Latest News

Selengkapnya Diteruskan DI NEWS.TOPSEKALI.COM

Saturday, June 27, 2020

Hanya PKI Asli Yang Tidak Berani Demo Sarangnya PKI


HANYA PKI ASLI YANG TIDAK BERANI DEMO SARANGNYA PKI

Terlalu banyak kejanggalan pad demo yang mengangkat isue anti PKI, mereka selalu demo menyasar di tempat yang salah.

Kenapa mereka tidak demo ke balaikota yang gubernurnya mengangkat pro PKI jadi TGUPP dan direksi TransJakarta?

Ciri komunis itu suka membuat propaganda dan fitnah. Lempar batu sembunyi tangan, maling teriak maling.

Mereka yang demo anti PKI, sesungguhnya merekalah PKI sejati, PKI gaya baru, PKI berkedok agama.

Mau bukti? Coba tanya dimana mereka dapatkan bendera PKI yang mereka bakar? Mereka juga yang cetak, mereka sendiri yang bakar.

Siapapun yang anti PKI tidak akan mau mencetak bendera berlogo palu arit walau nanti untuk dibakar disaat demo sandiwara.

Mereka yang PKI teriak pihak lain sebagai PKI, mereka melempar isue ada PKI lalu sembunyi tangan. Itulah ciri-ciri propaganda dan fitnah ala PKI.

@catatanemas
• https://www.instagram.com/p/CB4v6Atp9WF/
• https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2706273562812512&id=570190983087458

NURSYAHBANI KATJASUNGKANA TGUPP ANIES BASWEDAN PEMBELA PKI
• https://www.indovoices.com/umum/tgupp-dari-juru-ketik-sampai-aktivis-lgbt-dan-pembela-pki-juga-ada-komplit/
• https://www.jurnalindonesia.co.id/2018/01/06/politik/nursyahbani-katjasungkana-aktivis-lgbt-dan-pembela-pki-yang-jadi-anggota-tgupp-dki-bidang-pencegahan-korupsi/
• https://www.merdeka.com/dunia/sidang-rakyat-pembantaian-pki-digelar-di-belanda-pemerintah-gerah-50-tahun-pembantaian-1965.html

DIREKTUR TRANSJAKARTA PENDUKUNG ANIES BASWEDAN BERFOTO KENAKAN KAOS PALU ARIT
• https://medan.tribunnews.com/2017/12/15/heboh-pria-disebut-sebut-tim-gubernur-anies-sandi-pakai-baju-berlogo-palu-arit-pki
• https://www.melekpolitik.com/2020/05/17/viral-tangan-kanan-aniesbaswedan-dan-direktur-transjakarta-mengaku-pakai-kaos-palu-arit/

#pki #komunis #malingteriakmaling #pkiteriakpki #aniesbaswedan #gubernurdkijakarta #catatanemas

TIM GUBERNUR ANIES-SANDI PAKAI BAJU BERLOGO PALU ARIT PKI
• https://medan.tribunnews.com/2017/12/15/heboh-pria-disebut-sebut-tim-gubernur-anies-sandi-pakai-baju-berlogo-palu-arit-pki
Jumat, 15 Desember 2017 09:03
 
Salah satu timses Anies Sandi yang tergabung dalam TGUPP memakai kaos bergambar lambang palu arit. (Twitter)

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah postingan foto di facebook menjadi viral dan menyebar ke Medsos lainnya.

Hal itu terkait foto seorang pria yang memakai baju palu arit lambang partai komunis.

Pria itu bernama Ahmad Izzul Waro yang disebut menjadi bagian dalam tim gubernur untuk percepatan pembangunan (TGUPP) Anies Sandi.

Dalam postingan itu ditulis Izzul menjabat Ketua TGUPP bidang transportasi Anies-Sandi.

Di foto itu Izzul tak sendirian, tapi berfoto bersama penggiat LSM lainnya seperti Tulus Abadi dan Azas Tigor Nainggolan.

Dari pemberitaan di sebuah media online dalam perbincangan warganet di Medsos, diketahui Ahmad Izzul Waro merupakan ahli transportasi dan pernah menjadi komisioner di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Nama Ahmad Izzul Waro pun disebut masuk dalam daftar dewan pakar Anies-Sandi.

Warganet memberi berbagai tanggapan terkait foto viral tersebut.

Akun @ustadzthink berkomentar 'Ini pakai baju Palu Arit kenapa tidak diprotes?

Akun @i_arseto menulis di twitter '@ustadzthink @habibthink What... ketua TGUPP???'

Akun twitter @sokancut memilih menyebarnya ke akun aparatur negara, '@ustadzthink Lapor @DivHumasPolri @Puspen_TNI'

PEMUDA BERKAOS LAMBANG PKI DIAMANKAN APARAT KODIM
• https://m.cnnindonesia.com/nasional/20160521232052-20-132476/pemuda-berbaju-lambang-pki-diamankan-aparat-kodim

TANGAN KANAN ANIES BASWEDAN, DIREKTUR TRANSJAKARTA MENGAKU PAKAI KAOS PALU ARIT
• https://www.melekpolitik.com/2020/05/17/viral-tangan-kanan-aniesbaswedan-dan-direktur-transjakarta-mengaku-pakai-kaos-palu-arit/
17/05/2020 15:34

Direktur Pelayanan dan Pengembangan PT Transjakarta, Achmad Izzul Waro yang dikenal sebagai tangan kanan Anies Baswedan kedapatan berfoto dengan mempergunakan kaos begambar palu arit yang biasanya dipergunakan sebagai lambang partai-patai komunis, sosialis dan sejenisnya.

Hal ini diungkapkan oleh netizen pemilik akun twitter @narkosun dalam cuitannya.

“Owalah ternyata beneran dia… Yang suka teriak bakso, memang tukang bakso. Yang suka teriak tahu, penjual tahu. Yang suka teriak PKI, eeh…. Bahkan ada yang sampe hapal hari ulang tahun PKI segala.”

Kelakuan anak buah Anies itu kemudian mendapat komentar pedas dari pengguna twitter lainnya.

@tisnainyoman: Uaaaasem Jejak digital memang kejam

@muji_haryaka: Itu kan semua menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan... jauh dari jujur dan adab

@anikfrisa: Kemarin ada yang komen itu hoax….sekarang terbukti…

@redi32678944: Laporkan Ternyata Achmad Izzul Waro tukang Komunis PKI

@rawlang: PKI lo njing! Gw pake kaos doraemon ya karena gw suka doraemon, dan gw berharap bisa jadi doraemon! Ya lo pake kaos PKI emang lo PKI!

[mp]

#pki #komunis #pks #aniesbaswedan #transjakarta #komunisteriakpki #haloindonesia #indonesiamaju

Copas share..
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🌈

Soal Jiwasraya


Soal Jiwasraya, Arief Poyuono: Jokowi Tukang Cuci Piring Kotor Ulah Bakrie DKK!

 Jun 26, 2020

Kegigihan seorang Jokowi dalam menumpas koruptor mendapat restu Sang Kuasa. Bahkan suara pembelanya datang dari eks oposisi yang dulu sesalu getol menyerangnya. Ialah Arief Poyuono yang kini ikut mengupas kasus Jiwasraya. Pernyataannya singkat namun telak membuat penegak hukum dan mantan penguasa lama kepanasan.

Kalau dalam isu PKI ia menyebut penciptanya adalah kadrun, isu Jiwasraya disebut dibuat antek penguasa lama. Kejanggalan penyelidikan sejak era 2008 dan tak berani mengusut tahun sebelumnya menjadi kunci mati para penegak hukum. Apa yang hendak disembunyikan? Apakah tujuannya memang menuduh Jiwasraya untuk dana kampanye Jokowi?

Sebelumnya dilansir jpnn.com, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono menyebut masuknya perkara Jiwasraya ke tingkat pengadilan membuat tudingan pihak tertentu ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi terbantahkan.

Sebab, kata Arief, jiwasraya yang pada awalnya merupakan kasus pasar modal, menjadi gorengan politik karena dikaitkan dengan pemerintahan Jokowi.

"Dengan masuk persidangan, tuduhan yang selama ini dilancarkan oleh pihak lawan-lawan Jokowi terbantahkan. Misalnya, ada tuduhan duit Jiwasraya mengucur ke kampanye Jokowi, kini hanya jadi fitnah semata," kata Arief dalam pesan singkatnya kepada awak media, Kamis (25/6).

"Kesimpulannya, pemerintahan Jokowi hanya bernasib sial, karena Jiwasraya sudah busuk sejak lama. Pemerintan Jokowi seperti tukang cuci piring kotor belaka. Yang menikmati makanannya adalah rezim dan komplotan yang lama," ungkap Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Arief mengungkapkan, pada tahun 2008, saat pergantian direksi, posisi Jiwasraya sudah minus Rp 5,7 Trilliun. Artinya Jiwasraya sudah rugi sebelum tahun 2008, sebelum direksi baru waktu itu diangkat. "Namun anehnya mengapa Kejaksaan melokalisir kasus Jiwasraya hanya di periode 2008-2018? Mengapa sebelum tahun 2008 tidak diusut?" ujarnya heran.

Arief pun bertanya-tanya, apakah betul seperti kabar yang beredar bahwa Bakrie telah melakukan "deal" baik dengan Kejaksaan dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk tidak mengungkit keterlibatan mereka pada kasus Jiwasraya.

“Pertanyaan ini muncul kalau membaca Laporan Utama TEMPO 'Bakrie Dirunut, Auditor Terbelah'," ujarnya. Arief menjelaskan, selain tidak dibongkarnya kasus lama Jiwasraya sebelum tahun 2008, Kejaksaan juga masih gagal membongkar OJK yang merupakan lembaga pengawas yang bertanggung jawab penuh pada Jiwasraya.

“Kejaksaan belum memunculkan peran OJK dalam drama politik penegakan hukum Jiwasraya ini, khususnya Ir. Hoesen MM sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal," kata Arief.

Akhirnya Tuhan meminjam mulut Arief untuk mengungkap kebenaran dan membersihkan pemerintah Jokowi dari segala fitnah. Kini kita tahu semua motif diusutnya Jiwasraya sejak tahun 2008 untuk menutupi kasus lama era Abu Rizal Bakrie menjabat sebagai Menko perekonomian.

Makanya acara ILC berjudul "Membongkar Dalang Jiwasraya" 5 bulan yang lalu mengundang narasumber Said Didu. Karena dialah oposisi yang waktu itu menuduh Jokowi memakai dana Jiwasraya untuk kampanye. Sebenarnya acara ILC milik Bakrie hendak cuci tangan keterlibatan bosnya dalam skandal Jiwasraya.

Jadi Bakrie yang sempat menikmati hampir 4 triliun dana Jiwasraya yang kini menguap di beberapa perusahaannya tetap aman. Berbekal koneksi ke lembaga negara seperti BPK dan juga medianya, Bakrie hendak melimpahkan kasus ini ke mulut pemerintah saat ini.

Untuk itu, pemerintah dan aparat penegak hukum harus mampu menyelidiki borok Jiwasraya dari awal yakni sebelum tahun 2008. Kalau direksi baru (2008) dan Benny Tjokro bisa ditindak, komplotan Bakrie juga harus merasakan hukuman yang sama. Saatnya mereka mendekam di penjara dan negara harus berani menyita aset Bakrie. Jangan sampai tiap 17 Agustus negara memperingati kemerdekaan, sementara penjajah dari kaum sendiri masih leluasa.

Kalau sampai Bakrie lolos lagi, yang menanggung rugi adalah para nasabah dan negara. Tengok kasus Lapindo yang merugikan negara 700 Milyar lebih, ini akibat piciknya Bakrie memainkan negosiasi. Negara cuma diberi aset tanah sekitar lapindo yang harganya sudah pasti turun. Meski begitu keluarga Bakrie masih bisa hidup mewah hingga membelikan menantunya rumah besar di USA. Kalau Setnov yang licin saja akhirnya terciduk, harusnya Bakrie bisa terseret beserta aset-asetnya.

Begitulah kura-kura.

Referensi:

https://m.jpnn.com/news/arief-poyuono-tuduhan-duit-jiwasraya-ke-kampanye-jokowi-sudah-terbantahkan


https://seword.com/umum/soal-jiwasraya-arief-poyouno-jokowi-tukang-cuci-Phb7LFPFTL

Tuesday, June 23, 2020

Ade Armando: SEBAGAIMANA AHOK, PSI JUGA AKAN DIHABISI


DICORET DARI SUKU MINANG AKIBAT INJIL BERBAHASA MINANG


Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau mencabut status Minang Ade Armando tanpa alasan jelas. Ketua Majelis, Irfianda Abidin mengatakan “Orang Minangkabau pasti beragama Islam, jika telah berani menista agama Islam, maka mereka tidak lagi menjiwai ajaran agama Islam. Dan sewajarnya, mereka tidak lagi menggunakan status orang Minang.” Simak tanggapan Ade Armando selengkapnya di Logika Ade Armando hanya di Cokro TV.


CADAR ITU HANYA BUAT MEREKA YANG CANTIK



Menjaga Jokowi, Menjaga Indonesia


Sudahkah kita semua menyadari bahwa kehadiran Presiden Jokowi adalah takdir sejarah bagi bangsa Indonesia? Terpilihnya sosok Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia bahkan untuk masa jabatan dua periode tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan dan kehendak Tuhan atas bangsa Indonesia.

Kalau ada orang, kelompok orang atau siapapun punya pemikiran untuk berniat mengganggu atau bahkan merencanakan menurunkan Presiden Jokowi sebelum masa jabatan kepresidenan berakhir, harus kita maknai bahwa mereka sedang melawan takdir Tuhan atas Indonesia. Mereka harus kita lawan dengan keras, bukan sekedar untuk melindungi Presiden Jokowi tapi melindungi negeri ini dari ulah para petualang politik yang hendak mengacaukan marwah demokrasi dan sistem kenegaraan Indonesia.

Mengapa saya mengingatkan hal ini?

Karena saya melihat akhir-akhir ini ada indikasi kuat beberapa kelompok yang melakukan distorsi atas kerja keras Presiden Jokowi atas Indonesia. Ada mantan petinggi negara papan atas ambisius yang nyinyir dan usil yang menarasikan "asal beda dengan Jokowi". Setiap kebijakan Pemerintah Jokowi selalu dilawan. Pokoknya asal beda. Ada kelompok lain yang terindikasi dimotori mantan penguasa negeri yang tidak tahu diri, mereka menggunakan media kelompoknya untuk membuat berita yang berjudul melenceng untuk menciptakan "the new normal post truth". Mereka sengaja membuat judul berita keliru atau menyesatkan baru diralat kemudian. Padahal berita yang salah sudah terlanjur menyebar liar. Ada kelompok yang menggunakan kekuatan Islam garis keras sedang berhalusinasi menakut-nakuti masyarakat tentang ancaman palsu hantu komunisme.

