Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Showing posts with label Analisis Politik. Show all posts
Showing posts with label Analisis Politik. Show all posts

Friday, March 19, 2021

Lucunya Rizieq Shihab. Sex Virtual Oke. Ceramah Virtual Oke. Giliran Sidang Virtual Marah

*Lucunya Rizieq Shihab. Sex Virtual Oke.* *Ceramah Virtual Oke. Giliran Sidang Virtual* *Marah*
*Gelar “Porn Fugitive” alias buronan cabul disandang Rizieq Shihab sudah jelas gara-gara aktifitas sex virtualnya yang terkenal sampai ke luar negeri. Media “The Australian” beberapa waktu lalu sempat melansir sebuah berita berjudul “Porn fugitive Rizieq Shihab returns to launch Indonesian ‘moral revolution’. Sex virtual fine-fine saja lalu kenapa sekarang sidang virtual malah kalap gitu Bib?*

Semoga Rizieq dan para pengikutnya juga masih ingat saat beberapa waktu lalu Rizieq Shihab hadir memakai gamis putih, masker dan face shield dalam acara dialog nasional 212, Rabu, 2 Desember 2020 yang disiarkan melalui Youtube Front TV. Ceramah Rizieq kala itu juga ditayangkan secara virtual. Lancar baik-baik semua khan acara virtualnya Bib?

Makanya seharusnya tak ada alasan bagi Rizieq Shihab untuk menolak apalagi ngamuk kalap saat diminta menghadiri sidang secara virtual atas kasus yang tengah dihadapinya saat ini. Sebab pelaksanaan sidang baik secara online maupun offline juga tetap sah karena dihadiri oleh hakim, jaksa, terdakwa dan penasihat hukum. Semuanya lengkap. Trus masalahnya di mana? 

*Akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan. Melihat tingkah Rizieq Shihab yang seperti ini sama saja dengan melihat seorang anak kecil yang sedang merengek dengan cara yang sangat menyebalkan. Untuk anak kecil kita bisa maklum masih ada lucu-lucunya. Si Rizieq kira-kira di mana lucunya? Sebab menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan. Dan kedewasaan itulah yang tak pernah saya lihat ada dalam diri pemuka agama yang satu ini. Sayang beribu sayang.*
Source: https://seword.com/umum/lucunya-rizieq-shihab-sex-virtual-oke-ceramah-zKboqc8TFi
*News.IniOK.com*


Thursday, March 18, 2021

Mari Kita Rajut dan Tata Kembali NKRI

*Mari Kita Rajut dan Tata Kembali NKRI*
*Sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo mulai berjalan tampaknya negara ini sudah sangat maju dalam berdemokrasi, berbagai pihak kembali saling berjabat tangan seakan-akan menandakan rivalitas di negara ini sudah berakhir, jabat tangan antara pemerintahan baru dan pemerintahan lama merupakan penyerahan estafet pemberian tugas dari pemerintahan SBY selama 10 tahun kepada pemerintahan baru Presiden Joko Widodo.*

Banyak masyarakat tidak menyadari bahwa sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo bergulir ada pihak-pihak yang selalu mengganggu pemerintahan ini membangun negara ini, hal ini dibuktikan dengan adanya pihak-pihak yang menjaga panasnya "bara" dihati pendukung pihak yang sakit hati.

Berbagai gangguan-gangguan itu selalu diluncurkan agar menutup mata masyarakat akan prestasi-prestasi pemerintah dalam membawa negara ini untuk lebih baik.

Upaya-upaya pengganggu ini nyata dan bergerak senyap, para pengganggu tampaknya sudah tidak sabar lagi untuk muncul ke permukaan dan menggulingkan pemerintahan Joko Widodo, menunggu sampai waktu 5 tahun adalah waktu yang sangat lama bagi mereka.

Nasib baik sedang berpihak pada mereka, ada jalan masuk untuk mereka untuk beraksi di dunia nyata, kasus Ahok adalah jalan mulus yang akan membawa mereka untuk merealisasikan niat-niat jahat makar, Ahok bukanlah tujuan utama mereka karena target besar mereka adalah melengserkan Joko Widodo, hal ini bisa kita lihat dengan kasat mata.

Gagal Kudeta 4 November dilanjutkan 25 November.

Sakit hati karena upaya penggulingan pada 4 November lalu membuat pihak-pihak yang sudah merencanakan makar semakin sakit hati, tak tanggung-tanggung pihak ini rela merogoh kantong lebih dalam untuk suplai dana lebih besar agar Aksi pura-pura damai bisa sukses menggulingkan pemerintahan saat ini.

Lalu Siapa Pihak Yang Berniat Melengserkan Jokowi?

*Ada 3 Kelompok yang sangat ingin menggulingkan pemerintahan Joko Widodo, adapun pihak-pihak tersebut adalah:*

*1. Pihak-Pihak Yang Takut Terjerat Hukum*

Seperti kita ketahui, pemerintah Jokowi melakukan bersih-bersih sembari menggencarkan pembangunan di Negara ini, dalam upaya bersih-bersih tersebut banyak orang-orang yang merasa terancam akan terjerat hukum karena mereka sudah berbuat jahat di masa lalu, mereka yang dengan rakus menghisap dana negara dengan berbagai trik untuk menumpuk kekayaan.

Manuver Jokowi membuat pihak-pihak berdosa tersebut ketar-ketir, mereka membangun koalisi jahat dan rela memberikan suplai dana besar-besaran untuk menggulingkan pemerintahan Jokowi, hanya dengan menggulingkan Jokowi-lah yang dapat menyelamatkan mereka dari jerat-jerat hukum rapat yang dibangun Joko Widodo.

Menggulingkan Jokowi adalah pertaruhan besar oleh kelompok ini, hanya ada dua pilihan Jokowi tumbang atau mereka yang tumbang.

*2. Pihak-Pihak Yang "Kekeringan"*

Korupsi adalah budaya elit yang mendapatkan kedudukan bukan rahasia lagi, bukti korupsi membudaya di berbagai lini di negara ini dibuktikan dengan banyaknya para koruptor yang ditangkap oleh KPK mulai dari kelas teri sampai kelas kakap.

Para koruptor yang rela beinvestasi besar-besaran untuk mendapatkan kursi jabatan di negeri ini, investasi besar-besaran mereka terancam gagal balik modal karena pemerintahan Joko Widodo sangat ketat dalam penggunaan dan pegawasan anggaran.

Paceklik berjamaah dialami oleh kelompok ini karena aksi-aksi Jokowi menutup yang bocor, bocor dan bocor sangat efektif untuk membuat para tikus kelaparan.

Tak mau mati kelaparan, para tikus-tikus busuk ini mulai menggigit perlahan-lahan untuk merobohkan Pemerintah saat ini.

*3. Orang-Orang Yang Ingin Membangun Negara Berdasarkan Agama*

Radikalisme dan separatisme dengan alasan agama bukanlah hal baru di negeri ini, bahkan pentolan kelompok ini berani lantang tidak mengakui Pancasila yag merupakan dasar dari Negara ini.

Kelompok radikal ini sudah menunjukkan upaya-upaya mereka untuk menguasai negara ini dan membuat negara ini sesuai dengan paham mereka anut, kelompok ingin sukses menguasai negara ini seperti apa yang dilakukan oleh kelompok sejenis kelompok ini yang sukses menggulingkan pemerintahan seperti Mesir dan Turki.

*Lalu Modus Apa Yang Mereka Pakai?*

Kelompok-kelompok diatas memiliki satu tujuan utama dan mendesak yaitu menggulingkan presiden Joko Widodo, kesamaan misi ini membuat ketiga kelompok tersebut bahu membahu agar target mereka tercapai.

Berikut modus yang dipakai adalah sebagai berikut:

Membangun Konflik SARA ala Kerusuhan 98 dengan Sasaran Etnis Cina

Isu ini dianggap paling berpeluang membuat negeri ini rusuh, menciptakan kerusuhan besar-besaran adalah upaya memecah konsentrasi Polri dan TNI dalam menjaga keamanan negara ini.

Kelompok-kelompok ini berupaya mengadu domba antara masyarakat pribumi dan masyarakat keturunan dari etnis tertentu.

*Berikut bukti bahwa ada kelmpok yang membangun opini negatif dan menancapkan* kebencian terhadap Etnis Cina, di dunia maya banyak website yang mungkin jumlahnya menyampai angka ratusan untuk menghembus propaganda adu domba menyasar Etnis Cina.

Upaya yang sangat masif ini bergulir menjadi bola salju, kebencian yang sudah tertanam tadi akan diledakkan dengan aksi penyerangan suatu kelompok kepada etnis Cina, kelompok pemicu inilah yang akan menyulut kerusuhan dalam skala besar di berbagai daerah di Indonesia, upaya tersebut sangat jelas saat kerusuhan di Penjaringan 4 November lalu, beruntung polisi dan TNI di bantu masyarakat yang pro keBhinekaan sukses memadamkan pemicu ini.

Gambar serta video di bawah ini adalah bukti kecil yang membuktikan ada gerakan dan upaya yang sangat masif dan dikerjakan dengan sangat terstruktur, berita-berita hoax yang membawa etnis-etnis Cina adalah faka nyata yang terjadi, upaya-upaya busuk tersebut terkonfirmasi dengan adanya propaganda anti Cina yang diluncurkan dengan coretan-coretan di berbagai tempat menjelang Aksi demo 4 November lalu. 

*Berupaya Memancing Kudeta Militer*

Setelah operasi 4 November gagal total, kelompok-kelompok ini berusaha untuk mengadu domba antara TNI dengan Presiden, berbagai propaganda disebar mulai dari pujian setinggi langit kepada Panglima TNI Gatot Nurmantyo cocok menggantikan Joko Widodo sebagai presiden hingga menghembusan isu Panglima TNI yang akan di copot oleh Presiden karena membela umat Islam.

Pergerakan menyebarkan propaganda ini disebarkan di berbagai sosial media, bahkan banyak anggota TNI aktif sempat termakan isu penggantian Panglima ini, kekecewaan terhadap presiden terbentuk di internal TNI, kekecewaan terhadap presiden sempat diungkapkan oleh beberapa anggota TNI pada akun sosial media Facebook.

Aksi-aksi adu domba ini sudah tercium oleh Panglima TNI, sang Panglima sadar banyak bawahannya sudah termakan propaganda-propaganda ini, pada 8 November Panglima TNI memerintahkan melalui surat edaran kepada seluruh jajaran TNI yang dipimpinnya untuk menyaksikan acara Indonesia Lawyer Club.

