Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Monday, November 30, 2020

KAMI TUAN RUMAH, ANDA TAMU

Gambar Ilustrasi saja
KAMI TUAN RUMAH, ANDA TAMU
- Pertama tama kami tegaskan bahwa kami tuan rumah di negara kami di Indonesia -  di bumi Nusantara ini -  dan Anda adalah tamunya. Tamu kami. 

Kami kini kecewa karena penerimaan kami yang ramah kepada para tamu disalah-gunakan oleh Anda dan kaki tangan Anda di sini -  untuk mengubah perilaku dan cara kami berkebudayaan dan berperadaban .

Jelas kami punya cara berpakaian sendiri. Kami punya warisan budaya dan tradisi dari leluhur nenek moyang kami sendiri -  yang berwarna warni. Dan kami terus mengembangkannya sesuai zaman. Secara kreatif.

Anda telah mengatur cara kami berpenampilan dan berpakaian. Dengan membawa nama Tuhan dan perintah ayat suci hingga mengubah penampakan warga negeri kami.

Tuhan yang Anda sembah adalah tuhan yang kami muliakan juga. Tuhan yang tidak menyeragamkan. Tuhan yang menciptakan manusia yang bermacam ragam. Bersuku suku dan berbangsa-bangsa. Bahkan juga ada aneka keyakinan dan agama. 

Pakaian Anda seperti itu karena tinggal di lingkungan seperti itu: gurun pasir dan sahara.  Dan pakaian kami seperti ini karena kami tinggal di lingkungan seperti ini. Wilayah tropis di Khatulistiwa.

Kami bukan bangsa yang gelap mata hanya karena lihat rambut indah wanita, dengan  bahunya yang terbuka dan sedikit belahan dada. Juga kaki jenjang dan betis yang indah.

Lagipula buat apa belajar agama kalau tidak bisa menahan diri - menahan nafsu melihat dandanan wanita? 

Sebenarnya fungsi agama buat apa? Kalau sekadar menahan nafsu hewaniah saja tidak bisa? 

Sudah naluri mereka -  para gadis dan wanita - untuk memamerkan kecantikannya - dan naluri kami kaum laki laki untuk melihatnya. Sama sama saling menarik perhatian dengan cara kami masing masing. Dengan cara elegant, anggun dan artistik. Sangat manusiawi. Berperadaban dan berkebudayaan. 

Kami adalah manusia seutuhnya . Bukan keturunan nabi dan bukan anak anak dewa. 

Jangan Anda memborong kesopanan dan kebaikan sesuai versi Anda. Bangsa kami juga punya tata krama. Kesantunan. Dan yang utama adalah kami punya akal budi,  punya daya -  budidaya atau budaya. 

Tuhan menurunkan kami di bumi Nusantara  untuk menjadi Indonesia bangga dengan identitas indonesia -  bukan untuk menjadi bagian dari jazirah dan negeri jajahan Anda. Setidaknya negeri jajahan budaya Anda. 

SAAT INI sebagian dari masyarakat generasi muda kami sudah rusak oleh dakwah dan syi'ar Anda. Kami kehilangan keIndonesiaan kami dan menjadi semakin keArab-araban.

Kami dipisahkan dan disekat oleh perbedaan agama dari saudara-saudara kami sesama anak bangsa di Nusantara.

Kebaikan dan kepantasan disesuaikan oleh agama khususnya agama Anda. Oleh selera Arab dan Gurun Sahara. Bukan oleh budaya Nusantara dan kemajuan budi daya manusia Indonesia. 

Meski sama sama sawo matang kami seperti tak menyatu dengan saudara Kristen kami - saudara Budha kami dan Hindu kami. Bahkan kami meminggirkan keyakinan asli dari tanah kelahiran kami sendiri. 

Pejabat pejabat keagamaan dan para ulama, ustadz,  dengan bangga menjadi agen Anda  dan agen budaya yang tetap asing bagi kami - yang menyelinap di belakang ajaran agama. 

Generasi kami dibuat ketagihan untuk mengunjungi negeri anda. Sebagiannya menjadikan pengunjung secara berkala seperti negeri serumpun saja.

Sebaliknya kami dibuat asing dengan negeri serumpun kami, yaitu tetangga sesama warga negeri ASEAN yang seolah saudara jauh padahal warna kulit dan postur kami sama. 

Kami dibuat begitu dekat dengan Anda meski berbeda dalam banyak hal dengan Anda. Hanya agama saja kesamaannya. 

Kami bukan mesin agama. Kami punya peradaban. Kami warga negeri yang berdaulat.

Lagipula agama bukan segalanya. Tanpa bermaksud menunjukan sikap anti agama di era globalisasi dan komunikasi internet era 4.0 ini dengan mudah diketahui bahwa negara negara yang tidak beragama juga bisa  maju dan sejahtera. Beradab. Berbudaya tinggi. China - Russia dan Jepang contohnya. Sedangkan negara yang fanatik agama justru porak poranda. Seperti Yaman,  Libya, Somalia dan Suriah sebagai contohnya.

Hal yang memprihatinkan adalah ada kasta baru yang dibangun sistematis seolah olah warga negeri Anda -  bangsa Arab -  lebih mulia dari kami yang punya negeri ini. Asalkan berpakaian seperti negeri Anda dianggap lebih suci - lebih mulia -  menjadi bebas melanggar aturan dan kebal hukum. 

Hanya dengan berpakaian dan berpenmpilan seperti warga negara Anda lantas orang orang kami sendiri menyebut Anda  "bukan warga sembarangan".

Pada zaman penjajahan Belanda kami mengenal "Londo Ireng"  atau "Belanda Hitam" yang bukan kulit pitih,  menjadi antek penjajah, begundal dan menista sesama pribumi. 

Kini kami mengenal "Arab Pesek" yakni orang orang lokal yang sudah jadi antek dan begundal Anda -  memuliakan Anda dan tega menganiaya saudara sesama kulit sawo matang - demi keuntungannya sendiri. Juga rasa takut lantaran menempatkan ras Anda  lebih mulia dan lebih suci dibanding kami.

Ya - Anda sudah jadi penjajah baru di negeri kami. Setidaknya penjajah budaya. Anda bukan tamu lagi. 

Anda penjajah yang sudah menguasi dan mencengkeram alam pikiran warga kami dan tuan rumah dan menciptakan generasi "Arab Pesek" yang setiap saat bisa mendatangi, mengintimidasi dan mempersekusi warga kami. 

Bahkan ada kini terang terangan mengancam memenggal leher saudara sebangsa -  sesama kulit sawo matang - demi membela orang yang seketurunan dengan Anda.

Penulis: Supriyanto Martosuwito 
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Indonesia Maju

Teror di Sigi, ISKA Imbau Masyarakat Tetap Pelihara Kerukunan dan Persaudaraan

 

Di tengah keprihatinan bangsa ini akan adanya masa pandemi Covid-19 yang masih belum berakhir, kita semua dikejutkan dengan pemberitaan dan peristiwa teror pembunuhan 4 warga yang terjadi di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat (27/11/2020).

Ketua Presidium Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) V. Hargo Mandirahardjo bersama Presidium Bidang Hubungan antar Agama dan Kepercayaan Ch. Arie Sulistiono, MM. melalui siaran pers di Jakarta, Senin (30/11) menyatakan ikut berbelasungkawa atas tragedi yang telah memakan korban jiwa tersebut.

http://news.iniok.com/2020/11/teror-di-sigi-iska-imbau-masyarakat.html ]

“ISKA dalam hening cipta bersama-sama mendoakan para korban aksi teror dan pembunuhan di Desa Lembontonga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, semoga para korban yang meninggal dunia diberikan istirahat yang kekal dalam kerahiman Allah Surgawi, dan keluarga mereka diberikan penghiburan,” ujarnya.

Selanjutnya, Hargo mengatakan, ISKA juga mengecam dan mengutuk keras tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusiaan dengan melakukan tindakan menghilangkan nyawa warga masyarakat yang tentunya melukai hati nurani seluruh warga bangsa, apapun alasan dan motivasi yang melandasinya.

Karena itu, ISKA akan selalu mendukung langkah tegas POLRI dan TNI dalam melawan segala bentuk aksi terorisme sehingga kedaulatan negara dan Ideologi Pancasila terjaga dan ditegakan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mendukung upaya-upaya yang cepat, sigap dan bersungguh-sungguh dari pemerintah dan aparat penegak hukum setempat dan perhatian pemerintah pusat untuk  mengusut dan mengambil tindakan hukum yang sepatutnya dilakukan untuk menjamin rasa kemanusiaan dan keadilan sebagai satu bangsa yang beradab,” ujar Hargo.

Hargo juga meminta masyarakat untuk tetap tenang, menjaga ketertiban dan suasana kondusif.

“Menghimbau seluruh masyarakat setempat dan masyarakat luas  untuk tetap tenang, tetap memelihara kerukunan dan persaudaraan serta mengupayakan  terciptanya kondisi yang tertib, damai dan tenteram serta kondusif,” ujarnya.

Terakhir, ISKA juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk tidak terprovokasi dan hidup dalam ketakutan karena peristiwa ini.

“Marilah kita terus menjaga kedamaian bersama dalam kehidupan sosial bernegara dan berbangsa, untuk tetap menjaga persaudaraan, menghargai kehidupan dan kemanusian tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, golongan dan lain sebagainya,” pungkasnya. (Ryman)

Sumber: https://jendelanasional.id/headline/teror-di-sigi-iska-imbau-masyarakat-tetap-pelihara-kerukunan-dan-persaudaraan/

http://news.iniok.com/2020/11/teror-di-sigi-iska-imbau-masyarakat.html ]

Perihal Aksi Teroris di Kab. Sigi Sulteng - Surat Terbuka Kepada Presiden RI


SURAT TERBUKA
Kepada Yth.
Yang Mulia Presiden RI
Bapak Ir. H. Joko Widodo
Di
Jakarta

Perihal : Aksi Teroris di Kab. Sigi Sulteng
Dengan hormat,

Bapak Presiden,
Saya sangat yakin Bapak sudah mengetahui telah terjadi tragedi serangan teror kepada penduduk di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 27 November 2020 yang menewaskan empat orang penduduk dan pembakaran rumah sekaligus tempat ibadah. Menurut informasi yang saya terima kejadian itu terjadi pukul 08.00 WITA dan pukul 12.00 WIB berita dan foto kekejaman teroris sudah menyebar di media sosial dan media massa. 

