Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Monday, March 30, 2020

Gubernur BI: Menguat dan Stabil, Rupiah Mulai Membaik


Kita apresiasi kerja keras pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi ditengah upaya pencegahan meluasnya #covid-19.
Namun demikian sejumlah proyek tetap ada yang terdampak.
-----------------

Perry mengapresiasi perbankan, industri non-bank, dan khususnya eksporir di mana mekanisme pasar berlangsung baik.

Bank sentral, lanjut Perry, juga terus menekankan siap menggunakan instrumen moneternya untuk stabilisasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di perdagangan pasar spot hari ini, meski masih di atas level Rp 16.000/US$.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20200326124337-17-147626/gubernur-bi-menguat-dan-stabil-rupiah-mulai-membaik

Proyek pengerjaan Tol Yogyakarta-Solo dipastikan mundur dari jadwal semula.

Galih menyebut, harusnya awal April proses konsultasi publik dan penetapan trase sudah berakhir. Namun, akibat dampak dari virus Corona, tahapan pengerjaan tersebut sedikit terhambat

https://jogja.tribunnews.com/2020/03/26/pembebasan-lahan-proyek-tol-yogyakarta-solo-mundur-dari-jadwal-semula

Konsorsium kontraktor proyek pembangunan kilang gas alam cair darat Train 3 Tangguh menghentikan pekerjaan sementara akibat penyebaran virus corona. Perusahaan menetapkan keadaan kahar atau force majeure.

https://bisnis.tempo.co/read/1321311/proyek-kilang-gas-alam-tangguh-ditunda-karena-wabah-corona

Thursday, March 26, 2020

Turut Berduka Cita Sedalam Dalamnya

Sujiatmi

"Anakku, siapa kini yang akan menjagamu? Ibu harus pergi. Waktuku telah tiba. Siapa lagi yang akan menguatkanmu saat kau dicerca dan dihina? Ibu takkan lupa fitnah yang sungguh brutal kepada keluarga kita. Sangat menyakitkan. Alhamdulillah Gusti Allah menjaga kita anakku. Jangan pikirkan ibumu ini. Kuhabiskan usiaku dalam kemiskinan dan kulahirkan engkau dalam kesederhanaan. Ibu kuat. Tak pernah kubermimpi kau akan menjadi Presiden. Tak cukup langit dan bumi bagiku untuk menyatakan kesyukuranku untuk itu. Ibu bahkan tak paham apa pekerjaan seorang Presiden itu.  Pasti berat. Begitu banyak orang yang harus kau urusi.

Tak usah kau pedulikan Ibu ini anakku. Cukup sudah kebahagiaanku melihatmu tak berubah menjadi manusia sombong. Mungkin kamu tahu begitu banyak orang datang padaku dengan maksud menjadikanku Ibu yang bisa mengaturmu untuk kepentingannya. Ibu memohon maaf sebab Ibu tetap menerima mereka. Tak mungkin Ibu tolak mereka yang sudah bersusah payah datang ke Solo dari berbagai tempat yang jauh. Itu bukan karakter keluarga kita. Tapi tak pernah kusampaikan kepadamu keinginan mereka itu sebab Ibu paham itu sangat tak layak. Ibu tak mau mengganggumu.  Lagipula Ibu tak paham maksud mereka. Bagi Ibu, kamu sehat dan bisa menjadi Presiden yang baik saja sudah lebih dari cukup.

 Jaga dirimu anakku. Masih tersisa waktu empat tahun bagimu untuk menyelesaikan masa tugasmu. Masih lama. Itu kesedihan Ibu. Ibu tak bisa menemanimu lagi anakku. Gusti Allah telah memanggilku. Tapi Ibu telah memohon kepada Gusti Allah untuk menjagamu lebih baik dari Ibu. Percayalah Anakku. Gusti Allah tahu bagaimana keluarga kita  menjaga hati kita. Kutuliskan kesederhanaan dengan baik dalam hatimu, jantungmu. Kuminumkan air susu terbaik kepadamu selama kau kusapih. Air susu dari seorang Ibu yang tak meminta banyak kepada Gusti Allah kecuali kebaikan alam kepadamu, keluarga kita.

Anakku, menunduklah ke bumi ketika kau dihina. Lalu menengadahlah. Tak ada lagi Ibumu yang mencium keningmu kini. Tapi Ibu ada disitu memegang pundakmu, mengusap kepalamu.

Ibu yakin kau bersedih sebab kamu mencintai Ibumu.

Kamu harus tahu betapa Ibu merasa terhormat dipilih oleh Gusti Allah melahirkanmu dan merawatmu. Melihatmu menjadi Presiden hanya pelengkap bagiku. Sungguh. Terkadang ingin kutarik kau dalam dekapan Ibu saat kamu dihinakan. Ibu tak peduli mereka menuding sekasar apapun kepada Ibu. Keselamatanmu yang utama bagi Ibu. Gusti Allah telah memberiku demikian banyak kebaikan, pada keluarga kita. Dan kamu, Joko Widodo, adalah bentuk kebaikan itu.

Ibu pamit anakku".
‐-------

Bambu Apus, Jakarta, 26 Maret 2020

Akbar Faizal

+++++++++++++++++++

Ditengah situasi bangsa yang sangat2 sulit kau harus meninggalkan semua urusan pribadi bahkan sampai ibu kandungmu mungkin saja semntara sakit engkau rela tinggalkan. Tidak ada satupun media yang memberitakannya. Kami seluruh rakyat tak tau jika ibumu sementara dalam keadaan sakit. Kami hanya tahu ibumu telah tiada. Itulah kehebatanmu menaruh kepentingan bangsa dan negara diatas segalanya.

Mungkin kamu tidak ingin konsentrasi bangsa ini terbagi membicarakan ibumu yang sementara sakit dan lebih fokus menangani virus corona yg menimpa seluruh rakyatmu. Kau diperhadapkan dengan situasi yang sangat amat sulit "Peristiwa dukacita".

Kamu memikirkan nasib 200jutaan rakyat indonesi. akan keselamatan mereka, akan makan minum mereka, akan utang mereka dll. Disaat yg bersamaan ibu kandungmu pergi untuk selamnya. Kau kehilangan orang yang melahirkanmu, membesarkanmu, dan menyekolahkanmu tapi kau juga tidak ingin kehilangan rakyatmu. Kau sungguh luar biasa. Jiwamu seperti terbuat dari baja sangat kokoh.

Mungkin saat ini  kau menangis, tapi kau tak ingin rakyatmu tahu jika kamu dalam masalah. Kau berupaya menyembunyikan itu semua dari rakyatmu.

Kau tokoh Inspirasi. Ir. JOKO WIDODO.

Selamat Jalan Ibunda Presiden Joko Widodo.
R. I. P. 🙏

++++++++++++++++++++++

TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN PUTRAMU BAGI BANGSA INI

(Selamat Jalan Ibu Yang Mulia)

Ibunda presiden Jokowi - ibu Sudjiatmi Notomihardjo - meninggal dunia. Kita kehilangan seorang "ibu bangsa" yang berhati mulia.

Dia mulia, karena dia bagai samudra yang mampu dan rela menampung selaksa sampah hinaan, makian, fitnah terhadap putra yang dikasihinya.

Bahkan ketika fitnah dan hinaan itu menyambar dirinya, dia hanya tersenyum tipis dan hening.

Dia hening, masuk dalam doa-doanya.

Itu sebabnya sang putra tetap tegak bagai batu karang.

Selamat jalan ibu..doa  terbaik kami untukmu. Hormat terdalam kami untukmu.

Terima kasih telah memberikan putramu bagi bangsa ini.

(Pak Jokowi, tetap tegar dan tegak bagai batu karang ya. Kami bersamamu).

By : HT

++++++++++++++++++

Ditengah situasi bangsa yang sangat2 sulit kau harus meninggalkan semua urusan pribadi bahkan sampai ibu kandungmu mungkin saja semntara sakit engkau rela tinggalkan. Tidak ada satupun media yang memberitakannya. Kami seluruh rakyat tak tau jika ibumu sementara dalam keadaan sakit. Kami hanya tahu ibumu telah tiada. Itulah kehebatanmu menaruh kepentingan bangsa dan negara diatas segalanya.

Mungkin kamu tidak ingin konsentrasi bangsa ini terbagi membicarakan ibumu yang sementara sakit dan lebih fokus menangani virus corona yg menimpa seluruh rakyatmu. Kau diperhadapkan dengan situasi yang sangat amat sulit "Peristiwa dukacita".

Kamu memikirkan nasib 200 jutaan rakyat indonesia akan keselamatan mereka, akan makan minum mereka, akan utang mereka dll. Disaat yg bersamaan ibu kandungmu pergi untuk selamanya. Kau kehilangan orang yang melahirkanmu, membesarkanmu, dan menyekolahkanmu tapi kau juga tidak ingin kehilangan rakyatmu. Kau sungguh luar biasa. Jiwamu seperti terbuat dari baja sangat kokoh.

Mungkin saat ini  kau menangis, tapi kau tak ingin rakyatmu tahu jika kamu dalam masalah. Kau berupaya menyembunyikan itu semua dari rakyatmu.

Kau tokoh Inspirasi. Ir. JOKO WIDODO.

Selamat Jalan Ibunda Presiden Joko Widodo.

