Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Thursday, January 31, 2019

Mulai Maret 2019, seluruh pelosok Indonesia bakal bisa menikmati layanan internet berkecepatan tinggi.


Satu lagi hasil maha karya Jokowi ...

TOL LANGIT
Mendukung Ekonomi Digital

Mulai Maret 2019, seluruh pelosok Indonesia bakal bisa menikmati layanan internet berkecepatan tinggi.

Mulai Sabang sampai Merauke bakal tercover oleh Palapa Ring. Proyek yang sempat mandek pada 1999 sedikit lagi bakal selesai dieksekusi pemerintahan Presiden Jokowi.

Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer.

Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku serta satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.

Pembangunan jaringan serat optik nasional ini akan menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Proyek Palapa Ring ini akan mengintegrasikan jaringan yang sudah ada (existing network) dengan jaringan baru (new network) pada wilayah Timur Indonesia, Palapa Ring-Timur.

Palapa Ring Timur akan dibangun sejauh 4.450 KM yang terdiri dari sub-marine cable sejauh 3.850 km dan land cable sepanjang 600 KM dengan landing pointsejumlah 15 titik pada 21 kota/kabupaten.

“Jaringan tersebut berkapasitas 100 Giga Bytes (GB). Jaringan ini bisa ditingkatkan lagi hingga 160 GB dengan mengusung konsep ring. Yakni terdiri dari dua pasang saluran (empat core),” tulis keterangan resmi Kemenkominfo di website resminya.

Para netizen menamai proyek Palapa Ring ini sebagai Tol Langit Jokowi. Yaitu, menyambungkan komunikasi udara tanpa batas dari satu pelosok ke pelosok daerah lain dengan kecepatan tinggi.

“Tol langit ini merupakan sebuah istilah yang dimaksudkan karena kehadiran sinyal telepon dan internet ke berbagai pelosok negeri, terutama Indonesia Timur. Sehingga satu sama lain antar daerah di Indonesia bisa saling berkomunikasi secara cepat dan efektif dengan menggunakan infrastruktur telekomunikasi,” ulas John Miduk Sitorus di Kompasiana.

Proyek senilai Rp 7,7 Triliun ini ditargetkan akan sudah selesai pada tahun 2019. Palapa Ring di Indonesia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Indonesia Barat, Tengah dan Timur sesuai dengan pembagian zona waktu di Indonesia.

Palapa Ring Barat memiliki panjang 2.275 Km yang sudah dibangun sejak tahun 2016 lalu dan sudah dipakai sejak Maret 2018 lalu. Begitu juga dengan Palapa Ring Tengah yang sudah diresmikan dan digunakan sejak Maret 2018 lalu, memiliki panjang 2.995 km.

Khusus untuk zona timur yang memiliki panjang jaringan 6.878 Km baru selesai 89%, ditargetkan pada tahun 2019 akan selesai dan keseluruhan Indonesia barat, tengah dan timur akan memiliki koneksi yang tersambung secara real time minimal dengan layanan konektivitas 4G.

Konektivitas Palapa Ring yang dipopulerkan dengan tol langit ini memastikan bahwa seluruh indonesia termasuk ke daerah terluar dan terdalam sekalipun akan mampu dijangkau oleh koneksi internet supercepat dengan kecepatan minimal 30 mbps.

Mendukung Ekonomi Digital

Dengan terciptanya akses komunikasi yang lebih baik dengan proyek Palapa Ring, maka diharapkan akan tercipta pemerataan dan kemudahan akses telekomunikasi-informasi.

Mulai dari membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan berbasis internet (e-commerce), meningkatkan efisiensi dan efektifitas sistem kerja, dan meningkatkan kompetensi untuk berkompetisi di pasar global.

Akses internet yang memadai ke daerah terpecil sekalipun akan membuka peluang digitalisasi bagi usaha kecil dan menengah, seperti apa yang telah terjadi di Indonesia barat dan tengah. Akses internet yang meningkat secara signifikan ini jelas akan meningkatkan pembelanjaan alat, teknologi informasi, dan komunikasi.

Dilansir Detikcom, Menkominfo Rudiantara menyatakan, perkembangan dunia digital di Indonesia ditargetkan bakal mencapai USD 130 miliar pada 2020, atau sekitar Rp 1.978 triliun.

“Dan kenapa kita bangun 20 ribu digital talent, mimpi saya 5 tahun lagi kebutuhan talent di Asean paling tidak di regional. Ekonomi digital kita ditahun 2020, kita harapkan mencapai USD 130 miliar. Itu kurang lebih sekitar 12% dari GDP kita,” ungkapnya.

Tersambungnya Palapa Ring secara utuh merupakan perwujudan dari Nawacita Indonesia. Palapa Ring bisa menyatukan seluruh daerah di Indonesia dengan komunikasi layakan telekomunikasi yang cepat dan real time membuat kesenjangan akan semakin berkurang.

#01JokowiAmin

Kalau Anda disuruh milih, pilih yang mana ?


Saya gak mau ngomong soal memilih presiden. Itu sih, terserah aja. Kali ini saya mau ngomong soal pilihan lain. Tapi tetap menyangkut Jokowi dan Prabowo. Dari jawaban inilah kita tahu, apakah kita masih bisa berfikir cerdas dan sehat?

1.Misalnya kamu seorang istri, kamu mau punya suami yang seperti apa? Seperti Jokowi. Atau seperti Prabowo?

2.Misalkan kamu punya keluarga, kamu mau keluarga yang kayak gimana? Seperti keluarga Jokowi. Atau seperti keluarga Prabowo?

3.Misalkan kamu punya karir, kamu ingin mencontoh siapa? Mencontoh karir Jokowi atau karir Prabowo?

4.Jika kamu seorang beragama. Kamu maunya beragama seperti siapa? Seperti Jokowi atau seperti Prabowo?

5.Misalkan kamu punya putri, kamu mau putramu tumbuh seperti siapa? Seperti putra-putrinya Jokowi. Atau seperti putranya Prabowo.

6.Misalkan kamu punya atasan, kamu mau sifat atasanmu seperti apa? Seperti Jokowi atau seperti Prabowo.

7.Misalkan kamu seorang ulama, kamu mau berdiskusi dengan orang yang seperti apa? Seperti Jokowi atau seperti Prabowo.

8.Jika kamu mau mencari teladan kehidupan, kamu mau mencontoh siapa? Mencontoh Jokowi atau mencontoh Prabowo.

9.Jika kamu jadi orang tua. Kamu mau sifat-sifat anakmu seperti siapa? Seperti Jokowi atau seperti Prabowo.

Nah, jawaban dari semua pertanyaan ini, menandakan apakah kita bisa berfikir sehat.

Sebarkan cara memilih pemimpin yang baik ini, karena ini merupakan cara paling mendasar dalam menentukan Calon Pemimpin Kita

Salam,
JS. smiling activist.

5 Pantai Terindah Banten...Bagikan temanku !


Dan saat pesta politik jangan lupa mencoblos kami:


10 Tempat Wisata Banten...Bagikan temanku.


Dan saat pesta politik jangan lupa mencoblos kami:



Top Leo Rojas...Bagikan temanku sekalian.


Dan pada pesta politik jangan lupa mencoblos kami:

Ombak kecil ternya tsunami,bagikan temanku.


Ingat kami saat pesta politik....Selamat mencoblos:

Wednesday, January 30, 2019

Rohaniwan Katolik: NU Memberikan Sumbangan Besar Bagi Indonesia


JAKARTA - Rohaniwan Katolik, Romo Franz Magnis Suseno mengatakan Nahdlatul Ulama (NU) memberikan sumbangan besar untuk kehidupan lebih baik di Indonesia.

“Saya merasa bahwa NU sudah memberikan sumbangan besar untuk kehidupan lebih di Indonesia,” kata Romo Franz Magnis di Jakarta, Rabu (30/1).

Romo Franz menyampaikan hal itu terkait Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-93 yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2019.

Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, NU menunjukkan bahwa bisa saling menghargai meskipun agama berbeda. Tapi dalam bercita-cita memajukan kemanusiaan dan keindonesia kita bersama-sama.

Romo Frans juga menghargas sikap NU yang terus-menerus menekankan moderasi, tidak memberikan ruang bagi paham ekstrim atau radikal yang bisa mengancam persatuan.

Sementara itu, Ketua Panitia Harlah ke-93 NU, Emha Nabil Haroen mengatakan peringatan hari lahir (Harlah) ke-93 Nahdlatul Ulama (NU) dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta pada 31 Januari 2019. Presiden Joko Widodo diminta membuka acara yang berlangsung dua hari tersebut.

“Beliau (Jokowi) nanti akan hadir. Kami minta untuk membuka acara. Acara akan berlangsung 2 hari, dari tanggal 31 Januari sampai 1 Februari," kata Emha Nabil Haroen.

Nabil mengatakan acara tersebut bakal dihadiri sekitar 1.500 peserta dari ketua dan rois Pengurus Cabang NU seluruh Indonesia. Harlah ke-93 NU tahun ini mengangkat tema 'Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad NU'.

"Jadi mengonsolidasi NU struktural untuk satu irama," ujar pria yang juga menjabat Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa.

NU merupakan organisasi yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tak terlepas dari Hadratus Syeikh KHM Hasyim Asy'ari, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan KH Abdul Wahab Hasbullah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.(fri/jpnn)

https://www.jpnn.com/news/rohaniwan-katolik-nu-memberikan-sumbangan-besar-bagi-indonesia?page=2



PKB Targetkan 25 Juta Suara untuk Jokowi-Maruf

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menargetkan 25 juta suara untuk Jokowi-Maruf dalam Pilpres 2019. Hal itu disampaikan Muhaimin dalam acara konsolidasi caleg PKB sekaligus haul ke-9 Abdurrahman Wahid, Gus Dur, di Balai Sarbini, Jakarta.

Muhaimin atau akrab disapa Cak Imin itu mengatakan, jumlah suara itu sebagian besar berasal dari PKB. Cak Imin menuturkan angka 25 juta suara dirasa bakal diraih jika pada Pilpres 2014 ada 11 juta suara kader PKB, Nahdhatul Ulama (NU) mendukung Jokowi.

“Keluarga besar NU, PKB, ahli sunnah dan pesantren ada 11 juta pemilih 2014 pendukung Pak Jokowi solid, kuat, hari ini kita harus lipatkan 3 kali,” kata Muhaimin, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Optimisme itu, menurut Muhaimin juga berangkat dari bertambahnya jumlah pemilih dan keputusan politik masyarakat. Ia mengklaim, kebanyakan orang pada Pilpres 2014 yang belum memiliki hak memilih, maka di Pilpres 2019 pemilih tersebut berpeluang memilih Jokowi-Ma’ruf.

“Tetangga saya yang kemarin milih pasangan sebelah sekarang alhamdulillah udah se arah sama kita (mendukung Jokowi-Ma’ruf). Dua anak saya kemarin belum punya hak memilih sekarang sudah, nah dari situ kita akan terus genjot,” tandasnya.

Jokowi yang turut hadir dalam acara tersebut berterima kasih atas dukungan partai besutan Gus Dur itu. Bahkan sesuai survei internal, ia menyebut persentase dukungan PKB kepadanya dan Ma’ruf mencapai 91 persen.

“Itu sangat tinggi, 91 persen,” tandasnya


Source : https://www.liputan6.com/pilpres/read/3816927/pkb-targetkan-25-juta-suara-untuk-jokowi-maruf

Ardy Susanto Dorong Industri Kreatif Lewat Nobar Film Preman Pensiun



TANGSEL - Calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Ardy Susanto menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (Nobar) film Indonesia “Preman Pensiun”.

"Kegiatan nonton bareng ini sebagai wujud dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di masyarakat,” ungkap Ardy Susanto pada nonton bareng di Tangerang City, Selasa (22/1).

Kegiatan nobar ini juga didukung oleh Komunitas Mobil dan rencananya akan diadakan lagi untuk Film-film Indonesia lainnya seperti Keluarga Cemara dan lain-lain.

