Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Sunday, August 30, 2020

PAK ANIES BASWEDAN MUNDURLAH….


Viral di media sosial surat terbuka dosen UGM Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta untuk Gubernur DKI Anies Baswedan agar segera mundur karena dinilai gagal menempatkan dirinya menjadi seorang pejabat publik.
“PAK ANIES BASWEDAN MUNDURLAH….”
Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Kepada Yth,
Bapak Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta
Dengan hormat,
Tulisan ini murni dari hati nurani yang dalam, yang tidak dikebiri oleh ganasnya politik identitas yang telah terbukti nyata merusak tatanan kehidupan umat manusia atau ambisi mencoba menjadi kutu loncat hanya semata karena haus akan kekuasaan.
Yang saya fahammi, warga DKI saat ini butuh solusi nyata atas musibah banjir, bukan kelitan-kelitan innocent atau wacana-wacana kerdil atau bualan konyol! Warga DKI Jakarta butu solusi nyata atas musibah banjir agar bisa melanjutkan kehidupannya.
Pak Anies, saya tidak kenal Anda, walau kita sama-sama alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) tercinta, saya angkatan 1984, anda angkatan angkatan 1987? Maaf kalau keliru.
Hanya panggilan jiwa yang memotivasi saya untuk menulis surat terbuka untuk Anda.
Melihat sepak terjang Anda selama menjadi Mendikbud RI dan kemudian menjadi Gubernur DKI, cukup bagi saya untuk menyimpulkan, bahwa Anda tidak cocok menjadi Pejabat Publik. Anda lebih pas menjadi Akademisi.
Dan, selama Anda menjadi Gubernur DKI, Anda gagal menempatkan diri sebagai Pejabat Publik bagi semua orang. Anda hanya menjadi Gubernur DKI bagi orang-orang yang mendukung Anda pada Pilkada DKI beberapa waktu yang lalu.
Saya tidak akan mengajukan argumen-argumen rasional atau saran atau masukan ke Anda, sudah banyak tulisan yang viral di Medsos soal Kinerja Anda sebagai Gubernur DKI Jakarta kaitannya dengan bencana banjir di Jakarta baru-baru ini.
Saya juga tidak punya kepentingan membandingkan kinerja Anda dengan kinerja pak Basuki Cahaya Purnama (Gubernur DKI Jakarta sebelum Anda), bagi saya mubazir dan hanya buang-buang waktu.
Saya minta Anda mundur secara terhormat dan secepatnya sebagai Gubernur DKI. Semakin cepat semakin baik. Anda tidak mampu mengelola Jakarta menjadi lebih baik ke depan. Cara-cara Anda mengantisipasi dan menangani bencana banjir, jelas menunjukkan, bahwa Anda tidak mampu. Jangan alergi melihat fakta dan mengakui ketidak mampuan diri. Yang jadi Korban adalah rakyat banyak. Ingat itu!
Sekali lagi sebagai sesama muslim dan alumni Universitas Gadjah Mada, memohon pak Anies mundurlah secara terhormat. Balik ke kampus menjadi ilmuwan, anda lebih pantas dan terhormat. Jaga nama baik almamatermu.
Semoga Anda bisa menangkap isi surat saya ini secara hening dan jujur. Kejujuran hanya milik orang yang faham Agama dengan baik dan benar dan mengamalkannya pada kehidupan kemanusiaan yang universal.
Terimakasih. Viralkan!
Yogyakarta, 2020-01-04
Hormat saya,
(KPH. BP. Widyakanigara)
Sumber: FB Katakita
(suaraislam)
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/pak-anies-baswedan-mundurlah.html]

Kamboja Pun Bakal Kalahkan RI Dalam Investasi Asing.


Kamboja Pun Bakal Kalahkan RI Dalam Investasi Asing.

Sampai hari ini pun, investasi asing ke Indonesia masih kalah dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, Indonesia sudah ketinggalan sangat jauh. Salah satunya adalah Nissan menutup pabriknya di Indonesia dan lebih memilih Thailand sebagai basis produksi di pasar Asia.
“Bahkan sebentar lagi Kamboja menyusul kita,” kata Kepala Badan Koordinator Penenaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadali.

Berdasarkan kajian BKPM, ada enam kondisi objektif yang membuat investasi Indonesia kalah menggiurkan dari pada Vietnam.

_Pertama, harga tanah per meter persegi di Indonesia rata-rata mencapai Rp 3,17 juta, sementara Vietnam Rp 1,27 juta per meter persegi._

_Kedua, rata-rata upah minimum tenaga kerja di Indonesia per bulan sebesar Rp 3,93 juta, sedangkan Vietnam Rp 2,64 juta._

Ketiga, rata-rata tingkat kenaikan upah tenaga kerja di Indonesia mencapai 8,7% per tahun, tren tersebut jauh lebih tinggi dibanding Vietnam yang hanya 3,64% per tahun.

_Keempat tarif gas di Indonesia sebesar US$ 6 per Mmbtu, jauh lebih tinggi daripada harga di Vietnam yang hanya US$ 0,66 per Mmbtu._

Kelima, tarif listrik di Indonesia senilai US$ 0,07 per Kwh, sementara Vietnam senilai US$ 0,04 per Kwh.

Keenam, tarif air di Indonesia sebesar US$ 0,89 per MP, sedangkan Vietnam yakni US$ 0,53 per MP.

Yang paling signifikan adalah upah tenaga kerja dan harga tanah yang menjadi sorotan investor pertama kali jika ingin menanamkan modalnya. Harga tanah yang mahal membuat pemerintah dan BKPM menyiasati dengan membuat kawasan industri baru yang secara harga lebih murah, misalnya Jawa Tengah.

Sedangkan untuk upah tenaga kerja, satu-satunya harapan agar upah buruh Indonesia bisa bersaing dengan negara lain yakni melalui RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

"UU Omnibus Law itu mencari jalan tengah dan ternyata oleh temen-temen dari organisasi buruh meminta itu tidak dimasukkan. Kondisi sekarang, saat masuk ke suatu negara, UU begitu kaku dan merugikan, mohon maaf orang akan ke negara lain. Menko Airlangga bilang selesai Juli selesai," ujar Bahlil.

Kalau Kamboja bisa menyalip negara Indonesia dalam hal investasi asing, saya harus katakan, negara ini sungguh tidak beres dalam pengelolaan. Bahkan bisa dikatakan, negara ini dalam kondisi prihatin kalau sampai ini terjadi.

Dua tahun lalu, saya berlibur ke Hanoi, Vietnam. Hanoi adalah ibukota, sedangkan pariwisata utamanya adalah Halong Bay, yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan dengan bus dari Hanoi. Vietnam dalam bayangan saya waktu itu adalah negara yang masih tertinggal, masih struggling akibat perang Vietnam.
Begitu saya injakkan kaki di sana, bayangan awal saya buyar. Proyek di mana-mana, pabrik berserak, kawasan industri bahkan di kawasan jauh sekali pun. Infrastruktur di sekitar kawasan industri komplit dan mumpuni. Ini belum bicara soal kawasan ekonomi seperti Ho Chi Minh City. Dan lucunya, kota-kota sekunder di sana terlihat jauh lebih modern dari kota sejenis di sini. Kalau Anda pernah ke Halong Bay, pasti akan melewati gerbang megah dan Halong City. Di sana akan terlihat proyek-proyek super megah dan ambisius yang membuat mulut ternganga.(baca selengkapnya bawah...)
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/kamboja-pun-bakal-kalahkan-ri-dalam.html]

Inilah yang saya sebut bagai katak hidup dalam tempurung. Kita merasa tempurung ini sudah modern dan maju, ternyata salah.
Negara ini sudah bermasalah akut sejak dulu. Ada investor asing masuk bawa uang dan lapangan pekerjaan, gerombolan sampah di sini teriak asing dan aseng, mau menjajah Indonesia, dan presidennya dibilang mau jual negara ini sebagai budak asing dan aseng. Apalagi kalau sudah menyerempet Cina.

Belum lagi investor bakal dipalak dari segala arah, entah itu oknum, preman lokal maupun ormas parasit tak jelas yang membuat pengeluaran investor makin membengkak. Iuran-iuran siluman yang dipungut oleh para siluman bedebah.
Belum lagi bicara soal buruh yang sebagian kerjanya malas, ogah-ogahan tapi tiap tahun demo minta naik gaji dengan persentase kenaikan yang tak masuk akal.

Investor mana yang tahan dengan kondisi begini? Kalau saya investornya, bye bye Indonesia, let's go to somewhere else.

Kalau pemerintah tidak bisa bereskan ini, siap-siap gigit jari. Negara tertinggal bakal menyalip Indonesia. Malunya tak tanggung-tanggung.
Makanya pemerintah usahakan Omnibus Law dan ternyata ditolak oleh banyak orang. Sudah tahu kan, ternyata banyak penghambat di negara ini yang tidak mau negara ini maju.

https://amp.kompas.com/money/read/2020/06/13/122937226/tak-cuma-vietnam-kamboja-juga-akan-kalahkan-ri-dalam-investasi-asing

Wednesday, August 26, 2020

Akan tetapi, Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi Presiden, nyatanya malah menjadi Presiden.


JENDERAL GATOT
Oleh : Saur Hutabarat.
Dewan Redaksi Media Group | Opini

Baiklah sejujurnya Saya katakan, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, sepertinya kepingin menjadi Presiden.
Apakah ada yang keterlaluan di situ?
Dari kedudukannya sebagai Panglima TNI, berkeinginan menjadi Presiden, kiranya bukan Impian yang terlalu tinggi.
Bandingkanlah dengan Seorang Pedagang Mebel di Solo, yang kemudian menjadi Presiden.
Bedanya teramat jauh.
Akan tetapi, Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi Presiden, nyatanya malah menjadi Presiden.

Apakah Gatot akan sampai menjadi Presiden?
Sejauh ini tidak ada trajectory yang dapat di jadikan rujukan untuk menjadi Presiden.
Bung Karno menjadi Presiden tak dapat di ulangi oleh siapa pun, karena tak ada di antara kita yang kepingin di Jajah kembali, lalu terbuka kemungkinan untuk menjadi Proklamator.
Celakalah mereka yang ingin Indonesia di Jajah kembali, untuk kemudian berpidato di Pengadilan Kolonial, Indonesia Menggugat.

Celakalah juga Orang yang menginginkan terjadi kembali peristiwa seperti 30 September 1965, sehingga terkuak munculnya Seorang Jenderal, The Smiling General, yang bahkan menjadi Presiden 32 Tahun.
Siapa pula yang kita izinkan untuk meniru berkuasa seperti itu dan selama itu, lalu di tumbangkan setelah 6 kali di pilih kembali menjadi Presiden di masa Orde Baru?

Seorang Habibie hanya menjadi Presiden akibat tumbangnya Pak Harto.
Sebuah kenyataan Sejarah, pertanggungan jawabnya sebagai Presiden di tolak MPR.
Siapa yang bisa membantah bahwa Gus Dur menjadi Presiden lebih merupakan keberuntungan Sejarah?
Akan tetapi, ketika dia di tumbangkan MPR, kenyataan itu tak boleh di simpulkan sebagai kemalangan Sejarah.
Tumbangnya Gus Dur dan naiknya Megawati menjadi Presiden memperkuat Riwayat di puncak ketatanegaraan berisi Tragedi.
MPR ialah Lembaga Tertinggi Negara yang kerjanya menumbangkan Presiden.
Itu menimpa Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur.
Cukup sampai di situ.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/akan-tetapi-jokowi-tidak-pernah.html]

Setelah Presiden di pilih langsung oleh Rakyat, sesungguhnya MPR kehilangan Legitimasi Moral Politik untuk menumbangkan Presiden.
Barangsiapa berpikir untuk menumbangkan Presiden, termasuk dengan Bahasa gagah berani People Power, baiklah yang bersangkutan menimbang dirinya, tidakkah gerangan terlambat lahir?

Amien Rais tergolong lahir tepat waktu.
Akan tetapi, Amien Rais pun gagal menjadi Presiden.
Kini Saya percaya impiannya untuk menjadi Presiden telah terkubur dalam-dalam.

Tentu saja Saya dapat berspekulasi, seandainya Megawati tidak mengangkat kembali SBY menjadi Menkopolkam, yakni setelah Gus Dur menyingkirkannya dari Kabinet, barangkali Biografi SBY berisi perjalanan hidup yang berbeda.
Akan tetapi, kajian berwatak post-factum macam itu tidak banyak gunanya.
Di bolak-balik dari segala arah, trajektori untuk menjadi Presiden RI tetap saja perjalanan yang tak terpetakan.

Yang sudah pasti hanya Partai Politik atau Gabungan Partai Politik yang punya Kursi di DPR yang punya Hak Konstitusional untuk mengusung Calon Presiden.
Deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi terlalu dini untuk di Nilai, apakah bakal layu sebelum berkembang.
Kiranya bukan kesimpulan kepagian untuk mengatakan bahwa dia bukan kendaraan untuk siapa pun menjadi Presiden.
Seandainya pun dia menjadi Partai Politik, lalu berhasil duduk di DPR hasil Pemilu 2024, baru pada Pilpres 2029, dia dapat turut mencalonkan Presiden.
Untuk sementara paling menjadi penggembira.