Mereka sejatinya tidak cinta Indonesia. Mereka hanya berambisi terhadap kekuasaan dan menguasai aset negara. Kalau mereka mencintai negeri ini tidak mungkin mereka sengaja menciptakan kegaduhan yang berulang-ulang. Mereka (baca: mantan penguasa) tidak punya kapasitas diri sebagai guru bangsa atau negarawan.

Kenegarawanan mereka tidak selevel dengan BJ Habibie, Gus Dur, Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusuma, Soedarmono, Tri Sutrisno atau Hamzah Haz. Tokoh-tokoh tersebut setelah tidak lagi jadi pejabat tinggi negara tidak pernah sekalipun mengganggu Pemerintah atau Presiden yang sedang berkuasa. Bahkan mantan Presiden Soeharto (baca: hanya Soeharto, bukan anak-anaknya) yang otoriter pun, pasca tidak lagi menjadi Presiden, tidak pernah sekalipun mengganggu Presiden setelahnya.

Jokowi bukan manusia sempurna. Banyak ketidaksempurnaan seperti manusia lain pada umumnya. Khususnya pada kejelian Presiden Jokowi dalam memilih para anggota kabinet di periode kedua ini. Tapi hal ini tidak bisa menjadi alasan atau pembenaran untuk menyerang Presiden Jokowi dengan membabi buta. Memberi saran dan kritikan wajib kita lakukan tapi bukan bertujuan menjatuhkan kredibilitas Presiden Jokowi.

Kita masyarakat Indonesia harus melawan setiap upaya apapun dan oleh siapapun untuk menurunkan Presiden secara inkonstitusional. Karena hal itu akan menghabiskan energi bangsa untuk pekerjaan yang sia-sia. Rakyat jangan pernah mau dimanipulasi oleh kelompok destruktif yang sebenarnya hanya ingin memuaskan nafsu syahwat berkuasa mereka. Harusnya mereka menunggu tahun 2024 saat kontestasi kekuasaan diadakan secara resmi.

Untuk menjaga sejarah Indonesia yang lurus bagi anak cucu kita kelak dan untuk menjaga kehendak Tuhan atas Indonesia, kita harus harus menjaga Presiden Jokowi menyelesaikan tugasnya sampai tahun Oktober 2024 nanti. Salah satu caranya adalah meluruskan berita palsu dan sesat, melawan keras agitasi Post Truth dari kelompok konspirasi yang tidak sabar untuk berkuasa. Karena tujuan mereka jelas BUKAN untuk kemakmuran rakyat Indonesia tapi hanya kedok untuk menguasai aset negara.

Indonesia tidak boleh tumbang oleh kelakuan para pecundang !!!
Oleh:
Rudi S Kamri

Salam SATU Indonesia
26052020

#GerakanJagaIndonesia
#JagaJokowiJagaIndonesia

Selamat Ulang Tahun Pak Jokowi


‼️ Kahiyang Ayu Bercerita 👌

21 Juni 1961 adalah hari kelahiran Presiden Jokowi, dan Minggu 21 Juni 2020 usianya genap 59 tahun.

Tentu tidak mulus perjalanannya dalam membangun Indonesia, apalagi saat ini dunia sedang menghadapi WABAH virus Covid-19 yang tidak bisa diprediksi datang dan perginya itu.

Pandemi ini jelas membuat Presiden Jokowi menghadapi tantangan PALING BERAT di antara Presiden Indonesia sebelumnya. Mungkin Allah sudah memilih orang yang tepat untuk menghadapi wabah ini dalam memimpin Indonesia.

Jika bukan Jokowi, apa berani mengeluarkan anggaran ratusan triliun demi rakyatnya, dengan risiko keuangan negara minus?
.
.
Bagaimana suara hati Kahiyang Ayu, anak perempuan satu-satunya Jokowi tentang bapaknya itu?

"Tidak jadi Presiden pun bapak tetap berkarya, hanya saja berkarya di lingkungan keluarga dan sekitarnya."

"Bapak selalu punya tekad sejak menjadi Walikota Solo untuk membantu banyak orang yang kekurangan, tapi bapak tidak punya banyak uang untuk menolong rakyat Indonesia yang masih kekurangan."

"Syukur alhamdulilah bapak ditakdirkan Allah menjadi Presiden saat Ini, agar bisa membantu banyak orang melalui uang negara, karena menurut bapak, itu uang rakyat Indonesia harus kembali ke rakyat. Itu saja tekad bapak."

"Agar rakyat sejahtera dan hidup berkeadilan menjadi rakyat Indonesia karena uang negara Itu haknya orang miskin atau yang sangat kekurangan."

"Karena bapak dulu pernah merasakan bagaimana menjadi rakyat kecil. Bapak lahir bukan berasal dari keluarga kaya atau keturunan keluarga yang sejak lahir sudah berkecukupan, tapi bapak tahir dari keluarga yang tidak punya apa-apa."

"Maka saat diberi amanah oleh Allah sejak menjadi Walikota, Gubernur hingga Presiden, bapak hanya menghabiskan waktu buat rakyat. Kadang aku bertanya dalam hati kapan bapak bisa bersama keluarga. Sabtu - Minggu pun bapak tetap bekerja...😢."

"Aku hanya bisa berdoa semoga bapak sehat selalu dan diberi kesabaran oleh Allah, maupun saat dihina dan dicaci tidak mengapa. Yang penting bapak bisa bantu banyak orang dan semoga jadi amal baik bapak kelak. Aamiin". 🙏💞🙏😷💋

#21Juni
#59TahunJokowi
#KahiyangAyu  🙏🙏


SELAMAT ULANG TAHUN, PAKDE JOKOWI..

Seorang teman dengan nada sinis berkata, "Jokowi dimatamu kayak manusia sempurna aja, gada salahnya. Setiap keputusannya, selalu kamu bela.."

Dan terakhir, dia menulis "cuihhh.." seperti sedang meludah. Mungkin jijik dgn persepsinya sendiri padaku, yang dia anggap sebagai penjilat atau orang bayaran pemerintah.

Ya, seperti biasa saya ketawa aja membaca ejekan seperti itu. Dia orang yang ke ratusan ribuan kali yang menghina seperti itu. Udah kebal, gak mempan dan kuanggap seperti kentut yang sedikit bau, tapi cepat berlalu.

Sebenarnya aku ingin seperti dia, mengkritik Jokowi sekeras-kerasnya. Biar tampak seperti pahlawan, pembela keadilan sosial atau apalah. Tapi selalu diakhir aku sadar, keadilan sosial itu selalu bermata dua, tergantung dari sudut mana memandang. Sudut kebencian atau sudut rasional ?

Bagaimana aku bisa menghantam seorang Jokowi yang membangun negeri ini dengan niat yang benar ? Lihat, baru kali ini kita mengalami pembangunan besar-besaran di seluruh daerah, bukan hanya di Jawa saja.

Dan menariknya, rakyat yang dulu selalu berontak saat tanahnya dipake untuk program pemerintah karena dibayar seadanya saja, sekarang berlomba-lomba menawarkan tanahnya, karena ketika dibeli pemerintah mereka malah tambah kaya. Lalu kenapa saya harus menghantam Jokowi jika dia berbuat baik pada rakyatnya ?

Dan lihat, bagaimana Jokowi mampu meredam mafia ekonomi, mulai pangan sampai migas yang selama ini merampok negeri ini ? Bagaimana Jokowi mampu mengembalikan Freeport dan tambang2 besar kembali ke pangkuan negeri dgn konsep kedaulatan Indonesia ?

Kalau saya mau nulis tentang apa yang Jokowi lakukan, tentu tidak cukup semua saya tulis disini. Semua program besar, punya visi kemajuan. Kalau ada masalah kecil, lalu apakah saya harus menghilangkan semua kebaikan yang pernah dia lakukan ??

Jokowi bukan manusia sempurna memang, seperti kita juga. Dia ada di tempat, dimana negeri ini rusak parah. Harusnya banyak orang paham, tidak mudah ada di posisi seperti dia. Dan berterimakasih, karena masih ada orang yang bersedia meluangkan waktu untuk memperbaikinya.

Mencaci itu mudah. Memberi penghargaan terhadap kinerja orang itu yang susah. Tidak semua orang paham visi besar seorang Jokowi, karena banyak orang bahkan tidak mengerti visi dirinya sendiri.

Lama saya sadar, bahwa saya sebenarnya bukan membela seorang Jokowi. Tetapi membela mimpi saya untuk negeri ini. Dan mimpi itu terwakili oleh sosok seorang yang tulus membangun negeri.

Biarlah temanku dan banyak orang lain dengan sakit hatinya. Mungkin mereka punya masalah ekonomi, tapi tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya. Paling gampang, cari kambing hitam, salahkan Jokowi saja..

Ah, sampai lupa. Besok beliau Ultah.

Selamat ulang tahun ke 59 Pakde Jokowi. Teruslah bekerja, yang lain serahkan ke kami saja. Karena kami juga tidak mau ketinggalan, ingin ikut berjuang denganmu walau hanya sibuk memerangi propaganda jahat di media sosial.

Kelak ketika engkau pensiun dan sudah tidak sibuk lagi, undanglah diriku ke rumah meski hanya disuguhkan secangkir kopi saja. Itu lebih dari cukup karena yang penting, ingin kudengar cita-citamu untuk Indonesia.

Seruputttttt....

Denny Siregar

---------------
JOKOWI DATANG, CALO BUBAR

"Paimo tuh, baru ok. Gak kaya Paijo, sama-sama direktur, gaji sama, masa jomplang banget hidupnya?

Paimo dan Paijo memang sama-sama menduduki jabatan direktur salah satu anak perusahaan BUMN, keduanya bergaji Rp 200 juta tiap bulan.

Paimo menghabiskan Rp 100 juta setiap bulannya untuk tagihan bank.  Cicilan dua mobil mewah untuk dua anak perempuannya dan sebuah motor Ducati bagi anak laki-lakinya, dan sebagian lagi untuk cicilan rumah.

Untuk memenuhi gaya hidupnya yang mewah dan demi eksistensinya sebagai seorang direktur, Paimo tak merasa sayang untuk memgeluarkan biaya sebesar hampir Rp 70 juta tiap bulannya.

Luar biasa Paimo...,dia sangat mengerti bagaimana menghargai hidup.

Sementara, Paijo juga memiliki tagihan bank sebesar Rp 120 juta tiap bulannya karena investasi tanah dikampungnya untuk keperluan kebun sengon dan usaha pabrik kayu lapis yang belum terlalu besar. Ketiga anaknya hanya memiliki motor biasa, itupun karena perhitungan ekonomis dibandingkan dengan harus naik kendaraan umum bagi kegiatan sehari harinya.

Rp 50 juta dia pakai untuk asuransi pendidikan ketiga anaknya, dan sisanya dia hemat bagi kebutuhan harian. Keluar makan, paling banyak hanya empat kali dalam sebulan.

Paijo hidup dengan sederhana, tak berbeda dengan banyak orang dilingkungannya.

Ketika keduanya pensiun, yakni setelah dua puluh tahun menjabat, Paijo sudah menjadi pengusaha besar. Asetnya berkali lipat dibanding hutang bank yang pernah dia ambil demi merintis usahanya.

Ketiga anaknyapun kini sudah sukses dan mereka semua mengecap pendidikan diluar negeri.

Paimo tidak miskin, dia masih tetap perlente dengan asesoris melekat pada tubuhnya. Tiga anaknya juga sudah bekerja, namun tak sehebat ketiga anak Paijo.

Hidup keluarga Paimo begitu-begitu saja, dia tidak miskin, tapi juga tidak berubah menjadi kaya. Dia mengalami hidup yang flat, datar dan tak banyak ada perubahan.

Mungkin, beginilah gambaran tentang makna "middle income trap" yang akan menempatkan Indonesia menjadi "middle income country" sebagai istilah bagi Indonesia yang tak akan beranjak menjadi negara maju bila tidak segera berbenah. Indonesia akan begitu-begitu saja.

Ini bukan ngarang, ini sebuah peringatan bank dunia kepada pemerintah Indonesia saat awal Jokowi memerintah di tahun 2014 silam.

Jokowi sebagai Presiden berbenah. Dengan memanggil Sri Mulyani pulang, Presiden berharap "Indonesia yang begitu-begitu saja" tak harus terjadi.

"Kurangi sunsidi, tambal kebocoran, budayakan hidup sederhana". Itulah yang diminta oleh Sri Mulyani. Bisa?

Sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal, Presiden langsung membayangkan betapa akan terjadi perlawanan besar dari banyak orang mapan yang selama ini menikmati kebocoran yang disengaja dalam banyak anggaran pemerintah.

"Kurangi sunsidi? Alamaak..." Gumam Presiden dalam hati.

Subsidi adalah lahan. Lahan bagi regulator, sekaligus lahan panen pujian bagi politisi yang akan didapatkan atas kebijakan populis dari rakyat.

"Budayakan hidup hemat?? Orang Indonesia harus hemat? Lha wong gaji banyak temenku cuma 5 juta belanjanya bisa 8 juta, ini malah suruh hemat? Mati aku..!", tak terasa Jokowi berbisik galau.

Indonesia yang miracle, bukan mitos. Banyak orang dengan struck gaji tercetak 5 juta tapi bisa punya tiga mobil bukan rahasia. Banyak orang yang kerjanya hanya nongkrong di depan kantor urusan publik, tak pernah kehabisan uang beli rokok.

Lantas kini Jokowi harus merubah itu? Pasti akan terjadi banyak konflik dalam lima tahun kedepan.

Dan itu sungguh terjadi. Jokowi tak memilih cara hidup Paimo yang menghabiskan seluruh pendapatannya dan terbukti telah membuat Paimo tak beranjak dari status "middle", menjadi Paimo yang kaya. Paimo terjebak dan tak pernah bangkit dari posisinya, bahkan saat dia sudah menjadi tua.

Benar adanya bahwa Paimo tidak lantas menjadi miskin, demikian pula Indonesia tak akan menjadi miskin hanya gara-gara subsidi dan membiarkan korupsi terjaga pada level seperti kemarin-kemarin.

Lebih-lebih, Jokowi dijamin tak akan di ungkit apalagi dijahilin, dan yang pasti, Jokowi juga akan terangkut menjadi orang yang sangat kaya bila dia membiarkan saja budaya yang sudah lama itu terus lestari.

Konyolnya, Jikowi memilih cara Paijo. Jokowi memilih seperti Paijo yang hanya membelikan motor biasa dan uang jajan seperlunya buat ketiga anaknya. Jokowi menginvestasikan uang yang dulunya bisa dibagi-bagi, dengan infrastruktur dan banyak regulasi baru.

Berbeda dengan  ketiga anak Paijo yang nurut saja meski hanya dikasi motor disaat anak tetangga pak Paimo bisa memiliki mobil mewah, banyak rakyat Indonesia berlaku marah pada tindakan Jokowi.

Banyak pejabat merasa dikhianati oleh Jokowi karena pendapatannya menurun drastis. Cara hidup yang lama telah mendarah daging, kini berubah. Ini bukan pilihan enak. Mereka marah!