Melalui acara tersebut panglima dengan cedas mematahkan upaya adu domba berbagai pihak yang mencoba memecah belah TNI, pihak-pihak yang mengadu domba TNI dengan panglima tertinggi dalam hal ini Presiden Jokowi dan upaya-upaya mengadu domba antara TNI dengan Polri.

Dengan lantang Panglima menutup acara tersebut dengan pernyataan:

*"LEBIH BAIK SAYA MENJADI TUMBAL DEMI KEBHINEKAAN DARIPADA SAYA BERNIAT MENJADI PRESIDEN"*

Pernyataan tegas inilah yang memusnahkan upaya-upaya adu domba membenturkan TNI dengan berbagai pihak, Pernyataan inilah yang membuat TNI kembali merapatkan barisan untuk mnghadapi pihak-pihak yang berniat memecah Kebhinekaan untuk kepentingan kelompok mereka.

Demikian ulasan ini kami buat, alasan utama kami membuat ulasan ini adalah untuk membuka mata kita bahwa negara ini sedang di pecah belah oleh orang-orang dan kelompok-kelompok yang ingin mencapai keinginan mereka.

Kami tak rela apabila ada saudara sebangsa dan senegara kami dari Etnis Cina dan non muslim dijadikan pijakan orang-orang dan kelompok-kelompok kotor untuk mencapai kepentingan mereka.
Mohon Maaf kepada saudara-saudara kami, kami terpaksa menyinggung SARA karena SARA inilah yang dijadikan pihak-pihak berhati picik untuk mencapai tujuannya.

*Ayo kita bersama kita teriakkan dengan lantang!*

*Kami Masyarakat Indonesia yang di ikat dengan Bhineka Tunggal Ika TIDAK TAKUT pada kalian yang ingin merusak KeBhinekaan kami, semakin kalian berupaya merusak Kebhinekaan kami maka semakin kuat juga kami bersatu dalam KeBhinekaan ini*

_*Silahkan Sharing tulisan ini pada akun Sosial Media Anda, tunjukkan pada si pemecah belah bangsa ini bahwa kita ada dan tidak akan kalah dengan propaganda*_

AHY Semakin GOYAH Maka Ber SATU Lah AHY Dengan JK

 
AHY Semakin GOYAH Maka 
Ber SATU Lah AHY Dengan JK
Masih ingat dengan yg pernah saya tulis beberapa hari yg lalu, bahwa 
ada partai-partai politik yg menjadi bunker tempat persembunyian Radikalis Takfiri  
dan salah satunya adalah : 
Partai Demokratnya AHY ? 
SBY Pernah memprovokasi Ummat Islam agar marah dengan Ahok, hingga muncullah aksi 212. 
Ahok bagi saya hanyalah sasaran antara, 
Sasaran utama SBY itu sebenarnya : 
Presiden Jokowi 
dengan menggelorakan sentimen agama. Begitupun dengan JK yg menjalin hubungan erat dengan Taliban, dan pernah mengundangnya ke Indonesia. 
Itulah titik temu pertama kepentingan SBY (bapaknya AHY) dengan JK, dan ketika kepentingan itu telah tertolak oleh sebagian besar rakyat Indonesia, maka mereka kini merasa harus menyatu kembali, setelah bertahun-tahun pernah ada konflik kepentingan,
khususnya soal Skandal Bank Century.

📝  Namun ada titik temu kepentingan kedua yg sekarang lebih urgent dari yg pertama itu, yakni : 
menyatukan kekuatan untuk menyelamatkan dirinya masing-masing

📍  AHY sowan ke kediaman JK untuk menggunakan pengaruhnya di birokrasi, mengingat JK tidak hanya pernah jadi Wapresnya SBY melainkan pula pernah jadi Wapresnya Jokowi. 

Sudah menjadi kebiasaan JK, manakala ia duduk di posisi pemerintahan yg strategis, 
ia selalu menempatkan orang-orangnya di posisi strategis pula di pemerintahan. 
Entah itu di jabatan politik seperti menteri ataupun di jabatan profesional seperti Aparatur Sipil Negara (ASN), nah kemungkinan dengan memperhatikan semua itu, SBY melalui AHY menginginkan JK menggunakan pengaruhnya untuk menyelamatkan keluarganya yg teetimpa banyak kasus, juga untuk menyelamatkan partainya yg sekarang sedang malang, karena adanya Partai Demokrat kembar, dan Dinasti bapaknya terjungkal.

📍  Lalu apa kepentingan JK yg lebih mendesak untuk saat ini ?

Mungkin pembaca sudah dengar adanya kasus korupsi yg menimpa keponakan JK, yakni : 
Sadikin Aksa. 
Perusahaan JK yg bernama : 
AMANAH FINANCE 
diketahui tidak memenuhi kewajibannya membayar pinjaman ke Bank Bukopin senilai lebih dari satu trilyun. Hal ini membuat kericuhan besar di Bank Bukopin yg kemudian menyeret keponakannya JK, Sadikin Aksa (SA) ditetapkan menjadi tersangka. Jika SA yg bukan pemilik perusahaan yg bermasalah itu saja sudah ditetapkan sebagai tersangka, lalu bagaimana dengan pamannya, yakni : 
JK ??? 
Ini baru bicara soal kepentingan JK dalam urusan ngak-ngik-ngok keuangan.

📍  Bagaimana dengan kepentingan SBY dalam urusan ngak-ngik-ngok keuangan yg sebentar lagi akan diungkap kembali oleh mantan-mantan anak buahnya yg pernah dibui ?

Tentu saja jangan pernah lupa kasus fitnah besar yg dilakukan oleh SBY terhadap mantan Ketua KPK Pak Antasari Azhar yg pernah membuatnya lama tersiksa di dalam penjara.

Oleh sebab itu menjadi maklum, 
jika dua orang bermasalah sedang bertemu dan diliput oleh media secara terbuka setelah pertemuannya, itu artinya mereka sedang mau menyampaikan pesan ke seseorang atau institusi :
"Hei, kami telah bertemu dan bersatu, jangan ungkit-ungkit masalah kami berdua ya, sebab kami masih punya banyak pengaruh di birokrasi apalagi di Parpol dan Ormas. Jangan KPK kan saya, dan jangan singkirkan keluarga SBY dari Partai Demokrat !"

Lalu apa kira-kira jawaban Presiden Jokowi dan KPK ? Mungkin jawabannya diam-diam dalam hati seperti ini :
"Masa bodoh. Perongrong pemerintah pastilah akan bergerombol juga !"

14 Maret 2021.
♻️ Oleh : Saiful Huda Ems (Lawyer dan Pemerhati Politik) ♻️
Mari berjoget sebagai selingan setelah ulas politik 👇👇👇
*Catet: Semua lagu ini tidak ada intrupsi iklan.*
*LAGU JOGET DANGDUT MINANG* 
REMIX TERBARU 2020, 
*Jangan Ketinggalan Dangdut Di Jabar Yang Sudah Mulai Pudar*
*Selamat Terhibur Bersama:*



Monday, March 15, 2021

Pentas Politik Figuran Konyol

*Pentas Politik Figuran Konyol*

*POLITIK itu panggung sandiwara ibarat lagu yang ditulis Ian Antono dan Taufiq Ismail berjudul Panggung Sandiwara.* Syair lagu itu, antara lain, ceritanya mudah berubah-ubah. Ada peran wajar, ada pula peran berpura-pura.

Ceritanya mudah berubah-ubah, bermula dari perebutan kekuasaan. Digelar kongres luar biasa lalu mempersoalkan legalitasnya. Ada yang kukuh mempertahankan legalitasnya, ada pula yang menyebutnya sebagai abal-abal. Ada yang membantah kudeta partai politik tertentu, tetapi kemudian tampil sebagai komandannya.

Perang kata dan wacana belumlah cukup. Ceritanya masuk ranah hukum. Ada yang melaporkan ke polisi soal dugaan pemalsuan mukadimah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai. Lawan politik mendaftarkan gugatan ke pengadilan negeri, menggugat mereka yang dituduh bertanggung jawab atas brutalitas demokrasi.

Pada saat hampir bersamaan, ini menyangkut partai lain lagi, mereka yang terlibat konflik berkepanjangan malah mengaku lelah. Mereka memilih bersatu. Mereka menyapa satu sama lain sebagai sahabat, dalam nada guyon disebut sebagai teman berantam. Mereka bersatu untuk menatap masa depan.

Politik yang membelah, tapi juga bisa menyatukan itu sarat dengan hiruk-pikuk. Yang gampang jadi rumit, yang transparan jadi gelap, dan yang gelap menjadi misteri. Ujung-ujungnya, jika kepentingan berbeda bertemu pada satu titik, tiba-tiba semua melihat cahaya di mulut lorong yang gelap.

Politik sebagai panggung sandiwara itu mudah berubah, seperti kata lagu, karena ada peran wajar, ada pula peran berpura-pura. Dengan meminjam istilah Erving Goffman, individu berbeda karakter ketika berada di panggung depan dan panggung belakang.

*Biasanya di panggung depan itu kebanyakan politikus mengenakan topeng, muka digincu, dan kata ditata agar elok dipandang. Itu pada saat mereka mampu menjaga akal waras.*

Lain lagi kalau tampil adanya apa, bukan apa adanya tanpa merawat akal waras. Saking menggebu-gebu, keluar ancaman akan mengirim santet. Mereka yang alumni Sukamiskin tampil di pangung politik sambil berteriak moral sampai urat leher mau putus. Padahal, mereka berada di Sukamiskin, sel khusus koruptor di Bandung, karena persoalan moral alias terlibat korupsi.

Panggung politik itu benar-benar kehilangan kendali peradaban di tangan orang-orang yang belum matang berpartai. Politik sebagai seni menggapai dan mempertahankan kekuasaan telah dipentaskan di atas panggung secara liar dan brutal. Kehilangan kendali peradaban itulah, dalam bahasa Bung Karno, penyakit partai.

Presiden Soekarno marah besar kepada partai politik. "Ke luar kita selalu berkata: bersatu, bersatu, bersatu! Bahkan aktif mempersatukan, aktif mempersatukan! Paradoks ke dalam bagaimana, Saudara-Saudara? Kita sikut-sikutan satu sama lain!”

Bung Karno melanjutkan pidatonya pada 1956 itu. "Ada penyakit yang kadang-kadang bahkan lebih hebat daripada rasa suku dan rasa daerah! Yaitu penyakit apa? Penyakit kepartaian Saudara-Saudara! Ya, terus terang saja Saudara-Saudara: penyakit kepartaian!"

Tentu saja kita tidak setuju dengan teriakan Bung Karno karena parpol saling sikut dan berkonflik, "Marilah sekarang bersama-sama kita menguburkan semua partai!"

