Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Radikalisme. Show all posts
Showing posts with label Radikalisme. Show all posts

Thursday, November 19, 2020

Waspada Bisnis Penggulingan Rezim


*_Tulisan  Bu Dina Y Sulaeman ini bagus utk menyadarkan kita
semua orang Indonesia.*

https://makassar.terkini.id/waspadai-bisnis-penggulingan-rezim/

 *WASPADAI BISNIS PENGGULINGAN REZIM*

Mengamati perkembangan politik dalam negeri akhir-akhir ini, _sebagai pengamat Timteng,_ saya langsung _melihat *persamaan polanya* dengan apa yang terjadi di Timteng._ 

*Mengapa bisa sama?!* 
Ya,... 
Karena memang para inisiator Arab Spring _‘berguru’_ pada konsultan yang sama. 
_Google saja nama *NED* atau *Srdja Popovic.* Keduanya adalah proxy dari kekuatan adidaya ekonomi dunia._ 
Saya juga pernah cerita tentang hal ini di buku saya *Prahara Suriah,* bisa didonlot gratis. [1] 

*Revolusi Tunisia* _dipicu oleh tewasnya *Bouazizi*_ (membakar diri). Sebelum Bouazizi, _sudah ada beberapa pemuda frustasi yang bunuh diri,_ namun _17 Desember 2010_ (hari kematian Bouazizi) adalah _momen di mana para inisiator demo dengan kekuatan penuh *memanfaatkan kematiannya* dengan memainkan isu yang memang ‘relate’_ (terhubung) _dengan keresahan masyarakat umum_ (misal, kesulitan ekonomi, korupsi elit, dll) _sehingga massa bisa didorong untuk turun ke jalan secara besar-besaran._ 
Akhirnya,... 
_Presiden *Ben Ali* tumbang!_

Di Mesir, ketika aksi-aksi protes mulai terjadi di awal _Februari 2011_ (dengan isu kesulitan ekonomi), _tiba-tiba saja beberapa orang berkuda dan ber-unta menerobos kerumunan, *terjadi kerusuhan,* dan  yang dituduh pelakunya tentu saja rezim *Mubarak.*_ 
Aksi-aksi demo _semakin *tereskalasi,* semakin banyak korban berjatuhan, massa semakin marah, demo semakin besar,_ dan akhirnya, *Mubarak pun tumbang!*

Di Suriah, muncul aksi demo di *Daraa* (Maret 2011), sebuah kota kecil di dekat perbatasan *Yordania.* 
Kisah yang disebar melalui medsos & media mainstream: _ada anak muda yang tewas disiksa polisi karena membuat grafiti._ 
Dalam aksi demo itu, _ada *sniper* yang menembak, jatuh korban, baik di pihak massa maupun aparat keamanan._ 

Versi media mainstream: _“Demo di Daraa memicu aksi protes di berbagai kota lainnya dan dihadapi dengan kekerasan oleh rezim Assad. Dan karena itulah rakyat pun angkat senjata untuk membalas.”_ 
Tentu saja awalnya, media mainstream ( *CNN, BBC, Aljazeera* dkk ) _TIDAK menyebutkan bahwa yang *angkat senjata sebenarnya* adalah milisi-milisi *Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir,* dan *Al Qaida*_ ( tahun 2013, ISIS dideklarasikan ).

Menurut Irjen Pol. Drs. *Suntana,* M.Si. ( Wakabaintelkam Polri ) _yang pernah ke Suriah,_ di awal-awal masa demo itu _banyak sekali polisi Suriah yang *tewas* karena mereka *dilarang untuk melawan,* akibatnya malah mereka yang diserang massa atau sniper._ [ beliau cerita di acara _Bedah Buku Prahara Suriah di PP Muhammadiyah, 18 Jan 2019_ ]

Cerita Irjen Suntana _persis seperti yang pernah saya tulis di berbagai artikel_ dan di buku *Prahara Suriah* (2013) berdasarkan penelusuran berbagai berita non-mainstream. 
Awalnya pemerintah Suriah memang terlalu kalem, _demo-demo dibiarkan, polisi dilarang menembak,_ bahkan tahanan politik ( *IM, HT, Al Qaida dan FPI* nya sono ) *dibebaskan* demi _‘mengambil hati’_ para demonstran. 
Bukannya melunak, _mereka malah semakin garang,_ dan _perang Suriah pun berlangsung hingga *8* tahun!_ 

Sampai saat ini, para teroris (atau _“mujahidin”,_ menurut mereka sendiri) masih bercokol di *Idlib,* sisa-sisa *ISIS* asal *Indonesia* pun masih ada di beberapa lokasi.

Benang merah aksi demo di Timteng dan Indonesia (dalam kasus pilpres) ada *4:*

1. _Isu ekonomi dipakai untuk membangkitkan kemarahan massa._

2. Isu orang yang _“tewas dibunuh rezim”_ *diblow-up* besar-besaran melalu medsos.

3. _Ada negara adidaya yang berperan di balik layar_ [2], _istilah di Indonesia: ada *‘bohir’*-nya._

4. Pelaku demo baik di *Tunisia, Mesir,* maupun *Suriah,* banyak orang *IM* dan *HT* (di Suriah, mereka bahkan angkat senjata). 

Baik *IM* maupun *HT* _punya cabang di *Indonesia,* dan  bisa anda perhatikan, merekalah yang *sangat militan menyebarluaskan isu/fitnah* dan *HOAX* tentang kesulitan ekonomi_ ( Indonesia yang katanya dijajah China ) dan isu _“orang dibunuh rezim”_ ( petugas KPPS yang gugur dalam menjalankan tugas ). 

Bahkan akhir-akhir ini mereka menyebarluaskan narasi yang sangat berbahaya: _emak-emak disuruh menimbun bahan pangan dan menarik uang di bank!_

*Mengapa sangat berbahaya?!* 

Bila rakyat berhasil dibuat panik, *terjadi rush,* _bank-bank tumbang, sembako mahal dan langka,_ mereka akan mudah *diprovokasi* untuk turun ke jalan. 
Di saat yang sama, _sel-sel tidur sudah siap meledakkan bom di mana-mana._ 
Apa yang akan terjadi selanjutnya?! 
Hal serupa juga terjadi disini, _mereka memanfaatkan isu *SARA* serta *adu domba*  yang dilakukan *FPI* pada kasus mahasiswa asal Papua di Makassar dan Surabaya dan *SUKSES!*_
Terbukti dengan mudahnya *aksi balasan* yang dilakukan masyarakat Papua yang berada di Manokwari.