++++++++++++++++++


Jokowi: Ibu Meninggal karena Sakit Kanker yang Diderita 4 Tahun Ini

Ibu Presiden Jokowi, Sujiatmi Notomiharjo, meninggal dunia. Jokowi menyampaikan langsung kabar tersebut pada Rabu (25/3/2020) malam.

Jokowi mengatakan, sang ibunda meninggal lantaran sakit kanker yang sudah dideritanya lama.

"Sakit kanker yang sudah diderita sejak 4 tahun ini," ujar Jokowi di rumah duka, Sumber, Surakarta, Rabu.

Menurut dia, berbagai pengobatan sudah dilakukan. Terakhir, Sujiatmi menjalani pengobatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

"Ternyata Allah berkehendak lain," lanjut Jokowi.

Jokowi menyampaikan kabar itu didampingi kakak Sujiatmi, Miyono. Adik-adik Jokowi juga turut hadir. Jokowi yang mengenakan kemeja putih dan sarung kotak-kotak itu pun didampingi putra pertamanya, Gibran Rakabumingraka.

++++++++++++++++



Sunday, March 22, 2020

ADA MISI TERSEMBUNYI/BURUK, MINTA LOCKDOWN PD PEMERINTAH


ADA MISI TERSEMBUNYI/BURUK, MINTA LOCKDOWN PD PEMERINTAH:
Sepanjang malam ini, saya mencoba menelusuri dgn seksama berbagai postingan di sosmed. Saya melihat begini:
1. Ada dua daerah yg mengumumkan resmi daerahnya lockdown, ternyata pemimpin kedua daerah ini tidak/kurang harmonis dgn jokowi. Si gubernur krn pernah dipecat jokowi, sementara walikota yg dulu sohib pak jokowi saat ini "berseberangan" dgn jokowi krn anak jokowi mencalonkan diri dan si walikota kurang setuju.
2. Beberapa daerah yg mengumumkan sendiri wilayahnya terpapar positif CORONA adalah basis yg kurang suka dgn jokowi, atau menkes. Momen CORONA dimanfaatkan utk menunjukkan ketidakpatuhan dgn embel2 peduli warganya
3. Momen CORONA dipakai kelompok KADRUN utk mendeskriditkan pemerintah/jokowi yg menuduh jokowi kurang peduli rakyat. Saat ini si gubernur besutan kadrun dan pendukung mayoritas HTI menggalang simpati seakan dia yg paling peduli warga
4. Apa yg terjadi jika pemerintah mengumumkan lockdown? Semua kegiatan perekonomian berhenti akibatnya akan muncul penjarahan toko dimana2 dan itu seakan legal dengan alasan keadaan darurat. Saat itulah kelompok kadrun mengibarkan benderanya dengan menyebut jokowi gagal. Anda harus bisa membedakan dengan negara lain yg memberlakukan lockdown karena di negaranya tidak ada gelombang KADRUN, HTI, FPI, dan sejenisnya maka bisa dengan mudah memberlakukan lockdown. INDONESIA, tidak karena pemerintah digerogoti kadrun.
5. Anda sedang tidak sadar KALAU ANDA YG SEMULA BERPIKIRAN POSITIF MENGENAI PEMERINTAH, MULAI DIRASUKI kelompok kadrun, HTI dengan mulai ikut mendeskriditkan jokowi yg kurang peduli dan kurang cerdas dgn situasi CORONA. Anda sedang tidak sadar bahwa otakmu yg dulu bersih, lurus sedang diisi paham kadrun. Lihatlah bbrp yg semula cerdas baik itu tokoh, pemikir, artis, pendukung jokowi tiba2 jadi balik menyerang jokowi. Anda sedang mau ditelan kadrun. Stop n sadarlah cepat

6. Anda harus sadar dengan cepat kalau kadrun itu menghalalkan segala cara.  Jual ayat, dalil agama, dalil kemanusiaan, pokoknya segala macam embel2 yang membuat hatimu terenyuh padahal anda tidak sadar kalau perasaan anda sedang digoreng habis2an kadrun.

7. Lihat fenomena pembantu2 jokowi Yang mulai bermunculan bermuka dua, apakah jokowi salah pilih? Menurut saya tidak. Semula mereka pasti orang baik, Tapi setelah terpilih ada kepentingan di baliknya.  Yg sangat kontras adalah MENAG. Kenapa MENAG yg saat terpilih terasa menyejukkan tapi tdk lama setelah itu, jadi sosok yg sangat membingungkan? Tahukah anda kalau MENAG adalah posisi sentral utk jualan agama bagi kaum yg mabok agama? Ya pastilah menjadi sasaran empuk bbagi kelompok ini, dan ingat manusia dan politik itu bisa berubah dengan sangat cepat. Tdk percaya? Lihatlah video2 saat si gabener jadi tim sukses jokowi saat pilpres 2014, bandingkan dgn perilaku si gabener saat ini...tentu anda paham.

APA YG MAU SAYA SAMPAIKAN DISINI?
1. Cucilah kembali otakmu dari kotoran2 kadrun, bersihkan kembali
2. Mari kita dukung pak JOKOWI utk mengendalikan situasi CORONA saat ini. Pak jokowi itu sangat cerdas, beliau punya banyak strategi yang jitu di atas pemikiran kita yg sering kali cuma seperti perhitungan matematis, misal 2 + 2 = 4, padahal perhitungan pak jokowi bisa jadi 3 + 1 juga = 4, atau 1 + 3 = 4, atau 2,5 + 1,5 juga = 4.
3. Jokowi tidak akan kuat jika tidak kita bantu dengan orang yg waras, BERPIKIRAN sehat.
4. Orang cerdas seperti pak jokowi tau kapan saat yg tepat utk mengeluarkan amunisinya. Mungkin anda akan bilang, ini CORONA menyebar cepat, tapi tahukah anda juga virus kadrun/HTI itu tdk kalah cepat dan sangat mematikan DAN JUGA LEBIH GANAS? Maka biarkan pak jokowi yg buat keputusan, kita orang waras mari kita dukung dan doakan beliau agar tetap kuat.
5. Mari jaga kesehatan diri masing2, sudah tau badan tidak fit tapi masih keluyuran. Yg goblok itu anda.
6. MESKIPUN PAK JOKOWI tidak sempurna masih banyak kekurangan, TAPI UTK SAAT INI PAK JOKOWILAH YANG TERBAIK DI NEGERI INI.
7. Jangan turunkan level anda yang semula sebagai orang baik, jadi turun level jadi manusia sampah yang banyak berkoar2 di sosmed nyalah2in pemerintah. Emang kamu bisa apa?

Semangat pak JOKOWI, saya dan kami tetap mendukungmu. Jaga kesehatan ya pak, jangan sampai terpapar CORONA karena nasib kami ada di tanganmu. TUHAN MEMBERKATIMU  Pak jokowi.

Saturday, March 21, 2020

Istilah Dalam Virus Corona Disease


Istilah - Istilah Yang Ada dlm Corona Virus Disease (Covid-19)*

1. *ODP* (Orang dlm Pemantauan)

2. *PDP* (pasien dlm pengawasan)

3. *Suspeck* (diduga terkena virus karna sdh menunjukka  gejala dan pernah berkontak atau bertemu dg orang yg positif corona)

4. *Positif* (setelah melalui cek lab dan prosedur lain )

5. *Lockdown* mengunci masuk keluar dari suatu wilayah/daerah/negara

6. *Social Distancing* Menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

7. *Isolasi* Untuk yg sakit. Mengendalikan penyebaran penyakit dg membatasi perpindahan orang (mencegah perpindahan penyakit  dari orang yg sakit)

8. *Karantina* Untuk yg sehat.  Mengendalikan penyebaran penyakit dg membatasi perpindahan orang (mencegah perpindahan penyakit  ke orang yg sehat)

9. *Work From Home (WFH)* Bekerja dari rumah

10. *Imported Case* Seseorang terjangkit saat berada diluar wilayah dimana pasien melapor

11. *Local Transmission* Pasien tertular diwilayah dimana kasus ditemukan.

12. *Epidemi* Penyebaran penyakit secara cepat dg jumlah terjangkit banyak dan tidak normal. Penyebaran disuatu wilayah.

13. *Pandemi* Penyebaran terjadi secara global.

Semoga bermanfaat

Penularan Via Komunitas Kesukuan

Saatnya Orang Batak Memikirkan Ulang Upacara Adat Di Tengah Pandemi Corona Virus 19

Oleh: Birgaldo Sinaga

Seorang teman kemarin memberi kabar pada saya. Ia sedang dalam pengawasan Covid 19. Ia terpaksa mengisolasi diri sendiri dengan status ODP Orang Dalam Pengawasan.

Tentu saya terkejut. Mengapa bisa?

Ia bercerita, seminggu lalu, ia menghadiri upacara adat pemakaman kerabatnya yang meninggal dunia. Ia hadir di sana.

Orang yang meninggal itu adalah salah satu orang yang punya nama di kalangan orang Batak. dr Laurentius Panggabean, Direktur Utama RS Jiwa Soeharto Herdjan. Ia meninggal pada 12 Maret.

Dalam tradisi adat Batak, upacara kematian bagi orang yang sudah lanjut usia itu biasanya punya upacara adat tersendiri.

Ada 3 jenis upacara. Pertama, Sari Matua. Kedua, Saur Matua. Ketiga, Mauli Bulung.

