Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Monday, November 18, 2019

Presiden Jokowi Blakblakan, Gampang Tertidur Termasuk di Helikopter



Presiden Joko Widodo mengaku mudah tertidur saat perjalanan dinas. Bahkan, orang nomor satu di Indonesia itu pernah tertidur di dalam helikopter. “Saya tidur sering, di mobil dari Jakarta ke Bogor atau dari Bogor ke Jakarta saya bisa tidur. Di pesawat saya bisa tidur 20 sampai 30 menit. Di helikopter juga (bisa tidur),” ujar Jokowi di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Jokowi mengatakan, dirinya mudah tidur di mana saja karena saat malam hari jam tidurnya sedikit. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku kerap bekerja hingga larut malam. 

“Kalau malam saya tidur lebih sedikit dari yang lain. Alhamdulillah saya diberi kenikmatan itu, gampang tidur di mana pun dengan suara apapun,” kata Presiden. 

Bahkan, Jokowi mengaku sering menelepon menteri-menterinya di malam hari. Hal itu dia lakukan jika ada permasalahan yang harus diselsaikan sesegara mungkin. 

“Kalau tengah malam saya telepon (para menteri), bisa jam 10 malam, 12 malam, jam 1 malam, 1.30 dan 2.30 malam. Kalau menterinya sulit (dihubungi) ajudannya saya telepon suruh bangunin. Kalau (lagi situasi) penting begitu,” ucap dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketika Jokowi Mengaku Bisa Tertidur di Helikopter...", https://money.kompas.com/read/2019/11/14/151742426/ketika-jokowi-mengaku-bisa-tertidur-di-helikopter.
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Erlangga Djumena

Tuesday, September 24, 2019

SURAT UNTUK ADEK MAHASISWA YANG SUKA MAEN SEMPRITAN..


Adek2 mahasiswa tersayang,

Apakah adek2 mahasiswa tahu, bahwa pada tahun 2015, seorang Effendy Simbolon pernah berkata, “Kalau seorang Jokowi bisa membubarkan Petral, saya akan botak..”.

Dan pada tahun yang sama juga, Jokowi membubarkan Petral yang sudah beroperasi puluhan tahun - yang disebut Faisal Basri dilindungi langit ketujuh - sehingga semua transaksi migas langsung ditangani Pertamina.

Apakah adek2 mahasiswa tahu itu ?

Coba tanya senior kalian dulu, betapa kenaikan harga BBM seribu saja dulu bisa memicu antrian di pom bensin begitu panjang di seluruh Indonesia dan menaikkan harga2 barang ?

Adek2 mahasiswa tahu itu ?

Dan siapa yang bisa menyelesaikan semua masalah itu tanpa bertele2 dan tegas terhadap bisnis yang diperkirakan meraup uang negara 250 triliun per tahun ? Jokowi bukan ? Pernahkan kalian memberi kartu hijau buat beliau untuk itu ?

Dan adik2 mahasiswa tahu, jika isi laut kita dirampok dan negara rugi ribuan triliun rupiah selama puluhan tahun ?

Siapa yang bisa menyelamatkan situasi itu dengan menenggelamkan ratusan kapal asing yag selama ini menikmati kekayaan laut kita ? Jokowi, bukan ? Apakah dia mendapat kartu hijau sebagai tanda penghormatan dari kalian ?

Adik2 mahasiswa tahu, selama puluhan tahun kita merdeka masih banyak wilayah di Papua sana gelap gulita dan tidak ada akses jalan menuju kesana.

Menurut adek2, siapa yang kemudian berjibaku mengucurkan dana ratusan triliun rupiah dan mengerahkan TNI AD untuk membangun ribuan kilometer jalan disana di medan yang berat dan penuh kontak senjata ? Jokowi, kah ?

Kapan ya kita memberi dia kartu hijau untuk itu ?

Adek2 mahasiswa mungkin sudah terlalu nyaman kuliah di kota, dengan semua fasilitas yang ada sehingga tampak gemuk dan lembek tubuhnya.

Tambun dan sulit bergerak dari tempat duduknya sehingga tidak tahu bahwa Jokowi dalam setahun mengunjungi ratusan tempat di seluruh Indonesia guna memastikan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih ada.

Pernahkah adek2 memberinya kartu hijau untuk itu sekedar menghormati apa yang dia kerjakan untuk bangsa Indonesia ?

Kalau Jokowi mau, adek2, ngapain dia bubarkan Petral ? Kan dia bisa minta 10 persen setiap tahun untuk menumpuk kekayaan keluarganya ?

Ngapain juga Jokowi capek2 bangun Papua, toh lebih enak bangun Jawa dimana banyak media yang meliput disana untuk pencitraan dirinya ?

Atau ngapain sih ledakin kapal asing perompak ikan kita, jika dia bisa minta komisi sebagai kepala negara yang tidak akan mengusiknya ?

Sulit ya memberinya kartu hijau ? Karena adek2 hanya memandangnya sebelah mata dengan kedengkian luar biasa tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi diluar sana..

Mahasiwa itu bukan hanya harus pintar dalam pelajaran, adek2, tapi juga harus luaskan wawasan.. Jadi mulailah membaca, jangan hanya sibuk protes saja. Apalagi pake share status Jonru yang jelas2 fitnahnya..

Adek2 mahasiswa yang suka nyemprit dan kasih kartu kuning, jadilah mahasiswa berprestasi Internasional jika ingin terkenal. Sensasi itu murahan adek2, seperti beberapa anggota DPR itu yang sibuk berkata tapi minim bekerja.

Sekali2 minum kopilah sama abang sini, biar abang cerahkan. Jadikan dirimu sebagai ahli di jurusanmu, itulah yang terpenting. Jangan seperti beberapa kakak yang dulu kuliah di jurusan pertanian tapi malah tersesat jadi ahli bekam..

Setuju, adek2 mahasiswa ? Angkat kopinya. Seruputtt...eh tolong dikurangi micinnya ya. Tidak baik untuk kesehatan jiwa..

www.dennysiregar.com

JOKOWI PAHAM AGENDA TALIBAN DI REVISI KUHP


Top. Presiden Jokowi. Pesan pendek ke Presiden Jokowi 15 September 2019 bersambut. Pesan itu adalah tentang revisi KUHP. RUU KUHP adalah pintu kaum Taliban menghancurkan Indonesia. Istilah Taliban tepat menggambarkan kongkalikong politik, Ikhwanul Muslimin, ISIS, koruptor, HTI, khilafah, Salafi Wahabi, teroris, bandar narkoba di Indonesia.

Tujuan Revisi KUHP untuk Ciptakan Kerusuhan di Masyarakat

Akibat Revisi KUHP Australia telah memeringatkan warganya untuk tidak pergi ke Indonesia. Akan banyak negara yang akan ketakutan datang ke Indonesia. Karena faktor konservatisme bebal ala Taliban diterapkan di Indonesia.

Bisa dibayangkan. Jika seorang WNA yang tinggal di Indonesia tiba-tiba dilaporkan oleh Lurah tempat mereka tinggal, dituduh kumpul kebo di rumah yang dia sewa. Atau dua perempuan menginap sebuah kost dituduh lesbi, atau tamu lelaki homo oleh lurah, dengan tekanan ormas keagamaan radikal.

Partai agama PKS senang. Maka Nasir Djamil mendorong agar secepatnya RUU KUHP segera disahkan. Ada apa? Mari kita lihat.

Pasal tentang ternak. Sudah umum di pedesaan, ayam berkeliaran di pekarangan tetangga. Di bawah RUU KUHP, pemilik ayam yang berkeliaran di pekarangan orang lain didenda atau dipenjara. Demikian berlaku pula untuk kambing, kerbau, babi, kucing, monyet, sapi, kerbau, kuda, dll.

Belum lagi soal perempuan di luar rumah di atas pukul 22.00 akan dipenjara,didenda. Diskriminasi. Bagaimana dengan pekerja perempuan di mall, atau lembur, pulang dari hang out, perempuan pekerja pabrik, atau penyanyi kafe tutup jam 02.00? Ditangkap dan dipenjarakan.

Jelas merusak kearifan lokal – komunal. Kebersamaan. Gotong-royong. Toleransi. Kemajuan. Modernitas. Kesamaan jender.

Ini agenda Taliban menjadikan Indonesia sebagai negara tanpa nilai-nilai kebangsaan. Dengan digantikan hukum agama ala Taliban: konservatisme, jumud, bodoh, kemunduran.

Taliban Kecoh Jokowi dan Netizen

Untuk itu secara strategis, masif, semua kelompok anti NKRI bergerak. Mereka berbagi peran untuk meloloskan KUHP versi Taliban ini. Caranya?

Mereka melakukan demo-demo bergelombang ke DPR, KPK, dan kota-kota Indonesia. Topik yang diusung adalah UU KPK yang baru. Itu dilakukan bersamaan dengan membuat Papua bergolak. Konspirasi barisan sakit hati eks Kampret, Kadal Gurun, Onta Bego, dan Taliban yang membakar hutan secara sengaja. Bukti ada ditangkap TNI.

Berdemo, bakar hutan, menenteng topik UU KPK, sebagai cara mengalihkan publik dari agenda besar: loloskan revisi KUHP yang menjadi alat sangat strategis untuk menghancurkan Indonesia.

Karena dengan UU KUHP itu maka mereka berkesempatan merusak sendi ekonomi – lewat wisata halal, wisata syariah, hotel syariah, rumah sakit syariah, perumahan syariah, yang mengotak-kotakkan antara calon penghuni surga dan neraka.

Surga dan neraka dijadikan alat menentukan kebijakan kehidupan bernegara. Kisruh dan ketidaknyamanan , kerusuhan dan konflik, saling curiga, adalah cara pertama untuk menanamkan radikalisme yang ditawarkan sebagai alat masuk surga.

Dan, salah satu agenda Taliban dan kelompok teroris, intoleran, koruptor adalah meloloskan revisi KUHP. Karena hanya di negara yang aman dan damai maka khilafah tidak akan laku. Khilafah, teroris, ISIS, Taliban akan bisa hidup subur di negara gagal Timur Tengah sana. Maka Jokowi pun berusaha menyetop pengesahan RUU KUHP. (Penulis: Ninoy N Karundeng).


---------------------------------------------------------------------

Dari FB bang Gatot...

NASIB_WAN_ABUD_DAN_KADALBOTAK_TALIBAN_KINI_BERADA_DI_UJUNG_TANDUK ...

* KADAL BOTAK TALIBAN mencoba membangun opini kepada masyarakat bahwa Jokowi Pro Korupsi. Ini dilakukan karena ketakutannya KADAL BOTAK TALIBAN atas eksistensinya di KPK akan terancam jika sampai revisi UU KPK itu disetujui oleh Presiden ...

* Kekuasaan yang dibangunnya di KPK selama 12 tahun akan musnah, sistem yang sudah dibangun untuk menguasai KPK dari hulu hingga hilir akan di sikat habis oleh Irjen Firli ...

* KADAL BOTAK TALIBAN memanfaatkan KPK sebagai mesin politik pencetak uang bagi dirinya dan kelompoknya yang terkenal dgn julukan POLISI TALIBAN. Di samping itu KADAL BOTAK TALIBAN juga membangun jaringan dgn kelompok radikal HTI, FPI, PKS untuk menguasai Indonesia melalui tangan KPK ...

* Kolaborasi kelompok radikal HTI, FPI, PKS dgn KADAL BOTAK TALIBAN akan menjadi amunisi yang bombastis di 2024 untuk bisa menjadikan WAN ABUD sebagai RI-1.

* Melalui KPK, nantinya KADAL BOTAK TALIBAN bisa menyadap dan mentargetkan lawan2 politik WAN ABUD untuk dijadikan target KPK dan juga membongkar rahasia lawan2 politik WAN ABUD untuk dikerdilkan elektabilitasnya melalui penyadapan ...

* KADAL BOTAK TALIBAN juga akan mengamankan WAN ABUD dalam menggarong APBD untuk biaya politiknya maju dalam pilkada DKI 2022 dan selanjutnya maju sebagai capres 2024. Biaya politik tsb tidaklah sedikit, membutuhkan ratusan milyar bahkan triliunan. Untuk maju di Pilkada DKI 2022 saja bisa menghabiskan 500 miliar, kemudian jika 2024 maju lagi sebagai capres bisa membutuhkan biaya 2-3 triliun lebih ...

* Pertanyaannya WAN ABUD apakah memiliki uang sebanyak itu..???!!!! WAN ABUD bukan dari keluarga kaya raya, dia hanyalah wong kere yg nasibnya bisa beruntung karena Sandi mengangkatkanya sebagai Gubernur untuk mendampinginya dan semua modal Sandi yang mengeluarkannya. Artinya WAN ABUD hanya modal MOKONDO aja..!!!!

* Benang merahnya semua sudah jelas kan, mengapa kelompok radikal HTI, FPI, PKS ingin menguasai KPK melalui tangan KADAL BOTAK TALIBAN. Karena KPK adalah mesin politik yang sangat ampuh digunakan untuk mengumpulkan pundi2 uang haram hasil sitaan koruptor, dan bekerja sama dgn pelaku koruptor untuk memendamkan kasus dgn imbalan yang fantastis hingga ratusan miliar. Disisi lain melalui KADAL BOTAK TALIBAN akan mengamankan kepala daerah dari partai oposisi spt GERINDRA DAN PKS agar bisa mulus menggarong APBD untuk biaya operasional politik partai tsb, juga untuk membiayai kelompok radikal HTI, FPI dari dana hasil curian tsb ...

** WAN ABUD alias  ARAB EMPRUT akan manfaatkan dgn sebaik-baiknya posisinya yang strategis sebagai Gubernur menggarong APBD yang nilainya hingga triliunan itu. Lampu hijau yang diberikan KADAL BOTAK TALIBAN kepada WAN ABUD, akan dimanfaatkan dgn sebaik-baiknya oleh WAN ABUD untuk menjarah APBD untuk persiapan membiayai karir politiknya yang nilainya tidak sedikit ...

* Dengan kolaborasi kelompok radikal HTI, FPI, PKS, KADAL BOTAK TALIBAN, dan WAN ABUD maka rencana jahat menggarong uang negara akan berjalan mulus dan ambisi untuk bisa berkuasa di 2024 akan terbuka lebar ... WAN ABUD akan dijadikan icon oleh kelompok radikal HTI, FPI sebagai pemimpin umat Islam. Kelompok radikal HTI, FPI akan memoles citra WAN ABUD dgn membentuk opini melalui media dan buzzer2 di medsos. Strategi ini sebagai langkah menggalang dukungan rakyat dan simpati umat Islam ...

* Mereka boleh saja membangun mimpi itu, tapi itu hanyalah mimpi dan belum terealisasi. Apakah Pemerintah tidak tahu dgn kondisi itu..??? Tentu saja Pemerintah sudah membaca semua itu, apalagi Pemerintah memiliki BIN, BAIS yang bisa membaca kondisi politik di tanah air ...

* Untuk memutus mata rantai mereka, maka DPR sebagai perwakilan partai politik mengamputasi kekuasan KPK yang hanya dimanfaatkan untuk disalahgunakan oleh KADAL BOTAK TALIBAN untuk kepentingan politik dgn merevisi UU KPK dan mengangkat Irjen Firli sebagai Ketua KPK. Dgn diangkatnya Irjen Firli menjadi Ketua KPK, nantinya akan mengamputasi kekuatan POLISI TALIBAN yang selama ini sudah menggurita menguasai KPK dan menghapuskan WADAH PEGAWAI KPK yang juga sebagai tempat bersarangnya para kelompok radikal HTI di sana ...

Dgn strategi ini, maka KPK akan bersih dari POLISI TALIBAN dan KADAL BOTAK TALIBAN akan habis dan musnah dari KPK. Maka dgn musnahnya mesin politik kelompok radikal HTI di KPK, akan membuat kelompok radikal HTI semakin kesulitan membangun jaringan dan mengumpulkan dana untuk melakukan aksinya ...

* Jika mesin pencetak uang yang ada di KPK sudah lumpuh, maka WAN ABUD nasibnya pun akan berada di ujung tanduk, karena tdk ada lagi yang mengamankan atau membekingi dirinya dalam merampok APBD ...

