Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, February 17, 2021

Fakta Wali Kota Pariaman Tolak SKB 3 Menteri, Beralasan Mayoritas Islam dan Tidak Takut Diberi Sanksi

*Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri* terkait aturan seragam sekolah ditolak Wali Kota Pariaman Genius Umar. Sebab, dalam aturan tersebut pemerintah daerah (Pemda) dan sekolah negeri tak diperbolehkan lagi untuk mewajibkan atau melarang muridnya mengenakan seragam beratribut agama. 

Menurut Genius, aturan tersebut justru dinilai dapat menjauhkan agama dengan sekolah. Meski sikapnya dianggap sebagai pembangkangan, pihaknya mengaku tidak takut dengan sanksi yang diberikan. 

*1.Mayoritas beragama Islam* 

Genius mengatakan, alasan menolak aturan tiga menteri tersebut karena setiap daerah memiliki kearifan lokal masing-masing. 

Oleh karena itu, ia tidak sepakat jika pendekatan yang dilakukan pemerintah pusat dalam mengatur semua daerah di Indonesia disamaratakan. 

"Daerah memiliki kearifan lokal sendiri. Pariaman masyarakatnya homogen, yaitu mayoritas Islam, tapi tidak ada pemaksaan siswi non-muslim memakai jilbab di sini," kata Genius, Selasa (16/2/2021). 

Dengan demikian, ia menegaskan jika kewajiban mengenakan jilbab bagi siswi muslim di sekolah masih akan tetap diberlakukan di daerahnya. 

*2.Tidak takut diberi sanksi*

Selain karena kearifan lokal, Genius, mengatakan alasan melakukan penolakan tersebut lantaran aturan SKB 3 Menteri dianggap bertentangan dengan regulasi sebelumnya. 

Sebab, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan jika tujuan pendidikan adalah menciptakan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Dengan dasar tersebut, pihaknya tidak takut dengan ancaman sanksi yang diberikan akibat dari menolak aturan itu. 

"Saya tidak takut diberi sanksi, karena tidak melaksanakan SKB 3 Menteri itu," kata ungkapnya. 

*3.Siap berdiskusi dengan 3 menteri* 

Genius Umar(Istimewa) Genius juga mengaku siap berdiskusi dengan tiga menteri tersebut terkait penerapan aturan seragam sekolah. 

Sebab, ia menilai aturan tersebut tidak cocok diterapkan di daerahnya. Karena dianggap akan menjauhkan siswa atau peserta didik dengan nilai agama. 

"Saya siap berdiskusi. SKB 3 Menteri ini tidak cocok diterapkan, karena seolah-olah memisahkan antara kehidupan beragama dengan sekolah," kata Genius. 

Tidak hanya itu, ia juga menilai pemerintah pusat terlalu berlebihan dalam menyikapi polemik tentang seragam sekolah di Padang beberapa waktu lalu. 

Sebab, persoalan itu seharusnya dapat diselesaikan oleh gubernur setempat tanpa perlu mengeluarkan SKB 3 Menteri. 

*4.Aturan SKB 3 Menteri* 

Seperti diketahui, untuk menjawab polemik terkait penggunaan seragam sekolah beberapa waktu yang lalu, pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri. 

SKB itu ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. 

Dalam aturan itu pemerintah tidak memperbolehkan pemerintah daerah dan sekolah negeri untuk mewajibkan atau melarang muridnya mengenakan seragam beratribut agama. 

Dalam aturan itu juga dicantumkan mengenai sanksi bagi yang tidak menjalankan. Yaitu terkait dengan bantuan dana operasional sekolah (BOS) dan bantuan pemerintah lainnya. 