*Partai politik tidak boleh dikubur karena tidak ada demokrasi tanpa partai. Kata Thomas Meyer, partai politik* merupakan satu-satunya pihak yang dapat menerjemahkan kepentingan dan nilai-nilai masyarakat ke dalam legislasi dan kebijakan publik yang mengikat. Peran itu tidak bisa dikudeta oleh masyarakat madani.

Kita mendorong partai untuk dewasa menyelesaikan persoalan internal. Bagaimana bicara persatuan dan kesatuan bangsa jika internal partai tidak mampu merawat persatuan dan kesatuan? Tidak ada pemenang dalam sebuah konflik, yang pasti partailah yang kalah.

Percikan pikiran Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti bisa dijadikan pertimbangan. Ensiklik yang diteken pada 3 Oktober 2020 itu menyebutkan bahwa politik harus berpusat pada martabat manusia dan tidak tunduk pada ekonomi.

“Politik yang lebih baik merupakan salah satu bentuk amat berharga dari karya kasih, karena melayani kesejahteraan bersama dan mengakui pentingnya orang-orang. Politik memberi ruang untuk diskusi dan dialog,” kata Fransiskus. Partai mestinya juga menjaga dan meninggikan harkat dan martabat manusia.

*Diskusi dan dialog itulah yang kian menghilang dari tradisi partai politik.* Pertukaran gagasan diganti dengan pertukaran kepentingan. Motif ekonomi dan kekuasaan mulai mengingkari bahkan menginjak-injak martabat manusia.

Mereka yang tampil di atas panggung sandiwara politik ialah figuran-figuran konyol. Pertarungan politik yang sesungguhnya ialah dalang di belakang layar dan hingga sekarang sang dalang belum nongol batang hidungnya.
Gaudensius Suhardi
Source : https://apps.mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2094-pentas-politik-figuran-konyol

[Art 1],KLB DEMOKRAT PETAKA CIKEAS,[Art 2]MEMATAHKAN ARGUMENTASI BAMBANG KUASA HUKUM AHY [Art 3] PERKAWINAN GURITA CIKEAS DGN GURITA CENDANA

[Art 1]
KLB DEMOKRAT PETAKA CIKEAS

THE KILLING FIELDS terhadap rakyat Indonesia selama era SBY sungguh sangat mengerikan dilakukan koruptor dan mafia. Bahkan lebih kejam dari masa ORBA.

Sendi kehidupan berbangsa tersayat sayat. 
Diperparah membiarkan gerombolan mabok agama tumbuh subur.

Mulai dari gelapnya Century 6,7 T, terkuaknya BPJS 20 T, terrampoknya Jiwasraya 13,7T, kongkalikong ASABRI 23,7T, sarang mafia Pelindo 6T, mengisap Bansos 5,9 T, pencurian E KTP 2,3 T, pemerasan Hambalang 3T, penipuan ala PETRAL merupakan sederatan kasus korupsi yg terbongkar di era Jokowi.

Satu per satu kasus ini menyerempet Cikeas yg memang dibutuhkan kekuatan mental yg tangguh utk mengungkapkan. 

Kegelisahan Cikeas mulai tampak ketika AHY melemparkan isu kudeta sementara SBY merasa tak ada keadilan. Gerakan AHY dg Demokratnya ternyata berbalik dimana para pendiri dan pentolan terusik akibat dituduh.

Muncul KLB, AHY panik dg datang ke Kemenkumham. Ternyata dia semakin dalam terpuruk. AHY diduga telah melakukan pemalsuan akta pendirian Partai Demokrat. Kenapa...???

Sewaktu demo UU Omnibus Law Cipta Kerja dgn sombongnya AHY memantau dari ruang komandonya. Ternyata demo tsb sangat mudah dipatahkan karena yg demo adalah masa liar bahkan bandit KAMI terciduk.

Salah satunya adalah Partai Demokrat merupakan tameng yg kuat serta sah secara hukum. Selain tersebar ke seantero dari Aceh hingga Papua juga amat mudah utk dikoordinasikan dan dikonsolidasikan ketika dapat tekan politik dan hukum terkait indikasi korupsi utk melakukan perlawanan pada pemerintah baik terang terangan maupun secara sembunyi. Hal ini sangat logis.

Maka ketika KLB DEMOKRAT di Deli Serdang Sumut menunjuk Moeldoko jadi KETUM Partai Demokrat maka taring dan kuku Cikeas mulai rontok.
KLB DEMOKRAT solusi buka ruang guna mengungkapkan "The Killing Fields" yg dilakukan tokoh koruptor dan mafia selama 10 tahun di era SBY.

#BravoMoeldoko
===================
[Art 2]
MEMATAHKAN ARGUMENTASI BAMBANG KUASA HUKUM AHY

Oleh: Saiful Huda Ems.

Pernyataan Bambang Widjojanto itu ngawur, sembarangan ! Tak ada brutalisme demokrasi itu Mbang, selain yang dilakukan oleh SBY sendiri. Jika anda mau mengelak, ini saya bacakan AD/ART Partai Demokrat AHY Tahun 2020, dan pikirkan bagaimana SBY memantapkan dirinya sebagai diktator yang tak terbantahkan !

Dalam Bab II Struktur Organisasi Tingkat Pusat, Pasal 9 Kewenangan dan Kewajiban Majelis Tinggi Partai: (1) Kewenangan Majelis Tinggi Partai: a. Memimilih, menetapkan dan memberhentikan Ketua Dewan Pertimbangan Partai dan Ketua Dewan Kehormatan Partai. b. Memilih, menetapkan dan memberhentikan Ketua, Wakil Ketua dan Hakim-hakim Mahkamah Partai. Dst. (2). b. Menyusun rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai yang akan diajukan dan ditetapkan dalam Kongres atau Kongres Luar Biasa.

Jadi jelas semuanya, pernyataan Kuasa Hukum Partai Demokrat versi AHY dan SBY sebagaimana yang disampaikan oleh Bambang Widjojanto itu sangatlah mengada-ada, dia sepertinya mau menyerang istana, namun ternyata tanpa ia sadari malah menyerang SBY dan AHY. Dan jelas pula, seperti yang saya katakan sebelum adanya KLB di Deli Serdang itu, Bambang tak lain hanyalah mantan kaki tangan SBY yang ditugaskan di KPK di masa SBY menjadi Presiden, dan diperuntukkan untuk "menghabisi" lawan-lawan politik SBY ! Jika dahulu Rezim Soeharto melabeli musuh-musuh politiknya dengan sebutan PKI, maka SBY menghabisi lawan-lawan politiknya dengan sebutan koruptor. Namun celakanya mereka yang dikoruptorkan itu banyak yang memberi kesaksian di pengadilan bahwa Cikeas telah terlibat ! Nah...(SHE).

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan politisi.
==================
[Art 3]
*PERKAWINAN GURITA CIKEAS* 
*DGN GURITA CENDANA:*
1. Tepat pada hari HAM, 10 Des, George Aditjondro, Tokoh Reformasi, Sosiolog dan Mentor Politik telah meninggal Dunia di Palu Sulteng.

2. Meninggalnya George Junus Aditjondro ini Sontak memantik kembali ingatan Publik akan buku Fenomenal beliau.

3.  Buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Kasus Bank Century" yang lahir dari Investigasi mendalam dan mencengangkan pembacanya.

4. Buku “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Kasus Bank Century” tahun 2009 ini secara Gamblang membahas 4 Yayasan yang didirikan oleh Cikeas.

5. (a) Yayasan Puri Cikeas (b) Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan (c) Majelis Dzikir SBY Nurussalam (d) Yayasan Mutumanikan Nusantara.

6. Menurut data yang ditemukan George Aditjondro,  keempat Yayasan itu dijadikan sebagai tempat Pengumpulan Dana Rente .

7. Pengumpulan Dana-dana Rente untuk kepentingan Politik Cikeas yg dihimpun dari Pengusaha Hitam.

8. George Aditjondro tunjukkan melalui pengaturan Yayasan yang seolah-olah Nirlaba,  dana yang dikumpul melalui Rente Sektor Migas.

9.  Dana yang dikumpulkan dari Tambang,  sampai dengan Dana Talangan Century dikumpulkan dalam Yayasan ini.

10. Sosok Penting yg bertugas mengumpulkan Dana ini adalah Mohammad Riza Chalid, Toni Romdoni.

11. MRC yang kemudian menyalurkannya pada orang dekat SBY seperti Purnomo Yusgiantoro, Hatta Rajasa dan Sudi Silalahi.

12. Sosok Penting Cikeas ini,  MRC ternyata juga sosok penting bagi Jaringan Cendana ketika Orde Baru masih Berkuasa.

13. Pada masa Orde Baru, Riza Chalid dikenal Dekat dengan Bambang Trihatmodjo putra Soeharto.

14. Selama bertahun-tahun MRC mengendalikan PETRAL, anak usaha PT Pertamina.

15.  Setelah Cendana berakhir, dengan Cerdik Riza Chalid beralih ke Cikeas dan Bangun Kemitraan dengan Hatta Rajasa.

16.  George Aditjondro menyebutkan Riza Chalid membayar Premi kepada Keluarga Cikeas Sebesar 50 sen dollar per Barrel Minyak.

17. Hal yang membuat Direktur Pertamina saat itu,  Karen Agustiawan Gerah dan akhirnya Mundur dari Jabatannya.

18. Pada masa Cikeas ini, nama Riza Chalid bahkan Tidak berani disebut Secara Terbuka.

19. Banyak Orang yg hanya menyebutnya Tuan " R ".

20. Setelah SBY selesai menjalani masa Presiden kedua pada tahun 2014, Riza Chalid Berafiliasi mendukung Prabowo - Hatta Radjasa.

21. Pada saat Pemilu Presiden, Riza Chalid ikut mendanai Obor Rakyat yg menjadi Corong untuk menyerang Jokowi dengan Isu SARA.

23.  Namun Alam berkehendak lain, pasangan Prabowo - Hatta Radjasa kalah dari pasangan Jokowi - Jusuf Kalla.

24.  Naiknya Jokowi Timbulkan masalah bagi Riza Chalid dan Gurita Cikeas,  banyak kebijakan yang dibuat Jokowi buat Gurita Cikeas terpotong.

25. Salah satunya bubarkan Petral yang disinyalir jadi Tempat Sarang Mafia Migas yang dikomandoi MRC yang juga Anak emas SBY.