Untuk diketahui, acara nonton bareng ini mendapat sambuatan sangat antusias dari lebih dari seratus peserta. Acara ini juga turut dihadiri sejumlah politikus PKB sekaligus calon anggota legislatif. Di antaranya Marpuah (Caleg DPRD Provinsi Banten Dapil 7), Rachel Tuerah (Caleg DPRD Kota Tangsel Dapil 3), Bowo Kristian (Caleg DPRD Kota Tangsel Dapil 5), Mei Harto (Caleg DPRD Kota Tangsel Dapil 2) dan Elvan Wicaksana (Caleg DPRD Kota Tangerang Dapil 1).

Caleg DPRD Kota Tangsel dari PKB, Rachel Tuerah menambahkan Film Indonesia saat ini merupakan industri kreatif yang dapat diandalkan karena mampu bersaing sampai dunia Internasional. Oleh karena itu, Rachel mengajak untuk mencintai karya dan film yang diproduksi oleh anak bangsa.

“Mari cinta Film Indonesia. Sudah saatnya film-film Indonesia berjaya di negerinya sendiri,” kata Rachel.(jpnn)

Source : https://www.jpnn.com/news/ardy-susanto-dorong-industri-kreatif-lewat-nobar-film-preman-pensiun


Monday, January 28, 2019

Kisah Kehidupan Jokowi di Gayo.



Kisah Kehidupan Jokowi di Gayo. ( Resensi Buku Tentang Joko Widodo )

SIAPA sangka Presiden Republik ketujuh Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), pernah menetap tiga tahun di Dataran Tinggi Gayo,
Aceh.

Jauh sebelum terjun ke dunia politik, Jokowi muda tinggal di kaki Gunung Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah, sejak 1986
hingga 1989.

Kedatangannya ke Tanah Gayo, bak menikmati bulan madunya dengan sang istri, Iriana Jokowi yang baru ia nikahi di Solo, pada
24 Desember 1986.

Saat Jokowi berada di sana, Bener Meriah belum mengalami pemekaran sehingga masih masuk wilayah Kabupaten Aceh Tengah.

Seusai menerima ijazah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dia langsung terjun ke masyarakat sehingga Jokowi pasti tahu betul
bagaimana karakter Urang Gayo dan alamnya.

Begitu juga dengan Aceh khususnya Lhokseumawe dan Banda Aceh yang kerap dikunjungi semasa bekerja di PT KKA.

Jokowi, menurut para sahabatnya, semasa di PT Kertas Kraft Aceh (KKA) sering menikmati secangkir kopi Gayo.

Namun, bukan pecandu kopi. Bahkan, Jokowi menyukai cara Urang Gayo mengistimewakan tamu dengan menawarkan ngopi mulo, mangan
mulo atau ngopi dulu, makan dulu.

Buku Jejak Jokowi di Gayo, berkisah kehidupan awal Joko Widodo setelah menikah dan memulai kariernya di Kabupaten Aceh Tengah
dan Bener Meriah.

Kepingan catatan itu dikumpulkan sejak awal 2014.

Dimulai dari seputaran kampung Bale Atu dan Kampung Karang Rejo Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh.

Kedua Kampung ini mengapit lokasi PT KKA (persero) Divisi Hutan saat beroperasi.

Pusat Perumahan pekerja PT KKA dan pembibitan pinus merkusii mulai beroperasi pada 1983, berada di Kampung Bale Atu.

Sesuai namanya, PT KKA (persero) mengolah pinus merkusii yang tumbuh di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

PT KKA didirikan dalam rangka swasembada kertas kantong semen dan peningkatan ekspor nonmigas.

Jenis kertas yang dihasilkan ialah multiwall regular, multiwall extensible (clupak), di samping itu diproduksi pula
lineboard.

Selanjutnya, pinus merkusii dibawa ke Pabrik PT KKA di Aceh Utara melalui jalan yang dibangun setelah disurvei Jokowi dan
kawan-kawannya pada 1986-1988.

Nama kampung Bale Atu tiba-tiba melejit hingga penjuru nusantara seiring pencalonan Jokowi sebagai calon presiden pada
Pemilihan Presiden 2014.

Jokowi yang pernah menjabat kepala divisi kontruksi perumahan (Housing) di PT KKA itu, juga mendapatkan dukungan penuh dari
warga setempat guna melaju sebagai calon Presiden RI di Pemilu 2014.

Buku ini menjadi referensi tambahan tentang Gayo terutama terkait sejarah.

Selain itu juga sebagai bentuk dukungan pembangunan karakter generasi bangsa, Urang Gayo, Aceh, dan Indonesia umunya karena
berisi penggalan perjalanan karir putra Indonesia selepas perguruan tinggi hingga menjadi orang nomor satu di Republik
Indonesia.

Memajukan Gayo

Buku Jejak Jokowi di Gayo mengupas tentang awalnya Jokowi bisa ke Gayo melalui lowongan kerja di PT KKA yang diterima di
Divisi Hutan di Aceh Tengah.

Di luar bidang ilmunya kehutanan, Joko paham tentang Gayo, bukan pinus merkusi dan warganya, melainkan juga kopi, budaya,
keindahan panorama, serta kekayaan sumber daya alam. Saat itu Joko dan kawan-kawan hanya ingin memajukan Gayo.

Jejak Jokowi di Gayo menceritakan kehidupan Jokowi sebagai karyawan PT KKA yang dulu disebut Joko oleh rekan kerja dan
masyrakat sekitar.

"Gayo adalah kampung saya" kata Jokowi untuk daerah yang pernah ia diami selama masa tugasnya dan menyukai panorama indah
Gayo.

Tidak berlebihan memang menyatakan karier Jokowi hingga menjadi presiden RI priode 2014-2019 diawali dari Gayo.

Awalnya, tugas Jokowi bersama rekan-rekannya serabutan baik di pembibitan hingga survei orietasi jalan.

Kemudian, difokuskan di bagian konstruksi, menyiapkan sarana prasarana bangunan kantor, bangunan tempat pembibitan, bengkel
hingga perumahan karyawan PT KKA.

Selama berada di PT KKA, jokowi diberikan tugas membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat melalui olahraga, seni,
dan kegiatan sosial, seperti pembangunan sarana ibadah serta pendidikan.

Selain itu, secara pribadi sesuai ilmu yang ia peroleh dari UGM, Jokowi membina karyawan dan masyarakat sekitar tentang
kehutanan.

Tidak mengherankan, Jokowi paham tentang Gayo, bukan hanya saja pinus merkurii dan warganya tetapi kopi, budaya, sumber daya
alam serta keidahan parorama Gayo.

Secara keseluruhan, buku ini memang menuliskan fakta melalui wawancara yang dilakukan terhadap 24 orang yang pernah berkerja
dengan Jokowi.

Mereka seakan menjadi saksi hidup perjalanan sejarah yang dilalui Jokowi selama di daratan tinggi Gayo.

Seperti kisah yang diceritakan mantan sopir PT KKA, Imran.

Ia mengaku kedekatanya dengan Jokowi sampai-sampai mengetahui gaji seorang insiyur, yang ternyata ialah Jokowi.

Imran sangat dipercaya sebagai sopir dan beberapa kali mengantarkan Jokowi untuk keperluan dinasnya.

Suatu hari Jokowi menunjukan slip gaji pertamanya di PT KKA, yakni Rp225.000 pada 1986.

Imran juga mengungkapkan sisi lain Jokowi yang menyukai musik rock, lagu Barat atau Indonesia.

Dalam perjalanan, lagu-lagu itu terus terdengar selama Imran bepergian dengan Jokowi.


Cerita lainnya, terungkap dari mantan rekan kerja Jokowi, Samsir mengatakan jika blusukan atau berkunjung langsung ke
masyarakat bukan hobi baru yang dilakukan Jokowi.

Ketika di PT KKA, Jokowi muda sudah melakukan blusukan untuk mengetahui kondisi lapangan.

Bahkan, ia juga mengawasi dan melapor penembangan pohon pinus yang dijadikan bahan bangunan.

Samsir yang dikenal bertemperamen keras dan suka melawan atasan, bisa akur ketika berhadapan dengan Jokowi.

Pasalnya, Jokowi muda dikenal pintar membawa suasan kondusif dan mengambil hati staf.

Bahkan, Samsir mengaku pernah diajak Jokowi keliling naik sepada motor.

Di luar dugaan, Jokowi muda bertemu dengan orang Jawa di perdalaman Gayo.

Soerkardjo namanya.

Ia mengaku pernah bertemu seorang sarjana berkacamata dan berkumis saat berkerja di PT KKA.

Menariknya, ia tidak mengetahui jika orang tersebut ialah Jokowi yang saat ini menjadi presiden RI.

"Dia menegur saya, tanya siapa saya. Saya Jawab Soekardjo, lalu dia bertanya apakah saya suku Jawa. Saya jawab iya,"

"Saya Jawa kesasar di sini Pak, cuma saya orang Jawa di sini Pak,"

Jokowi terkejut dan heran, dan balik bertanya kok ada ada ya orang Jawa di sini?

Sangat menarik, membaca halaman demi halaman buku dengan ketebalan 200 halaman ini.

Selain di sajikan dengan format tulisan tanya jawab.

Penyajian dengan bahasa yang sederhana juga memudahkan siapa saja untuk membacanya sampai habis.

Selain itu, juga ada riset data dan penampilkan sejumlah foto dokumentasi Jokowi muda saat berada di Gayo.

Bahkan, seluruh orang-orang yang mengenang kehidupan Jokowi memiliki kisah-kisah yang menarik dan beragam tentang sosok
Jokowi. (M-2)

Oleh: Ferdian Ananda Majni - 13 Januari 2018.
Judul: Jejak Jokowi di Gayo
Penulis: Khalisuddin, Murizal Hamzah
Penerbit: Bandar Publishing
Tebit: November 2017
Tebal: 200 halaman

http://m.mediaindonesia.com/read/detail/140562-kisah-kehidupan-jokowi-di-gayo?
fbclid=IwAR1dRFg7TEwaFabtfxQclys08FY61TLjPpzSMJHXzE_9psmhx5Jkc96pAqE

Friday, January 25, 2019

JIKA ORANG BERTANYA, BAGAIMANA DENGAN JANJI JOKOWI YANG BELUM DITEPATI?


TANYA:
"1, Jokowi belum nepati janji BUY BACK INDOSAT? "

JAWAB:
"Oke, ini mudah sekali jawabannya kalau kita sering BANYAK MEMBACA informasi yang benar. Buyback Indosat DICANCEL Presiden Jokowi sebab Indosat sudah merugi. Negara sebelah saja nyesel beli Indosat. Dan sekarang kita sudah beli satelit baru -merah putih dari Telkom"

TANYA:
"2, katanya kalau Jokowi jadi Presiden tidak bagi-bagi kekuasaan! "
JAWAB:
"Memang beliau tidak bagi-bagi kekuasaan seperti rezim Soeharto yang jadiin anak sulungnya si Tutut jadi Menteri. Atau seperti SBY yang jadiin Ibas Sekjen Partai Demokrat. Sementara Jokowi malah ngasih kerjaan anaknya jadi KOLEKTOR KECEBONG, si Kahiyang nggak lolos seleksi CPNS malah diam saja. Mana buktinya bagi-bagi kekuasaannya buat keluarganya? "

TANYA:
"3, Jokowi janji tidak menaikkan BBM! "

JAWAB:
"Tidak menaikkan BBM. Cuman subsidinya aja yg dicabut. Aslinya harga BBM udah makin murah dari yang dulu. Tapi karena subsidi dialihkan, kesannya lebih mahal. Padahal era sblmnya harga premium Rp. 6.500 skrg Rp. 6.550, subsidi utk pembangunan desa dll Kesannya ya, KESANNYA. Padahal aslinya udah turun. Selain itu harga BBM sudah SAMA antara di Jawa dan Luar Jawa, itulah yang namanya menepati janji dari sila ke 5 dari PANCASILA! "

TANYA:
"4, janjinya tidak impor pangan."