Kini "miracle Indonesia" yakni bergaji 5 juta berbelanja 8 juta sulit ditemukan. Mereka yang hanya nongkrong dan menjadi calo, tak lagi bisa sepuasnya beli rokok.  Namun, rakyat dijamin tak akan kelaparan dan mati karena tak bisa berobat.

Hari ini, tanda-tanda bahwa Indonesia telah melangkah dengan benar, dan proses itu sudah berjalan selama lima tahun, telah menunjukkan hasilnya. Benar belum semua menikmati hasilnya, namun infrastruktur telah terhampar nyata bahkan didepan rumah kita.

Hari ini, hampir tidak ada kampung tak berlistrik dan ber"jalan", semua orang sudah dapat melakukan yang dulu mustahil.

Indonesia memang sedang berbenah, dan dalam berbenah, pasti ada yang harus dibuang dan dilempar ketempat sampah. Mereka yang dibuang ketempat sampah adalah mereka yang tak mau berbenah dan berubah.

Siapakah mereka? Yang masih ngamuk dan marah-marah.
.
.
.
Copas dr fb
.
.
Rahayu
Karto Bugel

---------------------

Pukulan Berat Jokowi Ditinggal Dua Menteri Saat Pandemi.

Gunjingan dan guyonan yang terus menerus dialamatkan kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mau tak mau memang membuat lelaki kelahiran Toba Samosir itu jengah juga. Ia sudah lelah berkali-kali dijuluki “Menkosaurus” alias Menteri Segala Urusan oleh netizen.

Julukan yang diberikan oleh netizen kepada Luhut tersebut sejatinya memang cukup beralasan dan tak salah-salah amat. Di luar bidang militer, Luhut setidaknya sudah pernah menjabat sebagai petinggi di lima kementerian atau setingkat kementerian. Dari mulai Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Staf Kepresidenan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Perhubungan (ad interim), sampai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Namun tetap saja itu cukup bikin jengkel Luhut. Apalagi julukan itu terus menerus diamplifikasi di sosial media.

Menurut Luhut, julukan dan aneka guyonan itu sungguh membuat dirinya cukup terpukul. Sebagai seorang prajurit, ia merasa sedih karena segala dan upayanya yang telah ia kerahkan selama ini untuk ikut membangun negeri ternyata justru berbuah guyonan murahan.

Pada akhirnya, Luhut sampai kepada keputusan yang tak banyak orang menyangkanya: mengundurkan diri.

“Saya akan mengundurkan diri,” ujar Luhut kepada awak media beberapa waktu yang lalu lobi gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Senin, 15 Juni 2020 lalu.

Pernyataannya tersebut tentu saja membuat beberapa awak media yang sejatinya sedang ingin mewawancarai Luhut perihal wacana pembukaan wisata konservasi di masa pandemi covid-19 langsung heboh.

“Saya tidak bercanda, saya ingin mengundurkan diri dari jabatan menteri, saya berencana akan menyampaikannya langsung secara resmi kepada Pak Jokowi tanggal 21 mendatang.”

Luhut mengatakan ingin fokus untuk menggeluti dunia pendidikan, dunia yang selama ini menjadi ladang pengabdiannya kepada masyarakat. Seperti diketahui, di kampung halamannya, Luhut membangun sebuah Politeknik Informatika dan yayasan yang fokus memberikan bantuan pendidikan untuk warga yang kurang mampu.

“Mungkin dengan kembali bergiat di bidang pendidikan, saya bisa lebih maksimal dalam memberikan sumbangsih bagi negeri ini. Saya ini prajurit, saya sudah disumpah untuk selalu berbakti kepada negeri ini, dan saya pikir, itulah bakti yang paling masuk akal untuk bisa saya lakukan,” terang Luhut.

Niatan untuk mundur dari jabatan menteri ternyata juga dirasakan oleh Menteri Kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto. Bedanya, jika Luhut berniat mengundurkan diri karena ingin mengabdi di bidang lain, Dokter Terawan justru ingin mundur karena ia merasa gagal dalam mengawal proses penanganan virus covid-19.

Seperti diketahui, Indonesia saat ini masih menjadi negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan kasus positif covid-19 yang sangat tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya ada lebih dari seribu kasus positif yang tercatat tiap harinya.

Per tanggal 20 Juni 2020 kemarin, setidaknya sudah ada 45.029 kasus positif covid-19 dengan 2.429 korban meninggal dunia. Angka ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Kurva penyebaran virus covid-19 juga masih belum melandai, bahkan cenderung memburuk.

“Saya pikir, adalah keputusan yang bijak jika saya mengundurkan diri. Masyarakat butuh kepercayaan yang baik terhadap pemerintah, dan kita tahu, saya tidak bisa menghadirkan kepercayaan itu. Saya dianggap tidak kompeten. Maka, akan sangat baik jika posisi saya digantikan oleh orang yang lebih bisa bikin masyarakat percaya,” ujarnya setelah rapat kerja bersama Timwas Covid-19 DPR RI di Kantor Kemenkes, Rabu, 17 Juni 2020 lalu.

Kepada awak media, Dokter Terawan mengatakan bahwa ia ingin fokus membantu proses percepatan penanganan Covid-19 namun dalam kapasitasnya sebagai seorang tenaga kesehatan, bukan sebagai menteri.

“Mungkin akhir pekan ini saya akan menemui Pak Jokowi untuk membicarakan hal ini,” terangnya.

Dokter Terawan mengatakan bahwa masyarakat butuh figur yang bisa menenangkan. Ia kemudian mencontohkan bagaimana kondusivitas komunikasi di media tentang Gugus Tugas yang perlahan mulai membaik setelah Dokter Reisa ditunjuk menjadi salah satu tim komunikasi Gugus Tugas.

“Indonesia butuh sosok yang lebih baik untuk mengawal pandemi ini.”

Niat mundur dua menteri tersebut ternyata tak main-main. Minggu pagi, 21 Juni 2020, Luhut dan Terawan ternyata benar-benar menemui Jokowi di Istana Negara.

Menurut keterangan Setkab Pramono Anung, keduanya diterima oleh Jokowi di ruang kerja Jokowi.

Kepada Jokowi, dengan disaksikan oleh Pramono Anung dan beberapa staf, Luhut dan Terawan mengungkapkan niat mereka untuk mengundurkan diri.

Wajah Jokowi yang sebelumnya tampak ceria mendadak layu mendengar penjelasan kedua menterinya itu.

“Kok ya sekarang, Mbok ya nunggu pandemi selesai,” kata Jokowi dengan nada bicara khasnya.

“Nggak bisa, Pak. Lebih cepat lebih baik,” jawab Dokter Terawan.

“Betul, Pak,” kata Luhut.

“Ya sudah, siang nanti akan segera saya pikirkan. Tapi yang jelas, saya belum bisa menerima secara resmi pengunduran diri kalian.”

“Siap, Pak. Yang penting kami berdua sudah menyampaikan maksud dan niatan kami.”

Dokter Terawan, Luhut, Pramono Anung, dan beberapa staf yang ada di ruangan pun kemudian keluar dari ruangan dan meninggalkan Jokowi yang tampak gusar.

Tentu bukan perkara susah bagi Jokowi kalau sampai ada menterinya yang mengundurkan diri. Dirinya pasti punya rekomendasi sosok yang mampu menggantikan mentrinya yang mengundurkan diri. Namun kalau yang mundur dua menteri sekaligus, apalagi di masa sulit seperti sekarang ini, tentu hal tersebut bisa menjadi preseden yang buruk bagi pemerintahannya.

Jokowi pun kemudian keluar dari ruangannya dan berjalan menuju beranda Istana.

Belum juga jauh beranjak, mendadak dari arah samping, sudah datang Luhut dan Terawan membawa kue. Lagu “Selamat ulang tahun” dari Jamrud pun langsung terdengar keras dari sound system di sebelah ruang kerja presiden.

“Selamat ulang tahuuuuuuuun…” kata Luhut.

Jokowi kaget tak terkira. Ia kemudian melemparkan pandangannya ke samping, di sana, sudah ada banyak orang yang berkumpul menyambutnya, termasuk beberapa menteri dan anggota staf kepresidenan. Semuanya kompak memakai topi kerucut.

Jokowi yang sedari tegang dan tampak gusar kini tampak sebal dan jengkel.

“Jigur, kena lagi,” kata Jokowi sambil menepok jidatnya. “Kalau sampai tahun depan kamu berani begini lagi, nggak perlu mundur, langsung tak pecat kamu, Hut!”

“Ampun, Booos!” kata Luhut sambil merenges.

Sungguh sebuah adegan yang menarik.

Selamat ulang tahun ke-59 Pak Jokowi.
.
(Tenan pora...?)

============================


Ali Sadikin Dan Mimpi Soekarno


Djakarta, Ali Sadikin dan Mimpi Sukarno

Suatu waktu di tengah kemelut akibat Gestapu 1965, Bung Karno duduk di depan Istana Negara. Pikirannya menerawang, ada satu soal yang belum ia selesaikan. "Membangun Djakarta". Dulu pemerintahan Hindia Belanda sudah membangun sebuah kota model kolonial yang terbaik sedunia, Bandung namanya. Kota Bandung pernah dipamerkan dalam Pameran Kota-Kota Kolonial di Paris sekitar tahun 1920-an sebagai kota paling cantik yang dibangun pada permulaan abad 20. Bung Karno berpikir, ia ingin Djakarta menjadi Jiwa dari bangsa Indonesia, kota yang teratur tapi dinamis. Kota yang menjadi poros revolusi struktur masyarakat Indonesia. Inti dari Revolusi Sukarno adalah kemandirian, Mandiri total sebagai bangsa. Dengan mandiri maka sebuah bangsa akan membangun kebudayaaannya sendiri, membangun ekonomi kerakyatannya sendiri dan membangun karakter yang kuat.

Bung Karno memang terpukau dengan kota-kota di Negara Komunis yang disana sini banyak monumen, tapi Bung Karno juga sedari muda jatuh cinta dengan kota-kota di Amerika Serikat, saat ia berkunjung ke AS ia minta diantar untuk melihat taman-taman kota, pusat-pusat seni dan yang paling favorit bagi Bung besar ini adalah 'mengunjungi museum'. Bung Karno melihat ada dua fungsi dalam sebuah kota. Jiwa yaitu Monumen yang merupakan petilasan akan kenangan perjalanan hidup sebuah bangsa dan Gedung yang merupakan fungsi ruang bagi sebuah warga kota bergerak. Monumen dan Gedung akan selalu menjadi paralel dalam pembangunan kota impian bagi Bung Karno. "Djakarta ini sebuah kampung besar, sebuah big village dan Djakarta dalam cepat harus dibangun sebagai kota Internasional...untuk itu aku harus mencari orang yang bisa memimpin sebuah kota besar. Seorang pemimpin yang paham Accynering, City Planning, Architectuur, dia harus tau soal sampah, tau bagaimana mengatur selokan dan keras kepala. Seorang pemimpin yang bisa melihat jauh ke depan tanpa mengeluhkan kekurangan. Bung Karno berpikir keras......

Esok paginya, Bung Karno memanggil beberapa stafnya termasuk Waperdam Leimena. "Coba sodorkan aku beberapa nama untuk pimpin ini kota Djakarta..!" perintah Bung Karno. Salah seorang menyebut Henk Ngantung, Bung Karno terdiam 'Henk itu susah, dia dijepit posisinya...dan dia sudah memimpin kota Djakarta. lalu Leimena bilang "Bagaimana kalau Ali Sadikin?" Bung Karno menoleh pada Leimena "Pak Lei, bukankah Ali sekarang sudah jadi menteri?"...Leimena bilang, orang yang paling keras di Djakarta ya Ali Sadikin. Kemudian salah seorang dari pertemuan itu nyeletuk :"Mayor Sjafei kalah gahar ketimbang Jenderal Ali"....Bung Karno tertawa. Coba siapkan pelantikan untuk Ali Sadikin.

Pada tanggal 28 April 1966, di Istana Negara Bung Karno melantik Ali Sadikin. Bung Karno berpidato dalam pelantikan Ali ini dengan penuh semangat, matanya menyala-nyala, ia gembira melihat salah satu pemuda Indonesia akan memimpin sebuah kota. Ali Sadikin tampak seolah-olah bayangan kecil Bung Karno. "Ali kamu akan memimpin kota, itu bukan pekerjaan gampang, tetapi Insya Allah doe je best, agar engkau dalam memegang kegubernuran Djakarta Raya sekian tahun lagi orang masih mengingat, die heeft Ali Sadikin Gedaan - Inilah perbuatan Ali Sadikin. Bismillah, mulailah engkau punya pekerjaan" Tutup Pidato Bung Karno. Dan Bung Karno pun maju menyematkan tanda jabatan kegubernuran, tinggal Ali Sadikin yang pusing bukan maen.

Bagaimana tidak, ia mewarisi satu sistem pemerintahan daerah yang tidak teratur. Administrasinya berantakannya, dan yang paling sinting lagi ia hanya memiliki anggaran sangat terbatas. Sekitar 66 juta per tahun. Bagi Ali Sadikin ini proyek mustahil. Tapi Ali Sadikin agak tertolong oleh kasus carut marutnya take over kekuasaan sehingga ia ada waktu untuk berpikir tentang arah kebijakan umum kota. Ali Sadikin di satu sisi sangat loyal pada Bung Karno tapi realitas kekuasaan sudah pelan-pelan bergeser ke Suharto, dan pilihan Bung Karno benar adanya, Suharto nggak bakalan berani ciduk Ali Sadikin karena bekingan KKO-nya sangat kuat, disamping itu memang Ali terkenal keras dengan Komunis jauh sebelum Suharto belagak anti Komunis. Pak Harto tidak berani secara frontal berhadapan dengan Ali.

Suatu waktu di tahun 1969, Ali pernah melihat Bung Karno secara sepintas dan Ali menangis. Ia melihat Bung Karno yang dirusak kesehatannya oleh tentara-tentara Orde Baru duduk tak berdaya disiksa sakit, kepala Bung Karno yang botak dan badannya lemah. Bung Karno agak sedikit mengenali Ali ditengah ingatannya yang dulu terkenal kuat itu melemah akibat penyakit ginjal yang merusak kondisi mental psikisnya Bung Karno berkata lirih. "Ali...Djakarta..Ali...Djakarta" kata Bung Karno terbata-bata. Dan Ali dalam hati membatin, "aku harus jaga amanat Bung Karno ini, bagaimanapun ini kota kecintaan bangsa Indonesia, kota kesayangan Bung Karno...". Setahun setelah pertemuan itu Bung Karno meninggal.