Tak hanya itu, pada huruf a disebutkan, pemerintah daerah dapat memberikan sanksi disiplin bagi kepala sekolah, pendidik, dan/atau tenaga kependidikan yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Kemudian huruf b menyebutkan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat memberikan sanksi kepada bupati/wali kota berupa teguran tertulis dan/atau sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Sementara itu, pada huruf c poin 1 disebutkan Kemendagri dapat memberikan sanksi kepada bupati/wali kota berupa teguran tertulis dan/atau sanksi lainnya dalam hal gubernur sebagai wakil pemerintah pusat tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf b. 

Penulis : Kontributor Padang, Perdana Putra  

Editor : Abba Gabrillin

Source : https://regional.kompas.com/read/2021/02/16/12430311/fakta-wali-kota-pariaman-tolak-skb-3-menteri-beralasan-mayoritas-islam-dan?page=all#page2.

https://news.iniok.com/2021/02/surat-keputusan-bersama-skb-3-menteri.html

Lagu Selingan Setelah cape baca, bisa putar lagu ini 👂✋👇
                                                    *👉Catet: Sepanjang Putaran Lagu Anti Intrupsi Iklan😍*
*Full Album Kisah Kasih Di Sekolah - Lagu Lawas Indonesia Terpopuler 80-90an*

Selamat Terhibur Bersama:

Tuesday, February 16, 2021

BERSALAH SEBAGAI AKADEMISI

BERSALAH SEBAGAI AKADEMISI
- Rendahnya Publikasi Akademisi Indonesia di Jurnal Ilmiah

Denny JA

Semakin banyak populasi sebuah negara, seharusnya semakin banyak pula tulisan warga di negara itu dalam jurnal ilmiah.

Sayangnya kesimpulan ini tak berlaku di Indonesia. 

Sebuah list  rangking 196 negara disusun berdasarkan jumlah artikel yang dipublikasi dalam jurnal ilmiah.  Klasifikasi itu dibuat berdasarkan data dari Institute for Scientific Information's Science Citation Index (SCI) dan  Social Sciences Citation Index (SSCI).[1]

Tiga populasi terbesar dunia menempati rangking 1, 2 dan 3 dalam jumlah paper akademik yang dipublikasi warganya. Yaitu China (528,263 tulisan ilmiah), Amerika Serikat (422, 808), dan India (135, 788).

Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terbesar ke empat. Seharusnya Indonesia berada di rangking ke empat. Setidaknya jika merosot, seharus Indonesia tetap berada dalam rangking 10 besar.

Namun data menunjukkan lain. Rangking Indonesia dalam menulis di jurnal ilmiah berada nomor 19.

Dengan jumlah populasi 270 juta, warga Indonesia di tahun 2018 hanya menyumbangkan 26,498 tulisan ilmiah.

Sementara penduduk Netherland, hanya 17, 28 juta. Itu hanya 1/16 total polulasi Indonesia. Jumlah penduduk Netherland bahkan lebih sedikit dari penduduk di Jawa Barat.

Tapi sumbangan warganya dalam menulis di jurnal ilmiah di atas Indonesia: 30,457 tulisan ilmiah.

Membaca data itu, sebagai akademisi Indonesia, saya merasa bersalah.

-000-

Disertasi untuk sah menjadi Ph.D adalah karya ilmiah yang terakhir. Itulah kritik yang sering disampaikan kepada akademisi Indonesia.

Selesai kuliah tingkat doktor, umumnya selesai pula ia menjadi akademisi. Sang doktor, Ph.D, kemudian tenggelam menjadi intelektual publik dengan tulisan populer. Atau Ia menjadi penasehat kementrian. 

Atau Ia menjadi komentator di TV. Asongan menjadi panelis di sini dan di sana. Menjadi pejabat. Atau alih profesi.

Sang akademisi pun sirna sebagai akademisi. Ia tidak menyumbangkan tulisan akademis yang dimuat di jurnal ilmiah.

Kritik ini pun berlaku untuk saya. Sudah sekitar 57 judul buku yang saya tulis. Sudah lebih dari 1000 paper riset saya dan teman-teman buat di Lingkaran Survei Indonesia dalam 15 tahun terakhir. Itu berkaitan dengan survei opini publik pilkada dan pemilu.