JAWAB:
"Jangan asal percaya plintiran kalimat itu, Tidak ada sejarahnya Presiden menolak impor pangan, semua itu akan disesuaikan dengan SITUASI dan KONDISI dalam negerinya. Bila melimpah di ekspor bila kekurangan ya impor, itu sah dan ada undang-undangnya."

TANYA:
"5, mobil SMK tidak ada buktinya dibikin."

JAWAB:
"Mobil SMK? Coba yang bertanya itu suruh ke Boyolali, ataw Cileungsi, Bogor pabriknya udah kelar itu, apa mereka mau beli atau cuma ngiri sama anak-anak SMK yang bisa bikin mobil itu? Maklum mereka nggak tahu kalau Presiden Jokowi sangat intensif mengawasi mobil SMK ini, ada buktinya foto orang yang dipercayai sering di undang ke Istana, cuma tidak dipublish saja ."

TANYA:
"6, janjinya Jokowi akan mempersulit investor asing! "

JAWAB:
"Persulit Investor Asing? Bayangkan itu Freeport,.. Sesuai Data, semula gajinya 400M per-tahun. Eh mendadak Jokowi ngajuin kontrak baru yang bikin gaji mereka jadi cuma 196M per-tahun. Masih merasa dipermudah kah? Dan Freeport juga setuju melepas sahamnya, atau melakukan divestasi, sebesar 51 persen kepada pemerintah Indonesia dan membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian yang harus selesai Januari 2022 dan ada stabilitas penerimaan negara."

TANYA:
"7, Jokowi berjanji tidak mencabut subsidi buat rakyat! "

JAWAB:
"Mana buktinya subsidi dicabut? Subsidi Listrik 450W s/d 900W untuk keluarga yang nggak mampu TIDAK DICABUT kok. Kalo mau, tinggal lapor aja ke Kelurahan, bikin surat keterangan MISKIN! Apa mereka tidak malu kalo ngaku miskin tapi getol main Facebook setiap harinya nagih janji melulu, janjinya Mahasiswa bisa kuliah cepat kelar pada ortunya saja banyak yang tidak ditepati lho! "

TANYA:
"8, Jokowi berjanji tidak ngutang lagi, buktinya utang bertambah terus! "

JAWAB:
"Nggak ngutang lagi? Helloooo... Jangankan negara, Mungkin lo aja punya utang. Negara emang berutang banyak sekarang, ribuan TRILIUN deh, sebagian utang warisan pemerintahan sebelumnya. Cuman utangnya kan buat bangun- bangun. Belanja modal lah kasarnya. Bandingkan saja dengan utang Presiden sebelumnya dengan hasilnya, LEBIH TERLIHAT mana hasilnya hayo!?
Jadi jangan ngitung utang Presiden Jokowi, tanpa ditambah dengan utangnya Presiden sebelumnya, itu namanya itung-itungan model bahlul dan asal jeplak."

TANYA:
"9, katanya Jokowi akan menyetop mobil murah!"

JAWAB:
"Itu janji sewaktu jadi Gubernur DKI Jakarta mas bro, tujuannya untuk membatasi peredaran mobil murah di Ibukota. Jadi harus dilihat konteksnya bukan ASAL MENUNTUT tapi tidak tahu permasalahannya."

TANYA:
"10, Jokowi berjanji ciptakan 10 juta lapangan pekerjaan, mana buktinya? "

JAWAB:
"Lho sudah terbukti dan akan semakin terjadi, proyek infrastruktur di seluruh Indonesia itu menyerap tenaga kerja, silahkan dihitung sob. Belum kelak kalau infrastruktur sdh mapan _10 juta lapangan pekerjaan itu mah kecil..!!
Selain itu lewat investasi asing negara bisa bayar utang yg segunung dgn lebih cepat dan lebih bnyk lagi tong.

Penyebar hoax di balas fakta
TOP markotop, cerdas, cerdik, logis bikin mereka melongo & mati gaya!!!
Seng Akur Wae Yoo...

Jokowi Presiden RI 2019-2024
salam 01 👍
  #JokowiLagi

Thursday, January 24, 2019

Kiai Sepuh NU Isyaratkan All Out Menangkan Jokowi-Ma'ruf



Surabaya - Kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) bersilaturahmi dengan cawapres Ma'ruf Amin di Surabaya. Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar mengatakan kiai Ma'ruf Amin salah satu terbaik kader NU jangan sampai gagal di Pilpres 2019

"Untuk menunjukkan beliau sebagai kader terbaik tunjukkan, jangan sampai beliau gagal (pilpres 2019). Itu artikan sendiri," kata kiai Miftahul usai pertemuan di Hotel JW Marriot, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/1/2019).

Salah satu perwakilan kiai sepuh NU atau biasa disebut kiai khos, Miftahul mengatakan, selama ini NU menganut sistem komando yang harus diikuti pengurus cabang hingga ranting, namun sudah menipis. Oleh sebab itu, sistem komando NU harus dihidupkan kembali.

"Jadi komando PBNU harus diikuti semua tataran, semua lapisan, tingkatan dari jajaran PB (pengurus besar) sampai anak ranting. Kapan lagi kalau kita tidak mulai hidupkan kembali yang selama ini sistem komando sudah mulai menipis, bukan hilang ya, sudah mulai mengeropos," jelas dia.

Organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari ini akan menggelar hari lahir ke-93 tahun, disebut menjadi momentum warga nahdliyin. 

"Terutama kita hadapi satu abad NU, lima enam tahun lagi kita (PBNU) akan usia seratus tahun, ini sebuah momentum, dan juga momentum yang penting yaitu kita harus betul-betul bisa mengoptimalkan," kata Miftahul.

Dikesempatan yang sama, perwakilan kiai sepuh NU, KH Anwar Iskandar menyebut pertemuan itu telah menyepakati untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf. Warga nahdliyin diminta untuk satu kata dan satu kalimat untuk Ma'ruf. 

"Kita bertemu untuk buat kesepakatan. Pertama kami kiai-kiai Jatim dan tentu pasti warga NU, satu kata, satu kalimat, satu barisan dalam pilpres akan datang suara kita untuk kiai Ma'ruf," kata pengasuh pondok pesantren Al Amin itu.

Lebih lanjut, Anwar Iskandar mengaku pihaknya akan mengoptimalkan suara di daerah melalui pondok pesantren dan alumni pesantren. Dia menargetkan raihan suara untuk Jokowi-Ma'ruf sekitar 70 persen di Jawa Timur. 

"Kedua kita akan optimalkan basis suara yang kita miliki terutama melalui ponpes dan alumni yang bertebaran di seluruh Jatim. Jaringan alumni itu di Jatim khsuusnya, dan karena pesantren kan punya jaringan besar alumni dimana-mana, tapi paling penting di Jatim target 70 persen," tuturnya.

Sementara itu, Ma'ruf mengaku ingin mengoptimalkan jaringan NU struktural dan kultural pada pilpres 2019.

"Pertemuan malam ini untuk mengoptimalkan, melakukan konsolidasi terhadap semua jaringan NU yang ada di Jatim khususnya, ada jaringan NU struktural, NU kultural, jaringan ponpes dan lainnya," ucap Ma'ruf usai pertemuan tertutup di Hotel JW Marriot, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/1/2019).

Mustasyar PBNU itu meminta seluruh jaringan NU harus disinkronisasi atau dihidupkan bersama jaringan pondok pesantren. Pertemuan itu menyepakati para kiai melakukan gerakan menghidupkan jaringan NU. 

"Ini smua kita sinkronisasi, jangan sampai ada jaringan yang off, artinya yang tidak on, kita on kan semua supaya hasilnya optimal. Ini sudah disepakati untuk melakukan gerakan meng-on-kan semua jaringan itu," kata Ma'ruf.

Dalam pertemuan tersebut dihadiri kiai sepuh NU atau kiai khos diantaranya, pengasuh pondok pesantren Lirboyo KH Anwar Manshur, pengasuh pondok pesantren Al Falah KH Zainuddin Djazuli, Pengasuh Pesantren Al Amin, KH Anwar Iskandar dan Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. 

Kiai lain yang hadiri yaitu, KH Fuad Mun'im Jazuli, KH Abdullah Kafabih, KH Ali Masyhuri, KH Idris Hamid, KH Nuruddin, KH A Muqsit Idris, KH Ja'far Yusuf dan KH Abdul Matin. Selain itu, KH Syafi'uddin Wahid, KH A Salam, KH Abd A'la, KH Mutawakkil Alallah, KH Ubaidillah Faqih, LH Ahmad Fahrur Rozi, KH Abdulhadi, KH Syamli Muqsith, KH Fuad, dan KH Ramdlan Siraj.

Source : https://news.detik.com/berita/d-4397881/kiai-sepuh-nu-isyaratkan-all-out-menangkan-jokowi-maruf?utm_source=whatsapp&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news















Mengamankan Orang-Orang Baik di Sekitar Jokowi


Mengamankan Orang-Orang Baik di Sekitar Jokowi

Muhammad Nurdin

April 2016 silam, Sri Mulyani menyampaikan salam perpisahannya dalam sidang tahunan Bank Dunia dan IMF. Ia mengatakan, “Saya sangat mencintai Indonesia, dan tidak punya pilihan lain, saya harus kembali.”

Enam tahun silam, saat ia memutuskan untuk melepaskannya jabatannya sebagai Menteri Keuangan di Era SBY, dan mengasah karirnya di dunia internasional (Bank Dunia), keluarganya sempat terkejut dan tidak percaya.

Tapi Sri Mulyani berjanji kepada keluarganya, suatu hari ini ia akan kembali. Suatu hari ia akan mengabdi kembali di tanah kelahirannya, Indonesia.

Dan benar saja. Setelah enam tahun berlalu. Indonesia menyuruhnya untuk pulang. Presiden Jokowi memintanya kembali ke Indonesia. Ada tugas besar lagi berat untuknya.

Sri Mulyani seolah menemukan momentum untuk kembali mengabdi, untuk menjawab kegelisahan yang selalu menghantuinya tentang bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membangun negeri ini.

Jokowi tahu, Sri Mulyani adalah bintang. Ia adalah begawannya keuangan di dunia. Tapi, Jokowi juga tahu soal kekecewaan yang tak pernah diungkapkannya dulu. Dulu, saat ia memutuskan lebih baik berkarir di luar negeri. Sebab, seolah-olah ia yang paling bersalah dalam satu kasus mega skandal yang cukup ramai kala itu.

Saat Sri Mulyani kembali ke tanah air, lalu diminta oleh Presiden menjadi menteri keuangan, ia bertanya kepada Presiden, “Pak Presiden, mandat saya apa?”

Jokowi menjawab, “Saya mau bangun infrastruktur, mau bangun SDM, tapi saya gak mau pusing soal ekonomi negara.”

Sri Mulyani membalas, “Tapi ekonomi negara lebih pusing pak.”

Dengan entengnya Jokowi menjawab, “Ya itu urusan kamu.”

Jokowi tahu kompetensi Sri Mulyani. Ia sudah tak perlu didikte lagi, asal arah pembangunan Indonesia jelas ke mana.

Sri Mulyani juga tahu bahwa Presiden punya visi yang konkret, ingin membangun dari pinggiran, ingin benar-benar infrastruktur itu bisa memecahkan masalah.

Dua tahun menjabat sebagai menteri keuangan, kita saksikan APBN kita sudah tidak sakit lagi. Kita sudah bisa mendulang surplus. Ekonomi kita bangkit. Pengangguran terus dikikis. Inflasi tetap dijaga.

Jokowi benar-benar mempercayakan ekonomi negara sepenuhnya kepada Sri Mulyani. Ia tidak mau pusing soal itu. Sebab, ada pekerjaan besar yang harus ia kebut. Ya, pembangunan infrastruktur (dari pinggiran)

Jokowi perlu satu orang yang memang tidak jauh beda dari dirinya, yang gila kerja juga “koppig”. Dan ia menemukan satu orang, Basuki Hadimuljono. Mungkin, tidak ada orang di negeri ini yang gila kerja (membangun negeri) semisalnya.