26. Sebuah kebijakan yang sontak membuat SBY Kebakaran Jenggot dan marah-marah Nggak Jelas.

27. Sadar bahwa Jokowi Tidak bisa dilawan,  Riza Chalid berusaha merapat kepada Jokowi melalui Setya Novanto.

28. Namun Gerak-geriknya sudah tercium oleh Jokowi,  sehingga dengan segera dipotong dan Gagal merapat pada Kekuasaan.

29. Marah akan situasi yang tidak menguntungkan,  MRC Kabur meninggalkan Tanah air dan bersama Jaringan Cikeas ambil Kesimpulan Jokowi harus di Singkirkan.

30. Riza Chalid dan Gurita Cikeas dengan sabar memantau perkembangan Politik di Tanah air menunggu momen yang Tepat.

31. Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tersedia ketika perhelatan Pilkada DKI dimulai.

32.  MRC lihat ada Peluang Cendana dan Cikeas disatukan dengan manfaatkan Sentimen Anti Ahok untuk Jatuhkan Jokowi.

33. Peluang ini semakin besar, karena Cikeas semakin tersudutkan karena jejak masa lalu mulai dari Hambalang sampai Century mulai Terkuak.

34. KPK sudah mulai panggil Ibas,  si Putra Mahkota nomer dua dan ini bisa melahirkan Malapetaka bagi Cikeas.

35.  Satu-satunya jalan adalah mengamankan Politik. Inilah sebabnya Agus harus Menang.

36. Karena kemenangan itu adalah cara mengamankan Jejak Masa Lalu.

37. Riza Chalid dan Tommy Soeharto kemudian meyusun Rencana untuk menjalankan aksi mereka dengan menggunakan Firza Husein.

38. Firza Husein Ketua Yayasan Solidaritas Cendana, yang merupakan bagian dari Gurita Cikeas.

39. Firza Husein Bertugas garap/ memanfaatkan Habib Rizieq dengan Perintah kuasai DPR dan MPR dan Jatuhkan Jokowi.

40. Menyadari Gerakan seperti ini membutuhkan Dana,  maka Gurita Cendana dan Gurita Cikeas mulai kumpulkan Dana disalurkan ke Firza Husein.

41. Sebuah hal yang tidak sulit untuk dilakukan oleh Riza Chalid,  Cendana maupun Cikeas mengingat Kekayaan mereka Jelas Tidak Terbatas.

42. Karena dulu dalam kurun waktu 2 (dua) tahun saja berhasil mengumpulkan 250 Triliun.

43. Jumlah yang sangat Fantastis,  yang banyak mengalir kemana mana. Lihat saja Kekayaan Agus Yudhoyono.

44. Baru pangkat  Mayor, Agus Yudhoyono Tercatat Memiliki Kekayaan 15, 2 Milyar dan 511.332 dollar AS.

45. Riza Chalid melalui Firza Husein yang kemudian memanfaatkan Habib Rizieq lalu melakukan Serangan Terencana.

46. Dengan hanya satu tujuan yakni Ahok harus Tumbang dan sasaran utamanya Presien Jokowi di Lengserkan.

47. Kita bisa liat, kekuatan Cendana mengalirkan dana ke Firza Husein, sementara Cikeas mengalirkan dana melalui banyak pihak.

48. Mulai dari Majelis Dzikir,  tim Bentukan Andi Arief,  jaringan Cikeas yang masih terdapat di Birokrasi Pemerintahan dan TNI.

49. Bahkan Dana juga mengalir melalui H. Gde Sardjana suami Sylviana Murni  ( Cawagub Agus ) yang membiayai Rizal Kobar.

50.  Rizal Kobar dan adiknya akhirnya dipanggil Polisi atas dugaan Permufakatan jahat untuk Makar bersama Sri Bintang, dkk.

51. Siapa yang siap mendanai Cikeas dan Cendana ?  Siapa lagi kalau bukan Riza Chalid.

52. Tangannya sudah Terlanjur berminyak untuk Jatuhkan Jokowi. Uang sudah Tersedia tinggal digunakan siapapun yang ingin Jatuhkan Jokowi.

53. Mafia minyak, Gurita Cikeas, Cendana dan Habib Rizieq sungguh perpaduan yang menarik.

54. Sayang,  George Junus Aditjondro sudah meninggalkan kita. Kalau tidak dia Pasti menulis kisah yg lebih Dahsyat. Selamat Jalan Pak George.

Julianti Hilman: Sekilas ulasan di atas

Tentang Colaburasi Gurita Cendana dengan Gurita Cikeas beritanya sudah kemana-mana dan Ulasan detailnya baru pagi ini yang kami terima lebih runtut. Termasuk keterlibatan Hatta Rajasa, bukti kuat begitu Pilpress kalah dia langsung menghilang dari Percaturan Politik di tanah Air ( ada apa ? )
Gurita Cikeas juga menghimpun dana dari Pabrik Baja Terbesar kita yi PT Krakatau Stell,  di mana sahamnya di Monopoli Cikeas dengan Harga sangat murah ...

Cikeas tak lebih baik dari Cendana,  mereka semua seperti Vampir yang menghisap darah dan persendian Ekonomi Indonesia,  bahkan mengontrol Perekonomian Bangsa Indonesia,  mereka benar-benar Tidak Suka Pemerintahan yang Syah saat ini semakin kuat, mereka menginginkan Negeri ini tidak stabil agar dengan kekayaan mereka bisa menancapkan Dinasti mereka jilid dua.

Ini yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat / Rakyat Indonesia, Pemerintahan yang syah Joko Widodo harus kuat, masyarakat / rakyat harus solid,  jangan mau dipecah belah dengan Issue Sara. Radikalisme harus disingkirkan dari Bumi Indonesia,  sehingga Pemerintahan ini bisa Concent mengejar ketertinggalan, memperbaiki Infra Strukur yang ada dari Sabang-Merauke, memperbaiki Ahlak,  Moralitas Bangsa agar menjadi Bangsa yang berbudi pekerti luhur dengan Bangsa yang siap bercatur di percaturan Dunia di segala bidang Technologi,  Ekonomi, Politik dan Budaya yang sejajar dengan Negara maju manapun di Dunia.

Dengan pemahaman, pendewasaan Politik, masyarakat yang semakin dewasa dan matang tidak bisa diadu domba dan dijadikan Kambing Congek kekuatan Gurita Cikeas diatas,  bahkan dengan Pemerintahan yang kuat atas dukungan Seluruh Rakyat,  NEGARA berhak untuk melakukan TINDAKAN HUKUM untuk menyita aset-aset mereka untuk Negara untuk mensejahterakan Seluruh Rakyat Indonesia dengan melakukan Pembuktian Terbalik.

 Semoga hal di atas bisa terwujut seperti yang tertera dalam Ramalan Jayabaya.  Saatnya Rakyat Bangkit dari tidur panjang dari Rasa Takut dan Berani untuk bersuara lantang bersatu padu untuk tegaknya Pemerintahan yang Solid,  Berwibawa, Bersih dari korupsi dan Concent untuk Pembangunan Negeri Tercinta ini untuk Indonesia Jaya.

*AYOO KITA BERSATU PADU & KITA WUJUDKAN INDONESIA JAYA..✊✊ 
SALAM DAMAI NKRI KU.🙏💖🇮🇩🇮🇩
Indonesia Maju.

=====================================
Art 4
*POLITICAL BRIEF* (15032021)

*1. Kekuatan realpolitiek oposisi melemah karena eksponen HTI/FPI tidak bisa membangun organisasi alternatif yang cukup solid dan komitmen pendanaan rutin yang semakin sulit didapat.*

*2. Upaya oposisi melakukan perlawanan dilakukan dengan:*
a) ketidakpatuhan sipil terorganisir (organized civil disobedience) terutama pada daerah dengan Pemda yang dikuasai jejaring oposisi, 
b) framing isu untuk diskreditkan pemerintah, secara khusus presiden Jkw, 
c) ciptakan figur2 publik alternatif.

3. Ketidakpatuhan sipil diorganisir pada isu: SKB 3 Mentri tentang seragam, penolakan program pemerintah pusat seperti vaksin. Ketidakpatuhan dirayakan sebagai kemenangan kecil, namun dukungan publik yang meluas pada kebijakan dan program pemerintah membuat kampanye ketidakpatuhan gagal membesar.

4. Cyber army jejaring HTI/FPI bekerja sama dengan beberapa figur dan organisasi aktif melakukan manajemen isu dengan mengangkat dan framing isu: perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode, dikeluarkannya limbah batu bara dan kelapa sawit dari daftar B3, intervensi PD.

5. Jejaring akar rumput sedang diangkat figur2 baru untuk mengganti mereka yang teridentifikasi sebagai pendukung/simpatisan HTI/FPI. Figur2 ini diskenariokan untuk muncul di 2023 sebagai alternatif yang baru dan bersih.

*6. Timses AB telah menyusun ulang strategi untuk jaga peluang di 2024*. 
Strategi yang disusun terdiri dari: 
a) counter persepsi hanya pintar berkata tapi tidak bisa kerja, 
b) tingkatkan elektabilitas, 
c) bangun komunikasi politik dengan berbagai partai. 

Target Pemda segera direvisi menjadi rendah agar mudah dicapai dan diframing sebagai kinerja AB.

Monday, March 8, 2021

Ada Apa SBY-Moel ?

*Ada Apa SBY-Moel ?* 
Hendrajit, pengkaji geopolitik Global Future Institute dan wartawan senior. 

*Secara jurnalistik, fokus yang disorot oleh media harusnya hubungan antara SBY dan Moeldoko* dari masa ke masa. Khususnya ketika keduanya sama-sama bertugas di Kodam Jaya. Sehingga melalui konstruksi fakta-fakta masa silam keduanya, kita punya ruang untuk analisis maupun imajinasi, mengapa peristiwa yang begitu transparan dan vulgar itu sampai terjadi. 

*Ketika orang Jepang bilang jangan percaya pada sesuatu yang nampak terlalu jelas*, terlalu fokus menyorot istana (baca; Jokowi) versus SBY, meskipun itu terang-benderang sebagai pemantik pengambilan paksa atau hostile takeover seperti istilah yang dipakai dalam istilah perebutan kepemilikan saham perusahaan, namun kita tak akan dapat keterangan apa-apa baik secara faktual maupun secara imajinatif dalam menyingkap motivasi sesungguhnya di balik peristiwa yang orang jawa bilang ceto welo welo itu. 

*Mari kita telisik Moeldoko. Pada 1995,  Komandan Yonif 201/Jaya Yudha Komandan Yonif 201/Jaya* Yudha. Pada 1996, Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat . Pada 1999,  Komandan Brigif-1/Jaya Sakti Brigif-1/Jaya Sakti. 

