Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Artikel Penting. Show all posts
Showing posts with label Artikel Penting. Show all posts

Tuesday, April 21, 2020

Mungkinkah Perang Dunia III di Awali AS vs China


*China dan AS pada akhirnya pasti terlibat perang*

 Dari zaman kuno hingga sekarang, dari hewan hingga manusia, setiap kali penguasa baru ingin menggantikan penguasa lama, konflik pasti akan terjadi. Ini adalah hukum alam yang tak dapat dipungkiri.
  Meskipun China selalu mengklaim bahwa perkembangannya adalah perkembangan damai, orang Amerika tidak pernah mempercayainya, dan negara-negara barat lain juga tidak percaya. Kondisi sekarang adalah: penggeseran posisi AS adalah sebuah hal yang sudah pasti, dan kebangkitan China pun tak terbendung.  Waktu sedang berpihak kepada China, jadi AS harus memprovokasi, menciptakan konflik sesegera mungkin dan menciptakan alasan sesuatu untuk menghancurkan China jika tidak maka ia akan terlambat.

 Masalah terbesar di pihak AS adalah krisis utang dolar, ia telah berhutang lebih dari dua puluh triliun dolar, angka ini masih akan terus melambung, jika suku bunga terus naik maka AS tidak akan mampu membayar bunga.  Dalam keadaan seperti itu, mengapa AS tidak mau mengurangi anggaran militernya?  Itu karena kekuatan super militer adalah jaminan hegemoni untuk mendapatkan hasil sumber alam di seluruh pelosok bumi ini dan juga menjaga kepentingan AS dalam berbagai segi, terutama segi ekonomi. Sama seperti preman di desa, ia makan gratis, minta uang dimana-mana dan berhutang tidak pernah mau bayar, mengapa ia tenang-tenang saja? karena sejauh ini tidak ada yang  bisa mengalahkannya. Jika ia bisa dikalahkan, dia akan dihajar dan dilumpuhkan.  Oleh karena itu untuk memastikan anggaran militer adalah dasar hegemoninya.
 Bagaimana proyek hegemoni militer AS begitu kuat? karena mereka mengandalkan gugusan kapal induknya, Negara AS jauh dari Eropah dan Asia, sehingga Angkatan Darat AS tidak banyak berpengaruh, mereka bergantung pada Angkatan Laut untuk menzalimi negara lain. Angkatan Laut itu terutama merujuk pada kapal induk, yang merupakan senjata ofensif murni.

 Angkatan laut yang paling awal mengandalkan kapal perang adalah meriam kapal perang besar. Puncak dari kejayaan ini adalah kapal perang Yamato Jepang yg besar, namun kemunculan kapal induk dengan cepat mengalahkan kapal perang meriam besar  Yamato, yang dibangun oleh upaya nasional Jepang, kapal perang yg dulunya sangat mematikan itu hampir tidak berfungsi. Kapal induk menenggelamkan kapal perang Yamato karena senjata kapal perang meriam besar ini tidak dapat menghantam kapal induk, sementara pesawat tempur berbasis di kapal induk dapat menggempur kapal perang meriam besar.  Sejak itu, kapal induklah yang menguasai dunia. Kapal besar meriam tersingkir.

 AS memiliki 11 gugusan kapal induk, berkeliaran di seluruh dunia, menindas negara-negara miskin dan lemah dengan semena-mena terutama negara Islam di Timur Tengah dan sampai kini tampaknya tak terkalahkan.  Tetapi orang China dengan sangat pintar menciptakan metode "rudal khusus menyerang kapal laut besar" khususnya anti kapal induk yaitu Dongfeng-21D. Ini adalah keterampilan unik negara China, dan AS tidak memilikinya, karena AS tidak perlu mempelajari teknologi ini.  .