Tentu saja Seorang Warga Negara bernama Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo berhak membayangkan dirinya menjadi Presiden.
Semoga itu baik bagi kesehatannya.
Sebaliknya, Saya pun sebagai Warga Negara Pembayar Pajak, berhak memiliki bayangan, tentang Seorang mantan Panglima TNI yang dengan Jiwa kejuangannya menjaga dan memelihara dirinya sebagai Seorang Perwira yang layak di Teladani.

Ada perbedaan serius menjadi Menteri di banding menjadi Panglima TNI.
Menjadi Menteri ialah kedudukan yang sepenuhnya di angkat Presiden.
Statusnya Pembantu Presiden.
Menjadi Panglima TNI setelah mendapat persetujuan DPR.
Sebuah posisi sangat terhormat mendapat Mandat dari Negara, bukan semata dari Pemerintah.

Apakah Seorang mantan Panglima TNI berhak menjadi Oposisi?
Bukankah dia telah menjadi Warga Negara (biasa)?
Tentu saja dia berhak.
Ketika Seorang mantan Panglima TNI berbicara, bersuara, kiranya punya gaung yang berwibawa.
Dia punya self-respect.
Bukan malah menimbulkan penilaian, sang mantan Panglima mengidap Sindrom, setelah tak berkuasa.
Seiring dengan penilaian itu, hilang rasa Hormat.

Tak banyak mantan Panglima TNI yang dapat di pakai sebagai rujukan Generasi penerus.
Di antara yang sedikit itu ialah Jenderal LB Moerdani.
Begitu selesai Serah Terima Jabatan Panglima ABRI kepada Jenderal Try Sutrisno, Jenderal Benny langsung memberi hormat kepada Jenderal Try Sutrisno, mantan bawahannya.

Di dalam Kabinet setelah Pemilu 1992, Pak Harto menyingkirkan Benny Moerdani.
Penulis riwayat hidupnya, Julius Pour, memberi judul Bukunya yang kedua, Benny : Tragedi Seorang Loyalis.
Benny tersingkir, namun tak sepotong pun pernah di Media Masa meluncur kata-katanya mengkritik Pak Harto, terlebih suara Seorang yang sakit hati.
Benny contoh sejatinya seorang Perwira.
Gatot?
Anda mungkin punya penilaian yang lebih bijak.
Silakan.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/akan-tetapi-jokowi-tidak-pernah.html]
Sumber: https://m.mediaindonesia.com/read/detail/338846-jenderal-gatot
Cc : Elman Saragih Rosmery Christina Sihombing
(Ilustrasi Foto)

Tuesday, August 25, 2020

Demokrat: Habib Rizieq ada di Arab, kenapa tak dirikan khilafah di sana?


Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean merasa bingung dengan pihak-pihak yang hendak membangkitkan kembali khilafah di Indonesia.

 Sebab, paham serta sistem  tersebut tidak sesuai dengan situasi negara di masa sekarang.

Melalui akun Twitter pribadinya, Ferdinand Hutahaean mengatakan, paham khilafah masih terus digaungkan Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI.

 Meski kelompok tersebut sudah dibubarkan pemerintah, namun dia meminta masyarakat berhati-hati terhadap ide serta gagasan yang mereka usung.

“HTI sudah dibubarkan secara resmi oleh pemerintah berdasarkan Undang-undang.

 Mengapa dibubarkan ?

 Karena HTI menyebarkan ajaran yang ingin mengganti Pancasila dan mengubah sistem negara ,” tulisnya, dikutip Minggu 23 Agustus 2020.

“Maka yang namanya dibubarkan, jelas terlarang meski tak disebut secara harfiah. Baik itu ormas dan ajarannya,” tambah Ferdinand.

Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahean

Pria yang dikenal aktif di media sosial itu memastikan, paham khilafah yang dibawa HTI tak akan bisa tumbuh di Indonesia .

Sebab, seperti yang telah dia singgung di awal , pemerintah sudah melarang seluruh kegiatan mereka.
Sehingga, ruang gerak HTI di dalam negeri semakin kecil dan terbatas.

“Sudah jelas dibubarkan negara berdasarkan Undang-undang, artinya dilarang dan terlarang.

 Coba kalian dirikan kembali HTI , bisa tidak ? Kalau bisa , berarti enggak terlarang. Tapi kalau enggak bisa, artinya terlarang ,” terangnya.

Singgung Habib Rizieq dan kebingungan Ferdinand terhadap HTI
Ferdinand bingung , mengapa HTI hendak menyebarkan paham khilafah di Indonesia ?

Padahal , ideologi yang kita anut selama ini cenderung baik-baik saja , alias tanpa masalah.
Alih-alih membawanya masuk ke Tanah Air , kata dia, bakal lebih tepat jika paham tersebut disebarkan ke Arab Saudi.

 “ Kenapa HTI ini enggak teriak dan coba dirikan khilafah di Arab Saudi saja ?
 Kenapa harus di Indonesia yang jelas beragam agama dan budaya lokalnya ?” ujar Ferdinand.

Lebih jauh, Ferdinand juga menyoroti keberadaan Ketua Umum FPI , Habib Rizieq Shihab yang saat ini berada di Arab Saudi. Menurut dia, sosok yang acap mengenakan sorban putih itu merupakan figur yang dekat dengan paham khilafah.
Sehingga , Ferdinand menyarankan HTI dan kelompok sejenis untuk membawa ajaran tersebut ke sana.

 “ ( Habib ) Rizieq Shihab juga sudah ada di Arab , kenapa enggak dirikan saja khilafah di sana ?
 Kenapa enggak demo di sana kalau ditolak ?
 Kenapa enggak dirikan HTI di sana ? ”  kata dia.
https://www.hops.id/demokrat-habib-rizieq-ada-di-arab-kenapa-tak-dirikan-khilafah-di-sana/

Misteri Uang Rp546 Miliar


Misteri Uang Rp546 Miliar
*KASUS korupsi cessie Bank Bali dengan aktor utama Joko Tjandra memang sudah lebih dari satu dekade diputus pengadilan. *

Namun, hingga kini, perkara yang kembali mencuat setelah Joko yang berstatus buron tapi leluasa keluar-masuk Indonesia itu masih menyimpan sejumlah misteri.

Misteri pertama pelan-pelan memang mulai terungkap seiring dengan diringkusnya taipan berjuluk Joker itu. Misteri kenapa dia bisa melenggang masuk Indonesia mulai mendapat jawaban dengan ditetapkannya beberapa jenderal Polri sebagai tersangka karena diduga membantu dan melindungi Joko.

Pun di Korps Adhyaksa, pejabat yang juga diduga membantu Joko sudah dijadikan tersangka. Dia adalah Pinangki Sirna Malasari, jaksa yang disebut menerima suap US$500 ribu atau sekitar Rp7 miliar dari Joko.

Namun, perihal siapa saja penegak hukum yang bersujud di kaki Joko belum semuanya tersingkap. Diduga masih ada pejabat berotak dan bertangan jahat lainnya yang terlibat, termasuk petinggi Kejaksaan Agung.

Sang petinggi, menurut Masyarakat Anti Korupsi Indonesia, menghubungi Joko setelah 29 Juni 2020 atau setelah Kejagung membongkar fakta bahwa Joko yang berstatus buron masuk Indonesia.

Belum tuntas penanganan masalah itu, misteri lain muncul. Ia terkait dengan uang Rp546 miliar yang menjadi barang bukti kasus hak tagih Bank Bali. Uang tersebut sudah disita pada 2009 dan dititipkan ke rekening escrow di bank swasta, yakni Bank Permata, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan soal eksekusinya.

Adalah Antasari Azhar yang mempertanyakan apakah uang sitaan itu sudah dieksekusi atau belum. Kalau sudah, semestinya dibuat berita acaranya dan siapa yang mengeksekusi sebagai bentuk transparansi penegak hukum.

Dengan ketus dia bahkan mengatakan uang itu disita untuk negara, bukan untuk dibagi-bagi. Kata Antasari, untuk mengetahui apakah putusan pengadilan telah dieksekusi lengkap, kepolisian bisa meminta keterangan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan ketika kasus tersebut diputus.

Dia adalah Setia Untung Arimuladi yang kini menjabat Wakil Jaksa Agung. Persoalan yang dicuatkan Antasari jelas bukan masalah kaleng-kaleng. *Ini masalah serius, sangat serius, karena berkaitan dengan lurus-bengkoknya penegakan hukum. *

Pesan yang disampaikan Antasari amatlah signifikan dan relevan dengan penuntasan kasus Joko Tjandra yang sedang diupayakan. Itu tak bisa dianggap remeh. Apalagi sebagai pemberi pesan, Antasari bukanlah orang sembarangan.

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi itu bertugas sebagai jaksa penuntut umum dalam kasus Joko yang tentu saja paham betul seluk-beluk perkaranya. Kalau benar uang Rp546 miliar yang dalam putusan PK Mahkamah Agung pada 2009 silam dirampas untuk negara belum juga dieksekusi hingga sekarang, itu jelas di luar kelaziman.

Ada apa dengan kejaksaan membiarkan proses eksekusi terkatung-katung hingga lebih dari 10 tahun? Sebagai penegak hukum, kejaksaan pasti paham bahwa penyelesaian perkara semestinya dilakukan secara cepat demi terpenuhinya asas kepastian hukum. Lalu, kenapa mereka menunda eksekusi perkara Joko Tjandra dalam waktu sekian lama?

Bukan hanya Antasari, publik juga butuh jawaban dari Kejaksaan Agung atas ketidakjelasan dalam penuntasan kasus Joko. Bukan hanya Antasari, rakyat juga ingin agar kesengkarutan perkara itu selekasnya terurai tanpa menyisakan lagi misteri.

Membiarkan pertanyaan menggantung tanpa jawaban sama saja membiarkan spekulasi menyesaki ruang publik. Jangan salahkan mereka yang misalnya berspekulasi uang ratusan miliar tersebut tidak segera dirampas untuk negara karena sudah dibagi-bagi.

Hanya ada satu cara untuk membuktikan spekulasi itu salah, yakni kejaksaan harus menunjukkan secara transparan bahwa eksekusi memang sudah dilakukan sesuai ketentuan.

Tunjukkan kepada publik bukti penyetoran uang sita tersebut. Kalau tidak bisa juga menunjukkan bukti setor uang sita, sebaiknya KPK turun tangan untuk mengungkap kemungkinan adanya persekutuan jahat.

VIDEO EDITORIAL MEDIA INDONESIA:
https://m.mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2098-misteri-uang-rp546-miliar

LIVE STREAMING:
http://m.mediaindonesia.com/streaming

Anda bisa menanggapi langsung dan memberikan opini dengan menghubungi 021-58399100, Twitter @mediaindonesia kirimkan komentar Anda ke e-mail: forum@mediaindonesia.com

Thursday, August 20, 2020

Mendengar Ahok Blak-blakan...Termasuk Soal Pertamina

Wednesday, August 19, 2020

SAIFUL MUJANI: POPULISME ISLAM MENGANCAM DEMOKRASI INDONESIA


☀ ANCAMAN GAWAT !!!
SIARAN PERS 1
SAIFUL MUJANI RESEARCH AND CONSULTING (SMRC)

SAIFUL MUJANI: POPULISME ISLAM MENGANCAM DEMOKRASI INDONESIA

Jakarta, 19 Agustus 2020

Populisme Islam mengancam kebhinekaan Indonesia sebagai negara-bangsa dan menurunkan kualitas demokrasi. Populisme ini tidak hanya datang dari kelompok politik agama, melainkan juga kelompok nasionalis.

Demikian salah satu kesimpulan yang muncul dalam orasi kebangsan Saiful Mujani, Ph.D, yang diselenggarakan dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia dan Dies Natalis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 18 Agustus 2020.

“Terlepas dari sejumlah kekurangan di sana-sini,” kata Saiful, “bangsa Indonesia cukup berhasil dalam pembangunan politik yang relevan dengan kebhinekaan sejak peralihan dari rezim Orde Baru ke Orde Reformasi.”

Sejak 1998, demokrasi Indonesia mengalami kemajuan, terutama dalam aspek hak-hak politik. Tapi dalam 6 tahun terakhir mengalami sedikit kemunduran dalam hal-hal yang banyak berkaitan dengan kebinekaan kita sebagai negara-bangsa.

Persoalan utama yang menurunkan kualitas kebebasan sipil yang terkait dengan kebhinekaan adalah munculnya apa yang disebut sebagai islamisasi. Namun demikian, Saiful menegaskan bahwa islamisasi pada level keluarga dan individu bukan hal yang perlu dipersoalkan.

“Yang jadi masalah bagi kebinekaan Indonesia adalah apabila Islamisasi itu merupakan produk kebijakan negara atau pemerintah meskipun hanya berlaku bagi yang beragama Islam,” kata Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah ini.