Upacara adat ini ditentukan dengan status orang yang meninggal tersebut.

Apa syaratnya?

Untuk bisa diadati Sari Matua, orang yang meninggal itu minimal sudah punya anak yang sudah menikah.

Untuk Saur Matua, status orang tersebut semua anaknya sudah menikah, punya anak dan punya cucu.

Yang paling tinggi acara adat Mauli Bulung, syaratnya semua anaknya sudah menikah, masih hidup lengkap, dan sudah punya cucu dan cicit.

Dalam prosesi itu upacara adat  bisa lama, bisa 3-5 hari. Dan biasanya jika yang meninggal dunia orang terpandang pelayat bisa ramai sekali. Bisa ribuan orang. Berjubel. Silih berganti orang datang melayat.

Semua kekerabatan marga dari orang yang meninggal tersebut akan ikut dalam upacara adat. Perkumpulan marganya, marga istrinya, marga kakeknya, marga neneknya, marga pamannya, marga mertuanya laki-laki dll.

Intinya semua prosesi adat itu melibatkan lingkaran marga-marga yang berhubungan dengannya. Belum lagi dari jemaat gereja, Serikat Tolong Menolong, perkumpulan marga yang diikuti keluarga di daerah tempatnya tinggal.

Dapat dibayangkan betapa ritual upacara adat Batak melepas kepergian orang tua sangat khidmat dan terhormat sekali. Ini sama seperti seorang militer berpangkat jenderal, pasti dapat upacara pemakaman yang berbeda di banding berpangkat bintara misalnya.

Dalam prosesi upacara adat  pemasukan jenazah ke dalam peti, biasanya dilakukan oleh pihak pamannya atau hula2nya. Juga saat diulosi jenazah ke dalam peti. Dalam acara Saur Matua dan Mauli Bulung tidak ada lagi air mata di sana. Malahan kegembiraan. Ada acara manortor.

Hari-hari ini, kita membaca pertemuan2 besar yang melibatkan banyak orang sangat berpotensi menularkan Covid 19.

Kita membaca pemerintah menghimbau agar kita menghindari kontak dengan orang lain.

Sekolah2 diliburkan. Ibadah dalam rumah ibadah diminta libur sampai keadaan benar2 aman dari Covid 19.

Pertemuan2 seminar atau rapat besar diminta ditunda.  Orang2 diminta bekerja dari rumah. Kita diminta mengisolasi mandiri dalam rumah.

Nah, bagaimana dengan kita Bangso Batak menyikapi merebaknya wabah Covid 19 ini?

Apa yang terjadi pada keluarga dr. Laurens Panggabean bisa menjadi pelajaran bagi kita.

Beberapa hari setelah dimakamkan, Istri almarhum, Ibu Lusi, dan ketiga anak almarhum dibawa ke RS Persahabatan untuk menjalani tes dan isolasi.

Hasilnya, istri, anak pertama, dan anak ketiga almarhum dinyatakan positif virus corona. Sementara anak kedua dinyatakan negatif.

Teman saya yang hadir melayat dengan kesadaran diri menghubungi rumah sakit. Ia konsultasi di sana. Sekarang ia sedang dalam pengawasan. Ia sempat kontak berjabat tangan dengan keluarga almarhum.

Tapi bagaimana dengan ratusan atau ribuan orang yang sempat melayat dan menjabat tangan keluarga almarhum?

Bagaimana mendeteksi mereka semua? Sulit membayangkan bagaimana seramnya penyebaran virus ini. Dari satu orang, bisa merambat ke ribuan orang.

Sepulang melayat, ribuan orang itu menularkan lagi ke keluarganya di rumah. Ke ribuan orang lainnya lagi. Begitu seterusnya.

Suka tidak suka, mau tidak mau, kita berharap para tetua orang Batak, ketua2 adat, tokoh adat Batak, ketua2 marga, ketua2 perkumpulan Batak sebaiknya mulai memikirkan persoalan ini.

Kita berkejaran dengan waktu. Keadaan bangsa dan negara kita dalam kondisi berat. Dunia juga. Sebagai elemen anak bangsa, kita juga harus ikut bertanggung jawab dalam masalah ini.

Sejauh ini, yang terdengar adalah penghentian ibadah gereja di banyak denominasi. Namun, untuk kasus khusus upacara adat orang meninggal atau perkawinan terutama di daerah rawan DKI Jakarta belum ada kebijakan meniadakan upacara adat.

Memang tidak enak hati. Rasanya gak tega membiarkan keluarga sendirian dalam menghadapi duka cita.

Tapi mau bagaimana lagi. Inilah yang harus kita hadapi bersama. Kita yang menentukan nasib hidup kita. Kita yang membuat tata cara adat. Kita juga yang menentukan semua itu.

Semoga para tokoh adat, tokoh masyarakat Batak, ketua2 marga bisa segera mencari cara terbaik dalam peristiwa ini.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Tuesday, March 17, 2020

Corona Virus Di Dunia


Coronavirus (Covid-19), “mahkota” hitam yang menguji rasa kemanusiaan seluruh umat di dunia
*Corona dalam bahasa Italia berarti mahkota
Berbagi pengalaman dari Italia

COVID-19 DI DUNIA
Pada tanggal 31 Desember 2019, Komisi Kesehatan Kota Wuhan (Cina) melaporkan kepada WHO tentang mencuatnya secara signifikan kasus pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui di Kota Wuhan, provinsi Hubei, Cina.
Di awal tahun 2020, tepatnya pada 9 Januari, Chinese Center for Disease Control and Prevention mengumumkan bahwa telah ditemukan coronavirus baru (SARS-CoV-2) sebagai penyebab penyakit pernafasan yang sedang diderita oleh banyak warga Wuhan, yang kemudian disebut sebagai Covid-19.

COVID-19 DI ITALIA
Dua kasus pertama Covid-19 di Italia adalah sepasang turis Cina yang dinyatakan positif pada tanggal 30 Januari 2020 oleh Institut Spallanzani, Roma, dimana keduanya dirawat dalam ruang isolasi sejak 29 Januari. Berdasarkan pelacakan, keduanya mengaku mendarat di kota Milan dan sudah melakukan perjalanan ke beberapa kota lain sebelum tiba di Roma dan mulai sakit. Kedua pasangan ini dinyatakan sembuh pada tanggal 26 Februari 2020.
Kasus pertama dari penularan sekunder ditemukan di Codogno, sebuah kota di region Lombardia, tepatnya di Provinsi Lodi, pada tanggal 18 Februari. Seperti di Wuhan, penemuan kasus Covid.19 di Provinsi ini terlacak dari meningkatnya kasus pneumonia di zona tersebut. Ketika dilakukan tes pada sekian pasien, ditemukan bahwa mereka positif Covid-19.
Merespon situasi ini, Rapat Kabinet mengeluarkan dekrit pada tanggal 23 Februari 2020 yang melakukan isolasi total dan melarang perpindahan manusia, baik masuk ke atau keluar dari kota-kota yang menunjukkan titik api kasus positif Covid-19 dan pembatalan semua kegiatan publik. Sepuluh kota yang masuk dalam kategori ini adalah Codogno, Casale, Castiglione, Fombio, Maleo, Somaglia, Bertonico, Terranova de Passerini, Castelgerundo e San Fiorano; semuanya di Provinsi Lodi. Di Kota Milan dan juga di seluruh wilayah Lombardi dan Veneto, sejak tanggal 24 Februari sudah mulai dilakukan semi-karantina; sekolah dan universitas ditutup dan para pekerja kantoran disarankan bekerja dari rumah.

RESPON PEMERINTAH DAN MASYARAKAT ITALIA
Saya ingat betul di hari-hari awal mencuatnya Covid-19 di Italia, bagaimana perbincangan ibu-ibu di depan sekolah ketika menjemput anak-anak bergeser dari yang sebelumnya tentang PR dan aktivitas ektrakurikuler menjadi, tentu saja, coronavirus. Sebagian besar tidak menganggap virus ini sebagai sesuatu yang serius, “Ah, paling hanya seperti flu berat,” atau, “Ah, masih jauh di Utara, entah kapan sampai di sini.” (Note: saya tinggal di Larino, provinsi Campobasso, region Molise, secara geografis posisinya di Italia bagian tengah agak ke selatan).
Sikap ini tidak hanya terjadi di Italia selatan yang waktu itu belum ditemukan kasus positif. Di region Lombardi dan Veneto yang jelas-jelas sudah dikonfirmasi kasus positif, ternyata dianggap enteng oleh sebagian warga. Mereka ini tetap saja berkeliaran di ruang publik dan parahnya beberapa di antara mereka melakukan perjalanan ke luar kota, baik itu di dalam negeri ataupun ke luar negeri. Akibatnya, sebuah resor di Spanyol harus dikarantina karena didapati seorang turis Italia dari Milan menginap di sana dan ternyata positif Covid-19. Demikian juga di beberapa negara Eropa bagian timur, kasus-kasus positif pertama ternyata dibawa oleh warga Italia yang bepergian ke negara tersebut. Akibatnya, penerbangan dari dan ke Italia mulai ditutup di beberapa negara, termasuk jalur darat ke dan dari negara-negara Eropa yang berbatasan dengan Italia.