Tapi seberapa banyak sumbangan tulisan saya pada jurnal akademik? Yang dimuat dalam peer to peer journal? Yang publikasinya diseleksi oleh sesama akademisi internasional? 

Untuk ilmu sosial, jurnal yang memiliki reputasi adalah yang berada dalam list SCORPUS. (2)

Scopus kini menjadi database yang menyimpan dan membuat rangking journal akademik itu. Journal yang tak terdaftar dalam Scopus dianggap belum menjadi bagian jurnal akademik internasional.

Untuk menebus rasa bersalah, 
Sayapun berjumpa dan berdiskusi dengan Eriyanto. Ia pakar ilmu komunikasi UI. Ia juga lama menjadi peneliti senior di Lingkaran Survei Indonesia. 

Kami pun  menuliskan kisah Covid-19 di Indonesia dalam 11 paper akademik, untuk dimuat di Jurnal akademik. 

Jurnal akademik mempunyai nuansa yang berbeda. Yang dipentingkan di sana, bagaimana sebuah peristiwa atau kasus dapat menyumbang bagi pembentukan sebuah teori (theoritical building).

Selesai sudah 11 paper akademik kami tulis dalam bahasa Inggris. Semua dibuat berdasarkan kasus Covid 19. Semua disusun dalam rangka theoritical building di bidang komunikasi politik.

Proses penulisan 11 paper ini memakan waktu kurang lebih setahun. 

Sebagian data diambil dari survei LSI Denny JA. Kadang Eriyanto menjadi penulis pertama. Kadang saya menjadi penulis pertama.

Tulisan sudah dikirim kepada 11 jurnal akademik yang terdaftar di Scorpus. “Semoga semuanya bisa dipublikasi di tahun ini,” ujar Eriyanto optimis.

-000-

Satu paper kami sudah dipublikasi. Tinggalah menunggu 10 paper lainnya.

Di bawah ini link tulisan saya besama Eriyanto yang dimuat peer reviewed journal dalam daftar Scopus itu. 

Ini studi mengenai discoure covid 19, dari bulan November 2019-April 2020. Studi ini meriset evolusi discourse para tokoh (aktor pemerintah dan publik), dalam 1123 pernyataan yang terekam di media.

Tulisan ini setidaknya mengobati rasa bersalah saya. Sekian lama absen dalam kontribusi tulisan di jurnal akademik internasional.

Judul tulisan: Discourse Network of a Public Issue Debate: Study of Covid-19 Cases in Indonesia

Link tulisan bisa diakses di 

https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/1497311913790239/


CATATAN

1. List negara berdasarkan jumlah paper akademik yang ditulis warganya.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_number_of_scientific_and_technical_journal_articles

2. Scorpus adalah database yang menyimpan puluhan ribu peer review journals yang dianggap memenuhi standard akademik.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Scopus

Sumber tulisan: Facebook DennyJA_World https://
www.facebook.com/322283467867809/posts/3630364673726322/?d=n

Wednesday, February 19, 2020

Bappenas Dorong Perguruan Tinggi Untuk Berinovasi Demi Menghasilkan Lulusan Terbaik

[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/bappenas-dorong-perguruan-tinggi-untuk.html]
Pemerintah Republik Indonesia, khususnya dalam hal ini melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memberikan keleluasaan kepada Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia untuk menjalin kerjasama dengan dengan berbagai pihak termasuk industri dan dunia kerja demi peningkatan kualitas pembelajaran.

“Kementerian PPN/Bappenas mendorong kepada Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia untuk bekerja sama dengan berbagai pihak terkait demi meningkatnya mutu pembelajaran di Indonesia,” ujar Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas, Dr. Hadiat M.A pada hari Selasa (18/02/2020).