_*Syekh Al Buthy* sebelum beliau gugur syahid_ (dibom oleh “jihadis”, tak lama setelah *Yusuf Qardhawi,* ulama IM, memberikan fatwa di *Aljazeera,* bahwa wajib *membunuh siapa saja* yang bekerja sama dengan pemerintah Suriah), _menasehati para demonstran Suriah:_

“Wahai umat, jangan sekali-kali _membuka pintu kemudian kalian memasuki sebuah lorong yang TIDAK kalian ketahui kemana akhirnya;_ *jangan pernah membuka pintu menuju kehancuran;* dimana satu langkah kalian ayunkan akan diikuti oleh langkah lain yang makin membuat kalian HANCUR.” [3]

Yang beliau maksudkan, *segera terbukti kebenarannya!* 
Para demonstran Suriah, _mengira sedang berjuang namun akhirnya membuka pintu kepada para *‘penunggang’* dan negeri mereka pun dilanda perang bertahun-tahun._

Dalam ceramahnya yang lain, beliau berkata, _“Ketika *pintu fitnah dibuka,* hanya *orang pintar yang tahu* ketika awal pintu itu dibuka, sedangkan *orang bodoh baru mengetahuinya* setelah semua hancur.”_

*Mari jadi orang pintar!* 
_Mulai bergerak, nasehati kalangan terdekat untuk *jangan coba-coba membuka pintu yang akan membawa kita pada kehancuran.* Di grup-grup WA dan medsos, *lawan narasi mereka!*_ 
*Ingatlah!* 
_Negeri ini ibarat kapal, jika tenggelam, semua penumpangnya akan ikut tenggelam!
NEWS.IniOk.com

Thursday, November 12, 2020

WASPADA GERAKAN THALABUN NUSHRAH INDONESIA (TNI)

WASPADA GERAKAN THALABUN NUSHRAH INDONESIA (TNI)

Oleh : Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Thalabun Nushrah adalah kegiatan politik Hizbut Tahrir menyusup, merekrut, membina dan mengarahkan jenderal militer untuk mengambil alih kekuasaan kepala negara yang akan diserahkan kepada Amir Hizbut Tahrir. Kegiatan thalabun nushrah dilakukan oleh satu grup kecil yang jumlahnya tidak lebih dari lima orang anggota Hizbut Tahrir yang memenuhi kriteria. 

Grup ini sangat tersembunyi, sensitif, dan vital. Nyawa Hizbut Tahrir ada di tangan grup ini. Boleh dikatakan hidup matinya Hizbut Tahrir di suatu negara ditentukan oleh grup ini. Apabila grup ini berhasil menunaikan misinya maka Amir Hizbut Tahrir akan menjadi Khalifah, sebaliknya kalau gagal, pengurus dan anggota Hizbut Tahrir menjadi pesakitan diburu aparat.

Seperti Biro Chusus PKI, grup ini mau  “Bermain-main mata” dengan jenderal militer yang mempunyai pasukan dan senjata. Di Hizbut Tahrir Biro Chusus-nya disebut dengan nama Lajnah Thalabun Nushrah.(teruskan baca ulasan menarik di bawah ini...  )

Oleh sebab itu, Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir di Indonesia (DPP HTI) melarang keras para anggota HTI membicarakan, membahas atau mendiskusikan thalabun nushrah. Para anggota HTI cukup mendapat penjelasan secara global saja tentang thalabun nushrah dengan menekankan bahwa thalabun nushrah adalah metode baku yang dicontohi oleh Rasulullah saw untuk mendirikan khilafah . 

Setelah itu mereka diperintahkan untuk menyibukkan diri dengan kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggota HTI, halaqah, menyebarkan selebaran dan tugas-tugas dakwah lainnya. Anggota HTI dilarang keras menanyakan thalabun nushrah dengan rinci misalnya siapa saja anggota grup kecil tersebut? Berapa orang jenderal yang sudah direkrut dan dibina? Siapa saja mereka?. Semua ini tidak ada yang tahu selain ketua Lajnah Thalabun Nushrah, ketua DPP HTI dan Amir Hizbut Tahrir.

Berbeda dengan PKI, HTI menggunakan justifikasi syar’i untuk membenarkan kegiatan kudetanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh anggota Hizbut Tahrir di Arab berikut ini : 'Thalabun Nushrah ini bukan sekedar aktivitas politik yang lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap sebuah hakekat, akan tetapi ia adalah hukum syariat yang ditunjukkan oleh nash-nash syariat.  Thalabun Nushrah adalah metode syar’iy untuk menegakkan Daulah Islamiyyah'.   (Dr Mahmud A Karim Hasan, al-Taghyiir, hal. 53).

Amir Hizbut Tahrir yang kedua Abdul Qadim Zallum mengatakan : “Dan Hizb  melakukan thalab an nushrah untuk dua tujuan:  Pertama, untuk tujuan perlindungan, sehingga beliau mampu untuk berjalan dalam mengemban dakwah dalam keadaan aman; Kedua, untuk mengantarkan menuju pemerintahan, untuk menegakkan khilafah serta mengembalikan hukum dengan apa yang Allah turunkan, di tengah-tengah kehidupan, negara dan masyarakat.”  (al allamah asy syeikh Abdul Qadim Zallum, Manhaj Hizb at- Tahrir fii at-Taghyir, hal 31).

Sedangkan anggota senior Hizbut Tahrir di Arab dalam bukunya Ad-Dakwah Ila al-Islam: “Adapun saat ini, sesungguhnya penguasa itu memiliki kekuatan dengan cara paksaan; dan mereka menanggalkan hak rakyat; dan apa yang dipandang sebagai bentuk visualiasi kebangsaan kebanyakan bukanlah hal yang sebenarnya. dan kita, bagi kita hendaknya kita melakukan apa yang dilakukan oleh Rasul SAW, bahwa sesungguhnya kita wajib untuk melakukan kontak dengan siapa saja yang memiliki pengaruh dan kedudukan di masyarakat untuk membuka pintu di depan orang yang ada di balik pintu serta mendapatkan jaminan kepemimpinan masyarakat; dan wajib atas kita untuk mencari nushrah  dari kalangan ahlul quwwah (pemilik kekuatan) seperti jendral tentara untuk mengantarkan menuju pemerintahan….“   
(Ahmad al Mahmud, Ad dakwah ila al-Islam,  96).