Semoga saja Irjen Firli bisa menghabiskan BANDIT2 BUSUK TALIBAN yang ada di KPK, agar kelompok radikal HTI tidak bisa menguasai KPK dan merusak NKRI. Kita tunggu sepak terjangnya Irjen Firli .... Merdekaaaaaa 內內內內內內內內內內



POLITIK CATUR JOKOWI, SEMAK DIPUKUL ULAR KELUAR


Luar biasa politik di Indonesia. Nafsu mengesahkan revisi KUHP begitu kental. Ini memecah pendukung Jokowi. Juga revisi UU KPK. Pro-kontra tercipta. Lalu bidak catur apa yang Jokowi mainkan? Benar, langkah politiknya memunyai fatsun. Punya aturan. Punya pakem. Itu untuk hal-hal yang prinsip. Misalnya tentang hubungannya dengan parpol di koalisi.

Yang jelas. Dia tidak mau diatur-atur, meskipun mendengarkan parpol tentu. Karena tanpa dukungan parpol langkah pembangunan Jokowi bakal tersendat. Dalam batas tertentu, semua keputusan ada di tangannya. Presiden RI. Yang menguatkan salah duanya: Relawan dan relawan netizen (bukan hanya buzzer resmi Jokowi). Ini benar.

Dari Internal Jokowi

Posisi politik yang belum jelas membutuhkan petunjuk. Orang, menteri, pejabat, politikus sedang wait and see. Bahkan oposisi pun menimbang – dan menantang. Tawar-menawar posisi. Orang awam banyak bingung – termasuk relawan yang tulus.

Jokowi melihatnya berbeda. Kisruh Papua, pembakar hutan, revisi UU KPK, revisi KUHP, dan goro-goro lain dirancang oleh pihak tertentu tampil ke permukaan. Dasarnya adalah untuk kepentingan masing-masing. Bukan kepentingan negara. Dan, lagi-lagi dia paham.

Banyak yang keluar dari semak politik. JK tampil. Ma’ruf Amin muncul. Dia berbeda pendapat dengan Jokowi. Malah dia mengritik soal impor dan ekspor pangan. Secara ngawur Amin menampilkan data soal nilai ekspor Indonesia dibanding impor. Tujuan Amin apa? Ngerek nama MUI. Another bargaining position.

Menteri saling-silang. BUMN. Lembaga. Mengatur posisi. Antara tetap menjadi menteri. Atau tersingkir. Yang pasti tersingkir pasti, bersikap lucu. Kalau bisa, membangkang. Misalnya, Jokowi melarang perubahan pejabat di kementerian dan lembaga. Nekat mengganti pejabat ini-itu. Jokowi diam. Cukup mencatat. Hanya soal waktu. Out.

Oposisi Menari

Politikus oposan menggeliat, sehabis keok Pilpres 2019. Kebakaran hutan – yang secara sengaja dibakar oleh oposan Jokowi – didemo oleh Kadal Gurun. Satu per satu muncul. Fadli Zon soal kebakaran hutan. Dahnil Simandjuntak, dan lainnya. Yang dikomentari termasuk tentu Revisi UU KPK. Semua salah Jokowi. Tentu.

Di berbagai kota, muncul lagi emak-emak jumud bin bahlul demo. Di Bogor, anak-anak SMP dengan simbol khilafah berkeliaran di jalanan: mengecam Jokowi. Soal KPK, soal kebakaran hutan. Mereka mengedarkan sumbangan. Seolah terjadi tragedi kemanusiaan.

Otak mereka disusupi kebencian ala Onta Bahlul, Kadal Gurun, Taliban. Bahkan demo di lokasi kebakaran dengan bendera khilafah – bukan memadamkan api. Soal sholat minta hujan pun Jokowi disalahkan. Ini memang khas dari para eks Kampret yang kini bergelar mentereng: Kadal Gurun, Taliban.

Diam bagai Burung Nazar

Yang diam pun ada. SBY. Dia sedang memetik yang dia tanam. Belasungkawa atas meninggalnya Kristiani. Dia mengakhiri politik SBY. Demokrat tentu. Dan, AHY. Sesuai dengan hukum alam.

Kisruh politik. Intoleransi. Radikalisme. Indonesia tengah memetik buah minimal 10 tahun pembiaran ormas radikal oleh SBY. Kaum radikal yang dikiranya akan bermanfaat untuk AHY.

Celakanya, yang memetik Anies Baswedan-Sandi. SBY dengan ambisi Ani-nya untuk AHY gagal total. Tikungan tajam politik yang diambil oleh JK merontokkan AHY. Selain itu, radikalisme menguatkan PKS dan Gerindra – menggerus kekuatan Demokrat di DPR.

Dia mengamati kekisruhan. Pintar. Licik. Teori politik text-book dia praktikkan. Mengerikan. Tak mengherankan logistiknya sampai 2024 dia jauh lebih kuat dari Jokowi 10 tahun. Cerdas dia soal ini. Hingga kini para birokrat masih dari masa SBY. Jika mengambil langkah. Oportunis.

Ular Keluar dari Semak

Semak dipukul, bukan oleh Jokowi, mengeluarkan ular tentu. Kisruh di berbagai bidang membuat semua tampak makin benderang. Semua orang. Menteri. Politikus. Skondan. Pembisik. Penasihat. Pembantu. Tenaga ahli. Staf ahli. Pimpinan lembaga.

Dari reaksi mereka atas kisruh itu, Jokowi menyaring. Menimbang. Memastikan. Menguatkan. Bahkan mengganti dan menyingkirkan. Bahkan, berdasarkan gebukan semak yang Jokowi tak lakukan. Para begundal sendiri yang memukul semak. Dan, mereka sendiri yang keluar. Jokowi tinggal pukul kepala ular. Tok. Tok. Satu. Satu. (Penulis: Ninoy N Karundeng).

https://www.facebook.com/1468423442/posts/10219841350172027

Monday, September 16, 2019

Mengenang Riwayat Dr. Radiman Tjitrowardojo, Dokter Pribumi Pertama di Jawa Kakek buyut Bp BJ Habibie.


Ayo! Bagikan artikel ini ke Facebook atau Twitter, biarkan teman-temanmu tahu...

Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo yang mempunyai nama kecil Mas Bei Radiman, adalah seorang dokter pribumi pertama di Jawa. Beliau dilahirkan pada tanggal 14 Januari 1849 dari keluarga Kyai dan Nyai Honggrodrono, pemuka masyarakat di desa Baledono kabupaten Purworejo.

Adanya dampak atas kebijakan balas-budi (politic etis) pada masa pemerintah kolonial Belanda sejak pertengahan abad XIX, akibat dorongan kalangan humanis di Negeri Belanda guna memperbaiki kondisi rakyat negara jajahan, maka sebagai putra dari keluarga terpandang Kyai Honggodrono, Radiman Tjitrowardojo mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan di masa penjajahan.

Radiman Tjitrowardojo dikenal sebagai pemuda yang cerdas, hingga berkesempatan menuntut ilmu kedokteran di Universitas CDG Leiden Belanda dan berhasil memperoleh gelar Diploma Dokter Djawa pada 22 Desember 1868 (saat itu beliau masih berusia usia 19 tahun). Saat itu hanya beberapa orang bumiputra yang memperoleh pendidikan dan berhasil menjadi Dokter. Bahkan hingga tahun 1945 tak lebih dari 500 orang yang berhasil menamatkan pendidikan perguruan tinggi di berbagai disiplin ilmu.

Kariernya diawali dari diangkatnya sebagai Terbeschikking Resident di Semarang dan tujuh bulan kemudian (12 Agustus 1869) diangkat menjadi Assisten Leerar Sekolah Dokter Jawa Weltervreden. Selain itu juga pernah mengajar di sekolah kedokteran STOVIA (Jakarta), yang berarti pada waktu itu beliau merupakan dosen senior dari Pahlawan Nasional Pergerakan Kebangsaan, yaitu : dr. Soetomo, dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan dr. Muhammad Sulaiman.

Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo merupakan kakek buyut dari Presiden RI ke-3 Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie dari garis keturunan sang ibu.

Pernikahan Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo  dengan R. Ng. Soeratinah dikaruniai 7 anak, di antaranya adalah Rr. Goemoek. Pernikahan Rr. Goemoek dengan R. Poespowardojo juga dikaruniai 7 anak, salah satunya bernama Toeti Saptomarini alias Toeti Marini Poespowardojo lahir pada 23 Maret 1909, yang kemudian dikenal sebagai ibu dari BJ. Habibie sesudah menikah dengan Abdul Jalil Habibie, seorang pria bangsawan Bugis asal Pare-pare, Sulawesi.

Abdul Jalil sendiri adalah seorang terpelajar yang menjabat sebagai Landbouw Consullent di Afdeling Pare-pare, yang membawahi sejumlah unit-unit kerja pertanian.

Selain menikah dengan R. Ng. Soeratinah, Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo juga menikahi R. Ng. Soetinah. Uniknya dalam keluarga istri keduanya lebih dikenal sebagai kakak oleh putra-putrinya, walau darinya terlahir 14 anak, hingga ke-21 anak-anaknya Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo hanya mengenal satu ibu, yaitu R. Ng. Soeratinah.

Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo wafat pada 11 Juli 1922 dan dimakamkan di lereng Bukit Geger Menjangan yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan pasarean ndokteran (Makam Kedokteran) karena memang keturunan almarhum Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo yang dimakamkan di situ kebanyakan dokter. Lokasi makamnya pun tidak jauh dari makam ulama besar Kyai Imam Puro.

Kini nama Dr. Tjitrowardojo resmi menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Purworejo. Dr. Tjitrowardojo menggantikan nama sebelumnya RSUD Saras Husada, setelah diresmikan pada tanggal 26 September 2015. Launcing perubahan nomenklatur dilakukan bersama Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie yang merupakan cucu buyut dari Dr. Ng. Radiman Tjitrowardojo.

Dalam silsilahnya K Honggodrono adalah saudara K Singodrono yg kememudian diabadikan menjadi dusun Singodranan keduanya adalah.putra dari Adipati Gagak Prenolo 2 ,Adipati Loano


AMIN RASIS MEMANG BANGSAT SEJATI !!!

Kilas Balik Kelakuan Amien Rais Saat Melengserkan Alm. BJ Habibie.

Sedikit menengok ke belakang, BJ Habibie saat menjabat Presiden RI memang cuma setahun. Beliau sukses membawa Indonesia yang kala itu sedang kolaps dari kepemimpinan orde baru menuju yang baik dan sehat.

Namun, dalam setahun itu, ada juga prestasi luar biasa yang hingga kini masih dinikmati, yakni dibukanya kran kebebasan pers.

Sekelumit drama detik-detik BJ Habibie dilengserkan oleh MPR dalam Sidang Istimewa, tanggal 14 Oktober 1999 silam.

Ketua MPR saat itu, Amien Rais, menyatakan tidak menerima laporan pertanggungjawaban Habibie.

Di gedung terhormat yang diisi oleh para orang-orang terhormat, dia (Alm BJ Habibie) dipermalukan seperti begal tak berharga.

Pada 14 Oktober 1999 silam, di Sidang Istimewa MPR, hari itu B.J Habibie sebagai Presiden yang menjabat pasca lengsernya Soeharto, memasuki ruang sidang istimewa MPR yang dipimpin oleh Amien Rais sebagai ketuanya.

Adalah kelaziman protokoler, apabila seorang presiden memasuki ruangan, maka seluruh hadirin menyambutnya dengan berdiri.

Tetapi di layar tivi yang menyiarkan acara ini ke seantero nusantara, pemirsa menyaksikan bagaimana selangkah setelah kaki Habibie memasuki ruangan sidang, gedung MPR tiba-tiba bergemuruh dengan suara: Huuuuuuuuuuuuu berkepanjangan!

Koar itu bergema dari mulut hampir seluruh peserta sidang, dan ditimpali pula oleh teriakan ejekan dari beberapa lintir orang.

Di tivi, Habibie melangkah ringan menuju samping podium dengan tetap melempar senyum lebar ke arah para anggota majelis, yang sebagian tak beranjak dari duduknya.

Cemohan itu baru berhenti setelah Habibie menempati tempat duduknya.

Habibie disidang seperti pesakitan!

Cukup sampai di situ?

Tidak!

Hinaan dan cemoohan itu justru berlanjut manakala Habibie berdiri di podium kenegaraan, untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban presiden.

Hampir sejam Habibie menyampaikan pidato yang berisi keberhasilan Indonesia yang mampu entas dari keterpurukan ekonomi dan politik pascatumbangnya Soeharto, tapi tak sekalipun applause tepuk tangan menyambut pidatonya.

Justru, berulang kali pidatonya terinterupsi oleh suara gaduh dan teriakan, yang tak sekalipun ditegur oleh pimpinan sidang.

Sementara anggota yang tak gaduh dan berteriak, lebih memilih lelap dan tertidur.

Puncaknya ketika pada 20 Oktober 1999, palu sidang yang diketok Amien Rais, menyatakan secara bulat penolakan pertanggungjawaban Habibie sebagai presiden.

Artinya; Habibie dianggap tak becus mengemban amanat sebagai presiden, dan kerja kerasnya memulihkan keterpurukan Indonesia, tak dianggap punya nilai apa-apa.

Bagi pria kelahiran Pare-pare ini, cemoohan dan hujatan sejatinya tak pernah membuatnya risau.

Sebab nyaris tiap kesempatan selama setahun lebih menjadi Presiden, dirinya tak pernah lepas dari hujatan.

Pria yang kala senggang jarinya tak pernah lepas dari tasbih ini, memaklumi hujatan itu sebagai eforia kebebasan pascareformasi.

Tetapi, tatkala kerja keras dan segala daya upayanya dicampakkan sebagai hal yang tak bernilai, B.J Habibie tak mampu menutupi kesedihan hatinya.

Di malam hari setelah MPR menolak pertanggungjawabannya, Habibie menyampaikan pidato yang secara tersirat hendak pamit dari hiruk pikuk dunia politik Indonesia.

Dia hendak menepi serta menarik diri dari segala tetek bengek politik dan kekuasaan.

DanIndonesia kini benar-benar menyaksikan bagaimana setelah meletakkan jabatannya sebagai presiden, Habibie tak sedikitpun tergiur untuk kembali ke dunia politik dan kekuasaan.

Tatkala beberapa mantan pejabat begitu sulit melepaskan diri dari post power syndrome alias sindrom ingin berkuasa kembali, Habibie justru tetap hening dan tak terpancing untuk tampil kembali.

Habibie memang berhasil menepi dan menarik diri..tetapi beliau tidak bersemedi.

Di hari tuanya sepeninggal Ibu Ainun, beliau masih tetap berkontribusi bagi negeri dengan begitu banyak sumbangsih ilmu dan terobosan teknologi. Habibie memilih menjadi guru bangsa dan teladan abadi, kendati negeri ini pernah mencaci maki dan menghinanya.

Akhir perjalanan politik sampai tua, BJ Habibie dikenang selalu dan Amien Rais menjadi tokoh jalanan seperti yang diungkapkan oleh Alm. Gusdur

Selamat jalan Professor Habibie..Doa tulus dari kami anak negeri, semoga tempat terbaik untukmu.

Alfatihah
https://politikandalan.blogspot.com/2019/09/mengenang-riwayat-dr-radiman.html
https://m.tribunnews.com/nasional/2019/09/11/bj-habibie-meninggal-dunia-kilas-balik-saat-dilengserkan-amien-rais-dalam-sidang-istimewa-mpr-1999

SELAMAT JALAN, RUDY..

9 Maret 1962.
Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.

Rudy - panggilan BJ Habibie - mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah.

Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, "Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?"

Lalu ia memberanikan diri bertanya, "Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?"

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, "Tidak. Saya tidak punya kawan dekat.."

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

"Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana.." Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.

Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan.

Tidak akan pernah...

Denny Siregar
https://politikandalan.blogspot.com/2019/09/mengenang-riwayat-dr-radiman.html
REALITA .....
BJ HABIBIE
Ternyata kembali ke nol .... tidak ada yang dapat  dibanggakan.... dulu bangga dengan jabatan apa itu Nakhoda apa itu KKM apa itu Direktur apa itu Bos perusahaan  besar     ......... busiiiit semua 五五五唐唐唐唐唐.                             

