Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Ada Perubahan. Show all posts
Showing posts with label Ada Perubahan. Show all posts

Tuesday, June 23, 2020

Selamat Ulang Tahun Pak Jokowi


‼️ Kahiyang Ayu Bercerita 👌

21 Juni 1961 adalah hari kelahiran Presiden Jokowi, dan Minggu 21 Juni 2020 usianya genap 59 tahun.

Tentu tidak mulus perjalanannya dalam membangun Indonesia, apalagi saat ini dunia sedang menghadapi WABAH virus Covid-19 yang tidak bisa diprediksi datang dan perginya itu.

Pandemi ini jelas membuat Presiden Jokowi menghadapi tantangan PALING BERAT di antara Presiden Indonesia sebelumnya. Mungkin Allah sudah memilih orang yang tepat untuk menghadapi wabah ini dalam memimpin Indonesia.

Jika bukan Jokowi, apa berani mengeluarkan anggaran ratusan triliun demi rakyatnya, dengan risiko keuangan negara minus?
.
.
Bagaimana suara hati Kahiyang Ayu, anak perempuan satu-satunya Jokowi tentang bapaknya itu?

"Tidak jadi Presiden pun bapak tetap berkarya, hanya saja berkarya di lingkungan keluarga dan sekitarnya."

"Bapak selalu punya tekad sejak menjadi Walikota Solo untuk membantu banyak orang yang kekurangan, tapi bapak tidak punya banyak uang untuk menolong rakyat Indonesia yang masih kekurangan."

"Syukur alhamdulilah bapak ditakdirkan Allah menjadi Presiden saat Ini, agar bisa membantu banyak orang melalui uang negara, karena menurut bapak, itu uang rakyat Indonesia harus kembali ke rakyat. Itu saja tekad bapak."

"Agar rakyat sejahtera dan hidup berkeadilan menjadi rakyat Indonesia karena uang negara Itu haknya orang miskin atau yang sangat kekurangan."

"Karena bapak dulu pernah merasakan bagaimana menjadi rakyat kecil. Bapak lahir bukan berasal dari keluarga kaya atau keturunan keluarga yang sejak lahir sudah berkecukupan, tapi bapak tahir dari keluarga yang tidak punya apa-apa."

"Maka saat diberi amanah oleh Allah sejak menjadi Walikota, Gubernur hingga Presiden, bapak hanya menghabiskan waktu buat rakyat. Kadang aku bertanya dalam hati kapan bapak bisa bersama keluarga. Sabtu - Minggu pun bapak tetap bekerja...😢."

"Aku hanya bisa berdoa semoga bapak sehat selalu dan diberi kesabaran oleh Allah, maupun saat dihina dan dicaci tidak mengapa. Yang penting bapak bisa bantu banyak orang dan semoga jadi amal baik bapak kelak. Aamiin". 🙏💞🙏😷💋

#21Juni
#59TahunJokowi
#KahiyangAyu  🙏🙏


SELAMAT ULANG TAHUN, PAKDE JOKOWI..

Seorang teman dengan nada sinis berkata, "Jokowi dimatamu kayak manusia sempurna aja, gada salahnya. Setiap keputusannya, selalu kamu bela.."

Dan terakhir, dia menulis "cuihhh.." seperti sedang meludah. Mungkin jijik dgn persepsinya sendiri padaku, yang dia anggap sebagai penjilat atau orang bayaran pemerintah.

Ya, seperti biasa saya ketawa aja membaca ejekan seperti itu. Dia orang yang ke ratusan ribuan kali yang menghina seperti itu. Udah kebal, gak mempan dan kuanggap seperti kentut yang sedikit bau, tapi cepat berlalu.

Sebenarnya aku ingin seperti dia, mengkritik Jokowi sekeras-kerasnya. Biar tampak seperti pahlawan, pembela keadilan sosial atau apalah. Tapi selalu diakhir aku sadar, keadilan sosial itu selalu bermata dua, tergantung dari sudut mana memandang. Sudut kebencian atau sudut rasional ?

Bagaimana aku bisa menghantam seorang Jokowi yang membangun negeri ini dengan niat yang benar ? Lihat, baru kali ini kita mengalami pembangunan besar-besaran di seluruh daerah, bukan hanya di Jawa saja.