Selama kurang lebih 3 x 24 jam sejak peristiwa itu saya selalu mengikuti berita tentang hal tersebut. Namun yang membuat saya sedih, kecewa dan prihatin justru berita yang paling saya tunggu-tunggu tidak pernah ada yaitu "Pernyataan Mengutuk Aksi Teroris dan Ucapan Duka Cita dari Presiden RI". Bagi saya ini sangat aneh, janggal dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang Presiden RI tidak segera tampil di media massa menyikapi aksi teroris super kejam yang terjadi di bagian negeri ini. Sangat tidak mungkin Presiden RI tidak mendapat informasi A-1 terkait aksi teror yang menimpa rakyatnya. Berdasarkan literatur apapun pola serangan yang menimpa korban bukan kejahatan kriminal biasa, tapi jelas terang benderang polanya adalah aksi teroris yang ada indikasi kuat bernuansa SARA. Apalagi Polri sudah memberikan informasi bahwa pelaku kekejaman teror tersebut adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Kemana Presiden saya? 
Itu pertanyaan jutaan orang di negeri ini dalam tiga hari terakhir. Mengapa reaksi Bapak Presiden sangat berbeda saat Bapak mengutuk aksi teror di Nice Perancis, bahkan Bapak serta merta mengecam pernyataan Presiden Perancis Emmanule Macron yang sedang melindungi rakyatnya dari ancaman dan kekejaman teroris. Ada kontradiksi yang sangat kental, saat itu Bapak serta merta mengumpulkan semua pemuka agama dan para Menteri untuk membahas serangan teror di suatu tempat di benua lain. Sedangkan aksi teror terhadap rakyat sendiri di negeri sendiri, Bapak terkesan diam seribu bahasa.

Bapak Presiden yang terhormat,
Memang ada pernyataan Pemerintah yang disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD. Tapi bobot psikologi sosial politiknya jauh berbeda dibanding apabila Bapak Presiden menyampaikan kepada rakyat secara langsung dalam waktu yang secepat-cepatnya. Dalam komunikasi politik tentunya Bapak Presiden jauh lebih hebat dibanding saya. Mengapa Bapak tidak melakukan komunikasi politik yang seharusnya? Tidakkah Bapak merasa seluruh rakyat Indonesia sedang menunggu pernyataan Bapak? Apa yang terjadi Bapak Presiden? Terlalu sibukkah Bapak Presiden atau menganggap aksi teror di Nice Perancis lebih penting dibanding aksi teror di Sigi Sulteng?

Satu hal lagi yang ingin saya tanyakan Bapak Presiden yang terhormat. Apakah Bapak pernah mengevaluasi hasil capaian kerja Satgas Tinombala? Sudah berapa puluh bulan mereka bekerja dan sudah berapa milyar uang negara untuk membiayai mereka? Apa hasilnya? Jadi mohon maaf Bapak Presiden, kalau ada dugaan miring dari sebagian masyarakat, jangan-jangan ini hanya sekedar modus agar tugas operasi Satgas Tinombala dilanjutkan? Rakyat Indonesia perlu bukti  aksi nyata bahwa dugaan miring itu salah Bapak Presiden.

Bapak Presiden yang terhormat,
Setelah bertubi-tubi beberapa bulan terakhir negeri ini dihantam berbagai masalah mulai penanganan pandemi Covid-19 yang tidak kunjung membaik, silang sengkarut masalah UU Cipta Kerja Omnibus Law, kemudian kegaduhan sosial dan ujaran kebencian yang merajalela dari Pemimpin FPI Rizieq Shihab. Semua masalah tersebut sampai saat ini belum tuntas diselesaikan. Dan sekarang terjadi aksi teror di Sigi Sulteng. Apa yang terjadi di negeri ini Bapak Presiden?

Terakhir, saya hanya ingin menyampaikan rasa kekecewaan saya yang mendalam atas sikap diam Bapak Presiden terkait aksi teror bernuansa SARA yang terjadi di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Secara jujur saya harus mengatakan, akhir-akhir ini saya seperti kehilangan sosok Jokowi yang dulu sangat saya banggakan. Sosok yang penuh empati, penuh perhatian dan peduli terhadap rakyat, sosok tegas tanpa kompromi. Sosok yang menjunjung tinggi keberagaman, sosok yang anti intolerasi dan radikalisme. Kemana Bapak Jokowi yang saya kenal dulu? 

Mudah-mudahan saya salah karena saya memang sudah tidak tahu lagi seperti apa Presiden yang saya dukung selama dua kali Pilpres saat ini. Mudah-mudahan Bapak Presiden tidak berubah dan tetap seperti dulu.

Harapan saya meskipun sudah SANGAT TERLAMBAT, sebaiknya Bapak Presiden tampil di depan media massa untuk menyatakakan sikap tegas dan jelas terhadap kasus aksi teror di Sigi Sulteng. Biar rakyat Indonesia tahu bahwa negeri ini masih punya Kepala Negara yang empati dan peduli terhadap keselamatan rakyatnya.

Salam sehat, saya mendoakan Bapak Presiden selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Hormat saya,
Rudi S Kamri
Rakyat Indonesia
30 November 2020

Friday, November 27, 2020

Berita Tercecer Namun Penting Anda Ketahui...Siapa Yang Berutang dan Siapa Yang Bayar Utang.

Pada 2014 pemerintahan Jokowi membayar utang jatuh tempo sebesar Rp 237 triliun, pada 2015 sebesar Rp 226,26 triliun, 2016 sebesar Rp 322,55 triliun, 2017 sebesar Rp 350,22 triliun dan 2018 sebesar Rp 492,29 triliun (sumber Berita : “DetikFinance” dengan Judul : Dalam 4 Tahun, Jokowi Bayar Cicilan Utang hingga Rp 1.600 T, Rabu, 22 Agu 2018 12:05 WIB)
, tahun 2019 Rp. 275 T (Sumber Berita : “Tempo” yang berjudul : “Sri Mulyani: Pemerintah Bayar Bunga Utang Rp 275 T pada 2019”, Selasa, 7 Januari 2020 13:59 WIB) 

dalam satu Priode Pemerintahan bapak Joko Widodo, telah membayar Cicilan Hutang beserta bunganya sebesar : Pada 2014 pemerintahan Jokowi membayar utang jatuh tempo sebesar Rp 237 triliun, pada 2015 sebesar Rp 226,26 triliun, 2016 sebesar Rp 322,55 triliun, 2017 sebesar Rp 350,22 triliun dan 2018 sebesar Rp 492,29 triliun (sumber Berita : “DetikFinance” dengan Judul : Dalam 4 Tahun, Jokowi Bayar Cicilan Utang hingga Rp 1.600 T, Rabu, 22 Agu 2018 12:05 WIB) , tahun 2019 Rp. 275 T (Sumber Berita : “Tempo” yang berjudul : “Sri Mulyani: Pemerintah Bayar Bunga Utang Rp 275 T pada 2019”, Selasa, 7 Januari 2020 13:59 WIB), total jumlahnya sebesar Rp. 1963,82 Trilyun Bahwa selain telah membayar cicilan hutang dan bunganya sebesar Rp. 1963,82 Trilyun,

 Pemerintahan Bapak Joko Widodo, juga membangun berbagai macam infrastruktur secara Merata, mulai dari Sabang sampai Merauke, diantaranya Membangun jalan tol, tidak hanya berfokus di Pulau Jawa saja, tapi juga di Pulau sumatera, Pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, membangun jalan Trans di Papua, Membangun berbagai Jembatan - jembatan besar, membangun berbagai irigasi, termasuk membangun bendungan - bendungan besar, membangun Pembangkit Listrik, termasuk membangun Pembangkit Listrik tenaga Angin, membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya, memperluas Bandara - bandara, termasuk membangun bandara Baru, membangun dan memperluas Pelabuhan, mengambil alih saham mayoritas PT. Freeport yang merupakan salah satu pertambangan emas terbesar didunia, dan banyak lagi melakukan pembangunan - pembangunan yang lain, Membagikan pemberian hak pengelolaan hutan untuk warga desa yang rumahnya dekat hutan dan Bapak Jokowi merupakan Presiden pertama, yang memberikan hak kepada Rakyat kecil warga desa yang rumahnya dekat hutan di INDONESIA, yang jumlahnya mencapai 1 (satu) juta hektar lebih hutan produksi yang pengelolaannya diberikan kepada Rakyat desa, belum lagi pemberian sertifikat Tanah untuk Rakyat, agar ada Tanah Rakyat tidak diambil alih oleh para mafia tanah Kesimpulannya secara Fakta sosial, telah menunjukkan bahwasanya Bapak Jokowi cenderung peduli kepada Rakyat

TURUNKAN JOKOWI ? BISA DENGAN HASUTAN ? LIHAT FAKTA DAN DATA !


TURUNKAN JOKOWI ? BISA DENGAN HASUTAN ? LIHAT FAKTA DAN DATA !

Thursday, November 26, 2020

Edhi Prabowo Sudah Ditersangkakan, Kasus Rizieq Shihab Jangan Dilupakan!!!

Gambar Ilustrasi

Edhi Prabowo Sudah Ditersangkakan, Kasus Rizieq Shihab Jangan Dilupakan!!!
Oleh:
Rudi S Kamri

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhi Prabowo dan kroni-kroninya telah sukses dibenamkan ke sel tahanan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk setidaknya 20 hari ke depan. Kini kita tinggal menunggu keberanian KPK menelisik lebih jauh, adakah aliran dana haram suap ekspor baby lobster alias benur tersebut ke Partai Gerindra dan keterlibatan pejabat negara atau politisi lainnya.

Tapi yang lebih penting dari itu hebohnya kasus Edhi Prabowo ini jangan sampai digunakan sebagai pengalihan isu atau fokus perhatian kita pada kasus yang lebih heboh lagi yaitu kasus potensi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Rizieq Shihab yang sampai sekarang belum ada kejelasan.  