Kadang ia berada di Jawa. Tak lama ia sudah berada di Sumatera. Tak lama lagi di pedalaman Papua. Di Maluku, Timor, Sulawesi, Lombok dan di tempat-tempat dimana Presiden mau dibangunkan sesuatu di tempat tersebut.

Di Jawa sudah tersambung jalan tol. Sebuah pekerjaan yang sudah sejak lama didambakan para pengguna roda empat, enam, delapan juga sepuluh.

Di Papua, tempat-tempat yang dulunya hanya bisa ditempuh lewat udara atau jalan kaki, kini sudah membentang jalan mulus yang bisa dilalui aneka kendaraan.

Menteri yang didaulat sebagai Daendlesnya Jokowi ini mengaku sudah tak punya waktu luang lagi. Ia berujar, “Hidup saya mungkin sekarang habis untuk pekerjaan. Rumah, kantor, istana dan lapangan. Hidup saya hanya itu empat tahun ini.”

Bahkan, saat akhir pekan pun, kadang digunakan untuk meninjau proyek infrastruktur di luar Jakarta.

Basuki mengaku tak pernah lelah berkeliling Indonesia. Sebagai anak yang hidup di keluarga tentara ia kerap mengikuti sang ayah yang sering berpindah tugas.

Tak hanya Basuki, Jokowi juga memiliki Retno Marsudi. Perempuan pertama yang memangku jabatan sebagai Menteri Luar Negeri.

Perempuan yang pernah menjadi Dubes untuk Norwegia dan Belanda ini dikenal sebagai sosok yang ramah dan hangat. Berpenampilan sederhana, perempuan kelahiran semarang ini mempunyai etos kerja yang tinggi.

Pada Januari 2015, Retno mendapat anugerah tertinggi “Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau” dari Raja Belanda, karena prestasinya yang luar biasa sewaktu menjabat sebagai Dubes RI untuk Belanda.

Padahal, Belanda merupakan pos yang sulit untuk banyak diplomat. Ketegangan diplomatik selalu menjadi dinamika yang sulit disudahi. Entah karena catatan sejarah yang kelam di masa lampau. Tapi, Retno membuktikan kapasitasnya sebagai diplomat yang handal. Sehingga, hubungan bilateral dua negara ini terus meningkat.

2017 lalu, saat ramai kasus “genosida Rohingya” di Myanmar. Banyak pihak menuding pemerintah bungkam dan tidak berbuat apa-apa. Oposisi makin yakin bahwa pemerintahan Jokowi sebagai anti-Islam.

Padahal, sejak 2016 Menteri Retno sudah mulai membuka jalur “humanitarian aid” di Myanmar. Pada saat itu, Myanmar sangat tertutup dengan bantuan asing sehingga kasus penyiksaan etnis Rohingya semakin tidak terkontrol.

ASEAN sebagai organisasi regional Asia Tenggara pun sulit untuk bertindak karena adanya prinsip “non-intereference”. Tapi Retno sekali lagi membuktikan kehandalannya sebagai diplomat.

Retno akhirnya mengadakan pertemuan dengan San Suu Kyi di Naypidaw, Myanmar pada 6 Desember 2016 membahas terkait masalah Rohingya di Rakhine State.

Pada 19 Desember 2016 diadakan pertemuan ASEAN Retreat di Yangon, Myanmar untuk menindaklanjuti pertemuan Retno dan San Suu Kyi. Retno memaparkan agar permasalahan di Rakhine State diselesaikan menggunakan pendekatan inklusif.

Akhirnya, Myanmar membuka akses media dan kemanusian melalui ASEAN juga PBB dengan tujuan menstabilkan kondisi di Rakhine State.

Ada banyak sekali orang-orang baik di sekeliling Jokowi. Baru tiga orang saja saya ceritakan, saya sudah berkesimpulan, Jokowi punya magnet yang kuat untuk menarik orang-orang yang gila kerja berada di lingkarannya.

Orang-orang itu seperti terpanggil nuraninya untuk membantu Jokowi membangun negeri ini. Mereka tak butuh uang. Mereka juga tak butuh pemberitaan secara personal. Sebab mereka telah selesai dengan dirinya.

Saya tak bisa membayangkan, jika orang-orang baik di lingkaran Jokowi ini harus tersingkir seiring kekalahannya di Pilpres 2019. Nasib sial warga Jakarta, dimana orang-orang gila kerjanya Ahok dipindahkan, apakah skalanya akan menjadi nasional, jika Jokowi kalah dalam Pilpres nanti?

Kalau itu terjadi, yang sial dan rugi adalah kita. Sementara Jokowi dan orang-orang di belakangnya akan kembali menghabiskan masa tuanya dengan duduk-duduk santai di beranda rumah, sambil baca koran ditemani secangkir kopi yang agak pahit. Dan saat sebuah headline dibacanya, mereka hanya tersenyum getir. Sambil bergumam dalam hati, semoga negeri ini baik-baik saja.
(Tonny Hanif.)
☕🌤

Romo Yans Sulo: Jokowidodo, manusia langka yang dilahirkan di Asia



Romo Yans Sulo:
Berguru kebajikan dan kebijaksanaan dari seorang Jokowi
=Remah-remah dari 'cielito lindo' (surga kecil) Makale=
(Jokowidodo, manusia langka yang dilahirkan di Asia)

Para sahabat, Anda jangan memberiku predikat "kampanye" ketika aku menyorot nama presiden Republik Indonesia (Jokowidodo), Karena mamang aku sedang tidak untuk kampanye. Tetapi aku hanya ingin belajar daripadanya bagaimana hidup bersama. Bukan belajar membangun puluhan ribu kilo meter jalan raya dari Sabang sampai Merauke. Bukan pula belajar membangun bandara dan sumber energy. Bukan belajar bagaimana menjadikan bangsa ini pemilik tambang emas di Papua yang berpuluh-puluh tahun dibungkus oleh bangsa asing dengan nama tambang "tembaga". Bukan belajar bagaimana menyamakan harga bensin yang sama dari Sabang sampai Merauke. Bukan pula belajar bagaimana membangun rel kereta api dan atau membangun bendungan dan pasar tradisional yang membantu rakyat negeri ini merai kesejahteraannya.
Aku hanya ingin berguru kebajikan daripadanya. Iya, berguru kebajikan dan kebijaksanaan dari seorang manusia langka yang terlahir di negeri ini.
Aku ingin belajar melihat manusia sebagai mahluk yang luhur dan mulia.
Aku ingin belajar memberikan hak kepada yang memiliki hak dan belajar menuntut kewajiban bagi mereka yang memiliki kewajiban.
Aku ingin belajar bagaimana keluar dari zona aman, dengan menjadikan diri sebagai rahmat bagi sesama.
Belajar menahan godaan nafsu kekayaan di tengah zaman keserakahan.
Belajar ugahari di tengah negeri yang berlimpah susu dan madunya.
Serta aku ingin belajar bagaimana menjadi manusia yang beriman, jujur, bersih, rendah hati, dan kesatria, sebagaimana yang diajarkan oleh leluhur kami manusia Toraja sendiri: "Lobo'ko ammu kasalle, manarangko ammu kinaya, bidako ammu barani. Langngan-langngan oi sangbara'mu membulean pole' oko. Ammu tang disirantean, tenko to pasareongan".

Jokowi, sebuah nama yang lagi menjadi perbincangan seantero dunia. Nama yang seolah-olah mengakar dalam kedamaian di hati rakyat negeri ini. Nama yang tidak angker dan sekeramat nama-nama para penguasa yang lain di muka bumi, namun karya-karyanya mewarnai seluruh sudut nusantara. Namun aku tidak ingin berguru soal nama, pun pula tidak soal karya-karyanya. Tetapi aku ingin berguru daripadanya soal kebajikan dan kebijaksanaannya.
Ia dicacimaki namun tidak merasa sakit.
Dihina namun tidak merasa hina dan marah.  Difitnah namun tetap tersenyum.
Direndahkan namun semakin bersinar bagaikan bintang kejora.
Di"kafir"kan namun semakin beriman.
Dibenci namun semakin dicintai.

Aku sungguh-sungguh kagum kepadanya. Dalam hati aku bertanya, mahaguru seperti apakah yang telah mendidiknya bisa "hadir" seolah-olah seorang nabi.
Aku sungguh-sungguh kagum kepadanya. Dan sekali lagi dalam hati bertanya,  rahim seperti apakah yang telah mengandungnya sehingga dia bisa "lahir" bagaikan manusia ajaib, yang sanggup membalas cacian dengan pujian, membalas hinaan dengan doa sucinya, membalas fitnahan dengan canda tawanya.
Sungguh,  aku sungguh-sungguh kagum kepada pribadinya yang agung dalam kesederhanaan. Dia yang tidak larut dalam pujian ketika disanjung, dan tetap tegar penuh semangat bekerja ketika direndahkan. Kagum kepadanya bagaimana ia memilah dan memilih para menterinya yang sungguh-sungguh memiliki hati untuk bangsa ini, dan tidak segan-segan memecat para pecundang bangsanya saat mulai menunjukkan tanda-tanda tidak becus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Aku lalu berpikir, mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia yang sungguh selesai dengan persoalan dirinya, yang tidak lagi berfikir tentang dirinya ketika orang justru ramai-ramai mendiskreditkannya?
Mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia yang tidak sibuk dengan pujian dan hinaan karena di benaknya hanya ada pengabdian diri yang total?
Mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia bijak nan arif yang tidak pusing dengan segala label negatif yang dituduhkan atasnya?
Aku pun lalu berfikir, apakah orang-orang yang menghina dan membenci orang bersih yang setulus dan sesuci dia ini tidak akan terlempar ke tubir lembah kekwalatan dan kedurhakaan seperti "keyakinan kuno"  agama-agama suku di negeri ini sebelum agama-agama dari luar sana hadir di nusantara?

"Tuan presiden" (izinkan aku menyapa bapak dengan sapaan "tuan presiden"), tolong ajarkan kepadaku rahasia di balik "keunikan" pribadimu yang penuh misteri itu.
Ajarkanlah kepadaku rahasia tersenyum penuh keramahan ketika difitnah dan dihina. Ajarkanlah rahasia mendoakan ketika dicacimaki.
Ajarkanlah kepadaku rahasia mengampuni ketika disakiti.
Ajarkanlah kepadaku rahasia mencintai ketika dibenci.
Ajarkanlah kepadaku rahasia memuji ketika dicela.
Ajarkanlah kepadaku rahasia memikirkan orang lain ketika orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Ajarkanlah kepadaku mencipta hati dan budi yang suci walau diteriaki peka-i.
Ajarkanlah k epadaku bagaimana b erdoa siang dan malam untuk bangsa ini dan bagi mereka yang hendak menjadikannya negeri sapi perahan.
Ajarkanlah kepadaku untuk mengambil rupa rakyat biasa ketika jabatan penting berada di pundakku. Karena engkau yang walaupun orang nomor satu di negeri ini rela mengambil rupa dan hidup seperti kami rakyatmu. Duduk, makan,  dan tidur di bawah tenda darurat. Engkau sungguh-sungguh berhati mulia dalam kesahajaanmu. Engkau yang yang tidak pernah memikirkan kejahatan dan kehancuran bangsa ini sedetikpun dalam hidupmu.

Akupun ingin memiliki cinta yang membara untuk bangsa ini seperti cinta yang tuan presiden berikan untuk negeri ini.
Akupun ingin bekerja untuk anak-anak bangsa dalam tugasku yang penuh cinta kasih seperti tuan presiden bekerja dalam tugasmu yang penuh cinta kasih.
Akupun ingin tersenyum tanpa dendam kepada orang-orang yang mencacimaki diriku seperti tuan presiden tersenyum tanpa dendam kepada mereka yang membencimu.
Akupun ingin membawa dalam doa suciku nama-nama mereka yang membenciku di hadirat Allah yang mahabesar seperti tuan presiden menyebut nama-nama mereka yang tidak mengakui karya-karyamu.
Akupun ingin memikirkan orang lain ketika orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri seperti yang tuan presiden buat untuk negeri ini.
Akupun ingin hidup untuk memberi dan bukan untuk diberi seperti yang tuan presiden buat untuk negeri ini.