Ungkapan Hati BJ Habibie soal akhirat  yang bikin merinding
8 Jan 2019

NONSTOPNEWS.ID - Pidato BJ Habibie viral. Mantan Presiden RI ini menuliskan tentang kisah hidupnya.

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT.

KALAULAH SEMPAT ? Renungan utk kita semua !!!!
--------------------( by BJ Habibie ketika berpidato di Kairo, beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat .Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama." )

Sepi penghuni...
Istri sudah meninggal... 
Tangan menggigil karena lemah...
Penyakit menggerogoti sejak lama...
Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...

Tiga anak, semuanya sukses... berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri...
» Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... »
Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... »
Dan ada pula yang jadi pengusaha ...

Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya...

Namun....
Saat tua seperti ini dia "merasa hampa", ada "pilu mendesak" disudut hatinya..

Tidur tak nyaman...
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yg penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....
Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak nya

Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....

Sudah terlanjur melemah...

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak...
sepanjang waktu .... 

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_
Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...
yang pasti hanyalah KEMATIAN.
Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya..._
Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...
Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang..._
Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti.

Siapa yang akan memandikan ?

Dimana akan dikuburkan ??

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula...
Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???  Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja..._

"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...

"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang...... 

"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan..... 

"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan...

Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan

Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'meneteskan air mata' mendoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...

"KALAULAH SEMPAT"

Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ?  Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.  Kenapa kita tidak lebih serius?
Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang  bisa  melalaikan.....

Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.

( bagi yang  menyebarkan catatan ini semoga menjadi sodaqoh ilmu & ladang amal Shaleh)_

Teruslah menjadi  "si penabur  kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.

Semoga Bermanfaat...

Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie

KISAH KASIH ANTARA AB, NB & BW...


Saya itu senang menganalisa sesuatu berdasarkan kepingan-kepingan informasi kemudian menyusunnya menjadi sebuah gambar besar.

Kesenangan ini membuahkan sebuah analisa yang kadang berguna untuk melihat pola apa yang sedang dipakai oleh sebuah kelompok. Dan lumayan berhasil ketika menggambarkan "niat" kelompok demo saat 411 dan 212. Tulisan saya bisa selangkah didepan gerakan mereka.

Itulah kenapa mereka sangat marah ketika niatnya terbongkar. Dan yang mereka lakukan juga polanya sama, menuduh buzzer, penjilat, dibayar istana dan segala macam.

Kadang, bahkan banyak teman juga termakan pembunuhan karakter ala mereka. Sedih memang. But the show must go on. Urusan saya adalah bagaimana membaui tempat persembunyian kelompok radikal ini, bukan melayani debat yang tidak berujung pangkal.

Masalah KPK ini sudah lama saya dengar dari banyak informasi baik dari internal maupun dari pengamat luar. Tapi saya menahan diri, tidak semua informasi bisa menjadi kepingan berharga.

Alarm saya kemudian berbunyi saat melihat seorang BW menjadi pembela saat di MK. Bukankah dia dulu ada di KPK ? Bukankah dia juga sekarang ada di tim seorang pejabat DKI ?

Dari situlah saya menelusuri kepingan2 lain supaya analisa ini menjadi sebuah kesimpulan yang kuat.

Akhirnya saya menemukan fakta, bahwa KPK yang menurut informasi akurat dikomandani oleh NB yang sudah berada disana 12 tahun lamanya, sama sekali tidak pernah curiga dengan apa yang dilakukan sepupunya AB, selaku pejabat daerah.

Bahkan ia mendapat 3 penghargaan dari KPK.

Padahal aroma kolusi penerbitan IMB reklamasi sangat kuat sekali. Itu proyek ribuan trilyun rupiah, yang kata BTP, retribusi tambahannya kalau 15 persen saja, DKI bisa dapat lebih dari 100 triliun rupiah.

Tapi KPK seolah tutup mata dan tutup telinga. Malah sibuk OTT ikan-ikan kecil dengan tangkapan ratusan juta rupiah, dengan drama dan publikasi yang sungguh luar biasa.

Saya akhirnya bisa mengambil benang merah, alasan kenapa BW ada disana.

Sebagai orang yang pernah ada di dalam KPK, BW sangat paham kinerja KPK. Ini sangat berguna jika ia menjadi tim pejabat daerah. Ia bertugas "mengamankan" sistem proyek supaya aman dari jeratan KPK.

Maksud "aman" disini bisa saja bukan bagian dari pencegahan, tetapi juga supaya tidak terendus.

AB memang punya ambisi pribadi untuk menjadi RI1. Itulah kenapa dia butuh mesin-mesin yg bekerja untuk membangun jalannya ke depan. Dan mesin apalagi yang cocok jika itu bukan KPK ?

Kenapa KPK menjadi mesin yang cocok ?

Ya, pastilah. KPK adalah lembaga superbody, jadi tidak punya pengawas dan bebas menyadap siapapun yang mrk suka. Mereka independen dan sudah terlabeli "suci". Membongkar kebusukan mereka harus rela dilabeli "pro koruptor".

Dengan semua fasilitas itu, paling enak menembak musuh-musuh AB kelak, sekaligus mengamankan semua perangkat untuk kemudahan AB bergerak.

Siapapun calon kelak yang berhadapan dgn AB, sadap, dan tembak lewat opini di media bahwa dia korupsi. Selesai sudah. Berguguran satu persatu dan AB melenggang dgn mudah.

Sudah mulai paham dan merasa ngeri ?

Itulah kenapa penting menguasai KPK sekarang yang sudah dikuasai demi kepentingan. Marwah KPK sebagai pemberantas korupsi harus kembali, bukan menjadi agen politik yang disalahgunakan.

Dan saya harus maklum dgn teman2 yg termakan propaganda bela KPK. Karena selama ini di benak mereka KPK adalah "pahlawan" dan harus diselamatkan.

Inilah keberhasilan org2 di dalam KPK membangun citra. Mirip orang yg masih percaya bahwa PKI masih menjadi momok yang menakutkan di era sekarang ini.

Seandainya saja, banyak dari kita mau melihat lebih luas sebuah masalah, tentu perdebatan dukung dan tolak revisi UU tidak akan terjadi.

Sejak lama sudah banyak orang yg mengingatkan bahayanya KPK jika superbody, termasuk salah satu perumus UU KPK, almarhum Adnan Buyung Nasution.

Jadi paham kan, kenapa orang-orang di dalam KPK ngamuk ketika disebut sebagai "Taliban" ? Itu pukulan telak, ketika cadar mereka terbongkar bahwa ada agenda besar yg mereka jalankan dgn memanfaatkan mesin yang ada. Wuih, habis karakter saya dibunuh mereka lewat media.

Tapi sekali lagi, the show must go on..

Sambil seruput kopi ☕☕☕

Denny Siregar

Benarkah Novel Selama Ini “Mengamankan” Bisnis Keponakan Riza Khalid?


Jakarta—Kerasnya perlawanan Novel Baswedan selama ini ternyata ada misi tersembunyi.

Dari pengakuan sumber internal KPK kepada wartawan, Minggu (15/9), Novel diketahui tengah menjalankan misi untuk “mengamankan” sesorang yang diketahui bernama Ali Hidung, ia merupakan pebisnis yang mengelola semua usaha milik Riza Khalid mafia migas yang dulu mengelola Petral.

Ali Hidung, kata sumber, juga memiliki usaha menyelundupkan mobil mewah, salah satu konsumennya waktu itu ialah Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan keponakan Ratu Atut yang kini sudah jadi tersangka KPK.

“Puluhan mobil mewah milik Wawan disita KPK namun beberapa raib karena Ali Hidung minta bantuan NB untuk ambil mobil-mobil tersebut, sudah diaudit BPK, namun BPK diancam untuk jangan ekpose,” beber Sumber tersebut.

Itulah kenapa, salah satu Capim KPK I Nyoman Wara yang merupakan auditor BPK tak bisa lolos dalam pemilihan Capim KPK di DPR lantaran Nyoman jika terpilih memiliki program bakal melakukan audit internal terkait status barang sitaan.

Dalam praktriknya, Novel memang ditakuti oleh para politikus kotor dan pengusaha hitam. Agar kasusnya tak diangkat, rata-rata mereka menghubungi Ali Hidung, disitulah transaksi ratusan miliyar terjadi.

“Pola ini berjalan sangat rapi dan berlangsung bertahun tahun, uang NB disimpan dan dikelola Ali Hidung, oleh karenanya dia (Novel) bisa kuasai semua jaringan di KPK,” ungkap sumber.

Sebetulnya, masih kata sumber, pola dan praktik yang dilakukan oleh Novel sudah diketahui banyak pengusaha, namun merela lebih memilih untuk tutup mulut lantaran takut dan lebih memilih bermain aman agar kepentingannya tidak terganggu.

“Revisi UU KPK menjadi ancaman bagi NB karena pekerjaan dan zone nyaman dia akan terganggu,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Novel berusaha ajak para pegawai KPK untuk melakukan aksi protes dengan dalih pelemahan KPK, namun yang sebenarnya dia ingin melindungi kerajaannya dengan membonceng Wadah Pegawai KPK.

“Masih banyak pegawai KPK yang memiliki integritas dan kebanyakan menganggap NB adalah icon mereka, tapi ada banyak juga yang ingin bersaksi tentang perilaku NB namun takut,” demikian penjelasan sumer.

Thursday, September 12, 2019

KONSPIRASI DI BALIK IKLAN "ROKOK MEMBUNUHMU"

Gambar ilustrasi saja
Saya dapat ini dari Bpk.Maruli Gultom ,(dulu presdir Astra Agro,jg pernah menjadi rektor UKI)
 puanjang namun cukup menarik, silahkan dibaca
Saya ingin tanya hak hak perokok?
Selain yg saya tau negara menarik cukai pada perokok terus menerus!! 
Produsennya di himpit, konsumennya dianggap pesakitan. Pajaknya diembat trus pura pura ngajak hidup sehat!!

Dagelan kok nemen!!
Kasih hak hak perokok. Dibawah ini tulisan panjang dari banyak sumber ..

Sebuah Analisa Fakta : MEMBUNUH INDONESIA :

KONSPIRASI DI BALIK IKLAN "ROKOK MEMBUNUHMU"

Mengapa ada Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU", Namun Rokok masih di Produksi & Pabrik Rokok Tidak di Tutup?

Adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?

Taukah Anda Bahwa balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?

Pertarungan politik bisnis internasional menyebabkan Indonesia kehilangan kekayaan negeri sendiri.

Sebab dulu, Indonesia yang pernah berjaya dengan penjualan minyak mandar kini telah diluluh lantakkan dengan bombardir minyak sayur.

Dulu Indonesia pernah jaya dengan minyak mandar atau lomo mandar, tapi dihancurkan dengan isu bahwa minyak mandar tidak baik untuk kesehatan oleh Amerika.

Hal itu juga diberlakukan pada rokok kretek, lewat WHO, WTO dan pemerintahan Indonesia soal bahaya nikotin tinggi.

Matinya Kopra, gula, garam, jamu dan kretek menandai matinya komoditas nasional.Matinya sebuah kebudayaan lokal.

Tahukah Anda tentang sentra produksi minyak kelapa di Mandar, Sulawesi Selatan?

Tahukah Anda tentang Pulau Selayar yang dahulu kala digelari pulau sejuta emas hijau?

Mungkin tak banyak yang tahu kalau di daratan Sulawesi di tahun 1960-an adalah hamparan pulau kelapa yang menjadi tambang hidup rakyat.

Kelapa sering disebut emas hijau berkibar-kibar di sepanjang jazirah Sulawesi, hingga tiba badai jatuhnya harga kopra dunia di tahun 1980.

Ditambah dengan derasnya kampanye perang anti kelapa, benar-benar mengubur minyak kelapa.

Pada tahun 90-an, negeri Uwak Sam, Amerika, getol mengampanyekan bahaya minyak kelapa bagi kesehatan. Sebagai gantinya diperkenalkanlah minyak kedelai yang lebih bersahabat dengan kesehatan.

Indonesia yang sudah berabad-abad menggunakan minyak kelapa akhirnya takluk juga. Pelan tapi pasti minyak kelapa dijauhi, membuatnya tak laku dan industri inipun gulung tikar.

Hal yang sama terjadi pada gula. Tahun 1930-an, Indonesia produsen gula nomor dua dunia di bawah Kuba. Tapi sejak tuan International Monetary Fund (IMF) datang ke Indonesia tahun 1998, yang memaksa pemerintah melepas tata niaga, termasuk diantaranya gula, maka gula import membanjir.

Sejak itu pula tamatlah industri lokal syurga para semut itu.

Sementara garam pernah berjaya di tanah air sendiri pada 1990-an. Kita bahkan mengekspor ke manca negara.

Tapi sejak Akzo Nobel gencar kampanye garam yodium, pabrik-pabrik garam nasional bangkrut.

Jamu juga mengalami nasib tragis. Posisinya sudah kian tersudut oleh obat farmasi modern. Herbal diragukan keampuhannya. Dukungan pemerintah juga minim. Jangan kaget temulawak dipatenkan oleh anak perusahaan LG, Korea Selatan.

Lagi dan lagi, pemerintah Indonesia menggunakan kacamata kuda dengan temuan baru yang dibungkus rapi dalam baju akademis dan kesehatan.

Kampanye intenasional disambut karpet merah, sementara industri lokal yang menjadi korban kampanye tak disokong baik itu kredit, subsidi, tekonologi, riset, proteksi harga dll.

Sementara industri tembakau lamban tapi pasti mengikuti jejak matinya kopra, gula, garam, jamu. Tembakau kini kian tersisih peredarannya seiring dengan aneka beleid baru yang membatasinya.

Tak lama setelah Soeharto jatuh, medio 1999, menyeruaklah isu perlunya pembatasan kadar kandungan tar dan nikotin.

Dengan berlindung di balik isu kesehatan, beleid pembatasan tembakau akhirnya disahkan tahun 2009.

Industri rokok kretek terpukul, sementara rokok putih diuntungkan. Dengan slogan "low tar, low nicotin", rokok kretek sempoyongan, sementara rokok putih yang menggunakan tembakau Virginia masih di atas angin,

Padahal selama ratusan tahun rokok putih tak pernah bisa menggeser rokok kretek.

Dalam buku "Membunuh Indonesia. Konspirasi Global Penghancuran Kretek" diulas tentang adanya perang global melawan tembakau.

Kampanye anti tembakau sesungguhnya bermula dari persaingan bisnis nikotin antara industri farmasi dengan industri tembakau di Amerika Serikat.

Perusahaan farmasi berkepentingan menguasai nikotin sebagai bahan dasar produk Nicotine Replacement Therapy (NRT).

Di dalam negeri ada dua sisi bertolak belakang.

Di satu sisi kebijakan anti tembakau sukses besar. PP tembakau sudah direvisi berkali-kali, puluhan perda anti tembakau, UU Kesehatan dan RPP Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif sedang digodog, kawasan dilarang merokok, iklan rokok tak selonggar dulu.

Sementara di sisi lain impor tembakau meningkat tajam. Tahun 2003 sebesar 29.579 ton naik menjadi 35.171 ton di 2004. Hingga 2008 mencapai 77.302 ton. Dalam waktu lima tahun ada kenaikan 250 persen. Impor cerutu juga naik. Rata-rata kenaikan 197,5 persen per tahun. Tahun 2004 impor cerutu masih US$ 0,09 juta, di tahun 2008 naik menjadi 0,979 juta.

Apalagi juga ada fakta raksasa rokok dunia masuk ke Indonesia.
Philips Morris mencaplok Sampoerna (2005) dan BAT mengakuisi Bentoel (2009). Perusahaan farmasi yang menjual terapi rokok juga kian populer di Indonesia.

(Industri kretek yang masih berada di tangan pihak Indonesia adalah Djarum, Gudang Garam, Djeruk dari daerah Kudus, Wismilak.)

Selamat datang penguasa rokok dunia, selamat tinggal industri rokok kretek yang megap-megap menjelang ajal kematian. Industri kretek dalam negeri yang memayungi hampir 30 juta orang yang bekerja di sektor ini.
Lambat tapi pasti rokok kretek menuju liang kematian yang sebelumnya telah ditempati kopra, gula, garam, jamu, dan puluhan lainnya.

Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU" hadir Melalui Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012, spirit PP tersebut menghancurkan industri kretek nasional untuk digantikan oleh rokok putih milik Phillip Morris dan BAT, dll.

Kampanye " ROKOK MEMBUNUHMU" Di Sponsori oleh Bloomberg Initiative, sebuah lembaga berkedudukan di Amerika Serikat.

Bloomberg Initiative mengumumkan bahwa lembaga itu menyeponsori (Membiayai) ilmuwan, kaum profesional, lembaga penelitian, lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya, juga, termasuk, menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok, maka jelas bahwa ada sesuatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.

Banyak pihak dipengaruhi dengan duit. Para pejabat di Departemen, tingkat menteri, di bawah menteri, gubernur, bawahannya, bupati atau wali kota dan bawahan mereka, semua menjadi korban yang berbahagia, karena limpahan duit yang tak sedikit jumlahya untuk masing-masing pihak.

Mereka menjadi korban kecil, karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok, yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.

Tapi apa artinya hati nurani di jaman edan ini dibanding duit melimpah?

Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri demi duit.

Ada juga Gerakan Anti Rokok demi kesehatan lingkungan.

Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?

Kretek kita sangat khas.

Dan di negeri orang bule, kretek kita mengantam telak perdagangan rokok putih mereka. Kretek unggul.
Dan karena itu mereka berhitung bagaimana kretek bisa mereka caplok.

Berbeda dengan penemuan Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Pusat Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang.

Setelah penelitian belasan tahun, salah satu bukti ilmiah yang ditemukan adalah, asap rokok memang mengandung zat merugikan, namun tak cukup kuat sebagai penyebab kanker.

Lebih jauh lagi, teori Prof Sutiman menyatakan, rokok menyebabkan kanker kebanyakan hanya hasil pengolahan data di rumah sakit, bukan di lapangan.
Jadi, asal ada pasien mengidap kanker, dan kebetulan dia merokok, serta-merta rokok lah yang dituding sebagai penyebab tunggalnya.

Variabel-variabel lain yang terkait dengan gaya hidup si pasien, semisal 'asupan' polusi asap kendaraan, konsumsi MSG, dan sebagainya, diabaikan. Metode semacam itu jelas melanggar kaidah eksperimen ilmiah.

Dengan teori baru hasil penelitian ilmuwan bangsa sendiri tersebut, menjadi cukup jelas lah kenapa di sekitar kita banyak perokok aktif yang tetap sehat sampai lanjut usia.

Banyak tokoh nasional yang perokok kretek tetap bugar dan produktif hingga usia senja.

Sebut saja misalnya Haji Agus Salim, mantan Menteri Pendidikan Prof Fuad Hasan, penulis besar Pramoedya Ananta Toer, master menggambar Pak Tino Sidin, tokoh Muhammadiyah Prof Malik Fadjar, dan masih banyak contoh lain.

Mengapa Industri kretek menjadi sasaran Amerika?.

Karena Industri ini disasar karena sudah memberikan sumbangan berharga bagi struktur ekonomi Indonesia.
Kekuatan industri kretek itu setidaknya karena beberapa hal :

#Pertama, tumbuh berkembang dan bertahan lebih dari satu abad tanpa ketergantungan modal pada negara,

#Kedua,menggunakan hampir 100% bahan baku dan konten lokal.

#Ketiga, terintegrasi secara penuh dari hulu ke hilir dengan melibatkan tak kurang dari 30,5 juta pekerja langsung maupun tak langsung.

#Keempat, industri melayani 93% pasar lokal. Dengan karakter sekokoh itu, tak ayal industri kretek menjadi salah satu prototipe kemandirian ekonomi nasional.
Kekuatan inilah yang diincar neo-kolonialis gaya baru ingin menguasai industri rokok, tapi dengan mematahkan ketangguhan industri kretek Indonesia. Caranya lewat kampanye ANTI ROKOK Sekarang ROKOK MEMBUNUHMU.

Sumber Info : Buku Membunuh Indonesia. Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penulis: Abhisam DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penyunting: Abhisam DM
Penerbit: Kata Kata Terbit: Desember 2011

Banyaknya aturan antirokok di berbagai dunia menunjukkan adanya upaya konspirasi global yang ingin menguasai bisnis tembakau secara global.

"Konspirasi global ingin menguasai bisnis tembakau secara dunia, karena menarik industri tembakau ini," kata anggota Komisi IX DPR Poempida Hidayatullah di Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Poempida mengungkapkan, ada politikus dan pengusaha dari Amerika Serikat (AS) yang banyak mengeluarkan dana untuk mengkampanyekan antirokok.

"Banyak dana yang masuk juga ke DPR, apa keuntungannya? Karena dia punya perusahaan jasa informasi.
Jadi dengan melakukan kampanye ini, maka dia bisa mengontrol pasar dunia," ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini industri rokok telah menyerap tenaga kerja yang sangat besar, dan memberi kontribusi besar terhadap APBN.
Sehingga membuat beberapa pihak tergiur untuk menguasai pasar tembakau.

Sedangkan anggota DPR Rieke Dyah Pitaloka menambahkan, saat ini ada kepentingan asing dalam industri rokok.

Mereka ingin menghancurkan industri rokok nasional, sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai konsumen rokok.

"Saat ini industri tembakau kita sangat bagus. Asing tidak senang, mereka lebih senang kalau kita jadi konsumen dan tempatnya buruh dengan upah murah," tegasnya.

Sementara itu, penggiat ekonomi sekaligus Presidium Insitute Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mengatakan, dominasi perusahaan besar soal tembakau sangat besar.

"Ketika dunia internasional industri tembakau berkembang pesat, tapi di dalam negeri itu ingin dihancurkan," kata Daeng.

Menurutnya, hingga saat ini negara maju seperti Amerika dan Eropa masih mensubsidi pertanian tembakaunya.

"Amerika banyak sekali, sampai ke asuransi gagal panen. Eropa juga mensubsidi tanaman tembakaunya. Di dalam negeri justru dimatikan dengan muncul peraturan pemerintah hingga perda,”tandasnya.
#jakartapipesmookers
#balitobaccolovers
#ngurahartpipe
https://politikandalan.blogspot.com/2019/09/konspirasi-di-balik-iklan-rokok.html

Saturday, August 31, 2019

Iyyas Subiakto: ILC dan Karni Ilyas Sumber Produk Kebencian


Tulisan pegiat medsos Iyyas Subiakto dengan judul: Iyyas Subiakto ‘Semprot’ Karni Ilyas dan Tv One “Stop Produksi Kebencian” mendapat respon yang dahsyat dari pembaca, sudah dilihat lebih dari 20 ribu orang dan di share lebih dari 7 ribu orang.

Dalam tulisan terbarunya Iyyas melanjutkan bahwa program Indonesia Lawyer Club (ILC) di TvOne sangat tidak mendidik dan bahkan sering kali program itu menyerang pemerintah tapi dengan dalih mengkritik, Iyyas menekankan kepada TvOne dan Karni Ilyas untuk menyetop program kebencian ini lebih jauh, karena berbahaya bagi masyarakat, dan akan menurunkan wibawa pemerintah saat ini.


Seperti yang semalam saya sampaikan bahwa TvOne adalah salah satu media yang selama 5 tahun terakhir melalui acara ILC nya Bang Karni Ilyas telah membentuk opini menjadi program penyerang pemerintah melalui sekumpulan manusia nyinyir amoral, mereka terus meletupkan kata-kata tak senonoh yang mestinya tidak keluar dari mulut orang terdidik, atau kaum intelek.

Tulisan pendek saya tentang itu dilike lebih dari 10 ribu orang, dan di share mendekati 2 ribu, ini menandakan bahwa program ILC sudah demikian dipandang meracuni pikiran masyarakat dengan terus dijejali kebencian kepada pemerintah, tingkat kegusaran pemirsa atas serangan terus menerus itu sudah diatas ambang batas kewajaran, apalagi sekelompok manusia pembenci Pak Jokowi itu sengaja dipiara oleh Bang Karni dan dijadikan amunisi yang ditembakkan tanpa henti. Karena ruang celotehan itu adalah media Tv yang sangat luas ditonton di seantero negeri, sehingga dampaknya masif, sesuai segmennya.


Sebagai warga negara yang terdidik harusnya Bang Karni Ilyas tau batas mana kritik membangun dan mana yang cuma manyun, dagelan politik ini harusnya sudah berhenti, karena Pak Jokowi sudah resmi memenangi kontestasi, kenapa terus tak henti dimaki, padahal kerja yang dilakukannya terukur, walau tidak 100% mencapai hasil yang direncanakan. Wajar, karena Indonesia negara besar, bukan sebesar gedung Senayan dimana 600-an orang yang berkumpul dengan hasil kinerja mengesahkan RUU menjadi UU dibawah 50% saja.

UU adalah alat pemerintah untuk bisa bekerja, bila dukungan itu lemah maka akan mempengaruhi kinerja pemerintah, tapi lembaga yang mendudukkan dirinya terhormat dan mulia itu tak pernah dimaki-maki seperti halnya Pak Jokowi, malah bintang kembar dari Senayan yang selalu tampil elegan karena punya kursi tetap di ILC untuk terus bisa leluasa mengumbar bahasa mencela, menjadikan pemerintah seolah sebagai gudangnya salah.

Dari sanalah pernah keluar istilah rakyat tidak makan infrastruktur, Indonesia dikuasai asing, dan olok-olok yang lain dari mulut orang yang harusnya lebih pantas harakiri daripada sok mengerti. Apa itu pantas?, harusnya tidak bagi manusia berakhlak.

Negara yang porak poranda dibonsai orba ini dan sekarang sedang menghirup oksigen pembangunan agar bisa mengejar ketertinggalan, kenapa kesannya TvOne hadir sebagai saingan negara, seolah tidak rela Indonesia ditata agar bisa sejajar dengan tetangganya, dan kemajuannya kelak dirasakan bangsa serta anak cucunya.


Kenapa, emang Pak Jokowi itu lebih jelek dari Soeharto dan SBY, yang 42 tahun cuma bisa membiarkan Petral dan Freeport, jadi penguras devisa dan aset negara, serta memelihara tengkulak yang mengendalikan Bulog sampai membuat ketahanan pangan kita rentan, irigasi tanpa bendungan, kilang minyak dibiarkan tua, sementara di Singapura ada refinery, kilang minyak dinegara sebesar Jakarta itu dibangun untuk mensupply Indonesia, aneh tapi nyata. Itulah yang membuat income perkapita kita hanya 7% dibanding Singapura, dan 1/3 nya Malaysia, 1/2 nya Thailand, kita hanya menang lawan Philipina. Ini karena Soeharto 11-12 dengan Marcos.

Memasuki masa bakti kedua pemerintahan Pak Jokowi dengan program meneruskan pembangunan infrastruktur, serta SDM, seharusnya kita punya konsensus kebangsaan untuk menyudahi caci maki, mengendapkan hati sebagaimana mestinya manusia yang berpancasila agar kelak kalimat beradab tidak sekedar untuk cuap-cuap, tapi dibuktikan dalam sikap.


Salam hormat buat Bang Karni, karena kita yakin beliau jauh lebih mengerti bahwa 64 juta suara yang tidak memilih Pak Jokowi tidak harus terus dikompori untuk membenci, karena kebencian yang terpatri akan menjadi dendam, dan akhirnya mereka akan menjadi asing dinegeri sendiri. Saat itulah bila ditanya apakah dia orang Indonesia, tatapannya kosong, jawabannya lirih.. Emang Indonesia disebelah mananya Jakarta, karena saat itu telapak kakinya mengambang tidak menjejak ketanah airnya, saat itulah mereka gamang sebagai bangsa, bahkan mungkin sebagai manusia Indonesia.

Saya yakin hal itu tidak terjadi kalau Bang Karni berhenti menanggapi Rocky dan Ridwan Saidi, akan lebih baik acara tak bergizi itu diakhiri, karena mudhorotnya lebih besar dari manfaatnya. (ARN)
Arrahmahnews.com, Jakarta –
KINI SAATNYA KITA SIAPKAN BAHU YANG KOKOH BERSAMA UNTUK INDONESIA, AGAR SEMUA BEBAN MENJADI RINGAN.
https://arrahmahnews.com/2019/08/25/iyyas-subiakto-ilc-dan-karni-ilyas-sumber-produk-kebencian/


TALIBAN DI TUBUH KPK MULAI RESAH...


Saya dulu ada dibarisan terdepan membela KPK..

Saat itu terjadi kriminalisasi KPK oleh Polri dengan bahasa "Cicak versus Buaya". Bagi saya, Komisi Pemberantasan Korupsi adalah asset yang harus dijaga supaya tidak hancur, apalagi dengan prestasi mereka memenjarakan banyak koruptor kakap.

Bahkan saking semangatnya saya membela KPK, saya sempat percaya bahwa Ketua KPK waktu itu bebas dari noda. Sampai saya kecewa ternyata foto yang beredar saat dia bersama wanita diranjang ternyata benar adanya.

Disanalah saya kemudian berpikir ulang tentang KPK. Bukan terhadap lembaganya, tetapi "orang-orang" didalamnya, yang jauh dari suci dan masih tergoda dunia.

Dan ketika Pilpres 2019, saat Prabowo menunjuk Novel Baswedan sebagai calon jaksa agungnya, saya mulai bertanya, "Apakah orang didalam KPK sudah masuk politik sekarang ?".

Ditambah atraksi mantan wakil ketua KPK, Bambang Wijoyanto sebagai pengacara BPN di Mahkamah Konstitusi yang seperti "membela yang bayar", habis sudah kepercayaan saya terhadap sebagian orang-orang di dalam KPK.

Saya mulai bertanya-tanya...

Dan - BOOM - meledaklah informasi dari internal KPK, bahwa didalam ada yang namanya kelompok Taliban.

Kelompok ini sangat mendominasi KPK. Mereka membangun kerajaan didalam lembaga superbody ini. Mereka berkuasa atas kasus mana yang harus diangkat dan mana yang dipendam. Ini sangat berbahaya. Senjata KPK bisa diarahkan kepada mereka yang punya pandangan politik berbeda.

Bahayanya KPK lembaga ini sudah tercitra "suci" dan lawannya adalah "penjahat".

Sadar akan bahaya itu, saat pemilihan Panitia seleksi calon pimpinan KPK, Jokowi kemudian memilih orang-orang yang berintegritas untuk membersihkan "radikalisme" di dalam KPK.

Salah satu tugasnya adalah membersihkan KPK dari unsur kepentingan, karena itu tugas Pansel kali ini lebih berat karena mengusik "kerajaan" di dalam KPK.

Benar saja. Sekarang Pansel diserang dari berbagai macam arah. LSM-LSM yang diduga adalah tentakel yang dipelihara KPK, mulai sibuk menghantam Pansel melalui pembentukan opini di media.

"Para Taliban" di dalam KPK memang handal bermain dalam pembentukan opini, penghancuran karakter, sehingga orang yang belum dinyatakan bersalah pun sudah menjadi terdakwa. Saya pernah merasakan itu ketika mencoba membongkar adanya Taliban di dalam KPK.

Dan besok, mereka akan mulai memainkan narasi "Save KPK".

Ini adalah narasi yang dibangun kelompok yang sekarang mendominasi KPK, supaya calon dari Kepolisian dan Kejaksaan bisa terlempar dari bursa. Kenapa ?  Karena jika Ketua KPK kelak bukan orang yang pengalaman dalam penyidikan dan penyelidikan, akan bisa diatur-atur oleh kelompok mereka.

Kelompok Taliban di dalam KPK memang ingin menguasai KPK dengan terus memperbanyak penyidik independen. Masalah "penyidik independen" yang masuk tanpa melalui tes yang benar inilah yang kemudian mencuat lewat surat dari internal KPK yang resah dengan situasi di dalam sendiri.

Salah satu narasi Save KPK adalah dengan kembali memunculkan tema "Cicak versus Buaya". Ini maksudnya membenturkan kembali KPK dengan Kepolisian supaya orang percaya bahwa Kepolisian sedang ingin menguasai KPK.

Padahal anggota Pansel dipilih oleh Jokowi. Berarti serangan terhadap keputusan Pansel berarti bagian dari serangan mementahkan agenda Jokowi sendiri untuk membersihkan kelompok radikal di tubuh KPK.