Suatu waktu Ali Sadikin menyetir sendiri mobilnya ke kantor Gubernuran. Ali biasa berangkat jam 5.30 pagi, ia sengaja melihat seisi kota. Ali senang incognito jalan-jalan ke pasar untuk melihat stok sayuran di Djakarta, mengontrol selokan dan sudetan kali. Di satu tempat dekat Pasar Santa Kebayoran Baru ia melihat segerombolan orang bermain gaple. .."Teng" ia mendapat ilham. Ia berputar-putar sejenak di dalam kota Djakarta dan berpikiran tentang judi ini. Sesampainya di kantor ia berteriak dan memanggil staf-nya. "Hai, coba kau cari peraturan tentang judi". Setelah stafnya mengambil data peraturan Ali baru tau ternyata Pemda bisa mengambil pajak dari judi lewat peraturan daerah no.11 tahun 1957. "Kamu, panggil Pak Djumatidjin, ke ruangan saya" Djumatidjin adalah pegawai senior di Pemda DKI. "Pak Djum, apa bisa Pemda DKI narik itu uang judi buat pajek?" kata Ali sambil tangannya mendekap dada, matanya melebar."Bisa Pak, dasar aturannya ada". Lalu Ali berkata singkat "Saya perintahkan adakan judi legal dan dipajekin. Hasilnya buat saya bikin ini Djakarta baik..laksanakan". Pak Djumatidjin dan beberapa orang staff Ali menyahut bersamaan 'Siap Pak'.

Dan dengan cepat tindakan Ali ini mendapat sambutan para jago judi se Djakarta terutama Cina-cina yang suka sekali dengan judi. Kasino banyak dibentuk, pajak judi terus mengalir ke Kas Pemda. Ledakan kas luar biasa. Tapi Ali bukanlah jenis pejabat korup, ia berbakti pada tugasnya. Uang Judi itu ia arahkan ke pos-pos pembangunan infrastruktur, sekolah-sekolah rakyat, pusat-pusat kesenian, taman hiburan rakyat macam Ragunan, gelanggang olahraga dan Pasar-pasar rakyat. Ali sudah menaburkan benih bahwa pada sebuah kota itu keteraturan, dinamika yang terpisah dan kebudayaan menjadi satu kesatuan. Suatu kota yang harus punya iramanya sendiri. Ia harus punya jiwa, ia punya badan, janganlah satu kota hanya menempatkan manusia menjadi besi-besi tua yang berjalan. Ali menjadikan Djakarta sebagai kota dimana manusia menemui kemanusiaannya.

Di satu waktu Ali disidang oleh anggota DPRD terhadap dana judi. Dengan lantang Ali berkata pada mereka :"Oke Saudara-saudara sekalian, ini memang dana judi. Tapi kalau kalian mengharam dana judi, itu hak saudara-saudara, silahken Saudara naik helikopter karena jalan-jalan yang mulus itu saya bangun dari dana judi!"......Ali memang pemarah tapi tegas. Ia tiap pagi kerjanya mengontrol saluran selokan, kali-kali besar di Djakarta ia perintahkan untuk dibersihkan bantarannya, Ia kumpulkan seniman dan menanyakan problem-problem masyarakat pada seniman dan sastrawan. Ali sadar bahwa jiwa sebuah bangsa, teriakan sebuah bangsa itu yang bisa menangkap seniman dan sastrawan. Ali melindungi kesenimanan dan kepengarangan dengan mengadakan kompetisi, pemda sendiri yang membiayai.

Tahun 1974 kepopuleran Ali sudah mencapai puncak. Ada dua rivaal Suharto saat itu, Jenderal KKO Ali Sadikin dan Jenderal Mitro Gendut, Jenderal Mitro sempat menegur Ali "Pak Ali, saya tidak mau ambil pusing berita soal bapak digadang-gadang jadi Presiden RI, tapi tolong kalau bapak bicara ke mahasiswa jangan memanas-manasi situasi" ditegur begitu Ali diam saja. Tak lama setelah Malari meletus Mitro tersingkirkan.

Ali Sadikin maju terus, proyek Taman Mini ali oke..Ali juga memanggil Ciputra dan berkata "Pak Tji, saya mau itu Ancol jadi pantai mirip Ipanema atau Copacabana.." Ciputra tertawa dan berkata "segera pak" PT Jaya yang merupakan pelaksana proyek dari proyek2 Pemda melaksanakan dengan cepat.

Ali Sadikin sudah mengajarkan pada kita tentang makna sebuah kota. Kota harus menjadi ruang gerak yang dinamis bagi penduduknya, ia menjadi pusat ekonomi tapi juga harus punya jiwa. Kota adalah ruang terbuka, ia ruang publik dan disitulah nafas harus dihirup sepuas-puasnya. Kota yang dikurung gedung hanya untuk kepentingan Kebendaaan akan mejadi kota yang bisu, kota yang beku tidak ada dinamika. Kota sudah selayaknya sebagai tempat sarang seniman, sastrawan dan budayawan. Tempat berkumpulnya atlet-atlet membina tubuhnya. Kota harus memiliki museum, dari museum sebuah masyarakat bisa banyak mengerti bagaimana kekikinia dibentuk. Kota harus memberikan akses ekonomi pada seluruh rakyat, bukan satu lapisan elite saja, kota mustinya tempat produktif sebuah pemikiran bangsa dibentuk bukannya malah tempat konsumtif yang berlebihan dan mendangkalkan daya pikir.

Kini Djakarta tumbuh tanpa konsep, setelah Ali disingkirkan dan dijadikan warga negara kelas dua karena keterlibatannya dalam Petisi 50, Djakarta gagal berkembang secara teratur. Gubernur-Gubernur Djakarta setelah Ali Sadikin bukanlah orang berpikiran ke depan, mereka sibuk menangkapi becak tapi mobil impor terus banjir tanpa mau peduli membangun sarana transportasi massal. Padahal Ali sudah membuatkan rencana pembangunan subway dan beberapa sarana angkut transportasi massal tahun 1976 tapi sudah keburu digusur Suharto.

Bahkan ada seorang Gubernur Jakarta yang berkata "Kita kekurangan Mall" Pusat-pusat perbelanjaan macam Mall mewah harus dibangun seribu lokasi lagi.

Padahal Ali Sadikin membangun pasar tanah abang, yang dibangun adalah ekonomi rakyat, bukan ekonomi elite. Yang dibangun adalah infrastruktur untuk rakyat bukan kepuasan elite, ruang terbuka mustinya dibangun untuk kecerdasan bukan melatih ketumpulan warga kota. Kini warga kota Djakarta seakan dikelilingi tembok kapitalis, tidak ada ruang yang nyaman yang bisa dimasuki tanpa harus membayar. Kota kita adalah kota dimana uang menjadi Tuhan dan manusia terbudaki karenanya...Kota yang tidak lagi mengantarkan manusia menemui kemanusiaannya.

ANTON DH NUGRAHANTO, 2010

Friday, June 19, 2020

Politik Orde Baru yang ingin membangun musuh bersama


Di dunia sekarang ada 7 negara islam yang punya partai komunis. Negara tersebut adalah Palestina, bernama Popular Front for Liberation of Palestine (PFLP) yang berasaskan komunisme. Partai ini memegang teguh ajaran Marxisme dan Leninisme. Suriah, Syrian Communist Party. Meski hanya hanya memiliki 8 dari 250 orang dalam dewan, partai ini cukup diperhitungkan di negara. Afganistan, Communist Party of Afganistan bukanlah sebuah partai dominan di negeri ini. Namun termasuk diperhitungkan anti AS. Bahrain, National Liberation Front adalah sebuah partai dengan aliran Marxisme dan Leninisme yang berdiri pada tahun 1955. Egyptian Communist Party (ECP) adalah sebuah partai politik beraliran komunis yang berdiri di Mesir pada tahun 1975.
Di Iran ada Communist Party Iran namun dilarang ikut Pemilu. Namun suara mereka diperhitungkan terutama pembelaan terhadap buruh dan HAM Perempuan. Di Irak ada Iraqi Communist Party. Partai ini mendominasi golongan kiri di Irak dan kerap melakukan protes. Saat Saddam Hussein menjadi presiden, partai ini sempat redup. Namun sekarang mulai menunjukkan taringnya dengan mengirim beberapa orang menempati kursi anggota dewan. Mengapa Negara yang mayoritas islam dan pendiri partainya tokoh islam sampai mendirikan Partai Komunis. Karena memang ajaran sosialis komunis khususnya Karl Marx itu lebih dekat ke islam. Di Indonesia justru ormas islam dan partai islam yang menentang Komunis. Menurut saya itu hanya dendam politik yang tak berkesudahan.
Dalam Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) , dari 8 TAP MPR sebagai dasar pembentukan RUU HIP, TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 yang menyatakan PKI sebagai Partai terlarang tidak termasuk. Menurut saya ini tergantung kajian akademis dibalik adanya RUU HIP ini. Tentu sudah mempertimbangkan segala aspek pengetahuan dan sejarah untuk sampai tidak memasukan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 sebagai acuan dalam menyusun RUU HIP. Kita akan lihat nanti perdebatan di Parlemen. Yang jelas PKS adalah partai yang menolak keras RUU HIP itu. Saya tidak akan membahas seputar RUU HIP itu. Saya akan membuka jalan berpikir soal Komunisme.

Komunisme itu bukan anti Tuhan. Ia sama dengan partai sekuler lainnya yang menentang keterlibatan agama dalam soal politik. Tentu PKI terlibat dalam BPUPKI, yang merancang lahirnya Pancasila. Kalau kemudian terjadi pemberontakan, itu masalah intrik politik. Dan lagi yang memberontak bukan karena komunisme sebagai idiologi tetapi ini berkaitan dengan agenda internationalisasi komunis UniSoviet. Sama dengan yang ada dalam golongan Islam juga memberontak seperti DII/TII, PRRI-PERMERSTA yang melibatkan tokoh islam dari partai Masyumi. Itu bukan karena ajaran islam tetapi agenda partai islam memang internationalisasi. Tetapi 25 Desember 1991 dengan pengunduran diri Mikhail Gorbachev, Uni Soviet bubar dan sejak itu Komunisme international bankrut. Maka Partai komunis yang sekarang ada di beberapa negara bersifat lokal.

Di Indonesia justru ormas islam dan partai islam yang menentang Komunis. Menurut saya itu hanya dendam politik yang tak berkesudahan.

Kalau sekarang ada pihak yang paranoid dengan komunisme atau PKI, itu karena politik orde baru yang ingin membangun musuh bersama sekaligus menyudutkan pemerintah, dan ingin kejayaan Orba bangkit lagi. Jadi itu hanya politik.

[https://politikandalan.blogspot.com/2020/06/politik-orde-baru-yang-ingin-membangun.html]
https://www.facebook.com/nazwaaufar/posts/2686264528285701

Arief Poyuono dan Isu PKI para Kadrun, Kenapa Gerindra Kebakaran Jenggot?


Arief Poyuono dan Isu PKI para Kadrun, Kenapa Gerindra Kebakaran Jenggot?

Oleh: Andre Vincent Wenas

Berawal dari wawancara Arief Poyuono oleh Rudi S. Kamri berjudul "Apa Kata Arief Poyuono tentang Kebangkitan PKI?" di Kanal TV Anak Bangsa yang diunggah di laman YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=NXTBLeBdd84
Temanya seputar asal-usul isu PKI di era pemerintahan Presiden Jokowi.

Dalam wawancara singkat itu, tegas sekali Arief Poyuono yang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dan Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN itu mengatakan bahwa isu PKI tersebut bohong belaka. Menurutnya, isu PKI memang sengaja dimunculkan untuk mendelegitimasi kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Katanya, "Enggak ada, itu cuma isu-isu bohong aja. Isu-isu itu sebenarnya hanya untuk mendelegitimasi Kangmas Jokowi, yang selalu dituduh apa pun dia seakan-akan dia ada hubungannya sama PKI. Seperti itu kan aneh, munculnya itu di eranya Pak Jokowi aja. Dulu era SBY enggak ada, era Mega enggak ada, ini kan aneh."

Kemudian sewaktu ia ditanya tentang kemungkinan siapa yang memunculkan isu seperti itu? Ia lantang mengatakan, "Yang pasti ini adalah kadrun, kadrun-kadrun ya yang pasti. Yang kedua, mungkin orang-orang yang tidak menginginkan adanya perdamaian di Indonesia, yang selalu ingin mengacau, yang selalu ingin mendiskreditkan pemerintah yang sah dan konstitusional dengan isu-isu PKI."

Kalau ditilik, bukankah pernyataan seperti ini justru bagus bagi Partai Gerindra sebetulnya. Apalagi sekarang Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, adalah juga bagian dari formasi tim eksekutifnya Presiden Joko Widodo. Bahkan Prabowo Subianto adalah Menteri Pertahanan yang bertanggung-jawab atas situasi keamanan negara.

Namun anehnya, kok malah Arief Poyuono yang pernyataannya justru bagus buat citra Gerindra itu kabarnya bakal dipanggil oleh Majelis Kehormatan Gerindra terkait ucapannya itu.

Menurut Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman, Majelis Kehormatan Partai akan segera menjadwalkan pemanggilan terhadap Arief Poyuono. Dan yang dipermasalahkannya adalah soal pernyataan Arief Poyuono tentang isu PKI yang dimunculkan oleh para "kadrun".

Bahkan Habiburokhman sampai merasa curiga ada pihak yang sengaja menunggangi Arief karena tidak suka dengan kebesaran Partai Gerindra. Ia juga menyayangkan tagar #TenggelamkanGerindra yang sempat ramai di medsos. Katanya, "Saya khawatir Pak Arief ditunggangi orang yang tidak mau Gerindra besar dan dekat dengan rakyat."

Anehnya, yang diperkarakan adalah pernyataannya soal 'PKI dimainkan kadrun'. Kenapa Habiburokhman (DPP Gerindra?) kok sewot atau kebakaran jenggot dengan pernyataan seperti itu?

Bukankah respon seperti itu malah membangkitkan kecurigraan bahwa Gerindra adalah biang dari isu PKI dari para kadrun itu?

Apakah Gerindra mendukung kadrun-kadrun itu? Apakah Gerindra mendukung isu PKI yang dimunculkan para kadrun itu?

Karena kalau tidak, ya tidak perlu sewot dengan pernyataan Arief Poyuono tersebut bukan? Sederhana saja logikanya.

Maka kabarnya pihak Arief Poyuono pun tetap bersikukuh pada pendiriannya bahwa isu kebangkitan PKI hoax dan dibuat kadrun.

Lagi pula, perihal sanksi untuk Poyuono itu juga cuma disampaikan juru bicara Gerindra Habiburokhman lewat akun Twitter-nya. Dan Arief Poyuono tetap merasa benar dengan pernyataannya.

Arief merespon, "Kadrun itu siapa? Saya tanya dulu kan. Kadrun-kadrun itu istilah, nggak ada orang yang mau disebut kadrun. Memang si Habib (Habiburokhman) mau saya sebut kadrun? Memang Gerindra kadrun? Kan bukan." Nah!