*SBY, antara 1994-1995, Asisten Operasi Kodam Jaya, semasa Pangdam Jaya dipegang Hendropriyono.* 

Kalau ditilik dari kewenangan yang melekat pada jabatannya, Asisten Operasi merupakan posisi yang cukup strategis. Karena berwenang menyusun rencana strategis dan scenario building, kelak ini merupakan bakat utama SBY di kemiliteran. 

Pada 1995 jeda sejenak jadi Komandan Korem Pamungkas Jogyakarta, dan sekolah di Amerika, namun pada 1996 kembali ke Kodam Jaya. Kali ini sebagai Kepala Staf Kodam Jaya di bawah Pangdam Sutiyoso. 

*Pada momen SBY jadi Kasdam Jaya itulah, muncul peristiwa 27 Juli 1996* yang notabene rada mirip dengan kejadian KLB Demokrat di Medan minggu lalu. Sementara pada momen yang sama Moel pada 1996, Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat. 

Menelisik jejak karir SBY, nampak jelas Kodam Jaya merupakan kampung halamannya yang kedua setelah Kostrad, tempat SBY memulai meniti karir militernya. 

*Maka setelah SBY bertugas sebagai Panglima Sriwijaya Palembang, Moeldoko* pun beralih tugas sebagai sekpri Wakasad dan pos jabatan lainnya, namun 1999 kembali mudik ke Kodam Jaya, dan jadi Komandan Brigif-1/Jaya Sakti Brigif-1/Jaya Sakti.

*Menarikya lagi, saat SBY menjabat presiden, pada 2008 Moeldoko mengulang jejak jabatan strategis SBY di Kodam Jaya, jadi Kasdam Jaya*. 

Pada 2010, pada periode kepresidenan SBY yang kedua,  Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad TNI AD. 

Lagi-lagi Moeldoko menapak tilas   kesatuan yang jadi titik awal SBY meniti karir.  

Selain Kodam Jaya, Kostrad memang boleh dibilang ibarat daerah rintisan SBY mbabat alas karir militernnya:

Dan Topan Yonif Linud 330 Kostrad (1974 - 1976)
Dan Topan Yonif 305 Kostrad (1976 - 1977)
Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977 - 1978)
Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979 - 1981). 

*Moeldoko sendiri kemudian sempat jadi Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad TNI AD pada 2010.*  

Meskipun jabatan-jabatan strategis Moeldoko semasa SBY jadi presiden berada dalam kewenangan dan rantai komandan atasannnya langsung, namun pastilah sepengetahuan dan restu dari SBY. 

Kalau menelisik catatan karir militer keduanya yang sama-sama mendarahdaging di Kostrad dan Kodam Jaya, SBY dan Moel tidak mungkin hanya sebatas hubungan atasan dan bawahan, melainkan sepeti bapak-anak buah alias Patron-Client. 

*Sudah gitu keduanya sama-sama Jawa Timuran*. SBY asli Pacitan, Moel asli Kediri. Bukan berarti sukuisme, tapi teman sedaerah biasanya punya cita rasa atau taste yang sama. Dan kemistri psikologis yang nyambung. 

*Dan dalam dua peristiwa politik penting berskala nasional dan bersejarah, penyerbuan kantor PDIP Megawati di Diponegoro, maupun saat peralihan kekuasaan dari era Pak Harto ke era Reformasi pada 1999, baik SBY maupun Moel berada di rentang komando kemilteran yang sejalur. SBY sebagai Kepala Staf Teritorial TNI, adapun Moel komandan kodim Jakarta Pusat. Daerah jantung kekuasaan politik negara tempat mana istana berlokasi.* 

*Catatan singkat ini cukup diakhiri dengan satu pertanyaan singkat. Ada apa SBY-Moel,* sehingga hubungan yang begitu solid di masa lalu buyar begitu saja oleh sesuatu hal yang bersifat taktis seperti perebutan kursi kekuasaan partai? 

_*Benarkah Moel membuat kesalahan strategis yang begitu serius, atau diperintahkan untuk membuat kesalahan?*_ 

Keduanya yang sama sama pernah meniti karir sebagai perwira tempur, staf dan sospol, pastilah menghayati betul ungkapan berikut ini:

*"Sekali saja pemikiran strategi jadi kaku dan sombong, maka hasil gemilang di level taktis sekalipun, bakal jadi bencana di bidang politik."* 

Dengan kata lain, strategi yang salah akan menghancurkan tujuan politik. Padahal tujuan perang yang sesungguhnya adalah mencapai tujuan politik. 

*Dalam hal ini, SBY maupun Moel rasa-rasanya nggak masuk akal kalau tidak paham ini.* 

*Kembali pertanyaan laptop tadi. Benar-benar membuat blunder dan kesalahan, atau memang sedang mempertunjukkan kesalahan sebagai bagian dari alur cerita?*
NEWS.IniOK.com

SBY, DEMOKRAT & PDI. RAKYAT HARUS PAHAM SEJARAH KELAM MASA LALU, SOEHARTO MENERIMA KETUA PDIP SURYADI.


*SBY, DEMOKRAT & PDI. RAKYAT HARUS PAHAM* 
*SEJARAH KELAM MASA LALU, SOEHARTO* 
*MENERIMA KETUA PDIP SURYADI.*
*25 tahun yg lalu, PDI dibawah pimpinan Megawati direbut paksa oleh Suryadi, boneka pemerintah Soeharto melalui KLB di Medan. Akhirnya terjadi dualisme kepemimpinan. Ada PDI Megawati dan PDI Suryadi.*

Karena PDI Suryadi tak punya massa, pemerintah minta bantuan Yorris Raweyai dari Pemuda Pancasila untuk membawa massanya menyerbu markas PDI di jl. Diponegoro, Jakarta. ,

*Massa Pemuda Pancasila dibantu oleh tentara, menggunakan seragam PDI untuk berkamuflase agar wartawan memberitakan telah terjadi saling serang antar sesama kader PDI.*

*Peristiwa yg merenggut 5 korban jiwa dan ratusan orang yg luka berat & ringan itu, dikenal sebagai peristiwa Kudatuli, Kerusuhan Dua puluh tujuh Juli 1996*. 

Kerusuhan tersebut dirancang di markas Kodam Jaya, dipimpin oleh Brigjen Susilo Bambang Yudhoyono !!!

*Kini karma menimpa SBY.*
Partai yg dipimpin dia dan anaknya digoyang KLB. Di Medan pula..
Hari ini telah terjadi dualisme kepemimpinan di partai Demokrat. Ada Demokrat AHY, ada Demokrat Moeldoko..

*Akankah terjadi penyerbuan untuk merebut markas partai Demokrat di Jl. Proklamasi, Jakarta oleh Moeldoko yg di back up tentara ?*
Entahlah... saya tak mau berandai-andai..
*Yg pasti, SBY memakan buah dari perbuatannya 25 tahun yg lalu dg cara yg sama..*

*Menyakitkan, memang...*
News.IniOK.com

====================

*PERANG KILAT JENDERAL (PURN.)* 
*TNI MOELDOKO DAN KARMA SBY*

Oleh: Saiful Huda Ems.

*Luar biasa serangan kilat politik Moeldoko seorang mantan Panglima TNI jenderal bintang empat dan akademisi yang meraih gelar doktor ini, diluar dugaan banyak orang ia begitu cepat membuat mantan jenderal bintang tiga dan mantan presiden dua periode SBY dan putranya mantan mayor, yakni AHY terjungkal dari singgasananya di Partai Demokrat.* Serangan kilat politik yang spectakuler, mencengangkan banyak orang sebagai balasan atas fitnah SBY dan AHY yang ditujukan padanya. Hanya dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya aura kewibawaan mantan Panglima TNI ini mampu membelokkan dan menggerakkan para mantan loyalis SBY untuk datang ke KLB di Deli Serdang Sumetra Utara. Waowww...

*Serangan kilat ini mirip dengan strategi perang Jerman, Blitz Krieg, yang membuat negara-negara Eropa Barat dan Eropa Timur berguncang. Moeldoko sosok ahli strategi yang hebat sesungguhnya, bukan seperti SBY yang ternyata terbukti hanya sebagai mitos*. Moeldoko orang yang sangat kalem dan tenang, tidak seperti SBY yang nampak luarnya saja kalem namun sesungguhnya sangat reaktif dan emosional, hingga bidikan politiknya malah mengenai kepala banyak orang yang tidak tau menau soal internal Partai Demokrat. SBY bermaksud mencari simpati, namun hasilnya malah menuai caci maki dari banyak orang, yang selama ini terlanjur banyak tau sepak terjang drama sinetron politiknya.

*Partai Demokrat yang dahulu bisa diibaratkan dengan Panser kendaraan perang politik taktis yang pernah sempat menggilas suara partai-partai besar kelas menengah ke bawah, dan yang sempat membawa SBY menjadi Presiden RI dua periode itu, kini sudah berada di kendali tangan mantan Panglima TNI, Moeldoko!* Dan sebelum kejadian yang luar biasa ini terjadi, loyalis SBY berteriak-teriak histeris dengan mengancam bahwa Big Boss akan melakukan aksi demo ke istana jika KLB Partai Demokrat jadi diselenggarakan. Memalukan ! Rupanya Big Boss lupa, untuk mencari simpati atau dukungan Presiden dan rakyat itu harusnya menggunakan orang yang berintegritas, bukan orang atau politisi mantan penyabu dan penikmat mucikari. Bukan pula mantan narapidana koruptor Hambalang yang pernah beberapa tahun meringkuk di bui.

*Ketidak cermatan Big Boss dalam memilih penyambung lidahnya inilah yang mengakibatkan rakyat semakin muak pada Dinasti Big Boss, hingga kader-kader loyalisnya melarikan diri dan menyebrang ke Deli Serdang untuk kemudian menetapkan Dr. Moeldoko sebagai Ketua Umum partainya.* Dari berbagai pemberitaan 70 % lebih ketua-ketua DPC dan beberapa Ketua DPD masuk menjadi peserta Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat, mereka semua kompak menetapkan Dr. Moeldoko sebagai Ketua Umum hanya dalam hitungan menit tanpa ada satupun yang protes atau menentang ! Ruaaarrr biasa !. Dr. Moeldoko yang saat acara KLB tidak ada di tempat saja bisa memenangkan pertarungan politik yang dahsyat ini, apalagi jika beliau ada disana.

