Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Brantas Korupsi. Show all posts
Showing posts with label Brantas Korupsi. Show all posts

Tuesday, December 1, 2020

Modyar! William PSI Bongkar 3,2 T APBD DKI Tak Digunakan Anies untuk Corona!


Modyar! William PSI Bongkar 3,2 T APBD DKI Tak Digunakan Anies untuk Corona!

Nasib Anies rupanya sudah di ujung tanduk. Ambisi menjadi RI 1 hanya akan menjadi angan-angan belaka. Apalagi ada kabar backingannya kini jadi saksi meringankan tersangka korupsi. Anies yang berjuang melawan corona harus terpojok lantaran ulahnya sendiri. Setelah kejanggalan dana bansos DKI dibongkar 3 menteri, kini giliran William membongkar kejanggalan peruntukan APBD yang ternyata tak dimaksimalkan oleh Anies.

Sebelumnya juga heboh permintaan uang 700 milyar oleh Anies untuk pembelian lahan RTH. Padahal DKI sendiri mengaku kalau tak memiliki dana untuk jutaan warga miskin yang terdampak corona, makanya meminta bantuan pusat. Tapi anehnya masih ada permintaan ratusan milyar untuk hal lain.
 
Seperti dilansir tribunnews.com, William Aditya Sarana PSI bongkar cara janggal Anies Baswedan potong APBD atasi Virus Corona.

Politikus Partai Solidaritas Indonesia atau PSI, William Aditya Sarana kembali mengomentari APBD DKI Jakarta. Kali ini, William Aditya Sarana mengkiritisi alokasi APBD untuk penanganan Virus Corona atau covid-19.

Menurut dia, ada sejumlah kejanggalan dari pemotongan anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk penanganan pandemi.( teruskan baca berita penting di bawah... πŸ‘‡)

Hal itu ia sampaikan dalam kanal YouTube William Aditya Sarana, diunggah Sabtu (16/5/2020).

"Saya mau blak-blakan," ungkap William Aditya Sarana.

Ia menuturkan besarnya anggaran yang dibutuhkan Pemprov DKI Jakarta untuk penanganan covid-19.

"Jadi sebenarnya berdasarkan Pergub terbaru yang diberikan Pak Anies ke DPRD, Pak Anies membutuhkan uang sebesar Rp 2,8 triliun untuk penanganan covid-19," jelasnya.

Biaya triliunan rupiah itu didapat dari pemotongan anggaran belanja lainnya.

"Uangnya dari mana? Uangnya adalah hasil dari potongan-potongan anggaran yang harusnya dibelanjakan untuk sesuatu yang lain, lalu dibelanjakan untuk covid-19," kata William.

Hal yang menjadi janggal bagi William adalah anggaran pembelian ruang terbuka hijau (RTH) yang tidak banyak dipotong.

Sebelumnya, pembelian RTH dianggarkan sebesar Rp 1,5 triliun.

Namun dari jumlah yang banyak itu hanya dipotong Rp 24 miliar.

"Pertanyaannya, uang Rp 300 miliar RTH itu seperti apa?" ungkap William.

"Sebenarnya uangnya itu bukan Rp 300 miliar, tetapi ada Rp 1,5 triliun untuk belanja ruang terbuka hijau," lanjut dia.

"Hanya dipotong sebesar Rp 24 miliar dari Rp 1,5 triliun itu untuk dimasukkan dalam penanganan covid-19," papar William.

Selain itu, Anies Baswedan masih tetap menjalankan program Formula E yang menuai polemik.

"Yang menjadi ironi adalah Pak Anies membayarkan commitment fee Formula-E Rp 500 miliar," kata William.

Selain itu tunjangan kerja daerah (TKD) aparatur sipil negara (ASN) turut dipotong untuk membantu penanganan covid-19.

"Lalu rencana untuk memotong TKD ASN sebesar 50 persen," ungkapnya.

"Seharusnya kita bisa terlebih dulu memotong anggaran Rp 1,5 triliun untuk RTH," kata William.

William Aditya Sarana menyebutkan masih ada anggaran untuk pembuatan trotoar dengan jumlah besar yang dapat dipotong.