MEMBURUKNYA SITUASI DI ITALIA DAN NAIKNYA ANGKA PENDERITA POSITIF SECARA SIGNIFIKAN
Ketika angka penderita positif Covid-19 terus merangkak naik dari 221 pada 24/02, menjadi 1.049 pada 29/02 dan 2.706 pada 04/03 pemerintah semakin memperketat proses isolasi di seluruh Italia. Seluruh sekolah dan universitas dinyatakan tutup sejak tanggal 5 Maret hingga 15 Maret 2020. Demikian pula beberapa instansi pemerintah mulai memerintahkan kepada pegawainya untuk bekerja dari rumah dan melakukan sistem giliran untuk masuk ke kantor demi menjamin pelayanan publik tetap berfungsi. Suami saya yang bekerja di Badan Statistik Italia, misalnya, mendapat giliran masuk pada tanggal 9 dan 12 Maret.
Begitu dikeluarkannya dekrit penutupan sekolah, para orang tua di kota kami menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Sebagian masih menganggap bahwa situasi ini belum menuntut penutupan sekolah di Italia bagian selatan, “Kebijakan ini terlalu berlebihan,” menurut mereka.
Kepanikan besar sudah terjadi di utara. Dari Milan, ribuan perantau (warga Italia selatan yang merantau ke Utara) berbondong-bondong ‘melarikan diri’, stasiun kereta api dipenuhi warga yang ingin pulang ke kotanya sebelum Milan ditutup total. Mereka ini layaknya anak-anak panah beracun yang melesat jauh membawa virus keluar dari zona merah. Satu kasus yang jelas dan paling dekat dengan kotaku adalah seorang mahasiswa yang studi di Milan dan berhasil keluar dari Milan untuk pulang ke Campobasso, ibukota provinsi, dan dinyatakan positif Covid-19.

Perilaku masyarakat yang tidak bertanggungjawab tersebut secara nyata menaikkan dan memperluas jangkauan penyebaran virus. Jika pada tanggal 04/03 jumlah positif adalah 2.706, setelah kebijakan semi isolasi diterapkan dan banyak warga masyarakat yang tidak mengindahkan, maka angka positif Covid-19 di Italia per 09/03 adalah 7.985!
Langkah esktrim harus diambil, menurut pemerintah Italia. Tanggal 10 maret 2020 malam, PM Conte mengumumkan dekrit baru, bahwa per tanggal 11 Maret 2020 Italia akan menjadi ‘Zona dilindungi’, artinya diisolasi (hampir) total. Semua warga diminta tinggal di dalam rumah dan dilarang keluar dari kota masing-masing dan bepergian ke kota lain tanpa alasan yang valid: untuk bekerja, alasan kesehatan atau alasan penting mendesak lainnya (misalnya membantu keluarga yang membutuhkan bantuan). Pemerintah menerbitkan vademekum, aturan detail mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan dalam status ‘zona dilindungi’ ini. Semua pusat perbelanjaan dan perkantoran ditutup hingga 25 Maret (sementara penutupan sekolah hingga 3 April) kecuali supermarket, apotik, bank/asuransi, dan beberapa lokal lain yang menunjang kebutuhan primer. Bar dan restoran masih bisa buka dengan jam terbatas dan mengatur jumlah klien yang masuk.
Istilah ‘zona dilindungi’ dipilih karena memang pemerintah ingin melindungi (atau mencegah) warganya dari penularan Covid-19, bukan sekedar melakukan isolasi pada mereka yang sudah dinyatakan positif.
Apa yang dilakukan penduduk Italia? Sebagian besar akhirnya menurut pada aturan. Sebagian, tetap saja ada yang keras kepala dan bertindak bodoh, mereka tidak mematuhi aturan untuk tidak berkerumun; keluar dari rumah tanpa alasan yang jelas.
Pada tanggal 12 Maret 2020, PM Conte kembali memperketat dekrit dengan mengumumkan penutupan juga bar dan restoran serta salon keca. Dan meminta kepada warga untuk melengkapi diri dengan surat keterangan sehat ketika keluar rumah. Surat keterangan ini dibuat sendiri pada formulir yang sudah disediakan pemerintah. Meski dibuat sendiri, tapi pihak aparat bisa memeriksa kebenarannya. Jika ternyata ditemukan kepalsuan data maka si pelaku bisa dijerat dengan dua pasal: pemalsuan dan pelanggaran aturan dekrit, yang artinya bisa dikenakan sanksi denda atau bahkan kurungan.

Perkembangan hingga hari ini (16 Maret 2020)
Sejak diberlakukannya dekrit, jumlah kenaikan harian penderita positif Covid-19 di Italia masih naik turun. Partisipasi masyarakatpun masih naik turun. Dalam sehari, misalnya, bisa didapati sekitar 7000 delik aduan pelanggaran dekrit oleh warga, yang mencoba keluar rumah atau bahkan keluar kota tanpa motivasi yang jelas.
Belajar dari Wuhan dan Codogno, salah satu kota episentrum Covid-19 di Italia, isolasi memang sangat diperlukan untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Pada tanggal 10 Maret 2020, untuk pertama kalinya Codogno dinyatakan nol penambahan kasus positif baru sejak berada dalam isolasi selama 16 hari.
Sementara itu di Italia angka total positif menunjukkan angka 21.157, dimana aktual positif 17.750, yang dinyatakan sembuh 1.966 dan yang meninggal 1.441. (Data dari Departemen Perlindungan Sipil Italia per 15 Maret 2020, pukul 17.00).

COVID-19 DI INDONESIA
Di Indonesia, dua kasus positif pertama diumumkan secara resmi pada tanggal 2 Maret 2019. Mereka ini adalah warga Depok yang dikabarkan sempat melakukan kontak dengan turis Jepang yang sempat berkunjung ke Bali dan dinyatakan positif melalui sebuah tes di Malaysia. Sejak hari itu, kasus Covid-19 di Indonesia semakin terbuka. Pemerintah Indonesia mendapatkan desakan dari berbagai pihak untuk segera mengambil tindakan. Saat ini jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia adalah 134 orang (data per 16/03/2020 pukul 19.00) dan beberapa dugaan positif yang tersebar di beberapa wilayah, antara lain: Jakarta, Jawab Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara.

BELAJAR DARI KASUS ITALIA UNTUK MERUMUSKAN SOLUSI BAGI INDONESIA
Penanganan pandemi Covid-19 ini membutuhkan dua faktor penting: sikap responsif dan cepat dari pemerintah serta kesadaran dan partisipasi warga. Di Italia, pemerintah dianggap sangat responsif. Pemerintah membentuk jaringan pemantauan Covid-19 dan diaktifkannya kontrol dan penyaringan dibawah koordinasi gugus tugas kementerian. Melalui jaringan ini, pemerintah bisa mendapatkan data aktual dari setiap provinsi dan region yang sangat membantu pemerintah dalam menentukan  kebijakan-kebijakan bahkan dalam jam atau hari. Ini bisa dilihat dari sekian dekrit yang sudah dikeluarkan dengan isi yang semakin mengetatkan pengontrolan penyebaran virus. (Note: Dekrit  pertama tanggal 23 Februari, kemudian tanggal 25 Februari, 1 Maret, 4 Maret, 8 Maret, 9 Maret dan terakhir 11 Maret).
Pada tanggal 31 Januari, pemerintah Italia menyatakan status darurat kesehatan, mengalokasikan dana awal dan menetapkan Kepala Departemen Perlindungan Sipil Angelo Borelli sebagai Komisaris Luarbiasa untuk Penanganan Darurat Covid-19.
Sejak awal Pemerintah Italia juga transparan, data yang terkumpul disajikan di website Departemen Kesehatan dan Departemen Perlindungan Sipil setiap harinya pada pukul 17 atau 18. Setiap dekrit juga dimuat tautannya dan dipasang pula atura dan informasi teknis yang sangat membantu warga selama masa lockdwon ini.
Peran masyarakat adalah mematuhi himbauan dan aturan yang dikeluarkan pemerintah. Banyak kampanye yang dikumandangkan untuk membantu masyarakat untuk memahami apa itu Covid-19 dan dampaknya di beberapa wilayah lain. Tidak perlu panik, memang. Tapi jangan sampai menganggap tidak serius situasi ini. Perkembangan dekrit pemerintah Italia yang makin lama makin ketat adalah efek dari respon sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab, menganggap remeh situasi yang sangat serius ini dan bahkan dengan sengaja melanggar aturan.
Virus ini bisa jadi tidak secara langsung mematikan, (hanya) berdampak fatal pada mereka yang sistem imunnya lemah akibat usia yang sudah lanjut atau penyakit kronis yang sudah diderita. Tapi sifat penyebarannya yang sangat mudah dan sangat cepat bisa mengubah virus yang tidak fatal ini menjadi virus yang menimbulkan bencana kesehatan.
Italia memiliki sistem pelayanan kesehatan publik yang bagus. Jika di Amerika tes Covid-19 dilakukan dengan berbayar (sekian ribu dolar), di Italia dilakukan gratis. Jika di Inggris diambil kebijakan untuk hanya mengkarantina warganya yang merasa memiliki gejala tanpa melakukan tes, maka di Italia sudah dilakukan 124.899 tes tampon.
Meski demikian, Italia juga sempat kewalahan menangani jumlah pasien positif yang naik secara sangat cepat. Di Lombardi dan Veneto, pemerintah memanggil para pensiunan dokter dan perawat untuk kembali bertugas, selain juga meminta para lulusan baru dokter dan perawat untuk langsung bekerja dibawah bimbingan para dokter dan perawat aktual yang bertugas. Pemerintah Italia memanggil para donatur untuk memberikan bantuan berupa obat-obatan, alat bantu pernafasan, masker dan sarung tangan.