Sudah pasti HTI akan mendirikan khilafah di wilayah NKRI dengan cara-cara inkonstitusional tegasnya dengan cara kudeta militer. Pengurus dan anggota HTI selalu berkilah jika disebut demikian, alasannya belum ada bukti HTI melakukan kudeta. Memang belum, akan tetapi HTI meyakini bahwa jalan satu-satunya untuk meraih kekuasaan politik tertinggi di suatu negara adalah dengan thalabun nushrah yang hakikatnya adalah kudeta. HTI sudah menutup pintu, menutup mata, menutup telinga dan menutup hati dari menggunakan metode konstitusional melalui pemilihan kepala negara secara jujur dan terbuka. 

Karena kudeta metode baku Hizbut Tahrir dalam meraih kekuasaan, di Indonesia, DPP HTI telah menentukan target jumlah rekrutmen perwira tinggi dan menengah TNI AD, AL, AU dan Polri yang tertera dalam dokumen Blue Print Dakwah HTI 2004. Baru enam tahun kemudian HTI mulai mengeksekusi target tersebut dengan membentuk Lajnah Thalabun Nushrah atas perintah Amir Hizbut Tahrir. 

Di internal, DPP HTI melakukan sosialisasi kepada para anggota perihal thalabun nushrah. Selebaran resmi Hizbut Tahrir tentang thalabun nushrah dipelajari. Siddiq Al Jawi anggota senior HTI mempublis tulisan tentang “Membentuk Suasana Nushrah” dan teknis thalabun nushrah yang dimuat majalah Al-Wa’ie edisi April/Mei 2011. Semenjak itu lajnah ini bergerak secara rahasia dengan arahan langsung dari Amir Hizbut Tahrir. 

Dalam Silsilah Ajwibah di laman Facebook Amir Hizbut Tahrir yang sekarang Atha Abu Rusytah menegaskan : “Dan inilah yang dilakukan Hizb (Hizbut Tahrir) ketika memulai aktifitas thalabun nushrah pada tahun 60-an pada abad yang lalu.. dan terus menerus dilakukan (oleh Hizbut Tahrir).

Friday, November 6, 2020

Peneliti UGM: NU Seperti Pemain Tunggal dalam Menahan Derasnya Arus Radikalisasi.

 
Peneliti UGM: NU Seperti Pemain Tunggal dalam Menahan Derasnya Arus Radikalisasi.

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada Muhadjir Darwin menilai saat ini ada kecenderungan baru yaitu redupnya politik Islam moderat. Demikian juga dengan maraknya politik Islam radikal di panggung politik Indonesia, seperti yang disinyalir oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj.

Muhadjir melihat NU seperti menjadi pemain tunggal dalam menahan derasnya arus radikalisasi, sebab tidak ada organisasi Islam lain yang seberani NU dalam mempertahankan politik Islam moderat, dan mengkritisi politik Islam radikal yang sekarang sedang marak dengan bahasa yang tegas dan lugas.

“Muhammadiyah sudah tidak lagi. Dan ini sangat disayangkan. Jika radikalisasi Islam dibiarkan, benar seperti yang dikhawatirkan oleh Said Aqil Sirodj bahwa Indonesia akan terjerembab ke dalam situasi seperti di Balkan atau Timur Tengah. Poso dan Maluku telah mengalaminya,” kata Muhadjir di kampus Program Doktor Studi Kebijakan UGM, Yogyakarta (30/10) seperti dikutip Kantor Berita Antara.

“Tetapi skalanya masih daerah, belum nasional. Tapi jika itu dibiarkan terjadi di Jakarta, dampaknya akan sangat besar bagi perpolitikan nasional,” katanya menambahkan.

Karena itu, Muhadjir mengingatkan Indonesia tidak boleh dan jangan dibiarkan tercabik-cabik ke dalam konflik agama yang keras, yang dapat memecah belah anak-anak bangsa. “Kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia terlalu mahal untuk dikorbankan,” kata guru besar Fisipol UGM

Dan pada situasi seperti saat inilah, umat Islam yang cinta damai ini, untuk secara serius mencegah dan mengatasi radikalisme agama.

“Jadi inilah saatnya bagi umat Islam yang cinta damai, untuk secara serius mencegah dan mengatasi kecenderungan radikalisme Islam,” katanya.

Menurut dia Islam moderat adalah satu-satunya pilihan untuk dijaga dan dikembangkan, jika masyarakat Indonesia masih menginginkan negara yang berkarakter multikultural seperti Indonesia ini tetap terjaga.

“Kita masih ingin negara yang berkarakter multikultural seperti Indonesia ini tetap terjaga,” katanya. [https://politikandalan.blogspot.com/2020/11/peneliti-ugm-nu-seperti-pemain-tunggal.html]

Thursday, July 16, 2020

SYIRIANISASI DI INDONESIA


Krisis politik dan kemanusiaan yg bermula sejak 2011 telah meluluhlantakkan banyak negara Timur Tengah, seperti Libya, Tunisia, Yaman, dan Suriah.

Gerakan propaganda kelompok radikal yg mengatasnamakan revolusi (thaurah) ini sudah berkepanjangan dan gagal memenuhi janji2 manisnya, berupa keadilan dan kesejahteraan.

Gerakan yg dimotori kelompok2 pro-kekerasan ini memang awalnya memikat, karena dibungkus dan disembunyikan di balik kedok2 retorik.

Media Barat sampai menyebut gerakan mereka sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring/al-Rabi' al-'Arabi), digambarkan sebagai proses demokratisasi, berlawanan dg kenyataan yg kemudian tampak, yaitu islamisasi versi khilafah atau khilafatisasi.

Berdirilah kemudian khilafah di Suriah, Irak, dan Libya.
Ikhwanul Muslimin saat itu memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia.