 Harga Dongfeng-21D adalah $10juta, dan harga kapal induk $4,5 miliar, ditambah pesawat-pesawat berbasis diatas kapal induk, total $10 miliar.  Misalkan satu putaran serangan kilat Dongfeng-21D menggunakan 10 rudal, yaitu $100 juta. sementara kapal induk bernilai $10 Miliar, maka peperangan ini adalah $10 juta untuk menukar $10 miliar.  dan pihak penyerang  tanpa kehilangan seorang prajuritpun namun pihak kapal induk harus mengorbankan 5.000 prajurit di dalam kapal induknya.  Bagaimana pertempuran ini bisa berlanjut lama? AS akan kalah dalam segi modal.
 Perlu diketahui, Dongfeng-21D menghancurkan kapal induk bahkan lebih keren dari pada kapal induk menghancurkan kapal perang meriam besar pada masa Perang Dunia II.  Apabila China dapat menenggelamkan kapal induk AS, maka kapal induk AS lainnya akan tidak berkutik, sama seperti kapal perang meriam besar Yamato didiskualifikasikan oleh kapal induk.

 Meluncurkan rudal balistik untuk mengenai kapal induk tidak cukup hanya mengandalkan Dongfeng-21D.  ada serangkaian kombinasi sistem yang lengkap, yang paling sulit adalah pencarian, penemuan, dan pelacakan kapal induk.  Selama dapat dicari, dilacak kemudian mengunci, maka telah menyelesaikan 90% tugas.  Ini membutuhkan penggunaan radar gelombang-luar angkasa. Pada saat ini Cina sudah memiliki dua set radar gelombang-luar angkasa.

 Adapun yang mengatakan bahwa AS memiliki rudal anti-balistik, itu sebenarnya adalah promosi sesumbar.  Alasannya sederhana, Korut sering meluncurkan "Taepodong" sebagai isyarat provokasi, mengapa Amerika Serikat tidak mencegatnya?   karena AS tahu tidak dapat dicegatnya.  Akurasi pencegatan rudal musuh tidak segampang pencegatan rudal yang diluncurkan diri sendiri. Rudal yang diluncurkan sendiri mengetahui persis waktu peluncurannya dan berapa kecepatan rudal yang diluncurkan sehingga gampang dicegat. Apabila rudal Korut dapat ditembak jatuh maka rudal Korut akan lumpuh, tidak akan mengancam dan mencemaskan Korsel-AS lagi. Jika pencegatan gagal maka AS akan kehilangan muka di dunia yang sedang  dukuasai. Sebenarnya System pertahanan anti rudal AS tidak banyak berfungsi.  Jadi , yang disebut rudal-anti rudal hanyalah slogan propaganda dan tidak memiliki efek yang sebenarnya. 

 Dengan asumsi bahwa system rudal anti-rudal itu benar-benar dapat diandalkan dan memang dapat mencegat rudal dengan jitu, maka ada cara sederhana yaitu harga untuk rudal anti-rudal adalah $1,5 juta (Patriot 3). Lalu ada yang meluncurkan rudal konvensional seharga $500rb   Biarkan dicegat. System pertahanan rudal harus meluncurkan setidaknya tiga rudal untuk menjamin akurasinya. Maka dengan rudal senilai $500,. menukar rudal dengan nilai tiga kali @ $1,5 juta sama dengan  $4,5 juta. Ini adalah pertempuran dengan modal yang tdk setimpal .  Jika pertempuran ini berlangsung lama, AS bakal bangkrut terlebih dahulu.

 Ada cara yang lebih licik lagi.  Bila menembakan hulu ledak palsu (Hulu ledak kosong akan terlacak persis seperti rudal asli yang ada di tampilan layar radar) Untuk setiap 10 rudal  luncurkan ada 6~7 hulu ledak palsu, layar radar akan menunjukkan 100 titik rudal berhulu ledak, namun pada hakekatnya hanya 30% di antaranya yang memiliki hulu ledaknya.  Sungguh! Bagaimana System pertahanan rudal mencegatnya saat itu?
 Menggunakan rudal nyata senilai $1,5 juta untuk menangkal hulu ledak palsu yang harganya hanya puluhan ribu dolar?  Bagaimana jika putaran peluncuran pertama semuanya menggunakan hulu ledak palsu?  Di babak pertama, semua rudal pencegatnya bakal habis terpakai, saat System pertahanan anti rudal (sebut saja THAAD) tidak memiliki rudal lagi, maka yang akan 'mengunjungi' mereka adalah hujan rudal dari pihak lawan.
 Ketika AS berjuang melawan Irak yang terkena sanksi, logistiknya saja sudah ketat, belum lagi negara yang sedikit lebih kuat, itulah sebabnya Amerika Serikat tidak berani menyerang Iran.
 Contoh lain adalah bahwa pihak AS akan memprioritaskan untuk memusnahkan stasiun radar musuh satu persatu, China telah membangun banyak stasiun radar-radaran yang sangat murah, dan juga akan memancarkan sinyal ketika berkobarnya perang.  Rudal AS akan  melacak di sepanjang gelombang radio untuk meledakkan stasiun radar murah, tetapi stasiun radar Cina hanya menelan biaya puluhan ribu Yuan, dan rudal As harganya jutaan dolar.