*Maka benar dan terbuktilah apa yang pernah dikatakan oleh Dr. Moeldoko sebagai jawaban atas tuduhan, teror dan intimidasi SBY padanya,"Jangan tekan-tekan saya karena selama ini saya diam. Kalau saya mau saya bisa melakukannya !".* Ya, Dr. Moeldoko benar-benar bisa melakukan itu, melakukan sesuatu hal secara kilat yang mampu membuat Dinasti SBY jatuh tersungkur melalui KLB Partai Demokrat ! Kendatipun demikian, Partai Demokrat dibawah kepemimpinan Dr. Moeldoko masih perlu menunggu proses lebih lanjut, yakni pengesahan dari Kementrian Hukum dan HAM RI. Dan jika nantinya Partai Demokrat dibawah kepemimpinan Dr. Moeldoko disahkan oleh Kementrian Hukum dan HAM RI, maka itu adalah karma besar bagi SBY yang konon pernah menyingkirkan Gus Dur dari PKB dengan meminjam tangan orang, serta konon turut menginstruksikan penyerbuan Kantor DPP PDI untuk mendongkel Megawati sebagai Ketua Umum PDI ketika SBY menjabat sebagai Kasdam Jaya. 

*Ada sebagian orang bertanya-tanya, apakah ini semua hanya sebuah strategi untuk menaikkan citra Dinasti Cikeas yang partainya sudah nyungsep alias tersungkur dari beberapa Pemilu terakhir?* Mereka menganggap dengan strategi ini citra Dinasti Cikeas dan suara partainya akan kembali terangkat, mengingat SBY selama ini dikenal paling mahir, piawai dalam memainkan stategi politik playing victim, hingga rakyat akan berbalik simpati padanya dan kembali ramai-ramai memilih partainya dan mendukung anaknya untuk jadi Capres 2024. Saya katakan, itu kecurigaan yang keliru besar ! Kenapa? Karena selain rakyat sudah sangat hafal "lagu lama" nya SBY yang seperti itu, rakyat juga masih belum puas untuk "mengejar dan menghajar" baik secara hukum maupun politik pada Dinasti Cikeas atas berbagai kasusnya di masa lalu dan yang terbaru. 

*Analisa berikutnya juga bisa saya sampaikan disini, bahwa pihak istanapun selama ini terlihat diam untuk merespon huru hara internal Partai Demokrat, ini semua tak lain sepertinya karena pihak istana tau, bahwa Dinasti Cikeas selama ini kerjaannya hanya membuat gaduh negara saja.* Sudah banyak proyek-proyek di masa kepemimpinan nasional SBY yang mangkrak, lalu negara harus menanggung hutang besar yang ditinggalkan SBY, eee...SBY tidak membantu pemerintah namun malah terus menerus mengganggunya. Kalau SBY Presiden bela, nanti Presiden dituduh intervensi. Kalau Presiden diam tetap juga akan dituduh ikut merekayasa KLB. Maka saya pikir, istanapun lebih baik memilih diam dan membiarkan SBY menerima karmanya sendiri, digilas pamor mantan Jenderal bintang empat, mantan anak petani dari desa yang miskin yang kemudian sukses menjadi Panglima TNI dan sekarang menjadi Kepala Staf Presiden RI ! 

*Sikap pihak istana yang diam seperti itu, merupakan pilihan dan sikap bijak yang rakyat kritis tunggu-tunggu*. Biarkan saja Dinasti Cikeas remuk karena kesombongan dan kebebalannya, karena Indonesia ke depan harus dipimpin oleh manusia-manusianya yang cemerlang, jujur dan siap mengabdi untuk bangsa. Itulah rahasia Presiden RI kita, yang sangat tepat dan jernih mempersiapkan kader-kader pemimpin bangsa selanjutnya. Tapi ini hanya analisa saya, pembaca silahkan mengeluarkan pendapatnya sendiri, sebab perbedaan pendapat yang ditujukan untuk kebaikan bersama adalah kunci sukses menuju Indonesia Raya yang jaya, maju, demokratis dan beradab ! Bravo untuk Dr. Moeldoko !...(SHE).
5 Maret 2021.
Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan pemerhati politik.



GANTIAN YUK.., Ini Hanya Bisa Mengerti Orang Yang Masih Hidup Dalam Sejarah Masa Lalu Brooo...Belajar Sejarah Agar Pahaaaaam.

 *GANTIAN YUK.., Ini Hanya Bisa Mengerti Orang Yang Masih Hidup Dalam Sejarah Masa Lalu Brooo...Belajar Sejarah Agar Pahaaaaam.*
https://news.iniok.com/2021/03/gantian-yuk-ini-hanya-bisa-mengerti.html
*GANTIAN YUK..*

*Masuknya Moeldoko di pusaran PD partai yg sedang lemah karena di pimpin oleh AHY yg notabene baru bisa manjangin kumis bukanlah acara iseng² dan bukan cuma mau menggoda SBY yg suka lebay. Ini kerjaan serius dan ada agendanya.*

Tapi ini bukan kerjaan mudah buat Moeldoko  karena di beberapa daerah yg pro SBY juga melawan, SBY sendiri seharian ini curhat dan mulai baper lagi. Makanya KLB itu juga singkatan dari Karena Loe Baper.

Kita lihat ntar apa yg dilakukan pemerintah, kalau akhirnya hasil KLB ini diterima pemerintah, maka makin jelas arahnya. 

Moeldoko tidak merubah arah angin tapi dia bisa menyesuaikan arah layarnya. Dia dekat dengan Jokowi dan sangat tau kemana Indonesia harus di bawa.

Tidak terlalu menarik membahas Demokrat apalagi kalau bcr SBY, itu sudah masa lalu, tidak akan merubah masa depan. Justru lebih menarik mengintip Moeldoko.

*Lahir di Kediri Jatim 8 Juli 1957 dgn 12 bersaudara, ayahnya pedagang biasa, ibunya ibu rumah tangga dan hidupnya pas²an, makanya sejak SD Moeldoko sudah biasa cari uang membantu orang tuanya, dia jadi kuli angkut batu dan pasir dari kali pada saat masih sangat muda, atau lebih tepatnya anak².*

*Moeldoko juga bukan jendral orba, karena saat Soeharto lengser 1998 dia masih berpangkat letkol. Sehingga kedekatannya pada jajaran jendral saat itu kepada Cendana tidak sempat mampir pada dirinya, walau hrs diakui aroma orba pernah merasuk pada suasana hati AD.*

Tamatan Akabri 1981 dgn predikat terbaik ini bertugas di infantri, pernah bertugas di Tim Tim, Singapura, Jepang, Kuwait, Irak, Kanada, dan Amerika. 

Doktor lulusan pasca sarjana UI dgn sangat memuaskan ini dididik sangat ketat pada keluarga yg pas-pasan, dia mirip dgn Jokowi pada kehidupan masa kecilnya, beda dgn SBY yg anak tunggal ayahnya seorang ABRI walau berpangkat Peltu saat itu tetap saja hidup lebih baik dari Moeldoko si kuli angkut batu dan pasir, karena orang tuanya warga biasa yg hidup bersahaja.

Kedekatannya dgn Jokowi kelihatan saat menjadi juru bicara keluarga pada acara mantu Kahiyang di Solo, kemudian di percaya menjadi Kepala Staff Keperisedenan sampai sekarang.

Intervensinya ke Demokrat itu test case, iseng² berhadiah, kl gak menang, minimal sudah membelah, dan PD pasti terbelah. Jadi kl MDK mau buat partai sudah ada pasarnya. Di tambah lagi serpihan dari partai lain yg belakangan juga pada kepanasan karena partainya hanya jd partai hiburan dan figuran.

Kenapa MDK harus buat partai, ini pastilah diketahui Jokowi. Ini juga rasanya (menurut mimpi Naga Bonar) ada hubungannya dgn 2024. Kalau Jokowi gak bs tiga kali karena blm tentu DPR setuju mengamandemen UU pemilu, maka harus disiapkan pengganti yg mumpuni sekaligus sehati agar bisa melanjutkan pekerjaan yg sdg berjalan. Dan pilihan itu ada pada MDK.

Kenapa MDK, dia salah satu jendral yg gak kemaruk, dia juga pebisnis yg tidak ambisius. Lagian tidak dekat dgn Cendana yg bisa membangkitkan kenangan lama.

Mengantisipasi kekuatan 2024, PS lah yg paling siap,  apa lagi kalau ada isu akan di sandingkan dgn Puan, maka bisa di tebak ada kekuatan dua partai besar yg sulit di hambat, sementara partai lain tidak ada jago yg mumpuni, semua nyaris kartu mati.

*Jokowi harus realistis, membiarkan pekerjaan yg sdg berjalan di tangan PS yg ambisius dan susah di kontrol, maka yg sudah ada bakal ambrol. PS bukan negarawan, dia pebisnis liar yg lama di asramakan di Cendana.*

Bagaimana Mega apakah dia bisa mengontrol PS, Wallahu a'lam, yg penting Puan bisa di orbitkan. PS adalah kawan dalam pertikaian, sekaligus pernah mencoba berpasangan. Entah apa yg dibicarakan, bahwa bekas mantu Soeharto yg pernah mezholimi Megawati masih bisa sehati, kita yg ngeri. 

*Apa PS bisa tunduk kepada Mega, atau dia pura² iya kemudian dia main sulapan, akhirnya Mega yg gelagepan.* 

Bagaimana menghadirkan MDK yg pasti tidak populer di partai, tapi dia dapat di percaya. Satu²nya jalan harus dibuatkan kenderaan, dan bila hal itu terlaksana serta ada campur tangan Jokowi, maka konstelasi politik bisa berbalik, magnet sang maestro akan menyedot perhatian dan pasar. 

Dan yg lebih utama buat kita adalah Jokowi bisa melepaskan ikatan dgn partai lama yg berbudaya nyaris sama. 

MDK adalah jembatan, antara persiapan anak muda yg mulai ada khususnya Gibran yg menjadi harapan, sekalian menjalankan kebiasaan gantian di pemerintahan antara sipil dan tentara, tapi bukan tentara ternakan orba.

Ingat, Soekarno dikudeta Soeharto Indonesia di bantai luar dalam. Soeharto di ganti Habibie, GUSDUR dan Megawati, ternyata hanya hadiah setengah hati karena kekuatan orba masih merata. 

*Masuk lagi SBY, kembali ke style orba, barang baru stok lama.* 

Hadirnya Jokowi barulah Indonesia kembali dari negara sapi perah ke negara bermarwah. Inilah yg harus di jaga agar Indonesia yg sedang menuju menjadi negara maju bisa melaju tanpa di ganggu. 

MDK menjadi pilihan paling aman buat Indonesia sambil menunggu anak muda yg sedang masuk kawah candradimuka. Ada belasan anak muda menjadi kepala daerah saat ini. Usia mereka antara 28-33 tahun.

