik. 

Pertama-tama kepada Jokowi harus dulu sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa dia sedang "dibantai" oleh para penyelusup SBY masuk ke istana. Jokowi tidak boleh lurus-lurus saja memandang permainan politik di Indonesia. Menganggap orang sekitarnya adalah orang-oran yang mempunyai itikad baik untuk memajukan Indonesia.

Para relawan Jokowi harus solid dan jangan terlena dengan sosok Moeldoko sebagai kepala KSP. Relawan harus kembali pada jati dirinya bahwa relawan itu adalah pendukung Jokowi bukan pendukung sosok lain.

Relawan harus mengingatkan Jokowi bahwa  KSP itu harus diisi oleh Jokower sejati seperti West Wing di USA yang dikuasai sepenuhnya oleh All President Man bukan para penyelusup dan penumpang gelap. Relawan lah yang sesungguhnya memiliki passion dan idealis untuk mengawal Indonesia Maju bukanlah orang lain.

Para partai politik pengusung Jokowi pun jangan berlagak seperti tidak mengerti muslihat Kuda Troya dimainkan oleh SBY tersebut. Para partai politik tidak boleh membiarkan upaya "pembantaian" Jokowi dari dalam. Parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin harus segera bergerak menyelamatkan Visi Indonesia Maju yang sedang terancam digembosi

Parpol dan Relawan bersama Jokowi untuk segera melakukan aksi bersih-bersih istana dari para penyelusup sebelum menjadi prahara melanda Indonesia.

Jangan abaikan analisis ini !

Terimakasih.
Jakarta, 10 Februari 2020

Penulis adalah Direktur Eksekutif INFUDS (Indonesian Future Development Study) dan Koordinator Nasional Poros Benhil
WA: 081267046006

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)