Dan menariknya, rakyat yang dulu selalu berontak saat tanahnya dipake untuk program pemerintah karena dibayar seadanya saja, sekarang berlomba-lomba menawarkan tanahnya, karena ketika dibeli pemerintah mereka malah tambah kaya. Lalu kenapa saya harus menghantam Jokowi jika dia berbuat baik pada rakyatnya ?

Dan lihat, bagaimana Jokowi mampu meredam mafia ekonomi, mulai pangan sampai migas yang selama ini merampok negeri ini ? Bagaimana Jokowi mampu mengembalikan Freeport dan tambang2 besar kembali ke pangkuan negeri dgn konsep kedaulatan Indonesia ?

Kalau saya mau nulis tentang apa yang Jokowi lakukan, tentu tidak cukup semua saya tulis disini. Semua program besar, punya visi kemajuan. Kalau ada masalah kecil, lalu apakah saya harus menghilangkan semua kebaikan yang pernah dia lakukan ??

Jokowi bukan manusia sempurna memang, seperti kita juga. Dia ada di tempat, dimana negeri ini rusak parah. Harusnya banyak orang paham, tidak mudah ada di posisi seperti dia. Dan berterimakasih, karena masih ada orang yang bersedia meluangkan waktu untuk memperbaikinya.

Mencaci itu mudah. Memberi penghargaan terhadap kinerja orang itu yang susah. Tidak semua orang paham visi besar seorang Jokowi, karena banyak orang bahkan tidak mengerti visi dirinya sendiri.

Lama saya sadar, bahwa saya sebenarnya bukan membela seorang Jokowi. Tetapi membela mimpi saya untuk negeri ini. Dan mimpi itu terwakili oleh sosok seorang yang tulus membangun negeri.

Biarlah temanku dan banyak orang lain dengan sakit hatinya. Mungkin mereka punya masalah ekonomi, tapi tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya. Paling gampang, cari kambing hitam, salahkan Jokowi saja..

Ah, sampai lupa. Besok beliau Ultah.

Selamat ulang tahun ke 59 Pakde Jokowi. Teruslah bekerja, yang lain serahkan ke kami saja. Karena kami juga tidak mau ketinggalan, ingin ikut berjuang denganmu walau hanya sibuk memerangi propaganda jahat di media sosial.

Kelak ketika engkau pensiun dan sudah tidak sibuk lagi, undanglah diriku ke rumah meski hanya disuguhkan secangkir kopi saja. Itu lebih dari cukup karena yang penting, ingin kudengar cita-citamu untuk Indonesia.

Seruputttttt....

Denny Siregar

---------------
JOKOWI DATANG, CALO BUBAR

"Paimo tuh, baru ok. Gak kaya Paijo, sama-sama direktur, gaji sama, masa jomplang banget hidupnya?

Paimo dan Paijo memang sama-sama menduduki jabatan direktur salah satu anak perusahaan BUMN, keduanya bergaji Rp 200 juta tiap bulan.

Paimo menghabiskan Rp 100 juta setiap bulannya untuk tagihan bank.  Cicilan dua mobil mewah untuk dua anak perempuannya dan sebuah motor Ducati bagi anak laki-lakinya, dan sebagian lagi untuk cicilan rumah.

Untuk memenuhi gaya hidupnya yang mewah dan demi eksistensinya sebagai seorang direktur, Paimo tak merasa sayang untuk memgeluarkan biaya sebesar hampir Rp 70 juta tiap bulannya.

Luar biasa Paimo...,dia sangat mengerti bagaimana menghargai hidup.

Sementara, Paijo juga memiliki tagihan bank sebesar Rp 120 juta tiap bulannya karena investasi tanah dikampungnya untuk keperluan kebun sengon dan usaha pabrik kayu lapis yang belum terlalu besar. Ketiga anaknya hanya memiliki motor biasa, itupun karena perhitungan ekonomis dibandingkan dengan harus naik kendaraan umum bagi kegiatan sehari harinya.

Rp 50 juta dia pakai untuk asuransi pendidikan ketiga anaknya, dan sisanya dia hemat bagi kebutuhan harian. Keluar makan, paling banyak hanya empat kali dalam sebulan.

Paijo hidup dengan sederhana, tak berbeda dengan banyak orang dilingkungannya.