Mengapa saya perlu mengingatkan hal ini karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia terlalu mudah perhatiannya dialihkan pada kasus baru yang lebih seru. Kita sibuk bergunjing membicarakan kasus baru dan begitu mudah melupakan kasus sebelumnya yang belum tuntas penyelesaiannya. (teruskan baca narasi di bawah ini.... 👇)

Potensi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Rizieq Shihab seperti pelecehan institusi kepresidenan, pelanggaran UU Karantina Kesehatan, penghinaan kepada institusi TNI, pelecehan kepada institusi Polri, ajakan untuk melakukan revolusi dan ancaman pemenggalan kepala sampai detik ini belum ada titik terang pengusutan dari aparat kepolisian. Akankah semua dilakukan pembiaran? Lalu atas dasar dan pertimbangan apa seorang warga negara yang bebas melakukan ujaran kebencian dan mengancam keselamatan masyarakat dibiarkan begitu saja?

Sebagai pemegang saham utama di negeri ini, kita rakyat tidak boleh diam saja. Jangan sampai negara seolah takluk dipermainkan oleh seseorang atau ormas tertentu. Jangan pernah kita biarkan aparat negara tidak melakukan tugasnya sesuai dengan amanat yang kita berikan. Mereka, pejabat negara siapapun dia mulai dari Presiden dan aparat di bawahnya mendapatkan gaji tinggi dan menikmati kemewahan fasilitas negara, semua biaya itu berasal dari uang rakyat yang kita percayakan untuk dikelola negara. Dus artinya kita punya hak untuk menuntut mereka bekerja dengan seharusnya. Jangan kita biarkan mereka melakukan tebang pilih kasus hukum dan diskriminasi perlakuan.

Kita harus menuntut negara dalam hal ini aparat kepolisian untuk mengusut dengan serius potensi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Rizieq Shihab. Jangan pula kita hanya terlena dengan tindakan heroik Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrachman mencopot baliho yang mengotori ruang publik Jakarta dan sekitarnya. Pencopotan baliho adalah keberanian yang harus kita berikan apresiasi tapi tidak cukup hanya berhenti di titik itu. 

Sebagai masyarakat sipil kita berhak tahu, bagaimana dengan kelanjutan potensi pidana yang dilakukan Rizieq Shihab. Bagaimana tindak lanjut pemeriksaan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Lalu bagaimana kabarnya pemeriksaan anak dan menantu Rizieq Shihab yang kabarnya sampai saat ini mengabaikan panggilan dari Polri.

Jujur sejatinya saya mengharapkan negara hadir menjawab semua pertanyaan publik yang menggantung di awang-awang. Termasuk seharusnya negara menelisik lebih jauh siapa yang sebenarnya menjadi bandar yang membiayai kepulangan Rizieq Shihab ke Indonesia. Negara seharusnya melayani pertanyaan masyarakat, bukan terkesan melakukan pembiaran dan membuat pengalihan isu.

Kalau negara membiarkan awan hitam menggelantung di langit Jakarta, jangan salahkan rakyat membangun spekulasi penuh warna untuk menjawab rasa penasaran kita. Jangan-jangan uang rakyat atau mungkin uang hasil mengenthit anggaran APBD Jakarta yang digunakan untuk membiayai kepulangan Rizieq Shihab. Teori "jangan-jangan" ini akan tetap berkembang liar kalau negara tetap saja tidak bertindak dan melakukan pembiaran. Spekulasi "jangan-jangan" jangan disalahkan kalau tindakan aparat keamanan dirasakan mengusik rasa keadilan. 

Rakyat menunggu Negara hadir kembali, Bapak Presiden!!!
Salam SATU Indonesia
26112020

Wednesday, November 25, 2020

Pesan JOKOWI tak pernah terungkap yang membuat BISNIS keluarga JK-CHAPLIN kering pelan2


Pesan JOKOWI tak pernah terungkap yang membuat BISNIS keluarga JK / CHAPLIN kering pelan2 tapi pasti.  👇🏼👇🏼👇🏼

Pesan JOKOWI yang tak pernah terungkap yang bikin BISNIS Keluarga JK / CHAPLIN KERING dan AMBROL 24 November 2020.

Politisi  Gaek JK / CHAPLIN yang dua kali menjabat Wapres..., di era SBY & era JOKOWI..., dan sekali sebagai Calon Presiden Memiliki Group Bisnis yang Super Raksasa.

Kalla Group..., 
Bisnis Kalla Group fokus pada Infrastruktur..., seperti usaha Pembangunan Aspal..., di PT Bumi Karsa atau Di PT Bukaka Teknik Utama yang fokus membangun Tower dan Jembatan.

Selain itu..., salah satu bisnis  keluarga JK / CHAPLIN di kancah Nasional adalah Group Bosowa.
Group ini merupakan salah satu bisnis milik Keluarga Aksa Mahmud..., yaitu Adik ipar dari JK / CHAPLIN. 
Aksa Mahmud menikahi dengan Ramlah Kalla adik dari JK / CHAPLIN.

Bosowa Group didirikan pada tahun 1973 di Makassar..., Sulawesi Selatan. 
Nama Bosowa berasal dari nama Tiga Kerajaan Bogis Yaitu : BONE..., SUPPENG..., dan WAJO.

Bosowa bergerak di enam group yaitu : Otomotif..., Semen..., Pertambangan & Energi..., Jasa Keuangan..., Properti dan Pendidikan.(lanjutkan baca narasi berikut di bawah .,...👨👇 )

Selain menjalankan Group Usaha Inti..., Bosowa juga menjalankan sejumlah Proyek perintis di bidang Media..., Olahraga..., dan Agrokultural.

Dilihat dari Bisnis Inti dan lain nya..., nampak betul bahwa bidang tersebut betul - betul sangat di genjot kemajuannya di bawah Pemerintahan Presiden JOKOWI.

Misalnya dengan getolnya JOKOWI membangun Insfrastruktur di seluruh wilayah hingga pelosok Indonesia.

Jalan Tol dimana- mana..., Pembangunan Pelabuhan..., Bandara yang Super megah..., Jembatan Yang Megah..., hingga pos lintas batas semua berdiri gagah bahkan Tol Laut pun begitu membahana.

Bayangkan berapa ribu ton semen yang dibutuhkan untuk pembangunan itu semua.
Padahal tau nggak...,
salah satu Bisnis Bosowa adalah Semen..., tapi Bosowa sama sekali tidak kebagian proyek - proyek pada Pemerintahan Jokowi.

KENAPA ...?
Ini karena ada Sebuah Pesan dari JOKOWI ke JK / CHAPLIN di Tahun 2014 sebelum JOKOWI memilih JK / CHAPLIN menjadi Cawapres.

_Pesan Jokowi Yang Singkat Itu Betul - betul mengunci Semua bisnis Keluarga JK / CHAPLIN...!!!

Pesan itu di dengar sendiri oleh Penulis Saat di Tim Pemenangan yang di Pimpin oleh :
"Patih Kepercayaan" nya JOKOWI.
Beliau bercerita bahwa JOKOWI sudah memilih JK / CHAPLIN sebagai Wapres 2014..., 

mengatakan begini...,

"Pak JK saya sudah memilih Pak JK Sebagai Cawapres saya..., tapi..., nanti semua Bisnis pak JK tidak boleh ikut Project-  Project Pemerintah dan JK / Chaplin pun berjanji menyanggupi nya.

Ok..., dalam perjalanan waktu setahun..., dua tahun..., tiga tahun..., berjalan Pemerintahan JOKOWI di Periode Pertama..., bayangkan berapa banyak Bosowa kehilangan kesempatan bisnis nya..., padahal seharus nya seperti di Era SBY..., JOKOWI harus diam dan main gitar serta menciptakan lagu..., tapi JOKOWI malah menggeber Infrastruktur di seluruh penjuru Indonesia..., seharus bisa menumpuk pundi - pundi kekayaan nya keluarga JK / CHAPLIN.

Maka kita bisa lihat bukan di Tahun 2017 kita bisa melihat saat Anies Baswedan merebut Kursi DKI 1 dari AHOK..., yang kampanye mulai dari isu SARA yang menjual Ayat dan Mayat..., serta Anies ke Balai Kota dengan Helikopter dari Aksa Makhmud pada hari pertama Anies sebagai Gaberner (Governor..., red).

Dari situ terang benderang..., Aksa Makhmud dan tentu saja JK / CHAPLIN ada dibelakang Anies Baswedan.

Ada BENANG MERAHNYA...!!!

Bisnis Keluarga JK / CHAPLIN mulai kering dengan pesan "kuncian" JOKOWI ke JK / CHAPLIN.

Jangan heran bila th.2020 Bosowa di tuntut 7,02 Triliun ( US$ 484,42 million) oleh Qatar Nasional Bank (QNB)..., karena uang _US $ 352.906.689,53 untuk Fasilitas A.

Dan US $ 131.512.474, 33 untuk Fasilitas B yang belum dibayar kan meski sudah jatuh tempo.

Sebelum nya Bosowa juga memiliki Kredit Macet kepada Bank BRI dengan nilai lebih kurang Rp 4 triliun per 28 Juni 2020.

Kredit tersebut setidaknya diberikan kepada 10 anak perusahaan milik pengusaha Aksa Makhmud.

Paham kan kenapa sekarang JK / CHAPLIN selalu ngrecokin Kinerja JOKOWI...!!!

# Saya Bersama Jokowi # 

TENTANG PENANGKAPAN EDHY PRABOWO

 

TENTANG PENANGKAPAN EDHY PRABOWO

Edhi Prabowo ini kalau dalam daftar menteri kabinet Jokowi, memang wajar termasuk yang teratas dalam prioritas penangkapan KPK. Prabowo Subianto, sebagai juragannya, terlalu mengambil resiko ketika menempatkannya di Kementrian Kelautan dan Perikanan. 

OK, itu keputusan Jokowi sebagai pemilik hak prerogatif. Tapi, membiarkan anak asuhnya ini di "sektor yg sensitif" begini semestinya bisa diantisipasi sejak dini.

Harusnya PS sadar bahwa menteri yg digantikannya adalah "public darling". Susy Puji Astuti dalam istilah saya dia ini adalah profiling "Jokowi Perempuan". (teruskan baca narasi di bawah ini... 👇)

Dia adalah menteri terbaik yang dimiliki Jokowi pada periode pertamanya menjabat sebagai presiden. Prestasinya tidak main2, kelasnya dunia. Untuk pertama kalinya, negara Indonesia naik kelas: berani bersikap tegas. Membuat laut Indonesia sebagai halaman yg steril dan berdaulat dari para maling. Jadi relatif steril dari pencurian ikan. 

