Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Demokrasi. Show all posts
Showing posts with label Demokrasi. Show all posts

Monday, February 22, 2021

[Rm Benny] Art 1,Celaka Kritik Di Ruang Demokrasi, Rocky Gerung Kebablasan ?? !! Art 2 [ Rm Felix S] Mengatasi Kritikan Yang Pedas

Art 1
*Catet: _Sepanjang Video Ini Tidak Ada Instrupsi Iklan._*
*Celaka Kritik Di Ruang Demokrasi,* 
*Rocky Gerung Kebablasan*

Art 2
*MENGATASI KRITIKAN YANG PEDAS*

Ada seorang ibu yang sangat hebat di bidang keuangan.  Karena keahliannya itu,  sebuah perusahaan besar merekrutnya dengan mempercayakan seluruh urusan finansial kepadanya.  Pekerjaannya sangat bagus sehingga bosnya senantiasa memberikan kepadanya beberapa kepercayaan lainnya. 

Pada suatu hari ibu itu menelefon saya dengan sesenggukan  karena berusaha menahan air matanya : “Romo, saya telah berhenti dari perusahaan di mana saya bekerja  sekarang ini ?” Ibu itu kelihatan sangat terpukul. Saya pun bertanya : “Mengapa bu ?”. Ia menjawab : “Bekerja  di perusaaan ini tidak nyaman. Saya tidak tahan menghadapi banyak kritikan yang tak beralasan dan isu-isu yang tidak mendasar dari rekan-rekan kerja saya. Mereka iri hati dengan saya sehingga sering menuduh saya mencuri hati bos saya. Apapun yang saya lakukan adalah salah bagi mereka.  Apa yang dikatakan mereka di depan saya akan berbeda di belakang saya”. Saya hanya dapat menasihatinya : “Bu, bekerja di mana saja dan bergabung dalam komunitas apa saja pasti ada orang-orang iri hati di sana”.

Selama kita hidup dan bersosialisasi pasti senantiasa ada krititikan terhadap kita. Kritikan itu kadang-kadang adil, tetapi kebanyakan tidak adil. Kritikan yang tidak adil dan tidak proporsional akan menciptakan stres dalam hati dan pikiran kita.

Kritikan yang tak mendasar itu juga akan menciptakan ketegangan dalam relasi yang mungkin sudah lama kita bangun.  Di tempat kerja atau di dalam relasi dengan sesama pasti senantiasa ada yang berbicara negatif tentang diri kita atau  menyalahkan kita untuk sesuatu yang tidak kita buat. Ia juga sering membangkitkan isu yang tidak benar. Tujuannya adalah membuat kita kelihatan jelek di mata orang.  Kebanyakan kritikan tidak akan banyak membantu kita untuk maju. Kritikan-kritikan itu dimaksudkan untuk membuat kita terpuruk.

Kritikan yang konstruktif tentu akan membantu kita untuk melihat beberapa area yang perlu kita kembangkan. Namun demikian, kebanyakan dari kritikan tidak dimaksudkan untuk membangun Kepribadian kita. Kebanyakan kritikan tidak menjadi berkat bagi kita.  Kebanyakan krititikan ditujukan untuk menyerang  kita.

Kritikan yang tidak beralasan itu sebenarnya berasal dari keirihatian. Kritikan tersebut berasal dari roh persaingan. Kita mempunyai sesuatu yang istimewa yang tidak orang lain punyai.   Mereka  yang iri hati tidak akan bahagia dengan kelebihan kita.  Mereka mencoba menutupi ketidakamanan mereka dengan menjadi suka mengkritik, pedas, sinis, dan congkak kepada kita. 

Untuk tidak menjadi terpuruk karena banyaknya kritik yang tidak beralasan, kita harus menyadari bahwa kritikan tersebut akan mengiringi keberhasilan kita. Semakin kita berhasil, semakin banyak kritikan yang kita hadapi. Tidak semua orang akan merayakan  kemenangan kita.  Banyak orang tidak akan menyanyikan pujian atas kesuksesan kita.  Sebaliknya, keberhasilan kita justru membangkitkan keirihatian. Lebih banyak kritikan daripada apresiasi yang akan kita terima. Selain itu, kita harus menyadari bahwa kritikan-kritikan yang pedas itu sebenarnya tidak selalu ditujukan kepada kita, tetapi kepada orang-orang yang dekat dengan kita ataupun yang mempunyai relasi dengan kita. Karena itu, jangan terlalu memasukkan ke dalam hati kritikan-kritikan yang pedas dan tak beralasan. Kita hendaknya terus melangkah maju walaupun kritikan-kritikan tersebut terus menyerang sehingga kita tetap mencapai sesuatu yang lebih tinggi, lebih baik, dan lebih bermanfaat.