Demi kepentingan sesaat dan ketika sudah terdesak, mereka memang gemar menggunakan slogan2 demokrasi, semisal mereka akan mengerek tinggi2panji kebebasan ketika perbuatan melanggar hukum mereka ditindak, karena yg sedang dilakukan oleh mereka sejatinya adalah membajak demokrasi.

Sejak awal mereka meyakini bahwa demokrasi adalah produk kafir, maka kapan saja ada waktu mereka akan menggerusnya. Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain.

Jejaring mereka semakin aktif di Asia, Eropa, Afrika, Amerika sampai Australia, berusaha memperluas kekacauan ke berbagai wilayah, dg harapan bisa mewujudkan cita2 utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi.

Wacana syrianisasi kemudian sampai ke Indonesia, semakin ramai disuarakan pada tahun2 belakangan, paling tidak mulai 2016. Banyak pihak mensinyalir ada gerakan2 yg berusaha menjadikan Indonesia jatuh ke dalam krisis sebagaimana menimpa Suriah.

Fakta2 kemudian bermunculan; banyak pola krisis Suriah yg disalin oleh kelompok radikal, menjadi sebuah gerakan2 di Indonesia. Jaringan2 kelompok radikal di Indonesia juga semakin terang terkoneksi dg aktor2 krisis Suriah.

Sebagai contoh Indonesian Humanitarian Relief (IHR), lembaga kemanusiaan yg dipimpin seorang ustaz berinisial BN, yg logistiknya digunakan untuk mendukung Jaysh al-Islam, salah satu kelompok teroris di Suriah.

Pola men-Suriah-kan Indonesia setidaknya tampak dalam beberapa pergerakan berikut :

➡ 1. POLITISASI ISLAM

Indikasi menguatnya penggunaan kedok agama demi kepentingan kekuasaan, sebagaimana pernah dilakukan di Suriah, terlihat dalam banyak hal, di antaranya adalah penggunaan masjid sebagai markas keberangkatan demonstran. Jika di Damaskus masjid besarnya Jami' Umawi, maka di Jakarta Masjid Istiqlal.

Adakah yg pernah menghitung, berapa kali Masjid Istiqlal diduduki pelaku berangkat demonstrasi? Pelaksanaannya pun kebanyakan di hari Jumat seusai waktu Shalat Jumat, didahului dg hujatan politik di mimbar kotbah, sehingga mengelabui pandangan masyarakat terhadap agama yg sakral dan politik yg profan.

Persis dg apa yg pernah terjadi di Suriah menjelang krisis. Masjid pun berubah menjadi tempat yg tidak nyaman, gerah, dan tidak lagi menjadi tempat 'berteduh'.

Hari Jumat, yg semestinya menjadi hari ibadah mulia, berubah menjadi hari2 politik dan kecemasan, atas kekhawatiran terjadinya chaos.

Muncul kemudian istilah "Jumat Kemarahan" sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jumat -- bukankah itu hanya terjemahan dari "Jumat al-Ghadab" yg pernah menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan oleh Yusuf al-Qardhawi, tokoh Ikhwanul Muslimin?

➡ 2. MENDELEGITIMASI PEMERINTAHAN YANG SAH

Dilakukan dg terus-menerus menebar fitnah murahan terhadap pemerintah.
Sesekali presiden Suriah Basyar al-Assad dituduh Syiah, sesekali dituduh kafir, dan pembantai Sunni.

Kelompok makar bahkan menghembuskan isu bahwa al-Assad mengaku Tuhan, disebarkanlah foto bergambar poster al-Assad dengan beberapa orang sujud di atasnya.

Dalam konteks Indonesia, Anda bisa mengingat2 sendiri, presiden Indonesia pernah difitnah apa saja, mulai dari Kristen, Cina, Komunis, anti-Islam, mengkriminalisasi ulama, dan sederet fitnah lainnya.

Tidak usah heran dengan fitnah2tersebut, yg muncul dari kelompok yg merasa paling 'Islam', karena bagi mereka barangkali fitnah adalah bagian dari jihad yg misinya mulia, dan ciri universal pengikut Khawarij adalah mengkafirkan pemerintah.

➡ 3. PEMBUNUHAN KARAKTER ULAMA

Dalam proses menghadapi krisis, ulama yg benar2 ulama tidak lepas dari panah fitnah, bahkan yang sekaliber "Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi", yg pengajiannya bertebaran di berbagai saluran televisi Timur Tengah, kitabnya mengisi rak2 perpustakaan kampus2dunia Islam, dan fatwa2nya menjadi rujukan.

Begitu berseberangan pandangan politik dg mereka, seketika dituduh sebagai penjilat istana dan Syiah (padahal beliau adalah pejuang Aswaja yang getol), hingga berujung pada syahidnya beliau bersama sekitar 45 muridnya di masjid al-Iman Damaskus, saat pengajian tafsir. Beliau dibom karena pandangan politik kebangsaannya yang tidak sama dg kelompok pembom bunuh diri.

Jika demikian yg terjadi di Suriah, kira-kira Anda paham kan dg apa yg terjadi di Indonesia, beberapa ulama berikut ini :

✅ Buya Syafi'i Ma'arif
✅ KH. Mustofa Bisri
✅ Prof Quraish Syihab
✅ Prof Said Aqil Siraj
✅ KH. Ma'ruf Amin
✅ TGB Zainul Majdi

Dituduh sesat, liberal, syiah, su'u dan berbagai hujaman2 fitnah dari kelompok yg sama, ketika propaganda politiknya tidak dituruti ?

Setelah ulama yg hakiki, mempunyai kapasitas keilmuan yg cukup, mereka bunuh karakternya, maka mereka memunculkan ustaz-ustazah dadakan yg punya kapasitas entertainer yg hanya mampu berakting layaknya ulama.

➡ 4. MENGGANTI DASAR NEGARA

Misi utama kelompok radikal adalah meruntuhkan sistem yg ada, dan menggantinya dg sistem yang ideal menurut mereka, yaitu khilafah atau negara yg secara formalitas syariah, meski substansinya tidak menyentuh syariah sama sekali.

Khilafah bagi mereka layaknya 'lampu ajaib' yg bisa memberi apa saja dan menyelesaikan masalah apa saja. Tidak sadar bahwa berbagai kelompok saling membunuh dan berperang di Timur Tengah karena sedang berebut mendirikan khilafah, dan ujungnya adalah kebinasaan.