Dia menambahkan bahwa bila itu yang terjadi, maka sesungguhnya Piagam Jakarta kembali hidup dalam demokrasi Indonesia sekarang: sebuah kebijakan negara, pusat atau daerah, yang hanya berlaku bagi orang Islam, dan tidak berlaku bagi non-Islam.

“Kebijakan negara yang demikian adalah kebijakan sektarian dan diskriminatif, mengingkari konstitusi kita yang inklusif terhadap kebinekaan agama,” kata Saiful.

Pendiri SMRC ini kemudian mengutip sebuah studi yang dilakukan oleh Buehler (2013) yang memaparkan bahwa sejumlah kebijakan publik yang eksklusif, hanya mengakomodasi kepentingan satu kelompok Islam (sektarian), mendiskriminasi non-Islam, telah dibuat di banyak daerah. Dalam kurun waktu 1999-2009, setidaknya ada 169 kebijakan publik di berbagai daerah, provinsi dan kabupaten/kota, yang masuk dalam kategori kebijakan publik bersyariah.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/saiful-mujani-populisme-islam-mengancam.html]

Saiful menyatakan bahwa di banyak negara yang penduduknya mayoritas Muslim, upaya membuat kebijakan publik terkait dengan syariat Islam biasanya datang dari wakil rakyat dari partai berideologi Islam. Tapi kasus Indonesia berbeda karena partai-partai agama (Islam) justru terlalu kecil dibanding partai-partai nasionalis.

Tapi yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, menurut sebuah studi, kebijakan publik bermuatan syari’ah justru dilakukan oleh legislator daerah dari banyak partai nasionalis, bukan hanya partai berideologi Islam seperti PKS. (Buehler 2013)

Saiful menambahkan bahwa di antara legislator dari partai-partai nasionalis itu, di banyak daerah, tidak peduli dengan platform partai mereka yang menjunjung tinggi kebinekaan ketika mereka dihadapkan dengan gerakan, jaringan, dan lobi kelompok Islam yang punya agenda menerapkan syariat Islam dalam kebijakan publik di daerah.

Banyak politisi nasionalis di daerah meleleh ketika dijanjikan oleh kelompok Islam itu bahwa mereka bakal mendapatkan banyak dukungan pemilih dalam pemilu. Demikian juga kepala daerah.

Saiful menyebut gejala tunduknya legislator dan kepala daerah pada agenda kebijakan syari’ah karena alasan dukungan elektoral merupakan karakteristik dari apa yang dikenal sebagai populisme Islam: keyakinan bahwa agenda-agenda dan kebijakan-kebijakan berbasis sentimen Islam yang diskriminatif terhadap non-Islam mendapat dukungan besar dari orang Islam.

“Di tangan politisi demikian, Indonesia bisa menjadi negara syariah tanpa harus ada partai Islam yang kuat, tanpa harus dipimpin presiden yang berideologi Islam, tanpa harus mengubah UUD kita yang inklusif bagi kebinekaan itu, dan tanpa gerakan bersenjata seperti dilakukan DI/TII,” ungkapnya.

“Bila populisme Islam dan Islamisasi Indonesia itu menguat maka kebinekaan yang menjadi fondasi negara-bangsa kita menjadi terancam,” pungkas Saiful.
-- Akhir Siaran Pers --
Narahubung
Irwan (0818-0725-2492)
😷🐱
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/saiful-mujani-populisme-islam-mengancam.html]

Tuesday, August 18, 2020

Putri Bung Hatta Bacakan Teks Proklamasi, Sejumah Tokoh Bangsa Hadiri Deklarasi KAMI


Sejumlah tokoh bangsa seperti Titik Soeharto,  Amien Rais, Gatot Nurmantyo, Sri Edi Swasono, dan Meutya F. Hatta menghadiri acara Deklarasi Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), yang digelar di Tugu Proklamasi, di Jl. Proklamasi, Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8) siang.

Selain nama-nama tersebut hadir juga sejumlah tokoh muda seperti Refly Harun, Dian Islamiati Fatwa, Nur Eko (Koordinator BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia), Ilham Bintang, dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Sementara komunitas yang hadir antara lain Komunitas UI yang dipimpin oleh Chandra Motik, komunitas buruh, komunitas Aspirasi, kominitas Mujahidah Priangan, Forum Purnawirawan Baret Merah, Komunitas Masyarakat Tionghoa, Ustadzah Peduli Negeri, Forum Alumni Perguruan Tinggi Indonesia, dan Forum Rektor Perguruan Tinggi Indonesia.

Acara Deklarasi KAMI itu diawali dengan Upacara Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang menarik dalam upacara kali ini, putri pendiri proklamator RI Bung Hatta, yaitu Meutia F. Hatta menjadi petugas yang membacakan langsung Teks Proklamasi Kemerdekaan RI. Sedangkan menantu Bung Hatta, Sri Edi Swasono, menjadi pemimpin saat para peserta upacara menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sementara mantan Menteri Kehutanan M.S. Ka’ban membacakan Teks Pancasila.

Deklarasi KAMI dilakukan usai para peserta mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI, yang diawali dengan pembacaan Jati Diri KAMI. Setelah itu, sejumlah tokoh bangsa tampil membacakan Maklumat Menyelamatkan Indonesia.

Pembacaan Maklumat Menyelamatkan Indonesia itu dilakukan antara lain oleh Marfuah Musthofa (Ketua Umum PP Wanita Islam), Benny Ahmad (Raja Samu-Samu, Maluku), Prof. Dr. Hafid Abbas (mantan Ketua Komnas HAM), Ichsanudin Noorsy, Lieus Sungkharisma, Nurhayati Assegaf, Prof. Chusnul Mariyah, Moh Jumhur Hidayat, Ust. Jeje Jainudin (Wakil Ketua Umum Persis), Adhie M. Massardi, Abdullah Hehamahua (mantan Penasihat KPK), Said Didu, Syahganda Nainggolan, dan Rocky Gerung.

Acara Deklarasi diakhiri dengan penyampaian sambutan Presidium KAMI, yaitu Jend. TNI (Purn) Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI), Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua Dewan Pertimbangan MUI), dan tokoh NU Rochmat Wahab.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/putri-bung-hatta-bacakan-teks.html]

Penyimpangan

Sebelumnya dalam konperensi pers di Jakarta, Sabtu (15/8), Din Syamsuddin menjelaskan, KAMI dibentuk karena adanya persamaan pikiran dan pandangan bahwa kehidupan dan kenegaraan Indonesia saat ini telah menyimpang dari cita-cita nasional dan dari nilai-nilai dasar yang telah disepakati pendiri bangsa.

"KAMI dapat membuktikan telah terjadi penyimpangan dan penyelewengan terhadap nilai nilai itu. Semua bersepakat," kata Din.

Ia mengungkapkan, KAMI sebenarnya masih menaruh harapan khususnya kepada partai politik dan DPR. Namun saat ini, menurut Din, para wakil rakyat itu tak mau menyuarakan aspirasi rakyat.

"Inilah yang membuat kami, kita semua turun sendiri untuk menyuarakan suara kita, pikiran kita," ujar Din.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu memastikan, bahwa KAMI merupakan gerakan moral. Karena itu, ia menolak gerakan dia disebut sebagai politik praktis. Ia menyebut gerakannya adalah politik moral yang lebih tinggi dari politik praktis.

"Ini dijamin oleh Undang-Undang untuk berserikat, untuk melakukan social control, pengawasan sosial. Dengan kritik, dengan koreksi, bahwa nanti pendukung kami, jejaringnya, melakukan aksi-aksi itu bagian dari gerakan moral, terutama untuk menyampaikan pendapat," kata Din.

Setidaknya ada 150 tokoh yang bersepakat untuk bergabung dalam KAMI. Selain dirinya, Gatot Nurmantyo, dan Rohmat Wahab, menurut Din, nama-nama lain yang tergabung dalam KAMI di antaranya Bachtiar Chamsyah (mantan Mensos), Pof. Rizal Ramli, Rahmawati Soekarnoputri, Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid, Laksamana (Purn) Tedjo Edhy Purdiatno, Marsekal Madya (Purn) Amirullah, Prof. Didik Rachbini, Camelia Malik, Taufik Ismail, dan K.H. Amidhan. (*)
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/putri-bung-hatta-bacakan-teks.html]

Din Syamsudin Cs Hanya Bicara Tentang KAMI Bukan KITA


Seolah belum percaya diri dengan deklarasi beberapa minggu lalu, hari ini 18 Agustus 2020 Din Syamsudin dkk kembali mengulang deklarasi kelompok mereka yang mereka sebut sebagai KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) di Tugu Tani Menteng Jakarta. Entah apa maksudnya. Meskipun mereka membungkus acara tersebut untuk memperingati Kemerdekaan RI, mereka sejatinya hanya sedang menggelar panggung untuk mencari perhatian.

Kelompok KAMI ini terkesan ekslusif, hanya terdiri dari beberapa orang yang tidak mendapat tempat di panggung kekuasaan. Seberbusa-busa apapun omongan mereka dengan menggunakan diksi di awang-awang, tujuan mereka sebetulnya hanya satu, mencari kekuasaan. Alih-alih menyelamatkan arah perjalanan bangsa, yang mereka lakukan sebetulnya hanya sekedar menyelamatkan ambisi, kepentingan dan periuk nasi mereka sendiri.

Mereka tidak akan menyelamatkan KITA sebagai sebuah bangsa. Mereka hanya akan menyelamatkan kepentingan kelompok mereka tanpa melibatkan orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka. Jadi apa yang dilakukan hanya sekedar berusaha menaikkan posisi tawar dengan membangun narasi-narasi destruktif yang menyudutkan Pemerintah.

Lalu apa yang bisa kita harapkan dari segerombolan singa tua dan ompong yang mengaum di kandang ? Nothing. Hanya kegaduhan yang tidak perlu yang membuat telinga kita pekak. Sejarah mencatat, teriakan parau para laskar sakit hati tidak akan bergema ke relung hati masyarakat. KITA, rakyat Indonesia bukan bagian dari kelompok mereka yang menamakan dirinya KAMI. Jadi abaikan saja mereka.

Saya berharap Presiden Jokowi dan jajarannya juga mengabaikan saja keberadaan mereka. Mereka sejatinya tidak punya massa yang riil, mereka tidak punya kekuatan selain teriak-teriak sampe serak. Kekuatan massa mereka paling mencatut massa 212. Dan yang terpenting secara konstitusional mereka tidak akan mampu mengganggu Pemerintahan Presiden Jokowi. Mereka hanya serupa nyamuk yang mendengung kesana kemari. Tanpa mampu membuat gangguan yang berarti.

Mereka hanya sekelompok KAMI, bukan KITA
Salam SATU Indonesia
18082020
Oleh:
Rudi S Kamri

MEMALUKAN dan MENYEDIHKAN - GUSTI ORA SARE


KISAH PILU THE SIN NIO, PEJUANG WANITA BERETNIS TIONGHOA YANG DITELANTARKAN

“Kepada Bapak Presiden Joko Widodo, daripada Anda memberikan anugerah Bintang Mahaputra kepada si duo F, lebih baik bintang jasa itu diberikan kepada para pejuang kemerdekaan yang sejati, salah satunya Alm. Ibu Brigjend. TNI (Purn) The Sin Nio.” MERDEKA ! 🇮🇩

* * * * *

Siapakah Brigjend. TNI The Sin Nio ?

Oleh : Ir. Azmi Abubakar (Dewan Pakar Perhimpunan INTI, Partai Solidaritas Indonesia - PSI)

Perempuan Tionghoa ini adalah pejuang kemerdekaan Indonesia asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Beliau ikut bertempur melawan Belanda dan bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18, dibawah komando Sukarno (terakhir berpangkat Brigjend dan pernah menjadi Dubes RI untuk Aljazair).

Yang istimewa, Sin Nio adalah satu2nya prajurit perempuan dalam kompi tersebut.

Semasa berjuang, Sin Nio pada awalnya hanya bermodalkan senjata sederhana berupa golok, bambu runcing dan tombak. Sampai akhirnya suatu ketika gadis pejuang tersebut berhasil merampas senapan jenis LE dari pihak Belanda.

Dari bagian tempur, kemudian Sin Nio dipindahkan kebagian perawat atau palang merah, karena ada kekosongan juru rawat, padahal banyak sekali pejuang yang terluka dan butuh perawatan medis. The Sin Nio berhasil melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik.

Setelah kemerdekaan dan kondisi negara mulai aman, srikandi ini memutuskan menikah dan akhirnya memiiliki 6 anak dari 2 orang suami, yang keduanya berakhir dengan perceraian.

Sebagai janda dengan 6 anak, tentu hidup Sin Nio sangatlah berat, dan hal ini membulatkan tekad keberangkatan dirinya dari Wonosobo ke Jakarta.

 Keputusan ini juga diakibatkan oleh karena pejuang ini tak mendapatkan pensiun, yang semestinya adalah haknya sebagai pejuang kemerdekaan.