Tuan presiden, Bapak Jokowidodo, izinkan aku belajar kebajikan dan kebijaksanaan darimu walau sudah pasti engkau akan keberatan kusebut sebagai orang bijaksan nan arif.
Tetaplah memancarkan pesona kebajikan dan kebijaksanaanmu bagi negeri ini dan bagi dunia.
Biarkanlah doa-doa sucimu dan doa-doa rakyatmu yang setia menfuatkanmu selalu untuk tetap tersenyum bagi kaum sebangsamu sendiri yang mencacimu,  menghinamu,  menfitnahmu, dan merendahkanmu.
Biarkanlah kesahajaan dan kesederhanaanmu memancar dalam keagungan bangsa ini.
Biarkanlah kerendahan hatimu menyejukkan hati yang beku karena keserakahan harta dan kuasa.
Biarkanlah cinta abadimu untuk negeri ini terukir indah dalam karya-karyamu dari Sabang sampai Merauke.
Dan biarkanlah aku tetap berguru kebajikan dan kebijaksanaanmu, Karena engkau sungguh-sungguh seorang manusia yang penuh kebajikan dan kebijaksanaan titisan nusantara jaya. Bapak Jokowidodo, terima kasih telah "hadir" bagiku sebagai sosok teladan dalam kebijaksanaan dan guru dalam kehidupan bersama. Semoga umurmu panjang dan sehat selalu. Doaku menyertaimu selalu wahai presiden kami dan guru shopie-ku. *

Makale - Tana Toraja,  Medio Sept' 2018
R. D. Yans Sulo Paganna'.
(Penulis: Toraya Tondokku Nusantara Negeriku)

Membangun Demokrasi Beradab



Oleh: V. Hargo Mandirahardjo *)

Pengantar:
Lord Acton pernah menyampaikan: “Power tends to corrupt and absolutely power corrupts absolutely”, bahwa kekuasaan itu bisa saja disalahgunakan, tidak bermaksud untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, dan apalagi kalau kekuasaan itu absolut atau mutlak, entah dalam bentuk diktatorian ataupun totalitarian sudah pasti kesejahteraan rakyat bukanlah tujuan utama dari penguasa tersebut.
Pemerintah dibentuk bukan sekedar untuk menjadi penguasa negara, tetapi dalam konteks Indonesia, pemerintah dimaksudkan untuk:  Melindungi segena bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; Memajukan kesejahteraan umum; Mencerdaskan kehidupan bangsa; Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Inilah yang menjadi tujuan daripada pembentukan pemerintahan di Indonesia. Prinsipnya bahwa pemerintah yang berkuasa adalah semata-mata untuk mewujudkan tujuan negara tersebut antara lain mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum.

Bagaimana membentuk pemerintah yang berkuasa namun tidak menyalahgunakan kekuasaannya seperti yang dimaksudkan oleh Lord Acton atau bagaimana Pemerintah yang berkuasa itu hanya semata-mata untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud oleh UUD NRI Tahun 1945, yang didalamnya terdapat Dasar Negara yakni Pancasila yang juga merupakan sumber dari segala sumber hukum?
Pertanyaan diatas adalah wacana dalam membangun demokrasi yang beradab di Negara Indonesia. Terwujudnya keadilan sosial dan kesejahteraan umum adalah suatu keadaban baru negara bangsa Indonesia, oleh karena itu demokrasi juga harus dibangun dengan habitus baru. Ini merupakan perubahan yang tidak hanya mengubah pradigma dan mental melainkan menjalani kebiasaan-kebiasaan yang efektif melalui semangat kerja, kerja dan kerja yang produktif demi terwujudnya bonnum commune atau kesejahteraan umum.

Politikus dan Habitus Baru
Demokrasi adalah satu-satunya cara yang paling rasional yang dapat diterima dalam membentuk Pemerintahan Republik Indonesia karena penduduknya berbhineka, plural atau heterogen baik suku, agama, ras dan berbagai latar belakang lainnya. Kebhinekaan ini adalah rahmat Tuhan yang perlu kita syukuri dan selalu menjaganya karena sebagai prasyarat utama dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang damai, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Demokrasi sebagai sistem politik tidak hanya sekedar membentuk pemerintah yang dilegitimasi melalui pemilihan umum. Demokrasi prosedural harus sejalan dengan demokrasi substansial, oleh karena itu dalam pemilihan umum kita tidak hanya sekedar mengisi kursi-kursi yang ada di legislatif maupun eksekutif, tetapi dalam kacamata yang lebih luas, pemilu itu dimaksudkan untuk menciptakan suatu peradaban yang baru. Pemerintah hasil pemilu bersama rakyat yang berjalan dalam sejarah bangsa dan negara akan menciptakan keadaban negara bangsa yang tentunya semakin baik ke depan.

Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa dalam perebutan kekuasaan melalui sistem pemilu ini, politik Indonesia dihiasi dengan strategi yang kadangkala penuh intrik, maka tak heran hoax untuk menjatuhkan lawan sering berseliweran dalam medan politik kita, termasuk penggunaan  politik identitas. Sering perdebatan dan adu argumen mengenai program kerja dan berbagai kegiatan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kalah dengan perilaku oknum politisi kita yang lebih senang saling sahut menyahut soal issue-issue yang sama-sama tahu isinya hoax, saling menjatuhkan dan hanya untuk sensasional belaka.
Perilaku oknum politisi semacam ini merupakan kegagalan dalam membangun demokrasi yang substansial yakni demi terwujudnya kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Perilaku-perilaku dalam kehidupan politik ini yang perlu diubah menjadi perilaku baru atau habitus baru. Keadaban negara bangsa yakni Indonesia Sejahtera akan semakin terwujud jikakesadaran akan pentingnya politik sebagai upaya untuk mensejahterahkan seluruh rakyat Indonesia merasuk sanubari setiap politikus. Dan kesadaran ini harus teraktualisasi dalam kerja-kerja konkret dan produktif yang mengarah ke keadaban negara bangsa itu yakni Terwujudnya Indonesia Sejahtera.

Ini semua menjadi mudah apabila Demokrasi Substansial yang kita bangun adalah demokrasi yang beradab, sehingga demokrasi prosedural yang lebih soal teknis dan tahapan juga bertujuan semata-mata untuk membentuk pemerintah negara Indonesia yang berupaya menuju ke keadaban negara bangsa yakni Indonesia Sejahtera.

Demokrasi Beradab
Karena kekuasaan itu cenderung disalahgunakan, maka perlu untuk dibatasi kekuasaan itu. Cara membatasinya adalah dengan prinsip demokrasi konstitusional, bahwa  “kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Prinsip ini berarti bahwa demokrasi kita harus didasari pada undang-undang dasar sebagai sumber hukum dasar, bukan pada politik atau kekuasaan belaka (Rechtstaat bukan Machtstaat). Hukum harus menjadi panglima dalam pelaksanaan demokrasi yang beradab ini.
Di dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 tertuang Pancasila yang adalah Dasar Negara dan juga merupakan Sumber dari Segala Sumber Hukum, maka pastinya Pancasila menjadi satu-satunya panglima dalam demokrasi yang beradab ini. Logikanya tidak ada lagi yang menjadi panglima dalam kehidupan politik Indonesia selain Pancasila. Pancasila menjadi satut-satunya konsensus rasional dalam mewujudkan keadaban negara bangsa Indonesia yang berbhineka.
Negara Indonesia yang berbhineka ini menerima Pancasila sebagai suatu kebenaran dalam demokrasi beradab, oleh karena itu toleransi diperlukan dalam mendukung terciptanya demokrasi beradab ini. Demokrasi yang beradab juga demokrasi yang menghargai hak orang lain tetapi sekaligus juga menjunjung tanggungjawab untuk menunaikan kewajibannya sebagai warga bangsa.
Role model demokrasi kita harusnya juga bersumber pada nilai-nilai kearifan lokal bangsa kita yaitu musyawarah mufakat dan kegotongroyongan, tidak tereduksi semata-mata pada mayoritas dan minoritas tetapi pada kesetaraan hak yang sama sebagai warga bangsa. Demokrasi yang beradab lebih mengedepankan pada semangat untuk mewujudkan tercapainya keadilan sosial dan kesejahteraan umum. Demokrasi yang mengutamakan kepentingan bangsa dari pada kepentingan golongan/partai dan individu.

Dimana semestinya para elit politik punya tanggung jawab untuk menjunjung tinggi etika/ kesantunan dalam berpolitik, mengedepankan persatuan dan kesatuan, menjaga keberagaman serta merawat komitmen nilai-nilai kebangsaan.
Inilah bentuk demokrasi beradab yang harus kita bangun terus, dengan maksud tidak hanya sekedar membentuk pemerintahan yang berkuasa melalui pemilihan umum legislatif dan eksekutif, melainkan juga menciptakan suatu habitus baru dalam dunia politik untuk menuju pada keadaban baru negara bangsa yakni Indonesia Sejahtera.

. *) Penulis adalah Ketua Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia

https://jendelanasional.id/nasional/membangun-demokrasi-beradab/

Monday, January 21, 2019

BANDINGKAN;DERETAN JENDRAL DI TIMSES JKW DAN PRABOWO;RILIS KPU;TKN INDONESIA KERJA;ADIL MAKMUR;SANDI

5 Jenderal di Balik Kekuatan Jokowi dan Prabowo, Nomor 5 Jenderal

Inilah 9 Cukong Di Balik Dukungan Capres Jokowi dan Prabowo! Siapa Yang Lebih Kuat ?

Daftar Tokoh yang Berubah Arah Dukungan Pada Pilpres 2019!

Friday, January 18, 2019

Luar biasa perhatian Jokowi ke Sumbar


Luar biasa perhatian Jokowi ke Sumbar
Cuma surat dari Walinagari (Kepala Desa), Presiden Jokowi utus Jenderal (Purn) DR. Moeldoko ke Situjuh - Sumbar untuk memperingati Peristiwa Situjuah.

Peristiwa Situjuh adalah penyerangan pasukan penjajah Belanda yang menewaskan 69 perwira, prajurit dan rakyat pada 15 Januari 1949 saat terbentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 di Sumatera Tengah dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Saya merasakan saat peristiwa itu terjadi. Kita petik peristiwa ini, untuk kemajuan bangsa,” kata Moeldoko dihadapan sekitar 5.000 orang yang memenuhi lapangan tempat upacara.

https://www.liputan6.com/regional/read/3869567/jokowi-utus-moeldoko-menjadi-inspektur-upacara-peringatan-situjuah-di-padang

https://m.kumparan.com/langkanid/moeldoko-pimpin-upacara-peringatan-70-tahun-peristiwa-situjuah-1547575027843289258

https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/121238/Disurati-Wali-Nagari--Jokowi-Utus-Moeldoko-dan-Archandra

https://www.semangatnews.com/moeldoko-kenang-peristiwa-situjuah-besar-renting-dan-sakral/

https://minangkabaunews.com/artikel-19305-makam-syuhada-lurah-kincie-situjuah-moeldoko-orang-minang-ikut-menuntukan-kejayaan-bangsa.html

http://news.m.klikpositif.com/baca/44581/ini-kata-moeldoko-tentang-pentingnya-peristiwa-situjuah-dalam-perjalanan-indonesia

https://www.ucnews.id/news/Presiden-Jokowi-Utus-Moeldoko-ke-Situjuah/2302612872127573.html

http://infopublik.id/kategori/nusantara/322196/masyarakat-lima-puluh-kota-peringati-peristiwa-situjuah-ke-70

Kalau kemarin belum men-sosialisasikan ... JANGAN LUPA HARI INI, Sebar


Sampaikan kepada sedikitnya 2 Keluarga, atau 10 orang lain! Sebagai "Target Harian" kita men-sosialisasikan bahwa Kita Bangga dengan Pemimpin yang :

1. Membantai Para Mafia Penggerogot Uang Rakyat mulai dari Pungli Kecil2an hingga Mafia Minyak, Beras, Ikan dll.
TERBUKTI!!!