Saat kelompok makar di Suriah berusaha meruntuhkan sistem dan pelaksana negara, mereka mengkampanyekan slogan al-sha'b yurid isqat al-nizam (rakyat menghendaki rezim turun) dan irhal ya Basyar (turunlah Presiden Basyar). Slogan dg fungsi yg sama di-copy pasteoleh jaringan mereka di Indonesia, jadilah gerakan dan tagar '2019 Ganti Presiden'!

Syirianisasi sedang digulirkan di negara kita. Pola2 yg sama ketika kelompok radikal menghancurkan Suriah sedang disalin untuk menghancurkan negara kita.

Bedanya Suriah sudah merasakan penyesalan dan ingin rekonsiliasi, merambah jalan panjang membangun kembali negara mereka.

Sedangkan, kita baru saja memulai. Jika kita tidak berusaha keras menghadang upaya mereka, maka arah jalan Indonesia menjadi Suriah kedua hanya persoalan waktu. Semoga itu tidak pernah terjadi.

📝👤: Gus Najih Ramadhan
Alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus dan Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami)

Monday, July 13, 2020

Menakar Bahaya Laten Telkomsel


MENAKAR BAHAYA LATEN TELKOMSEL -

Pembunuhan besar besaran terhadap mereka yang terduga sebagai PKI setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 dimulai dari data yang diberikan oleh CIA - Central Intelegent of America.

Mantan pejabat urusan politik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Robert J. Martens, mengakui memberikan daftar orang-orang PKI, dari tokoh atas hingga kader bawah, kepada tentara Indonesia untuk diburu dan dibunuh. Sebagaimana diungkapkan wartawan Kathy Kadane di washingtonpost dot com, 21 Mei 1990 lalu. Ada 5000 nama yang diberikan CIA, katanya.

Amerika tidak bisa menerima Indonesia jadi negara Non Blok. Maka dengan segala cara menjatuhkan Presiden Soekarno. Setelah itu menghancurkan pengaruh Komunis di Indonesia dan menempatkan Soeharto sebagai pengganti dan kaki tangannya.

Dan sesudah itu Amerika mendapat konsesi menggali gunung emas melalui Freeport McMoran di Irian Barat atau Papua -  sebagai imbalannya.

Data adalah petunjuk awalnya. Daftar berisi 5.000 nama yang telah disusun selama 2 tahun agar diburu dan  "dihabisi" .

Dan kematian 1 hingga 3 juta simpatisan PKI -  dan jutaan lainnya yang ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke Pulau Buru, serta dikucilkan dan mendapat stigma negatif hingga keturunannya - terjadi sesudah itu.

Di abad informasi kini - data semakin penting. Bahkan sangat penting.

DATA adalah petunjuk, lampu penerang, tulang punggung dan juga senjata. Berlaku juga dalam bisnis dan studi berbagai ilmu.

Memahami data,  memahami masalah. Dari data lah pengusaha dan aktifis menyusun strategi dan langkah aksi.

Kini di tahun 2020 ini -  posisi CIA digantikan oleh kadrun di dalam Telkomsel,  BUMN milik negara. Kadrun pro khilafah membocorkan data Denny Siregar di media sosial sebagai ancaman nyata.

Perkembangan mutakhir,  dugaan terbongkarnya data Den-Si bukan oleh 'hacker' (dari luar) tapi bocoran kadrun (dari dalam) . Ada yang pegang kunci lemari data pelanggan.  Membukanya dan mengirimnya ke luar seolah olah 'hacker'.  Sungguh mengerikan.

Saat ini terjadi pada Denny Siregar. Besok terjadi pada Anda dan kita semua.

No. hape, NIK - KTP dan KK (Kartu Keluarga)  adalah kombinasi yang akan membuka segalanya karena itu syarat untuk memiliki dan mengaktifkn nomor hape. Juga buka rekening bank.

Dan di era digital ini, dengan itu semua orang jadi telanjang dengan mengolah tiga data angka itu. Kita semua bisa dipermalukan. Dibuka aib dan semua rahasinya.

Saya berharap aparat kepolisian ekstra keras dalam kasus ini. Jangan hanya melihat sebagai pembobolan data pelanggan terancam semata. Karena yang terancam negara juga.

Dan jangan dikira polisi bisa bebas dan jadi penonton dalam hal ini. Pihak netral atau independen. Tidak!

Masing masing di antara polisi juga punya  HP. Dengan bocoran data dari mereka,  isi rumah dan ATM Anda juga foto aksi tidak terpuji Anda bisa dibongkar. Diunggah ke media sosial oleh para kadrun itu.

Bukan rahasia lagi sesama AKP dan Kombes di instansi kepolisian bersaing satu sama lain. Dan di masa kini saling menjatuhkan saingan, sesama korps,  bisa dilakukan dengan modal data.

Karena itu,  polisi harus mengusut tuntas. Selain itu untuk kasus ini motifnya bukan uang - melainkan ideologia! Dan keselamatan warga negara.

Sementara itu Dirut Telkom harus menunjukkan kesungguhannya tak cuma pamer ISO ini ISO itu. Sertifikasi lembaga keamanan internasional. Pret.  Nyatanya begitu mudah dibobol dari dalam.

Jangan sok kooperatif sama polisi tapi ngumpetin kadrun!

Memang tidak mudah. Para kadrun yang kini jadi pakar dan menduduki posisi penting sudah dibina dan dicuci otak sejak masih di kampus mereka. Kampus perguruan tinggi negeri bergengsi.

Paham khilafah, intoleran, negara Islam, wahabi salafi,  ikhwanul muslimin, sudah merasuk ke tulang sungsung mereka. Pengajian menghadirkan ustadz kadrun pun berlangsung rutin. Ideologi antiPancasila sudah berurat berakar. Ibarat kanker,  sudah masuk stadium 4 .

Selevel manager saja sudah nekad dan terang terangan memaki maki presiden di media sosial.

Bahkan yang ngaku "hacker" berhasil buka identitas jendral Moeldoko. Yang ternyata modalnya dari membuka kunci lemari dari dalam sendiri. Kunci fisik. Bukan kode dari jauh

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menduduki posisi ke tiga kapitalisasi saham di pasar. Di bawah BCA (Rp.644 triliun) dan BRI (Rp.298 triliun). Per Maret 2020 lalu,  nilai induk perusahan Telkomsel mencapai Rp295 triliun.