Keberangkatan nya ke Jakarta untuk mengurus hak pensiunnya. Saya menduga ini karena Sin Nio berasal dari etnis Tionghoa, sehingga pensiunnya dipersulit.

1973, pejuang ini sampai di Jakarta dan menumpang tinggal selama 9 bulan di Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia di Jalan Gajah Mada.

Kemudian setelah itu beliau terpaksa hidup menggelandang di Ibukota, satu pilihan menyedihkan bagi seorang pejuang bangsa, bayangkan perempuan pejuang berusia sekitar 60 tahun harus hidup menggelandang dikerasnya ibukota. Kehujanan kepanasan tanpa tempat tinggal yang jelas.

Perjuangan panjang akhirnya pada tanggal 29 Juli 1976 The Sin Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang yang turut aktif mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta.SK ini ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs.Soehardjo, juga sebagai saksi mata ditandatangani ooeh Mayor TNI-AD Kadri Sriyono (Kastaf Kodim 0734 Diponegoro dan Dr R.Brotoseno (dokter militer pada Resimen 18 Divisi III Dipinegoro.

Tragisnya, SK tersebut tidak diiringi dengan hak pensiunnya, sehingga Sin Nio tetap hidup sebagai gelandangan. Beliau hidup menggelandang diseputaran disekita pintu air tak jauh dari mesjid Istiqlal Jakarta.

Uang pensiun sebesar Rp 28.000,- per bulan akhirnya dapat diperoleh beberapa tahun kemudian. Tapi uang sebesar itu tak mampu mencukupi kebutuhan lainnya, sehingga Sin Nio hanya bisa tinggal di gubuk tanah pinggiran rel kereta api milik PJKA.

The Sin Nio bersikeras tak mau pulang lagi ke Wonosobo, bahkan dia tak pernah lupa untuk tetap mengirimkan uang kepada anak cucunya di kampung halaman.

“Saya tak mau merepotkan anak cucu saya, biarlah saya hidup sendiri di Jakarta, meski dalam tempat seperti ini!".

Jiwa pejuang sejati!

Pernah ada janji dari Menteri Perumahan, Cosmas Batubara, bahwa Sin Nio akan diberikan rumah di Perumnas. Tapi janji tinggallah janji.

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. The Sin Nio telah mempertaruhkan nyawanya diujung peluru demi tegaknya kemerdekaan Indonesia, tapi apa balasan yang didapatnya?

Tak diketahui, bagaimana kisah akhir kehidupan pejuang bangsa ini, apakah kemudian beliau menghilang begitu saja, atau dia menghindar dari kita bangsa Indonesia, dan berucap :

"Saya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!"

#75TahunIndonesiaMerdeka🇮🇩
#IndonesiaMaju🇮🇩
#NKRIHargaMati🇮🇩
==============================

Artikel Lainnya :


Kisah heroik Kakak beradik Alex dan Frans Mendur, fotografer PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI.

Jika saat ini kamu bisa melihat foto Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi maka sudah patutnya kamu berterima kasih pada sosok kakak beradik, Alex Mendur dan Frans Mendur. Berkat dua orang bersaudara itu, hingga saat ini saksi bisu hari paling penting untuk bangsa ini bisa kita lihat.

Padahal tak ada instruksi untuk keduanya mengambil foto saat teks Proklamasi dibacakan. Frans Mendur hanya tak sengaja mendengar kabar dari harian Asia Raya. Pun kakaknya, Alex Mendur yang berprofesi sebagai fotgrafer kantor berita Jepang waktu itu.

Keduanya langsung bergegas ke kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Cikini, Jakarta dengan membawa kamera masing-masing. Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat di lokasi tepat pukul 05.00 pagi. Rupanya hanya mereka berdua, fotografer yang hadir di hari paling penting bagi bangsa Indonesia itu.

Alex dan Frans berhasil mengabadikan beberapa foto detik-detik proklamasi Indonesia. Namun usai upacara, mereka berdua disergap tentara Jepang. Alex ditangkap, kameranya disita, hasil fotonya dibakar. Sementara Frans berkilah, ia mengaku negatif filmnya telah dirampas Barisan Pelopor padahal telah dikubur dalam tanah. Tentara Jepang pun berhasil ia kelabuhi.

Setelah dirasa aman, keduanya lalu menggali tanah tempat negatif film dikubur. Tak menunggu lama, film itu kemudian dicetak. Butuh keberanian dan mental baja. Mendur bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, dan melompati pagar hingga akhirnya menemukan lab foto. Sebab jika tertangkap Jepang, bukan tak mungkin Mendur bersaudara dihukum mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.

Mendur bersaudara lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir pada 1907, sementara adiknya Frans Mendur lahir tahun 1913. Kala itu nama Mendur bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing.

Untuk mengenang aksi heroik Mendur bersaudara, keluarga besar Mendur mendirikan sebuah monumen yang disebut "Tugu Pers Mendur". Tugu ini berupa patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu.

Tugu Pers Mendur didirikan di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, di tanah kelahiran mereka. Di dalam rumah itu terdapat 113 foto karya Mendur bersaudara yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013.



Daftar 151 orang Indonesia terkaya setelah Tax-Amnesty yg dilansir Globe Asia

Daftar 151 orang Indonesia terkaya setelah Tax-Amnesty
yg dilansir Globe Asia

151● Giri Murtopo
 Jogja Tower Group
US$ 521 juta
150. Ishak Charlie
Arga Citra Kharisma
US$ 530 juta
149● Marimutu Maniwanen
Busana Apparel Group
US$ 570juta
148● Setiawan Djody
Setdco Group
US$ 535 juta
147● Tandean Rustandy
Arwana Citramulia
US$ 540 juta
146● Bambang Setijo
Pan Brothers
US$ 550 juta
145● A Siang Rusli Ali
CAPITAL GROUP
Kurnia Tetap Mulia
US$ 573 juta
144● Jacobus Busono
Pura Group
US$ 575 juta
143● Fajar Suhendra
Sumatra Growth Group
US$ 578 juta
142●  Soedjono
Wira Sakti Adimulya
US$ 581 juta
141● Mintarjo Halim
Sandratex
US$ 593 juta
140● Batihalim Stefanus
Nojorono Tobacco
US$ 595 juta
139● Rudy Unjoto
Daliatex Kusuma
US$ 596 juta
138● A Tong
Roda Vivatex
US$ 598 juta
137. Honggo Wendratno
Arsari Pratama
US$ 599 juta
136● Anna Bambang Surjo Sunindar
Kirana Tanker
US$ 600 juta
135● Ricardo Gelael
Fast Food Indonesia
US$ 605 juta
134● Iskandar Widyadi
Bank Jasa Jakarta
US$ 612 juta
133● Shindo Sumidomo
Siantar Top
US$ 613 juta
132● Siti Hardijanti Rukmana
Citra Lamtoro Gung Persada
US$ 615 juta
131● Mardjoeki Atmadiredja
Surya Toto Indonesia
US$ 617 juta
130● Widarto
Sungai Budi Group
US$ 620 juta 
129● G Lukman Pudjiadi
Jayakarta Group
US$ 622 juta
128● GS Margono
Gapura Prima Group
US$ 625 juta
127● Stanley S Atmadja
Asco Automotive
US$ 627,5 juta
126● Samin Tan
Borneo Lumbung
US$ 630 juta
125● Rachmat Gobel
Gobel International
US$ 635 juta
124● Bambang Trihatmodjo
Asriland
US$ 655 juta
123● Karmaka Surjaudaja
OCBC NISP Group
US$ 657 juta
122● Ilham Habibie & Thareq Habibie
Ilhabi Rekatama
US$ 658 juta
121● Elizabeth Sindoro & Liris
Paramount Group
US$ 661 juta
120● Budi Purnomo Hadisurjo
Optik Melawai
US$ 665 juta
119● Sri Sultan Hamengkubuwono X
Sultan Yogyakarta
US$ 672 juta
118● Sendi Bingei
Sumatra Tobacco Trading: Tobacco, food
US$ 690 juta
117● Johanes B. Kotjo
Apac Group: Textiles
US$ 710 juta
116● Anton Setiawan
Tunas Group
US$ 715 juta
115● Pontjo Sutowo
Nugra Sentana Group
US$ 718 juta
114●  Kaharudin Ongko
Ongko Group
US$ 725 juta
113● Tan Tjai Kie
Gunung Garuda Steel
US$ 727 juta
112● Winarko Sulistyo
Fajar Surya Wisesa
US$ 732 juta
111● Siswono Yudohusodo
Bangun Cipta Sarana: Construction, livestock breeding
US$ 733 juta
110● Soetjipto Nagaria
Summarecon Group
US$ 735 juta
109● Paulus Tumewu
Ramayana Group
US$ 742 juta
108● Johnny Widjaja
Sintesa Group
US$ 744 juta
107● Henry Onggo
Ratu Sayang Group
US$ 746 juta 
106● Benny Suherman
Studio 21 Group
US$ 748 juta
105● Chandra Lie & Hendry Lie
Sriwijaya Air
US$ 748,5 juta
104● Boyke Gozali
Mitra Adi Perkasa
US$ 751 juta
103● Oesman Sapta Odang
OSO Group
US$ 751,8 juta
 102● Habil Marati
Buton Perkasa
US$ 765 juta
101● Didi Dawis
Ling Brothers
US$ 768,4 juta
100● Djoenaedi Joesoef
Konimex
US$ 770 juta 
99● Iwan Lukminto
Sritex Group
US$ 771 juta
98● Tatang Hermawan
Fuju PalapaTextiles, Bank Parahyangan
US$ 773 juta
97● Sabana Prawirawidjaja
Ultrajaya Group
US$ 780 juta
96● Tjahja Santoso
Sanbe Farma
US$ 781,6 juta
95● Rudolph Merukh & Lucky Merukh
Merukh Enterprises
US$ 782 juta
94● Sukamdani Sahid Gitosardjono
Sahid Group
US$ 790 juta
93● Yos Sutomo
Sumber Mas
US$.792 juta
92● K. Gowindasamy
Mitra Jaya Group
US$ 794 juta
91● Surya Dharma Paloh
Media Indonesia
US$ 796,8 juta
90● Dahlan Iskan
Jawa Pos Group
US$ 797,4 juta 
89● Kris Taenar Wiluan
Citra Mas Group
US$ 801 juta
88● Keluarga Hendro Setiawan
Pikko Group
US$ 803 juta
87● Rosan Roeslani
Recapital
US$ 804 juta
86● Trihatma K Haliman
Agung Podomoro Group
US$ 822 juta
85● Mohammad Reza Chalid
Global Energy Resources
US$ 825 juta
84● Harry Sanusi
Kino Group
US$ 827 juta
83● Sugiono W Sugialam & Kindarto Kohar
Trikomsel Group
US$ 831 juta
82● Jimmy Masrin
Lautan Luas Group
US$ 832 juta
81● Gunawan Tjondro
CNI Group
US$ 835 juta
80● Rudy Suliawan
Karang Mas Sejahtera
US$ 840 juta
79● Arifin Panigoro dan Hilmi Panigoro
Medco Group
US$ 842,7 juta
78● Kiki Barki
Harum Energy Group
US$ 845 juta
77● Henry Pribadi
Napan Group
US$  846 juta
76● Alim Markus
Maspion Group
US$ 847 juta
75● Iwan Budi Brasali & Aldo Brasali
Brasali Group
US$ 847,8 juta
74● Hendro Gondokusumo
Intiland
US$ 851 juta
73● Amirsjah Risjad
Risjadson Group
US$ 852,7 juta
72● Heru Hidayat
Inti Agri Resources
US$ 853 juta
71● Wiwoho B Tjokronegoro
Indika Energy
US$ 855 juta
70● Sutanto Djuhar
First Pacific
US$ 857 juta
69● Agus Lasmono Sudwikatmono
Indika Energy
US$ 858,5 juta
68● Purnomo Prawiro
Blue Bird Group
US$ 861 juta
67● Tan Kian
Dua Mutiara
US$ 863 juta
66● AHK Hamami
ABM Investment Trakindo Group
US$ 865 juta
65● Sofjan Wanandi
Gemala Group, Santini Group
US$ 872 juta
64● Sudhamek
Garuda Food Group
US$ 872,8 juta
63● Soegiharto Sosrodjoyo
Rekso Group
US$ 873,8 juta
62● Bachtiar Karim
Musim Mas
US$ 882 juta
61● Desi Sulistio Hidayat & keluarga
Sido Muncul
US$ 884 juta
60● Harjo Sutanto
Wings Group
US$ 886 juta
59● Hanjaya Setiawan
Wong Kene Group
US$ 888 juta
58● Eko Suwanto
Suwanto Nusantara Jaya
US$ 888,6 juta
57● Kuncoro Wibowo
Ace Hardware
US$ 889,1 juta
56● Hutomo Mandala Putra
Humpuss
US$ 891 juta
55● Muki Tan
Rodamas Group
US$ 892 juta
54● Eka Tjandranegara
Mulia Group
US$ 893 juta
53● John Chuang
Ceres Indonesia, Petra Food
US$ 895 juta
52● Prajogo Pangestu
Barito Pacific Group
US$ 896,5 juta
51● Jan Darmadi
Jan Darmadi Group
US$ 897,2 juta
50● Osbert Lyman
Lyman Group: Property, plantations
US$ 898 juta
49● Jusuf Kalla & keluarga
Kalla Group
US$ 899 juta
48● Boenjamin Setiawan & keluarga
Kalbe Farma
US$ 899,3 juta
47● Sandiaga Uno
Saratoga, Recapital : Private equity, investment
US$ 900 juta
46● Alexander Tedja & Melinda Tedja
Pakuwon Group
US$ 902 juta
45● Benny Subianto
Persada Capital Group
US$ 905 juta
44● Hashim Djojohadikusumo
Arsari Group
US$ 1,030 miliar
43● Tomy Winata
Artha Graha Group
US$ 1,1 miliar
42● Luntungan Honoris
Modern Group
US$ 1,15 miliar
41● Johan Lensa
J Resources
US$ 1,26 miliar
40● Gunawan Jusuf
Sugar Group Companies
US$ 1,3 miliar
39● Handojo Santoso
Japfa Comfeed Group
US$ 1,52 miliar
38● Sugianto Kusuma (Aguan)
Agung Sedayu, Bank Artha Graha
US$ 1,53 miliar
37● Martias & Tjiliandra Fangiono
First Resources
US$ 1,55 miliar
36● Mu’min Ali Gunawan
Panin Group
US$ 1,57  miliar
35● Husein Djojonegoro
ABC, Orang Tua Group
US$ 1,61 miliar
34● Teddy Thohir & Garibaldi Thohir
TNT Group
US$ 1,642 miliar
33● Rusdi Kirana
Lion Air Group
US$ 1,65 miliar
32● Dato Low Tuck Kwong
Bayan Resources
US$ 1,68  miliar
31● Hartadi Angkosubroto & Husodo Angkosubroto
Gunung Sewu Group
US$ 1,75 miliar
30. Murdaya Poo & Siti Hartati Murdaya
Central Cipta Murdaya
US$ 1,78 miliar
29● Kartini Muljadi & Handojo S Muljadi
Tempo Scan Group
US$ 1,85 miliar
28● Suryadi Darmadi
Duta Palma Nusantara Group
US$ 1,88 miliar
27● Benjamin Jiaravanon & Jialipto Jiaravanon
Charoen Pokphand Indonesia
US$ 1,92 miliar
26● Lim Hariyanto Wijaya Sarwono
Harita Group
US$ 1,93 miliar
25● The Nin King
Argo Manunggal Group
US$ 1.95  miliar
24● Djoko Susanto
Sumber Alfaria Trijaya
US$ 1,985 miliar
23●  Aksa Mahmud
Bosowa Corporation
US$ 2,1 miliar
22● Ciputra
Ciputra Group
US$ 2,2 miliar
21● Jakob Oetama & Lilik Oetama
Kompas Gramedia Group
US$ 2,3 miliar
20● Haryanto Adikoesoemo AKR Corporindo
US$ 2,48 miliar
19● Hary Tanoesoedibjo
MNC Group
US$ 2,56 miliar
18● Eddy Sariaatmadja & Fofo Sariaatmadja
Elang Mahkota Teknologi
US$ 2,72 miliar
17● Edwin Soeryadjaya
Saratoga, Recapital, Plantation BB
US$ 3,6 miliar
16● Martua Sitorus
Wilmar International
US$ 3,8 miliar
15● Tahir
Mayapada Group
US$ 3,85 miliar
14● Peter Sondakh
Rajawali Group
US$ 3,87 miliar
13● Sjamsul Nursalim
Gajah Tunggal Group
US$ 3,88 miliar
12● Theodore P Rachmat Triputra Group, Adaro
US$ 3,9 miliar
11● Mochtar Riady
Lippo Group
US$ 4,2 miliar
10● Sukanto Tanoto
Royal Golden Eagle
US$ 4,8 miliar
9● Eddy William Katuari
Wings Group
US$ 4,85 miliar
8● Aburizal Bakrie
Bakrie Group
US$ 4,86 miliar
7● Putera Sampoerna
Sampoerna Strategic
US$ 4,865 miliar
6● Sri Prakash Lohia Indorama Group
US$ 4,87 miliar
5● Chairul Tanjung
CT Corp
US$ 5,7 miliar
4● Susilo Wonowidjojo
Gudang Garam
US$ 7,3 miliar
3● Eka Tjipta Widjaja
Sinar Mas Group
US$ 8,6 miliar
2● Anthoni Salim
Salim Group, First Pacific
US$ 10,2 miliar
1● Robert Hartono & Michael Hartono
Djarum, Group BCA
US$ 10,5 miliar
_______
🤦‍♂️🤭🙈🥴👌