Narasi "Save KPK" ini mirip dengan narasi "Membela Islam" tapi yang mengusung adalah kelompok radikal. Jadi hati-hati dengan pelintiran isu yang malah bisa menguntungkan Taliban di dalam KPK.

Saya setuju "Save KPK".

Tapi yang perlu diselamatkan adalah KPK kembali sebagai lembaga independen tanpa ada kepentingan politik pasca Pilpres didalamnya..

Seruput dulu kopinya, kawan.. ☕☕☕

Denny Siregar




SURAT KEPADA PRESIDEN
|| Minoritas Kecewa Berat...

Pak Jokowi...
Sejak Pilpres 2014 lalu, kami kaum minoritas adalah pendukung setia anda. Benar, suara kami mungkin cuma sekutil, namun kami adalah penentu. Kami adalah "Swing Voter", kepada siapa kami berayun maka ia-lah yg akan jadi pemenang.

Melihat selisih suara pada Pilpres yang lalu, dapat kami pastikan bahwa penentu kemenangan anda adalah kami: SUARA MINORITAS. Tanpa suara minoritas yg hampir 100% bulat, anda tidak akan duduk menjadi Presiden, baik pada periode yg lalu maupun sekarang.

Ketahuilah Pak Jokowi...
Satu-satunya alasan mengapa kami tidak memilih Prabowo, rival anda, adalah karena ia dikelilingi kaum, tokoh dan ormas radikalis yg menurut kami berpotensi akan mengancam keberadaan NKRI dan kebebasan kami dalam beribadah.

Lalu, apa yg kami dapat wahai pak Jokowi? Mana balas budimu kepada kami? Hampir setiap hari kami "disuguhi" tontonan dan berita yg membuat hati kami nyeri : gereja ditutup paksa, dilarang, didemo, dirusak, dibakar, disegel dengan dalih ketiadaan ijin. Padahal berpuluh ribu masjid di seluruh Indonesia juga berdiri tanpa IMB/ijin semestinya. Dan ironisnya, gereja kami yg sudah lengkap ijin-nya tetap saja dihancurkan, dengan bom!

Pak Jokowi...
Kami tidak pernah meminta banyak. Walau negeri ini bukan negara Islam, kami tak pernah cemburu melihat Islam selalu diistimewakan dalam berbagai hal.

Kami tak pernah menuntut didirikan Christian Center sebagaimana Islamic Center yg berdiri dimana-mana. Kami tak pernah menuntut harus ada Sekolah-sekolah Kristen Negeri di pelosok tanah air. Kami juga tak menuntut adanya Universitas/Institut Kristen Negeri, walau di daerah mayoritas Kristen sekalipun. Kami tak menuntut adanya "Gereja Negara" sbgmana Masjid Istiqlal. Dan kami tak pernah menuntut negara ikut campur membantu agar kami dapat beribadah/berziarah ke Israel, ke tanah suci kami, dst.

Permintaan kami cuma satu...

Biarkanlah kami bebas beribadah sebagaimana yg sudah dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945: Jangan persulit kami beribadah. Jangan halangi kami mendirikan rumah ibadah dengan berbagai dalih diskriminatif dan ketidakadilan. Cabut SKB 2 Menteri yg pernah anda janjikan pada tahun 2014 lalu.

Begitu hebatnya negeri ini, dimana setiap orang jauh lebih mudah dan jauh lebih bebas mendirikan lapak judi, lapak pelacuran, lapak narkoba dll dibandingkan mendirikan gereja yg 100% utk kebaikan dan kemulian Tuhan.

Berlebihan-kah permintaan di atas, wahai Pak Jokowi, Presiden kami?

Ttd.
Luc Martin Sitepu
FORUM SOSIAL POLITIK






Friday, August 30, 2019

KERUSUHAN PAPUA TERKINI

Saturday, July 13, 2019

Sindiran Dewi Tanjung ke Hbb Rizik "Kini kau Baru Rasa Hukum Karma "Dulu Presiden Kau Hujat & Hina



Dewi Tanjung Ingatkan waspada..! Ada Skenario Jahat Permintaan Rekonsiliasi memulangkan Habib Rizik

Sentilan Hebat Dewi Tanjung ke Dhanil AS "Apa Relevansinya Rekonsiliasi dengan bebasin habib Rizik


"DEWI TANJUNG" prabowo minta jokowi pulangkan RIZIEQ??

Monday, June 10, 2019

ANIES BASWEDAN, JUJURLAH..KAU

ANIES BASWEDAN, JUJURLAH..KAU!!!
7 fakta rahasia Anies Baswedan.

Sjk 2 hari lalu beredar broadcast dan twitter yg isinya: Jagat sosmed Malaysia heboh viral video dukungan Ummat Syiah dari Iran utk Anies Baswedan !!!

http://delikindonesia.com/2017/04/08/twitter-dari-malaysia-pilkada-dki-jakarta-syiah-dukung-anis-sandi/

Ini link youtube nya :
https://youtu.be/3r1XDK-RkMs

Sy salah seorg dari ribuan pendukung Anies dan Sandi. Sy jg sering wara wiri ke Roemah Juang ambil bermacam atribut kampanye.
Sy sebenarnya tdklah terlalu pusing pd keyakinan seseorang apakah dia Islam, Kristen, Buddha, Sinto, Hindu, Syiah, Ahmaddiyah atau apa saja tidak saya risaukan, karena itu urusan si pemeluk keyakinan dg Tuhannya.

Tapi broadcast dan link video itu menggelitik saya untuk mencari tahu kebenarannya.
Bila Anies benar adalah Syiah dan menyangkal keimanannya ut mendapat kursi Gubernur maka bagi saya itu adlh masalah besar !!!

Sy cari tahu dari Google, memeriksa satu persatu arsip arsip lama bbrp thn lalu. Dari hasil investigasi via google, maka kesimpulan saya Anies memang pengikut Syiah yg sdg membawa misi keagamaannya. Link Video Youtube itu menguatkan kesimpulan sy bahwa misi keagamaan Anies Baswedan didukung oleh gerakan Syiah Internasional.
Knp sy bs sampai pd kesimpulan itu ?
Ini fakta-faktanya:

FAKTA 1.
Anies Baswedan lahir tgl 7 Mei 1969.
Tahun ini Anies sdh berusia 48 tahun.
Harta Anies Baswedan total senilai Rp 7.307.042.605,-
Sbg Muslim yg berusia 48 thn dg harta Rp 7 M, aneh jk Anies tdk menunaikan rukun Islam ke 5 yi menunaikan ibadah Haji.
Hgg hari ini Anies hny beretorika tapi tidak pernah mampu menjelaskan knp ia tdk menunaikan rukun Islam ke 5..!?
Umumnya org yg mengaku Islam dan pny uang tp tdk menunaikan Ibadah Rukun Islam hnylah kaum Syiah.

Dalam sejarah, kaum Syiah itu dikenal sbg kaum yg sangat pandai bersiasat dan ber-pura2 termasuk mengingkari keyakinannya ut tercapainy tujuannya.

FAKTA  2.
Anies Baswedan ke Iran pd bl April th 2006 dlm perjlnan itu ia menyeberang ke Irak dan berada di Karbala slm 6 hr.
Bulan Desember 2014 Anies bertemu 4 mata dan tertutup dg Duta Besar Iran Mahmoud Farazandeh.

FAKTA 3 :
Bukti lain Anies adlh pengikut Syiah bs dilihat dr pilihan Anies menyekolahkan anaknya.
Anak Anies Baswedan bersekolah di SD Lazuardi di daerah Cinere. Sekolah Lazuardi adlh sklh dari yayasan Syiah.
Sekolah Lazuardi di bawah naungan Yayasan Lazuardi Hayati. Yayasan ini didirikan oleh wanita bernama Lubna Assagaf. Lubna Assagaf adlh isteri dari tokoh Syiah di Indonesia yi DR Haidar Bagir. DR Haidar Bagir adlh alumni ITB tahun 1982. Haidar Bagir jg mendirikan lembaga pendidikan Muthahhari.
Pd tahun 2003 Haidar Bagir mjd Ketua Yayasan Madina Ilmu yang mengelola Sekolah Tinggi Madina Ilmu.

Syiah sangat pandai menyusup dan mnggunakan lembaga pendidikan sbg sarana merubah ke imanan seseorang.

FAKTA 4 :
Bukti lain yg menguatkan bahwa Anies adalah pengikut Syiah bisa dilihat dari simbol kampanye Anies.
Nomor urut Anies dlm pilkada adalah no urut 3. Anehnya simbol kampanye Anies bukanlah 3 jari melainkan 5 jari.
Apa makna simbol 5 jari atau telapak tangan dan hubungannya dg Syiah?
Simbol 5 jari atau telapak tangan dlm Syiah disebut sbg Tangan Fatimah. Tangan Fatimah ini dalam bahasa Arab disebut Khamsa yg berarti lima.
Selain simbol Tangan Fatimah, simbol 5 jari bagi pengikut Syiah merupakan simbol lima orang suci atau Ahlulbait.
Krn itu pengikut Syiah sering disebut sbg mazhab Alhulbait.

FAKTA 5.
Pada bln Sept 2016 Anies sbg Menteri Pendidikan bertemu dg konselor kebudayaan Iran dan menandatangani bbrp kesepakatan yaitu Membangun Masjid Besar di makam Wali Songo, krjsm dlm pendidikan dan kebudayaan Nusantara dan Syiah dan kerjasama pengembangan tanah Wakaf.

Kita semua tahu bhw Iran adlh negara tempat berpusatnya kaum Syiah serta ajaran Syiah. Di Irak tetangga Iran juga ada tempat bersejarah kaum Syiah yi. Karbala.
Sbg pusat Syiah dan budaya Syiah, mk semua krjsm keagamaan, pendidikan dan kebudayaan adalah kerjasama utk menyebarkan Agama Syiah, Budaya Syiah dan Masjid Masjid Syiah di slrh Indonesia.

FAKTA 6.
Dukungan kaum Syiah dari Iran thdp Anies bs dilihat dr maraknya spanduk dan poster di berbagai kota di Iran.
Poster dan spanduk tsb menjadi bukti pengakuan  Ummat Syiah Iran bahwa Anies adlh Syiah. Sbg sesama Syiah maka menjadikan Anies Gubernur hrs diperjuangkan oleh gerakan Syiah Internasional dan oleh semua negara penganut Syiah.

FAKTA 7 :
Di akun aktivis anti Syiah Malaysia @rafidah32856658 dan akun anti Syiah Arab Saudi  @Q8RULQ8 disebutkan bahwa pecalonan Anies Baswedan sbg Calon Gubernur Jakarta adlh upaya Syiah utk merebut Pimpinan Ibu Kota Negara dgn ummat Islam terbesar di dunia.

Dari slrh uraian bukti di atas maka tdk diragukan bhw Anies sesungguhnya adlh pengikut Syiah.

Apa missi perjuangan Syiah yang diperjuangkan Anies?

Anies adlh pejuang Syiah di jalur politik bkn di jalur dakwah. Anies mggunakan jalur politik utk memperjuangkan aliran Syiah agar semakin kuat.
Untuk mencapai rencana itu Anies tdk segan2 mengadu domba sesama ummat Islam bahkan sesama ummat Islam alhussunah wal jamaah.
Anies merekayasa agar citra Ummat Islam Alhussunnah Wal Jammah mnjd rusak citranya dimata masyarakat dg memamerkan intimidasi & kekerasan.
Rekayasa itu dengan mengadu domba ummat Islam melalui spanduk2 SARA yg isinya mengancam sesama ummat Islam seperti menolak mensholatkan jenazah pendukung Ahok juga bagian dari rekayasa adu domba ummat yang dibuat oleh tim Anies.

Saat konvensi Demokrat SBY tertipu mulut manis Anies. Jokowi juga sudah tertipu dg tutur manis Anies. Hari ini ummat Islam banyak yg tertipu Anies juga.

Memilih Anies adlh mensukseskan rcn jahat Syiah yang ingin menghancurkan Islam Alhussunah Wal Jammaah.

Catatan Tambahan:
Link media, Youtube dan akun twitter bisa dicek. Informasi dan data tersebut diatas mudah dilacak di Google.

Lagi-Lagi,, Anies Gaungkan Keadilan

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Pak Jokowi orang Solo. Mengadu nasib di Pilgub DKI. Sukses! Pak Jokowi jadi gubernur 2012-2017. Belum tuntas, adu nasib di pilpres 2014. Sukses lagi. Pak Jokowi jadi presiden 2014-2019.

Kalau ada orang lain meniru Jokowi, adu nasib di Jakarta, ya sah-sah saja. Tidak harus sebagai gubernur atau presiden, tapi bisa jadi kuli bangunan, pedagang keliling atau pembantu rumah tangga. Kalau jadi gubernur saja boleh, mosok sekedar nyari uang ratusan ribu perbulan di Jakarta dilarang?

Apapun profesi dan pekerjaan yang akan digeluti di Jakarta, tak masalah. Yang penting gak nyolong. Politisi yang ngerampok uang negara di Jakarta saja tetap boleh tinggal di Jakarta. Punya rumah di Jakarta dan gak diusir. Nyaleg lagi. Bagaimana mungkin ada orang yang mau jadi tukang cendol atau penjual sayur di Jakarta ditolak? Mikir...

Kalau reklamasi, wajib ditolak. Kenapa? Karena langgar aturan. Banyak warga asing lagi yang rencana mau nempati. Begitu juga Alexis yang sediakan wanita impor. Karena mereka tak taat aturan. Calon tukang cendol dan pedagang sayur yang tak langgar aturan, gak nyolong uang rakyat, gak merusak moral bangsa, dan mereka warga negara asli alias pribumi, mosok mau ditolak ke Jakarta? Emang Jakarta itu ibu kota Indonesia atau China sih?

Anies tegas. Sebagai orang nomor satu di DKI, Anies tak akan melakukan operasi yustisi. Stop! Yang sudah, ya sudahlah... Bagi Anies, setiap warga negara berhak bekerja dan mendapatkan akses pekerjaan dimana saja, termasuk di DKI. Inilah keadilan. Keadilan untuk semua. Termasuk keadilan untuk rakyat kecil dan para pengangguran. Sesuatu yang seringkali terlupakan oleh para pengambil kebijakan.

Gak perlu memberi gaji para pengangguran. Itu merendahkan mereka. Lagi pula uang negara juga lagi kempas-kempis. Cenderung mengandalkan hutang dan jual aset. Jual kedaulatan? Entahlah...

Jakarta kota besar. Sekitar 60 persen ekonomi berputar di kota metropolitan ini. Otomatis, peluang kerja dan usaha sangat besar. Setidaknya, lebih besar dari kota-kota yang lain. Jauh lebih besar dari kampung si Paijo, tukang ojek yang sekarang beralih ke ojol. Orang-orang seperti Paijo ini banyak. Anies memilih memberikan kesempatan orang-orang seperti Paijo ini untuk mencari nafkah di Jakarta.

Tidak saja peluang cari makan yang diberikan Anies. Gubernur yang sukses membawa Jakarta dua kali berturut-turut dapat opini WTP dari BPK ini juga menyiapkan 300 bus jika 17 ribu orang-orang seperti Paijo ini mudik lebaran. Gratis! Gak peduli mereka para pendukung Anies atau bukan. Yang penting, mereka warga Jakarta. Anies fasilitasi mereka yang mau silaturahmi lebaran ke orang tua atau saudara di kampung. Anies gubernur untuk semua warga Jakarta. Tak membeda-bedakan mana pendukung, mana yang bukan. Itulah keadilan!

Yang perlu diyustisi itu pekerja asing ilegal. Usir, karena mereka tak punya ijin kerja. Jakarta sudah pernah mengusir mereka. Ini baru bener.

Kebijakan Anies untuk menolak operasi yustisi ini dibully oleh segelintir orang. Tak jelas apa alasannya. Kesan yang ada hanya cari-cari kesalahan. Ah, itu biasa. Wajar. Di setiap ladang selalu tumbuh rumput liar.