Sempat ada ungkapan frustrasi : "Pilihannya Telkomsel yang hancur atau NKRI hancur ?! "

Tentulah hal itu tidak perlu terjadi. Yang diperlukan adalah ketegasan menteri BUMN, Msnteri Kominfo dan Aparat tegas.

Informasi dari pihak internal pun mulai mengalir di ranah publik. Contohnya screenshot di atas yang beredar di Twitter.

Ini momentum baik bagi Kementrian BUMN di bawah Erick Thohir untuk membersihkan instansinya. Momen kebocoran data oleh oknum internal Telkomsel bisa jadi pemicunya.

Tentu yang dibersihkan juga termasuk para kadrun pengusung khilafah, alias para teroris yang ingin mengganti dasar negara.

TELEKOMUNIKASI itu sangat vital dan besar imbasnya di dalam sebuah rencana kudeta. Oleh sebab itu, Kementrian BUMN harus membersihkan Telkom dan Telkomsel dari pengaruh ideologi kadrun dan antiPancasila sampai tuntas.

Bahaya sekali jika para teroris data ini dibiarkan menguasai perusahaan telekomunikasi negara. Jangan sampai Telkomsel menggantikan posisi PKI dan HTI:  jadi bahaya laten. ***

✍🏼 Supriyanto martosuwito

https://www.facebook.com/803774136380640/posts/3348689861889042/

Saturday, June 13, 2020

Ideologi Extrim Yang Berbahaya.


Berikut negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir:


1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta

2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial

3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris

4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris

5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi

6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang

7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara

8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara

9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan

10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara

11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent

Wednesday, December 11, 2019

'Saya hampir jadi teroris': Kisah perempuan yang 'dicuci otak' agar bergabung kelompok Islam ekstrem

Yunita Dwi FitriHak atas fotoYUNITA DWI FITRI
Image captionDua belas tahun silam, Yunita Dwi Fitri mengalami peristiwa yang membuatnya nyaris terjerumus dalam kegiatan sebuah kelompok Islam yang menghalalkan kekerasan.
Dua belas tahun silam, Yunita Dwi Fitri mengalami peristiwa yang membuatnya nyaris terjerumus dalam kegiatan kelompok Islam ekstrem yang menghalalkan kekerasan.
Yunita menuliskan pengalamannya di laman Facebook yang diberi judul 'Saya hampir jadi teroris' tidak lama setelah serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan kantor polisi di Surabaya yang melibatkan sejumlah perempuan yang membawa anak-anaknya.
"Anak-anak muda mesti lebih waspada. Mereka mengincar anak-anak muda. Penampilan mereka biasa saja, tidak mencurigakan," ungkap Yunita dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Kamis (17/05).
Pada kalimat pertama kesaksiannya, Yunita mengaku memberanikan diri untuk mengungkapkan pengalamannya sebagai bentuk kepedulian.
"Karena saya peduli, jadi saya mau berbagi cerita 12 tahun yang lalu," Yunita mengawali kesaksiannya.
Dengan alasan yang sama, sejumlah pengguna media sosial lainnya dalam waktu hampir bersamaan juga membuat kesaksian yang relatif sama - pernah dibujuk oleh orang-orang yang menawarkan ideologi kekerasan atas nama Islam.
Sebelumnya, seorang pria bernama Ahmad Faiz Zainuddin, kelahiran 1977, mengaku berhasil menolak bujukan untuk bergabung kelompok Islam radikal.

'Perempuan itu enggak pakai jilbab'

Pada 2006, saat sibuk menyelesaikan tugas skripsi di sebuah perguruan tinggi di Bandung dan dalam perjalanan ke kampus, Yunita dihampiri seorang perempuan yang mengaku lulusan SMA dan meminta tolong dicarikan pondokan atau indekos.
Kebetulan tempat indekosnya ada kamar kosong, Yunita lantas mengajak perempuan itu ke pondokannya. "Dia enggak pakai jilbab dan awalnya penampilannya tidak mencurigakan," ungkapnya.
mahasiswa berjilbabHak atas fotoBBC NEWS INDONESIA
Image captionFoto ilustrasi: Sejumlah mahasiswa berjilab di kampus Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta, April 2016.
Tiba di lokasi pondokan, perempuan itu menolak bertemu pemilik pondokan dan justru minta minum dan duduk di dalam kamar Yunita. Di sinilah Yunita mulai berpikir "agak aneh" melihat perangai tamunya.
"Suka baca alquran ya?" Sang tamu bertanya pada Yunita saat melihat Alquran dalam kondisi terbuka di meja belajarnya. Yunita mengiyakan dan mengaku "sedang belajar tafsir Alquran".
Tidak lama kemudian, perempuan itu meneruskan pertanyaannya: "Boleh enggak saya ajak teman saya ke sini, kita belajar bareng tentang tafsir Alquran?" Yunita, yang masih penasaran, mengiyakan.

'Sangat sopan sekali'

Sesuai janji, perempuan itu mengajak rekannya seorang perempuan berjilbab - yang usianya sekitar 22-23 tahun - ke kamar kos Yunita.
"Ngomongnya tertata banget, duduknya pun sangat sopan sekali," ungkap Yunita menggambarkan sosok tamunya itu.
wajah dan bukuHak atas fotoED WRAY/GETTY
Image captionFoto ilustrasi: Seorang pria berkopiah di antara buku-buku keislaman di sebuah toko buku di Jakarta, 31 Januari 2016.
Di hadapannya, perempuan berjilbab itu meminta Yunita membuka Alquran dan diminta membacakan sejumlah ayat. Menurutnya, sang tamu tidak memberi kesempatannya untuk bertanya.
"Pokoknya, kalau disimpulkan, harus jihad segala macam... Intinya kalau ada orang kafir, bunuhlah. Seolah-olah menyuruh saya seperti itu," papar Yunita.
Dia mengaku kaget dan seperti kehilangan kata-kata saat menyimak ucapan sang tamu tersebut. "Masak sih kayak gitu... Dalam batin, saya tetap ada penolakan. Masak sih kayak gitu."