Andai MDK menjabat satu priode mereka berusia antara 36-41 tahun, tapi bila dua priode maka usia mereka antara 41-46 tahun, masih cukup belia menjadi pemimpin sebuah negara maju dibelahan Asia dgn populasi 300 jutaan manusia. Itulah Indonesia.

*Selamat datang Pak Moeldoko sembari menjembatani persiapan anak muda.* Kami yakin Bapak masih tidak terkontaminasi ambisi yg bisa menjual Ibu Pertiwi.

*Tapi harus tetap waspada karena diketinggian terpaan angin bisa mematikan, atau kl masih sempat bisa keri'an.* 

Namun tetap hrs terjaga agar angin busuk tak bisa masuk.
#SelamatkanIndonesia



Saturday, March 6, 2021

Ketika AHY Belajar Brutalitas Politik

*Ketika AHY Belajar Brutalitas Politik*
*"Seorang diktator alergi terhadap reformasi, dan pastinya penyintas yang licik. Dia akan melakukan apa pun demi mempertahankan kekuasaan untuk diwariskan kepada keturunannya, tidak juga peduli berapa banyak darah yang harus berakhir di tangannya.Dia adalah penipu ulung dan manipulator berbakat yang tidak bisa dipercaya untuk berubah,"* Igor Ivanov menulis dalam buku hariannya. Ekonom itu berteriak di Bratislava ketika para politisi sibuk mewariskan partai kepada keluarganya. Ivanov sebenarnya meneriaki para orang tua yang tak pernah puas berkuasa. Mereka yang sibuk dengan hegemoni partai dan membinanya dari bilik meja makan.

*Politik itu tidak pernah menjanjikan apa-apa kata Jose Saramago, "uma promessa enganosa".* Begitu seseorang berupaya membangun mesin politik yang besar, dia belum tentu menjadi orang yang akan menjalankannya. Peristiwa politik kadang datang tanpa makna, dan peristiwa itu bisa membuat hidup harus mati berkali-kali. Menoreh luka dan menghafal trauma.

*Tak ada yang aneh dari Partai Demokrat hari ini*. Ia filosofi barang bekas: jika tidak dijual akan diambil orang begitu saja, dijual pun akan ditawar dengan harga sekenanya. Pertarungan politik ini adalah buah dari kekuranggaulan SBY. Gaya politiknya belum berubah, dia masih merasa menjadi "presiden" di sangkarnya sendiri, menunggu untuk dikerumuni dan bukannya mengerumuni. SBY akhirnya berkesan terlalu "ningrat" dalam sebuah kompetisi demokrasi. Dia tak berkawan dengan orang luar selain dengan para pengelusnya, yang akhirnya melahirkan orang-orang yang hanya hafal jurus feodal ketimbang loyalitas.

*AHY dibentuk oleh SBY dengan pola itu.Dia dipaksa "stylish", tidak boleh bermain bola di tanah* kampung yang becek, gundul tanpa rumput. Padahal politik itu kerumunan yang guyub: ketawa ketiwi, anggur, kopi atau cerutu. Politik tidak memberi tempat kepada mereka yang biasa diatur istri atau suami, karena mereka harus siap berangkat pagi pulang pagi. *"Politisi harus siap pasangannya diambil orang", kata komedian Chris Rock.* Tentu saja Rock becanda. Tapi menurut saya ada benarnya, karena jika tidak justru partainya yang diambil orang.
#lawanintoleransi
#antiradikalisme 
- Islah Bahrawi -
☕☕☕

Thursday, March 4, 2021

PARTAI DEMOKRAT VS. DEMOKRASI

 PARTAI DEMOKRAT VS.  DEMOKRASI

Ir.  KPH.  Bagas Pujilaksono Widyakanigara,  M. Sc.,  Lic. Eng.,  Ph. D. 
Universitas Gadjah Mada,  Yogyakarta

Kepada Yth, 
Kepengurusan Partai Demokrat
Jakarta

Dengan hormat, 
Jujur,  dari awal gonjang-ganjing di internal Partai Demokrat (PD) muncul ke publik,  karena pihak PD begitu kencang menyuarakannya ke media, atas adanya isu kudeta yang melibatkan pejabat negara di lingkungan Istana,  saya jadi bingung.  Publikasi ini maksudnya apa?  Apa untuk publik sekedar tahu,  atau publik boleh berpendapat?  

Sejak awal saya menyarankan,  masalah internal PD jangan dibawa ke luar, selesaikan secara internal dengan cara demokratis dan bermartabat.

Suka atau tidak,  gonjang-ganjing PD saat ini sudah menjadi bola liar di public domain. Bisa-bisa menjadi masalah baru bagi PD.  

Cara-cara yang dilakukan PD menurut saya kontra produktif,  karena sbb:
1. Posisi PD sebagai partai oposisi (penyeimbang) 
2. PD secara terbuka menyebut nama pejabat negara di lingkungan Istana,  terlibat upaya kudeta pengambilan paksa kepemimpinan Ketum AHY. 

Yang saya tangkap dari dua hal di atas,  seolah-olah ada upaya mendeskreditkan pemerintah.  Lebih-lebih Ketum AHY berkirim surat perihal dugaan keterlibatan pejabat negara di lingkungan Istana tersebut, ke Presiden Jokowi.  Surat Ketum AHY bagi saya tidak hanya bernakna berokratis, namun juga politis.  Hal ini yang saya maksudkan kontra produktif.  Dan,  sama sekali tidak memberikan pendidikan politik yang baik ke rakyat Indonesia. 

Bagi saya pribadi, kematangan seorang pemimpin ditentukan bagaimana dia bisa mengelola konflik: baik konflik di dirinya sendiri,  maupun konflik di sekitarnya. Gonjang-ganjing PD saat ini justru telah menjadi bola liar yang menimbulkan kegaduhan politik di tengah masyarakat.  Dan ini patut disayangkan,  karena Pemerintah dan rakyat Indonesia lagi fokus mengatasi pandemi covid-19 di tanah air.  

Konflik internal PD saat ini mengingatkan saya atas kejadian yang sama, yang pernah terjadi di Partai Golkar beberapa tahun yang lalu,  dimana Partai Golkar terpolarisasi atas dua kutub yang sangat kuat,  yaitu antara kutubnya pak Suryo Paloh dan pak Aburizal Bakrie.  Akhirnya pak Aburizal Bakrie memenangkan kontestasi pada kala itu dan menjadi Ketum Partai Golkar. Mohon maaf kalau saya keliru,  karena saat itu saya masih menetap di Saint-Etienne,  Perancis.

Saya mendapat info yang sangat intensif,  terstruktur dan masiv perihal gonjang-ganjing PD dari media yang disampaikan secara resmi oleh PD.  Namun,  saya juga mendapatkan informasi dari pihak-pihak lain. Saya mencoba obyektif dan tidak memihak siapapun,  mengingat saya orang di luar PD. 

Dipecatnya tujuh kader PD, menurut saya justru membuat masalahnya menjadi semakin rumit dan pelik.

Cara-cara demokratis tetap cara yang terbaik dan bermartabat dalam menyelesaikan gonjang-ganjing internal PD.  

Saya ingin memberikan wacana/perspektif lain ke PD yaitu sbb:
1. Ada kejenuhan atas kepemimpinan saat ini di internal PD.  Butuh kepemimpinan baru yang bisa menjadi suatu pengharapan dalam membangkitkan semangat dan asa terhadap kader-kader dan simpatisan PD di tanah air menghadapi kontestasi politik 2024.
2. Kondisi di atas didukung oleh fakta,  bahwa elektabilitas PD semakin menurun dari waktu ke waktu. 

Das Leben hat viele Seiten.  Problematika di internal PD saat perlu didekati dari berbagai sudut padang,  agar komprehensif melihatnya dan tuntas. 

Semoga masukan saya sebagai rakyat jelata ke PD ini bisa diterima secara legowo. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun. 

Badai pasti berlalu.  Terimakasih. 

Yogyakarta,  2021-02-27
Hormat saya, 
BP.  Widyakanigara

Yang menuduh pemerintah melegalisasi miras di Indonesia.

*Yang menuduh pemerintah 
melegalisasi miras di Indonesia.*

 Dari laman Om Idielus Mulia Syofyan ... 
Sebuah perspektif soal pelintiran kubu sebelah, yg menuduh pemerintah melegalisasi miras di Indonesia.

Agak panjang sih, namun sbg bahan literasi yg mencerdaskan, postingan ini mencerahkan.. 🙏🇮🇩

LAMPIRAN MIRAS PERPRES 10/2021 DICABUT: SISI POSITIF DAN NEGATIF

Di bagian 5 tulisan ini, akan dibahas dampak positif dan negatif dari pencabutan lampiran III halaman 4 Perpres 10/2021 tentang miras. Silakan melompat ke bagian itu kalau ingin langsung memahami kebaikan dan keburukan dari pencabutan. 

Di bagian 1 dibahas tentang Perpres 10/2021, dilanjutkan dengan bagian 2 yang menjelaskan pihak yang tidak menghendaki diberlakukannya Perpres tsb. Bagian 3 membahas lebih dalam tentang tujuan Perpres 10/2021, dilanjutkan dengan bagian 4 yang menunjukkan kelemahan saat ini yang hendak diatasi. 

1
Dalam batang tubuh Perpres nomor 10 tahun 2021, tidak ada kata-kata miras sama sekali. Perhatikan judulnya: Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Bandingkan dengan judul Perpres nomor 74 tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. 

Perpres ini tidak hanya menguatkan usaha besar, tetapi juga menetapkan berbagai landasan, untuk penguatan koperasi dan UMKM. Bidang usaha yang merupakan warisan budaya turun-temurun, misalnya, dialokasikan untuk koperasi dan UMKM. 

Perpres nomor 10 tahun 2021 ini dengan lampirannya berjumlah 144 halaman. Bandingkan dengan Perpres miras nomor 74 tahun 2013 di masa SBY yang hanya 7 halaman. Lampiran itu memberi kejelasan, mana wilayah usaha yang tidak bisa dimasuki oleh usaha besar, melainkan dialokasikan untuk koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah. 

2
Apa itu shadow oligarchy? Shadow oligarchy merupakan sekelompok elit Indonesia, yang selama ini menggadaikan alam Indoensia, dan memperlakukan sebagian rakyat sebagai budak. Mereka menjual alam kita yang kaya ke pihak asing dengan harga murah. Shadow oligarchylah yang bertanggung jawab atas devaluasi rupiah yang merupakan salah satu yang tergila di dunia sejak Indonesia merdeka. Shadow oligarchy menganggap merekalah penguasa yang sah atas negeri ini. 