Ketika keduanya pensiun, yakni setelah dua puluh tahun menjabat, Paijo sudah menjadi pengusaha besar. Asetnya berkali lipat dibanding hutang bank yang pernah dia ambil demi merintis usahanya.

Ketiga anaknyapun kini sudah sukses dan mereka semua mengecap pendidikan diluar negeri.

Paimo tidak miskin, dia masih tetap perlente dengan asesoris melekat pada tubuhnya. Tiga anaknya juga sudah bekerja, namun tak sehebat ketiga anak Paijo.

Hidup keluarga Paimo begitu-begitu saja, dia tidak miskin, tapi juga tidak berubah menjadi kaya. Dia mengalami hidup yang flat, datar dan tak banyak ada perubahan.

Mungkin, beginilah gambaran tentang makna "middle income trap" yang akan menempatkan Indonesia menjadi "middle income country" sebagai istilah bagi Indonesia yang tak akan beranjak menjadi negara maju bila tidak segera berbenah. Indonesia akan begitu-begitu saja.

Ini bukan ngarang, ini sebuah peringatan bank dunia kepada pemerintah Indonesia saat awal Jokowi memerintah di tahun 2014 silam.

Jokowi sebagai Presiden berbenah. Dengan memanggil Sri Mulyani pulang, Presiden berharap "Indonesia yang begitu-begitu saja" tak harus terjadi.

"Kurangi sunsidi, tambal kebocoran, budayakan hidup sederhana". Itulah yang diminta oleh Sri Mulyani. Bisa?

Sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal, Presiden langsung membayangkan betapa akan terjadi perlawanan besar dari banyak orang mapan yang selama ini menikmati kebocoran yang disengaja dalam banyak anggaran pemerintah.

"Kurangi sunsidi? Alamaak..." Gumam Presiden dalam hati.

Subsidi adalah lahan. Lahan bagi regulator, sekaligus lahan panen pujian bagi politisi yang akan didapatkan atas kebijakan populis dari rakyat.

"Budayakan hidup hemat?? Orang Indonesia harus hemat? Lha wong gaji banyak temenku cuma 5 juta belanjanya bisa 8 juta, ini malah suruh hemat? Mati aku..!", tak terasa Jokowi berbisik galau.

Indonesia yang miracle, bukan mitos. Banyak orang dengan struck gaji tercetak 5 juta tapi bisa punya tiga mobil bukan rahasia. Banyak orang yang kerjanya hanya nongkrong di depan kantor urusan publik, tak pernah kehabisan uang beli rokok.

Lantas kini Jokowi harus merubah itu? Pasti akan terjadi banyak konflik dalam lima tahun kedepan.

Dan itu sungguh terjadi. Jokowi tak memilih cara hidup Paimo yang menghabiskan seluruh pendapatannya dan terbukti telah membuat Paimo tak beranjak dari status "middle", menjadi Paimo yang kaya. Paimo terjebak dan tak pernah bangkit dari posisinya, bahkan saat dia sudah menjadi tua.

Benar adanya bahwa Paimo tidak lantas menjadi miskin, demikian pula Indonesia tak akan menjadi miskin hanya gara-gara subsidi dan membiarkan korupsi terjaga pada level seperti kemarin-kemarin.

Lebih-lebih, Jokowi dijamin tak akan di ungkit apalagi dijahilin, dan yang pasti, Jokowi juga akan terangkut menjadi orang yang sangat kaya bila dia membiarkan saja budaya yang sudah lama itu terus lestari.

Konyolnya, Jikowi memilih cara Paijo. Jokowi memilih seperti Paijo yang hanya membelikan motor biasa dan uang jajan seperlunya buat ketiga anaknya. Jokowi menginvestasikan uang yang dulunya bisa dibagi-bagi, dengan infrastruktur dan banyak regulasi baru.

Berbeda dengan  ketiga anak Paijo yang nurut saja meski hanya dikasi motor disaat anak tetangga pak Paimo bisa memiliki mobil mewah, banyak rakyat Indonesia berlaku marah pada tindakan Jokowi.

Banyak pejabat merasa dikhianati oleh Jokowi karena pendapatannya menurun drastis. Cara hidup yang lama telah mendarah daging, kini berubah. Ini bukan pilihan enak. Mereka marah!