Menurut dia, anggaran tersebut dapat lebih dulu dipotong daripada mengorbankan biaya TKD.

"Lalu ada juga Rp 1,2 triliun untuk trotoar," kata William Aditya Sarana.

"Jadi tidak perlu memotong anggaran dari TKD ASN kita," jelasnya.

"Mengapa Pak Gubernur terlebih dulu mengorbankan ASN-nya?" tanya dia.

William Aditya Sarana menilai banyak proyek yang dapat diundur sehingga dianggarkan kembali tahun depan.

Padahal banyak proyek yang seharusnya bisa dipotong, kita tunda tahun depan.

"Kita fokus dulu untuk penanganan covid-19," tegas dia.

"Ada RTH Rp 1,5 triliun, lalu ada trotoar Rp 1,2 triliun, ada Formula-E Rp 500 miliar.

"Ini yang seharusnya difokuskan Pak Gubernur," papar William.

Penjelasan William ini sekaligus membongkar kenyataan bahwa Anies tak benar-benar serius menangani corona di Ibukota. Pernyataannya tentang permintaan rapid test sejak Januari yang ditolak pusat atau adanya perbedaan data kematian akibat corona yang berbeda dengan pusat nyatanya cuma sandiwara.

Anieslah yang paling tahu hatinya sendiri. Para media cuma dibayar untuk memberitakan pernyataannya. Tapi Tuhan tidak tidur, lambat laun kebusukan DKI 1 akan terbongkar satu persatu.

Setelah kejanggalan bansos yang tak tepat sasaran dan adanya permintaan tak masuk akal DKI kepada pemerintah pusat terbongkar, kini giliran peruntukan APBD. Uang triliunan yang harusnya bisa digunakan mengatasi dampak corona termasuk menstimulus usaha mikro malah digunakan hal yang tidak penting.

Anies hanya ingin semua orang mengakui dirinya paling prihatin dengan adanya corona. Lagu lama rezim SBY yang mengaku didzolimi Mega ia putar kembali. Seolah-olah dirinya dijegal Jokowi dan menterinya. Padahal dirinya sendiri yang tak becus kerja. Saat Jateng dan Jabar bisa mengganggarkan APBD untuk corona lebih besar dari DKI dan tak mengemis ke pusat, harusnya kita tahu kalau Anies hanya main sandiwara.

Dana yang ada tak ia maksimalkan karena tujuan jahatnya hanya menyalahkan pusat untuk setiap kegagalan di DKI. Semoga saja Jokowi dan jajarannya diberikan jalan mengatasi corona di negeri ini serta dilindungi dari fitnah Gubernur dzolim yang ngaku paling sholeh.
Begitulah kura-kura.
Referensi:
https://kaltim.tribunnews.com/2020/05/18/blak-blakan-william-aditya-psi-bongkar-cara-janggal-anies-baswedan-potong-apbd-atasi-virus-corona
https://www.google.com/amp/s/amp.suara.com/news/2020/05/16/021000/anies-minta-anggaran-rp-700-miliar-untuk-beli-lahan-di-tengah-corona

Wednesday, November 25, 2020

Pesan JOKOWI tak pernah terungkap yang membuat BISNIS keluarga JK-CHAPLIN kering pelan2


Pesan JOKOWI tak pernah terungkap yang membuat BISNIS keluarga JK / CHAPLIN kering pelan2 tapi pasti.  πŸ‘‡πŸΌπŸ‘‡πŸΌπŸ‘‡πŸΌ

Pesan JOKOWI yang tak pernah terungkap yang bikin BISNIS Keluarga JK / CHAPLIN KERING dan AMBROL 24 November 2020.

Politisi  Gaek JK / CHAPLIN yang dua kali menjabat Wapres..., di era SBY & era JOKOWI..., dan sekali sebagai Calon Presiden Memiliki Group Bisnis yang Super Raksasa.

Kalla Group..., 
Bisnis Kalla Group fokus pada Infrastruktur..., seperti usaha Pembangunan Aspal..., di PT Bumi Karsa atau Di PT Bukaka Teknik Utama yang fokus membangun Tower dan Jembatan.