Tidak ada Imam Besar adanya Imam Masjid


Liputan6.com, Serang - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten mengaku tidak mengenal imam besar, selain empat imam besar umat Islam, yakni Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah ramainya pemberitaan tentang dikukuhkannya Rizieq Shihab menjadi imam besar umat Islam Indonesia.

"Pokoknya enggak ada, enggak tahu-menahu adanya imam itu (Habib Rizieq). Ada juga imam yang empat besar itu," kata Ketua MUI Banten, KH. A. M. Romly, Rabu (11/01/2017).

Dirinya pun meminta semua pihak menghargai umat Islam yang terdiri dari berbagai golongan, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dengan demikian, perbedaan itu tidak memecah belah persatuan Indonesia.

"Ya umat Islam enggak ada imam-imam, ada juga imam masjid. Kalau MUI, enggak ada (tidak mengakui) imam besar umat Islam. Kita kan umat Islam bermacam-macam, punya aliran-aliran, punya paham sendiri," tegas dia.

Hal senada pun disampaikan oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banten yang meminta MUI untuk menelusuri terkait peredaran surat dukungan agar Habib Rizieq dijadikan sebagai Imam Besar Islam Indonesia. Pasalnya, umat Islam Indonesia dalam sejarahnya, tidak mengenal adanya imam besar tersebut.

"Sejarah Islam di Indonesia tidak mengenal terminologi Imam Besar Umat Islam Indonesia. Kami meminta kepada umat Islam untuk tidak menanggapi surat dukungan tersebut dan kepada MUI untuk menelusuri dan melakukan tabayun terhadap Habib Rizieq," kata Ketua GP Ansor Banten, Ahmad Nuri.

https://m.liputan6.com/news/read/2823771/mui-banten-tidak-ada-imam-besar-adanya-imam-masjid

===================
Artikel Tambahan

Petinggi Penegak Hukum RI Adukan Politikus Gegara Urusan Telepon di Pesawat



ANAK AMIEN RAIS MARAH2 DICABIN PESAWAT KRN DITEGUR ! PARAH...

Kepada Yth : pak DZ Dari : VP JKTDK CC: Pak DC, DI Perihal : Insiden keributan antar pax GA a643 GTO-UPG-CGK

1. Di laporkan pada tanggal 12 Agustus 2020 telah terjadi insiden keributan antar Pax GA 643 route GTO-UPG -CGK dengan data Flight sbb : No. Flight : ex GA 643. Route : GTO-UPG-CGK Sta /Ata : 17.40/17.15 Park : R99 Reg. A/C : PK-GFH

2. Kronologis insiden keributan pax adalah sbb :

       a. Berdasarkan info dari pax atas nama Pomolango Nawawi/Mr seat 06K (Wakil Ketua KPK), pada saat proses boarding di GTO ada satu pax seat 06A atas nama Muntas Rais Ahmad/Mr (anggota DPR RI/ Putra Bungsu Bpk Amien Rais) didapati sedang asyik menelpon di dalam Cabin Pesawat.

       b. Sesampainya di Station UPG saat proses boarding sedang berlangsung, pax an. Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A masih asyik menelpon, dan bahkan semakin keras. Saat itu Pesawat sedang proses refueling. Kemudian pax tersebut di tegur 2 kali oleh Cabin Crew namun tidak mengindahkan.
Ketika di tegur yang ke Tiga kalinya pax an. Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A justru marah dan membentak-bentak Cabin Crew.

      c. Pax di sebelahnya an. Pamolango Nawawi/Mr seat 06K mengingatkan agar patuh aturan dan jangan memarahi Petugas, akan tetapi Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A tidak terima dan berbalik marah-marah bahkan menantang ke Pomolango Nawawi / Mr.

      d. Pax yang di belakangnya an. Khaerul Salehu Pangeran/Mr seat 08K (diketahui sbg kawan Muntaz Rais Ahmad) meminta maaf kepada Pamolonga Nawawi/Mr dan di anggap selesai disaksikan Cabin Crew.

      e. Sesampainya di T3 CGK Pamolango Nawawi/Mr mendatangi dan melaporkan secara lisan kepada Kapospol Terminal 3.

 f. Pelaporan oleh Pamolonga Nawawi/ Mr tidak dihadiri oleh Muntaz Raiz Ahmad / Mr karena saat proses di sembark GA643 Cabin Crew tidak memberi info kepada Avsec T3

3. Hasil koordinasi VP JKTDK dengan Kapolres adalah sbb :

      a. Kapolres BHS akan meminta kerjasama pihak GA untuk menghadirkan Cabin Crew yang bertugas di fight tsb sebagai Saksi bilamana kasus tersebut di lanjutkan ke Ranah Hukum

      b. Kasus tsb adalah kasus Pelanggaran Undang-undang Penerbangan, maka kemungkinan kasusnya akan di limpahkan ke PPNS Perhubungan.

      c. Besok tgl 13 Agustus 2020 Kasatserse Polresta BSH telah di perintah untuk menghubungi pihak pax an.
Pamolonga Nawawi (Wakil Ketua KPK) untuk konfirmasi tindak lanjut laporan.

     d. Kepolisian akan mengedepankan Mediasi, namun bilamana Pelapor tidak berkenan maka kasusnya akan di proses sesuai dg ketentuan perundangan yg berlaku.

Demikian Ump.

Sumber
https://www.instagram.com/p/CD07JT2p8f3/?igshid=123cormjkfrp5

================================

Soal moral dan etika...terkadang memang tak memandang status sosial....ini contohnya.

ANAK AMIEN RAIS MARAH2 DI CABIN PESAWAT KRN DITEGUR! PARAH..

Kepada Yth: pak DZ Dari: VP JKTDK CC: Pak DC, DI Perihal: Insiden keributan antar pax GA a643 GTO-UPG-CGK

1. Dilaporkan pada tanggal 12 Agustus 2020 telah terjadi insiden keributan antar Pax GA 643 route GTO-UPG -CGK dengan data Flight sbb: No. Flight : ex GA 643. Route : GTO-UPG-CGK Sta /Ata : 17.40/17.15 Park : R99 Reg. A/C : PK-GFH

2. Kronologis insiden keributan pax adalah sbb:
       a. Berdasarkan info dari pax atas nama Pomolango Nawawi/Mr seat 06K (Wakil Ketua KPK), pada saat proses boarding di GTO ada satu pax seat 06A atas nama Muntas Rais Ahmad/Mr (anggota DPR RI/ Putra Bungsu Bpk Amien Rais) didapati sedang asyik menelpon di dalam cabin pesawat.
       b. Sesampainya di station UPG saat proses boarding sedang berlangsung, pax an. Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A masih asyik menelpon, dan bahkan semakin keras. Saat itu pesawat sedang proses refueling. Kemudian pax tersebut ditegur 2 kali oleh Cabin Crew namun tidak mengindahkan. Ketika ditegur yang ke tiga kalinya pax an. Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A justru marah dan membentak bentak cabin Crew.
      c. Pax di sebelahnya an. Pamolango Nawawi/Mr seat 06K mengingatkan agar patuh aturan dan jangan memarahi petugas, akan tetapi Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A tidak terima dan berbalik marah marah bahkan menantang ke Pomolango Nawawi / Mr
      d. Pax yang di belakangnya an. Khaerul Salehu Pangeran/Mr seat 08K (diketahui sbg kawan Muntaz Rais Ahmad) meminta maaf kepada Pamolonga Nawawi/Mr dan di anggap selesai disaksikan cabin Crew.
      e. Sesampainya di T3 CGK Pamolango Nawawi/Mr mendatangi dan melaporkan secara lisan kepada Kapospol Terminal 3 f. Pelaporan oleh Pamolonga Nawawi/ Mr tidak dihadiri oleh Muntaz Raiz Ahmad / Mr karena saat proses disembark GA643 Cabin Crew tidak memberi info kepada Avsec T3