2. Membangun Infrastruktur Menuju Indonesia Maju.
TERBUKTI!!!

3. Sangat Mencintai dan Menghormati Rakyatnya.
TERBUKTI!!!

4. Tidak Korupsi. TERBUKTI!!!

5. Membagikan Jutaan Sertifikat Tanah kepada Rakyatnya.
TERBUKTI!!!

6. Keluarganya Tidak Memanfaatkan Fasilitas Negara.
TERBUKTI!!!

7. Membangun Perbatasan Negara Demi Harga Diri Bangsa.
TERBUKTI!!!

8. Disegani Para Pemimpin Dunia. TERBUKTI!!!

9. Merancang Indonesia Menuju Negara No 5 Dunia di 2030. TERBUKTI!!!

10. Menghormati Para Ulama serta Pemimpin Agama. TERBUKTI!!!

11. Membangun Bandara International Jawa Barat
TERBUKTI!!!

Kalau kemarin belum men-sosialisasikan ... JANGAN LUPA HARI INI, Sebar + Viralkan !!!

Jadilah duta duta #Jokowi2Periode dimana pun ... siapa pun ... sampai Rakyat faham, Masyarakat faham ... bahwa Presiden Jokowi adalah yang terbaik.

Dapat dimulai dari Keluarga kita - Teman kita - Tetangga kita - Rekan Kerja kita - dan seterusnya ...

Dirumah - Di-Tempat Kerja - atau bahkan di Warung2 saat kita bersantai.

"BERI KEPERCAYAAN JOKOWI MELANJUTKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR YANG SUDAH DIMULAINYA. BERI KESEMPATAN 5 TAHUN LAGI UNTUK MEMBAWA INDONESIA MENUJU NEGARA MAJU"

"APA YANG SUDAH DIMULAI JOKOWI, BIARKAN JOKOWI YANG SELESAIKAN"

Saya sudah menyebarkan ...Bagaimana dengan Anda?

SEBAR+VIRALKAN!!!

POLITICAL BRIEF (16 Januari 2019)



1. Bagaimana merebut pemilih dari petahana yang memiliki banyak pencapaian? Konsultan politik penantang menyarankan membangun ketakutan dan kecemasan sehingga vote tidak didasarkan faktor rasional tapi emosional (hypnowriting to crocbrain). Ketakutan dan kecemasan ini direkayasa sesuai dengan kelompok sasaran, kelompok agama ditakuti isu komunis, pengusaha ditakuti isu ekonomi makro memburuk, rakyat ditakuti sembako mahal, dsb.
2. Ketakutan dan kecemasan dibangun dan disebar dengan:
a. Membalik isu (spinning), petahana yang muslim taat diframing sebagai pengancam Islam, petahana yang sipil diframing sebagai diktator dan pelanggar HAM, pembangunan infrastruktur diframing penyebab hutang melonjak, dsb.
b. Menyebar hoax secara intens dan berulang kali (7 kontainer, selang transfusi, banjir TKA, dsb) sehingga membuat publik lelah menelaah dan mengandalkan verifikasi hoax dari aspek viral dan trending (firehose of falsehood).
3. Kedua taktik diatas akan menyebabkan fenomena "rumah terbakar", yaitu kekacauan karena ketidakpercayaan meluas pada lembaga dan sistem seperti KPU dan pemilu, aparat keamanan, dan birokrasi. Hal ini beri peluang untuk dilakukan "penjarahan" (looting of burning house) yaitu merebut vote dari publik yang bingung atau delegitimasi hasil pemilu.
4. Strategi ini akan didukung oleh kerja lapangan dari kelompok ekstrem, kelompok kepentingan ekonomi, oknum aparat.
5. Bagi kel Cend pemilu 2019 adalah peluang terbaik yg ada utk muncul kembali. Gerak mereka lewat: partai, eksponen orba, dana operasional utk penantang.
6. Bagi kel Cik pemilu 2019 adalah sasaran antara ke 2024. Target adalah optimalkan perolehan kursi dan dapatkan deal terbaik utk AHY.
7. Kerja tim penantang yang memakai resep Rob Allyn telah sebabkan berkembangnya berbagai radikal bebas yang bergerak melawan. Radikal bebas ini adalah relawan 2.0 yang cair. Sejauh mana efektivitasnya tergantung apakah dapat dilakukan kanalisasi.

SILAHKAN SIMPULKAN SENDIRI



SILAHKAN BACA SAMPAI TUNTAS HABIS & SILAHKAN SIMPULKAN SENDIRI


Beberapa hari lalu Ketua Badan Pemenangan Nasional BoSan, Djoko Santoso mengadakan konferensi pers, seolah-olah dia membocorkan isi pidato PS bahwa pasangan BoSan akan mundur dari kontestasi Pilpres. Dari awal saya sudah memberikan "warning" kepada beberapa orang teman bahwa ucapan Djoko Santoso itu hanya strategi 'caper' untuk menarik perhatian agar orang-orang penasaran menyaksikan pidato PS. Tapi ternyata sebagian pendukung Jokowi tidak peduli dengan peringatan saya, mereka tetap saja asyiiik mengulas dan membully rencana mundurnya BoSan.

Dan ternyata terbukti, tidak ada satupun kalimat dari PS yang akan mundur dalam pidato penuh emosional dan kebohongan tersebut.

Ini membuktikan bahwa para pendukung Jokowi terlalu sering mudah bereaksi dengan pancingan mereka. Beberapa orang pendukung Jokowi sering terperangkap dalam jebakan strategi Timses BoSan.

Kemudian setelah pidato, saya juga memberikan himbauan agar kita jangan mengulas, mencerca atau membully PS dalam bentuk apapun. Karena semua isi pidato tersebut memang telah dirancang dengan cerdas untuk memberikan umpan pancingan emosi kepada rakyat Indonesia. Pidato ala "Trump Style" tersebut dibuat oleh Tim Eep Saipullah Fatah dkk dengan cermat. Dimana kebenaran atas materi pidato sengaja ditinggalkan, yang diutamakan hanya tebar propaganda dan pancingan emosi.

Lagi-lagi banyak teman-teman pendukung Jokowi kembali terperangkap jebakan Betmen. Mereka asyik mengulas dan membahas isi pidato PS. Diantaranya pendapatan tukang parkir vs dokter dan topik lainnya. Para pendukung Jokowi tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi agen distribusi HOAX yang sengaja diciptakan oleh kubu sebelah. Lagi-lagi Timses BoSan sukses besar menciptakan jebakan buat pendukung Jokowi.

Dalam teori komunikasi psikososial, apabila  suatu ujaran apapun bentuknya selalu diviralkan terus menerus, secara tidak sadar akan menancap kuat dalam alam bawah sadar   publik. Dan ada kemungkinan ujaran tersebut akan dianggap sebagai suatu kebenaran.

Entahlah dengan cara apa lagi saya harus memberikan pengertian kepada para pendukung Jokowi agar cermat dan cerdas serta mau meningkatkan "awareness" dalam menyikapi sebuah jebakan. Jujur terkadang saya "hopeless".

Menurut saya, akan jauh lebih bermanfaat apabila kita memviralkan nilai-nilai kebaikan yang dipancarkan oleh aura positif Jokowi, daripada kita memviralkan energi negatif milik tetangga sebelah. Energi positif yang kita pancarkan terus menerus akan mudah ditangkap oleh orang-orang yang mempunyai frekuensi yang sama.

Sekali-kali kita boleh memviralkan fakta sejarah pesaing Jokowi dengan tujuan memberikan gambaran yang sebenarnya akan rekam jejak yang bersangkutan. Bagi mereka hal ini pasti akan dianggap sebagai "negative campaign". Tidak apa, sah saja, asal kita tidak melakukan "black campaign" dengan menyebarkan fitnah, hoax atau ujaran kebencian.

Sekali lagi marilah kita cerdas mendukung Jokowi. Jangan kita terlena menari-nari di atas rampak gendang yang mereka mainkan. Akan jauh lebih baik kita yang memainkan irama rancak kita sendiri dan biarkan mereka yang  tertatih-tatih ikut menari.

Dalam kampanye saya meyakini adagium "PERTAHANAN TERBAIK ADALAH MENYERANG". Jangan sebaliknya kita sibuk bertahan dengan merespons ujaran mereka dengan segala cacian, tapi kita lupa untuk menyerang. Sampai kita tidak sadar, pihak lawan telah berhasil menyusup ke jantung pertahanan kita.

Masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Mudah-mudahan kita punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, agar kita tidak menyesal di kemudian hari.

Salam SATU Indonesia
15012019

#2019JokowiPresidenRI
#2019CoblosJokowi
#IndonesiaJuaraBersamaJokowi

PERBANDINGAN PENGHARGAAN PRABOWO DAN JOKOWI.


PEMILIH RASIONAL, PASTI PERTIMBANGKAN REKAM JEJAK DAN PRESTASI MASING_MASING CALON PRESIDEN

PERBANDINGAN PENGHARGAAN PRABOWO DAN JOKOWI.

PRABOWO :

1. Bintang Kartika Eka Paksi Nararya (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
2. Bintang Yudha Dharma Nararya (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
3. Satyalancana Seroja Ulangan-III (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
4. Satyalancana Dwija Sistha (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
5. Satyalancana Wira Karya (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
6. Satyalancana Raksaka Dharma (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
7. Satyalancana. Kesetiaan XVI (TNI) Angkatan Darat Republik Indonesia.
8. Kelas Satu Padlin Meda1 Ops Honour Pemerintah Kamboja.       

Catatan : Penerimaan penghargaan di lingkup terbatas dan bersifat eksklusif diberikan seluruhnya dalam kurun waktu yang bersangkutan berstatus menantu Presiden RI Soeharto   