Siapkah Indonesia menghadapi tekanan waktu ini? Italia memiliki penduduk sekutar 60 juta jiwa, kurang dari seperempat penduduk Indonesua ynag mencapai 260 juta jiwa. Bayangkan jika virus Covid-19 ini meluas sama cepatnya dengan di Italia. Jika saat ini jumlah pasien positif Italia sekitar 20.000, yaitu 0,03% populasi Italia, maka dalam hitungan kasar dan bodoh dengan prosentase yang sama di Indonesia bisa mencapai 78.000 orang yang dinyatakan positif. Jika 20% saja yang membutuhkan perawatan intensif, artinya dibutuhkan sekitar 15.600 tempat tidur yang dilengkapi dengan alat bantu pernafasan. Berapa jumlah tempat tidur perawatan intensif yang tersedia di seluruh Indonesia?

Lockdown bisa jadi bukanlah alternatif ideal dalam konteks Indonesia. Di Italia, 90% sektor ekonomi diliburkan. Hanya sektor yang menunjang kebutuhan primer (pangan dan kesehatan) yang diijinkan tetap beroperasi. Pemerintah Italia menyediakan 20 milyar euro untuk kompensasi bagi jutaan pekerja yang dirumahkan sementara ini. Pemerintah Italia tidak menyediakan bantuan pangan gratis selama lockdown, hanya menjamin ketersediaan pangan di seluruh penjuru negara.
Indonesia memiliki gambaran ekonomi yang sangat berbeda. Banyak pekerja sektor informal yang pendapatannya harian yang bahkan untuk membeli persediaan makanan untuk beberapa haripun tak mampu. Apakah Pemerintah Indonesia memiliki dana untuk menanggung warga yang demikian? Artinya Indonesia, baik pemerintah atau masyarakat, harus bekerja sama mencegah untuk tidak sampai pada tahap ini.

Akhir kata, Pemerintah Indonesia telah mulai mengambil beberapa langkah, mungkin belum sempurna dan karena belum sempurna ini, maka sangat dituntun partisipasi masyarakat dalam mencegah penyebaran virus Covid-19 ini. Menjaga kebersihan dan kesehatan pribadi adalah yang pertama. Mengikuti anjuran pemerintah untuk menghindari kerumunan publik dan menjaga jarak aman juga harus diikuti. Jika pemerintah di beberapa daerah mulai meliburkan sekolah dan diikuti anjuran sekolah dan bekerja di rumah, itu artinya setiap orang sebisa mungkin tinggal di rumah masing-masing. Adalah durhaka dan sebuah bentuk kejahatan sosial, jika liburan yang diberikan dalam rangka situasi darurat kesehatan itu dimanfaatkan untuk jalan-jalan atau mudik. Tahukah bahwa orang lanjut usia, yaitu orang tua kita, adalah salah satu yang paling rentan terhadap virus ini dan bisa berdampak pada kematian? Mereka yang tinggal di wilayah yang sudah terpapar virus, besar kemungkinan sudah menjadi carrier, atau pembawa virus, tanpa disadari. Karenanya, bersikaplah bijak untuk mematuhi anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah, membatasi interaksi sosial secara langsung.
Benar bahwa hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan, tapi Tuhanpun Maha Tahu mana hambanya yang berusaha dan mana yang bersikap dzalim. Semoga Tuhan melimpahkan pengetahuan dan keterbukaan pikiran pada kita semua, bahwa situasi ini membutuhkan kita sebagai manusia yang berakal untuk bersikap bijak melindungi diri sendiri dan masyarakat sekitar.

Novia Cici Anggraini
Warga Negara Indonesia yang tinggal di Larino (Campobasso), Molise, ITALIA dan sudah menjalani 11 hari tinggal di rumah karena krisis Covid-19.

Memahami apa itu Lockdown

●    MEMAHAMI APA ITU  *LOCK DOWN* MENURUT *UU NO. 6 TAHUN 2018*.    ▪
[politikandalan.blogspot.com]

Sedikit informasi soal *bedanya lockdown* yg ada di *kepala netijen* dan *lockdown* yang benar menurut *UU NO. 6 tahun 2018* dan *apa yang terjadi sekarang*.

*Lockdown* itu adalah istilah kerennya *KARANTINA*.
Jadi, kayak *misalnya Italia dilockdown*, itu artinya *dikarantina, diisolir, dijauhkan, dari pergerakan lalu lintas sosial* yang umum.

Masalah *karantina* sendiri, menurut *UU No. 6 tahun 2018,* ada *beberapa macam*, dan *setiap macam ada aturannya*.

*Syarat utamanya* adalah *penentuan status darurat kesehatan nasional oleh Pemerintah Pusat*, dalam hal ini adalah *Presiden,* yang diikuti dengan *pembentukan satuan tugas untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi sebuah wabah penyakit*. Ini ada *di Bab IV Kedaruratan Kesehatan Masyarakat* Pasal 10 sampai 14

Ada *beberapa macam karantina* menurut *UU No. 6 tahun 2018 ini*.  Ada *Karantina Rumah,*
*Karantina Wilayah* dan
*Karantina Rumah Sakit.*  Lalu ada juga *langkah* yang disebut *Pembatasan Sosial*. Penjelasan ini ada *di pasal 49*

*Pasal 50, 51 dan 52* menjelaskan tentang *karantina rumah,* yang dilakukan *hanya kalau kedaruratannya terjadi di satu rumah.*  Karantina ini *meliputi orang, rumah* dan *alat angkut yang dipakai*. Orang yg dikarantina *nggak boleh keluar,* tapi *kebutuhan mereka dijamin oleh negara*
[politikandalan.blogspot.com]

*Pasal 53, 54 dan 55* menjelaskan tentang *karantina wilayah.*
INI YANG DISEBUT SEBAGAI *LOCKDOWN*.
Syarat pelaksanaan lockdown *harus ada penyebaran penyakit di antara masyarakat* dan *harus dilakukan penutupan wilayah utk menangani wabah ini*.  Wilayah yg dikunci *dikasih tanda karantina*, dijaga oleh *aparat,* anggota masyarakat *tidak boleh keluar masuk wilayah yang dibatasi*, dan *kebutuhan dasar mereka wajib dipenuhi oleh pemerintah*

*Pasal 56, 57 dan 58* adalah *Karantina Rumah Sakit,* kalau seandainya memang *wabah bisa dibatasi hanya di dalam satu* atau *beberapa rumah sakit saja*.  RS akan dikasih *garis batas* dan *dijaga*, dan *mereka yang dikarantina akan dijamin kebutuhan dasarnya*

Nah, yang sekarang dilakukan itu adalah *PEMBATASAN SOSIAL*, alias *SOCIAL DISTANCING*, skala besar. Itu *di pasal 59*

*Pembatasan Sosial Berskala Besar* merupakan bagian dari *upaya memutus wabah, dengan mencegah interaksi sosial skala besar* dari orang-orang di suatu wilayah.  Paling sedikit *yang dilakukan* adalah *sekolah* dan *kantor* diliburkan, *acara keagamaan dibatasi* atau *kegiatan yang skalanya besar dibatasi*.  Ini yang minimal. Yang lebih tinggi lagi juga bisa, misalnya *penutupan toko* dan *mall, penutupan tempat hiburan* yang banyak dikunjungi orang, atau tindakan apapun yang *tujuannya mencegah orang banyak berkumpul.* Tapi orang-orang *masih bisa berpergian, ke kantor, ke pasar, ke mall, ke dokter, ke rumah sakit,* bahkan acara tertentu.  Tinggal *tergantung seberapa ketat aturan pembatasan sosialnya.*

DAN YANG SEKARANG TERJADI DI *JAKARTA* DAN *SOLO* ADALAH *PEMBATASAN SOSIAL*, BUKAN *LOCKDOWN* alias *KARANTINA WILAYAH*.

*Kalau Jakarta* dan *Solo dilockdown beneran*, nggak ada lagi yg namanya *orang wara-wiri di jalan*. Nggak ada lagi *abang tukang bakso kelilingan*, tukang nasgor tek-tek ngider, atau *babang ojol nganterin paket*.  Transportasi umum ditutup semua *Semuanya diam di rumah, nggak keluar rumah kecuali kalau perlu,* nggak boleh naik transportasi umum kalau mau berpergian, *harus pakai kendaraan pribadi*, itupun pakai ijin dulu sebelumnya.

*_Jadi, stop lah kalian koar-koar lockdown_* begina beginu begindang, kalau ternyata *ujung-ujungnya yg di kepala kalian adalah skenario film World War Z.*
Cari tahu dulu lebih lanjut, *temukan informasi yang tepat* dan *akurat, supaya paham apa yang terjadi* !!! To see.

BONUS JANGAN SAMPAI JADI SAMPAH



Saat ke Singapura, di toilet Bandara gue sering babget bertemu orang-orang tua yang bekerja sebagai petugas toilet. Kadang di restoran cepat saja, gue juga menuin oma-opa bersih-bersih meja makan.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/03/bonus-jangan-sampai-jadi-sampah.html]

Bukan hanya di Singapura. Di Jepang juga sama. Banyak orang usia kakek nenek masih aktif bekerja. Biasanya mereka bekerja ringan-ringan saja. Lagian mana sanggup kalau disuruh ngangkat gerobak bubur.