Selain itu..., salah satu bisnis  keluarga JK / CHAPLIN di kancah Nasional adalah Group Bosowa.
Group ini merupakan salah satu bisnis milik Keluarga Aksa Mahmud..., yaitu Adik ipar dari JK / CHAPLIN. 
Aksa Mahmud menikahi dengan Ramlah Kalla adik dari JK / CHAPLIN.

Bosowa Group didirikan pada tahun 1973 di Makassar..., Sulawesi Selatan. 
Nama Bosowa berasal dari nama Tiga Kerajaan Bogis Yaitu : BONE..., SUPPENG..., dan WAJO.

Bosowa bergerak di enam group yaitu : Otomotif..., Semen..., Pertambangan & Energi..., Jasa Keuangan..., Properti dan Pendidikan.(lanjutkan baca narasi berikut di bawah .,...πŸ‘¨πŸ‘‡ )

Selain menjalankan Group Usaha Inti..., Bosowa juga menjalankan sejumlah Proyek perintis di bidang Media..., Olahraga..., dan Agrokultural.

Dilihat dari Bisnis Inti dan lain nya..., nampak betul bahwa bidang tersebut betul - betul sangat di genjot kemajuannya di bawah Pemerintahan Presiden JOKOWI.

Misalnya dengan getolnya JOKOWI membangun Insfrastruktur di seluruh wilayah hingga pelosok Indonesia.

Jalan Tol dimana- mana..., Pembangunan Pelabuhan..., Bandara yang Super megah..., Jembatan Yang Megah..., hingga pos lintas batas semua berdiri gagah bahkan Tol Laut pun begitu membahana.

Bayangkan berapa ribu ton semen yang dibutuhkan untuk pembangunan itu semua.
Padahal tau nggak...,
salah satu Bisnis Bosowa adalah Semen..., tapi Bosowa sama sekali tidak kebagian proyek - proyek pada Pemerintahan Jokowi.

KENAPA ...?
Ini karena ada Sebuah Pesan dari JOKOWI ke JK / CHAPLIN di Tahun 2014 sebelum JOKOWI memilih JK / CHAPLIN menjadi Cawapres.

_Pesan Jokowi Yang Singkat Itu Betul - betul mengunci Semua bisnis Keluarga JK / CHAPLIN...!!!

Pesan itu di dengar sendiri oleh Penulis Saat di Tim Pemenangan yang di Pimpin oleh :
"Patih Kepercayaan" nya JOKOWI.
Beliau bercerita bahwa JOKOWI sudah memilih JK / CHAPLIN sebagai Wapres 2014..., 

mengatakan begini...,

"Pak JK saya sudah memilih Pak JK Sebagai Cawapres saya..., tapi..., nanti semua Bisnis pak JK tidak boleh ikut Project-  Project Pemerintah dan JK / Chaplin pun berjanji menyanggupi nya.

Ok..., dalam perjalanan waktu setahun..., dua tahun..., tiga tahun..., berjalan Pemerintahan JOKOWI di Periode Pertama..., bayangkan berapa banyak Bosowa kehilangan kesempatan bisnis nya..., padahal seharus nya seperti di Era SBY..., JOKOWI harus diam dan main gitar serta menciptakan lagu..., tapi JOKOWI malah menggeber Infrastruktur di seluruh penjuru Indonesia..., seharus bisa menumpuk pundi - pundi kekayaan nya keluarga JK / CHAPLIN.

Maka kita bisa lihat bukan di Tahun 2017 kita bisa melihat saat Anies Baswedan merebut Kursi DKI 1 dari AHOK..., yang kampanye mulai dari isu SARA yang menjual Ayat dan Mayat..., serta Anies ke Balai Kota dengan Helikopter dari Aksa Makhmud pada hari pertama Anies sebagai Gaberner (Governor..., red).

Dari situ terang benderang..., Aksa Makhmud dan tentu saja JK / CHAPLIN ada dibelakang Anies Baswedan.

Ada BENANG MERAHNYA...!!!

Bisnis Keluarga JK / CHAPLIN mulai kering dengan pesan "kuncian" JOKOWI ke JK / CHAPLIN.