Setidaknya ada dua kemungkinan mengapa orang-orang itu menolak kebijakan Anies. Pertama, mungkin karena mereka belum move on. Korban kekalahan dalam kontestasi Pilgub 2017. Masih ada? Masih. Meski jumlahnya makin sedikit. Anies sudah berupaya merangkul mereka. Semoga segera sadar dan bersedia bergabung untuk sama-sama membangun Jakarta. Ini lebih positif dan produktif. Karena Jakarta milik semua.

Kedua, mungkin ada yang tak siap dengan hadirnya para pesaing (pendatang) baru dari daerah. Rizki mah gak ketuker, kata Pak Ustaz. Jangan takut! Makin banyak pesaing, makin membuat seseorang itu jadi tangguh. Begitu cara berpikir metropolis. Petarung sejati. Petarung sejati itu butuh sparing partner dan ruang kompetisi yang sportif. Jangan setiap pesaing ditutup aksesnya. Dicurangi dan diintimidasi. Itu pecundang namanya. Paham?

Pro-kontra itu biasa. Apalagi terkait dengan sebuah kebijakan. Ini dinamika dalam bernegara. Tak perlu respon baper.

Selama kebijakan itu benar, tak langgar aturan, dan terutama berorientasi untuk menggaungkan keadilan, secara sosial akan mendapatkan banyak dukungan. Ini hukum alam. Jika selama ini Anies selalu mendapatkan dukungan luas dari rakyat, tak hanya warga Jakarta, tapi juga rakyat di banyak wilayah di Indonesia, karena Anies bekerja semata-mata untuk rakyat. Rakyat dalam pengertian orang-orang kecil sebagai prioritas. Merekalah yang sering tertindas secara struktural oleh kebijakan elit. Disinilah keadilan itu oleh Anies dugaungkan. Tidak saja digaungkan, tapi terus berupaya direalisasikan. Tidak dengan kata-kata, dan tak perlu juga dengan marah-marah, tapi cukup dibuktikan. Nyata dan dapat dirasakan oleh rakyat.

Banjarnegara, 8/6/2019

Saturday, June 1, 2019

Soeharto Inc.: Bagaimana TIME Bongkar Harta Kekayaan Keluarga Cendana


Pada tanggal 24 Mei 1999, majalah Time menerbitkan tulisan tentang bagaimana mantan Presiden Soeharto menumpuk harta kekayaannya setelah 32 tahun berkuasa. Soeharto dan keluarganya kemudian menggugat penerbitan itu, dan menuntut ganti rugi triliunan rupiah. Pada bulan April 2009, Mahkamah Agung yang melakukan tinjauan kembali gugatan itu memenangkan majalah Time, yang kemudian juga dirayakan sebagai kemenangan kebebasan pers.
Oleh: John Colmey dan David Liebhold (TIME)
Ketika akhir masa kepemimpinan Suharto tiba, Presiden Indonesia yang telah berpuluh-puluh tahun menjabat itu anehnya tampak pasif. Ketika para mahasiswa dan massa yang marah turun ke jalan dan tentara membalas dengan tembakan dan gas air mata, jenderal bintang lima tersebut terlihat di latar belakang, membuat beberapa upaya untuk memperbaiki keadaan.
Ketika dia akhirnya berhenti setahun yang lalu minggu ini, dia berdiri dengan tenang di samping penggantinya, B.J. Habibie, yang sedang mengambil sumpah jabatan. Suharto hampir tidak terdengar kabarnya sejak saat itu.
Tetapi mantan pemimpin otokrat Indonesia itu ternyata telah jauh lebih sibuk daripada yang disadari oleh sebagian besar rakyatnya. Tepat setelah kejatuhannya dari kekuasaan, muncullah gerakan-gerakan kekayaan pribadinya yang tak terkontrol. Bulan Juli 1998, muncul laporan bahwa sejumlah besar uang yang terkait dengan Indonesia telah bergeser dari bank di Swiss ke bank lain di Austria, yang sekarang dianggap sebagai tempat yang lebih aman untuk deposito gelap.
Pemindahan itu menarik perhatian Departemen Keuangan Amerika Serikat, yang melacak gerakan-gerakan seperti itu, dan memulai penyelidikan diplomatik di Wina. Kini, sebagai bagian dari penyelidikan selama empat bulan yang mencakup 11 negara, TIME telah mengetahui bahwa sebanyak $9 miliar uang Soeharto dipindahkan dari Swiss ke rekening bank yang ditunjuk di Austria. Angka tersebut tidak buruk untuk seorang pria yang gaji jabatan presidennya $1.764 dalam sebulan ketika dia meninggalkan kursi RI 1. (Suharto kemudian menyangkal bahwa ia memiliki deposito bank di luar negeri dan bersikeras bahwa kekayaannya berjumlah hanya 19 hektar lahan di Indonesia, ditambah $2,4 juta dalam tabungan.)
Miliaran dolar AS itu hanyalah sebagian dari kekayaan Suharto. Meskipun krisis moneter Asia telah memangkas kerajaan keluarga secara signifikan, mantan Presiden Suharto dan anak-anaknya tetap memiliki kekayaan yang mengejutkan. Kekayaannya dibangun selama lebih dari tiga dasawarsa dari serangkaian perusahaan, monopoli, dan kontrol atas sektor-sektor besar kegiatan ekonomi di Indonesia, mulai dari ekspor minyak hingga ibadah haji yang dilakukan setiap tahun ke Mekkah. (Mereka terbang di pesawat yang disewa dari perusahaan yang dikendalikan oleh anak-anak Soeharto.)
Menurut data dari Badan Pertanahan Nasional dan majalah Properti Indonesia, keluarga Suharto sendiri atau melalui entitas perusahaan mengontrol sekitar 3,6 juta hektar real estate di Indonesia, sebuah area yang lebih besar dari total wilayah Belgia. Luas area itu termasuk 100 ribu meter persegi ruang kantor utama di Jakarta dan hampir 40 persen dari seluruh provinsi Timor Leste.
Di Indonesia, enam keturunan Suharto memiliki prosentase saham yang signifikan di setidaknya 564 perusahaan, dan kepentingan luar negeri mereka termasuk ratusan perusahaan lain, tersebar dari Amerika Serikat hingga Uzbekistan, Belanda, Nigeria, dan Vanuatu. Anak-anak Suharto juga memiliki banyak sumber kekayaan.
Selain peternakan senilai $4 juta di Selandia Baru dan setengahnya dalam yacht senilai $4 juta yang ditambatkan di luar Darwin, Australia, putra bungsu Hutomo Mandala Putra (dijuluki Tommy) memiliki 75 persen saham di lapangan golf 18 lubang dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris.
Bambang Trihatmodjo, putra kedua Suharto, memiliki sebuah penthouse senilai $8 juta di Singapura dan sebuah rumah besar seharga $12 juta di lingkungan eksklusif Los Angeles, hanya berjarak dua rumah dari hunian bintang rock Rod Stewart dan tak jauh dari rumah saudaranya, Sigit Harjoyudanto, yang seharga $9 juta.
Putri sulung Suharto, Siti Hardiyanti Rukmana mungkin telah menjual jet jumbo Boeing 747-200 miliknya, tetapi armada pesawat keluarga termasuk, setidaknya hingga saat ini, pesawat seri DC-10, Boeing 737 biru dan merah, serta Challenger 601 dan BAC -111 dari Kanada. Pesawat BAC-111 sendiri pernah menjadi milik Skuadron Ratu Elizabeth II Kerajaan Inggris, menurut Dudi Sudibyo, redaktur pelaksana majalah Angkasa Indonesia.
Suharto maupun keenam anaknya tidak menanggapi permintaan untuk melakukan wawancara, meskipun pengacara untuk mantan Presiden dan putra Bambang menegaskan bahwa klien mereka tidak melakukan tindakan ilegal. Memang, tidak ada yang membuktikan bahwa klan Suharto melanggar hukum apapun. Perusahaan mereka sebagian besar terdiri dari entitas operasi yang mengubah keuntungan, menciptakan lapangan kerja, dan mengimpor teknologi Barat.
Namun, tuduhan bahwa keluarga Suharto diuntungkan dari favoritisme, yang biasa terdengar di Indonesia sejak awal tahun 1980-an, mulai semakin keras ketika mantan Presiden Suharto mengundurkan diri. Penggantinya dengan cepat mengumumkan penyelidikan resmi atas dakwaan itu.
Tommy, putra bungsu yang kekaisaran perusahaannya pada satu titik termasuk perusahaan mobil sport Lamborghini, sudah dalam bahaya hukum, menghadapi tuduhan menipu agen negara sebesar $11 juta dalam kesepakatan real estate. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan baru-baru ini menolak permohonan dari pengacara Tommy agar dia diadili di pengadilan sipil dan sedang melanjutkan persidangan pidana.
Dalam sebuah wawancara di Istana Negara, Habibie mengatakan kepada TIME bahwa dia tidak akan menutup-nutupi mantan mentornya, tetapi dia sejauh ini menolak untuk membekukan kepemilikan keluarga atau untuk menindaklanjuti penyelidikan dengan cara apapun yang berarti. Perusahaan-perusahaan pelacakan aset swasta sangat tertarik dengan prospek perburuan harta karun Suharto, jika saja Jakarta mau mempekerjakan mereka.
“Dalam hal Dolar, kami pikir jumlah ini bisa lebih besar dari apapun yang pernah kami lihat sebelumnya,” kata Stephen Vickers, kepala Kroll Associates untuk Asia, yang membantu menyelidiki kekayaan mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos. “Tas saya penuh sesak.”
Pencarian tidak akan dimulai dengan sungguh-sungguh kecuali orang yang bertanggung jawab atas penyelidikan pemerintah, Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib, memberi lampu hijau. Ghalib, seorang jenderal bintang tiga di militer Indonesia, mengatakan kepada TIME bahwa dia tidak menemukan bukti bahwa mantan panglima tertingginya melakukan kesalahan dalam mengelola aset negara. Tapi Ghalib bergerak lambat, dan beberapa anggota stafnya sendiri tidak yakin bahwa penyelidikannya dilakukan dengan serius. Menurut pendapat seorang pejabat di kantor Kejaksaan Agung, “Ghalib berada dalam sebuah misi untuk melindungi Soeharto.”
Meskipun demikian, kode kerahasiaan yang melindungi keluarga Suharto mulai rusak. Setelah ratusan wawancara dengan mantan dan teman-teman Suharto saat ini dan para pejabat pemerintah, rekan bisnis, pengacara, akuntan, banker, dan kerabat, serta pemeriksaan lusinan dokumen (termasuk catatan pinjaman bank bernilai luar biasa besar), koresponden TIME menemukan indikasi bahwa setidaknya $73 miliar telah mengalir dalam keluarga antara tahun 1966 dan 1998. Sebagian besar jumlahnya berasal dari industri pertambangan, kayu, komoditas, dan perminyakan.
Investasi yang buruk dan krisis keuangan Indonesia telah mengurangi jumlahnya secara substansial. Tetapi bukti menunjukkan bahwa Suharto dan keenam anaknya masih memiliki perkiraan secara konservatif $15 miliar dalam bentuk tunai, saham, aset perusahaan, real estate, perhiasan, dan seni rupa, termasuk karya-karya pelukis papan atas Indonesia Affandi dan Basoeki Abdullah yang dikoleksi Siti Hediati Hariyadi, putri tengah Suharto yang dikenal sebagai “Titiek.”
Suharto meletakkan dasar untuk kekayaan keluarga dengan membangun sistem patronase nasional yang rumit yang membuatnya tetap berkuasa selama 32 tahun. Anak-anaknya, pada gilirannya, memanfaatkan hubungan mereka dengan Presiden dengan menjadi perantara untuk pembelian pemerintah dan penjualan produk minyak, plastik, senjata, bagian pesawat, dan petrokimia.
Mereka memegang monopoli atas distribusi dan impor komoditas utama. Mereka memperoleh pinjaman berbunga rendah dengan berkoordinasi dengan bankir yang berkuasa, yang seringkali takut untuk menagih pembayaran kembali. Subarjo Joyosumarto, direktur pengelola Bank Indonesia menegaskan bahwa selama masa Suharto, “ada lingkungan yang menyulitkan bank-bank negara untuk menolak mereka.”
Sementara ekonomi Indonesia berkembang pesat, terdapat kemungkinan untuk menelusuri jejak kekayaan Suharto. Sekarang, dengan setengah populasi berada di bawah garis kemiskinan sebagai akibat dari kehancuran keuangan, terdapat sedikit keraguan bahwa keluarga Suharto tumbuh kaya dengan mengorbankan bangsa.
Seorang mantan rekan bisnis anak-anak Suharto memperkirakan bahwa mereka melewatkan pembayaran pajak antara 2,5 miliar dan 10 miliar dolar hanya untuk komisi. “Sangat mungkin bahwa tidak ada satupun perusahaan Suharto yang membayar lebih dari 10 persen dari kewajiban pajaknya yang sebenarnya,” kata Teten Masduki, seorang anggota eksekutif Indonesian Corruption Watch, sebuah organisasi non-pemerintah anti-korupsi. “Bisakah Anda bayangkan berapa banyak peluang pendapatan pajak yang tidak dibayarkan?”
Banyak orang Indonesia juga menyalahkan Suharto karena menciptakan iklim korupsi yang meliputi seluruh ekonomi. Bank Dunia memperkirakan bahwa sebanyak 30 persen anggaran pembangunan Indonesia selama dua dasawarsa lenyap melalui korupsi yang meluas di tingkat sipil yang disaring dari atas.
“Jika Anda tidak membayar suap, orang akan berpikir Anda aneh,” kata Edwin Soeryadjaya, seorang direktur dari usaha patungan telekomunikasi seorang warga negara Indonesia-AS. “Sangat menyedihkan. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bangga menjadi orang Indonesia. Ini adalah salah satu negara terkorup di dunia.”

EKSPEKTASI BESAR

Bagaimana raksasa bisnis Suharto mencapai kekayaannya, kekuatannya, dan cengkeramannya atas jutaan orang Indonesia? Ketika Suharto menjadi Presiden Indonesia pada tahun 1967, perpaduan unik kekuatannya dan kehalusan politik Jawa telah bermanifestasi.
Pengusiran “Presiden Seumur Hidup” Soekarno, bapak pendiri bangsa, berlangsung selama dua tahun dan, melalui pembersihan anti-komunis yang menyertainya, menimbulkan sebanyak 500 ribu korban jiwa. Tetapi Suharto, seorang jenderal yang tidak dikenal dari sebuah desa yang sulit di Jawa Tengah, menjalani kehidupan yang sangat sederhana.
Dia dan mendiang istrinya Siti Hartinah (“Ibu Tien”) awalnya tinggal di sebuah bungalow sederhana di Menteng, Jakarta dan mengendarai Ford Galaxy 1964. Hal itu sangat berbeda dengan Sukarno, pemimpin bak dewa dengan istana-istananya yang megah dan istri ketiganya yang glamor, Dewi, mantan nyonya rumah Jepang di klub malam Copacabana Tokyo.