3. Hasil koordinasi VP JKTDK dengan Kapolres adalah sbb:
      a. Kapolres BHS akan meminta kerjasama pihak GA untuk menghadirkan cabin crew yang bertugas di fight tsb sebagai saksi bilamana kasus tersebut dilanjutkan ke ranah hukum
      b. Kasus tsb adalah kasus pelanggaran undang-undang penerbangan, maka kemungkinan kasusnya akan dilimpahkan ke PPNS Perhubungan
      c. Besok tgl 13 Agustus 2020 Kasatserse Polresta BSH telah diperintah untuk menghubungi pihak pax an. Pamolonga Nawawi (Wakil Ketua KPK) untuk konfirmasi tindak lanjut laporan
     d. Kepolisian akan mengedepankan mediasi, namun bilamana pelapor tidak berkenan maka kasusnya akan diproses sesuai dg ketentuan perundangan yg berlaku

Demikian Ump

Sumber
https://www.instagram.com/p/CD07JT2p8f3/?igshid=123cormjkfrp5

==========================================

Perihal: Insiden keributan antar pax GA 643 GTO-UPG-CGK

1. Dilaporkan pada tanggal 12 Agustus 2020 telah terjadi insiden keributan antar Pax GA 643 route GTO-UPG -CGK dengan data Flight sbb:x

No. Flight : ex GA 643.
Route : GTO-UPG-CGK
Sta /Ata : 17.40/17.15
Park : R99
Reg. A/C : PK-GFH

2. Kronologis insiden keributan pax adalah sbb:
a. Berdasarkan info dari pax atas nama Pomolango Nawawi/Mr seat 06K (Wakil Ketua KPK), pada saat proses boarding di GTO ada satu pax seat 06A atas nama Muntas Rais Ahmad/Mr (anggota DPR RI/ Putra Bungsu Bpk Amien Rais) didapati sedang asyik menelpon di dalam cabin pesawat.
b. Sesampainya di station UPG saat proses boarding sedang berlangsung, pax an. Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A masih asyik menelpon, dan bahkan semakin keras. Saat itu pesawat sedang proses refueling. Kemudian pax tersebut ditegur 2 kali oleh Cabin Crew namun tidak mengindahkan. Ketika ditegur yang ke tiga kalinya pax an. Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A justru marah dan membentak bentak cabin Crew.
c. Pax di sebelahnya an. Pamolango Nawawi/Mr seat 06K mengingatkan agar patuh aturan dan jangan memarahi petugas, akan tetapi Muntaz Rais Ahmad/Mr seat 06A tidak terima dan berbalik marah marah bahkan menantang ke Pomolango Nawawi / Mr
d. Pax yang di belakangnya an. Khaerul Salehu Pangeran/Mr seat 08K (diketahui sbg kawan Muntaz Rais Ahmad) meminta maaf kepada Pamolonga Nawawi/Mr dan di anggap selesai disaksikan cabin Crew.
e. Sesampainya di T3 CGK Pamolango Nawawi/Mr mendatangi dan melaporkan secara lisan kepada Kapospol Terminal 3
f. Pelaporan oleh Pamolonga Nawawi/ Mr tidak dihadiri oleh Muntaz Raiz Ahmad / Mr karena saat proses disembark GA643 Cabin Crew tidak memberi info kepada Avsec T3

3. Hasil koordinasi VP JKTDK dengan Kapolres adalah sbb:
a. Kapolres BHS akan meminta kerjasama pihak GA untuk menghadirkan cabin crew yang bertugas di fight tsb sebagai saksi bilamana kasus tersebut dilanjutkan ke ranah hukum
b. Kasus tsb adalah kasus pelanggaran undang-undang penerbangan, maka kemungkinan kasusnya akan dilimpahkan ke PPNS Perhubungan
c. Besok tgl 13 Agustus 2020 Kasat



PELANGI INDONESIA ATAU KHILAFAH ?


Membuat umat makmur, jelas tidak!! Membuat Amerika sebagai boss kapitalis dunia senang, 100% benar.

"Loh koq?"

Perhatikan komentar petinggi CIA ketika AS "berhasil" memporak-porandakan Nigeria sebuah negara berpenduduk 170 juta di Afrika yang sangat kaya sumber daya alam terutama minyak, dengan menyuntikkan konsep Khilafah bersama Arab Saudi kepada rakyat negara itu dan kemudian mereka terjebak.

"Terima kasih kepada Boko Haram, setengah Nigeria kini di bawah hukum syariah, dimana ini menjadi alat yang mudah bagi kami untuk mengendalikan banyak orang."

"Berlakunya hukum syariah adalah tentang konsep, mudah mengendalikan banyak orang" itulah makna yang sengaja dihadirkan oleh para kapitalis dunia.

Dan benar, sejak saat itu Amerika memperkosa habis sumber daya alam Nigeria dengan hanya bermodal membuat senang segelintir pimpinan Bokoharam. Senjata dan kekuasaan.

"Rakyat?"

Cukup dengan janji jaminan masuk surga bagi mereka yang patuh, taat dan memuliakan para pimpinan yang mereka percaya sebagai utusan surga sudah membuat mereka bahagia.

Penculikan dan perkosaan anak-anak perempuan yang masih dibawah umur marak terjadi, dan itupun adalah bagian dari upah sorga selama di dunia.

Nigeria hanya satu contoh kasus saja. Ada Libya, Yaman, Suriah, Afghanistan,  bahkan Mesirpun tak luput dari bidikan. Semua di buat porak poranda.

Selalu terkait dengan minyak. Selalu terkait dengan moto siapa menguasai minyak, dia akan menguasai dunia.

Ketika sebuah perusahaan kelas kakap dunia yang bergerak dalam jasa ekslorasi, Halliburton dari AS mengetahui bahwa di laut Kaspia terdapat sumber gas alam dengan cadangan amat sangat besar, negara-negara disekitarnya dijamin hanya tunggu waktu, kacau!

Pernah dengar perang Bosnia? Dan kita, rakyat dari negara-negara muslim didunia dibawa masuk dalam emosi rasa "se-saudara" karena isu perang agama? Muslim dibantai Kristen?

Tahun 1990 di Bosnia, Kosovo, Azerbaijan, Uzbekistan, Degestan, hingga Chechnya, negara pecahan Unisoviet dengan mayoritas penduduknya yang muslim, dibuatkan isu perang agama.

Tiba-tiba kita sepakat bahwa saudara kita dibantai oleh masyarakat beragama lain dan kita marah.

Para petempur, para mujahid sisa perang Afghanistan tiba-tiba sudah berkmpul disana. Mereka hadir dan berperang demi agamanya.

Tapi, kita tidak tahu bahwa AS justru berhasil membangun jalur pipa sepanjang 1000 mil yang menghubungkan Azerbaijan (Laut Kaspia), Georgia, dan Turki, saat mereka sibuk saling bantai.

Tanpa kerusuhan yang diciptakan, impossible AS dapat membangun jaringan pipa tersebut. Tanpa sentimen agama, mustahil perang itu terjadi.

Semua tentang minyak. Semua tentang bagaimana menjadi penguasa dunia, dan minyak adalah jalan itu.

Perang tersebut mampu menggulingkan diktator yang pro-Rusia, menempatkan pemimpin yang pro-Barat dan dapat membantu mereka membangun saluran pipa minyak/gas, menyetujui penempatan markas militer AS dan yang terpenting, telah mengacaukan saluran pipa dan kepentingan Rusia sebagai musuh terbesar AS.

"Dan adakah satu saja Khilafah yang sudah berdiri atas cara-cara AS?"

Osama bin Laden dan Abu Bakar al-Baghdadi, keduanya pimpinan Al Qaeda dan Isis yang seharusnya menjadi imam besar atas umat yang dijanjikan, dibunuh. Mereka dianggap sudah tak berguna lagi.

Mereka berdua hanya orang bodoh yang terjebak dalam mimpi konyol atas kebesaran Khilafah yang sejatinya tak akan pernah lahir kembali.

Khilafah adalah dongeng tentang surga yang diajarkankan Arab Saudi, di mentori Amerika dan umat adalah tentang korban sampingan atas ketamakan perut tak pernah kenyang kapitalis.

"Khilafah Indonesia bagaimana?"

Phliphina, Thailand dan Indonesia adalah sasaran berikutnya. Asia tenggara adalah tentang posisi strategis kepentingan AS terhadap dominasi China, terutama di Laut China Selatan.

Pemberontakan di Thailand Selatan Pattani, akan selalu menjadi celah bagi tertuduhnya militer Thailand tentang konsep HAM. Hal yang sama, terjadi pada Philipina dengan Moro.

Ada sedikit saja indikasi Thailand mesra dengan Rusia, kerusuhan di selatan dijamin akan terjadi. Semua orang tahu, turisme adalah bisnis utama negeri Gajah Putih itu. Rusuh, bukan tempat ideal bagi kegiatan pariwisata.

Isu umat Buddha menganiaya Muslim tiba-tiba menjadi perseteruan yang tak pernah ada selesainya. Demikianlah cara AS dan Arab Saudi mengontrol Thailand.

Berbeda dengan Thailand dan Piliphina, mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim. Bukan dengan adu domba demi menarik simpati rasa persaudaraan muslim dunia digaungkan,  konsep khilafah disuntikkan pada mayoritas.

Sama dengan negara mayoritas muslim yang ada, mimpi khilafah akan selalu menjadi cerita dan harapan. Rakyat dibenturkan dengan negara dan negara dengan agama.

"Kenapa Indonesia?"

Sumber Daya Alam (SDA). Tak ada yang lain. Masa keemasan minyak mulai redup dan akan berganti dengan jaman dimana mineral bumi akan menjadi ujung tombaknya.

Ilmu pengtahuan mensyaratkan penggunaan material langka bagi penciptaan alat-alat mutakhir bertehnologi maju.

Kesadaran pemerintahan Jokowi akan peran penting mineral bumi bagi kemajuan Indonesia telah menempatkan banyak negara maju yang sangat tergantung pada tersedianya mineral langka menjadi kesulitan.

Pelarangan eksport dalam bentuk ore seluruh jenis mineral bumi, menjadi sandungan bagi banyak negara maju terutama AS dan Eropa.

Perang dagang AS dan China juga menempatkan posisi AS terkunci tak bergerak ketika logam tanah jarang (LTJ) sebagai ujung tombak bagi kemajuan perangkat tekhnologi militer AS dijadikan China sebagai senjata dalam perang dagang itu. China tidak mau ekspor LTJ ke AS.

Iran dan Indonesia adalah dua negara yang diperkirakan memiliki deposit luar biasa besar mineral langka itu. Sama dengan Iran, Indonesia juga dijadikan target oleh AS.

Berbeda dengan Iran, Indonesia tidak bermusuhan secara langsung dengan AS, maka menyerang langung Indonesia seperti yang selalu di umbar AS terhadap Iran, tidak dilakukan kepada Indonesia.

Dulu minyak adalah tentang siapa menjadi penguasa dunia, kini mineral bumi adalah kemana dunia akan bergerak. Indonesia sebagai negara paling kaya akan SDA terutama mineral bumi, tentu akan menjadi incaran.

Dulu Libya hingga Bosnia sebagai negara mayoritas muslim dibikin hancur dengan agama karena minyak yang mereka miliki, kini bukan hal mustahil Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar dunia dihancurkan dengan cara yang sama hanya karena SDA kita terutama mineral bumi yang dimilikinya.

"Apakah kita akan bernasib seperti Libya?"

Pada 3 Maret 1924, atau 96 tahun lalu, Majelis Agung Nasional Turki membubarkan Kekhalifahan Usmani. Peristiwa itu sekaligus menjadikan Usmani adalah kekhalifahan terakhir di muka bumi ini.

Mereka diruntuhkan oleh barat, mungkinkah pihak yang sama akan membuatkan bangunan yang sama, yakni bangunan khilafah yang dengan susah payah telah mereka hancurkan, hanya orang bodoh  yang mempercayainya.

Sementara kita sedang saling menghancurkan, saling membunuh, mereka merampok seluruh sumber daya alam kita seperti yang pernah mereka lakukan pada banyak negara yang lain.

Sesaat sang calon pemimpin khilafah Ge-Er karena sudah berjasa dan bersiap menjadi imam agung, sama seperti Osama bin Laden dan Abu Bakar al-Baghdadi, dia diekskusi dan mati dengan cara amat memalukan.

Mati sebagai penkhianat bangsa dan agama.

Kapitalis tak pernah butuh khilafah apalagi imam agung. Kapitalis hanya butuh uang, uang dan uang.

Bagi kapitalis, kelompok teror atas nama Islam adalah alat yang hebat untuk digunakan dalam perang proksi. Dengan biaya sedikit mereka mau berperang tanpa rasa takut.

Mereka adalah sumber daya global yang dapat dibawa dalam konflik lokal manapun. Mereka juga dapat dibuang.

Digunakan bila diperlukan, dan dimusnahkan bila tak lagi diperlukan.
.
.
.
RAHAYU
✍🏼 Karto Bugel

Wednesday, August 12, 2020

Sah, Ormas Anti Pancasila Pengurus dan Anggotanya Siap di Masukan ke Jeruji Besi

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan atas UU Ormas. Alhasil, sejumlah ancaman hukuman pidana bagi anggota ormas adalah konstitusional.

Pemohon meminta sejumlah pasal dihapus. Yaitu Pasal 82A ayat (1) dan ayat (2) UU Ormas selengkapnya menyatakan:

(1) Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) huruf c dan huruf d dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 1 tahun.