Fenomena oma-opa bekerja memang khas negara maju. Di negara itu, terjadi krisis kependudukan. Dimana penduduk usia tua semakin banyak. Sedangkan yang usia produktif berkurang jauh. Apalagi angka kelahiran juga rendah.

Kalau struktur penduduk banyak orang tua, tapi yang mudanya sedikit apa akibatnya? Secara agregat penduduk kurang produktif. Dan kita tahu, orang tua dan anak kecil, dalam konteks produktifitas harus ditanggung oleh mereka yang produktif. Akibatnya beban mereka yang bekerja berat banget. Kerja sendiri, buat menghidupi banyak orang.

Ada yang bebannya langsung kayak di Indonesia. Dengan pola hidup kekerabatan, orang tua biasanya dihandle anaknya yang produktif. Kalau di negara maju, biaya orang jompo ditanggung negara. Duitnya dari pajak orang yang kerja. Sama saja.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita ternyata sebaliknya. Jumlah penduduk usia produktif kita banyak. Inilah yang dikenal dengan istilah bonus demografi. Nanti pada 2030 sampai 2045 adalah puncak bonus demografi kita. Orang-orang muda yang masih segar jumlahnya paling banyak.

Mereka lulus dari sekolah. Lulus dari perguruan tinggi. Lalu setelah itu akan mencari kegiatan produktif.

Bayangkan jika saat itu lapangan kerja terbatas. Mau bikin usaha susahnya minta ampun karena ribet sama urusan administrasi. Modalnya juga cekak. Keterampilan kurang.

Struktur demografi bukannya bonus malah boncos. Orang muda yang nganggur sangat berbahaya. Energinya bisa merusak. Apalagi yang jadi laskar.

Orang muda ini lama-lama akan jadi tua. Artinya pada tahun 2070 misalnya, mereka akan jadi beban juga. Jadi harus secepatnya disiapkan lapangan pekerjaan dan usaha produktif buat mereka.

Makanya pemerintah mulai mikir dan  ancang-ancang. Itulah yang menjadi titik tekan Omnibus Law Lapangan Kerja. Fokusnya membuat kemudahan bisnis, bagi usaha besar maupun usaha kecil.

Bisnis yang mudah, akan membuka lapangan kerja. Bagi yang mau usaha sendiri, bikin PT buat usaha kecil gak perlu biaya banyak. Cukup daftar ke Kemenhumkam. Gak usah pakai notaris segala. Tentu kalau untuk usaha menengah dan besar, tetap seperti biasa.

Bukan hanya itu. Segala perizinan dipangkas. Perda-perda yang biasanya menghambat investasi dibabat. Kita tahulah, kadang Pemda menjadikan perizinan jadi ajang memeras penguasaha. Itu sudah jadi rahasia umum.

Bukan berarti semua digampangkan. Soal Amdal, tetap digunakan. Tetapi gak lagi ribet. Amdal bukan di atas kertas. Tapi adanya di lapangan. Jadi gak perlu dipersulit.

Gimana soal tuntutan buruh yang menolak? Sialnya tuntutan itu banyak didasari pada hoax.

Misalnya ada isu pesangon dihapuskan. Padahal gak. Pesangon tetap wajib bagi perusahaan yang PHK karyawannya.

Bukan cuma itu. Bahkan buat karyawan kontrak, apabila gak diperpanjang wajib dapat pesangon juga. Sesuatu yang gak ada di aturan sebelumnya.

Sedangkan mekanisme UMR dibuat lbih simpel. Gak ada lagi upah Kabupaten Kota. Yang ada hanya upah Propinsi. Jadi dalam satu propinsi ada keadilan. UMRnya sama. Masa setiap Kabupaten Kota standar upahnya beda-beda?

Pekerja juga gak rugi, kale. Wong besaran UMR gak turun.

Mekanisme ini dibuat agar pengusaha nyaman. Pekerja juga nyaman. Mungkin saja yang gak nyaman serikat pekerjanya karena dalam beberapa kasus pengaruhnya berkurang. Misal serikat kelas kabupaten kota, gak bisa nekan-nekan lagi. Wong UMR dibahas level Propinsi.

Makanya banyak serikat marah. Ngajak-ngajak demo buruh menolak Omnibus Law yang mestinya gak merugikan buruh sama sekali. Modalnya dengan hoax.

Bahayngkan jika lapangan pekerjaan terbuka besar, kan buruh malah diuntungkan. Alternatif bekerja banyak. Bargainingnya meningkat. Bukan hanya bargaining serikat yang sering lebih petantang petenteng dibanding buruhnya

Dunia emang lagi demam sekarang. Perang dagang dan wabah Corona ikut memjadi pemicu.

Indonesia harus mengambil langkah besar. Kalau gak sekarang, kita akan ketinggalan kereta. Lapangan kerja harus cepat diciptakan.

Jika tidak. Khawatirnya anak-anak muda itu hanya jadi makanan kelompok intoleran. Yang diarahkan buat merusak Indonesia.

"Mas, kalau usaha Migas dipermudah juga gak?," tanya Abu  Kumkum.

"Semua Kum. Emangnya kamu usaha Migas, apaan?"

"Jual minyak telon sama jamu tolak angin mas..."

by Eko Kuntadhi
https://politikandalan.blogspot.com/2020/03/bonus-jangan-sampai-jadi-sampah.html

Saat itu, dunia mentertawakan China.


By : Embassy Of China in Indonesia
Waving goodbye!
With the last batch of 34 patients discharged, 14 out of 16 temporary hospitals  in #Wuhan have been closed.
The other two are expected to close Tuesday.
NOTE.

Saat itu, dunia mentertawakan China.

Sebagian orang Islam mengatakan, China sedang mendapat kutukan Tuhan.

Karena makan hewan liar dan berbuat zalim kepada suku Uighur.

“Ternyata China tidak sehebat yang dibayangkan.

Dengan kelelawar bisa kalang kabut." kata Mereka.

Di luar negeri terjadi aksi rasis berlebihan terhadap orang China.

Seakan orang China identik dengan Virus.

AS membayangkan ekonomi China runtuh dan Xi JINPING jatuh. 

Berita dari mereka yang terjebak China phobia tidak henti menyebarkan hoax.

Begitu menyedihkan.

Betapa buruknya nasib China.

Namun setelah tanggal 23 februari , China kembali membuka diri.

Kehidupan berangsur normal.

Penyembuhan sudah diatas 50% , mendekati 100% dan tingkat korban mendekati nol persen.

Bahkan beberapa RS darurat korban Corona sudah ditutup karena tidak ada lagi pasien yang datang.

Produksi sudah kembali menggeliat.

Tapi apa yang terjadi?

Dunia menyambut dengan penuh suka cita, bukan karena China sudah recovery, tetapi “China bantu mengatasi dampak adanya Virus Corona”.

Mengapa?

Ketika pada akhirnya penyebaran COVID-19 melanda beberapa negara, semua negara panik.

Bukan karena khawatir atas virus corona tetapi dampak dari kerusakan ekonomi dari adanya virus corona itu. 

Bursa saham jatuh.

Pabrik menurunkan produksi, bahkan ada yang tutup.

PHK terjadi dimana-mana.

Bisnis di pusat wisata terancam gulung tikar, Bandara sepi dll.

Suasana mencekam terbentuk akibat pemberitaan hoax sebelumnya terhadap China, kini berbalik kepada mereka sendiri.

Ternyata dunia sadar, bahwa China adalah bangsa yang tangguh dan mereka bangsa yang rapuh.

Fakta mereka tidak sekuat China.

Arab kehilangan pendapatan dari kunjungan Haji, Kehilangan pendapatan dari ekspor migas, karena 2/3 pembeli migas Arab adalah China.

Kepanikan ekonomi melahirkan krisis politik di Arab.

AS panik, banyak distributor yang gulung tikar karena kurang suplai barang dari China.

Warga AS panik memborong kebutuhan umum, khawatir Pemerintah tidak mampu menyediakan barang karena Corona, sudah 600 orang terinfeksi virus.

Itali mengkarantinakan 16 juta penduduknya.

Dari perang dagang menuju perang harga minyak.

Seluruh bursa jatuh.

Kepanikan meluas tidak terhindari.

China tersenyum, bukan mengejek, tetapi menenangkan mereka.

”Tidak ada manusia yang sempurna, tugas manusia melewati ketidak sempurnaan itu dengan rendah hati & focus kepada pemulihan, bukan kepada kepanikan.

Bagaimana menjadikan batu sandungan sebagai batu loncatan agar lebih baik dari sebelumnya"

Karena kepanikan tidak menghasilkan apa apapun.

"Lewat Virus Corona, Tuhan sedang berdialog kepada kita semua.

Untuk hidup damai dalam semangat kemanusiaan diatas perbedaan agama dan idiologi".

Mengapa?

Karena idiologi & agama bukan menjadi sumber kekuatan.

Karena politik menciptakan rasis.

Karena politisasi agama primordialistik melahirkan intoleransi & membuat rapuh.