Kini "miracle Indonesia" yakni bergaji 5 juta berbelanja 8 juta sulit ditemukan. Mereka yang hanya nongkrong dan menjadi calo, tak lagi bisa sepuasnya beli rokok.  Namun, rakyat dijamin tak akan kelaparan dan mati karena tak bisa berobat.

Hari ini, tanda-tanda bahwa Indonesia telah melangkah dengan benar, dan proses itu sudah berjalan selama lima tahun, telah menunjukkan hasilnya. Benar belum semua menikmati hasilnya, namun infrastruktur telah terhampar nyata bahkan didepan rumah kita.

Hari ini, hampir tidak ada kampung tak berlistrik dan ber"jalan", semua orang sudah dapat melakukan yang dulu mustahil.

Indonesia memang sedang berbenah, dan dalam berbenah, pasti ada yang harus dibuang dan dilempar ketempat sampah. Mereka yang dibuang ketempat sampah adalah mereka yang tak mau berbenah dan berubah.

Siapakah mereka? Yang masih ngamuk dan marah-marah.
.
.
.
Copas dr fb
.
.
Rahayu
Karto Bugel

---------------------

Pukulan Berat Jokowi Ditinggal Dua Menteri Saat Pandemi.

Gunjingan dan guyonan yang terus menerus dialamatkan kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mau tak mau memang membuat lelaki kelahiran Toba Samosir itu jengah juga. Ia sudah lelah berkali-kali dijuluki “Menkosaurus” alias Menteri Segala Urusan oleh netizen.

Julukan yang diberikan oleh netizen kepada Luhut tersebut sejatinya memang cukup beralasan dan tak salah-salah amat. Di luar bidang militer, Luhut setidaknya sudah pernah menjabat sebagai petinggi di lima kementerian atau setingkat kementerian. Dari mulai Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Staf Kepresidenan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Perhubungan (ad interim), sampai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Namun tetap saja itu cukup bikin jengkel Luhut. Apalagi julukan itu terus menerus diamplifikasi di sosial media.

Menurut Luhut, julukan dan aneka guyonan itu sungguh membuat dirinya cukup terpukul. Sebagai seorang prajurit, ia merasa sedih karena segala dan upayanya yang telah ia kerahkan selama ini untuk ikut membangun negeri ternyata justru berbuah guyonan murahan.

Pada akhirnya, Luhut sampai kepada keputusan yang tak banyak orang menyangkanya: mengundurkan diri.

“Saya akan mengundurkan diri,” ujar Luhut kepada awak media beberapa waktu yang lalu lobi gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Senin, 15 Juni 2020 lalu.

Pernyataannya tersebut tentu saja membuat beberapa awak media yang sejatinya sedang ingin mewawancarai Luhut perihal wacana pembukaan wisata konservasi di masa pandemi covid-19 langsung heboh.

“Saya tidak bercanda, saya ingin mengundurkan diri dari jabatan menteri, saya berencana akan menyampaikannya langsung secara resmi kepada Pak Jokowi tanggal 21 mendatang.”

Luhut mengatakan ingin fokus untuk menggeluti dunia pendidikan, dunia yang selama ini menjadi ladang pengabdiannya kepada masyarakat. Seperti diketahui, di kampung halamannya, Luhut membangun sebuah Politeknik Informatika dan yayasan yang fokus memberikan bantuan pendidikan untuk warga yang kurang mampu.

“Mungkin dengan kembali bergiat di bidang pendidikan, saya bisa lebih maksimal dalam memberikan sumbangsih bagi negeri ini. Saya ini prajurit, saya sudah disumpah untuk selalu berbakti kepada negeri ini, dan saya pikir, itulah bakti yang paling masuk akal untuk bisa saya lakukan,” terang Luhut.

Niatan untuk mundur dari jabatan menteri ternyata juga dirasakan oleh Menteri Kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto. Bedanya, jika Luhut berniat mengundurkan diri karena ingin mengabdi di bidang lain, Dokter Terawan justru ingin mundur karena ia merasa gagal dalam mengawal proses penanganan virus covid-19.

Seperti diketahui, Indonesia saat ini masih menjadi negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan kasus positif covid-19 yang sangat tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya ada lebih dari seribu kasus positif yang tercatat tiap harinya.