(2) Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) huruf a dan huruf b, dan ayat (4) dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun.

Menurut MK, pasal tersebut tidak bertentangan dengan UUD 1945.

“Seseorang meskipun menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas namun tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang sebagaimana diuraikan di atas maka orang yang bersangkutan bukanlah subjek yang diancam pidana sebagaimana
“Oleh karena itu, dalil para Pemohon yang didasarkan pada proposisi bahwa seseorang diancam pidana karena orang itu menjadi anggota atau pengurus Ormas padahal yang melakukan pelanggaran adalah Ormasnya adalah tidak benar,” ujar MK.

Berikut larangan yang diatur UU Ormas yang digugat:

1. Melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial.

2. Melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras atau golongan.
4. Melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia
5. Menggunakan nama, lambang, bendera dkk gerakan separatis atau organisasi terlarang.
6. Melakukan kegiatan separatis.
7. Menganut dan mengembangkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila.
Khusus point 3, 4,5,6 dan 7 dihukum penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun.***
https://www.jurnalpolisi.id/sah-ormas-anti-pancasila-pengurus-dan-anggotanya-siap-di-masukan-ke-jeruji-besi/

===============
ARTIKEL LAINNNYA:


https://www.portal-islam.id/2020/08/mui-ingatkan-banser-anda-sok-kuasa-jaga.html

MUI Ingatkan Banser : Anda Sok Kuasa !!! Jaga Adab Terhadap Ulama , Tidak Boleh Kyai Dibentak Bentak , Khilafah Ajaran Islam , Tidak Sama Dengan PKI

KONTENISLAM.COM  Sunday, August 23, 2020

Kasus penggerudukan yang dilakukan Banser Ansor ke salah satu lembaga pendidikan di Rembang, Pasuruan, Jawa Timur mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Wakil Sekjen MUI, Nadjamuddin Ramli mengingatkan kepada Ormas Banser Ansor untuk menjaga adab terhadap Ulama.

"Adinda tidak boleh seperti itu. Membentak-bentak Kyai itu bahkan polisi pun tidak boleh melakukan. Jadi ada adab. Tidak boleh anak-anak muda melakukan seperti itu kepada orang tua apalagi kepada Kyai. Anda sok kuasa, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Di negeri ini ada piranti hukum, ada kekuasaan Yudikatif, yang perlu kita hormati," kata Wakil Sekjen MUI Nadjamuddin Ramli di acara Kabar Petang TVone, Sabtu (22/8/2020).

Sebelumnya viral video puluhan anggota Banser Ansor yang menggeruduk lembaga pendidikan di Rembang yang dituding menyebarkan Khilafah dan menjadi sarang HTI.

Dalam video itu Saad Muafi, Ketua PC Anshor Bangil yang juga Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, membentak-bentak Ustadz Zainulloh atas tudingan menyebarkan Khilafah.

MUI: Khilafah Ajaran Islam, Tidak Sama dengan PKI

Terkait Khilafah yang dipersoalkan Banser Ansor, Wakil Sekjen MUI Nadjamuddin Ramli juga menjelaskan bahwa Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam, jangan disamakan dengan PKI.

"Saya kira dengan dibubarkannya HTI, Khilafah tidak menjadi sesuatu yang dilarang untuk didiskusikan, karena Khilafah adalah bagian daripada perjalanan sejarah Islam, bagian daripada ajaran Islam," ujarnya.

Nadjamuddin menyampaikan khilafah adalah bagian dari ajaran Islam dan telah diajarkan di
sekolah-sekolah, seperti Diniyyah, Madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.

"Bagi Islam kekhilafahan dan Khilafah itu memang patut diketahui oleh umat Islam seluruh dunia karena itu bagian dari sejarah Islam," ucapnya.

"Oleh karena itu, bicara tentang Khilafah tidak sama dengan komunisme. Ini jangan sampai salah paham. Jadi penegak hukum dan penguasa yang diberi amanah untuk menjadi pemerintah, kalau khilafah sistem pemerintahan Islam dan nama penguasanya atau al-imam adalah khalifah. Itu semuanya harus paham bagian daripada substansi ajaran Islam dan bagian dari sejarah Islam yang tidak sama dengan PKI, tidak sama dengan komunisme," ujarnya.

SUMBER

https://www.portal-islam.id/2020/08/mui-ingatkan-banser-anda-sok-kuasa-jaga.html

https://www.kontenislam.com/2020/08/mui-ingatkan-banser-anda-sok-kuasa-jaga.html

=====================

7 Langkah Menjadi Wahabi, WASPADALAH!!!

Paham wahabi yg kemudian disebut sebagai salafi, berubah lagi menjadi ahlus sunnah (tanpa wal jamaah); merupakan paham yg dapat mempengaruhi seseorang hingga pada tahapan paling ekstrim, virus ini bisa mengubah manusia yg awalnya pendiam menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.

Seperti bahaya laten yg tersembunyi, tiba2 menyerang seseorang (biasanya pondasi agamanya lemah) dan kemudian menjangkiti hingga mengubah pola pikir dan mengubah perilaku sehari2, namun anehnya dirinya sendiri tidak sadar sudah terinfeksi virus mematikan ini.

Bagaimana tahapan menuju ke sana? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan dan pengalaman pribadi, kita lihat tahapan2-nya:

1. Awalnya biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Mau bergaul dengan teman dan tetangga. Suatu saat tiba2 ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Ingin beragama dengan baik dan benar. Teringat dosa2 yg lalu, ingin bertobat dengan mulai meningkatkan ibadah. Biasanya tidak pernah sholat, menjadi rajin sholat 5 waktu.

Pada tahapan ini, semuanya seperti berjalan baik. Perubahan sikap untuk mendekatkan diri kepada agama.

2. Pola ibadah meningkat. Dari yg sholat 5 waktu di rumah mulai sering berjamaah ke masjid. Mulai rajin membaca al-quran. Rajin puasa dan sholat sunnah. Malah sering mengingatkan teman untuk ikut berjamaah ke masjid, membentuk kelompok tilawah bersama, membuat grup wa saling mengingatkan sholat tahajud dsb.

Tahapan ini masih berjalan baik. Everything is well.

3. Ibadah sudah meningkat, baik sunnah dan wajib dikerjakan dengan baik. Kemudian mulai berpikir dan berusaha mencari sosok guru/murobbi. Sering buka youtube mencari ceramah/kajian. Beli buku2 online. Tapi tidak sadar bahwa ceramah yg dibuka banyak dari ustadz wahabi. Buku2 yg dibeli dari penerbit wahabi.

Dari sinilah awal mula hal yg sudah berjalan baik sedikit demi sedikit bergeser ke arah yg tidak baik.

4. Dengan sering mendengar dakwah ustadz wahabi dan membaca buku wahabi, tapi tidak sadar bahwa apa yg didengar dan dibaca adalah wahabi; mulailah terdoktrin dan sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka dengan alasan mengamalkan sunnah nabi. Celana mulai digulung ke atas mata kaki, jidat mulai dibuat hitam, sering bicara dengan bahasa arab seperti antum, akhi, afwan, syukron, syafakillah. Intinya mengutamakan penampilan luar dalam beragama dan ingin terlihat alim dibandingkan orang lain.

Dari sini perilaku mereka sudah mulai eksklusif, sudah mulai menganggap diri dan kelompoknya paling benar. Mulai tertutup dengan teman dan tetangga, intens bergaul dengan sesama golongannya saja.

5. Mind set sudah terbentuk bahwa kelompoknya saja yg benar, kemudian ingin mengubah budaya dan ajaran leluhur yg selama ini ada dalam masyarakat pada umumnya. Sudah mulai menyerang amal ibadah muslim lain yg bukan golongannya. Kata2 "bid'ah, syirik, haram, sesat, kafir" mulai keluar dari mulutnya. Contohnya: Tahlilan diharamkan, ziarah kubur disyirikkan, sholawat dibidahkan dan sebagainya.

6. Saking seringnya membidahkan dan mensyirikkan amalan orang lain, membuat jiwanya semakin tertantang untuk meluruskan ibadah orang lain. Ingin semua orang yg dianggap sesat dan syirik itu "bertobat" dan mengikuti ajaran salaf versi dia. Dengan slogan "kembali ke al-quran dan sunnah" seolah2 mereka saja yg paling paham al-quran dan sunnah. Ketika kesombongan tersebut sudah merasuki jiwanya maka sering keluar kata2 "bertobatlah antum", "semoga antum dapat hidayah" kepada muslim lainnya. Seakan2 hanya dia dan golongannya yg mendapat hidayah Allah, menganggap bahwa Tuhan selalu berada di pihaknya. Inilah bentuk kesombongan yg tidak mereka sadari.

7. Tahapan paling ekstrim. Terbiasa mengkafirkan muslim lain yg tidak sepaham dengan dirinya. Setelah dikafirkan maka dengan mudah dihalalkan darahnya. Dengan alasan Berjihad atas nama agama, maka membunuh orang lain pun dianggap berpahala. Apalagi dibumbui dengan iming-iming mendapatkan surga plus 72 bidadari yg siap memuaskan nafsu mereka.

Inilah tahapan yg paling berbahaya. Agama  dijadikan alasan untuk membunuh manusia lain. Menjadikan mereka seperti zombie2 yang siap memangsa korbannya.

=====================

Ketika Agama Dipolitisasi dan Kebenaran Dimonopoli Demi Tujuan Kekuasaan

Bisa kita lihat, saat ini politisasi Islam pun masih berlangsung. Agama masih jadi primadona sebagai jalan politik kekuasaan. Contohnya nyata, HTI yang notabene sudah dibubarkan oleh pemerintah, masih eksis mempromosikan idea Khilafahnya.

Bahkan mereka menggunakan segala cara untuk membenarkan tujuan politiknya. Termasuk ingin menggulingkan kekuasaan yang sah dan menancapkan sistem pemerintahan baru, Khilafah Islamiyah (versi Hizbut Tahrir tentunya).

Selengkapnya:
https://www.hwmi.or.id/2020/08/ketika-agama-dipolitisasi-dan-kebenaran.html

Demi menggapai sebuah kekuasaan, dalam berpolitik tidak jarang kebenaran atas nama agama pun dimonopoli. Bukan sebuah kebenanran yang hakiki yang didapat, karenaa faktanya hanya akan mencatatkan torehan sejarah kelam dan pencorengan atas kemuliaan Islam yang Rahmatan lil Alamin. Buktinya adalah berikut ini.

Kembali menengok sejarah kelam dalam politik di masa lampau. Menurut ulama dan juga sejarawan Imam at-Thabari, setelah dibunuh, jenazah Sayyidina Ustman bin Affan, khalifah ke-3 yang diangkat pada tahun 644 terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”.

Ketika jenazah beliau disemayamkan, bahkan tak ada orang yang menshalati. Karena siapa saja dilarang menshalatinya. Jasad orang tua yang sudah berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya di patahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, akhirnya terpaksa jenazahnya dimakamkan di Hisy Kaukab, yaitu wilayah pekuburan Yahudi.

12 tahun kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan berujung pada pembunuhan dirinya. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, namun orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak pemerintahannya.

Kontestasi politik tidak berhenti disana. Bergantinya pemerintahan, pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali bin Abi Thalib pun dibunuh dengan pedang beracun. Khalifah ke-4 itu akhirnya wafat setelah dua hari kesakitan.

Siapakah pembunuhnya ? Teryata bukan orang Yahudi atau orang kafir tetapi orang islam sendiri yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi padahal ia dikenal pengetahuan agamanya luas, sangat taat dalam beribadah, ahli shalat, puasa, dan penghafal Al-Qur’an.

Karena telah membunuh khalifah Ali, sebagai hukumannnya ia juga mati ditebas pedang dan mayatnya dibakar. Kekerasan di balas kekerasan, nyawa dibalas nyawa. Tidak ada hukum yang beradab dalam kontek politik. Padahal islam tidak mengajarkan, namun politisasi agama punya dalil untuk melegalkan.

Pertanyaannya adalah, mengapa sampai orang islam membunuh Usman bin Affan yang jelas termasuk jajaran sahabat terbaik Rasulullah Saw dan beliau sendiri telah menjamin dia akan masuk surga.

Mengapa sampai orang Islam sendiri tega membunuh Ali bin Abi Thalib yang jelas masih kerabat Nabi dan juga menantu Nabi Muhammad Saw sendiri. Mengapa ?

Ternyata sumber masalahnya adalah politik kekuasaan. Ya, agama dipolitisasi demi tujuan kekuasaan. Mereka yang syahwat ingin berkuasa tega menebarkan fitnah dan ujaran kebencian terhadap penguasa. Tentu saja menggunakan dalil cocoklogi agama.

Akibatnya seperti halnya Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, karena tenggelam dalam fitnah Khawarij, ia menjadi pembunuh sodara Muslimnya sendiri.