China tangguh, karena agama & idiologi mempersatukan mereka dalam semangat kebersamaan atas dasar cinta bagi semua.

Kita yang rapuh karena agama dan idiologi membuat kehilangan Cinta.

Akankah kepanikan ini bisa menyadarkan kita?

Akankah orang bisa belajar kepada China, bagaimana seharusnya berpolitik dan beragama?

Cerdas! Netizen Bongkar Alasan Pemerintah Tak "Lockdown" Indonesia


Saat ini gema permintaan "lockdown Indonesia" mulai bermunculan, bahkan dari mantan wapres. Padahal Tiongkok sebagai negara awal penyebaran hanya me-lockdown kota Wuhan, begitu juga dengan Korea Selatan yang me-lockdown kota Daegu. Terus kenapa Indonesia yang awalnya terkena di Jakarta malah disuruh lockdown seluruh negara? Salah satu netizen membongkar taktik busuk di balik permintaan tersebut.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/03/cerdas-netizen-bongkar-alasan.html]

Akun @queensky21 memberanikan diri melakukan analisa yang bertolak belakang dari para politisi busuk. Saat ini threadnya di-retweet 19.1k dan di-like 35.8k. Meski tweet-nya banyak mendapat cibiran dari orang-orang yang kecewa terhadap pemerintah pusat, namun banyak pula yang mendukung dan sadar dampak ke depan dari kata lockdown.

Awalnya akun tersebut menanyakan kesiapan negara ini saat menghadapi lockdown.

"Jika Indonesia lockdown, kita siap gak menanggung dampaknya?"
#LockDownIndonesia A thread Mohon ditambahkan/diralat jika ada salah kata, krna saya bukan pengamat ekonomi, saya hanya orang awam yg melihat dampak luarnya.." tulis akun @queensky21

Akun tersebut lalu menganalisa alasan Jokowi belum menerapkan sistem lockdown. Alasannya kemungkinan karena jumlah yang terinfeksi belum pada tahap yang mengkhawatirkan. Korea Selatan misalnya, meski sudah menginfeksi 8 ribu jiwa tapi belum memberlakukan lockdown.

Salah satu cara untuk mencegah penyebaran adalah menjaga kesehatan diri sendiri. Peduli dengan badan sendiri. Ini wajib dan harus dipatuhi saat ini.

Akun tersebut juga mengungkapkan efek bagi suatu negara jika lockdown yaitu ditakutkan akan terjadi krisis moneter yang besar-besaran melebihi tahun 98.

Jika di-lockdown dari sisi ekonomi:

1. Maskapai penerbangan mengalami kerugian yang amat besar, akibatnya pekerjanya akan dipotong gaji/PHK.

2. Tempat-tempat wisata sudah bukan sepi lagi, tapi kosong. Tak ada pendapatan, rugi besar, pekerja otomatis potong gaji/PHK.

3. Sekolah diliburkan, kerja diliburkan, orang Indonesia banyak yang perantauan, pasti kalau ada libur panjang ya pilihannya mudik. Orang Indonesia bisa dilarang mudik? Tak akan bisa, orang Indonesia banyak yang tidak patuh. Kalau pada mudik, justru penyebarannya akan lebih parah. Desek-desekan semua manusia di pelabuhan, stasiun, tol, terminal. Sampai kampung halaman menyebarkan virus ke kampungnya.

4. Orang ekonomi atas banyak ngeborong makanan. Akibatnya stock makanan/minuman akan ludes dalam sekejap, lalu makanan dan minuman langka dan harganya mahal. Teori permintaan, "semakin besar permintaan, maka harga relatif akan naik, permintaan turun, harga turun." Sudah tidak mendapat gaji, harga makanan mahal.

5. Jika kerja diliburkan, pasti mempengaruhi ekspor/import. Mengingat di Indonesia banyak sekali pabrik yang mengekspor barang. Tidak ada pemasukan dari pariwisata, pajak ekspor import berkurang. Bisa dibayangkan sendiri nilai rupiah akan anjlok sampai tahap mana? Ya paling bawah. Krisis Moneter jilid 2. Sudah kena penyakit, beli makan tidak terbeli, beli masker tidak terbeli, pasti akan ada kerusuhan di mana-mana.

Pemerintah bukannya tidak bisa lockdown, tapi itulah, berat, harus siap segala dampaknya. Lockdown itu pilihan terakhir jika yang terinfeksi sudah pada tahap yang mengkhawatirkan. Makanya kita selalu berdoa semoga jumlahnya yang terinfeksi tidak bertambah, dan ikuti saran pemerintah.

Jaga kesehatan, Sering cuci tangan, tidak keluar rumah kalau tidak begitu penting. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. Dan yang terinfeksi kebanyakan habis pulang dari luar negeri, semoga yang habis dari luar negeri pada koperatif untuk ngecek kesehatannya.

Di bandara juga sudah diperketat untuk yang baru datang dari luar negeri, dilakukan pengecekan kesehatan di bandara.

Saat ini, kita jangan hanya menyuruh pemerintah untuk lockdown-lockdown. Kita harus turut andil juga. Ayo semuanya kita kerjasama lawan virus corona dengan peduli kesehatan dan kebersihan diri sendiri dan keluarga.

Percuma kalo di-lockdown juga jika orang-orang Indonesia apatis dengan kesehatan. Dirinya masih pada batuk sembarangan (tidak ditutup). Masih Bersin sembarangan, masih berat untuk sering cuci tangan. Jadi kita harusnya kampanyekan ke masyarakat untuk hidup bersih, siapin tameng imun. Bukan kampanye lockdown.

Begitulah keseluruhan isi thread akun @queensky21. Dia bisa menganalisa dampak secara umum dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Intinya menjaga kesehatan diri sendiri.

Makanya Jokowi dalam tweet terbarunya juga mengunggah cara menanggulangi corona yang bisa dilakukan tiap individu. Yakni dengan rajin mencuci tangan, menjaga jarak dari orang yang batuk atau bersin, menghindari menyentuh wajah, mempertahankan pola hidup sehat (makan makanan bergizi), menjaga lingkungan agar tetap bersih dan mengurangi berkumpul di keramaian.

Kita bisa mencontoh Tiongkok bagaimana negaranya akhirnya bebas dari titik kritis virus corona. Pertama-tama tentunya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pusat. Tak ada pejabat daerah di sana yang asal-asalan ngomong apalagi bertindak seolah lebih hebat ketimbang presidennya. Tidak seperti di Jakarta di mana Gubernurnya malah memanfaatkan situasi ini untuk kampanye.

Anies ingin meliburkan semua sekolah dan tempat kerja tanpa memperhitungkan dampak ekonomi ke depan. Dia tak peduli dengan arus mudik besar yang terjadi dan ancaman PHK besar-besaran. Karena di matanya ingin dianggap sebagai pahlawan yang lebih tanggap ketimbang pusat. Justru pejabat semacam Anies kalau di Tiongkok pasti sudah dikarantina lebih dahulu agar tak menyebarkan kebodohan dan kepanikan.

Sama seperti mantan wapres yang malah menyuruh lackdwon secara nasional. Ada apa gerangan? Apa dia tak tahu dampak krisis moneter bisa setiap saat menghantui? Tentunya paham. Tapi kalau ada maksud terselubung menjatuhkan pemerintah pusat lewat itu, sebaiknya perlu diperiksa karena urusannya sudah makar.

Di saat krisis kepercayaan seperti saat ini, poin pentingnya adalah kepercayaan pada pemerintah Jokowi. Kami penulis seword di sini berusaha satu suara untuk itu meski di luaran sana banyak yang mulai mencaci maki. Rakyat jangan mau dibodohi dengan kata lockdown tanpa tahu hitung-hitungan secara ekonomi dan sebagainya. Seperti kata Deny Siregar, Jokowi bekerja dalam senyap. Diam-diam membangung rumah sakit di suatu daerah untuk isolasi. Tapi, dia tak akan gembar-gembor seperti Anies tapi nihil aksi nyata.

Diharapkan semua kepala daerah tak bertindak berlebihan. Dalam hal ini Gubernur Jatim paling diacungi jempol karena selalu menurut pemerintah pusat dan menghindari pernyataan kontroversial. Tiongkok cepat bangkit karena rakyat dan pemerintah satu suara. Indonesia juga harus melakukan hal yang sama.
Niha Alif
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/03/cerdas-netizen-bongkar-alasan.html]
💓♦♥🇮🇩💓♥


ADA TULISAN ANALISA POLITIK YG BAGUS DARI TETANGGA GROUP.