Menenggelamkan kapal adalah metoda praktis dan efektif yg saya pikir akan selamanya dikenang dunia. Nyaris tanpa kontoversi hukum yg berbelit. Sama sekali tidak melanggar HAM. 

Mungkin, dari sini, lahir peribahasa baru: hancurkan pancingnya, penjarakan pelakunya. Tampak sederhana, tapi efek jeranya luar biasa. Bagaimana, mau mencuri lagi. Kalau alatnya sudah dihancurkan. Bikin kapal lagi? Halah!

Sialnya Si EP ini, sejak awal sudah menunjukkan kecongkakannya. Karakter dasarnya sebagai pesilat, alih2 rendah hati. Ia menunjukkan kesombongannya. Lupa pada masa lalu-nya sebagai anak pungut Prabowo.  Ia adalah salah satu anak yg dibesarkan, bukan sekedar kelak diberi jabatan. Namun memang sejak masa kuliahnya dibiayai oleh PS. Dalam paket ini, jumlahnya cukup banyak. Tapi karakternya nyaris mirip ya sejenis2 Si FZ-lah. 

Manusia snob, yg mudah sekali melupakan masa lalu-nya yg penuh derita. OKB, karena nasib baik perkawanan!

Ketika belum apa2, baru beberapa waktu menjabat menteri sudah bilang ke media: "Apa salahnya saya memberi konsesi kepada sahabat2 saya". 

Ia dg arogan mersa tidak bersalah ketika banyak pengusaha datang kepadanya. Ia anggap itu sebagai kawan yg berkunjung. Silahkan chek di podcat sejuta umat bermasalah-nya Deddy Corbuzier kalau gak percaya. Konon ini media untuk klarifikasi banyak manusia yang nyeleb, baik itu seleb entertaintment, politik, agama, apa pun....

Persoalannya terkait rencana pembukaan lagi eksport benih benur, yg selama Susy menjabat diharamkan. Alih2 menjaga jarak, ia justru mempamerkan kedekatannya dg para pengusaha itu. Tentu, mereka ini bukanlah para pengusaha dalam arti petani sesungguhnya. Jangan lupa, petani itu juga harusnya dianggap sebagai pengusaha. Mereka ini adalah kelompok pemburu rente, para pengusaha yg sekedar duduk manis mencari selisih harga. 

Persoalannya bukan di situ menurut saya, dalam konteks hari ini dia ditangkap. Kalau cuma yg berkarakter maling, setengah menteri Jokowi hari ini juga sama saja. 

Dalam penangkapan dini hari pagi tadi, muncul sebuah sinyalemen buruk. Sangat buruk! 

Kenapa ada Novel Baswedan di sana? Kenapa musti hanya dia yg disebut oleh media. Kemana penyidik lainnya? Kenapa sedemikian buru2, kenapa musti harus sejak pintu pesawat dibuka langsung dikerakap? Takut kabur?

Ini pertama kalinya, seorang tersangka sudah ditangkap sejak dari pintu pesawat dibuka. Kasar? Entahlah tidak ada ukuran atau kode etik untuk menangkap maling. Tapi tentu saja ini adalah show of force gaya baru. 

Tapi lagi2 persoalannya bukan disitu!

Ini adalah sinyal dari kelompok "kadrun" yg komandannya adalah Pak Tua itu. Jangan pernah lagi menyebut Si Chaplin! Banyak yg marah, karena Charlie Chaplin adalah seorang mahadewa di dunia seni. Ia orang baik yg melegenda. Mosok, hanya karena sama berkumis nanggung, lalu disebut demikian. Ayo dong, beri respect pada Sir Charlie Chaplin!

Kembali lagi ini adalah sinyal, atau katakanlah perlawanan balik dari kelompok JK. Bahwa nyaris semua lininya sedang kena sapu. HRS walau baru pulang, sudah dilenyapkan sementara. 

Di titik bisinisnya, ia tak mendapat pembelaan dari pemerintah. Ketika ia mendapat masalah dari QNB. Kasus kredit macetnya di BRI diaduk2 sedemikian rupa. Dan nasib, si pionnya AB di DKI Jakarta sedang dalam kondisi genting. Kalau pemerintah betul2 berani menegakkan hukum, harusnya si AB ini minimalkan diskors. Kalau tidak malah diberhentikan dan menghadapi sidang pengadilan. 

Tentu saja, orang yg paling mendapat keuntungan adalah "sang wagub tiban" itu. Yg kebetulan adalah orang Gerindra. Dan sinyalemen ini sudah sangat kuat. Dan kompornya adalah PKS, yg tentu saja kalau AB berhasil dilengserkan. Merekalah yg akan mendapat durian runtuh. Lumayanlah pokoknya. Semoga dg kasus ini, PS dan Gerindra makin sadar, janganlah suka main di dua kaki. Gak enak! 

Saya cuma sedih saja, ketika seorang kawan tiba2 buat postingan bahwa penangkan EP ini bukti KPK tidak dilemahkan. Pret! KPK ya tetap lemah, ia tampak kuat jika NB bereaksi ketika kepentingan "klan-nya" terganggu! Sampai kapan? 

Nyatanya gak ada yg berani ngusik dia tuh, sampai hari ini. Merekalah rezim korupsi sesungguhnya. Mereka lah, yg membolehkan siapa korupsi, siapa tidak.

Sekali lagi, KPK itu hanya alat politik. Di sana yg berkuasa adalah "kelompok penyidik"-nya. Jajaran komisionernya itu macan ompong. Hambok diisi bakul gudeg atau tukang sayur juga akan tampak bagus. Jika penyidiknya mau bergerak dg obyektif. Tidak main tebang pilih, sesuai pesanan. Ya seperti kali ini...

Btw, saya ikut senang juga EP ditangkap. Ini meringankan beban moril dan citra Jokowi. Tapi saya sarankan kalau bersorak ya gak usah keras2. Bersorak senyap, pokoknya tanpa ke-gembira-an.

Kayak kalau orang bersenggama itu. Coitus interuptus-lah.....

#BerharapSusyDipanggilKembali
Andi Setiono Mangoenprasodjo

MEMBELI KERINGAT GURU

MEMBELI KERINGAT GURU
Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya,

Murid : "Jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?

Gurunya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.

Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan  berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".
"Berapa harga emas seberat itu? "
Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,

"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah,"

Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya?"
Murid berkata : "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar?" (teruskan baca artikel di bawah...👇👮 )

Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu. "

Guru berkata lagi, "Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"
"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? "
"Tentu tidak." Ujar murid.

"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya."

Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu..."

Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi."

Untuk semua guru, Terima kasih atas segenap perjuanganmu semoga Tuhan melindungmu dan memberimu rejeki. 
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
SELAMAT HARI GURU NASIONAL KE 27

Akhir² ini banyak orang teriak "stop kriminalisasi ulama"

Akhir² ini banyak orang teriak "stop kriminalisasi ulama". 
Tapi apakah kalian lupa tahun 1999 - 2001 Indonesia pernah memiliki Presiden yg juga Ulama, bukan ulama kemarin sore. Beliau jadi Ketua Ormas terbesar sampai dengan saat ini (NU) dan merupakan anak dan cucu dari salah satu Kiai terbesar di Indonesia.

Tapi dimanakah kalian saat tahun 2001? Ketika Gus Dur difitnah, dipermalukan dan dicaci maki ? Atau mungkin kalian juga salah satu dari orang yg memfitnah, mempermalukan dan mencaci maki beliau?

Saat itu beliau diturunkan secara paksa oleh orang² munafik dengan tuduhan korupsi yg sampai saat ini pun tidak pernah dibuktikan lewat pengadilan. Apakah saat itu Gus Dur ber-teriak² lantang untuk meminta umatnya melakukan Jihad Revolusi Putih melawan kalian?

Padahal saat itu 50 juta orang Nahdliyin siap untuk melakukan revolusi mempertahankan beliau. Tapi apa yg beliau sampaikan, yg membuat 50 juta Kaum Nahdliyin kecewa?

Gus Dur menyuruh kami semua pulang ke rumah, beliau tidak mau terjadi pertumpahan darah antara sesama bangsa Indonesia karena Gus Dur Cinta Indonesia. (teruskan baca bawah ya...👇 )

Tapi Gusti Allah mboten sare. Hari ini orang² yg dulu mempermalukan beliau, orang² yg dulu menghina dan mencaci maki beliau sudah mulai mendapatkan balasan dari apa yg dulu mereka lakukan.

Jadi, buat kalian yg hari ini teriak² Stop Kriminalisasi Ulama, berkacalah apa yg kalian lakukan tahun 2001 terhadap seorang Gus Dur yg saat itu adalah sebagai Ulama (Kiai) dan Umara (Presiden) sekaligus.

Adegan saat Gus Dur keluar dari Istana Merdeka hanya dengan menggunakan celana kolor pendek di akhir masa jabatannya pada pertengahan Juli 2001 itu tentu saja tidak pernah disangka oleh Supri, fotografer kantor berita Reuters kala itu. Posisi kamera milik Supri yg horizontal saat itu langsung ia ubah menjadi vertikal demi bisa mendapatkan frame kaki presiden yg hanya memakai celana pendek.

Foto jepretannya itu kemudian menjadi salah satu foto paling bersejarah dalam dinamika perpolitikan Indonesia.

Kelak, ber-tahun² setelahnya, setelah Gus Dur meninggal dunia. Kisah tentang akhir masa jabatan Gus Dur yg saat itu harus turun karena "dilengserkan" itu akhirnya menjadi drama kolosal tersendiri yg tersaji dalam sebuah buku berjudul “Menjerat Gus Dur”

Rasanya tidak banyak yg menyangka, bahwa buku “Menjerat Gus Dur” yg ditulis oleh wartawan muda Virdika Rizky Utama ini bakal menjadi buku yg boleh dibilang, paling menggemparkan di penghujung tahun 2019 kemarin. Betapa tidak, ia membongkar banyak sekali fakta bawah tanah terkait dengan pelengseran Gus Dur sebagai Presiden.

Dalam wawancaranya di Kick Andy, Gus Dur pernah mengatakan bahwa kelak, kisah tentang pelengserannya akan terbuka dan tersibak oleh sejarah di masa depan.