Jangan heran bila th.2020 Bosowa di tuntut 7,02 Triliun ( US$ 484,42 million) oleh Qatar Nasional Bank (QNB)..., karena uang _US $ 352.906.689,53 untuk Fasilitas A.

Dan US $ 131.512.474, 33 untuk Fasilitas B yang belum dibayar kan meski sudah jatuh tempo.

Sebelum nya Bosowa juga memiliki Kredit Macet kepada Bank BRI dengan nilai lebih kurang Rp 4 triliun per 28 Juni 2020.

Kredit tersebut setidaknya diberikan kepada 10 anak perusahaan milik pengusaha Aksa Makhmud.

Paham kan kenapa sekarang JK / CHAPLIN selalu ngrecokin Kinerja JOKOWI...!!!

# Saya Bersama Jokowi # 

TENTANG PENANGKAPAN EDHY PRABOWO

 

TENTANG PENANGKAPAN EDHY PRABOWO

Edhi Prabowo ini kalau dalam daftar menteri kabinet Jokowi, memang wajar termasuk yang teratas dalam prioritas penangkapan KPK. Prabowo Subianto, sebagai juragannya, terlalu mengambil resiko ketika menempatkannya di Kementrian Kelautan dan Perikanan. 

OK, itu keputusan Jokowi sebagai pemilik hak prerogatif. Tapi, membiarkan anak asuhnya ini di "sektor yg sensitif" begini semestinya bisa diantisipasi sejak dini.

Harusnya PS sadar bahwa menteri yg digantikannya adalah "public darling". Susy Puji Astuti dalam istilah saya dia ini adalah profiling "Jokowi Perempuan". (teruskan baca narasi di bawah ini... πŸ‘‡)

Dia adalah menteri terbaik yang dimiliki Jokowi pada periode pertamanya menjabat sebagai presiden. Prestasinya tidak main2, kelasnya dunia. Untuk pertama kalinya, negara Indonesia naik kelas: berani bersikap tegas. Membuat laut Indonesia sebagai halaman yg steril dan berdaulat dari para maling. Jadi relatif steril dari pencurian ikan. 

Menenggelamkan kapal adalah metoda praktis dan efektif yg saya pikir akan selamanya dikenang dunia. Nyaris tanpa kontoversi hukum yg berbelit. Sama sekali tidak melanggar HAM. 

Mungkin, dari sini, lahir peribahasa baru: hancurkan pancingnya, penjarakan pelakunya. Tampak sederhana, tapi efek jeranya luar biasa. Bagaimana, mau mencuri lagi. Kalau alatnya sudah dihancurkan. Bikin kapal lagi? Halah!

Sialnya Si EP ini, sejak awal sudah menunjukkan kecongkakannya. Karakter dasarnya sebagai pesilat, alih2 rendah hati. Ia menunjukkan kesombongannya. Lupa pada masa lalu-nya sebagai anak pungut Prabowo.  Ia adalah salah satu anak yg dibesarkan, bukan sekedar kelak diberi jabatan. Namun memang sejak masa kuliahnya dibiayai oleh PS. Dalam paket ini, jumlahnya cukup banyak. Tapi karakternya nyaris mirip ya sejenis2 Si FZ-lah. 

Manusia snob, yg mudah sekali melupakan masa lalu-nya yg penuh derita. OKB, karena nasib baik perkawanan!

Ketika belum apa2, baru beberapa waktu menjabat menteri sudah bilang ke media: "Apa salahnya saya memberi konsesi kepada sahabat2 saya". 

Ia dg arogan mersa tidak bersalah ketika banyak pengusaha datang kepadanya. Ia anggap itu sebagai kawan yg berkunjung. Silahkan chek di podcat sejuta umat bermasalah-nya Deddy Corbuzier kalau gak percaya. Konon ini media untuk klarifikasi banyak manusia yang nyeleb, baik itu seleb entertaintment, politik, agama, apa pun....