Per tanggal 20 Juni 2020 kemarin, setidaknya sudah ada 45.029 kasus positif covid-19 dengan 2.429 korban meninggal dunia. Angka ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Kurva penyebaran virus covid-19 juga masih belum melandai, bahkan cenderung memburuk.

“Saya pikir, adalah keputusan yang bijak jika saya mengundurkan diri. Masyarakat butuh kepercayaan yang baik terhadap pemerintah, dan kita tahu, saya tidak bisa menghadirkan kepercayaan itu. Saya dianggap tidak kompeten. Maka, akan sangat baik jika posisi saya digantikan oleh orang yang lebih bisa bikin masyarakat percaya,” ujarnya setelah rapat kerja bersama Timwas Covid-19 DPR RI di Kantor Kemenkes, Rabu, 17 Juni 2020 lalu.

Kepada awak media, Dokter Terawan mengatakan bahwa ia ingin fokus membantu proses percepatan penanganan Covid-19 namun dalam kapasitasnya sebagai seorang tenaga kesehatan, bukan sebagai menteri.

“Mungkin akhir pekan ini saya akan menemui Pak Jokowi untuk membicarakan hal ini,” terangnya.

Dokter Terawan mengatakan bahwa masyarakat butuh figur yang bisa menenangkan. Ia kemudian mencontohkan bagaimana kondusivitas komunikasi di media tentang Gugus Tugas yang perlahan mulai membaik setelah Dokter Reisa ditunjuk menjadi salah satu tim komunikasi Gugus Tugas.

“Indonesia butuh sosok yang lebih baik untuk mengawal pandemi ini.”

Niat mundur dua menteri tersebut ternyata tak main-main. Minggu pagi, 21 Juni 2020, Luhut dan Terawan ternyata benar-benar menemui Jokowi di Istana Negara.

Menurut keterangan Setkab Pramono Anung, keduanya diterima oleh Jokowi di ruang kerja Jokowi.

Kepada Jokowi, dengan disaksikan oleh Pramono Anung dan beberapa staf, Luhut dan Terawan mengungkapkan niat mereka untuk mengundurkan diri.

Wajah Jokowi yang sebelumnya tampak ceria mendadak layu mendengar penjelasan kedua menterinya itu.

“Kok ya sekarang, Mbok ya nunggu pandemi selesai,” kata Jokowi dengan nada bicara khasnya.

“Nggak bisa, Pak. Lebih cepat lebih baik,” jawab Dokter Terawan.

“Betul, Pak,” kata Luhut.

“Ya sudah, siang nanti akan segera saya pikirkan. Tapi yang jelas, saya belum bisa menerima secara resmi pengunduran diri kalian.”

“Siap, Pak. Yang penting kami berdua sudah menyampaikan maksud dan niatan kami.”

Dokter Terawan, Luhut, Pramono Anung, dan beberapa staf yang ada di ruangan pun kemudian keluar dari ruangan dan meninggalkan Jokowi yang tampak gusar.

Tentu bukan perkara susah bagi Jokowi kalau sampai ada menterinya yang mengundurkan diri. Dirinya pasti punya rekomendasi sosok yang mampu menggantikan mentrinya yang mengundurkan diri. Namun kalau yang mundur dua menteri sekaligus, apalagi di masa sulit seperti sekarang ini, tentu hal tersebut bisa menjadi preseden yang buruk bagi pemerintahannya.

Jokowi pun kemudian keluar dari ruangannya dan berjalan menuju beranda Istana.

Belum juga jauh beranjak, mendadak dari arah samping, sudah datang Luhut dan Terawan membawa kue. Lagu “Selamat ulang tahun” dari Jamrud pun langsung terdengar keras dari sound system di sebelah ruang kerja presiden.

“Selamat ulang tahuuuuuuuun…” kata Luhut.

Jokowi kaget tak terkira. Ia kemudian melemparkan pandangannya ke samping, di sana, sudah ada banyak orang yang berkumpul menyambutnya, termasuk beberapa menteri dan anggota staf kepresidenan. Semuanya kompak memakai topi kerucut.

Jokowi yang sedari tegang dan tampak gusar kini tampak sebal dan jengkel.