“Besok² akan terbukti oleh bangsa ini sendiri,” begitu kata Gus Dur. 

Saya pikir, buku yg ditulis oleh Virdika adalah salah satu bagian dari sejarah itu. 

Buku “Menjerat Gus Dur” seperti ditakdirkan menjadi sebuah lintasan tersendiri. “Wis dalane Gusti Allah” . Lha gimana, dokumen² penting yg berisi tentang banyak informasi tentang skenario pelengseran Gus Dur ternyata ditemukan secara tidak sengaja oleh Virdika pada 2017 lalu di kantor DPP partai Golkar. Saat itu, ia bekerja sebagai jurnalis Majalah Gatra dan sedang meliput satu tahun perkembangan renovasi kantor Golkar.

“Ambil aja Mas. Ini juga mau dikiloin,” begitu kata petugas kebersihan kantor Golkar.

Kalau saja tidak “jatuh” ke tangan Virdika, dokumen² tsb rencananya bakal jatuh ke tangan tukang loak.

Konon katanya, naskah buku ini sempat ditawarkan ke beberapa penerbit, namun tidak ada yg berani menerbitkan. Beruntung, akhirnya naskah itu jatuh ke tangan penerbit yg tepat dan pas : NU Media Digital, penerbit yg masih berafiliasi dengan NU. 

Maka, ketika buku ini dicetak terbatas pada cetakan pertama, yakni 500 eksemplar, ia langsung ludes terjual. Tentu saja sebagian besar yg beli adalah orang² NU sendiri, yg menurut dugaan saya, merasa penting untuk tahu tentang apa yg terjadi pada Gus Dur.

Buku “Menjerat Gus Dur” menampilkan dengan gamblang, skenario pelengseran Gus Dur lengkap dengan potongan dokumen tentang apa yg disebut sebagai Skenario Semut Merah, sebuah skenario untuk menjatuhkan kredibilitas Gus Dur sebagai Presiden melalui berbagai upaya termasuk rekayasa kasus Buloggate dan Brunaigate. 

Yg membikin terbelalak tentu saja adalah begitu banyaknya nama yg kita tidak menyangka bahwa mereka ikut terlibat. Semuanya lengkap dengan perannya masing². Dari mulai Hamdan Zoelva, Patrialis Akbar, Ali Marwan dan beberapa tokoh lainnya yg bertugas mengomandoi aksi mahasiswa dan pemuda saat sidang paripurna. 

Juga ada campur tangan Bambang Tri Atmojo dan Arifin Panigoro yg berperan mendukung aksi borong dollar di pasar valuta asing untuk menjatuhkan nilai tukar rupiah. 

Lalu ada Parni Hadi dan Surya Paloh yg kebagian tugas untuk meng-arrange proses blow up berita di media massa tentang tuntutan mundur terhadap Gus Dur. 

Sampai yg tidak kalah mengagetkan, adanya peran Dien Syamsuddin yg dalam dokumen ditulis punya andil mengendalikan MUI melalui kasus Ajinomoto yg disebut punya dampak besar, yakni memaksa para ulama dan tokoh agama untuk mencabut dukungannya pada Gus Dur. 

Banyaknya tokoh yg disebut inilah yg kemudian menjadi magnet utama buku ini. 

Tidak berlebihan jika kemudian banyak yg mengkhawatirkan keselamatan penulis sebab sudah berani membongkar sesuatu yg orang lain tidak berani membongkar. 

Kepada Virdika, Greg Barton, penulis biografi Gus Dur yg juga memberi kata pengantar dalam buku “Menjerat Gus Dur” bahkan sampai mengatakan sesuatu yg melegakan namun menakutkan : “Saya bersyukur, kamu masih sehat dan hidup”

Virdika seakan tidak takut dengan apa yg sudah ia tulis. Ia tidak ubahnya seperti menulis tulisan yg biasa.

Ketika saya bertemu dengan Virdika tiga hari lalu dalam acara Haul Gus Dur di Ciganjur, saya melihat dengan jelas tampangnya yg santai. Sesekali pasang muka prengas-prenges. Tidak tampak sedikitpun bahwa ia menulis sesuatu yg sangat berpotensi mengganggu kesehatan tubuhnya. 

Gerik-geriknya benar² mewakili apa yg menjadi khas Gus Dur : Gitu aja kok repot. Virdi tetap menjadi sosok yg santai. Mau buku Original menjerat Gus Dur? Buku yg membahas siapa saja dalang ketika dituduh kafir, ia menjawab dengan jawaban yg ndlogok dan los : “Kafir nggak papa, kan tinggal syahadat lagi, jadi Islam lagi.”

Sembari membaca buku ini, saya berdoa semoga Virdika diberi kesehatan dan keselamatan. Doa yg juga saya tujukan untuk petugas kebersihan kantor Golkar. Semoga mereka berdua senantiasa sehat.
Alfatihah buat Gus Dur 🙏
#Sang_Guru_Bangsa_Indonesia
#SahabatGusDur
Gus Pur

Anies Kena Lagi! Rizieq/FPI Utang Pajak Sampai Ratusan Juta Dibiarkan Anies?

Anies Kena Lagi! Rizieq/FPI Utang Pajak Sampai Ratusan Juta Dibiarkan Anies?

Kepulangan Rizieq awalnya disangka akan menjadi “senjata pamungkas” bagi poros JK-Anies-Rizieq. Sebelum Rizieq pulang, elektabilitas Anies memang memprihatinkan. Padahal ini penting buat ambisinya. Memang 2024 masih lama, namun Anies selama ini kan sudah mulai “investasi” untuk terus mengangkat citranya. Agar sejajar dengan Jokowi yang presiden. Tapi apa daya? Mega proyek Formula E batal. Yang ada malah pandemi. Dan elektabilitas Anies makin merosot. Dari yang selalu nomor 2 di bawah Prabowo, kemudian turun hingga posisi 4, disalip oleh Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Apalagi gara-gara pandemi, ekonomi Jakarta minusnya lebih dari minus nasional. Eeh banjir masih saja ada. Wajar dong kalau Anies berharap banyak dari kepulangan Rizieq.

Sejak hari pertama mendarat di Indonesia, keberpihakan Anies terhadap Rizieq sudah direalisasikan dengan sempurna. Yakni kunjungan Anies ke rumah Rizieq, terus foto-foto sambil mengacungkan jempol. Seakan Anies menyatakan kemenangannya sebagai seorang gubernur rasa presiden. Tapi bo’ong! Hehehe….( baca terus narasi di bawah ini....👇 ) 

Rizieq pun “merajalela”. Sudah tidak mau mentaati aturan karantina 14 hari, dia malah bikin kerumunan massa di Cipayung, Tebet, Bogor, dan terakhir di Petamburan. Publik pun geram, dan Anies jadi sasaran kemarahan publik. Karena Anies seakan membiarkan kelakuan Rizieq itu. Namun kemarahan publik itu sudah terbayarkan oleh langkah-langkah strategis Polri dan TNI. Rizieq dan gerombolannya pun terbungkam. Hanya ada protes di sana sini. Namun tidak berarti. Karena mayoritas rakyat berpihak pada TNI/Polri. Dan ternyata, “keapesan” Anies karena Rizieq belum selesai!

Kita bicara soal baliho Rizieq yang dicopot oleh pihak TNI. "Sampai saat ini hampir 900-an (spanduk dan baliho) di DKI (ditertibkan), bahkan ada warga yang ikut turunkan," kata Panglima Kodam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurrachman Sumber. Catat angkanya ya. Catat pula alasan pencopotan baliho oleh TNI. Dudung sempat menyinggung soal pajak pemasangan baliho sebagai dasar pembersihan baliho. "Ini negara hukum, harus taat kepada hukum, kalau pasang baliho itu udah jelas ada aturannya, ada bayar pajaknya, tempatnya sudah ditentukan. Jangan seenaknya sendiri, seakan-akan dia paling benar, enggak ada itu," kata Dudung. TNI ikut turun tangan karena biasanya setelah baliho-baliho diturunkan oleh Satpol PP, kembali dipasang oleh simpatisan FPI. Sumber

Dilansir detik.com, Humas Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Pemprov DKI Jakarta Herlina Ayu menerangkan, setiap baliho atau yang biasa disebut reklame dikenakan pajak sebesar 25% dari nilai sewa. Reklame di DKI Jakarta akan ditarik pajak setelah memperoleh izin pemasangan atau sewa dari Dinas Penanaman Modal (DPM) dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) DKI Jakarta. Reklame yang tidak mengantongi izin DPM-PTSP akan ditertibkan oleh pihak Satpol PP Sumber. Artinya, semua baliho Rizieq yang ditertibkan oleh Satpol PP, dan kemudian dibantu oleh TNI, itu tidak berizin alias tidak bayar pajak!

Sementara itu, APBD DKI Jakarta 2020 sudah mengalami defisit sekitar 30-an persen. Pajak adalah salah satu sumber pemasukan di APBD. Pada bulan Oktober lalu, Pemprov DKI dan DPRD DKI sepakat untuk meningkatkan target pajak tahun 2020 Sumber Sumber. Sebuah langkah yang logis. Lalu Anies membiarkan saja baliho Rizieq ada di mana-mana tanpa bayar pajak? Membiarkan Satpol PP kehilangan muka karena nggak dianggep ketika menurunkan baliho-baliho itu. Padahal kalau mau bener, Anies tinggal kasih tahu dan tagih ke Rizieq dong.

Saya temukan ada 2 media yang memberikan perkiraan perhitungan pajak terhadap baliho Rizieq, yakni detik.com dan tagar.id. Saya nggak mengutip rinciannya di sini. Para pembaca bisa membaca rinciannya di sumber tulisan ya. Menurut perhitungan oleh detik.com, untuk sebuah baliho Rizieq berukuran 3m x 5m, maka pajak reklame yang harus dibayarkan adalah Rp 14,06 juta per bulan. Sementara tagar.id memberikan daftar rinci tarif pajak sesuai dengan kelas jalan masing-masing. Tarif reklame ini pun dibedakan atas produk dan non-produk, di mana baliho Rizieq termasuk dalam golongan non-produk. Oleh sebab itu, tagar.id memberikan perhitungan jika baliho Rizieq berukuran 3m x 6m, maka pajak yang harus dibayar adalah Rp 3.375.000 per baliho per bulan. Kalau ada 100 baliho saja, maka pihak Rizieq ngutang pajak ke Anies sebesar Rp 337.500.000. Sumber detik.com Sumber tagar.id Whaaaaaat?