 Pada akhir 2020, system satelit Beidou China akan mencakup seluruh global, dan kapal induk yang diproduksi sendiri juga sudah diluncurkan. Kapasitas produksi industrinya jauh melebihi AS. Pada saat itu AS akan berada dibawah angin.  Oleh karena itu, AS harus memajukan waktu untuk menciptakan konflik guna memanfaatkan kesempatan sejak dini ketika kekuatannya masih mengungguli Cina.  Namun Cina sekarang sedang berusaha untuk mengulur waktu konflik dan ingin menyeretnya ke waktu ketika kekuatannya betul-betul mapan.  Jadi selama ini kita selalu melihat AS sering mengambil inisiatif untuk mengambing hitamkan China, sementara China sering mengikuti okor masalah yang diciptakan oleh AS dan sibuk menghadapinya setiap hari.

 China dapat menyelesaikan superioritas militer AS melalui "perang asimetris", Tapi China sangat lemah dalam berdiplomasi di kancah politik dunia.  China terlalu pasif dalam berdiplomasi dimana telah didominasi oleh teori-teori barat selama bertahun-tahun. China tamapaknya seperti bukan negara besar,    Di kancah politik dunia ini, negara-negara yang secara pasif mengatasi masalah tidak akan dihormati. China rajin menjelaskan kepada dunia dengan kata-katanya sendiri, namun itu hanya bisa memberikan keuntungan psikologis bagi rakyat China sendiri saja. sebenarnya rakyat China harus memiliki kepercayaan diri dan mampu menjadi rendah hati sambil mengambil kesempatan dan membuat keputusan yang tepat.

 Orang Amerika membenci orang China, jadi selama pemerintah AS mengatakan bahwa China telah mencuri teknologi Amerika, semua media Amerika percaya bahwa ini adalah kebenaran.  Karena mereka berpikir bahwa tidak mungkin bagi orang China untuk mengembangkannya sendiri, jadi satu-satunya cara adalah mencuri.  Sekarang 5G Huawei lebih maju daripada orang Amerika, tidak mungkin bagi pihak maju untuk mencuri teknologi yang ketinggalan, sehingga Amerika Serikat menjadi marah dan memblokir Huawei.

 Rakyat Cina sangat takut terhadap AS, misalnya, netizen daratan China mengumpat habis-habisan ketika berperang lidah dengan Jepang, India, Korea Selatan, Taiwan dan Vietnam, tetapi mereka menjadi sangat gentar menghadapi AS dan kehilangan kepercayaan diri bahkan kehilangan analitik dasar mereka.  Semua menjadi sangat lebay.  Karena netizen China benar-benar takut pada AS, mereka tidak percaya diri bahwa mereka dapat mengalahkan AS.  Sebenarnya mereka tidak perlu kehilangan kepercayaan. Fakta membuktikan perang Korea di tahun 1953, padahal saat itu Republik Rakyat China baru terbentuk, senjata-senjata China masih jauh ketinggalan dibanding dengan senjata pasukan Sekutu pimpinan AS yang serba moderen, akan tetapi pasukan Pembebasan Rakyat China PLTA mampu memukul pasukan sekutu pimpinan AS dengan begitu pesat dan  membuat pasukan AS tak berkutik hingga memaksa AS ke meja perundingan.  Apa lagi kondisi sekarang?
Karena AS secara khusus telah menggertak negara-negara lemah terutama negara Islam di Timteng dan telah menyebabkan ketakutan psikologis yang besar kepada dunia, tetapi AS tidak berani mengobarkan perang terhadap Iran yang sedikit lebih kuat.  Jika AS  berani menyentuh China, diperkirakan China akan menghancurkan semua satelit AS. Tanpa satelit, kemampuan tempur AS akan berkurang lebih dari 90%.  Perlu diketahui bahwa menembak satelit dengan rudal merupakan keahlihan China.