Persoalannya terkait rencana pembukaan lagi eksport benih benur, yg selama Susy menjabat diharamkan. Alih2 menjaga jarak, ia justru mempamerkan kedekatannya dg para pengusaha itu. Tentu, mereka ini bukanlah para pengusaha dalam arti petani sesungguhnya. Jangan lupa, petani itu juga harusnya dianggap sebagai pengusaha. Mereka ini adalah kelompok pemburu rente, para pengusaha yg sekedar duduk manis mencari selisih harga. 

Persoalannya bukan di situ menurut saya, dalam konteks hari ini dia ditangkap. Kalau cuma yg berkarakter maling, setengah menteri Jokowi hari ini juga sama saja. 

Dalam penangkapan dini hari pagi tadi, muncul sebuah sinyalemen buruk. Sangat buruk! 

Kenapa ada Novel Baswedan di sana? Kenapa musti hanya dia yg disebut oleh media. Kemana penyidik lainnya? Kenapa sedemikian buru2, kenapa musti harus sejak pintu pesawat dibuka langsung dikerakap? Takut kabur?

Ini pertama kalinya, seorang tersangka sudah ditangkap sejak dari pintu pesawat dibuka. Kasar? Entahlah tidak ada ukuran atau kode etik untuk menangkap maling. Tapi tentu saja ini adalah show of force gaya baru. 

Tapi lagi2 persoalannya bukan disitu!

Ini adalah sinyal dari kelompok "kadrun" yg komandannya adalah Pak Tua itu. Jangan pernah lagi menyebut Si Chaplin! Banyak yg marah, karena Charlie Chaplin adalah seorang mahadewa di dunia seni. Ia orang baik yg melegenda. Mosok, hanya karena sama berkumis nanggung, lalu disebut demikian. Ayo dong, beri respect pada Sir Charlie Chaplin!

Kembali lagi ini adalah sinyal, atau katakanlah perlawanan balik dari kelompok JK. Bahwa nyaris semua lininya sedang kena sapu. HRS walau baru pulang, sudah dilenyapkan sementara. 

Di titik bisinisnya, ia tak mendapat pembelaan dari pemerintah. Ketika ia mendapat masalah dari QNB. Kasus kredit macetnya di BRI diaduk2 sedemikian rupa. Dan nasib, si pionnya AB di DKI Jakarta sedang dalam kondisi genting. Kalau pemerintah betul2 berani menegakkan hukum, harusnya si AB ini minimalkan diskors. Kalau tidak malah diberhentikan dan menghadapi sidang pengadilan. 

Tentu saja, orang yg paling mendapat keuntungan adalah "sang wagub tiban" itu. Yg kebetulan adalah orang Gerindra. Dan sinyalemen ini sudah sangat kuat. Dan kompornya adalah PKS, yg tentu saja kalau AB berhasil dilengserkan. Merekalah yg akan mendapat durian runtuh. Lumayanlah pokoknya. Semoga dg kasus ini, PS dan Gerindra makin sadar, janganlah suka main di dua kaki. Gak enak! 

Saya cuma sedih saja, ketika seorang kawan tiba2 buat postingan bahwa penangkan EP ini bukti KPK tidak dilemahkan. Pret! KPK ya tetap lemah, ia tampak kuat jika NB bereaksi ketika kepentingan "klan-nya" terganggu! Sampai kapan? 

Nyatanya gak ada yg berani ngusik dia tuh, sampai hari ini. Merekalah rezim korupsi sesungguhnya. Mereka lah, yg membolehkan siapa korupsi, siapa tidak.

Sekali lagi, KPK itu hanya alat politik. Di sana yg berkuasa adalah "kelompok penyidik"-nya. Jajaran komisionernya itu macan ompong. Hambok diisi bakul gudeg atau tukang sayur juga akan tampak bagus. Jika penyidiknya mau bergerak dg obyektif. Tidak main tebang pilih, sesuai pesanan. Ya seperti kali ini...

Btw, saya ikut senang juga EP ditangkap. Ini meringankan beban moril dan citra Jokowi. Tapi saya sarankan kalau bersorak ya gak usah keras2. Bersorak senyap, pokoknya tanpa ke-gembira-an.

Kayak kalau orang bersenggama itu. Coitus interuptus-lah.....

#BerharapSusyDipanggilKembali
Andi Setiono Mangoenprasodjo

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)