'Ibu saya kaget, dan menduga saya akan dibaiat Negara Islam Indonesia (NII)'

Pijar Anugerah, wartawan BBC News Indonesia
Ketika saya di kelas tiga SMA, sekitar tahun 2008, saya dekat dengan seorang alumni yang menjadi pembina di kegiatan ekstrakulikuler (ekskul) Kelompok Ilmiah Remaja. Kakak kelas ini telah menjadi mahasiswa di sebuah universitas terkemuka di Bandung.
Di luar kegiatan ekskul, ia menawarkan saya dan beberapa kawan sekelas untuk bimbingan belajar gratis menjelang Ujian Nasional (UN). Saya pun menyanggupi. Kami pun beberapa kali mengadakan sesi belajar di masjid dekat sekolah setelah salat zuhur.
Pada suatu hari, kebetulan hanya saya yang hadir, ia mengajak saya untuk belajar di tempat lain. Dengan membonceng motornya, saya dibawa ke sebuah rumah di daerah yang cukup jauh dari sekolah. Di rumah itu saya diperkenalkan dengan seorang laki-laki berkacamata, yang tidak terkesan bisa mengajari saya materi UN.
Dan memang, saya menyadari tak lama kemudian, bahwa saya tidak diajak ke sana untuk bimbingan belajar. Laki-laki berkacamata itu mengajak saya 'kajian' tentang Islam.
Ia berusaha menggoyahkan anggapan tentang Islam yang saya pegang selama ini. Caranya, dengan mengajukan rangkaian pertanyaan untuk mengarahkan saya ke kesimpulan yang ia inginkan.
Misalnya, ia bertanya: "Kamu Muslim bukan?" Saya pun menjawab iya. Kemudian ia bertanya lagi, "Apa buktinya kalau kamu Muslim?"
Untuk menjadi seorang Muslim, katanya, seseorang harus mengucapkan dua kalimat syahadat; dan karena saya dilahirkan di keluarga Muslim dan dibesarkan sebagai Muslim, saya tak pernah mengucapkan syahadat dengan disaksikan orang lain seperti orang-orang non-Muslim yang hendak pindah agama.
Pijar AnugerahHak atas fotoPIJAR ANUGERAH
Image captionPijar Anugerah (2008) saat berstatus siswa sekolah menengah di Bandung, Jawa Barat.
Saya pun ditawari untuk mengucapkan syahadat dengan disaksikan oleh mereka. Saya pun ragu, dan berkata ingin memikirkannya terlebih dahulu. Si laki-laki berkacamata dan si kakak kelas terus membujuk saya. Tapi akhirnya mereka menyerah. Saya diantar pulang tanpa sempat belajar apapun tentang materi UN.
Di rumah, saya menceritakan pengalaman tersebut ke Ibu saya. Ibu pun kaget, dan langsung menyuruh saya untuk menjauh dari orang-orang itu. Ibu menduga saya hampir dibaiat untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII), kelompok yang merupakan cikal bakal Jamaah Islamiyah.
Terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau pada hari Rabu (16/05) disebut adalah anggota NII.
Kebetulan, Ibu biasa mendengarkan ceramah Ustad Aam Amirudin di radio OZ setiap pagi. Dari beliaulah Ibu mengetahui tentang cara perekrutan NII, yang disebutnya sebagai kelompok yang eksklusif dan membolehkan anggotanya untuk melakukan kejahatan selama demi kepentingan kelompok.
Setelah itu, saya sempat ditelepon dan diajak kembali untuk ikut 'kajian' dua-tiga kali. Saya terus menolak, dan kemudian mereka berhenti menghubungi saya.
Saya pun lulus UN dan, uniknya, masuk universitas yang sama dengan kakak kelas yang pertama kali mengajak saya ikut 'kajian' itu. Kami bahkan melakukan penelitian di laboratorium yang sama. Hubungan kami tetap baik, meskipun tidak begitu dekat, dan ia tak pernah menyinggung lagi soal kajian selama kami di kampus.
Namun dua tahun kemudian, saya mengetahui kalau ia ternyata mencoba merekrut beberapa adik angkatan saya. Kali ini modusnya adalah bimbingan tes TOEFL dan lokakarya teknik penginderaan jauh atau GIS. Saya pun segera memperingatkan adik-adik angkatan.
Tapi sikap mereka tampaknya lebih santai. Mereka memanfaatkan kesempatan untuk les gratis, tanpa bergabung dengan kelompok manapun.

Pertemuan yang berlangsung tidak sampai satu jam itu akhirnya berakhir, "tanpa ada basa-basi," ujar Yunita mencoba mengingat lagi kejadian itu.
Merasa penasaran, Yunita tidak menolak saat ditanya apakah dirinya tidak keberatan untuk melanjutkan belajar tafsir Alquran di tempat kos sang tamu tersebut.

'Pintu dan jendela ditutup rapat'

Keesokan harinya, Yunita dijemput untuk melanjutkan belajar tafsir Alquran di tempat pondokan perempuan yang memberikan materi "jihad" kepadanya.
alquranHak atas fotoMARWAN NAAMANI/AFP
Image captionFoto ilustrasi: Seorang umat Muslim sedang membaca Alquran.
Yunita mencoba mengingat lagi lokasi pondokannya yang disebutnya "agak masuk ke dalam dan jauh dari keramaian".
"Nah, saya yang kaget itu kamarnya sama-sekali tidak ada barang. Jadi cuma ada lemari berukuran sedang dan tikar," ungkap Yunita.
Dia kemudian duduk di ruangan itu, dan sambungnya, pintu serta jendelanya ditutup rapat oleh salah-seorang perempuan itu. "Gordinnya juga ditutup."
Dalam momen inilah, Yunita mengaku mulai takut ("saya takutnya diculik," akunya, mengenang). "Tapi karena masih penasaran, saya coba ikuti."