Seagaimana sabda Rasulullah Saw, Khawarij adalah kaum yang banyak membaca Al-Qur’an namun tidak memahami apa yang dibaca. Bahkan memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari kebenaran. Merekalah sebetulnya musuh islam. Musuh peradaban.

“Akan lahir kaum dari keturunan yang bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati batas tenggorokan (tidak memahami substansi-substansi Al-Qur’an dan hanya hafal di Bibir saja).

Mereka keluar dari Agama Islam seperti anak panah keluar dari hewan buruannya, mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Jika aku menemui mereka niscaya aku akan memenggal leher mereka seperti halnya kaum ‘Ad (HR. Muslim)

Terbukti dalam sejarah, jika agama islam di politisir demi kekuasaan, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya “tak memperoleh penghormatan dalam ilmu, tak menonjol dalam karya dan industri”.

Yang terjadi kemudian adalah umat Islam hanya sibuk dengan urusan langit dan lupa akan bumi yang mengharuskan bersaing mendapatkan kemakmuran dengan jerih, iktiar atas dasar ilmupengetahuan dan teknologi.

Sementara masa-masa dimana kaum muslim bergerombol-gerombol hanya untuk merebut kekuasaan, adalah masa-masa kelam sejarah mereka. Politisasi agama islam output-nya hanyalah kumpulan orang yang tak henti menyalahkan lawan politiknya.

Bisa kita lihat, saat ini politisasi Islam pun masih berlangsung. Agama masih jadi primadona sebagai jalan politik kekuasaan. Contohnya nyata, HTI yang notabene sudah dibubarkan oleh pemerintah, masih eksis mempromosikan idea Khilafahnya.

Bahkan mereka menggunakan segala cara untuk membenarkan tujuan politiknya. Termasuk ingin menggulingkan kekuasaan yang sah dan menancapkan sistem pemerintahan baru, Khilafah Islamiyah (versi Hizbut Tahrir tentunya).(pecihitam.org)

www.hwmi.or.id

=========================










POSTER RIZIEQ SHIHAB DAN KEGAGALAN DAKWAH KAUM AROGAN


1. Poster Rizieq Shihab di pinggir jalan tidak akan pernah menciptakan simpati masyarakat terhadap gerakan yang mengatasnamakan Islam, malahan membuatnya semakin norak dan kampungan.

-UTAS-

2. Fenomena poster Rizieq Shihab adalah potret kegagalan  metode dakwah FPI mendidik mental simpatisannya agar bersikap elegan dan simpatik dalam beragama.

3. Poster HRS seringkali menggunakan klaim bahwa komunitas muslim di sebuah daerah tertentu mendukung HRS dg istilah Imam Besar Umat Islam, padahal itu klaim sesat dan kehaluan mereka. Memang siapa yg mengakui Rizieq jadi Imam? Apalagi Imam Besar.

4. Klaim ini seringkali mereka lakukan sebagai bentuk tekanan psikologis kepada siapa saja yang melihat poster itu. "Kami Siap Mendukung Imam Besar", "Kami Siap Jihad", "Umat Islam Jakarta Mendukung HRS", dll. Padahal Nol Besar.

5. FPI dan simpatisan HRS itu hanya mewakili 0,4 % dari total muslim di Indonesia. Hanya saja mulut dan emosi mereka memang lebih besar dari otak dan attitudenya, sehingga mereka terlihat mendominasi.

6. Permainan psikologis ini juga seringkali dimainkan mereka dg membuat poster yang berisi muka para tokoh mereka lengkap dg logo ormas yang beraneka ragam. Ya, hanya sekedar biar terlihat mereka didukung banyak orang. Padahal siapa mereka pun kita ga kenal!!

7. FPI dan simpatisan HRS ini memang dilatih untuk beragama secara arogan. Di tangan mereka,  agama menjadi media penyaluran emosi politik ketimbang sekolah ruhani dan perbaikan moral.

8. FPI dan simpatisannya terlatih untuk membuktikan kesalehan dengan teriak "Takbir", "Demonstrasi", "Poster HRS" dan semua penampakan beragama yang harus terlihat di ruang publik.

9. Jika kita perhatikan, maka sikap beragama semacam FPI ini sejatinya diciptakan dari mental inferior, kepanikan dan ketidakpercayaan diri terhadap sesuatu yg mereka teriakkan.

10. Agar terlihat superior, mereka lalu mengekspresikan cara beragama yang penuh emosi dan berapi-api. Padahal, superior itu bukan sikap, tapi mental.

11. Anda tau kenapa Singa ditakuti? Karena mereka diam. Dan anda tau kenapa Anjing sering menjadi mainan? Ya karena mereka suka menggonggong. Cukup paham kan?

12. Poster-poster Rizieq Shihab tidak akan menciptakan simpati di tengah masyarakat, malahan sebaliknya, masyarakat akan jengah dengan cara mereka beragama sebab norak dan kampungan.

13. Poster Rizieq Shihab juga tidak menciptakan persepsi apapun di tengah masyarakat selain  penilaian terhadap kejumudan dan kebodohan sebagian umat Islam.

14. Mungkin non muslim cuma tertawa renyah melihat kejumudan sikap beragama semacam itu sambil terus berantipati terhadap Ajaran Islam yang sejatinya Indah dan sangat modern.

15. Fungsi dakwah untuk memperkenalkan Allah dan kebenaran ajaran Islam terhijab dengan arogansi para tokoh, kader dan simpatisan FPI.

16. Saya tidak pernah mendengar  komentar dari HRS soal poster-posternya. Dia seperti sangat menikmati 'pengkultusan' simpatisannya terhadap dirinya. Dulu Fir'aun juga sangat menikmati pemujaan rakyatnya terhadapnya.

15. Jika Rizieq Shihab rendah hati dan mau mengajarkan yg benar kepada simpatisannya, seharusnya dia yg pertama kali melarang poster-poster provokatifnya dipajang oleh para simpatisannya. Sebab tidak ada kebaikan disana.

16. Jika tujuan FPI dan simpatisannya adalah simpati masyarakat dan tambahan suara di 2024, sepertinya mereka harus berhenti menggunakan cara-cara yg norak dan kampungan seperti itu.

17. Semakin kalian menggonggong, maka semakin kalian jauh dr harapan untuk mendulang simpati masyarakat terhadap dakwah kalian.

18. Dan tentu gonggongan kalian sangat merusak citra Islam sebagai agama yang modern, penuh Attitude dan nilai kebaikan. Sadarlah!!

SURAT TERBUKA Organisasi Papua Merdeka (OPM), Buat Presiden RI. JOKO WIDODO

gbr berantas coid

"Kami Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sebelumnya memberontak ingin berpisah dari NKRI, kini kami memutuskan kembali kepangkuan NKRI….."

"Setelah bertahun-tahun lamanya kekayaan alam kami dirampas, dikuras, dan diperas oleh Perusahaan-perusahaan tambang. Dampak tambang tersebut ekosistem alam kami jadi rusak sedemikian hebat. Otomatis kami protes dan memberontak, karena kami mencintai tanah warisan leluhur kami dimana jiwa kami telah menyatu dengan alam.
Rusaknya alam kami, berarti rusak jiwa raga kami.
Kami memberontak namun tidak berdaya melawan "senjata penguasa."
Kami hanya bisa melihat dari jauh, kami hanya bisa menangis menyaksikan Surga Kecil yang dianugrahkan Tuhan untuk kami jaga dan rawat, dirusak dan diperkosa oleh penguasa yang tamak.
Tanah yang telah turun-temurun kami diami, dikotori dan diporak-porandakan oleh tangan besi.
Penguasa menghunuskan senjatanya, membunuh saudara-saudara kami yang memberontak karena mempertahankan tanah warisan nenek moyang kami.
Entah kepada siapa lagi kami mengadu, tak ada yang peduli.
Melalui surat terbuka ini kami nyatakan, bahwa telah lama kami berDoa supaya lahir seorang Pemimpin yang mempedulikan kami, peduli terhadap tanah kami, nasib kami, penderitaan kami, dan masa depan kami. Kami percaya Tuhan tidak tidur…..(teruskan baca di bawah...)
https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/surat-terbuka-organisasi-papua-merdeka.html

Ketika kekayaan alam kami diambil, tanah kami dirusak, apa yang kami dapat? Nothing…
Kami seperti "sapi perah" bagi penguasa. Susu kami diperas dan kami ditinggalkan.
Tidak ada kompensasi nyata dari Penguasa membangun tanah kami yang katanya juga “Indonesia”.
Semua janji-janji pembangunan, janji-janji kesejahtraan, hanyalah janji-janji kosong. Buktinya nihil.
Kami sadar kalau kami sudah diperdaya oleh Penguasa yang kami harapkan, yang kami jadikan tempat mengadu dan bernaung. Sehingga kami yang dianak tirikan inipun putus asa, lalu kami berinisiatif melakukan perlawanan terhadap Penguasa dengan apapun yang kami punya, dan apapun yang kami tahu. Walaupun dengan senjata seadanya, tapi kami punya kekompakan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Tekad kami hanya satu, "Papua harus pisah dari NKRI"! Kami menyebut diri kami Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebagai kelompok pemberontak. Dan kamilah yang menulis surat terbuka ini supaya bisa sampai kepada Bapak Jokowi.
Tanah kami yang subur, yang berlimpah kekayaan alamnya, harus kami perjuangkan meskipun dengan menyabung nyawa.
Katanya “Indonesia” tapi kami tidak diperhatikan. Katanya "Indonesia" tapi kami dianak tirikan. Katanya "Indonesia" tapi tanah kami dijarah dan kami diabaikan.

Yang kami tahu Indonesia itu ada dipulau Jawa, bukan tanah Papua atau "Sabang sampai Meraoke seperti nyanyian Lagu Kebangsaan itu". Bukan…!
Buktinya dipulau Jawa saja yang lengkap fasilitasnya, lengkap pembangunannya, dan lengkap segala-galanya.
Harga BBM mencapai Rp120 ribu, kami tidak pernah Demo. Harga kebutuhan pokok tingginya selangit, kami tidak pernah Demo.
Kami tidak diajarkan untuk mengeluh dan menggerutu, kami ditempa menjadi pribadi yang tangguh untuk mampu manghadapi kerasnya kehidupan. Hingga kami terbiasa hidup dihutan, bangunan rumah hanya gubuk tanpa penerangan. Kami terbiasa hidup seadanya, kami terbisa hidup menderita, ya,, kami sudah terbiasa....

Kami tidak kenal bangunan rumah yang terbuat dari tembok semen, karena harga semen mencapai Rp 2 juta per shak. Tapi bukan berarti kami ingin terus menerus hidup seperti ini, kami juga ingin maju seperti yang lainnya. Kami juga ingin anak-anak kami kelak bisa merasakan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik dari kehidupan kami yang sekarang. Itu Doa kami…..

Ternyata Tuhan jawab Doa kami.
"Doa kami supaya lahir seorang pemimpin yang peduli dan mengerti dengan penderitaan rakyatnya yang nyaris putus asa itu, terjawab didiri Bapak Jokowi..."
Kehadiran Bapak Jokowi merupakan jawaban Tuhan atas Doa kami.
Pemimpin yang jujur dan adil ialah Bapak Jokowi.
Berkat kehadiran Bapak Jokowi, tanah kami dihargai, alam kami diperhatikan, kesejahteraan kami diperjuangkan, segala keluh-kesah kami, pergumulan kami, harapan kami, dan Doa-doa kami, semuanya terjawab.
Bukti nyata pembangunan dan infrastructure, juga program-program lainnya yang memajukan Papua, menumbuhkan harapan masa depan dan kesejahteraan bagi kami dan anak-cucu kami.

Kami Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sebelumnya memberontak ingin berpisah dari NKRI, kini kami memutuskan kembali kepangkuan NKRI…..

Bapak Jokowi adalah anugrah terbesar bagi kami masyarakat Papua.
Bapak sudah membangun tanah kami, dan kami akan membesarkan anak-anak kami dengan sehat. Kami akan memberitahukan kepada mereka (anak-anak kami) bahwa Papua juga bagian dari NKRI.
Dan yang lebih penting adalah, kami dengan bangga hati akan menceritakan kepada anak-cucu kami bahwa dulu ada seorang Presiden yang jujur, adil, dan berjasa besar bagi pembangunan ditanah Papua. Namanya Joko Widodo.

Sejarah ini akan menjadi legenda abadi dan tak terlupakan dibumi Cendrawasih……
Kami berjanji: Sepenuh hati, jiwa dan raga, mendukung Kepememimpinan Bapak Presiden Joko Widodo, untuk Indonesia lebih maju dan disegani oleh dunia internasional….
Terima kasih Bapak jokowi, kami anak-anak Papua menyatakan: Kau adalah “Bapak Papua"
GOD BLESS YOU Godfather Joko Widodo.
Salam Hormat.....
Share sebanyak banyaknya....🙏🙏🙏🙏
NASIHATCANGGIH.BLOGSPOT.COM
https://politikandalan.blogspot.com/2020/08/surat-terbuka-organisasi-papua-merdeka.html

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)