Lebih lanjut Dr. Hadiat M.A mengungkapkan, apabila Perguruan Tinggi mau bekerja sama dengan pihak-pihak, diharapkan Perguruan Tinggi tersebut mampu menelurkan lulusan-lulusan terbaik yang bisa langsung beradaptasi dengan dunia kerja dan industri dan mampu menghasilkan karya yang inovatif..

“Saya berharap, dari kerjasama ini nantinya Perguruan Tinggi mampu memberikan lulusan-lulusan terbaik yang langsung beradaptasi dengan dunia kerja dan juga menghasilkan karya-karya inovatif,” tambah Dr. Hadiat M.A.

Selain itu, Dr. Hadiat M.A juga memberikan masukan tentang literasi perpustakaan. Baginya keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan Perguruan Tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses peningkatan literasi dan pemberdayaan masyarakat.

 “Adanya perpustakaan, baik perpustakan umum, perpustakaan Perguruan Tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses terbentuknya masyarakat dan lulusan literate dan pembelajar,” kata Dr. Hadiat M.A

Dr. Hadiat M.A juga menilai perpustakaan saat ini mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena perpustakaan bertugas mengumpulkan mengelola dan menyediakan pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari serta memperkuat kapasitas masyarakat pembelajar.

“Perpustakaan saat ini mempunyai peranan yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena bertugas mengumpulkan, mengelola dan menyediakan pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari serta memperkuat kapasitas masyarakat,” tutup Dr. Hadiat M.A
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/02/bappenas-dorong-perguruan-tinggi-untuk.html
Selasa 18 Februari 2020
Tim Komunikasi Publik
Kementerian PPN/Bappenas

Wednesday, May 15, 2019

KENAPA KAUM TERDIDIK DAN RAJIN IBADAH MENJADI PENYEBAR HOAX ?



KENAPA KAUM TERDIDIK DAN RAJIN IBADAH MENJADI PENYEBAR HOAX ?

Tulisan bagus Oleh : Kiyai Jamaluddin Mohammad

Seorang doktor lulusan Timur Tengah aktif sekali mengirim berita-berita hoax di hampir semua group WA yang ia ikuti. Kawan satu almamaternya dulu mencoba mengingatkan bahwa berita-berita yang ia share adalah hoax, tapi ia hanya menanggapi, “Saya tahu. Sekarang kan kita sedang berperang. Dalam perang apapun boleh dilakukan, termasuk membunuh orang.”

Inilah salah satu alasan kenapa hoax tumbuh subur, mudah sekali menyebar, dan gampang beranak-pinak. Dalam kasus di atas, hoax disebarluaskan justeru oleh orang berpendidikan tinggi. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Kemenkominfo, kalangan terpelajar (S1) justeru yang banyak terpapar hoax. Mengapa? Ada banyak teori menjelaskan soal ini.

Sekarang ini, terutama dalam pergaulan di media sosial, kita memasuki sebuah era yang orang menyebutnya “post-truth” (pasca kebenaran). “Post” di situ bisa diartikan “setelah” atau “melampaui”. Di era post truth orang tidak lagi peduli pada “kebenaran” sebuah fakta. Bahkan, orang tidak lagi mempermasalahkan atau mempertanyakan “kebenaran”.

Jika Abad Modern ditandai sebuah diktum dari Descartes “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada), era post-truth mundur kembali sebelum Abad Modern. Kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan nalar dan rasionalitas, melainkan ditentukan emosi dan perasaan. Jika sebuah informasi didapat sesuai kepentingan dan perasaan, ia akan dengan mudah diterima dan disebarluaskan meskipun secara nalar kacau dan tidak sesuai dengan fakta (hoax)

Hoax bukan sekadar kabar bohong karena orang yang memproduksi atau yang menyebarluaskan tidak merasa bahwa ia sedang berbohong. Orang berbohong masih mengakui kebenaran. Ia hanya berusaha menyembunyikan kebenaran itu. Namun, bagi pembuat dan penyebar hoax, tidak akan pernah merasa dan mau mengakui bahwa ia sedang mengelabui kebenaran. Ia tidak peduli bahkan bersikap masa bodoh dengan kebenaran, karena ia sedang bermain-main dengan emosi, perasaan, dan kepentingan.