JOKO WIDODO

1. Satya Bhakti Kadin Jawa Tengah 2007.
2. Solo Pos Award Solo Pos 2007, 2008.
3. IKAPI Awards IKAPI 2008.
4. Leadership Awards Menteri Aparatur Negara & Leadership Park 2008.
5. Perhumas Award Perhimpunan Hubungan Masyarakat 2008.
6. Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2008.
7. Kepala Daerah Tingkat II Terbaik MICE Majalah Venue 2009.
8. Pelopor Inovasi Pelayanan Prima Presiden RI 2010.
9. Kepala Pem Daerah berjiwa Enterpreneur Berhasil Property and Bank 2010.
10. Innovative Government Award Kementerian Dalam Negeri 2010
11. Bung Hatta Anti Corruption Award 2010.
12. Marketer Award Markplus Inc. 2010.
13. Alumnus Berprestasi Kategori Penggerak Sosial UGM 2010.
14. Visit Ind mengembangkan destinasi wisata Kementerian Pariwisata 2010.
15. IAI Award IAI Jawa Tengah 2011.
16. Inovasi Manajemen Perkotaan Awards Kementerian Dalam Negeri 2011.
17. UNS Awards — Tanda Jasa Dharma Budaya Bhakti Praja Rektor UNS 2011.
18. Realestat Indonesia—Penataan Lingkungan, Relokasi PKL dan Penataan Pasar Tradisional serta Peremajaan Kawasan Kumuh DPP REI 2011.
19. Tokoh Perubahan 2010 Republika 2011.
20. MIPI Awards Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia 2011.
21. Satya Lancana Pembangunan Bidang Koperasi Presiden RI 2011
22. Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama Presiden RI 2011
23. GATRA Award Walikota Terbaik GATRA 2011.
24. Charta Politika Award III.
25. Tokoh Kepala Daerah 2012
Soegeng Sarjadi Award on Good Governance untuk Kategori Tokoh Inspirasi Pemberdayaan Masyarakat 2012
26. Pembina Bank Daerah Terbaik 1 2012.
27. Anugerah Integritas Nasional 2013.
28. Jak Award 2013.
28. Tokoh News Maker 2012
Best of The Best “The Right Man On The Right Place 2013”.
29. Pembina BUMD Terbaik 2013
30. Tokoh Yang Memiliki Sikap dan Kebijakan Politik Yang Berpihak Pada Rakyat
31. Anak Bangsa Yang Layak Memimpin Bangsa RMOL Democracy Award 2013.
32. Penghargaan Terbaik II “Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2013 Tingkat Provinsi Kelompok A (DKI Jakarta) 2013.
33. Penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2013.
34. Penghargaan Satya Lencana Karya Bakti Praja Nugraha Presiden RI.
35. Soegeng Sarjadi Award “Award On Good Government” Kategori Kepemerintahan Terbaik Soegeng Sarjadi 19 September 2013.
36. Prominent Figure With Positive Sentiment In Social Media 2013.
37. Wreda Nugraha Utama 2013.
38. Bung Hatta Anti Corruption Award 2013.
39. Akuntanbilitas Kinerja Pemprov DKI Jakarta Tahun 2013 dengan Predikat “CC” Menpan Azwar Abu Bakar 2013.
40. Anugerah Parahita Eka Praya 2013 Provinsi DKI Jakarta 2013.
41. Mens Obsesion Decade Award 2004-2014, Rising Leades
Pemerintah Daerah dengan Laporan Gratifikasi Terbanyak ke KPK.
42. Tokoh Masyarakat Peduli Sosial Moestopo
43. Peran dan Dukungan yang Besar dalam Pengendalian Tembakau di Indonesia.
44. Tokoh Pluralis Lembaga Pemilih Indonesia.
45. Anugerah Tokoh Seputar Indonesia 2013.
46. Provinsi Terbaik ke - 2 Pencapaian TujuanPembangunan Milinium Bappenas.
47. Tokoh Terinspiratif Was - Was
48. Piagam Penghargaan Anubhawa Sasana Kelurahan Menteri Hukum dan HAM.
49. Tokoh Peduli Ekonomi Kerakyatan Universitas Bung Hatta.
50. Future Gov Award 2013 DKI Jakarta Winner of the category or E-Governmen
51. Rekor Dunia Pemprov DKI Kategori Parade Jenis Busana Tradisional Terbanyak.
52. Tokoh Pelestari Kebudayaan Jakarta Penghargaan dari Soekarno Center Bali — Indonesia sebagai Tokoh Teladan Demokrasi Indonesia

Sumber: KPU RI

Viralkan tidak perlu izin🙏

=================================

Prabowo Tuduh, Jokowi Serang Balik Mematikan, Prabowo Hancur- Lebur



Debat: Prabowo Tuduh, Jokowi Serang Balik Mematikan, Prabowo Hancur- Lebur

Asaaro Lahagu

Debat: Prabowo Tuduh, Jokowi Serang Balik Mematikan, Prabowo Hancur- Lebur
Saya mengikuti dengan serius debat perdana Pilpres. Dari gelagat Prabowo-Sandi saat memasuki arena debat, terpercik kesombongan dan keangkuhan keduanya. Hal itu terlihat dari senyum percaya diri hebat disertai sinis dari bibir Prabowo.

Saya pun bertanya, apa gerangan yang membuat Prabowo-Sandi begitu sombong saat memasuki arena debat? Jawabannya terbongkar saat keduanya meluncurkan pertanyaan mematikan kepada Jokowi-Ma’ruf. Rupanya pertanyaan itulah yang menjadi senjata maut mereka.

Baik Prabowo maupun Sandiaga, telah yakin benar pertanyaan mematikan mereka. Ketika senjata mustika itu dikeluarkan, maka Jokowi langsung KO. Lalu apa senjata maut berupa pertanyaan maut yang dikantongi Prabowo-Sandi itu?

Hanya satu, yakni soal kepala daerah, gubernur, bupati jika mendukung Jokowi, maka kasusnya menguap. Sementara jika berlawanan dengan Jokowi, maka mereka dikejar-kejar aparat. Ada Kades yang karena tidak mendukung pasangan nomor 01 tetapi mendukung pasangan nomor 02, ditangkap.

Pertanyaan Prabowo-Sandi ini sepintas lalu mematikan Jokowi. Mengapa? Karena narasi selama ini memang telah dibangun demikian oleh kubu Prabowo-Sandi. Opini kubu Prabowo pun termakan narasi itu dan menganggap hal itu fakta. Lalu apa tangkisan Jokowi?

Jokowi to the point. “Jangan menuduh Pak Prabowo”, tegas Jokowi. “Kalau ada bukti, sampaikan kepada aparat. Laporkan. Jangan langsung grasa-grusu, menuduh sana-sini, melakukan konferensi pers tentang seseorang wanita yang mukanya bengkak-bengkak lalu dibilang telah dianiaya. Padahal orang itu ternyata operasi plastik”, balas Jokowi telak.

Jawaban Jokowi ini sangat telak, langsung mematikan Prabowo-Sandi. Ini serangan balik bagaikan rudal nuklir. Langsung membungkam kubu Prabowo. Saya lihat pendukung-pendukung Prabowo yang ada di belakangnya, diam dan tak berkutik. Saat itu sebenarnya debat sudah selesai, Jokowi menang telak.

Mengapa Prabowo pingsan mendengar tangkisan Jokowi itu? Karena serangan menohok begitu runtut Jokowi adalah fakta yang tak terbantahkan. Masyarakat sudah tahu betul bagaimana Prabowo langsung melakukan konferensi pers tentang muka bonyok Ratna Sarumpaet, tetapi ternyata hoax.

Setelah serangan balik mematikan Jokowi ini, saya lihat Prabowo kembali membangun serangan, tetapi sudah lunglai. Tenaganya sudah hilang 60 persen. Serangan balik pertama Jokowi itu langsung menghancur-leburkan Prabowo. Ketika Prabowo kembali bangun dengan titik darah penghabisan, Jokowi kembali menyerang dengan senjata maut lainnya.

Saat Prabowo membangun narasi bahwa dia akan mengikis habis korupsi dan memenjarakan langsung kadernya yang korup, Jokowi langsung melancarkan serangan maut lainnya. Jokowi bertanya: “Ada 6 mantan narapidana dari kader Partai Gerinda yang menjadi caleg. Nama pengajuan mereka ditanda-tandangani oleh Ketua Umum, yakni Pak Prabowo sendiri. Lalu mengapa keenam calon itu yang sudah terbukti korupsi disetujui menjadi caleg?” tanya Jokowi menggelegar.

Prabowo menjawab linglung. Pertama ia tidak tahu data itu. Bahkan ia lagi-lagi menuduh pihak lain bahwa itu hanya tuduhan. Tetapi ketika ditunjukkan bahwa itu bukan tuduhan tetapi fakta, Prabowo akhirnya pasrah.

“Ya kalau mereka masih mau dipilih oleh masyarakat dan hukum mengijinkan mereka, ya silahkan maju sebagai caleg. Namun ingat korupsi mereka mungkin kecil-kecil dan tidak seberapa”, tangkis Prabowo mengharukan. Jelas inkonsistensi dari pernyataan melawan korupsi. Jelas jawaban Prabowo ini semakin membuatnya hancur-lebur.

Dan moment puncak kehancuran Prabowo ketika Jokowi memberikan pesan pamungkas yang menjadi bencana bagi Prabowo.

“Kami, Joko Widodo dan Ma’aruf Amin, tidak punya beban masa lalu. Kami tidak punya jejak sebagai penculik, kami tidak punya jejak sebagai koruptor, kami tidak punya jejak sebagai pelanggar HAM, kami akan sekuat tenaga memajukan bangsa Indonesia ini, menjadi bangsa yang maju”, tegas Jokowi membahana.

Pesan pamungkas ini jelas menghantam telak ulu hati Prabowo. Jejak hitam Prabowo sebagai penculik, pelanggar HAM, jelas tersayat oleh pesan Jokowi itu. Dan ketika Prabowo mendapat giliran menyampaikan pesan, idenya sudah tidak lagi bergairah, mati suri.

Dengan sisa-sisa nafasnya, Prabowo mencoba mengulang retorika bocor dan bocor. Ia berjanji akan mensejahterakan rakyat, menaikkan gaji pegawai besar-besaran dan berkali-kali lipat dengan meningkatkan 16 persen ratio pajak. Mimpi.

Saya melihat di akhir debat, para pendukung Prabowo hanya bisa menggigit jari. Wajah mereka pucat-pasi. Wajah Amin Rais terlihat semakin berkerut. Debat yang diharapkan dimenangkan oleh Prabowo, ternyata justru kalah telak akibat hoax yang selama ini dilancarkannya. Ternyata mereka memanen karma.

Saya yakin apa yang terjadi di tahun 2014 akan kembali terjadi. Apa itu? Prabowo kalah Pilpres karena kalah debat dengan Jokowi. Begitulah kura-kura.#17AprilJokowiTetapPresiden.

Salam Seword,

Asaaro Lahagu

Kesalahan Fatal Menyatakan Presiden Chief of Law Enforcement




Jika Presiden Chief Law Officer, Kekuasaan Hukum diintervensi

1). Prabowo Subianto bikin pernyataan blunder, yang mencerminkan karakter dasarnya bahwa menjadi Presiden itu sebagai chief of law enforcement. “Pernyataan yang berbahaya. Presiden menentukan kebijakan politik hukum sebagai penjabaran fungsinya sebagai kepala pemerintahan. Presiden tidak boleh intervensi atas masalah hukum. Jadi apa  yang disampaikan bahwa Presiden adalah Chief of Law Enforcement Officer  adalah cermin bawah sadarnya untuk gunakan jabatan Presiden sebagai alat intervensi hukum”

2). Atas pernyataan tersebut Hasto tidak heran mengapa Prabowo-Sandi terus melakukan kontrasting. “Berbagai persoalan lapangan yang diangkat Sandi perlu dicek kebenaran sebagai real case atau bagian dari kemasan untuk menyerang Pak Jokowi”

3). Hal yang menarik dari Debat tersebut adalah posisi Kyai Maruf sebagai Cawapres yang memberikan dukungan sepenuhnya terhadap kebijakan Pak Jokowi. “Agresifnya Sandi sekedar menyampaikan pesan bahwa Sandi lebih proaktif. Namun dalam tata pemerintahan yang baik, apa yang ditampilkan Sandi dikhawatirkan akan menciptakan peluang konflik. Sebab konstitusi mengatakan Wapres itu membantu presiden. Dengan demikian posisi yang diambil Kyai Maruf sangatlah tepat, mendukung kebijakan Presiden”

4). Hasilnya, sekali bicara Pernyataan Kiai Maruf singkat namun menohok. “Mengajak semua pihak membangun budaya menghormati kaum disabilitas. Ini menunjukkan kepiawaian dan kemampuan melihat solusi atas persoalan dan tidak hanya berorasi atau tebar janji”

Hasto Kristiyanto
Sekretaris Tim Kampanye

Tuesday, January 15, 2019

ILC: Prof Mahfud MD Babat Habis Felix, Alkotot Dan Eggy Sudjana yang Akan Memperjuangkan Khilafah

PROF MAHFUD MD INILAH KELEBIHAN JOKOWI YANG HARUS DIKETAHUI

BUDIMAN SUDJATMIKO HABISI ROCKY GERUNG & SINDIR FADLI ZON ~ FAHRI HAMZAH

Terbukti! 3 Bukti Erick Thohir Meroket di Kubu Jokowi

PERMADI ARYA : GERAKAN 2019 GANTI PRESIDEN DITUNGGANGI MAKAR KHILAFAH

2019 Tahun Kampret oleh : Permadi Arya

Ulasan Permadi Arya Tentang Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto

Sangat Menyentuh Hati,Bikin Nangis Penjelasan TGB Tentang Presiden Jokowi,Dengarkan Sekarang Juga !

Monday, January 14, 2019

Rocky Gerung VS DR Ngabalin, Akal Sehat VS Akal Miring

Saturday, January 12, 2019

BANYAK YG BILANG KE SAYA...