Padahal yang sudah dicopot oleh TNI itu berapa? Ratusaaaan… 300 baliho saja utang pajaknya bisa mencapai Rp 1 miliar. Kebayang yang 900-an itu berapa semuanya. Dan Anies, bukannya mengingatkan Rizieq, bukannya menagih Rizieq, eh malah diem-diem bae. Malah acungin jempol. JK malah menyebut Rizieq kharismatik. Halaaah…. Kebongkar lagi kedoknya! Selalu dari kura-kura!

SEWORD
Copyright ©️ 2019 PT. Seword Media Utama. All rights reserved. v7.1.7. Load 

Tuesday, November 24, 2020

BERITA HARI INI ~ BARU 24 NOVEMBER 2020 FPI, HRS

BERITA HARI INI ~ BARU 24 NOVEMBER 2020 FPI, HRS

Suka Duka Masa Kecil Dan Pendidikan DUDUNG ABDURACHMAN , Sangat Memberi Inspiratif

Gmbar Ilustrasi saja

 DUDUNG ABDURACHMAN, Budak Bandung tea atuh....

Panglima Komando Daerah (Kodam) Jayakarta Mayjen Dudung Abdurachman, S.E., M.M.  adalah putra seorang penjual klepon.

Kesannya Pak Dudung tegas dan berwibawa. Namun, sejatinya ia adalah perwira yang low profile. Kamis lalu  (19/11/2020) adalah hari kelahirannya. Sekali lagi selamat hari jadi Pak Dudung. Kini usianya 55 tahun. Di hari kelahirannya itu, ia mengenang perjuangan ibunya. Seorang janda penjual klepon yang sukses mengantarnya menjadi perwira tinggi di lingkungan TNI.

"Saya ditinggal meninggal oleh bapak saya itu tahun 1981. Anaknya 8 orang. Bapak saya hanya seorang PNS golongan II D. Golongan II D itu lumayanlah ekonominya," ucapnya sambil tersenyum. 

Sepeninggal ayahnya, ia tinggal bersama ibu dan tujuh saudara lainnya. Ia dan keluarganya harus melewati masa-masa sulit setelah kepergian ayah tercinta. Perekonomian keluarga limbung. Namun, waktu menuntunnya untuk tetap survive. Ibunya tak kehabisan akal. Perempuan yang melahirkannya itu mulai berjualan aneka penganan untuk bisa menghidupi seluruh anggota keluarga.
"Ibu saya mulai jualan klepon, pastel, odading. Saat itu saya baru SMP," katanya.

Dudung remaja tak mau tinggal diam. Ia ikut bekerja keras membantu sang ibu. Ia bertugas mengantarkan kue buatan ibunya untuK dititipkan ke kantin Kodam Siliwangi. Setiap hari ia jalani itu sebagai kewajibannya. Sebab, hanya itu sumber ekonomi keluarga.
Didikan ibunya membuat Dudung tak patah arang. Kerja keras adalah pilihan satu-satunya untuk bisa survive dari keterpurukan ekonomi keluarga.
"Kue klepon itu kan ditaruh di tampaian begitu, lalu diatasnya ditutupi taplak dan diatasnya ditutupi lagi menggunakan daun pisang," katanya. ( riwat hidup...teruskan baca narasi bawah ...👇 )

Saban pagi, ia harus melewati gerbang penjagaan prajurit Kodam Siliwangi sebelum sampai di kantin Kodam. Wajahnya tak lagi asing bagi petugas jaga. Kala itu ia hanya dikenal sebagai seorang pengantar dan penjual klepon. Sehingga dengan mudah ia bisa keluar masuk melewati penjagaan prajurit di pos pintu masuk.
Suatu pagi, Dudung muda melewati pos penjagaan yang sama. Namun langkahnya dicegat seorang prajurit Tamtama muda.
"Eh, sini kamu," sergah prajurit muda itu.
Setelah interogasi sesaat, sepatu dinas harian tentara muda itu tiba-tiba saja mendarat keras di tulang kering kakinya.  Dudung mengerang keras. Kue klepon buatan ibunya berhamburan ke tanah.
"Glundung. Glundung. 55 biji klepon berhamburan di tanah," ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak mengenang peristiwa itu.
Ia tak melawan. Dudung muda justru memungut olahan ibunya satu persatu dari tanah. Matanya memandangi bumi sambil mencomot 55 klepon yang kini berlumur tanah. Kesal tak bisa ia tutupi.  Tetapi, peristiwa itulah yang justru membuatnya bertekad untuk menjadi seorang prajurit TNI.

"Awas nanti kalau saya jadi perwira taruna. Saya nanti masuk AKABRI. Di situ muncul keinginan pingin masuk taruna AKABRI itu," gerutunya dalam hati sambil memunguti klepon-klepon yang telah berubah warna karena dipenuhi debu tanah itu.

Setelah lengkap dipunguti satu per satu, ia ngeloyor pulang ke rumah. Hari itu, kue klepon tak jadi dijual. Kantin Kodam Siliwangi hari itu tak dihiasi kue klepon buatan ibunya. Ia mengadu ke ibunya bahwa ia ditendang petugas jaga pos.

Bukannya marah, ibunya justru tertawa lalu berkata. "Ya udah, bawa lagi aja yang lain. Bikin lagi aja kleponnya," ujarnya menirukan pernyataan ibunya itu.
Namun karena bahan kue klepon habis, jatah untuk kantin Kodam Siliwangi hari itu praktis tidak ada.

Diusianya yang masih sangat muda itu, tak adalagi rasa malu. Rasa malu itu justru ia buang jauh-jauh. Boleh jadi, karena saat itu ia belum jatuh cinta pada seorang perempuan. "Saya jualan dan antar klepon itu sampai SMA," jawabnya saat ditanya apakah saat itu sudah memiliki seorang kekasih.

Bertahun-tahun menjadi penjual klepon, ia merasa perlu mengembangkan bakatnya di bidang lain. Sejak kelas 1 SMA 5 Bandung, ia mulai menjalani usaha lain. Ia mulai membagi waktu dengan sangat baik. Antara menjual koran, mengantarkan klepon, dan membantu pekerjaan rumah ia jalani dengan disiplin.

"Saya mulai jualan koran. Saya ambil sekolah siang supaya pagi harinya saya jualan koran sampai jam 8 pagi. Nah, jam 8 pagi saya antar klepon ke kantin Kodam Siliwangi. Jam 9 pagi setelah antar klepon saya cari kayu bakar untuk keperluan masak. Termasuk masak klepon itu. Jam 11 istirahat. Nanti jam 1 ke sekolah," ungkapnya mengenang masa-masa itu.
Semua itu ia jalani karena didikan disiplin ibunya. Bagi dia, ibunya adalah perempuan hebat yang ia temui dalam hidupnya. Perempuan tangguh yang membuatnya belajar banyak mengenai hidup dan tangga menuju sukses.

"Ibu saya itu hebat, ya. Anaknya delapan orang. Makanya hebat Tuhan itu, tidak semua orang punya gaji. Tapi semua orang punya rezeki. Kita belum pernah liat orang mati kelaparan di Jakarta ini. Sekalipun itu orang gila," katanya.

Selepas SMA, ia penuhi janjinya sendiri. Ia daftarkan diri sebagai calon taruna AKABRI. Saat yang sama, ia juga diterima di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Ia akhirnya harus memilih. Sebelum memutuskan pilihan, ia mengabarkan kepada ibunya. Sekaligus meminta pertimbangan yang mana yang harus dipilih. Gayung bersambut. Ibunya menyerahkan keputusan pada Dudung muda. Tetapi, ibunya mengakui tak punya uang untuk membiayai kuliah.

"Ya udah, saya akhirnya putuskan masuk taruna AKABRI. Dan saya masuk taruna itu dari kalangan orang susah (ekonominya). Di antara taruna-taruna yang kurus, saya gemuk sendiri," ujarnya lalu terbahak-bahak.
Dudung Abdurachman berkarier dengan baik selama menjadi prajurit TNI. Kedisiplinan, kerja keras, pantang menyerah adalah modal utama warisan ibunya. Modal itu terbawa hingga ia kini menjadi panglima Kodam Jaya. Sebuah jabatan dan karier prestisius bagi seorang anak penjual klepon.

Ia pun masih sangat menyukai klepon. Tetapi, klepon yang ada saat ini, kata dia, kalah jauh enaknya dengan klepon buatan tangan ibunya. Ia juga hapal dengan bahan-bahan klepon buatan ibunya. Sesekali, ia merindukan kue klepon buatan ibunya. Walau tak mungkin lagi ia merasakan nikmatnya klepon buatan ibunya itu kini.
Harapannya, pengalaman hidupnya yang sulit bersama ibunya menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak muda di Ibukota dan Indonesia. Bahwa tidak ada yang mustahil selama memiliki tekad baja dan semangat membara di dalam dada. Diatas segalanya, ketaatan dan ridho orang tua, terutama ibu adalah pengunci keberhasilan. Ia berpesan begini bagi kaum muda.

"Yang ada di depanmu dan yang ada di belakangmu, sekalipun yang ada di sekelilingmu tidak berarti apa-apa dibanding yang ada di dalam dirimu. Kerja keras. Yang kedua; berbaktilah kepada orang tuamu. Terutama ibumu. Terutama ibumu. Kalau kalian mencintai ibu, menyayangi ibu, pasti akan berhasil," katanya.
Good inspiration:

DUDUNG ABDURACHMAN BANGKTKAN NASIONALISME RAKYAT

HANTAM RIZIEQ SHIHAB DUDUNG ABDURACHMAN BANGKTKAN NASIONALISME RAKYAT

Tindakan tegas Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menghantam Rizieq Shihab berbuah banyak. Langkah Pangdam Jaya mematikan gerak FPI, membuat kaum intoleran, radikal, dan teroris mati kutu. Namun yang lebih penting, tindakan Pangdam Jaya membangkitkan semangat kehadiran negara.

Selama ini FPI melakukan kampanye provokasi di ruang publik, dengan mengatasnamakan Islam, dengan menggunakan Islam sebagai alasan untuk tindakan sama sekali tidak islami. Contoh perayaan Maulid versi Rizieq yang isinya penuh kata-kata kotor penghinaan pada TNI/Polri.