Bahkan Arief Poyuono menegaskan, "Saya akan tetap pada statement saya bahwa PKI itu cuma hoax dan yang buat saya sebut kadrun. Kenapa? PKI itu partai terlarang kan? Ideologi terlarang kan. Ada nggak yang udah ditangkap polisi? Tunjukkan di mana orang-orang PKI itu." Mantap.

Menurutnya isu bangkitnya PKI dihembuskan cuma buat mengacau negara. Padahal pemerintahan sekarang khan juga menentang PKI. Tegasnya, "Pak Joko Widodo bukan PKI, Pak Joko Widodo lawannya PKI."

Akhirnya kita malah jadi terus bertanya-tanya nih. Bagaimana ini Pak Habiburokhman, mengapa sewot dengan pernyataan Pak Arief Poyuono? Apakah Gerindra mendukung isu PKI yang dimunculkan oleh para kadrun untuk mendiskreditkan Presiden Jokowi?

Semoga tidak ya. Partai Gerindra adalah partai besar, aset politik nasional yang sudah dari awal menyatakan dirinya sebagai partai nasionalis. Juga sudah menjadi partai koalisi Presiden Jokowi. Bukankah begitu?

18/06/2020
Andreas Vincent Wenas, Sekjen ‘Kawal Indonesia’ – Komunitas Anak Bangsa
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/06/arief-poyuono-dan-isu-pki-para-kadrun.html]

Saturday, June 13, 2020

Keluar Sarang, Waspalah

*Waspada !!!!*

*KELUAR SARANG*

Minggu2 ini akan ada gabungan *barisan sakit hati* yg akan keluar sarang. Liat aja poster2 yg beredar utk mengangkat kasus  diskusi provokatif FH UGM.

Ada dua diskusi yg mereka gelar:  pertama diskusi yg diadakah jaringan antek2  Din Syamsuddin di Muhammadiyah (Muhammadiyah). Mereka buat diskusi *menyoal kebebasan berpendapat dan konstitusionalitas pemakzulan Presiden di era Pandemi Covid-19*.  Mereka sengaja mengakat tema yg provokatif lagi. Sesuatu yg sebetulan sdh jelas doangkat agar jadi pembicaraan publik. Forum kedua, orang2nya itu2 saja, mengangkat tena : *PSBB, kegagalan konsep konstitusional*. Temanya juga provokatif tapi udh usang.

Dua tema ini sdh pernah diangkat di  FH UGM  dan memunculkan kontraoversi. Mereka sengaja ngangkat lagi agar memancing lagi kontroversi dan reaksi dari pendukung Pak Jokowi.

Karena tujuannya itu, maka sebaiknya diskusi ini dicuekin aja. Nggak usah diviralkan. Polisi kalem aja. Karena mmg tujuannya *Caper alias cari perhatian*.

Tapi yg menarik adalah aktor2nya. Sepertinya semuanya keluar sarang.  Ada Din syamsuddin sampai Suteki.Din Syamsuddin, dari awal merapat ke Jokowi, ngebet jadi Cawapres.  Gagal jadi cawapres ngambek lalu masuk barisan sakit hati.

Ada dua cara gerak Din untuk melawan Jokowi. Pertama dia memainkan Dewan Pertimbangan MUI. Walupun MUI sdh punya pengurus tapi Din justru mobilisasi jaringan ormas2  Islam  yg kecil2 di MUI. Jaringan kedua Din adalah memanfaatkan kelompok anti Jokowi di Muhamadiyah. Kelompok anti Jokowi ini dikompori utk mengkritik semua kebijakan Jokowi. Semuanya dibuat jadi salahnya Jokowi.


Lalu, ada Denny Indrayana, buronan POLRI yg sempat lari ke Australia, lalu balik jadi pengacara Meikarta. Kabarnya Denny dibuang oleh SBY krn oportunis.  Ada Refly Harun, pecatan Komut Pelindo yg sekarang jadi Youtuber. Kabarnya Refly adalah pengacara yg doyan duit dan banyak konflik kepentingan. Tinggal dikumpulkan jejak dosa2nya saat ngurus klien2 dia di MK.

Berikutnya  ada barisan sakit hati karena pembubaran HTI. Disini ada Suteki  dosen pecatan UNDIP yg jadi *pembela terdepan Khilafah* yg dicabut nyawanya oleh Jokowi. Suteki dengan didukung gerakan bawah tanah HTI selalu mencari kesempatan utk serang Jolowi.

Diluar itu ada deretan *kelompok yg belum move on* dari Pilpres 2019. Mereka tdk rela Jokowi menang.  Mereka terdiri dari kelompok purnawirawan dan pengusaha anti Jokowi. Pengusaha anti Jokowi ini tergabung di grup Aksa Mahmud dan Erwin Aksa. Sedsngkan purnawirawan anti Jokowi  di kelompok GN, Soenarko. Antek2 mereka adalah Ruslan Buton yg bikin video minta Jokowi mundur. Para purnawirawan ini berupaya masuk ke jaringan HTI dan kelompok Islam anti Jokowi dgn ngangkat isu TKA dan kebangkitan PKI.

Dan terakhir kelompok *akademisi sok jagoaan dan merasa menang sendiri*. Mereka seolah pemilik otoritas kebenaran krn disebut media sebagai pakar. Mereka berlindung dibalik tameng kebebasan mimbar akademik. Tapi sesungguhnya mereka  sedang mengangkat citra diri. Tidak ada kebenaran diluar pendapat mereka. Mereka adalah tipe intelektual kompor yg  hanya suka bikin gaduh. Coba baca kritik atas tindak tanduk mereka pada tulisan aktivis Agung Kurniawan: https://www.facebook.com/agungleak/posts/10157634359663983

Barisan sakit hati, pendukung khilafah dan intelektual kompor bersatu memanfaatkan momen ketika pemerintah Jokowi tertekan oleh dampak COVID-19.

Ditengah kesulitan rakyat justru mereka main akrobatik agar bisa membalas sakit hati ke Jokowi. Kritik sih boleh aja... Indonesia adalah negara demokrasi.  Tapi kalau tujuannya adalah mengganti NKRI dengan Khilafah,  maka gerakan itu harus *DILAWAN*.

*Sebarkan ke para pendukung Jokowi !!!!*

Era Tarik Dana Ribuan Triliunan Dari Luar, Jokowi Hebat.


ERA JOKOWI, ERA TARIK DANA RIBUAN TRILIUN DARI LUAR NEGERI

Jadi, demikianlah akhirnya. Pemerintah Indonesia dan Swiss menandatangani deklarasi kerjasama, pekan lalu. Dengan demikian, era menyembunyikan duit haram para koruptor di Swiss berakhir  - karena pemerintahan  Jokowi kini giat mengejarnya.

Deklarasi yang sama juga dibuat dengan pihak berwenang di China, Hong Kong dan Singapura. Jika Swiss menyepakati, negara lain mau tak mau menyusul.

Maka, bila Presiden Jokowi terpilih lagi  -  masuk periode dua -  ada harapan ribuan triliun duit haram orang kita di Swiss, Singapura dan Hong Kong - atau pajak resmi yang seharusnya mereka bayar -  balik ke Tanah Air.

Sebaliknya, bila Jokowi kalah dan diganti, maka rezim baru yang menikmatinya, atau menghentikannya. Atau sebaliknya, justru asset kita yang akan terbang ke Swiss, Hong Kong, Singapura dan China.  Mereka sudah siap menadahnya.

Tak heran bila pemilik uang haram itu kini ketar ketir. Sekuat tenaga mereka menggagalkannya, dan berharap pemerintah Jokowi jatuh dan tidak terpilih lagi.

Memanfaatkan politisi kubu lawan, mengerahkan provokator dan agitator, memproduksi isu, menyebarkan hoax, membuat keresahan dan kerusuhan, instabilitas, demo demo bernuansa SARA, tagar ganti presiden, mengerahkan kaum radikal intoleran ke jalan, menggunakan jasa kaum  separatis, semua dalam upaya menghentikan kembalinya uang haram itu.

Jangan dikira aksi penembakan di Papua, aksi aksi separatis,  dan demo demo di jalanan tidak ada hubungannya dengan politik di Jakarta dan para mafia ekonomi.

DULU, tak lama setelah rezim Orde Baru jatuh, setiap kali Soeharto hendak diadili, dibawa ke meja hijau, meletus aksi aksi kerusuhan di berbagai pelosok negeri. Pelakunya belum tentu atas perintah keluarga mantan presiden itu, melainkan kroni kroninya,  baik di pusat dan daerah.

Selama 32 tahun menguasai politik dan keamanan di Tanah Air, kroni keluarga Cendana - baik yang masih dinas maupun pensiun - tahu persis potensi potensi konflik di berbagai pelosok daerah, dan bagaimana memprovokasi warga agar berseteru satu dengan yang lain. Dan mereka yang di Jakarta menikmati hasilnya.

Dan jangan lupa perusahaan asing tak rela tambang uang mereka berkurang dan berakhir di sini.  Untuk tingkat korporasi global,  mereka mampu membiayai LSM, stasiun TV, media, dan juga geng bersenjata, untuk membuat ulah. Belum lagi mafia BBM, mafia pangan, mafia pelabuhan,  yang telah digulung satu per satu. Mereka terus konslodasi, karena uang tabungan mereka masih banyak.

Dengan aset triliunan rupiah yang telah dikeduknya,  selama puluhan tahun – selama ini -  para mafia klas Mastodon itu, bisa melakukan segalanya. Membeli integritas oknum oknum, mengongkosi kelompok bersenjata untuk mengobarkan kerusuhan di berbagai wilayah, membayar politisi dan media lalu mengalihkan isu, agar pemerintah mengalihkan perhatian . Pendeknya, bikin repot pemerintah.

Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia dan  Menteri Keuangan sebelumnya, pernah memperkirakan, sedikitnya ada 84 WNI memiliki rekening gendut di bank Swiss. Nilainya mencapai kurang lebih US$ 195 miliar atau sekitar Rp 2.535 triliun (kurs Rp 13.000 per US$). Jauh di atas belanja negara dalam APBN 2016 sebesar Rp 2.095,7 triliun, sebagaimana dilansir Thejakartapost.com.

Bangsa Indonesia - khususnya generasi yang seusia saya -  tak bisa melupakan peristiwa yang menghebohkan Singapura dan Indonesia di tahun 1992, dimana Pengadilan Tinggi Singapura membuka kembali persidangan untuk menentukan siapa yang berhak atas 19 rekening milik almarhum Haji Achmad Thahir di Bank Sumitomo Singapura. Terjadi perebutan antara istrinya almarhum, Kartika Thahir melawan Pertamina.

Thahir adalah pejabat tinggi di Pertamina. Dalam rekening yang menjadi sengketa itu, ada dana USD 79 juta. Perkiraan awal berjumlah 23 juta dollar AS, tapi jumlahnya terus berbunga. Diduga uang tersebut adalah komisi yang diterima Thahir atas sejumlah proyek Pertamina.

Saat itu Kartika Thahir tidak tinggal di Singapura, melainkan di Jenewa, Swiss. Majalah Tempo memburu Kartika hingga ke Swiss. Jadi laporan utama masa itu.

Dan Kartika Thahir hanya salahsatu orang Indonesia yang mengambil dan menyimpan duit haram yang berasal dari aset tanah air kita. Masih banyak yang lainnya. Yakni mafia dan koruptor Indonesia generasi baru. Kata Bambang Brojonegoro itu, ada 84 WNI.

DI AULA Chakti Budhi Bakti, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Selasa (04/07) perjanjian itu penandatanganan dilakukan oleh Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Baumann dan Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi yang disaksikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati serta Perwakilan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Firdaus Djaelani dan Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Ridwan Hassan.

Dalam ‘joint declaration’ ini, Indonesia dan Swiss menyatakan kesepakatan untuk saling bertukar informasi rekening keuangan secara otomatis sesuai dengan Common Reporting Standar mulai tahun 2018 dan pertukaran pertama akan dilakukan pada tahun 2019.

Sri Mulyani mengatakan penandatanganan dengan Swiss menandakan berakhirnya era kerahasiaan penyimpanan uang dari pajak. Selama ini Swiss dikenal sebagai salah satu pusat keuangan terbesar dunia dan mendapat julukan salah satu negara surga pajak.

"Penandatanganan hari ini simbol sangat penting, sinyal kuat bagi para financial center seluruh dunia, bahwa tempat penyimpanan pajak sudah berakhir, era kerahasiaan berakhir," kata Sri Mulyani kepada wartawan, Selasa (4/7).

DUTA BESAR Swiss untuk Indonesia, Yvonne Baumann, mengatakan,  Swiss memiliki kepentingan untuk ikut menerapkan transparansi keuangan. Dia juga berharap perjanjian ini juga dapat menjadi pintu penguatan kerja sama Indonesia - Swiss dalam isu keuangan lain. "Ini adalah kemajuan besar untuk menerapkan keterbukaan informasi keuangan," kata Yvonne.

Itu artinya yang dikejar bukan hanya pajak dari penghasilan resmi, melainkan juga aset-aset  yang tidak jelas asal usulnya.

"Penandatanganan ‘joint declaration’ ini menunjukkan komitmen pemerintah Swiss untuk mengimplementasikan standar internasional dalam hal transparansi perpajakan. Hal ini juga sejalan dengan strategi pemerintah Swiss di bidang keuangan yang kompetitif dan berintegritas tinggi," ungkap Yvonne pada sambutannya.

Selain Swiss, negara-negara lain yang sangat penting bagi Indonesia untuk bertukar informasi adalah Singapura, Hongkong, Macau, United Kingdom, Amerika, dan Australia dimana negara-negara tersebut merupakan pusat keuangan yang bisa dijadikan tempat penghindaran pajak.

Jumat 16 Juni 2017 lalu, Pemerintah Indonesia dan Hong Kong menandatangani Bilateral Competent Authority Agreement (BCAA) di Kantor Pusat Ditjen Pajak Hong Kong (Inland Revenue Department/IRD). Penandatanganan dilakukan langsung oleh kedua petinggi otoritas pajak Indonesia yaitu Dirjen Pajak RI Ken Dwiguisteadi dan Dirjen Pajak Hong Kong Richard Wong Kuen Fai, yang didampingi oleh Direktur Perpajakan Internasional John Hutagaol, Konsul Jenderal RI di Hong Kong Tri Tharyat dan Deputy Commissioner Brian Chiu Kwok-Kit.

“Penandatangan BCAA ini merupakan yang pertama bagi Indonesia dengan negara lain terkait pertukaran informasi secara otomatis,” ujar John kepada DDTCNews.

SINGAPURA merupakan salah satu negara yang tengah dibidik oleh pemerintah Indonesia untuk perjanjian bilateral AEoI - Automatic Exchange of Information:  pelaksanaan pertukaran informasi secara otomatis. Sebab, banyak WNI yang diduga menyembunyikan hartanya di Singapura. Pada 2014 silam, Budi Gunadi Sadikin yang ketika itu menjabat Direktur Utama Bank Mandiri memperkirakan total dana WNI yang tersimpan di perbankan Singapura berjumlah lebih dari Rp 3.000 triliun.