 Tahun 2020 dan 2030 adalah dua poin utama yang menentukan, Ketika tahun 2020 AS tidak menaklukkan China, maka pada tahun 2030 China akan sepenuhnya menaklukkan AS, menyisakan sedikit waktu untuk Amerika Serikat.  Ini menjelaskan mengapa Donald Trump pada akhir-akhir ini seperti kerasukan Setan.

 Oleh karena itu konflik pasti akan terjadi. Masalahnya adalah apakah terpecahnya konflik kedua negara adi daya ini akan menimbukan Perang Dunia III ?

Monday, January 6, 2020

Banjir Melanda dan Derita Jakarta


Di tengah rasa sukacita dalam aroma riang gembira menyambut malam pergantian Tahun Baru dari tahun 2019 ke tahun 2020, publik Jakarta dan seantero Tanah Air, dikejutkan oleh musibah

dari dulu, Jakarta memang dikenal sebagai Ibu Kota Negara yang langganan banjir hampir setiap tahun ketika tiba musim hujan, tetapi banjir kali ini tidak seperti biasanya, karena intensitas dan daya rusaknya relatif lebih masif dan meresahkan warga Jakarta, dan turut mencemaskan publik di negeri ini.

Pasalnya, hampir di berbagai titik lokasi yang biasa terkena banjir, kali ini mengalami genangan yang nyaris melampaui atap rumah hunian penduduk.

Bahkan pada sebagian titik lokasi, derasnya aliran banjir telah menghanyutkan apa saja yang berada di lokasi pemukiman, termasuk mobil mewah sekalipun, serta barang dan harta benda berharga lainnya.

Pada situasi dan momentum seperti ini, kita baru menyadari bahwa, sejatinya sebagai manusia biasa, pada akhirnya kita tak berdaya jika bencana alam datang menimpa, bila manusia tak pernah belajar dari pengalaman hidupnya dalam peristiwa serupa seperti bencana banjir ini.

Kecuali itu, berdasarkan pengalaman empiris dan kenyataan hidup, terungkap bahwa, musibah apapun akan berulang secara signifikan, bilamana manusia selalu berlaku jemawa, keras kepala dan mau menang sendiri, hanya supaya dapat memuaskan egoisme dirinya sendiri.

Sejarah Banjir di Jakarta
Sebagaimana setiap peristiwa bencana banjir yang melanda suatu wilayah atau daerah dan atau suatu kota, sudah barang tentu akan menyisahkan banyak hal yang membekas dalam dukalara kehidupan.

Peristiwa seperti itu, akan selalu diingat dalam pikiran setiap orang yang pernah mengalaminya, atau paling tidak tersimpan dalam memori publik atau dokumen sejarah yang pernah tercatat.

Sejarah juga pernah mencatat bahwa, bencana banjir di Jakarta bukan merupakan peristiwa yang baru terjadi kemarin sore, tetapi sudah sejak zaman dahulu kala.

Terkait dengan hal itu, Ahmad Arif (2020), melaporkan bahwa, sejak Jan Pieterszoon Coen membangun Kota Jakarta di muara Sungai Ciliwung pada tahun 1619, banjir sudah berulang kali melanda Jakarta.

Dalam sejarah juga tercatat bahwa, hanya dalam waktu tiga tahun setelah dibangun, pada tahun 1621, kota Jakarta mengalami banjir dalam skala besar dan masif.

Kemudian, banjir yang sama juga terjadi pada tahun 1654 yang menyebabkan secara perlahan, Kota Tua Jakarta mulai ditinggalkan, dan arah pertumbuhan kota menuju ke wilayah selatan.