Jenderal Suharto beberapa hari setelah Gerakan 30 September. (Foto: Arsip Keamanan Nasional)
Namun, di balik permukaan, Suharto menunjukkan minat awal dalam menghasilkan uang. Pada tahun 1950-an, ia diduga terlibat dalam penyelundupan gula dan kegiatan-kegiatan ekstra militer lainnya di Jawa Tengah yang mungkin membuatnya kehilangan jabatannya di Divisi Diponegoro Angkatan Darat selama sebuah gerakan anti-korupsi pada tahun 1959. Dalam otobiografinya, Suharto menegaskan bahwa ia menukar gula dengan beras untuk mengurangi kekurangan pangan lokal dan bahwa ia tidak mengambil untung secara pribadi. Bagaimanapun juga, militer kemudian memindahkan Suharto ke posisi yang kurang berpengaruh di sekolah staf angkatan bersenjata di Bandung, Jawa Barat.
Tahun 1966, raksasa bisnis Suharto mulai terbentuk. Sebelum resmi menjabat presiden, Suharto mengeluarkan Dekrit Nomor 8 untuk menyita dua bisnis yang dikuasai Soekarno dengan aset gabungan sebesar $2 miliar. Mereka menjadi PT Pilot Project Berdikari, sebuah perusahaan yang ditempatkan Suharto di bawah manajemen Achmad Tirtosudiro, mantan jenderal yang kini memimpin organisasi Muslim yang kuat yang didirikan oleh Presiden Habibie, Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI). Perusahaan itu menjadi salah satu tonggak utama kerajaan bisnis Suharto.
Kekayaan Presiden mulai melambung bersama orang-orang dari beberapa rekan dekat, yang paling menonjol ialah Liem Sioe Liong dan The Kian Seng, yang lebih dikenal sebagai Mohammad “Bob” Hasan. Pada akhir 1969, Soeharto memberikan monopoli parsial, kemudian berubah menjadi total – atas impor, penggilingan dan distribusi gandum dan tepung ke PT Bogasari Flour Mills, yang dikendalikan oleh Liem Salim Group. Selama bertahun-tahun Liem, yang dikenal sebagai “Paman Liem” di kalangan keluarga Suharto, dan Hasan menjadi rekan non-keluarga Suharto yang paling dipercaya dan akhirnya mengumpulkan kerajaan bisnis yang luas.
Harta Warisan: Indonesia di Balik Kronisme
Mantan Presiden Soeharto (tengah) bersama dua “kroni” terkenalnya pada era-Orde Baru—Bob Hasan (kiri) dan Liem Sioe Liong (kanan). (Foto: Indonesia at Melbourne)
Landasan kekayaan Soeharto adalah yayasan presiden. Puluhan yayasan didirikan, seolah-olah sebagai amal, dan mereka sebenarnya telah mendanai sejumlah besar rumah sakit, sekolah dan masjid. Tetapi yayasan-yayasan itu juga merupakan dana gelap raksasa untuk proyek-proyek investasi Suhartos dan kroninya, serta untuk mesin politik mantan Presiden, Golkar.
Menurut George Aditjondro, seorang dosen sosiologi di Universitas Newcastle Australia, mereka akhirnya berjumlah 97 yayasan yang dikendalikan oleh Suharto, istrinya (yang meninggal pada tahun 1996), kerabatnya di pedesaan, sepupunya, dan saudara tirinya, enam anak, pasangan, dan orang tua mereka, orang-orang militer tepercaya, dan rekan-rekan seperti Habibie, Hasan, dan Liem. “Pondasi bisnis tersebut digunakan untuk membeli saham, membangun perusahaan, meminjamkan uang kepada pengusaha,” kata Adnan Buyung Nasution, seorang pengacara yang tahun 1998 telah mencoba namun gagal untuk membentuk komisi independen untuk menyeldiki kekayaan Suharto.
Yayasan menerima “sumbangan,” meskipun seringkali diberikan tidak dengan sukarela. Mulai tahun 1978, semua bank milik negara diharuskan memberikan 2,5 persen dari keuntungan mereka kepada yayasan Dharmais dan Supersemar, menurut mantan Jaksa Agung Soedjono Atmonegoro. Keputusan Suharto Nomor 92, pada tahun 1996, mensyaratkan bahwa setiap pembayar pajak dan perusahaan yang menghasilkan lebih dari $40 ribu per tahun menyumbangkan 2 persen dari pendapatan ke Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, yang dibentuk untuk mendukung program pengentasan kemiskinan (perintah tersebut telah dicabut bulan Juli 1997. lalu).
Sampai hari ini, pegawai negeri dan anggota militer menyumbangkan sebagian dari gaji bulanan mereka kepada yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, yang digunakan oleh Suharto untuk memenangkan dukungan Muslim.
Sementara “sumbangan” menyediakan sebagian besar pendapatan yayasan, ada sumber lain juga. Pada tahun 1978, yayasan-yayasan Suharto menguasai 60 persen saham Bank Duta, bank swasta terkemuka, menurut mantan pejabat Bank Duta. Bagian itu secara bertahap meningkat menjadi 87 persen.
Yayasan ini banyak berinvestasi di perusahaan swasta yang didirikan oleh anggota keluarga Suharto dan para kroninya. Setelah itu, kementerian atau perusahaan milik negara yang membantu akan memberikan kontrak atau monopoli kepada perusahaan-perusahaan tersebut.
Sejak jatuhnya Soeharto, Yayasan-yayasan itu telah menjadi target utama para penyelidik Indonesia. Segera setelah pengunduran diri Soeharto, Jaksa Agung Soedjono memeriksa pembukuan dari empat yayasan terbesar. Apa yang dia temukan sangatlah mengusik. “Yayasan-yayasan ini dibentuk untuk memberikan layanan sosial,” katanya, “tetapi Suharto telah membagikan uang itu kepada anak-anak dan teman-temannya.”
Soedjono menemukan bahwa salah satu yayasan terbesar, Supersemar, telah membubarkan 84 persen dari dana mereka untuk kegiatan yang tidak sah, termasuk pinjaman kepada perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh anak-anak dan teman-teman Suharto. Suharto, sebagai ketua, harus menandatangani cek lebih dari $50 ribu. Soedjono menyerahkan laporan awal tentang temuannya kepada Presiden Habibie bulan Juni 1998. Dia dipecat lima jam kemudian. (Presiden mengatakan Soedjono diberhentikan karena dia keluar dari garis perintah untuk masalah lain.)

MINYAK DAN TANAH

Jangkauan Suharto jauh melampaui kepentingan yayasan, dan beberapa kesepakatan yayasan lebih menguntungkan daripada bisnis minyak keluarga. Dalam dekade pertamanya berkuasa, Suharto mengizinkan perusahaan minyak negara Pertamina untuk dijalankan sebagai usaha pribadi oleh pendirinya Ibnu Sutowo, mantan jendral yang pernah dikenal sebagai orang paling berkuasa kedua di Indonesia.
Rencana Sutowo untuk membangun armada kapal tanker yang besar untuk Pertamina membawanya ke jurang keruntuhan keuangan pada tahun 1975. Dia dipecat pada tahun berikutnya, meskipun tidak jelas apakah penyebabnya kesalahan dalam mengelola perusahaan atau ambisi politiknya. Sekarang berusia 84 tahun, Sutowo mengatakan TIME bahwa keduanya salah.
Dia mengatakan Suharto memintanya pada tahun 1976 untuk mendirikan perusahaan perdagangan kedua untuk mengirim minyak mentah Indonesia ke Jepang. “Dia berkata kepada saya, ‘Saya ingin Anda mengambil 0,10 dolar AS untuk setiap barel yang diperdagangkan oleh perusahaan baru,’” kenang Sutowo. “Ketika saya bilang tidak, saya rasa dia terkejut.”
Setelah Sutowo dipecat, Pertamina akhirnya mengimpor dan mengekspor banyak minyaknya melalui Perta Oil Marketing dan Permindo Oil Trading, dua perusahaan kecil di mana Tommy dan kakak laki-lakinya memperoleh saham yang signifikan pada pertengahan tahun 1980-an. Menurut seorang pejabat senior di pemerintahan Habibie, perusahaan menerima komisi sebesar 0,30 hingga 0,35 dolar AS per barel.
Pada tahun fiskal 1997-1998, kedua perusahaan menangani rata-rata 500 ribu barel per hari, untuk komisi tahunan lebih dari $50 juta. Kata mantan Menteri Pertambangan dan Energi Subroto: “Pertamina bisa langsung mengekspor. Tidak memerlukan perusahaan-perusahaan ini.”
Partai Anak Suharto Termasuk 4 Partai Baru dalam Pemilu 2019
Tommy Suharto, putra mantan presiden Indonesia Suharto, menghadiri perayaan ulang tahun ke-50 Partai Golkar di paviliun pameran internasional Jakarta pada tahun 2014. (Foto: AFP)
Selain itu, mantan rekan bisnis Tommy dan Bambang mengatakan ada rekayasa angka tambahan tidak resmi pada ekspor dan impor minyak yang menghasilkan keuntungan bagi perusahaan sebanyak 200 juta dolar AS per tahun pada tahun 1980-an, ketika harga tinggi, dan sekitar setengahnya pada tahun 1990-an. Perusahaan keluarga Suharto menerima kontrak Pertamina untuk asuransi, keamanan, pasokan makanan, dan layanan lainnya, total ada 170 kontrak.
Tahun 1998, tak lama setelah jatuhnya Suharto, Pertamina membatalkan banyak dari kontrak-kontrak tersebut dan mengumumkan penghematan instan sebesar $99 juta per tahun. Menurut mantan rekan dari keturunan Suharto: “Mereka memerah Pertamina seperti sapi.”
Salah satu pemintal uang utama Suharto adalah PT Nusantara Ampera Bakti, atau Nusamba, yang diluncurkan dengan $1,5 milyar pada tahun 1981 oleh tiga yayasan, bersama dengan Bob Hasan dan putra sulung Suharto, Sigit (yang masing-masing memegang 10 persen). Perusahaan ini menjadi perusahan dengan jangkauan luas dengan lebih dari 30 anak perusahaan di bidang keuangan, energi, pulp dan kertas, serta logam dan mobil.
Permata Nusamba adalah 4,7 persen saham di Freeport Indonesia, sebuah perusahaan yang dikendalikan Amerika yang menjalankan tambang emas terbesar di dunia di provinsi Irian Jaya. Pada tahun 1992 yayasan-yayasan itu ternyata mengalihkan 80 persen sahamnya kepada Hasan, meskipun tidak jelas berapa banyak yang dia bayar untuk itu.
Sejauh ini, penyidik pemerintah belum meminta untuk melihat buku-buku Nusamba. Kata Otto Cornelis Kaligis, ketua tim hukum delapan-anggota Suharto: “Ketika Anda berbicara tentang Nusamba, Anda harus bertanya kepada Bob Hasan. Dalam penyelidikan Presiden Suharto, Jaksa Agung tidak pernah bertanya tentang Nusamba.”
Keluarga Suharto mendapat keuntungan tidak hanya dengan memenangkan konsesi dari pemerintah, tetapi kadang-kadang dengan mengganggu jalannya kehidupan orang Indonesia yang menghalangi kepentingan mereka. Ketika Suharto ingin membangun sebuah peternakan peternakan di Jawa Barat pada tahun 1973, ia mengungsikan penduduk lima desa yang tersebar di 751 hektar.
Menurut catatan resmi, ia membayar total $5.243 sebagai kompensasi. Beberapa penduduk desa mengatakan mereka tidak mendapat apa-apa. Muhammad Hasanuddin, yang masih berusia anak-anak pada saat itu, ingat ketika sawah yang ditanami padi milik dua hektar keluarganya lenyap. “Kami melihat sapi-sapi gemuk, digiring oleh lusinan orang yang dengan sombong menunggang kuda, menginjak-injak ladang kami yang rusak. Seluruh keluarga hanya bisa menangis.” Ayah Hasanuddin akhirnya menjadi tukang becak di Jakarta.
Cerita serupa masih banyak berlimpah. Tahun 1996, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Tommy mengusir penduduk desa dari tanah mereka di Bali untuk membangun sebuah resort seluas 650 hektar. Perusahaan itu memiliki izin hanya 130 hektar, yang diperluas secara ilegal, menurut Sonny Qodri, ketua Lembaga Bantuan Hukum Bali.
Warga yang menolak menandatangani perjanjian untuk menjual tanah mereka akan diintimidasi, dipukuli, dan kadang-kadang dimasukkan ke dalam kolam sampai ke leher mereka. Dua orang dibawa ke pengadilan dan dipenjarakan selama enam bulan. Tidak ada yang tersisa dari proyek tersebut sekarang: resesi menghantam tepat ketika buldoser merangsek masuk.
Hasan Basri Durin, ketua Badan Pertanahan Nasional dan Menteri Urusan Tanah, mengatakan bahwa keluarga Suharto biasanya membayar kacang tanah untuk properti yang diperolehnya, rata-rata adalah 6 persen dari nilai pasar, dan penjual yang enggan sering berubah pikiran setelah kunjungan dari preman atau tentara. “Kadang-kadang mereka tidak membayar satu sen pun,” kata Hasan. “Tapi tindakan itu legal karena mereka [kroni Suharto] punya dokumen.”
Hanya sekitar separuh dari petani Indonesia memiliki hak terdaftar atas tanah mereka, yang membuktikan bahwa kepemilikan dapat menjadi hal sulit, dan membuktikan intimidasi lebih sulit lagi. Akibatnya, hanya sedikit orang yang maju untuk mengajukan komplain.

ANAK-ANAK PEWARIS KEKAYAAN SUHARTO

Selama bertahun-tahun, korupsi di Indonesia adalah pemberian sogokan dan komisi kecil yang biasa ditemukan di negara berkembang. Terdapat dua faktor yang mendorong Indonesia menjadi sebuah liga tersendiri. Yang pertama adalah posisi Indonesia sebagai pemain bintang yang sedang naik daun dalam keajaiban ekonomi Asia, yang membawa aliran dana ke bisnis dan real estate.
Bank Dunia memperkirakan bahwa antara tahun 1988 dan 1996, Indonesia menerima lebih dari 130 miliar dolar AS dalam investasi asing. “Semua ini dimungkinkan di bawah pengawasan Barat, yang mendukung Suharto selama 30 tahun,” kata Carel Mohn, juru bicara untuk Transparency International, sebuah organisasi non-pemerintah yang bermarkas di Berlin.
Faktor kedua adalah “anak-anak,” karena anak-anak Suharto sudah dikenal. Keenamnya terlibat dalam bisnis, panggilan yang dipersiapkan bagi mereka sejak usia dini. “Saya ingat ketika kami masih muda, saya dan Bambang dan teman-temannya yang lain akan pergi ke rumah Paman Liem,” kata seseorang yang merupakan teman putra kedua Soeharto. “Paman Liem akan selalu memberi kami satu paket uang yang dibungkus di koran.” Paket itu, ia ingat, akan berisi uang kertas senilai $1.000 atau lebih.
Wati Abdulgani, seorang wanita pengusaha yang berurusan dengan perusahaan keluarga pada tahun 1980-an, menuturkan bahwa: “Anak-anak melihat apa yang diberikan kepada paman mereka dan mereka berpikir, ‘Bagaimana dengan kami, ketika kami tumbuh besar?’”
Sigit, putra tertua, tampaknya didorong oleh ibunya, Ibu Tien, yang urusannya di balik layar pada tahun 1970-an memberinya julukan “Ibu Tien Persen.” Seorang teman Nyonya Suharto mengingat percakapan dengannya ketika pemerintah sedang membangun Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta. “Dia bilang, ‘Saya ingin Sigit belajar tentang bisnis,’” kata teman tersebut. “Saya mengatakan kepadanya bahwa saya pikir dia harus menyelesaikan Pendidikan universitas dulu. Dia berkata, ‘Tidak, tidak, Sigit tidak bisa berpikir jernih.’”
Dua sumber yang bekerja di proyek bandara mengatakan bahwa pada saat kedua terminal selesai pada tahun 1984, dana sebesar $78,2 juta telah diberikan kepada Sigit dalam rekayasa yang muncul sebagai pembengkakan biaya. Dia lulus ke kesepakatan yang lebih besar.
Pengumpulan tiket dari hasil lotere nasional, yang dibentuk pada tahun 1988 oleh Departemen Sosial, ditangani oleh perusahaan yang terkait dengan Sigit sampai timbul protes anti-judi para pemimpin Muslim yang memaksa penutupan lotere pada tahun 1993. “Skema perjudian menghasilkan jutaan dolar AS bagi Sigit dan perusahaannya setiap minggu,” kata Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia, yang telah mengumpulkan informasi tentang bisnis terkait Suharto dan perusahaan lain sejak tahun 1980.
Putra kedua Bambang, yang mendirikan Grup Bimantara pada tahun 1981 dengan dua anggota mantan band rock, dibantu oleh paman Liem. Dari tahun 1967 hingga tahun 1998, Badan Urusan Logistik Nasional (Bulog) mengimpor dan mendistribusikan bahan pokok seperti gandum, gula, kedelai, dan beras melalui perusahaan yang terkait dengan Suharto, termasuk enam perusahaan milik Liem. Atas permintaan Bambang, Liem memberinya sebagian bisnisnya. Melalui perdagangan gula saja, putranya diperkirakan telah memperoleh sebanyak $70 juta per tahun, pada dasarnya hanya untuk mengecap dokumen.
Sistem ini bekerja dengan sangat baik sehingga masing-masing anak-anak diberikan potongan karena dia pindah ke bisnis, sebuah praktik yang berlanjut hingga tahun lalu. Dari tahun 1997 hingga 1998, Liem memiliki kontrak dari Bulog untuk mengimpor sekitar 2 juta ton beras senilai $657 juta. Sebagai bagian dari kontrak itu, putri bungsu Suharto, Siti Hutami Endang Adiningsih (“Mamiek”) mengimpor 300 ribu ton beras senilai 90,3 juta. Selama 18 tahun terakhir, dengan dalih menstabilkan harga pangan, kesepakatan klan Suharto dengan Bulog telah menghasilkan sekitar 3 hingga 5 miliar dolar AS, menurut mantan pejabat pemerintah.
Anak sulung Tutut bangkit menjadi ratu lebah dari klan Soeharto. Pangkalan kerajaannya adalah Citra Lamtoro Gung Group, dan bisnis besar pertamanya adalah membangun dan mengoperasikan jalan tol. Armada jalan-jalan kelompok tersebut memenangkan proyek pertama pada tahun 1987 setelah pemerintah menolak dua tawaran yang saling bersaing.
Pembiayaan berasal dari dua bank pemerintah, sebuah perusahaan semen milik negara, dan sebuah yayasan Suharto. Ketika presiden Bank BUMN Daya menolak permintaan Tutut untuk pinjaman tanpa bunga, dia dipecat. Pada pertengahan tahun 1990-an, jalannya menghasilkan $210 ribu  per hari, dan pada tahun 1995 konsesi pada Sistem Tollway Intra Urbannya, yang paling menguntungkan di Indonesia, diperpanjang sampai tahun 2024. Teddy Kharsadi, direktur urusan perusahaan di perusahaan jalan tol PT Citra Marga Nusaphala menjelaskan: “Perpanjangan itu merupakan konsekuensi wajar dari investasi kami.”
Kerajaan Tutut juga meliputi telekomunikasi, perbankan, perkebunan, penggilingan tepung, konstruksi, kehutanan, pemurnian gula, dan perdagangan. Perusahaan-perusahaan asing belajar untuk menjadikan Suharto sebagai mitra jika mereka ingin berbisnis di Indonesia, dan Tutut pertama kali masuk daftar paling banyak.
“Banyak perusahaan multinasional besar bersikeras memiliki koneksi yang tepat, dan ini tentu berguna bagi mereka,” kata Graeme Robertson, warga negara Indonesia kelahiran Australia yang memiliki perusahaan Swabara Group yang aktif dalam penambangan batubara dan emas. Pada puncak kekuasaan Tutut, menurut sumber-sumber yang dekat dengan keluarga, para investor yang ingin bertemu dengannya pertama-tama harus membayar sebanyak $50 ribu sebagai “biaya konsultasi” kepada para penasihatnya.
Awal tahun 1990-an, Indonesia mulai memperhatikan saran para ekonom yang berorientasi pasar untuk memprivatisasi banyak perusahaan negara. Keluarga Suharto adalah penerima manfaat utama. Suharto mengakhiri monopoli telekomunikasi negara pada tahun 1993, dengan memberikan lisensi untuk operasi sambungan langsung internasional dan untuk jaringan telepon digital digital pertama di Indonesia ke PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) milik Bambang.
Pada saat yang sama, PT Telkom mengalihkan basis pelanggannya ke Satelindo ketika meluncurkan satelitnya sendiri, satelit ketiga milik negara, dengan bantuan pinjaman sebesar $120 juta dari Bank Ekspor-Impor AS. TIME telah mengetahui bahwa pemerintah Indonesia memberi Satelindo lisensi dan para pelanggan Telkom tanpa tender atau pembayaran.
Berkat pemerintah, Bambang dapat mengendalikan perusahaan, yang pasarnya bernilai $2,3 milyar pada tahun 1995 ketika anak perusahaan Jerman Deutsche Telekom membayar $586 juta untuk 25 persen saham. Bambang juga menerima bagian besar dari biaya fasilitasi $90 juta dari Deutsche Telekom sebagai bagian dari penjualan.