Salam Tangguh
Romo Felix Supranto, SS.CC

Tuesday, April 30, 2019

HTI dkk nya, adalah organisasi pendukung gagasan khilafah yg memang tidak percaya demokrasi


Hanya ada satu tekad, NKRI
Menolak proposal adalah hal biasa dalam kehidupan bisnis.
Bisa karena tidak punya dana, bisa karena tidak yakin kemampuan nya.
Tidak ada sesuatu yg istimewa, tidak menunjukkan keakuratan apapun tentang berlangsung nya suatu proses demokrasi.
Yg memilukan dan menyedihkan adalah bahwa setiap hasil kerja apapun dan hasil perhitungan siapapun yg tidak memenangkan dirinya sendiri, ditolak dan dianggap sebagai kecurangan.
Sedèrètan hasil perhitungan Lembaga Survey yg kredibel, baik yg dipimpin Denny, Yunarto, Muhtadi dan siapapun, ditolak hasilnya dan dianggap curang, karena apa? Karena tidak memenangkan dirinya.
Bahkan hasil perhitungan Real Count oleh KPU, Lembaga yg secara sah ditunjuk oleh Negara sebagai penyelenggara Pemilu, ditolak dan tidak mau diakui hasilnya, dengan alasan curang.
Yg dikatakan dan dituduhkan selalu sama, curang, dan curang lagi.
Tapi adakah bukti kecurangan seperti yg dituduhkannya?
Tidak pernah ada.
Dari sejak awal tuduhan sampai detik ini, tidak pernah ada dan tidak pernah dibuktikan.
Jadi hanya asal ngomong, asal bunyi.
Waton suloyo.

Bagaimana dengan puluhan Perwakilan2 Negara Asing dan puluhan Lembaga2 NGO independen yg ikut menyaksikan dan mengamati proses Pemilu sejak awal hingga pengumuman hasil real count?
Mungkinkah mereka semua juga curang dan dibayari oleh TPN?

HTI dkk nya, adalah organisasi pendukung gagasan khilafah yg memang tidak percaya demokrasi dan selalu berkukuh, hanya sistim khilafah merekalah yg paling benar.
Dimanapun diseluruh dunia, mereka menentang Pemerintah yg sah, yg dipilih rakyat secara demokrasi, sehingga hampir disemua negara diseluruh penjuru dunia, paham dan organisasi sejenis HTI khilafah dilarang.
Kaum khilafah juga tidak segan2 untuk melakukan gerakan bersenjata untuk memaksakan kehendaknya mengatur semua negara menjadi bagian dari ideologi khilafah, contoh konkritnya adalah ISIS yg telah memporak perandakan negara2 di Irak, Syria, Lybia dll.
Karena sudah telanjur hadir dan menjadi kuat, gerakan pendukung khilafah di Indonesia yaitu HTI, yg bekerja sama dengan politikus2 yg berambisi duduk di kekuasaan negara, mulai beraksi dan mencoba dengan cara beragitasi untuk menggoyahkan eksistensi NKRI.
Segala cara dipakai, mulai dari mendeklarasikan kemenangan calon 02 secara sepihak, sebelum pengumuman resmi KPU, menuduh lembaga2 survey curang, mencoba mengadakan ijtima ulama III, memasang spanduk ucapan selamat pada capres yg didukungnya, mengancam meenghimpun people power dst.
Pokoknya membuat kondisi keamanan dan politik negara RI tidak tertib sehingga kepercayaan rakyat pada pemerintah menurun, dan legitimasi pemerintah hancur.
Sungguh sayang bahwa ada politisi2 Indonesia yg sesungguhnya berjiwa nasionalis, yg semula setia pada NKRI turut larut dalam gerakan khilafah, karena dirinya diuntungkan oleh keberhasilan tuntutan kaum khilafah.
Padahal politisi2 ini mestinya paham bahwa mereka hanya diperalat sementara saja, didukung sesaat saja, sampai kaum khilafah jadi kuat dan mampu menyingkirkan konco2 yg semula diorbitkan jadi pemimpin RI.
Tidak percaya?
Lihat dan saksikan sendiri vidèo2 pemimpin khilafah yg berpidato internal di Arab, dinegara yg dijadikan tempat pelarian nya.