Mempertegas hal tersebut di atas, Sejarawan Restu Gunawan yang juga menulis tentang Riwayat Banjir Jakarta, dalam bukunya yang berjudul Gagalnya Sistem Kanal (2010), mengatakan bahwa, pada akhir abad ke-18, ada perpindahan besar-besaran warga Batavia (nama lama Jakarta), ke tempat yang lebih tinggi di Selatan yaitu Weltevreden, yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Kesenian Jakarta, yang semula hutan dan rawa-rawa, kemudian berkembang pesat menjadi kota yang layak huni.

Kemudian, pada tahun 1807, Herman Wilem Daendels menjadikan Weltevreden sebagai pusat pemerintahan Kolonial Belanda di Asia.

Meskipun demikian, Batavia kembali mengalami banjir pada tahun 1895, 1899,1904, dan 1909.

Selanjutnya, pada tahun 1918, Batavia dilanda banjir hebat sehingga melumpuhkan kota itu selama sebulan penuh. Banjir terus melanda Batavia, hingga nama kota berubah menjadi Jakarta dan menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia, dan banjir pun tetap melanda Jakarta sampai sekarang.

Penyebab Banjir dan Krisis Ekologi
Mengamati bencana banjir seminggu ini, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab (2020), mengatakan bahwa, banjir di Jakarta dan sekitarnya kali ini disebabkan karena curah hujan yang ekstrem, di atas 150 mm per hari dan bersifat merata di hampir seluruh wilayah Kota Jakarta.

Dijelaskannya bahwa, bahkan curah hujan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, mencapai 377 mm per hari, dan menjadi rekor tertinggi dalam 154 tahun terakhir.

Atas penjelasan ini, dapat dipahami bahwa, hujan lebat memang menjadi pemicu awal terjadinya bencana banjir di Jakarta. Dan sekedar kilas balik, dapat dikemukakan bahwa, atas dasar analisis BMKG, menunjukkan beberapa kejadian banjir besar di Jakarta pada masa lalu, misalnya, pada pada tahun 1918, 1979, 1996, 2002, 2007, 2013, 2014, dan 2018 yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem dan fenomena meteorologis yang menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas yang tinggi.

Mengamati kesesuaian tren kian seringnya banjir di Jakarta, dan kenaikan intensitas hujan maksimum per tahun, menurut data curah hujan harian 150 tahun (1866-2015), curah hujan harian di Jabodetabek, curah hujan harian tertinggi naik 10-20 mm tiap 10 tahun, dapat menjadi sumber penyebab terjadinya intensitas kejadian banjir melanda Jakarta.

Namun demikian, aspek cuaca seperti ini tidak dapat menjadi pembenar tunggal bagi banjir Jakarta dan sekitarnya yang telah menelan sedikitnya 30 korban jiwa.

Penyebab banjir di Jakarta tak hanya karena krisis iklim, tetapi juga karena Krisis Ekologi dan Krisis Sosial berupa besarnya limpahan air dari daerah hulu.

Hal ini disebabkan karena, rusaknya tutupan vegetasi, berkurangnya danau tempat penyimpanan air, mendangkalnya sungai akibat sedimentasi dan pembuangan sampah ke sungai, serta penurunan daratan akibat disedotnya air tanah.

Bencana banjir kali ini, menggenangi sedikitnya 75 persen wilayah Ibu Kota.

Akibatnya, sebagian besar aktivitas produktif di kawasan yang tergenang itu pun menjadi lumpuh. Jaringan telepon dan internet terganggu, serta sambungan listrik pun padam, paling tidak di kawasan yang terendam banjir.

Meskipun Jakarta dilanda banjir hampir setiap tahun, tetapi Jakarta selalu menarik bagi siapa saja.

Bahkan Band Legendaris Koes Plus pernah merilis album sebuah lagu dengan seuntaian liriknya yang demikian,

Di sana rumahku, dalam kabut biru..
Di sana kan ku berdiri di batas waktu yang telah tertentu..
Ke Jakarta ku kan kembali, walau apa pun yang telah terjadi..

Terkait dengan daya tarik Jakarta, meski selalu dilanda bencana banjir, tetapi Ivan Hadar (2007) mengatakan bahwa, memasuki usianya yang kesekian ratus tahun (492 tahun), selain bencana banjir tahunan, Jakarta memang selalu dililit berbagai persoalan pelik. Meski demikian, Jakarta tetap memiliki daya tarik yang kuat, terkait dengan tingginya peredaran uang, barang dan jasa.