Sebelumnya pemerintah pun telah menandatangani perjanjian dengan Tiongkok, Hong Kong dan puluhan negara lain yang telah menerapkan AEoI. Selanjutnya, pemerintah berharap segera menandatangani kesepakatan akses keterbukaan informasi dengan Singapura.

"Saya yakin mereka (Singapura) syaratnya sama dengan Swiss dan Hong Kong. Kalau Hong Kong siap, Singapura juga harus siap," kata Sri Mulyani.

Pemerintah Singapura telah sepakat mengikuti kerja sama pertukaran data secara otomatis AEoI. Namun, pemerintah negeri singa hanya akan menjalankan kerja sama itu melalui perjanjian bilateral dengan negara-negara yang dianggap memenuhi syarat.

Kehadiran Prabowo dan panggung yang diberikan untuknya berpidato, beberapa waktu lalu,  sebenarnya menunjukkan Singapura yang sedang resah. Potensi baliknya duit orang Indonesia ke Tanah Air - dari negeri mini ini - membuat  mereka ketar ketir.  Mau tak mau mereka berharap pada Prabowo.

PRESIDEN JOKOWI menyebut, Indonesia sebenarnya punya banyak uang. Namun, tak sedikit pula pengusaha atau konglomerat yang justru memilih untuk menyimpan uangnya di luar negeri.

"Bukan uang siapa-siapa, itu uang kita. Ada yang ditaruh di bawah bantal. Saya tahu, ada yang ditaruh di bank Swiss, ada yang ditaruh di Hongkong, ada yang ditaruh di BPI, ada yang ditaruh di Singapura. Datanya ada di kantong saya," kata Presiden Jokowi dalam sosialisasi Tax Amnesty di Sumatera Utara seperti ditulis situs Setkab di Jakarta pada Juli 2016 lalu.

Jokowi mengingatkan kepada pengusaha dan orang Indonesia bahwa mereka hidup dan makan di Indonesia, serta bertempat tinggal di Indonesia. Para pengusaha juga diberi kemudahan oleh pemerintah mencari rezeki di Indonesia. Karena itu, Presiden menilai, kalau ada uang ditempatkan di luar negeri (merupakan) tidak pantas.

PERJANJIAN kerjasama Indonesia - Swiss sepenuhnya keputusan politik – sepenuhnya keputusan presiden Jokowi dan tim ekonominya.  Bisa jadi aksi nyata, bisa cuma dokumen mati yang tak berbunyi alias ‘macan kertas’ - bergantung pada integritas pelaksanaannya.

Para patriot pembela tanah air, dan mereka yang berintegritas,  bisa mewujudkannya menjadi aksi nyata, dengan segela kesungguhan dan kegigihan.  Presiden Jokowi, DR Sri Mulyani dan tim ekonomi yang sering diejek ‘medioker’ oleh kubu lawan – dengan dukungan sebagian anggota DPR RI yang berintegritas  -  terus memastikan agar dana luar negeri itu bisa ditarik kembali.

Sedangkan politisi kubu lawan boleh jadi diam diam malah mencegahnya.  Atau menguasai untuk kepentingan mereka.

Karena itu, rakyat harus waspada dan bisa memilih mana presiden yang berintegritas dan mana calon presiden yang pura pura mau berantas korupsi tapi justru melindunginya, lewat demo bernuansa SARA dan mengobarkan serangan bersenjata di ujung negeri.  ***

https://www.cnbcindonesia.com/market/20181213162744-17-46282/siap-siap-wni-tak-bisa-lagi-sembunyikan-uang-di-swiss
.
.
.
Dewa Aruna

-----+-------

Gelar Konser Daring Spesial Edisi Hari Lahir Soekarno, Gibran Sapa dan Dengarkan Keluhan Warga Baron Cilik yang Nonbar dari Kampung

SOLO--Warga RT 1 RW 2 dan RT 2 RW 1 Panularan, beserta warga
RT 1-3 RW 7 Kelurahan Bumi menggelar nonbar (nonton bareng) acara seni hiburan daring Inaugurasi Panglipur Ati Vol. 3 yang bertema hari lahir Sang Proklamator dari kampung masing-masing, Sabtu (6/6/2020).

Tampak di lokasi terdapat relawan Kagege (Kancane Gibran Gees) yang sudah berada di tempat sembari mengedukasi masyarakat sekitar terkait penanggulangan Covid-19. Relawan turut membagikan masker dan menyediakan tempat cuci tangan di lokasi acara.

Sekitar pukul 15.00 WIB saat acara Panglipur Ati dimulai, warga pun menempati kursi yang telah ditata berjarak dan tetap menerapkan protokol kesehatan, tertib mengenakan masker dan melakukan physical distancing.

Panglipur Ati dibuka oleh Gibran dengan membaca puisi dedication of life milik Bung Karno dan dilanjutkan aksi pertunjukan wayang golek dari @yayasan_slenkgroup. Demo masak resep khas masakan yang digemari Bung Karno seperti sayur lodeh, telur ceplok, ikan asin, jadah ketan, olahan singkong dan gethuk bakar juga ditampilkan pada acara ini.

Gibran turut menyapa langsung warga Baron Cilik yang sedang nonbar Panglipur Ati, pemilik brand Tugas Negara Bos itu menanyakan bagaimana keadaan warga selama pandemi.

Ari selaku Ketua RT 1, RW 2 Panularan mengutarakan kegiatan usaha banyak yang macet.

Yayuk selaku kader posyandu balita dan lansia pun menyampaikan permohonan bantuan terkait pengadaan alat kelengkapan posyandu, peningkatan gizi dan permainan edukasi anak.

"Nggih Bu, permasalahan yang Ibu utarakan sering saya dengar saat blusukan dulu. Terkait masalah tersebut sudah saya catat dan coba saya carikan solusinya," ujar Gibran.

Warga pun tampak menikmati acara Panglipur Ati #DariRumahAja. Performer yang tampil pada konser daring kali ini adalah Endah Laras, Fisip Meraung, Wayang Slenk Group, Batikabstract Pandono, Romanz Pitu, Natic.motion, dan Dwisurni.

Warga Baron Cilik turut mendapat bantuan paket sembako dari Gibran sebanyak 210 bingkisan yang disalurkan melalui perangkat RT setempat.


*Lilmar*

-----+-------

*Suara dari seorang Gurubesar UI :*I
_(Rhenald Kasali)_

*Hidup zaman sekarang jauh lebih enak.*

 Sy bingung kl ada yg bilang enak zaman dulu.  Juga bingung kl dikatakan ekonomi susah. Yg susah kan cuma tinggal preman, koruptor dan politisi2 yg tak terpilih lagi oleh rakyat.

 Ngga tahu ya bagaimana takutnya kita sbg mahasiswa, dulu waktu kita dikejar2 intel, ngumpet di kamar jenazah, mau menyatakan pendapat susahnya minta ampun. Itu saat negeri dikuasai oknum diktatur militer. Ngeri...

Cari seribu perak saja saat itu susah sekali. Cuma krn dulu gak ada WA dan FB kita gak saling komen. Lagian kl mengeluh ya besoknya dah hilang diciduk aparat. Ngeri...

Naik bis ngga ada yg ada AC nya. Copetnya ada dimana2. Bahkan pada bawa sangkur. Kita penumpang bis dulu biasa dirogoh dan diperas copet dan begal.

Preman di setiap sudut jalan.

Untuk bisa Makan paling2 sama krupuk dan sudah top kl dapat sop kaki kambing. Itu baru bisa kite makan bbrp bulan sekali.

Mudik, ampun...susahnya setengah mati. Naik kereta semua orang rebutan sampai masuk lewat jendela dan bawa kardus2 bau ikan asin, bukan koper. Toiletnya kotor.  Anak2 kegencet-gencet. Tak ada celah kosong. Orang tidur sambil berdiri. Calonya juga banyak. Uang THR habis diembat calo dan copet.

Di kampung2, dulu, ada babinsa yg galaknya minta ampun. Lurah2 juga korup. Bupatinya harus tentara. Kita apa2 harus urusan sama tentara.  Ada litsus dll. Di jalanan tentara galaknya minta ampun. Kita ambil jalan mereka, habis kita digamparin. Lewat komplek tentara serem sekali.

Koran2 sering dibredel. Lalu puncaknya waktu anak2 mahasiswa sudah gak tahan gegara mertua kawan kita mau terus jadi raja, maka penculikan2 terjadi. 

Banyak mahasiswa2 saya yg hilang. Orangtua menangis. Mereka bukan cuma ditembak aparat. Tetapi juga di-injak2 dgn sepatu lars dan  nyawanya meregang. Mereka juga dihadapkan dgn laskar2 berjubah, muncul pasukan berjubah agama yg menyerang mahasiswa pakai bambu runcing. Penjarahan dibiarkan. Banyak orang hilang.

Kekerasan itu adalah bagian dari sesuatu yg awalnya adalah intoleransi. Jangan biarkan itu terulang lagi di negeri yg sudah diperbaiki oleh para ulama dan umaroh hebat. GUS Dur sdh mengembalikan militer ke barak untuk fokus ke pertahanan dan keamanan. Tentara zaman sekarang sdh jauh lbh manusiawi dan punya tantangan baru, yaitu perang proxy.

Sekarang para oknum yg dulu gagal melanjutkan kekuasaannya secara diktatur mencoba kembali.  Tentu mereka senang mengendalikan orang2 lugu dan mereka yg mudah dimanipulasi dgn "sorga"
Tetapi janganlah kita mudah tertipu, sahabat. Sebab apapun yg datang dari Allah pasti adalah kelembutan  dan kasih sayang, bukan amarah atau meng-anjing-anjingkan manusia. Bukan yg "keras" dan menakut2i. Juga bukan yang haus kuasa dan korup.

Bahkan mereka kini memakai teknologi internet. Menyerang TGB dan ustadz2 baik.  Menyerang Jokowi, Sri Mulyani, Susi, Adi MS, Rudiantara, BUMN, Maruf Amin dll

Orang2 baik ini diserang pakai bot dan robot, pakai "senjata pemusnah massal" hoax.  Pakai segala yg serba palsu.

Kita semua ditakut-takuti. Seakan2 besok Indonesia tak ada lagi. Se-akan2 jadi sopir ojol itu pekerjaan budak dan bodoh, seakan2 kita semakin miskin. Semua kemajuan dianggap kemunduran.

Faktanya kita justru tengah menuju negara yg makmur. Daya beli meningkat, ketimpangan turun, harga2 terkendali, banyak yg semakin murah. Tetapi memang banyak yg berubah, orang sekarang lebih senang pindah2 kerja shg kesannya banyak yg nganggur. Padahal mereka lebih punya pilihan jrn orangtua mereka lbh kaya dari orangtua kita dulu.

Taksi dulu hanya ada yg seratus ribuan yg silver dan gold. Sekarang ada ribuan taksi yg ongkosnya hanya ribuan perak.

Dulu bini kita beli kerudung cepek dapat satu, sekarang bisa dapat 4 gegara bisnis online dibuka pemerintah.

Dulu kl orang jakarta naik mobil ke Surabaya  butuh 15-20 jam. Sekarang cukup 8 jam. Airport2 baru cakep2. Pelabuhan juga keren2. Sekolah2 tak terdengar lagi yg roboh krn koruptor disikat habis. PNSnya sdh digaji lbh baik, kontrolnya jauh lbh kuat.

Dulu kita malu kalo ngaku jadi orang Indonesia pas jalan2 ke luar negri. Orang asing memandang kita rendah. Miskin prestasi. Jalanannya buruk, ambles, macet, banyak lubang, gak menarik.

Jembatannya dulu juga sempit2 dan reyot sampai2 anak2 sekolah harus bergelantungan mengerikan. Jalan tol cuma bisa dibuat di jabodetabek dan sebagian kecil pulau jawa.  Itupun banyak yg sampai 20 tahun gak kelar2.

Korupsinya menggunung. Sebab  Anak2 presiden, dulu  ngambil proyek2 besar scr serakah dan bekerjasama dgn para kroni2nya. Merekalah yg menjadi rolemodel awal para koruptor. Mereka merusak nilai2 bangsa.

Militer juga dulu sangat berkuasa, dan selalu maunya punya presiden dari militer. Seakan2 tak ada pemimpin sipil. Maka kita dipandang sejajar dengan Uganda di era Idi Amin atau Irak di era Jendral Sadam Husen. Dianggap diktatur militer.  Duh, malu deh zaman itu...  efeknya masih ada smp sekarang, setiap kali sipil menjadi presiden, kok selalu dikatain PKI... ada apa ini?

Sekarang bangsa kita dibawah Jokowi sudah muncul sbg kekuatan baru yg nyata di dunia. Orang sipil berbadan kecil dan sdh merasa cukup dengan makan sedikit tapi semangat membangunnya begitu kuat. Freeport tunduk, Singapura takut, Swiss mau tandatangan untuk kembalikan harta2 kita yg disimpan para koruptor di sana. Malaysia kembali memandang RI.  Bahkan di Asian Games kita bisa unjuk prestasi. Anak2 muda kita semakin menonjol dengan inovasi sejak diberi ruang lewat Bekraft dan sering dikunjungi presiden. Bahkan produk2nya dipromosikan beliau.

Banggalah punya pemimpin yg meski dia orang sipil, tetapi dia adem, ibadahnya jelas, puasanya disaksikan ustad Yusuf Mansur, kerja keras buat kita, dan hasilnya nyata.   

Sahabat, Hanya orang2 baguslah yg selalu ditakuti para diktator dan koruptor.

Hanya karena dia diperhitungkanlah maka dia dikirim rumor dan hoax yg ngga2. Mereka yg mentereng hanya berani dari semak2  benar2 terlalu kerdil, mentang2 tak punya prestasi kini  membual dan memutarbalikkan fakta2.

Hidup ini begitu indah dan akan ada banyak hal indah yg bisa kita nikmati kalo negri ini damai dipimpin pemimpin yg adem, optimis, rendah hati dan mau mendengarkan.... itu sebabnya mata batin kita tertuju pada *Jokowi*.
 Tuhan selalu menjaga orang2 baik... Amiiinn...🙏🇲🇨🙏

Perbankkan Kuat Di Indonesia

*_Perbankan Kuat, Masyarakat Tak Perlu Khawatir Isu Rush Money_*

Masyarakat diminta tidak khawatir terhadap kondisi perbankan di tengah pandemi corona seperti saat ini. Terlebih sampai menarik uang secara berlebihan di perbankan.

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono menyatakan, saat ini kondisi perbankan nasional masih cukup kuat. Terlebih pemerintah telah menyiapkan bank jangkar untuk memperkuat likuditas perbankan.

"Bank nasional tetap dalam kondisi sehat saat ini. Apalagi pemerintah segera menyalurkan likuiditas atau penempatan dana kepada bank pelaksana melalui bank peserta (bank jangkar)," kata dia kepada Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (13/6/2020).