Rencana Busuk Di Balik Lock Down

Saat ini Jokowi berada di dalam tekanan terbesar sepanjang pemerintahannya. Banyak orang-orang yang semula mendukung Jokowi saat ini berbalik menyerangnya gegara Covid-19 seperti anak durhaka yang menusuk orang tuanya dari belakang. Suara-suara menyesalkan kenapa Jokowi tidak melakukan lock down, jelas-jelas mulai bertebaran di mana-mana dan ujung-ujung kalau ditelisik ya dimulai dari kelompok itu-itu juga. Padahal dibalik suara-suara lock down kemungkinan ada agenda busuk tersembunyi untuk menggulingkan Presiden Jokowi. Kaget? Kalau waras jelas harus waspada. Cekidot.
Mengapa Jokowi tidak bisa melakukan lock down? Indonesia tidak sama dengan Cina, Italia, Amerika dan negara-negara lain yang merupakan 1 daratan. Indonesia terdiri dari 13.000 pulau lebih dengan 5 pulau besar utama yaitu Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Selain itu ada Bali sebagai salah satu pusat pariwisata dunia. Pulau-pulau itu dipisahkan oleh lautan yang merupakan kekayaan alam berlimpah di Indonesia. Setiap pulau memiliki dinamika sendiri sehingga tidak bisa disamaratakan. Kalau seluruh Indonesia lock down, semua pulau baik yang ada maupun yang tidak ada kasus Covid-19 harus menanggung akibatnya.
Lebih jauh lagi, sebagian besar rakyat Indonesia merupakan kalangan ekonomi menengah ke bawah, banyak yang berprofesi sebagai penjual di pasar tradisisonal di desa-desa, para petani dan peternak, para pekebun, mereka membutuhkan alur distribusi setiap harinya untuk meyalurkan hasil kerja mereka mencari nafkah. Kalau terjadi lock down maka mereka bisa tidak makan sampai 14 hari atau bahkan sebulan. Terus apa yang terjadi? Sehari dua hari tidak apa-apa tetapi 2 minggu? Perut lapar, belum lagi keluarga ada yang sakit, belum lagi anak cucu tidak bisa makan, nangis-nangis. Apa tidak membuat pikiran semakin kalut? Apa yang akan terjadi? Saat itu akan ada ajakan revolusi untuk menggulingkan pemerintah yang sah.

Sekarang bisa saja kita-kita bilang, ah mana mungkin? Gak mungkin lah kita ini waras. Kalau sudah gak makan 3 hari saja apa masih bisa waras? Apalagi ditambah anggota keluarga yang merengek-rengek kelaparan? Ajakan revolusi disertai dengan penjarahan bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Justru hal ini yang diharapkan mereka-mereka supaya timbul kekacauan. Nanti kalau sudah mulai timbul kerusuhan, mereka tinggal menambahkan penjarahan dan pemerkosaan kedalamnya. Kalau sudah begitu tinggal tunggu saja kadrun demo berjilid-jilid untuk menggulingkan Jokowi. Penggantinya jelas dari kalangan mereka sendiri. Masuklah Indonesia ke masa kegelapan melebihi wabah Corona yang ditakutkan saat ini.
Apa yang sudah menjadi milik kita seperti Freeport diambil lagi oleh Amerika, bahkan mungkin saja Petral akan diaktifkan kembali. Semua uang pajak rakyat tidak akan kembali lagi ke rakyat. Masalah intoleransi akan makin dipupuk dan dijadikan aturan baku. Semua gembar-gembor mengenai bangsa Indonesia sebagai salah satu calon negara dengan ekonomi terkuat akan musnah diinjak-injak negara luar.

Hal ini menyebabkan Jokowi tidak semudah itu menetapkan status lock down di Indonesia karena Jokowi memikirkan nasib sebagian besar penduduk yang ada dipedesaan. Kalau kadrun sih emang tujuannya lock down Indonesia supaya bisa menjatuhkan Jokowi. Tapi yang bikin miris itu loh orang-orang pinter atau yang mengaku pinter yang tadinya pendukung Jokowi terus sekarang malah mengagung-agungkan pemimpin Jakarta yang sebenarnya belepotan penuh dengan masalah SARA dan banjir. Sama kaya ngebuang berlian tapi ngambil kotoran dari selokan untuk disembah-sembah.
Mereka-mereka entah dari kalangan artis, entah dari kalangan pengusaha, entah dari kalangan entertaiment sih enak aja bilang lockdown. Elu-elu punya duit kalau kabur tinggal kabur aja kagak pernah ngerasain buruh, petani, peternak, yang tinggal di desa-desa harus berjuang setiap hari untuk makan. Jangan bisanya asal mangap aja kagak mikirin orang lain gimana. Gegara diri sendiri takut mati terus ikut-ikutan menyalahkan Jokowi.
Kalian lihat tuh, pemimpin Jakarta meliburkan sekolah 2 minggu. Apa yang terjadi? Semua vakansi ke Puncak woi Puncak. Terus kalau mereka kena langsung gampang jalan keluarnya menyalahkan Jokowi gitu? Lalu hal itu dijadikan alasan lock down Jakarta dan seluruh Indonesia? Mana tanggung jawab pemimpin Jakarta dalam hal ini?
Asal bicara lock down tapi belum tentu ngerti juga arti dan efeknya apa. Terus kalau sudah lock down pas buka lagi masih ada virusnya lock down lagi? Memang niat mereka melengserkan Jokowi karena mereka tahu karakter dan kultural bangsa ini dengan baik. Masa kita mau dibilang bangsa yang dodol sih? Lebih mudah baca dan percaya hoaks? Lebih mudah diarahkan untuk nyemplung ke jurang?
Sebetulnya tindakan yang lebih tepat adalah ”Isolasi”. Isolasi daerah-daerah ataupun provinsi yang memiliki tendensi tinggi untuk penyebaran Covid-19 bukan lockdown buta-buta seperti Cina ataupun Italia. Persiapan Jokowi dan pemerintah sudah cukup memadai kalau tidak mau dibilang baik. Hanya satu sayangnya, sering kali kita menjadi anak durhaka, lebih memilih maling daripada orang baik yang benar-benar bekerja keras untuk bangsa ini**.
Salam, Srikandi.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/03/ada-tulisan-analisa-politik-yg-bagus.html]
https://seword.com/umum/rencana-busuk-di-balik-lock-down-s6FWp9kmsy
------------------------

Soliter yang Solider

Akhir2 ini banyak orang dihimbau untuk bekerja di rumah dan dari rumah, sedapat mungkin orang berusaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain dan jika tidak sangat mendesak, kita tidak keluar rumah. Singkatnya kita diminta untuk hidup "menyendiri" alias soliter.

Hal itu bukan tanpa alasan. Virus corona atau covid 19 yang tidak terlalu familier bagi kita, merupakan virus yang disinyalir sangat berbahaya bagi nyawa manusia dan sangat cepat penyebarannya. Ironisnya lagi, virus ini menyebar justru ketika terjadi interaksi atau komunikasi antarpribadi; jabat tangan, pelukan, cipika-cipiki, berbicara, dll.

Maka menghindari kontak dg pribadi lain sementara ini dipandang sebagai solusi. Mengambil "jarak" dari sesama dilihat sebagai antisipasi bagi keselamatan diri sendiri dan sesama. Soliter menjadi wujud hormat pada kehidupan diri sendiri dan sesama, ia menjadi bukti cinta kita. Soliter adalah tindakan solidaritas. (Alfons Sutarno. inspired by: Najwa S.).


Thursday, March 12, 2020

TOLAK AHOK PIMPIN IBU KOTA BARU, SINGA BANSER INI MERADANG KE NOVEL BAMUKMIN 212


TOLAK AHOK PIMPIN IBU KOTA BARU, SINGA BANSER INI MERADANG KE NOVEL BAMUKMIN 212

Friday, March 6, 2020

Omnibus Law, Pengusaha Kecil Bisa Bangun PT Sendiri hingga Tanpa Biaya

Pemerintah berencana mempermudah syarat pembentukan perseroan terbatas (PT) bagi pelaku usaha mikro dan kecil, lewat Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Kemudahan pembentukan PT tersebut akan dilakukan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa ketentuang UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang diatur dalam Omnibus Law BAB VI Kemudahan Berusahan Bagian Keempat tentang Perseroan Terbatas.

"Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756) diubah," demikian dikutip dari Draf RUU Omnibus Law, Jumat (6/3/2020).

Beberapa poin yang mempermudah pelaku usaha kecil dan mikro diantaranya adalah, tidak ada lagi batasan minimal dua orang untuk mendirikan PT.

Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 7 ayat 7C yang menyebutkan, ketentuan yang mewajibkan Perseroan didirikan oleh orang atau lebih tidak berlaku bagi perseroan yang memenuhi kriteria untuk usaha mikro dan kecil.

Selain itu, pelaku usaha kecil dan mikro tidak lagi dibebankan biaya pembentukan PT. Padahal, dalam aturan yang berlaku saat ini biaya minimal pembentukan PT mikro dan kecil sebesar Rp 50 juta. "Perseroan untuk usaha mikro dan kecil dibebaskan dari segala biaya terkait pendirian badan hukum," bunyi Pasal 153J ayat 1.

Lebih lanjut, pelaku usaha mikro dan kecil tidak perlu lagi melapor notaris untuk membentuk suatu PT. Pelaku usah tinggal mendaftarkan izin PT ke Kementerian Hukum dan Ham.

Sebagai informasi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, rencana memudahkan pembentukan PT bagi pelaku usaha mikro dan kecil diusung untuk memudahkan pelaku usaha.

"Jadi sopir Gojek bisa jadi entrepreneur dengan PT sendiri. Itu tidak perlu ke notaris. Cukup ke Kumham dan itu bisa dibantu dinas, notaris, bisa platform," tuturnya. Dengan rencana ini, Airlangga berharap dapat meningkatan pekerja yang bergerak di sektor formil.

"Jadi tidak perlu izin panjang-panjang untuk mengedarkan barang," kata dia.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/03/omnibus-law-pengusaha-kecil-bisa-bangun.html]

Source : KOMPAS.com -
Penulis : Rully R. Ramli
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)