Perintah mencopot spanduk dan baliho oleh Pangdam Jaya, anggota TNI bukan hanya soal itu. Pemasangan semena-mena, seenak FPI, adalah wujud pembangkangan aturan. Bukan hanya aturan ketertiban lingkungan, pajak, dan hukum.

Yang lebih penting lagi spanduk-spanduk itu menjadi simbol kekuatan dan kehadiran de facto FPI di suatu wilayah. Di mana kebanyakan baliho dan spanduk FPI dan Rizieq beredar, di situlah keberadaan mereka semakin kuat.

Spanduk dan baliho Rizieq adalah cuci otak permanen yang menghiasi seantero wilayah tertentu di Indonesia. Yang parahnya Rizieq Shihab menjadi simbol pembangkangan, tidak taat hukum, tidak taat aturan.(teruskan baca narasi bawah ...👇👮  )

Penyokong Rizieq pun tak tanggung-tanggung, manusia seperti Jusuf Kalla, dan SBY, dan tentu Cendana. Dan, jelas Anies Baswedan. Meski yang belakangan ingin memanfaatkan Rizieq Shihab. Untuk Pilpres 2024.

Aneka kepentingan luar biasa. Bisnis Keluarga Jusuf Kalla lagi mengalami masalah. SBY puyeng dengan kebijakan seperti penjaminan Lion Air oleh negara, Petral, Freeport, dan ambruknya Demokrat. Juga Cendana yang mengalami kegalauan luar biasa, misalnya Jokowi sita Granadi.

Maka Rizieq Shihab pun dijadikan simbol perlawanan. Merasa kuat didukung kalangan top, maka tingkah Rizieq Shihab menjadi liar. Tidak ada batas perkataan. Dan, penghinaan terhadap Polri.

Dalam situasi seperti itu, rakyat menahan diri. Tahan napas. Berdoa negara bertindak tegas. Hadir di tengah pongahnya Rizieq Shihab yang selalu mengatasnamakan Islam, umat.

Nah, hadirlah Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman ke permukaan. Satpol PP tak berani karena Anies Baswedan mendukung Rizieq. Polri mencabut baliho dan spanduk dipasang lagi. FPI dan Rizieq menantang. Pamer kekuatan. Show of force.

Padahal situasi makin memburuk jika kehadiran negara tak tampak. Soal pamer kekuatan dan cuci otak kampanye delegitimasi pemerintahan Jokowi, membesarkan dominasi FPI dan Rizieq.

Presiden Jokowi pun dengan tegas menginginkan kaum intoleran enyah dari Bumi Pertiwi. Sumber radikalisme, terorisme, yang berawal dari intoleransi harus dibabat. Provokasi jahat harus dihantam.

Dalam konstelasi politik dan keamanan yang demikian, Pangdam Jaya paham. UU No. 34 tahun 2014 menjelaskan tentang pemberdayaan wilayah pertahanan dalam sistem semesta, juga membantu tugas pemerintahan daerah.

Pemda DKI pimpinan Anies loyo, Satpol PP di bawah ketiak Anies pro Rizieq, aneka pelanggaran hukum dan ketertiban mengancam keamanan dan ketertiban umum.

Maka Pangdam Jaya Dudung Abdurachman bertindak taktis. Cerdas. Menusuk.

Pangdam Jaya menggempur pertahanan terdepan dan terakhir FPI. Baliho, spanduk sebagai simbol propaganda dan eksistensi FPI dan Rizieq dicopot. Tentu mereka ngamuk. Marah. Kesal. Putus asa. Tapi karena yang melakukan TNI, maka mereka tiarap.

Tak terima, mereka melakukan kampanye di media sosial. Pembelokan opini. Gebrakan mereka semakin masif. Media sosial digunakan untuk mendeskreditkan Pangdam Jaya. Dan tak lupa media sosial dan media para kadal gurun turun menggempur Dudung Abdurachman.

Namun, reaksi publik luar biasa. Dudung didukung oleh rakyat. Rakyat memberikan ucapan selamat. Memberikan dukungan di tengah perlawanan kaum intoleran. Dudung telah membuka kotak Pandora. Kotak yang membuat gairah nasionalisme rakyat di seluruh Indonesia membuncah. Juga tentang siapa proxy dan di balik kenekatan dan kenakalan Rizieq Shihab. Bukan hanya soal Firza, juga soal Anies, JK dan SBY.

Itu diawali oleh Pangdam  Jaya dengan langkah sederhana nan cerdas: mencopot baliho Rizieq Shihab. Tentu rakyat bangga. Jokowi tersenyum. Polri makin semangat. Mabes TNI pun mendukung. ( Penulis: Ninoy Karundeng )

AMBISI HTI DI ATAS AYAT KONSTITUSI DAN AYAT SUCI

AMBISI HTI DI ATAS AYAT KONSTITUSI DAN AYAT SUCI
Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

“Menggerakkan gunung dengan jari lebih  mudah daripada menghilangkan hasrat nafsu yang telah kuat.”

Anggaplah resiko perjuangan, beberapa kader Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) harus kehilangan posisi jabatan fungsional di kampus tempat mereka mengajar karena terbukti mengadopsi dan memperjuangkan ideologi Khilafah Tahririyah.

Di Kendari, seorang mahasiswa kader HTI dikeluarkan dari kampus. Di Mojokerto, pengurus HTI Jawa Timur mendekam di penjara karena menyebarkan ujaran kebencian terhadap Banser di media sosial. Di Banjar, seorang syabab HTI divonis penjara karena menyebarkan paham HTI di media sosial.

Hidup ada pilihan. Mau tetap istiqamah bersama HTI atau tidak, itu pilihan. Tidak seorang pun yang memaksa. Oleh sebab itu, semua resiko perjuangan menegakkan Khilafah Tahririyah menjadi tanggung jawab kader HTI sendiri. Jangan pernah menyalahkan siapa-siapa. Kalau pun, ada yang mau disalahkan, salahkan Amir Hizbut Tahrir, karena dialah yang punya gawe di balik semua aktivitas HTI. 

Cuman, orang di luar HTI melihat mereka sekelompok orang-orang yang bodoh. Mereka memperjuangkan perkara yang jangan kan wajib, sunnah pun tidak. Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengatakan: “Di antara tanda-tanda mengikuti hawa nafsu adalah bersegera melakukan amal sunnah, dan bermalas-malasan mengerjakan amal wajib.” (lanjutkan baca di bawah ...👇 )

Khilafah Tahririyah pendapat fiqih yang diadopsi HTI. Memang setiap orang harus mengambil suatu pendapat fiqih agar bisa beramal. Mayoritas umat Islam di Indonesia, telah mengadopsi NKRI sebagai pendapat fiqih yang mereka yakini lebih mendekati kebenaran. Dengan NKRI mereka beramal. Terlepas, ketidaksetujuan HTI terhadap pendapat fiqih ini, HTI tetap wajib menghargainya (toleransi).

Secara teoritis, pendapat fiqih HTI seputar Khilafah Tahririyah, sah-sah saja untuk didiskusikan. Mengadopsinya adalah pilihan (mubah), bukan tuntutan (fardlu) maupun anjuran (sunnah). Namun tidak bisa diamalkan karena Khilafah Tahririyah membutuhkan pemerintahan, wilayah, penduduk dan konstitusi yang baru.

Sedangkan di Indonesia sudah ada pemerintahan, wilayah, penduduk dan konstitusinya, yang absah secara syar’i. Jika mau, HTI bisa mencari wilayah kosong yang belum ada pemerintahan, penduduk dan konstitusinya. 

Doktrin thalabun nushrah (kudeta) dan istilamul hukmi (peralihan kekuasaan) memastikan bahwa Khilafah Tahririyah tegak dengan kekerasan bukan sekedar teori. HTI ibarat ingin membangun rumah di atas tanah rumah orang lain dengan cara menghancurkan rumah itu terkebih dahulu.

Atau HTI mau membangun masjid di atas masjid orang lain. Konsekuensi hukumnya, yang asalnya secara teoritis Khilafah Tahririyah, mubah, berubah menjadi haram. 

Akan tetapi anehnya, kader-kader HTI merasa ringan-ringan saja, tetap semangat dan istiqamah. Sesungguhnya itu pertanda aktivitas mereka mendirikan Khilafah Tahririyah selaras dan serasi dengan hawa nafsu.

Kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah: “Jika ada dua perkara yang membuatmu ragu, maka lihatlah mana yang berat bagi nafsu, lalu ikutilah. Sesungguhnya tidaklah nafsu merasa berat kecuali jika itu benar.”

Syaikh Zarruq menerangkan, dorongan nafsu adalah kecenderungan untuk meraih tujuan-tujuan yang diinginkan nafsu. Mengikutinya berarti melalukan berbagai hal yang dikehendaki nafsu. Mengikuti dorongan berarti menghadap dan berpaling tanpa memperdulikan syariat.  

Menyibukkan diri berjuang mendirikan Khilafah Tahririyah yang hukumnya haram, pada saat bersamaan melalaikan kewajiban-kewajiban agama yang lain, bukti terang benderang bahwa perjuangan HTI tidak lebih dari dorongan nafsu belaka. Diperkuat dengan perilaku kader HTI yang tidak mengindahkan adab, akhlak, syariat dan konstitusi.
Ambisi HTI, ternyata di atas ayat konstitusi dan ayat suci.

Monday, November 23, 2020

Buzzer Ramai-ramai Serang JK: Disebut Biayai Kepulangan HRS dan Dijuluki Chaplin

Sejumlah postingan di media sosial secara masif mengabarkan keterlibatan Jusuf Kalla di balik kepulangan Habib Rizieq Shihab.

Beberapa di antaranya menuding JK membawa duit satu koper ke Arab Saudi untuk membawa pulang Habib Rizieq demi kepentingan politiknya. Postingan tersebut menggunakan nama ‘Chaplin’ untuk menyamarkan tudingannya ke JK.

Salah satu postingan yang ramai dibagikan di media sosial adalah tulisan Andi Setiono Mangoenprasodjo.

Postingan tersebut mengulas peran orang hebat di balik kesuksesan Lion Air yang selalu lolos meskipun sering bermasalah. Orang hebat yang disebut sebagai ‘Si Bohir’ itu diduga adalah JK.