Menurut Paul, dengan kondisi perbankan yang masih kuat, maka masyarakat bisa tetap tenang menyimpan uangnya di perbankan. Selain itu, pengawasan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dinilai sudah baik meski tetap perlu ditingkatkan.

"Jadi masyarakat tak perlu khawatir dengan isu rush money. Pengawasan OJK selama ini sudah baik," ujarnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4278455/pengamat-kondisi-perbankan-kuat-masyarakat-tak-perlu-khawatir-isu-rush-money

Utang Negara Yang Diberesin Oleh Jokowi

Analisis Peter F Gontha : Beban Hutang Negara Era Jokowi Hanya 16 T Bukan 5.000 T https://projustisianews.id/analisis-peter-f-gontha-beban-hutang-negara-era-jokowi-hanya-16-t-bukan-5-000-t/

*Makin banyak Rakyat Indonesia yang pintar, lalu sadar kalau selama ini mereka di bohongi pembenci2 Jokowi ( yang di support para koruptor2 ) yang sering  memberi data hoax*

*Ini data yang benar* 👇🏼👇🏼

*Jokowi berutang Rp1.644 T, tetapi mampu membayar utang Rp 1.628 T. Artinya, utang Jokowi sejatinya cuma Rp16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya.*

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Salah satu tuduhan haters yang tersebar di media sosial adalah Jokowi membuat Indonesia ketiban utang raksasa. Bayangkan, utang Indonesia hampir mencapai Rp5.000 Triliun ( lima ribu trilyun ). Demikian komentar orang-orang yang notabene tidak suka sama Jokowi dan termakan isu bodoh dan hoax.

Salah satu yang termakan isu ini adalah sopir Grabcar di Bekasi. Ia memaki-maki Jokowi melalui media sosial. Seorang advokat di Cikampek, Elyasa SH, mengumbar kebencian terhadap Jokowi dengan menulis utang negara 5.000 T tadi. Tohir, seorang da’i di Lampung – teman Elyasa di Yogya – melakukan hal sama. Indonesia, menurutnya, akan bangkrut di tangan Jokowi karena utang yang sundul langit.

Benarkah demikian ?

Peter F. Gontha, pengusaha sukses – pendiri RCTI, SCTV, Berita Satu, Indovision, dan First Media – menyodorkan data dan fakta bahwa Indonesia di era Jokowi tidak akan bangkrut bahkan akan melejit perekonomiannya, karena Jokowi bukan penumpuk utang. Malah, dialah Presiden yang menurunkan utang Indonesia.

Gontha, di awal tulisannya, menyebutkan: Di dunia ini, ada tiga negara yang terancam bangkrut pada 2018 karena krisis moneter, yaitu: Turki, Venezuela, dan Malaysia.

Seperti dilansir Reuters, Menteri Keuangan Malaysia Lim Guang Eng menjelaskan, total utang Malaysia mencapai 1.087 triliun ringgit (sekitar Rp3.500 T) pada 31 Desember 2017. Konon, utang tersebut berhilir pada kasus mega korupsi mantan Perdana Menterinya (PM) Najib Razak beserta istrinya.

Nasib perekonomian Negeri Jiran pun di ujung tanduk. Warga Malaysia membuat gerakan aksi melunasi utang dengan cara iuran atau patungan. Ini dilakukan melalui sebuah situs crowdfunding. Di samping itu, PM Mahathir Mohamad memotong gaji para Menteri dan anggota parlemen seluruh negara bagian sebesar 10% untuk mengurangi utang yang mencapai 1.087 T Ringgit itu.

Betul. Utang Indonesia lebih besar dari Malaysia. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, pada akhir April 2018, jumlah utang luar negeri (ULN) berada di angka 356,9 Miliar USD. Sekitar Rp5.000 T.

Pertanyaannya: Kenapa Malaysia terancam bangkrut, sementara Indonesia tidak? Demikian pertanyaan Gontha. Pria yang mendapat julukan “Rupert Murdoch” Indonesia (karena memiliki media massa) itu, menjawab sendiri pertanyaannya.

Menurut Gontha – hal itu terjelaskan dari rasio utang negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Utang Malaysia memang hanya Rp3.500 triliun. Tapi rasionya terhadap PDB lebih dari 60%. Sebaliknya Indonesia, meski berutang hingga Rp5.000 T, namun rasio utangnya terhadap PDB hanya 29%.

“Dengan rasio utang yang lebih dari 60% PDB, Malaysia akan sulit membayar cicilan utangnya. Hal ini akan membawa efek berantai kondisi moneter Malaysia,” tulis mantan akuntan di City Bank New York itu.

Tahun-tahun sebelumnya Malaysia jarang sekali punya utang lebih dari 300 Miliar Ringgit. Utang yang mencapai 1.087 Triliun Ringgit itu terjadi akibat dugaan kasus korupsi di 1MDB (1 Malaysia Development Berhad). 1MDB adalah semacam BUMN yang didirikan mantan PM Najib Razak untuk menghimpun dana pembiayaan proyek infrastruktur Malaysia.

Turki nyaris bangkrut karena pemborosan dan salah kalkulasi, sedangkan Venezuela bangkrut karena dulu, di zaman Hugo Chavez terlalu meninabobokan rakyatnya dengan subsidi macam-macam yang berasal dari petro dolar.

Akibatnya, ketika harga minyak jatuh, negeri itu pun ambruk. Keuangan negara ambles. Rakyat marah karena harga-harga melejit. Dunia internasional tak mempercayainya lagi.

Indonesia Hebat!!

Tulis Gontha: Ada yang salah dari kritik oposisi terhadap utang pemerintah. Mengapa? Karena cerita balutan utang yang dikritik oposisi hanya menekankan kata “utangnya saja” tanpa penjelasan komprehensif. Oposisi hanya mengkritik sisi kritisnya, sedangkan sisi prospeknya disembunyikan.

Soal utang negara, tulis Gontha, sepanjang pemerintahan Jokowi tercatat sekitar Rp1.644,22 T. Bila utang Era Jokowi tadi ditambah dengan utang Era SBY (sampai tahun 2014 sebesar Rp2.608,8 T), memang jumlahnya besar sekali. Per-Juli 2018, tercatat Rp4.253,02 T.

Jadi, utang Jokowi hanya Rp 1.644,22 T. Tapi oposisi mengangkatnya menjadi Rp5.000 T. Padahal, jika cermat hitung-hitungannya, utang Jokowi jauh lebih kecil dibanding utang SBY.

Pertanyaan berikutnya – tulis Gontha – manfaat apa yang dirasakan rakyat dari utang Era Jokowi?

Ini Jawabannya

Pembangunan I infrastruktur secara massif di seluruh Indonesia! mulai infrastruktur air, pertanian, listrik, BBM (satu harga), dan jalan raya. Semua wilayah terisolasi dibuka. Jokowi membuka gerbang konektivitas seluruh nusantara. Mulai dari wilayah terpencil, termasuk perbatasan (dengan negara lain), dan wilayah terdepan di pulau-pulau kecil di tengah Samudera Hindia dan Pasifik.

Tak hanya itu. Ada yang luput dari perhatian publik. Jokowi selain menambah utang, juga membayar utang yang jumlahnya cukup besar.

Total utang jatuh tempo dari 2014 (Era SBY) hingga 2018 (Era Jokowi) yang dibayar pemerintah mencapai Rp1.628 T. Utang yang dibayar ini merupakan pinjaman dan surat berharga negara (SBN).

Pada tahun 2014 Pemerintahan Jokowi membayar utang jatuh tempo Rp237 T. Tahun 2015 sebesar Rp226,26 T. Tahun 2016 sejumlah Rp322,55 T. Tahun 2017 sebesar Rp350,22 T. Bahkan tahun 2018 di tengah isu miring, Jokowi membayar utang senilai Rp492,29 T.

*Jokowi berutang Rp1.644 T, tetapi mampu membayar utang Rp 1.628 T. Artinya, utang Jokowi sejatinya cuma Rp16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya.*

Bandingkan dengan utang tinggalan SBY selama 10 tahun yang mencapai Rp2.608.8 Triliun.

Mengapa Era SBY utangnya demikian besar? Karena untuk menyubsidi BBM Rp300 Triliun/tahun. Belum lagi rente yang dicatut broker minyak Petral di Singapura. Kedua kanker tersebut telah dipotong Jokowi.

Gontha – akuntan handal lulusan Praehap Institute di Belanda itu bertanya, apakah hal itu bisa disebut gali lubang tutup lubang? Tidak. Hanya pebisnis anak papi dan mami yang menyatakan pemerintah berutang untuk gali lubang tutup lubang – tulis mantan Vice Presiden American Express Bank Asia yang mulai berbisnis dari bawah itu.

Jokowi, sebelum jadi presiden adalah pengusaha handal. Ia bukan pengusaha rente. Bukan pengusaha papa minta saham.

Hidup dalam berbisnis, tulis Gontha, perlu modal. Dan modal didapat dari utang. Dengan berutang, pelaku bisnis bisa membeli aset, atau alat penggerak usaha. Hasilnya bisa untuk membayar utang.

Lihat driver gojek. Awalnya berutang untuk beli motor. Motor itu untuk ojek online (ojol). Pendapatannya dari ojol bersih, katakan antara Rp5 – 8 juta sebulan. Ia bisa menghidupi anak istrinya dan melunasi cicilannya. Motor pun kemudian jadi aset sang driver.

Itu pula yang dilakukan negara. Asal kalkulasinya cermat, utang itu akan terbayar dan negara punya aset. Hebatnya lagi, tidak seperti motor yang nilai intrinsiknya terus turun dari tahun ke tahun. Jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan bandara nilai intrinsiknya makin lama makin mahal. Negara pun berlimpah aset berharga. Kaya!

Jokowi selama 4 tahun mampu membayar utang Rp1.628 Triliun. Jokowi berjanji tidak akan menambah utang lagi, khususnya utang luar negeri berbasis USD. Jokowi juga menginginkan semua pembangunan infrastruktur rampung secepatnya. Artinya, infrastruktur tersebut segera menghasilkan uang.

Kalau dalam 4 tahun Jokowi bisa membayar Rp1.628 triliun. Lalu setiap tahunnya pendapatan negara meningkat karena infrastruktur yang dibangunnya telah menghasilkan uang, maka besar kemungkinan Indonesia bisa membayar utang lebih besar dari angka jatuh tempo sebelumnya.

Bila itu terjadi, tulis Gontha (akuntan kaliber internasional), sekitar 10 tahun lagi, Indonesia akan bebas utang. Wow..!! Bila tercapai, Indonesia akan tumbuh menjadi negara kuat dan makmur. (Sumber: KAGAMA)

PDIP dan Harimau Jokowi

ADA APA DENGANMU PDIP?

Oleh: Saiful Huda Ems.

Partai pemenang rasa oposisi. Begitulah kira-kira kata yang pas untuk menggambarkan situasi politik saat ini di tubuh partai pemenang PEMILU 2014 dan 2019, yakni PDIP yang telah sukses menempatkan Jokowi sebagai Presiden RI selama dua periode.

Maestro debator PDIP Adrian Napitupulu mendadak dipanggil ke istana oleh Presiden Jokowi (Jum'at 12 Juni 2020) siang ini, untuk keperluan apa? Tentu kalau boleh penulis menebaknya, yakni sehubungan dengan kritik-kritik keras dan tajam Adrian yang akhir-akhir ini ditujukan untuk Pemerintah wabil khusus Menteri BUMN Erick Tohir.

Adrian sebagaimana pengakuannya sendiri merupakan sekrup kecil dari kampanye besar tim sukses Jokowi, mulai dari pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI hingga sebagai Capres RI 2014 dan 2019 lalu. Dan ia sangatlah pasti tidak akan berani bicara bersebrangan dengan Megawati penguasa PDIP. Maka suara Adrian dapat dipastikan merupakan suara Megawati atau suara PDIP.

Perseteruan antara Adrian dan Erick Tohir ini mau tidak mau, suka tidak suka akan melibatkan Presiden Jokowi juga. Dan ketika Erick Tohir sebagai menteri merupakan pembantu Presiden, maka perseteruan antara Adrian dan Erick merupakan perseteruan antara PDIP dengan Presiden Jokowi. Prihatin sekali bukan?.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa BUMN selama puluhan tahun telah dijadikan medan jarahan utama elit-elit Parpol, dan ketika Presiden Jokowi melalui Erick Tohirnya ingin membersihkan mafia-mafia di dalamnya, mungkinkah Jokowi mulai diserang, bahkan oleh partai pengusung pencapresannya dan mantan tim suksesnya sendiri?.

Apakah karena ada makelar-makelar politik parpol yang selama ini ditugaskan menjarah di BUMN yang akan dan sudah terkena tendangan Jokowi melalui Erick hingga PDIP meradang? Ataukah hanya masalah perbedaan sudut pandang mengenai pengelolaan BUMN saja, hingga perseteruan ini bisa terjadi?

Jika persoalan yang sesungguhnya hanyalah masalah perbedaan sudut pandang mengenai pengelolaan BUMN, kita sebagai rakyat harus berani mengapresiasinya, karena ini sebuah pertanda Jokowi dengan partai pengusungnya yakni PDIP telah mengajarkan tentang berdemokrasi yang indah, dimana setelah jadi Presiden loyalitas ke partai pengusungnya berhenti dan berganti ke rakyat, hingga Presiden tak segan-segan memilih jalan yang berbeda dengan kemauan partainya.

Namun jika sebaliknya yang terjadi, yakni perseteruan baru ini muncul dikarenakan adanya pihak-pihak (elit parpol PDIP) merasa tersakiti karena adanya pembersihan mafia di BUMN dan mereka kena dampaknya, kita sebagai rakyat harus berani bertanya pada PDIP, ada apa denganmu?. Meski demikian tentu untuk sementara kita sebagai rakyat harus bisa berprasangka baik terlebih dahulu pada keduanya, sebelum fakta baru kita temukan nantinya, sesungguhnya yang benar terjadi itu bagaimana.

Keadilan tidak memandang kamu siapa tapi kamu berbuat apa. Dan sampai kini kita belum tau percisnya, Erick atau kader-kader PDIP yang bandel pada instruksi Presiden, atau Presiden itu sendiri yang sudah tidak fokus bekerja hingga kabur wawasan kerakyatannya dan "diinterupsi" oleh partai pengusungnya.

Sabar...mari kita tunggu jalannya peristiwa politik mutakhir ini sampai akhir. Jangan kemana-mana, tetap loyal dan setia pada Pancasila dan Konstitusi Negara serta NKRI. Jangan mudah terhasut dan terbawa makelar-makelar politik Kadrun yang sudah siap mengganti Pancasila dengan Sistem Khilafah. Tetap lindungi Pemerintahan Jokowi, namun jika sudah terlihat melenceng ya mari kita ingatkan bersama. Kritik itu sehat, makar itu harus disikat !...(SHE).