Betapa tidak, sudah lebih dari tiga periode Pemerintahan Orde Baru saat itu, bahkan sampai pada periode pemerintahan saat ini, dua pertiga investasi asing yang masuk ke Indonesia di tanam di Jakarta.

Sementara, pada saat yang sama, 45 persen investasi dalam negeri juga ditempatkan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Maka, tak heran, jumlah penduduknya terus meningkat dari 435.000 jiwa pada tahun 1930 menjadi 9,8 juta (1995), dan sekarang sudah menjadi sekitar 10,5 juta jiwa. Diperkirakan, tiap tahun ada sekitar 250.000 hingga 300.000 orang pindah ke Jakarta.

Lebih lanjut Ivan Hadar menjelaskan bahwa, pada saat yang sama pertumbuhan pesat perekonomian Jakarta dan sekitarnya, memiliki juga banyak sisi gelap, terutama terkait dengan daya dukung ekologis.

Misalnya, bencana banjir, longsor, dan berbagai musibah alam lain yang merupakan indikasi seriusnya persoalan. Selain berbagai bentuk bencana itu, Jakarta dan Pantura (Pantai Utara), Jawa terancam mengalami kesulitan secara ekologis dan sosial.

Terkait dengan situasi dan hal tersebut di atas, beberapa tahun yang lalu, sebuah studi yang dilakukan oleh South Pacific Regional Enviroment Programme (SPREP), meramalkan bahwa pada pertengahan Abad 21, sebagian besar daerah pertanian dan tambak udang Pantura bakal terendam air akibat peningkatan muka air laut setinggi 45 cm. Penyebabnya, kenaikkan suhu global 2,5 derajad Celcius yang disebabkan oleh peningkatan emisi CO2 sebesar 200 persen.

Persoalan lain yang terkait dengan banjir di Jakarta adalah masalah perilaku sebagian besar masyarakat Jakarta dalam membuang sampah ke Sungai.

Sampah yang terangkut hanya sekitar 18 persen dari 7000-an ton sampah per hari yang dihasilkan masyarakat Jakarta. Sebanyak 40 persen lainnya dibuang bukan di tempat pembuangan resmi, dan sisanya (30 persen) dibuang ke sungai yang ikut menjadi penyebab terjadinya bencana banjir.

Memperhatikan dinamika dan perkembangan perilaku masyarakat Jakarta, tampak terasa bahwa daya dukung lingkungan Jakarta terus menurun seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat Jakarta.

Sebagian masyarakat Jakarta menyadari dan mengewatirkan kondisi lingkungan tersebut. Di sisi lain, kesadaran dan peran nyata dari publik diperlukan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan Ibu Kota.

Terkait dengan hal tersebut di atas, Puteri Rosalina, Litbang Kompas (2020), melaporkan bahwa, gambaran penurunan daya dukung lingkungan sudah terlihat dari berbagai masalah perkotaan yang timbul karena kerusakan lingkungan, termasuk karena masalah banjir.

Banjir merupakan masalah lama yang sudah terjadi sejak masa pemerintahan Kolonial Belanda hingga sekarang. Sungai Ciliwung yang dulu menjadi pusat peradaban Kota Jakarta serta menjadi sarana distribusi perdagangan dan transportasi pelayaran, kini justeru menjadi salah satu sumber masalah banjir Jakarta.

Hal ini disebabkan lebar sungai semakin sempit karena okupasi permukiman, disusul persoalan sampah dan sedimentasi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan persoalan banjir. Mulai dari pengerukan sungai, saluran, waduk, pemasangan pompa dan saringan sampah, hingga pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Bogor, serta tanggul laut di Pesisir Utara. Namun berbagai upaya memelihara sungai dan penanganan banjir itu tampaknya belum berdampak efektif.

Hasil Jejak Pendapat Kompas di awal (Mei 2019), mengetengahkan bahwa, hampir separuh lebih responden (60 persen) berpendapat bahwa pemerintah belum efektif dalam memelihara kebesihan sungai di Jakarta.