Kamu bela PAK JOKOWI dapat APA kok sampai ngotot dan mati"an gituuu...
terus sy jawab :
di ksh uang sama pak Jokowi TIDAK
di ksh jabatan TIDAK
di jadikan pegawai negri TIDAK
di kasih rumah TIDAK,
di ksh mobil juga TIDAK...
terus apa yg kamu dapatkan dari pak Jokowi....
kamu pingin tau..!!!!!!!

Saya hanya mendapatkan contoh pelajaran hidup dari seorang Pemimpin yg sangat baik dan dicintai Rakyatnya dengan:

#JUJUR,
#SEDERHANA,
#BERSIH DARI KORUPSI
#ASLI DARI  RAKYAT BIASA BUKAN DARI TURUNAN ORANG KAYA
#SEORANG PEKERJA KERAS DARI NOL SEBAGAI TUKANG KAYU
#AMANAH
#DISIPLIN
#BANYAK PRESTASI DAN PENGHARGAAN YG DIPEROLEH MULAI DARI SEORANG WALIKOTA TERBAIK DI DUNIA, GUBERNUR, SAMPAI PRESIDEN
#MUSLIM YG TAAT
#TUTUR KATANYA LEMBUT SOPAN SANTUN
#DAN BANYAK SEKALI DARI SEMUA ITU PAK JOKOWI SUDAH BISA MENJALANKAN APA YG DIAJARKAN OLEH
NABI MUHAMMAD SAW.
TENTANG AKHLAK SEORANG PEMIMPIN. MESKIPUN BELUM SEMPURNA SEPERTI NABI MUHAMMAD..

#SABAR LUAR BIASA, 4 thn beliau dilecehkan difitnah olh lawan2 politiknya blm pernah beliau rame2 ke polisi utk melaporkan yg memfitnah beliau...

#SUAMI YG BAIK SETIA MENDIDIK ANAK2 DGN BAIK

DARI SEMUA ITU SAYA dan Keluarga BISA MENDAPATKAN CONTOH AKHLAK DARI SEORANG JOKOWI YG AKAN SY AJARKAN pada mereka, SUPAYA KELAK BILA TUHAN BERKEHENDAK SEMOGA semua keluarga ku AKAN MENJADI PEMIMPIN YG BERAKHLAK DAN BERBUDI PEKERTI YG LUHUR 😇🙏🙏🙏

#MewakiliRakyatKecil
#2019JokowiPresidenRI

Friday, January 11, 2019

SUTAMI, SRI MULYANI DAN JOKOWI



Tulisan Prof Agus Budiyono, alumni ITB & MIT (Massachusetts Institute of Technology, Amerika)

"SUTAMI, SRI MULYANI DAN JOKOWI"

Saya dididik dan dibesarkan di sebuah lingkungan khusus di Amerika yang membuat saya tidak mudah gumunan. Di kelas sy setiap orang praktis adalah pelajar terbaik di negaranya. Di departmen sy ada pelajar terbaiknya Imperial College-London, juaranya Tokyo Tech, nomor satunya Seoul National University dsb.  Rata-rata IQ di kisaran 150 dan bila orang asing, TOEFL di sekitar 648 (sekitar betul semua), dan pada ujian tertentu sebagian besar adalah pemegang patent di bidangnya. Lab mereka pada zamannya mengembangkan teknologi yang meresponse serangan Jepang di Pearl Harbor yang membantu memenangkan Amerika di Perang Dunia.  Rombongan yang datang sebelumnya adalah kelompok kunci yang menjawab tantangan Soviet yang meluncurkan Sputnik dan menempatkan manusia pertama di ruang angkasa. Selang beberapa tahun kemudian Amerika mampu mendaratkan manusia di Bulan. Kelompok seangkatan saya adalah yang mampu melahirkan perusahaan sekelas Google dan Amazon. Yang menjadi motor utama industri di Route 95 (pantai timur) dan Silicon Valley (pantai barat). Capaian semua ini saya anggap wajar dan biasa saja, pas dan sesuai dengan arus, latar belakang dan milleunya.

Namun demikian dalam setting di tanah air, saya justru menemukan beberapa fenomena yang membuat saya kagum. Bisa Gumun kali ini.  Bilamana pencapaian orang-orang MIT itu saya anggap luar biasa, maka apa yang saya kagumi di Indonesia justru bahkan lebih dari luar biasa. Different league. Different level.

Sy ingin mengkristalisasi rasa kagum dan hormat ini dengan tiga figur yang saya jadikan judul di atas.  Hanya kebetulan saja, sekali lagi, ketiganya sama-sama dari Jawa dengan latar belakang budaya dan filosofi yang saya pahami. Ketiganya orang-orang hebat yang menggunakan filosofi: "nglurug tanpa bala, sugih tanpa banda dan menang tanpa ngasorake."  Saya jauh mengagumi beliau-beliau ini dibandingkan apa yang saya lihat dan alami sendiri di almamater saya. Kenapa?

Orang-orang MIT itu hebat dan lingkungannya memahami mereka dan oleh karena itu mereka bisa mengapresiasinya. Oleh karena itu wajar dan malah expected. Sementara itu ketiga figur yang saya kagumi berada di lingkungan dimana orang-orang yang justru dibantu dimakmurkan ekonominya, yang menggunakan kemudahan yang mereka ciptakan dan menikmati suasana kondusif (ipoleksosbud hankam) yang mereka perjuangkan, banyak yang tidak paham. Boro-boro menghormati. Namun demikian, ini yang saya kagum dan perlu banyak belajar, mereka semua tidak bergeming. Diremehkan juga tenang saja. Dicaci maki juga tidak gusar. Difitnah sana sini, juga tetap sabar. Pendeknya ketiganya mewakili, saya sebut dengan bangga dan haru, kualitas penduduk nusantara yang unggul dan mumpuni. Kewl dan kewreeen. Pantas untuk menjadi pemimpin dan memimpin bangsa sebesar Indonesia dengan semua kompleksitasnya.

Masing-masing berkontribusi pada bidang keahlian yang berbeda. Juga mempunyai jalur karir yang sama sekali beda. Namun ada kesamaan benang merah dari ketiganya. Kesamaan yang distinct and unmistakeable. Dalam pengamatan saya, ketiga figur adalah orang-orang yang lurus. Orang yang lempang hatinya. Figur yang hatinya tidak terbeli dengan kekuasaan dan kekayaan. Figur yang bisa menjadi panutan dan teladan dalam hiruk pikuk perubahan global yang serba cepat. Dunia berubah. China dan Amerika berubah. Eropa berubah. Di masa yang tidak terlalu jauh, China akan menjadi ekonomi no 1, menggeser Amerika yang turun jadi no 2. China tidak akan menjadi negara berpenduduk terbanyak, posisinya diganti India. Indonesia dalam konstelasi tersebut, diprediksi akan menjadi ekonomi no 5. Negara makmur, tidak ada penduduk yang berkategori miskin. Bangsa Indonesia perlu pegangan dalam lingkungan yang serba berubah cepat ini.

Saya merasa sosok Sutami, SMI dan Jokowi adalah mercusuar di tengah ketidakpastian gelombang laut dalam langit yang kelam. Bisa diandalkan untuk menjadi pegangan dalam menentukan arah. Ketiga figur tersebut, nilai-nilai hidupnya selayaknya dicontoh, diteladani dan diambil pelajarannya untuk generasi sekarang dan utamanya generasi millenials, Y dan Z. Figur yang berprestasi tinggi, dengan pengakuan dunia, tapi tetap tawadu’ dan rendah hati. Figur yang tidak serakah, tidak tamak dengan kekuasaan, tidak menyodor-nyodorkan anak-anaknya, istri atau suaminya, saudara-saudaranya, untuk ikut memanfaatkan kemudahan-kemudahan, privilege atau keistimewaan dari jabatan atau pun bahkan pengaruh yang mereka punya.

Siapa orang Indonesia tidak kenal dengan Menteri Sutami, menteri termasyhur dalam sejarah NKRI? Sutami, berkat reputasinya, adalah satu2nya menteri era Soekarno yang tetap dipilih oleh Soeharto di kabinetnya. Hidupnya lurus lempang tidak ada cacat. Empat belas (14) tahun menjadi menteri tapi tidak mempunyai rumah sendiri. Pernah listriknya diputus karena terjadi tunggakan. Pak Jokowi juga menjadi presiden pertama RI yang mendapatkan recognisi dan strong opinion tentang komitmennya menciptakan pemerintahan yang bersih. Hal ini karena beliau benar-benar walk the talk. Bukan lamis-lamis lambe. Bukan NATO. Menerapkan dalam kesehariannya. PM Mahathir menyebutnya secara khusus standar Jokowi “reaching the unprecendented level” dalam sejarah Indonesia. Penting ini karena datang dari tetangga sebelah yang tahu rumah tangga kita. Pemimpin bisnis terdepan China, Jack Ma, juga memberikan pujian kepada Jokowi tentang resiliencenya dalam menghadapi badai fitnah. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin dari Korea yang langsung saya dengar sendiri. Mereka semua all in kepercayaannya kepada Jokowi. Mereka mengatakan bila Indonesia bisa dijaga untuk tetap bisa memunculkan pemimpin seperti Jokowi maka memang sudah keniscayaan Indonesia akan menjadi salah satu dari 4 adidaya dunia. Beberapa pemimpin Korea, saya tahu peris karena langsung membantu, sudah menaruh uangnya di pasar investasi Indonesia. Orang Korea, bahkan dalam level pemimpin, saja percaya. Masak kita yang asli orang Indonesia tidak? 

Saya tidak heran, bila selama perjalanan bisnis terakhir saya ke Seoul selama lima hari bertemu dengan pimpinan 16 perusahaan besar Korea. Mereka semua, semuanya, bertanya dan ingin memastikan pemerintah sekarang berlanjut ke periode berikutnya. Saya mengatakan dan mengafirmasi dari big data saya, jawabannya YA. Saya mahfum dari pengamatan saya mengajar dan mendirikan bisnis di sana selama 8 tahun, bahwa pemerintah yang bisa menciptakan iklim bisnis yang certain, yang pasti, sangat diharapkan untuk keberlanjutan bisnis dan investasi jangka panjang. Prinsip ini sebenarnya yang menjadi sokoguru Keajaiban Ekonomi Korea (The Mirable of Han River). Dunia bisnis tidak menyukai kecenderungan kepada hal yang serba tidak pasti. Yang abu-abu dan tidak jelas juntrungnya. Yang perlu maneuver pat pat gulipat. Pong pong garengpong. Ini semua dibersihkan ketika figur seperti Jokowi dan Sri Mulyani menjadi pimpinan. Tujuannya adalah menciptakan iklim bisnis dan investasi yang mempunyai kepastian. Yang sehat dan saling memakmurkan dalam semangat kolaborasi dan bahu-membahu antar komponen bangsa bahkan antar bangsa.

Kemarin sy menghadiri dan mengikuti dengan seksama paparan Kepala Bappenas, Professor Bambang S Brodjonegoro, di Fairmont Jakarta, berisi “Sosialisasi Visi Indonesia 2045: Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur. Banyak faktor disebut sebagai prerequisite agar Visi Indonesia 2045 bisa terwujud. Bagi saya yang paling penting adalah SDM yang perlu disiapkan untuk menjadi pemimpin Indonesia. Haruslah sosok-sosok yang tidak hanya cerdas, tapi juga bermoral dan berakhlak yang baik. Yang bisa amanah bila diberi mandat dan kepercayaan.

Figur seperti Sutami, Sri Mulyani Indrawati dan Jokowi.

P.S.
Mohon bantu dishare dan disebarluaskan ke berbagai kalangan terutama generasi penerus. Kita bersama saling mengingatkan dalam kebaikan. Menjaga agar suasana Indonesia sehat dan kondusif. Akan baik bila ajakan ini bisa dibaca jutaan orang Indonesia demi pendidikan karakter bangsa.

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)