Menggambar 'mobil masuk jurang' dan 'apel busuk'

Di ruangan berukuran tiga kali tiga meter itulah, perempuan berjilbab itu kemudian mengeluarkan papan tulis yang semula disimpan di balik lemari.
"Tidak ada Alquran di ruangan itu," ungkap Yunita.
Kemudian perempuan itu menggambar mobil, dengan sejumlah penumpang di dalamnya, yang kemudian jatuh ke jurang. "Dia sistematis sekali menjelaskannya."
apel busukHak atas fotoSHAH MARAI/AFP
Image captionFoto ilustrasi: "Apel-apel lain yang bersih, ikutan busuk juga karena ada satu apel busuk. Intinya, apel busuk harus disingkirkan," ungkap perempuan itu di hadapan Yunita.
"Kalau pengemudinya salah mengendarai mobilnya dan masuk ke jurang, maka semua penumpangnya ikut mati jatuh ke dalam jurang."
Yunita melanjutkan: "Dia menggambarkan sebuah negara kalau pemimpinnya salah, pemimpinnya enggak sesuai dengan (tafsirnya atas) apa yang ada di Alquran itu, yang kemarin dia bicarakan itu, kita akan salah jalan juga."
Di hadapan Yunita, perempuan itu juga menggambar buah apel dalam kulkas. Dia menggambar satu buah apel busuk dan beberapa buah apel yang segar.
"Apel-apel lain yang bersih, ikutan busuk juga karena ada satu apel busuk. Intinya, apel busuk harus disingkirkan."
Dalam laman Facebooknya, Yunita menjelaskan bahwa simbol apel busuk itu berarti "itulah jika masih berteman dengan orang kafir dan tidak sepaham dengan kita", seperti diutarakan sang perempuan tersebut di hadapannya.
Ada beberapa materi lainnya yang disampaikan, tetapi Yunita mengaku lupa.

Dimintai sumbangan Rp400 ribu

Lebih lanjut Yunita mengungkapkan bahwa sang perempuan itu kemudian menjelaskan bahwa untuk misi mendirikan "negara baru untuk Allah" diperlukan dana.
"Intinya sodaqoh (atau sumbangan), dan sodaqoh awalnya sebesar Rp 400 ribu," kata Yunita menirukan ucapan perempuan tersebut. Uang itu diminta diserahkan esok harinya.
uangHak atas fotoAFP
Image captionFoto ilustrasi: Yunita menulis bahwa dirinya dibolehkan berbohong kepada orang tuanya. "Bahkan ketika kamu berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual telepon genggammu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah..."
Yunita mengaku saat hendak menanyakan kenapa sumbangannya sebesar Rp400 ribu, perempuan itu berkata: "Karena dengan pengorbananmu, maka Allah akan tahu sampai mana pengorbananmu untuk Nya."
Belum sempat bertanya, perempuan itu membombadirnya dengan kalimat: "Saya tahu kamu masih mahasiswa, jadi belum tahu cari uang sebesar itu."
Perempuan itu kemudian menceritakan pengalamannya: "Saya di awal pun menjual telepon genggam saya untuk sodaqoh Rp400 ribu."
Dalam Facebooknya, Yunita menulis bahwa dirinya dibolehkan berbohong kepada orang tuanya. "Bahkan ketika kamu berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual telepon genggammu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah..."

Merasa dicuci otak

Mendengarkan apa yang diutarakan perempuan itu, Yunita mulai melihat ada keanehan. "Masak saya diminta berbohong. Bukankah berbohong itu berdosa?" Tapi Yunita mengaku tidak ingin terlihat seperti menolak ajakan itu.
Di akhir pertemuan, Yunita diminta tidak menceritakan hasil pertemuan itu kepada siapapun.
salatHak atas fotoADEK BERRY/AFP
Image captionFoto ilustrasi: Sejumlah perempuan Muslim sedang menunaikan salat di sebuah masjid di Indonesia, 5 Juli 2015.
"Jujur saja, saya cukup merasa dibrainwash (dicuci otak) untuk mengikuti perkataannya, sampai saya enggak berani ngomong ke teman terdekat," katanya. Kebetulan sebagian besar teman-temannya di kampus adalah non Muslim.
Selain diminta menyumbangkan uang Rp400 ribu, Yunita diminta mengenakan jilbab putih, kemeja putih serta celana bahan hitam pada esok harinya.
"Saya diajak janjian naik kereta api ke Cimahi, sambil bawa uang Rp400 ribu, dan mengenakan jilbab," ungkapnya.
Mendapat pencerahan: 'Modus NII'
Mendengarkan suara hatinya, Yunita kemudian memutuskan mencari orang yang dianggapnya memahami masalah keislaman. Hal ini kemudian mengantarnya ke yayasan Darut Tauhid di kawasan Geger Kalong, Bandung.
Di masjid yayasan itu, Yunita mengaku menemui dan berkenalan dua mahasiswi berhijab panjang. "Singkat cerita, mereka adalah penyelamat saya," ungkapnya.
Dia kemudian menceritakan pengalamannya tersebut. "Mereka yang bercerita bahwa modus seperti itu dilakukan oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII)."
mahasiswa berjilbabHak atas fotoBBC NEWS INDONESIA
Image captionFoto ilustrasi: Suasana di kampus Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta, April 2016.
Mereka kemudian menasihati agar Yunita tidak mengikuti lagi pertemuan dengan orang-orang tersebut.
"NII berusaha mencuci otak anak-anak muda, banyak di antara mereka yang hilang, meninggalkan keluarga demi membangun NII, menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang," ungkapnya menirukan keterangan dua mahasiswa tersebut.

'Karena saya peduli'

Yunita mengaku saat itu langsung percaya dengan keterangan mereka. "Saya langsung sadar." Yunita kemudian memutuskan untuk tidak memenuhi perjanjian pertemuan di Cimahi.
Suatu saat, dia berpapasan dengan peremuan yang mengaku lulusan SMA yang meminta tolong dicarikan pondokan tersebut. "Dia berjilbab dan pura-pura tidak melihat saya."
Yunita mengaku selalu teringat kembali peristiwa itu setiap muncul kasus-kasus kekerasan atas nama agama, termasuk serangan bom bunuh diri di Surabaya.
Dia kemudian menjelaskan motifnya berbagi pengalaman tersebut di media sosial. "Karena saya peduli, jadi saya mau berbagi cerita 12 tahun yang lalu," tegasnya.
Dia juga mengharapkan pengalamannya ini bisa diketahui anak-anak muda sehingga "lebih waspada" dan "berhati-hati".
"Mereka mengincar anak-anak muda yang sedang cari jati diri. Saya harap mereka lebih waspada." 

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)