Shadow oligarchy mulai bertumbuh menggurita secara pelan tapi pasti, sejak Indonesia menandatangani perjanjian dengan Freeport, hanya 1 bulan sejak pelantikan pertama Soeharto sebagai presiden. Setelah itu, kita menyaksikan alam Indonesia dikapling untuk asing, di sebelah sana AS (Freeport, Chevron, Newmont, ConocoPhillips, Exxon), di tengah ada Perancis (Total Indonesie), di tempat lain Inggris (British Petroleum). 

Kerja menggadaikan alam Indonesia tidak hanya lewat pertambangan dan perminyakan, melainkan juga hutan. Satu contoh, izin usaha perkebunan sawit di Boven Digul, Papua, dibongkar lewat investigasi oleh Majalah Tempo dan satu koran di Malaysia. Ternyata, jajaran direksi perusahaan sawit itu, hanya satu orang yang pengusaha, sisanya adalah pembantu rumah tangganya, sopirnya, dll. Lalu siapa yang mengelola usaha tsb? Satu business team di Singapura, dan sedikit dari Malaysia. 

Lalu apa yang dimaksud dengan perbudakan oleh shadow oligarchy? Mereka memelihara kemiskinan pada petani kecil seluruh Indonesia. Saking serakahnya, shadow oligarchy tidak hanya menguasai usaha dengan modal ratusan milyar atau triliunan, tapi juga ratusan perusahaan kecil dengan modal di bawah Rp 10 M, yang membeli kekayaan petani sebelum panen yang terpaksa dilepas petani dengan harga murah. Itulah perbudakan yang nyata. Bahkan di masa Orde Baru, perbudakan itu disahkan oleh negara, a.l. lewat pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin oleh Tommy Soeharto, yang seolah membantu petani, tapi sebetulnya menghancurkan harga di tingkat petani, demi keserakahan yang brutal. 
3
Lalu bagaimana Perpres 10 tahun 2021 berusaha menghentikan perbudakan itu? Pemerintah membuat daftar usaha yang tidak boleh lagi dikuasai oleh perusahaan besar, melainkan hanya boleh ditangani oleh usaha mikro, kecil dan menengah, serta koperasi. UU Cipta Kerja dan Perpres 10/2021 mendefinisikan usaha mikro, kecil, dan menengah secara jauh lebih rinci dibanding definisi sebelumnya, agar tidak ada pengusaha besar yang membuat UMKM dan bersembunyi di belakangnya. Batas modalnya pun dibuat tinggi, yaitu usaha di bawah Rp 10 milyar harus diserahkan ke UMKM dan koperasi. 

Banyak komunitas, lsm, organisasi nirlaba, gerakan sosial, dll., yang bersemangat menyambut Perpres 10/2021 ini. Mereka mengembangkan berbagai program untuk membuat UMKM “naik kelas”, misalnya dari usaha mikro ke usaha kecil, dari usaha kecil ke usaha menengah, yang tentu lebih baik lagi kalau bisa menjadi usaha besar. Berbagai gerakan dirancang untuk menguatkan akses UMKM terhadap modal, juga menguatkan akses terhadap pemasaran, legalitas, teknologi, informasi, dan SDM. 

Perpres 10/2021 melindungi UMKM dan koperasi yang “naik kelas”. Di situ dibuat ayat (aturan), untuk usaha yang dikelola UMKM yang akhirnya bertumbuh sehingga masuk kategori usaha besar, padahal bidang usahanya termasuk bidang yang dikhususkan untuk UMKM dan koperasi. Dalam kasus ini, ayat itu menyatakan, UMKM yang akhirnya masuk kategori usaha besar, TETAP DAPAT mengelola usahanya, walau tidak termasuk bidang usaha untuk usaha besar. Jadi, ada pembedaan antara pengusaha besar yang turun ke bawah (demi keserakahan misalnya), dengan pengusaha kecil yang bertumbuh. 

4
Dengan membatasi beberapa bidang usaha hanya untuk koperasi dan UMKM, maka usaha yang meraup kekayaan lewat perbudakan seperti dijelaskan di atas, menjadi terancam. Shadow oligarchy juga berkepeintingan untuk menjaga agar pengusaha menengah tidak terlalu banyak, sehingga ekonomi Indonesia menjadi sangat tergantung kepada mereka.

Pelaku ekonomi Indonesia tidak berupa struktur piramid yang kuat. Semestinya, jumlah konglomerat itu sedikit di puncak piramid, lalu jumlah pengusaha menengah banyak di tengah piramid, dan paling banyak adalah koperasi dan UMKM di dasar piramid. Saat ini, bagian tengah piramid seperti bolong.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh shadow oligarchy, saat menjatuhkan Gus Dur. Mereka mudah saja mengganggu ekonomi Indonesia, dengan urunan ratusan triliun untuk memborong dolar, agar rupiah terganggu. Karena lemahnya kemampuan koperasi dan UMKM untuk naik kelas, yang menyebabkan bolongnya bagian tengah piramid, maka tidak cukup jumlah pengusaha menengah untuk menstabilkan ekonomi Indonesia. 

5
Dengan adanya satu halaman tentang industri minuman keras mengandung alkohol, yaitu pada halaman 4 Lampiran III Perpres nomor 10 tahun 2021, banyak organisasi, tokoh masyarakat, pengamat sosial, dll., yang bereaksi negatif terhadap Perpres 10/2021, tanpa sempat membaca dan memahami tujuan keseluruhan perpres tsb. Reaksi mulai dari yang wajar, karena melihat kemungkinan dampak negatif dari legalisasi industri miras, hingga yang berlebihan, yang memaknai legalisasi sebagai halalisasi. 

Akhirnya hari ini, 2 Maret 2021, tepat sebulan setelah Perpres itu diumumkan, presiden mengumumkan pencabutan halaman 4 lampiran III Perpres itu. Dengan dicabutnya halaman tsb., maka kita kembali pada keadaan sebelum pembatasan investasi miras yang diatur dalam lampiran Perpres 10/2021. Apa kondisinya kalau lampiran Perpres itu dibatalkan? 

Kita kembali pada keadaan dimana Pemda di berbagai wilayah Indonesia, dan di berbagai tingkatan, bisa berinvestasi, atau mengizinkan investasi pada industri miras, secara terbuka atau diam-diam. Sebagai contoh, pada Oktober 2020 kemarin, gubernur Jakarta memperpanjang kepemilikan saham di Anker Bir sebesar 26.25% yang memberikan penghasilan puluhan milyar. Akhir 2020, kita juga membaca berita, pemerintah Kabupaten Mojokerto sedang mempersiapkan izin industri miras, karena kebetulan di sana ada pabrik gula, yang ampas produksinya bisa difermentasi menjadi alkohol. Begitu juga di berbagai kota dan kabupaten lain. 

Bagaimana kalau halaman 4 Lampiran III Perpres 10/2021 TIDAK dicabut?

Dengan Perpres, hak kota dan kabupaten untuk memberi izin industri miras dihapuskan. Perpres membatasi, hak itu hanya tinggal di 4 provinsi saja, yaitu Papua, Sulut, NTT, dan Bali. Jadi, secara hukum, dampaknya amat jelas. Kalau lampiran miras dalam Perpres itu TIDAK dicabut, maka di luar 4 provinsi di atas, HANYA gubernur yang bisa mengajukan investasi baru dalam industri miras. Itupun harus dibahas di BKPM. Rakyat bisa lebih mudah mengawasi, dan mencegahnya jika dianggap membahayakan. 

Dengan Perpres pula, pihak berwenang bisa memberantas industri rumahan yang memproduksi miras. Perlu diketahui, penyakit mabuk-mabukan pada anak muda di beberapa daerah, sebagian besar bukan disebabkan minum Bir Bintang, melainkan minum miras hasil industri rumahan, atau miras oplosan. 

Orang-orang yang berkepentingan untuk DICABUTNYA lampiran III halaman 4 Perpres 10/2021 tsb., menyatakan bahwa sebelumnya kebijakan miras adalah negatif investasi. Mereka menciptakan kesan, sebelumnya investasi miras DILARANG. PADAHAL, yang dimaksud negatif investasi adalah dilarangnya Penanam Modal Asing untuk masuk ke Indonesia, dengan investasi dalam negeri TETAP BOLEH. Lha, tanpa negatifpun, siapa yang tertarik masuk Indonesia, yang mayoritas muslim? Sekali lagi, negatif investasi bukan berarti melarang investasi dalam negeri. 

Untuk kesekian kalinya, umat Islam diperalat dan dikadalin. Seolah mereka berjuang melawan miras, padahal mereka menyebabkan seluruh pemda di berbagai tingkat di Indonesia, yang jumlahnya sangat banyak itu, bisa memberikan izin, bahkan secara diam-diam. Padahal dengan Perpres, semuanya dibuat terbuka, lewat gubernur, dan harus dibahas secara terbuka juga oleh BKPM.

6
Kesimpulannya, shadow oligarchy memutuskan, Perpres nomor 10 tahun 2021 harus diganggu. Memang idealnya adalah Jokowi harus diturunkan, tapi sebelum mampu menciptakan gerakan rakyat, maka setiap kebijakan Jokowi harus diganggu. Seperti biasa, digelontorkanlah dana untuk itu. Dan seperti biasa pula, umat Islam menjadi alatnya, untuk dikadalin.

Isi Perpres 10/2021 yang mengancam itu, tidak mengandung kalimat apapun yang bisa diangkat sebagai kebodohan atau kejahatan Jokowi. Maka, ditelusurilah lampirannya, sampai ditemukan bidang usaha miras. Walaupun miras dicabut dari daftar negatif investasi, tapi sebetulnya proses perizinannya dibuat sulit, dengan membuat hanya 4 gubernur yang memiliki wewenang memberi izin investasi. Itupun gubernur diberi hak untuk menolak, kalau masyarakatnya memang menginginkan seperti itu. Intinya, Perpres itu sebetulnya mengetatkan apa yang tertulis dalam UU, dan secara keseluruhan lebih baik dibanding saat Perpres 74/2013 diterbitkan di masa SBY. 

Tapi, shadow oligarchy hanya melihat butir itu yang bisa digunakan untuk menyerang Perpres 10/2021. Dibuatlah narasi yang menyerang perpres itu, disebarkanlah pelintiran ke wilayah yang jauh, diciptakanlah cerita tentang Minahasa dan Papua. Dan seterusnya di hari-hari mendatang, jika tidak ada pernyataan Perpres dicabut, kita akan melihat gerakan shadow oligarchy merambah kemana-mana, termasuk menggerakkan demo yang luas di seluruh Indonesia, dll. 

MAM
Dari laman  Muhamad Abdulkadir Martoprawiro.

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)