Oleh karena itu, tidaklah aneh dalam Pilpres ini kita menghadapi sekelompok orang yang mengatasnamakan dan mengidentifikasi diri sebagai “moslem cyber army” (MCA) yang sampai hari ini masih getol memproduksi dan menyebarluaskan hoax.

Bukankah berbohong, menyebar fitnah dan mengadu domba dilarang islam? Mengapa mereka mengaku muslim? Sebagai muslim yang waras dan masih mengakui nilai-nilai luhur islam tentu akan terus menjaga keselarasan dan keseimbangan antara ajaran dan praktik keagamaan. Muslim yang waras tidak menyerang hoax dengan hoax karena sama halnya menghianati nilai-nilainya sendiri. Sebaliknya, ia akan konsisten menjunjung tinggi kebenaran, bersikap dan bertindak jujur, selalu menjaga perdamaian dan keharmonisan.

Meskipun mengaku sedang memperjuangkan islam, nilai-nilai tersebut tidak berlaku bagi pembuat hoax. Ia akan bersikap dan bertindak masa bodoh asalkan tujuan dan cita-cita politiknya tercapai. Dalam imajinasinya Pilpres kali ini adalah “perang” melawan musuh Islam. Untuk membuat, menciptakan, dan menyeret orang dalam situasi perang, maka dibuatlah hoax-hoax bahwa lawan politik mereka “anti-Islam”, “keturunan orang kafir”, “mengkriminalisasi ulama”, dll.

Hoax-hoax itu dibuat dan dijadikan senjata untuk menjatuhkan lawan politik. Menurut mereka, dalam situasi perang apapun boleh dilakukan. Prinsip mereka “al-harbu khid’atun” (perang adalah tipu muslihat).

Mereka tidak tahu dalam perang sekalipun, Nabi Muhammad SAW tetap patuh dan memperhatikan etika perang, seperti tidak boleh merusak tempat ibadah, membunuh anak-anak, perempuan dan manula, menebang pohon, dll.

Jadi, bersikap masa bodoh, menghalalkan segala cara, mengabaikan nilai-nilai dan norma-norma agama bukanlah ajaran islam. Apalagi hanya untuk persoalan politik praktis. Namun, saya yakin sekali, logika seperti ini tidak akan diterima mereka.

Dalam imajinasi kelompok “islam politik”, selama sebuah negara atau pemerintahan belum menerapkan “ syariat islam” (syariat dalam pengertian mereka) maka masih disebut negara/pemerintah “jahiliyyah” atau bahkan “darul harb” (negara perang). Bagi mereka, perjuangan menuju cita-cita politik adalah perjuangan menegakkan agama.

Orang atau kelompok orang yang tidak setuju atau mencoba menghalang-halangi mereka langsung dicap musuh Islam yang harus “diperangi”. Bahkan, bagi kalangan Jihadis, mereka disebut “taghut” yang halal darahnya.

Islam politik menganggap seluruh ajaran, praktik juga simbol-simbol keagamaan sebagai bagian dari identitas politik. Salat sebagai ritual keagamaan individual (ibadah mahdah) saja dimaknai sebagai pesan dan identitas politik. Sejatinya bukan agama yang mereka pejuangkan melainkan “psudo agama” sebagai bungkus kepentingan politik

Inilah alasan kenapa saya tidak Golput pada Pilpres kali ini. Ada satu keadaan yang memaksa saya berhadapan dengan petualang-petualang politik berjubah agama yang bersekutu dengan “thanos” untuk merebut dan menghancurkan rumah bersama bernama PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).
https://politikandalan.blogspot.com/2019/05/kenapa-kaum-terdidik-dan-rajin-ibadah.html
Sumber
https://islami.co/kaum-terdidik-taat-ibadah-penyebar-hoax/

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)