Apakah kemudian kita semua, mendiamkan semua gerakan2 yg ingin memporak perandakan NKRI ?
Tidak akan.
Bersama TNI Polri benteng NKRI, NU, Muhamaddiyah, kaum Nasionalis, bersatu, seluruh rakyat Indonesia tidak akan pernah membiarkan kaum khilafah berbuat semaunya, meng injak2 hukum dan tatanan negara.
Kita akan lawan mereka, tegas, lawan.

Tapi biarkan aparat2 penegak hukum yg menyelesaikan dan menuntaskan perusuh2 yg akan mengacaukan NKRI ini.
Sudah saatnya politisi2 Katolik ato non Katolik atopun orang2 yg selama ini diajak, dibujuk, dan diperalat kaum khilafah, kembali pada cita2 leluhur kita, saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Panca Sila,
dan bukan berdasar ideologi asing apapun namanya.

Mudah2an tulisan ini bermanfaat untuk memahami situasi gejolak politik di negara kita belakangan ini.
Kita rapatkan barisan membela NKRI, waspada terhadap agitasi kaum khilafah, tetap percaya pada Pemerintah RI yg sah, tetap setia dan teguh mempertahankan NKRI dari segala rongrongan dari dalam maupun luar negeri.

Tuhan memberkati Indonesia dan segenap warga bangsa yg berkehendak baik.
Sekali merdèka ,tetap merdèka.
Sekali NKRI, selamanya NKRI.
🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Thursday, January 24, 2019

Membangun Demokrasi Beradab



Oleh: V. Hargo Mandirahardjo *)

Pengantar:
Lord Acton pernah menyampaikan: “Power tends to corrupt and absolutely power corrupts absolutely”, bahwa kekuasaan itu bisa saja disalahgunakan, tidak bermaksud untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, dan apalagi kalau kekuasaan itu absolut atau mutlak, entah dalam bentuk diktatorian ataupun totalitarian sudah pasti kesejahteraan rakyat bukanlah tujuan utama dari penguasa tersebut.
Pemerintah dibentuk bukan sekedar untuk menjadi penguasa negara, tetapi dalam konteks Indonesia, pemerintah dimaksudkan untuk:  Melindungi segena bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; Memajukan kesejahteraan umum; Mencerdaskan kehidupan bangsa; Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Inilah yang menjadi tujuan daripada pembentukan pemerintahan di Indonesia. Prinsipnya bahwa pemerintah yang berkuasa adalah semata-mata untuk mewujudkan tujuan negara tersebut antara lain mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum.

Bagaimana membentuk pemerintah yang berkuasa namun tidak menyalahgunakan kekuasaannya seperti yang dimaksudkan oleh Lord Acton atau bagaimana Pemerintah yang berkuasa itu hanya semata-mata untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud oleh UUD NRI Tahun 1945, yang didalamnya terdapat Dasar Negara yakni Pancasila yang juga merupakan sumber dari segala sumber hukum?
Pertanyaan diatas adalah wacana dalam membangun demokrasi yang beradab di Negara Indonesia. Terwujudnya keadilan sosial dan kesejahteraan umum adalah suatu keadaban baru negara bangsa Indonesia, oleh karena itu demokrasi juga harus dibangun dengan habitus baru. Ini merupakan perubahan yang tidak hanya mengubah pradigma dan mental melainkan menjalani kebiasaan-kebiasaan yang efektif melalui semangat kerja, kerja dan kerja yang produktif demi terwujudnya bonnum commune atau kesejahteraan umum.

Politikus dan Habitus Baru
Demokrasi adalah satu-satunya cara yang paling rasional yang dapat diterima dalam membentuk Pemerintahan Republik Indonesia karena penduduknya berbhineka, plural atau heterogen baik suku, agama, ras dan berbagai latar belakang lainnya. Kebhinekaan ini adalah rahmat Tuhan yang perlu kita syukuri dan selalu menjaganya karena sebagai prasyarat utama dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang damai, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Demokrasi sebagai sistem politik tidak hanya sekedar membentuk pemerintah yang dilegitimasi melalui pemilihan umum. Demokrasi prosedural harus sejalan dengan demokrasi substansial, oleh karena itu dalam pemilihan umum kita tidak hanya sekedar mengisi kursi-kursi yang ada di legislatif maupun eksekutif, tetapi dalam kacamata yang lebih luas, pemilu itu dimaksudkan untuk menciptakan suatu peradaban yang baru. Pemerintah hasil pemilu bersama rakyat yang berjalan dalam sejarah bangsa dan negara akan menciptakan keadaban negara bangsa yang tentunya semakin baik ke depan.

Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa dalam perebutan kekuasaan melalui sistem pemilu ini, politik Indonesia dihiasi dengan strategi yang kadangkala penuh intrik, maka tak heran hoax untuk menjatuhkan lawan sering berseliweran dalam medan politik kita, termasuk penggunaan  politik identitas. Sering perdebatan dan adu argumen mengenai program kerja dan berbagai kegiatan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kalah dengan perilaku oknum politisi kita yang lebih senang saling sahut menyahut soal issue-issue yang sama-sama tahu isinya hoax, saling menjatuhkan dan hanya untuk sensasional belaka.
Perilaku oknum politisi semacam ini merupakan kegagalan dalam membangun demokrasi yang substansial yakni demi terwujudnya kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Perilaku-perilaku dalam kehidupan politik ini yang perlu diubah menjadi perilaku baru atau habitus baru. Keadaban negara bangsa yakni Indonesia Sejahtera akan semakin terwujud jikakesadaran akan pentingnya politik sebagai upaya untuk mensejahterahkan seluruh rakyat Indonesia merasuk sanubari setiap politikus. Dan kesadaran ini harus teraktualisasi dalam kerja-kerja konkret dan produktif yang mengarah ke keadaban negara bangsa itu yakni Terwujudnya Indonesia Sejahtera.

Ini semua menjadi mudah apabila Demokrasi Substansial yang kita bangun adalah demokrasi yang beradab, sehingga demokrasi prosedural yang lebih soal teknis dan tahapan juga bertujuan semata-mata untuk membentuk pemerintah negara Indonesia yang berupaya menuju ke keadaban negara bangsa yakni Indonesia Sejahtera.

Demokrasi Beradab
Karena kekuasaan itu cenderung disalahgunakan, maka perlu untuk dibatasi kekuasaan itu. Cara membatasinya adalah dengan prinsip demokrasi konstitusional, bahwa  “kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Prinsip ini berarti bahwa demokrasi kita harus didasari pada undang-undang dasar sebagai sumber hukum dasar, bukan pada politik atau kekuasaan belaka (Rechtstaat bukan Machtstaat). Hukum harus menjadi panglima dalam pelaksanaan demokrasi yang beradab ini.
Di dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 tertuang Pancasila yang adalah Dasar Negara dan juga merupakan Sumber dari Segala Sumber Hukum, maka pastinya Pancasila menjadi satu-satunya panglima dalam demokrasi yang beradab ini. Logikanya tidak ada lagi yang menjadi panglima dalam kehidupan politik Indonesia selain Pancasila. Pancasila menjadi satut-satunya konsensus rasional dalam mewujudkan keadaban negara bangsa Indonesia yang berbhineka.
Negara Indonesia yang berbhineka ini menerima Pancasila sebagai suatu kebenaran dalam demokrasi beradab, oleh karena itu toleransi diperlukan dalam mendukung terciptanya demokrasi beradab ini. Demokrasi yang beradab juga demokrasi yang menghargai hak orang lain tetapi sekaligus juga menjunjung tanggungjawab untuk menunaikan kewajibannya sebagai warga bangsa.
Role model demokrasi kita harusnya juga bersumber pada nilai-nilai kearifan lokal bangsa kita yaitu musyawarah mufakat dan kegotongroyongan, tidak tereduksi semata-mata pada mayoritas dan minoritas tetapi pada kesetaraan hak yang sama sebagai warga bangsa. Demokrasi yang beradab lebih mengedepankan pada semangat untuk mewujudkan tercapainya keadilan sosial dan kesejahteraan umum. Demokrasi yang mengutamakan kepentingan bangsa dari pada kepentingan golongan/partai dan individu.

Dimana semestinya para elit politik punya tanggung jawab untuk menjunjung tinggi etika/ kesantunan dalam berpolitik, mengedepankan persatuan dan kesatuan, menjaga keberagaman serta merawat komitmen nilai-nilai kebangsaan.
Inilah bentuk demokrasi beradab yang harus kita bangun terus, dengan maksud tidak hanya sekedar membentuk pemerintahan yang berkuasa melalui pemilihan umum legislatif dan eksekutif, melainkan juga menciptakan suatu habitus baru dalam dunia politik untuk menuju pada keadaban baru negara bangsa yakni Indonesia Sejahtera.

. *) Penulis adalah Ketua Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia

https://jendelanasional.id/nasional/membangun-demokrasi-beradab/

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)