“Jadi jelas ya, kalau tiba2 ada orang yang tergopoh2 bawa duit sekoper pergi ke Mekkah untuk menjemput Si Imam Besar. Ia tahu betul, bahwa hanya dialah yang bisa menjadi kelompok penekan pemerintah. Ia satu2nya yang bisa terus menteror pemerintah yang sah agar tujuannya tercapai. Apa tujuannya?” tulis postingan tersebut.

Menarik untuk Anda:

Postingan lainnya mengasosiasikan nama Chaplin sebagai Jusuf Kalla sebagai orang yang telah membawa koper untuk kepulangan Habib Rizieq.

Salah satunya diposting oleh mantan politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean di akun Twitternya.

Dalam cuitannya, Ferdinand memakai tiga istilah untuk menyamarkan nama tokoh yakni Caplin, Presiden, dan Si Asu Pemilik Bus Edan.

Awalnya, Ferdinand mengungkapkan kehebatan tokoh Caplin yang membawa uang sekoper untuk membereskan semua urusan di Arab Saudi.

Menurut Ferdinand, langkah itu dilakukan Caplin untuk melancarkan agenda politik pada 2022 dan 2024.

“Hebat jg si Caplin, bawa duit sekoper ke Arab, bayar ini itu beres semua. Agenda politik 2022 menuju 2024 sdh dipanasi lebih awal,” cuit Ferdinand pada Rabu 4 November 2020.

Sejumlah pengguna media Twitter pun riuh menanggapi cuitan Ferdinand tersebut dan mulai mencocokkan istilah-istilah pengganti tersebut dengan nama sejumlah tokoh nasional.

Chaplin dan Jusuf Kalla

Akun KataKita memosting foto yang menyandingkan Chaplin dengan Jusuf Kalla.

Akun tersebut merepost tulisan tentang sosok wapres berkumis itu dibanding wapres lainnya sepanjang masa Indonesia berdiri.

“Satu-satunya Wapres yang berkumis hanyalah Jusuf Kalla (JK). Ia berkumis pada jabatan Wapres periode pertama Presiden SBY (2004-2009) dan Presiden Jokowi (2014-2019). Yang menarik, kumis JK ini tampak mengambil gaya tahun tahun 1930/ 1940an dimana kumis pendek hanya selebar hidung mirip Charlie Caplin atau Hitler.

Kumis gaya periode ini memang berbeda dengan gaya kumis awal abad XX sampai 1920-an yaitu kumis yang panjang melintang di disudut atas bibir melengkung ke atas. Di Indonesia yang terkenal memakai kumis ini adalah pemimpin Sarekat Islam HOS Cokroaminoto. Tapi rupanya JK lebih suka kumis gaya Chaplin dari pada gaya Cokroaminoto,” tulis postingan tersebut.

Klarifikasi Jusuf Kalla

Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah membantah JK punya sangkut paut dengan kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab ke Indonesia setelah 3,5 tahun ’mengasingkan diri’ di Arab Saudi.

”Pak JK tidak pernah mengkomunikasikan ataupun mendanai kepulangan HRS (Habib Rizieq Shihab, red),” kata Husain dalam keterangannya, Minggu 22 November 2020 kemarin.

Husain menjelaskan, tuduhan bahwa JK memiliki andil dalam kepulangan Rizieq ke Indonesia bermula dari cuitan mantan politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean di akun Twitternya.

Dalam cuitannya, Ferdinand menggunakan tiga istilah untuk menyamarkan nama tokoh yakni Caplin, Presiden, dan Si Asu Pemilik Bus Edan.

Awalnya, dia mengakui kehebatan tokoh Caplin yang membawa uang sekoper untuk membereskan semua urusan di Arab Saudi.

Menurut Ferdinand, langkah itu dilakukan Caplin untuk melancarkan agenda politik pada 2022 dan 2024.

“Hebat jg si Caplin, bawa duit sekoper ke Arab, bayar ini itu beres semua. Agenda politik 2022 menuju 2024 sdh dipanasi lebih awal,” cuit Ferdinand pada Rabu (4/11).

Salah satunya, akun @BapakePaki, yang mempertanyakan apakah istilah yang digunakan Ferdinand itu merujuk ke JK dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Chaplin=JK Bus edan=Anis ??? Gitu kahh?” cuit akun @BapakePaki menjawab cuitan Ferdinand.

Menurutnya, hal itu hanya dilakukan orang yang suka mencocok-cocokan informasi meski sebenarnya tidak berkaitan satu sama lain atau “cocokologi”.

Ferdinand pun disebut Uceng tidak mampu membuktikan kebenaran cuitannya itu. ”Ini kan kadang-kadang dengar ini itu terus Tweet bikin cocokologi, kemudian dengan segala retorika, berlindung menggunakan kata pengganti segala macam,” kata Uceng–sapaan akrab Husain– dalam sebuah dialog di TV swasta, Rabu 11 November 2020.

Belakangan, kata Husain, kebohongan tersebut dijadikan dasar oleh pengamat sosial politik dan pegiat media sosial, Rudi S Kamri, untuk membangun kebohongan baru melalui tulisannya berjudul “Sang Bandar Chaplin Pun Akhirnya Keluar Sarangnya Karena Kepanasan”.

Husain menilai bila sosok Chaplin benar diasosiasikan sebagai JK karena memiliki kesamaan bentuk kumis, maka tulisan itu merupakan sebuah tuduhan yang membabi buta serta tanpa fakta dan data yang jelas.

Tulisan itu kata dia, justru menciptakan kegaduhan, penyesatan, serta merusak hubungan sosial dan budaya saling menghargai yangmengakar di Indonesia selama ini.

“Kalau itu [tulisan] ditujukan kepada Pak JK, maka tulisan tersebut merupakan sebuah tuduhan membabi buta, tanpa fakta dan data yang jelas. Tepatnya cocoklogi,” kata Uceng.

Dalam tulisannya, Rudi memang menyebutkan secara gamblang bagaimana peran si ‘Chaplin’ dalam kepulangan Habib Rizieq.

Tak hanya disebut mensponsori kepulangan sang habib ke tanah air, Rudi menyebut si ‘Chaplin’ turut memanfaatkan kaki tangannya baik di institusi keamanan hingga pejabat negara untuk mendukung serta memuluskan kepulangan Habib Rizieq.

“Sudah menjadi rahasia umum Sang Chaplin ini mempunyai kaki tangan di segala lini. Mulai di institusi aparat keamanan negara, beberapa pejabat negara dan beberapa di partai politik. Meskipun orang-orangnya sudah tidak lagi memegang kendali di posisi sentral resmi di organisasi, tapi saya meyakini masih cukup kuat membangun jaringan. Alat Chaplin di pemerintahan sudah terbaca luas, salah satunya adalah Gubernur Ibukota yang menjadi pion kesayangannya,” beber Rudi.

“Sedangkan di partai sudah bisa ditebak dengan terang benderang saat mengapa tiba-tiba Fraksi milik Pak Brewok di DPRD DKI Jakarta membela membabi-buta Gubernur DKI Jakarta. Kemudian salah seorang kaki-tangan Chaplin yang menjadi pimpinan Partai Kuning juga membangun narasi si Kuning siap menjadi kendaraan politik bagi MRS,” lanjut dia.

Husain lantas menjelaskan, sebelum ke Arab Saudi, JK melakukan perjalanan ke Vatikan untuk menemui Pemimpin Umat Katolik Paus Fransiskus, dalam rangka penjurian pemberian gelar Sayeed Award for Human and Fraternity.

Kemudian setelah bertemu Paus Fransiskus di Vatikan, JK melanjutkan perjalanan ke Riyadh, Arab Saudi, untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja sama pembangunan Museum Rasulullah Muhammad SAW yang akan dibangun di Jakarta.

Penandatanganan dilakukan antara Wakil Ketua Dewan Mesjid Indonesia yang diwakili Syafruddin dan Abdul Rahman bin Muhammad Al Mathar selaku Deputi Eksekutif Liga Dunia.

Setelah acara tersebut, menurut Husain, JK merasa tidak afdal jika tidak menunaikan ibadah umrah di sana. Untuk keperluan ibadah, JK pun melanjutkan perjalanan ke Mekkah dan menunaikan umrah dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Perjalanan Pak JK ke Vatikan dan Mekkah murni perjalanan misi kemanusiaan dan ibadah. Tidak bersangkut paut dengan kepulangan HRS apalagi politik dalam negeri apalagi 2024,” kata Husain.

Husain pun mengingatkan kepada para pendengung untuk tidak mengotori perjalanan JK dengan narasi menyesatkan tanpa dasar dan bukti.

“Saya juga mengingatkan para buzzer untuk tidak mengotori rangkaian perjalanan ini dengan narasi menyesatkan tanpa dasar dan bukti. Karena perjalanan Pak JK murni untuk kemanusiaan dan ibadah. Sebagai negara Pancasila, kita wajib menghargai dan menghormati warga negara Indonesia yang melaksanakan ritual ibadah keagamaannya dan kiranya tidak dinodai dengan fitnah murahan,” katanya.

Comments
Source : Terkini.id, Jakarta

Oppung Kanesia
9 jam yang lalu
Jk ular bludak ikut fpi,tdk bela Negara lagi, Licik...kerdil..... Ayo buka kedok kurupsinya !!!!!
Wong Kenthir
10 jam yang lalu
Daeng CAPLIN memang menghibur sih..
Christ Toleran
9 jam yang lalu
JK main belakang, main halus,
Doraemon
9 jam yang lalu
CAPLIN YG PANDAI BERKELIT KAYAK SIANIS
Adi Dadi
9 jam yang lalu
Haha,lucu dikatain chaplin
Jonathan Djimin
10 jam yang lalu
Caplin asli ganteng
Hari Baronang
9 jam yang lalu
Bahaya ini orang. 2 kepala dan kaki. Pak. Sdh tua baiknya tanam pahala Utk akherat nanti. Bapak cari uang utk apa lagi, proyek nasional tahun2 sblmnya sdh dikuasai.jika skrng sdh tdk lagi maka baiknya jgn bikin gaduh
Charles darwin
10 jam yang lalu
Kalau Charlie Chaplin orang baik ,humanis
.VC
9 jam yang lalu
Jusuf Chaplin
MAn
8 jam yang lalu
Kalau merasa berarti benar...

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)