TERLALU BANYAK HAL BAIK

Kepentingan anak-anak Suharto menjadi begitu luas sehingga mereka mulai bertabrakan satu sama lain. Bambang dan Tutut bersaing untuk mendirikan stasiun televisi mereka sendiri. Tommy berkompetisi dengan saudaranya Sigit dalam penerbangan, serta dengan Bambang dalam bidang pengiriman dan produksi mobil.
Tahun 1990, pemerintah Indonesia meminta tawaran untuk kontrak menyediakan peralatan switching untuk 350 ribu saluran telepon. NEC Jepang bekerja sama dengan perusahaan yang dikendalikan oleh Bambang. Pesaing AT&T memberi Tutut 25 persen saham dalam usaha lokalnya, yang sekarang disebut PT Lucent Technologies Indonesia. Proyek ini akhirnya dibagi 50-50 antara kelompok AT&T Tutut dan NEC Bambang.
Terungkap: Bagaimana Bill Clinton Percepat Kejatuhan Suharto
Mantan Presiden Indonesia Suharto menandatangani surat perjanjian di hadapan Direktur Jenderal IMF Michel Camdessus di Jakarta. (Foto: AFP/Agus Lolong)
Tahun 1996, Tutut menentang Sigit atas hak mengembangkan tambang emas Busang yang luas di Kalimantan Timur. Mitra Tutut, perusahaan Kanada Barrick Gold, ditentang oleh mitra Sigit, Bre-X Minerals. Kali ini, kedua belah pihak kalah. Busang ternyata menjadi tipuan terbesar dalam sejarah penambangan.
Persaingan tumbuh begitu kuat sehingga keturunan Suharto mulai mencari monopoli dalam lini bisnis yang semakin sempit. Bambang mendapat kontrak untuk mengimpor kertas khusus yang digunakan oleh mint nasional. Tutut mengambil alih pemrosesan surat izin mengemudi.
Sebuah perusahaan milik istri Sigit, Elsye, menjadi satu-satunya produsen resmi kartu pengenal wajib Indonesia. Tahun 1996, cucu lelaki Suharto, Ari Sigit, merancang sebuah skema untuk menjual stiker sebesar $0,25 sebagai bukti pembayaran pajak untuk setiap botol bir dan alkohol yang dikonsumsi di Indonesia (bisnis itu ambruk ketika produsen menghentikan pengiriman bir ke kiblat pariwisata Bali sebagai protes).
Sembilan bulan sebelum pengunduran diri Suharto, Ari bersiap untuk meluncurkan “proyek sepatu nasional,” semua anak Indonesia harus membeli sepatu sekolah dari perusahaannya. “Pada akhirnya,” kata seorang pengacara Amerika dengan pengalaman 20 tahun di Indonesia, “satu-satunya hal yang transparan adalah korupsi.”
Ketika rezim Suharto jatuh, anak-anaknya menggunakan pengaruh mereka untuk melepaskan diri dari bisnis dan utang yang memburuk. Bulan April 1994, Tommy meluncurkan jaringan supermarket Goro dengan dua perusahaannya dan Koperasi Unit Desa (KUD), sebuah organisasi petani besar yang dikelola pemerintah. Bersama-sama mereka meminjam lebih dari $100 juta, menurut catatan Bank Bumi Daya. Tidak ada pinjaman yang dibayarkan kembali.
Tanggal 4 Mei 1998, Tommy menjual sahamnya kepada para petani dan koperasi mereka sebesar $112 juta dalam bentuk tunai, membebani mereka dengan seluruh utang. “Anak-anak itu sangat liar,” kata Ibnu Hartomo, adik laki-laki dari Ibu Tien. “Sepertinya mereka melupakan etika.” Massa yang marah membakar satu gerai Goro di Jakarta Selatan selama kerusuhan bulan Mei 1998, seminggu sebelum Suharto mengundurkan diri.
Meskipun banyak dari kekayaan Soeharto telah hilang karena kesalahan dalam pengelolaan dan kehancuran ekonomi negara, perusahaan PT Sempati Air milik Tommy, (misalnya, bangkrut pada tahun 1998), keluarga Suharto masih memiliki banyak bisnis yang berkembang layak. Salah satu contoh kecil: PT Panutan Selaras milik Sigit menghasilkan 25 persen bensin oktan “premix” yang digunakan di mobil-mobil Indonesia dan memiliki 22 SPBU di Jakarta, Surabaya, dan Jawa Tengah. Perusahaan PT Humpuss Trading milik Tommy, sementara itu, juga memproduksi bensin kelas atas.
Lalu ada real estate. Sementara harga telah jatuh di Indonesia, kepemilikan properti keluarga saat ini bernilai $1 miliar, dan banyak perusahaan lain, termasuk perkebunan karet dan gula, mall, dan hotel, terus mendatangkan pendapatan. Pada pertengahan tahun 1980-an, Bambang membayar pemerintah sebanyak $700 per meter persegi untuk sebidang tanah di Jakarta Pusat yang sekarang menjadi Grand Hyatt Hotel, aset utama dari PT Plaza Indonesia Realty miliknya yang terdaftar secara umum.
Di Bali, anak-anak Suharto berakhir dengan beberapa permata yang paling menguntungkan dari industri pariwisata: Bali Cliff Hotel (Sigit), Sheraton Nusa Indah Resort (Bambang), Sheraton Laguna Nusa Dua (Bambang), Bali Intercontinental Resort (Bambang, sampai dua bulan lalu), Nikko Royal Hotel (Sigit, hingga enam bulan lalu), Four Seasons Resort di Jimbaran (Tommy), dan Bali Golf and Country Club di Nusa Dua (Tommy). Tutut dan Tommy membeli tanah itu atas nama Markas Besar Kepolisian Nasional Jakarta dengan seperlima harga pasarnya.
Menteri Kehutanan Muslimin Nasution mengatakan bahwa 4,5 juta hektar hutan dan lahan perkebunan terhubung dengan anak-anak Suharto. Pengamat ekonom yang berbasis di Melbourne Michael Backman, yang telah menulis tentang trah Suharto dalam bukunya Asian Eclipse: Exploring the Dark Side of Business in Asia: “Siapapun yang mengatakan bisnis keluarga bangkrut telah salah. Mereka masih memiliki saham dalam perusahaan pengelolaan kayu, perkebunan kelapa sawit, dan hotel, yang semuanya berpenghasilan besar.”

RODA KEHIDUPAN

Suharto terus bersikeras bahwa asetnya sederhana dan terletak sepenuhnya di Indonesia. “Dia mengatakan kepada saya, ‘Saya tidak punya satu sen pun di luar negeri,’” kata Kaligis, pengacara utamanya. “Jika ada yang ditemukan telah membuat akun atas namanya di luar negeri, dia telah menginstruksikan saya untuk melancarkan gugatan terhadap mereka.”
Sejak Suharto mengundurkan diri, putra Bambang dan keluarganya telah menghabiskan waktu di Los Angeles, sedangkan Titiek telah berada di Boston, di mana anaknya menempuh pendidikan sekolah menengah. Sisa dari keluarga Suharto hidup hampir sepanjang tahun di Indonesia. Sigit menghabiskan waktu berjam-jam di sofa Versace favoritnya (tidak ada orang lain yang diizinkan untuk duduk di atasnya), bermain video game dan menonton rekaman pertunjukan wayang kulit Jawa.
Namun roda keadilan baru saja mulai bergerak. Jaksa Agung Ghalib mengatakan Suharto telah menyerahkan kepada pemerintah tujuh yayasan dengan aset $690 juta. Namun, anggota staf Ghalib sendiri mengatakan bahwa Suharto terus mengendalikan kepemilikan itu dan bahwa yayasan bernilai jauh lebih dari itu. Tiga dari yayasan bersama-sama memiliki 87 persen saham di Bank Duta, yang memiliki aset $1 miliar pada tahun 1990. Namun dalam menyelidiki yayasan, Ghalib belum melampaui catatan tercetak mereka, yang telah diserahkannya ke dewan pengauditan negara untuk dianalisis. Kata pendahulu Ghalib, Soedjono: “Investigasi ini tidak akan berhasil.”
Reformasi sektor perbankan Indonesia yang sedang berlangsung juga tampaknya membantu anggota keluarga Suharto dan rekan-rekannya menutupi kewajiban utang mereka. Bulan Oktober 1998, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana untuk menggabungkan empat bank negara, dengan total $11,5 miliar dalam bentuk kredit macet, menjadi satu. Keenam anak Suharto dan beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan mereka terdaftar oleh pemerintah karena berhutang $800 juta pada kredit macet ke empat bank.
Jumlahnya mungkin sedikit: di antara mereka, Bambang dan Tommy memiliki $635 juta dalam bentuk kredit macet dari hanya satu dari empat bank, Bank Bumi Daya. Seorang pejabat bank mengatakan bahwa rekeningnya dilaporkan secara salah kepada pemerintah, termasuk $172 juta yang dipinjamkan kepada Hashim Djojohadikusumo, saudara ipar Titiek, untuk membeli saham di bank lain. Meminjam uang untuk membeli saham bank adalah tindakan ilegal di Indonesia.
Ketika diminta untuk menanggapi, kantor Hashim mengatakan dia terlalu sibuk untuk melakukan wawancara. Ketika TIME memberi tahu Habibie tentang keberadaan pinjaman, Presiden Habibie segera mulai memeriksanya.
Investigasi sungguh-sungguh terhadap harta rampasan Soeharto mungkin harus menunggu dilantiknya pemerintah berikutnya. Pemilihan parlemen yang dijadwalkan pada tanggal 7 Juni 1999, yang akan diikuti dengan pemilihan presiden pada bulan November, dapat mengubah persamaan politik secara substansial.
Dua kandidat presiden, Amien Rais dan Abdurrahman Wahid, mengatakan mereka akan memerintahkan pengadilan untuk Suharto, mungkin diikuti dengan pengampunan jika dia mengembalikan hasil yang tidak diinginkan. Megawati Soekarnoputri, putri pendiri Presiden Sukarno dan juga kandidat presiden, belum memperjelas pendiriannya. Beberapa analis berpikir dia tidak akan mengusut Suharto sebagai ucapan terima kasih karena tidak memenjarakan ayahnya.
Namun, anak-anak Suharto, bisa mendapatkan penanganan yang lebih berat, “Selama ayah mereka masih hidup,” kata seorang teman keluarga Suharto, “dia mungkin bisa melindungi mereka. Setelah dia meninggal, mereka harus melarikan diri.” Tiga dari enam anak Suharto memiliki rumah di Amerika Serikat, sehingga para jaksa di sana bisa mengejar mereka dengan undang-undang baru yang keras yang ditujukan untuk korupsi dan pencucian uang. Sementara itu, Bambang mengendalikan dua perusahaan yang terdaftar di AS, yang dapat menjadi subjek penyelidikan berdasarkan Undang-undang Praktik Korupsi (FCPA/Foreign Corrupt Practices Act).
Suharto sendiri memiliki setidaknya satu perisai hukum yang kuat: keputusan kepresidenan yang meletakkan dasar bagi perusahaan Suharto. Organisasi pengawas anti-korupsi Mantan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad, Indonesian Transparency Society, telah menetapkan label illegal pada 79 dari 528 perintah yang dikeluarkan antara tahun 1993 dan 21 Mei 1998.
Namun Suharto berhati-hati untuk memastikan setiap dekrit disetujui oleh stempel parlemen, biasanya pada akhir masa jabatan lima tahun kepresidenannya. Selain itu, salah satu pengacara Suharto Juan Felix Tampubolon mencatat bahwa Indonesia memiliki undang-undang pembatasan atas sebagian besar pelanggaran: “Untuk setiap kejahatan yang dilakukannya, jika ada, sebelum tahun 1981, hak untuk menuntut telah habis masa berlakunya di bawah hukum.”
Bagi Suharto di Indonesia, hukum tersebut, bersama dengan 9 miliar Dolar di bank Austria, akan memberikan kenyamanan yang cukup besar untuk masa pensiunnya.
Laporan oleh Zamira Loebis, Jason Tedjasukmana, dan Lisa Rose Weaver dari Jakarta; Laird Harrison dari Los Angeles; Isabella Ng dari Hong Kong; Kate Noble dari London; dan berbagai biro lainnya.
Keterangan foto utama: Mantan Presiden Indonesia, Soeharto dan Ibu Tien (Foto: Istimewa)

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)