“Jigur, kena lagi,” kata Jokowi sambil menepok jidatnya. “Kalau sampai tahun depan kamu berani begini lagi, nggak perlu mundur, langsung tak pecat kamu, Hut!”

“Ampun, Booos!” kata Luhut sambil merenges.

Sungguh sebuah adegan yang menarik.

Selamat ulang tahun ke-59 Pak Jokowi.
.
(Tenan pora...?)

============================


Thursday, October 10, 2019

SUDAH DUA BULAN PSI TUNTUT TRANSPARANSI ANGGARAN, ANIES BERGEMING

Siaran Pers Fraksi PSI DKI Jakarta

SUDAH DUA BULAN PSI TUNTUT TRANSPARANSI ANGGARAN, ANIES BERGEMING

JAKARTA, 9 OKTOBER 2019 – Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DKI Jakarta menyayangkan sikap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang terus menolak membuka dokumen anggaran ke publik. Anggota DPRD PSI William Aditya Sarana menilai upaya menutupi proses penyusunan dan pembahasan anggaran sebagai kemunduran dan bertentangan dengan asas pemerintahan yang baik.

“Ini sebuah kemunduran dalam pengelolaan keuangan daerah. Saya bingung apa susahnya dokumen anggaran diupload ke publik seperti biasanya. Kalau memang Pak Anies peduli dengan transparansi, seharusnya setiap tahapan penganggaran ada dokumen yang diupload di website apbd.jakarta.go.id. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” tegas William.

PSI juga secara resmi telah bersurat kepada Pemprov DKI tertanggal 9 Agustus 2019 meminta agar dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020 dibuka ke publik. Dua bulan berlalu, hingga kini permintaan tersebut belum dikabulkan.

“Partai sudah bersurat meminta secara resmi, tolong dokumen anggaran dibuka ke publik. APBD 2020 ini besar sekali, hampir 100 triliun Rupiah. Kalau dokumen itu tidak dibuka, bagaimana bisa rakyat mengkritisi dan menyampaikan aspirasi terhadap apa yang Pemprov susun? Kami minta semua dibuka supaya terang benderang,” tambah William.

Sebelumnya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta berkilah dokumen KUA-PPAS 2020 tidak dapat dibuka ke publik karena belum sah menjadi produk hukum final. William menilai pandangan tersebut salah dan mengada-ada karena publik harus mengetahui seperti apa isi dokumen KUA-PPAS susunan eksekutif agar bisa membandingkan versi awal dan versi akhir hasil pembahasan DPRD, sehingga jelas apa yang berubah di tahap pembahasan.

“Sekarang ini jangankan dokumen KUA-PPAS usulan eksekutif, dokumen RKPD 2020 yang sudah resmi dan final juga tidak ada. RKPD kan sudah final, seharusnya file itu sudah ada di apbd.jakarta.go.id. Kenyataannya, itu tidak ada. Sama sekali tidak ada transparansi,” ujarnya.

William juga telah mengkritisi beberapa anggaran kegiatan yang naik drastis seperti anggaran Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), belanja software antivirus, renovasi rumah dinas Gubernur dan perbaikan sanitasi perkampungan. Ia menilai banyak sekali kegiatan-kegiatan yang perlu dikritisi mendalam karenanya publik harus punya akses terhadap anggaran kegiatan yang nilainya mencapai total sekitar 96 triliun Rupiah. Hingga hari ini, fase pembahasan belum dimulai dan publik masih buta terhadap rincian usulan eksekutif.

“Warga Jakarta berhak tahu bagaimana Pemprov menggunakan uang rakyat dalam APBD 2020. Kami minta pembahasan APBD segera dimulai karena tidak mungkin semua kegiatan ini bisa efektif dibahas di DPRD hanya dalam satu bulan. Ini bukan uang Gubernur atau DPRD, ini 96 Triliun uang rakyat! Semua tahapan harus transparan, publik jangan disuruh terima jadi saja di ujung,” tegas William.

Berdasarkan aturan Kementerian Dalam Negeri, APBD 2020 sudah selesai disahkan DPRD paling lambat 30 November 2019. Namun, hingga saat ini pembahasan di DPRD juga masih belum ada tanda akan segera dimulai.


Kontak Media:
WILLIAM ADITYA SARANA
Anggota DPRD DKI Jakarta
Partai Solidaritas Indonesia
0818-951-637

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)