Dikatakan demikian karena, upaya normalisasi sungai yang sudah berjalan sejak 2013 dihentikan sejak 2017. Justeru sebagai gantinya, Pemerintah DKI akan malakukan Naturalisasi Sungai.

Hal tersebut sedikit banyak berdampak pada ketidakpuasan masyarakat, dimana sebanyak 41 persen responden tidak puas terhadap upaya pemerintah dalam mengatasi persoalan genangan banjir di Jakarta.

Terkait dengan hal tersebut di atas, hampir separuh responden berharap adanya upaya pembersihan sungai, selokan, waduk dan bendungan dari sedimentasi atau sampah untuk mengatasi banjir di Ibu Kota.

Sebagian responden menyarankan supaya dilakukan upaya normalisasi sungai. Penanganan banjir dengan mengembalikan lebar dan memperbesar kapasitas sungai akan mengurangi banjir di Jakarta.

Kemurnian Hati Nurani
Sehubungan dengan Bencana Banjir yang melanda Jakarta dalam seminggu ini, mestinya sudah dapat diantisipasi dengan cermat karena peristiwa ini sudah sering terjadi.

Berkenan dengan hal itu, maka sebagaimana diketengahkan oleh Tajuk Rencana Kompas (2 Januari 2020) bahwa, datangnya bencana hidrologi sebenarnya dapat diperkirakan karena hal itu hadir bersamaan dengan tibanya musim hujan. Karena itu, pemerintah daerah sudah harus mewaspadai kemungkinan dampak banjir dan kemungkinan terjadinya longsor.

Menangani banjir di Jakarta dan di sekitarnya tidak dapat diselesaikan dengan cara biasa dan tambal sulam. Banjir dan genangan air sudah menjadi masalah Jakarta setidaknya sejak abad ke-17.

Penanganan banjir Jakarta sebaiknya dilakukan dengan "kebersihan motivasi dan kemurnian hati nurani", tanpa perlu adanya intervensi muatan politik yang terselubung. Oleh karena itu, penanganan banjir perlu dilakukan secara komprehensif dan harus dikaitkan dengan tata ruang dan tata guna lahan Jakarta serta kawasan hulu dan hilirnya.

Untuk dapat mengurangi dampak banjir di Jakarta, mungkin akan jauh lebih baik untuk melakukan upaya penampungan air hujan dengan membangun banyak situ di kawasan hulu, sebagai tempat parkir air, menata perencanaan penggunaan tanah di kawasan Bogor-Puncak- Cianjur.

Terkait dengan perkembangan situasi mutakhir penanganan banjir di Jakarta, Pemerintah Pusat perlu mengambil alih penanganan banjir Jakarta, karena melibatkan lintas lembaga pemerintah di pusat dan pemerintah daerah.

Penyelesaian pun sebaiknya dalam jangka waktu tertentu, dan perlu perencanaan jangka pendek dalam lima tahunan, serta harus dilakukan secara detail; dan perlu dikawal secara ketat mekanisme pelaksanannya.

Di samping itu, secara teknis dalam tempo singkat dengan tindakan yang cermat dan terukur, dapat segera dilanjutkan Normalisasi Sungai Ciliwung bersama Sungai Sunter, Sungai Angke dan Sungai Pesanggrahan.

Dan sebagaimana diutarakan di atas, tindakan normalisasi juga mesti diikuti dengan revitalisasi waduk dan situ serta penambahan luasan ruang terbuka hijau.

Dengan demikian, maka, jika ke 13 Sungai dan atau Kali di Jakarta ini, setiap tahun diprogramkan untuk dinormalisasi selama kurun waktu 5 tahun saja, serta merevitalisasi 109 waduk dan situ di Jakarta, lalu menambah 20 persen saja ruang terbuka hijau, maka adagium bahwa, Banjir Melanda, menyebabkan Derita Jakarta, tidak pernah akan terjadi lagi.

Goris Lewoleba
Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Dewan Pakar VOX POINT INDONESIA.

Source : https://www.kompasiana.com/goris26070/5e114e59097f3654750e42e2/banjir-melanda-dan-derita-jakarta

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)