12 Juni 2020.

Saiful Huda Ems (SHE). Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.

Tags

Analisis Politik (275) Joko Widodo (150) Politik (106) Politik Baik (64) Berita Terkini (59) Pembangunan Jokowi (55) Jokowi (52) Lintas Agama (31) Renungan Politik (31) Perang Politik (29) Berita (27) Ekonomi (25) Anti Radikalisme (24) Pilpres 2019 (23) Jokowi Membangun (22) Perangi Radikalisme (22) Pembangunan Indonesia (21) Surat Terbuka (20) Partai Politik (19) Presiden Jokowi (19) Lawan Covid-19 (18) Politik Luar Negeri (18) Bravo Jokowi (17) Ahok BTP (14) Debat Politik (14) Radikalisme (13) Toleransi Agama (12) Caleg Melineal (11) Menteri Sri Mulyani (11) Perangi Korupsi (11) Berita Hoax (10) Berita Nasional (9) Education (9) Janji Jokowi (9) Keberhasilan Jokowi (9) Kepemimpinan (9) Politik Kebohongan (9) Tokoh Dunia (9) Denny Siregar (8) Hidup Jokowi (8) Anti Korupsi (7) Jokowi Hebat (7) Renungan (7) Sejarah Penting (7) Selingan (7) Ahok (6) Health (6) Perangi Mafia (6) Politik Dalam Negeri (6) Gubernur DKI (5) Jokowi Pemberani (5) KPK (5) Khilafah Makar (5) Kisah Nyata (5) Lawan Radikalisme (5) NKRI Harga Mati (5) Negara Hukum (5) Partai PSI (5) Pengamalan Pancasila (5) Pilkada (5) Refleksi Politik (5) Teknologi (5) Anti Teroris (4) Bahaya Khalifah (4) Berita Baru (4) Dugaan Korupsi (4) Indonesia Maju (4) Inspirasi (4) Kebudayaan Indonesia (4) Lagu Jokowi (4) Mahfud MD (4) Menteri Pilihan (4) Pancasila (4) Pendidikan (4) Pileg 2019 (4) Politik Identitas (4) Sejarah (4) Tokoh Masyarakat (4) Tokoh Nasional (4) Vaksin Covid (4) Adian Napitupulu (3) Adudomba Umat (3) Akal Sehat (3) Analisa Debat (3) Artikel Penting (3) Atikel Menarik (3) Biologi (3) Brantas Korupsi (3) Covid-19 (3) Demokrasi (3) Dewi Tanjung (3) Hukum Karma (3) Karisma Jokowi (3) Kelebihan Presiden (3) Kesaksian (3) King Of Infrastructur (3) Lagu Hiburan (3) Makar Politik (3) Melawan Radikalisme (3) Musibah Banjir (3) Nasib DKI (3) Nasihat Canggih (3) Negara Maju (3) Negara Makmur (3) Nikita Mirzani (3) PKN (3) Pembubaran Organisasi (3) Pemilu (3) Pendidikan Nasional (3) Pendukung Jokowi (3) Penegakan Hukum (3) Poleksos (3) Politik Adudomba (3) Rekayasa Kerusuhan (3) Rencana Busuk (3) Revisi UUKPK (3) Sederhana (3) Tanggung Jawab (3) Testimoni (3) Tokoh Revolusi (3) Waspada Selalu (3) Ada Perubahan (2) Agenda Politik (2) Akal Kebalik (2) Akal Miring (2) Anggaran Pemprov (2) Antusias Warga (2) Arsitektur Komputer (2) Basmi Mafia (2) Basmi Radikalisme (2) Beda Partai (2) Berita Internasional (2) Budiman PDIP (2) Capres Cawapres (2) Cinta Tanah Air (2) Dasar Negara (2) Denny JA (2) Erick Thohir (2) Etika Menulis (2) Filsafat (2) Fisika (2) Free Port (2) Gerakan Budaya (2) Gereja (2) Himbauan (2) Information System (2) Isu Sara (2) Jaga Presiden Jokowi (2) Jalan Toll (2) Jenderal Pendukung (2) Jihat Politik (2) Jokowi Commuter (2) Jokowi Guru (2) Jokowi Motion (2) Kabinet II Jokowi (2) Kasus Hukum (2) Kasus Korupsi (2) Kehebatan Jokowi (2) Kemajuan Indonesia (2) Kemanusiaan (2) Kerusuhan Mei (2) Komputer (2) Komunikasi (2) Kriminalisasi Ulama (2) Langkah DPRD-DPR (2) Lawam Penghianat Bangsa (2) Lawan Fitnah (2) Mafia Indonesia (2) Media Sosial (2) Menteri Susi (2) Merakyat (2) Miras (2) Motivasi (2) Nilai Rupiah (2) Olah Raga (2) Opini (2) Pembangunan Pasar (2) Pemimpin Pemberani (2) Pengadilan (2) Pengatur Strategi (2) Penjelasan TGB (2) Penyebar Hoax (2) Perangi Terroriis (2) Pidato Jokowi (2) Political Brief (2) Politik ORBA (2) Program Jokowi (2) Raja Hutang (2) Ruang Kesehatan (2) Sampah DKI (2) Selengkapnya (2) Sertifikat Tanah (2) Simpatisan Jokowi (2) Suka Duka (2) Sumber Kekuasaan (2) Survey Politik (2) Tegakkan NKRI (2) Tenaga Kerja (2) Tirta Memarahi DPR (2) Toll Udara (2) Transparan (2) Ucapan Selamat (2) Ulasan Permadi (2) Ultah Jokowi (2) Undang Undang (2) Adek Mahasiswa (1) Aksi Gejayan (1) Aksi Makar (1) Alamiah Dasar (1) Ancaman Demokrasi (1) Andre Vincent Wenas (1) Anggarana Desa (1) Anies Dicopot (1) Ansor Banten (1) Antek HTI (1) Anti Cina (1) Anti Terrorris (1) Anti Vaksin (1) Anti Virus (1) Arti Corona (1) Aset BUMN (1) Atheis (1) BIN (1) BTP (1) Bahasa Indonesia (1) Bahaya Isis (1) Bangkitkan Nasionalisme (1) Bangsa China (1) Bank Data (1) Bantu Dishare (1) Basuki Tjahaya Purnama (1) Bawah Sadar (1) Bencana Alam (1) Berani Karena Jujur (1) Berani Melapor (1) Binekatunggal Ika (1) Bintang Mahaputera (1) Bisnis (1) Bongkar Gabeneer (1) Bravo Polri (1) Bravo TNI (1) Breaking News (1) Budiman Sujatmiko (1) Bumikan Pancasila (1) Bunuh Diri (1) Busana (1) Buya Syafii Maarif (1) Calon Menteri (1) Cari Panggung Politik (1) Cctvi Pantau (1) Cendekia (1) Croc Brain (1) Cudu Nabi Muhammad (1) Cybers Bots (1) Daftar Tokoh (1) Dagang Sapi (1) Danau Toba (1) Data Base (1) Demo Bingung (1) Demo Gagal (1) Demo Mahasiswa (1) Demo Nanonano (1) Demokrasi Indonesia (1) Deretan Jenderal (1) Dewan Keamanan PBB (1) Digital Divelovement (1) Dosa Kolektif (1) Dubes Indonesia (1) Ekologi (1) Extrimis (1) FBR Jokowi (1) Faham Khilafah (1) Filistinisme (1) Filosofi Jawa (1) Fund Manager (1) G30S/PKI (1) GPS Tiongkok (1) Gagal Faham (1) Gaji Direksi (1) Gaji Komisaris (1) Gaya Baru (1) Gelagat Mafia (1) Geografi (1) Gerakan (1) Gerakan Bawah Tanah (1) Gibran (1) Grace Natalie (1) Gubernur Jateng (1) Gus Nuril (1) Gusti Ora Sare (1) HTI Penunggang (1) Hadiah Tahun Baru (1) Hari Musik Nasional (1) Hiburan (1) Hukuman Mati (1) Hypnowriting (1) Identitas Nusantara (1) Illegal Bisnis (1) Ilmu Pengetahuan (1) Ilusi Identitas (1) Imperialisme Arab (1) Indonesia Berduka (1) Indonesia Damai (1) Indonesia Hebat (1) Injil Minang (1) Intermezzo (1) Internet (1) Intoleransi (1) Investor Asing (1) Islam Nusangtara (1) Istana Bogor (1) Isu Agama (1) Isu Politik (1) J Marsello Ginting (1) Jadi Menteri (1) Jalur Gaza (1) Jangan Surahkan Indonesia (1) Jembatan Udara (1) Jenderal Moeldoko (1) Jenderal Team Jkw (1) Jilid Milenial (1) Jiplak (1) Jokowi 3 Periode (1) Jokowi Peduli (1) Jualan Agama (1) Jurus Pemerintah (1) Jusuf Kalla (1) Kadrun (1) Kambing Hitam (1) Kampus Terpapar Radikalisme (1) Kasus BUMN (1) Kasus Keluarga (1) Kebusukan Hati (1) Kecelakaan (1) Kehilangan Tuhan (1) Kehilangan WNI (1) Kekuasaan (1) Kekuatan China (1) Kemengan Jokowi (1) Kena Efisensi (1) Kepribadian (1) Keputusan Pemerintah (1) Kerusuhan 22 Mei (1) Kesaksian Politikus (1) Keseahatan (1) Ketum PSI (1) Kitab Suci (1) Kode Etik (1) Komnas HAM (1) Komunis (1) Konglomerat Pendukung (1) Kopi (1) Kota Bunga (1) Kota Misteri (1) Kota Modern (1) Kota Zek (1) Kredit Macet (1) Kuliah Uamum (1) Kunjungan Jokowi (1) Kurang Etis (1) LPAI (1) Lagu Utk Jokowi (1) Lahan Basah (1) Larangan Berkampanye (1) Larangan Pakaian (1) Lawan Rasa Takut (1) Leadership (1) Legaci Jokowi (1) Lindungi Jokowi (1) Lintas Dinamika (1) Luar Biasa (1) MPG (1) Mabok Agama (1) Mafia Ekonomi (1) Mafia Tanah (1) Mahakarya (1) Mahkamah Agung (1) Manfaat Vaksin (1) Mari Tertawa (1) Masa Kampanye (1) Masalah BUMN (1) Matematika (1) Membunuh Sains (1) Mempengaruhi Musuh (1) Mempengaruhi Orang (1) Mendisplinkan Siswa (1) Mengharukan (1) Menghasut Pemerintah (1) Menghina Lambang Negara (1) Mengulas Fakta (1) Menjaga Indonesia (1) Menjaga Jokowi (1) Menjelang Pemilu (1) Menjlang Pelantikan (1) Menko Polhukam (1) Menteri (1) Menteri Agama (1) Menteri Sosial (1) Menydihkan (1) Mesin Pembantai (1) Minuman Keras (1) Model Tulisan (1) Muhamad Ginting (1) Mumanistik (1) Muslim Prancis (1) Musu RI (1) Musuh Dlm Selimut (1) Obat Tradisional (1) Oligarki (1) Omnibus Law (1) Oramas Terlarang (1) Orang Baik (1) Orang Beragama (1) Orang Bodoh (1) Orang Kaya (1) Ormas Islam (1) Otak Kebalik (1) Overdosis Haram (1) PHK dan Buruh (1) Palestina (1) Panduan (1) Pantau Jakarta (1) Para Makar (1) Parawisata (1) Partai Baru (1) Partai Komunis (1) Pasar Murah (1) Pelarian (1) Pembayaran Utang Negara (1) Pembela Rakyat (1) Pembumian Pancasila (1) Pemerintahan Jayabaya (1) Pemilihan Presiden (1) Pemprov DKI (1) Pencerahan (1) Pencucian Uang (1) Pendukung Lain (1) Penebaran Virus so (1) Pengacau Negara (1) Pengalaman (1) Pengangguran (1) Pengaruh (1) Pengertian Istilah (1) Pengertian Otoritas (1) Penggulingan Rezim (1) Penghianat Bangsa (1) Pengobatan (1) People Power (1) Perang Dunia III (1) Perangi Tetroriis (1) Peraturan (1) Perayaan Natal (1) Percobaan (1) Perguruan Tinggi (1) Peringatan Keras (1) Peristiwa Mei 1998 (1) Pernikahan (1) Pernyataan ISKA (1) Pertamina (1) Pertemuan Politik (1) Pesan Gus Nuril (1) Pesan Habib (1) Peta Politik (1) Pidato Prisiden RI (1) Pil Pahit Srilanka (1) Pilkada 2018 (1) Pilkada Solo (1) Pilpres Curang (1) Pimpinan MPR (1) Politik Agama (1) Politik Catur Jkw (1) Politik Kepentingan (1) Politik LN (1) Politik Uang (1) Politikus (1) Pollitik (1) Profesional (1) Propaganda (1) Propaganda Firehose (1) Psikoanalisa (1) Psikologi Praktis (1) Puisi (1) Pulau Terindah (1) Quick Count (1) RUU Kadrun (1) Raja Bonar (1) Raja Debat (1) Raksasa (1) Rakyat Kecil (1) Realita Politik (1) Rekam Jejak (1) Rekapitulasi DPS (1) Reklamasi Pulau (1) Relawan Jokowi (1) Remix Sunda (1) Rendah Hati (1) Reungan Politik (1) Rhenald Kasali (1) Risma (1) Ruhut P Sitompul (1) Saksi Yehuwa (1) Sangat Canggih (1) Scandal BLBI (1) Seharah Pers (1) Sehat Penting (1) Sejarah Politik (1) Sekilas Info (1) Selamat Imlek (1) Sembuhkan Jiwasraya (1) Seni (1) Seniman Bambu (1) Shanzhai (1) Sidak Harga (1) Sidang MPR (1) Sigmun Freud (1) Silaturahmi (1) Sistem Informasi (1) Skema Kerusuhan (1) Skenario 22 Mei (1) Skenario Demonstrans (1) Skripsi (1) Soekarno (1) Stasiun KA (1) Suku Minang (1) Sumber Inspirasi (1) Super Power (1) Superkarya (1) Syirianisasi (1) System Informasi (1) TKA Siapa Takut (1) Tahun Kampret (1) Taliban (1) Tanda Kehormatan (1) Tanda Zaman (1) Tanggapan Atas Pidato (1) Tanya Jawab (1) Tebang Pilih (1) Teori Kepribadian (1) Terkaya Indonesia (1) Terorisme (1) Terrorisme (1) Tidak Becus Kerja (1) Tindakan Makar (1) Tingkat Kemiskinan (1) Tinjauan Filsafat (1) Tips dan Trik (1) Toleransi Identitas (1) Travelling (1) Tuan Rumah (1) Tukang Kayu (1) UU Cipta Kerja (1) Ucapan Gong Xi Fat Choi (1) Ulama Bogor (1) Ulasan Berita (1) Ulasan Suriah (1) Ustadz Bangsa (1) Via Vallen (1) Virus Covid-15 (1) Wajib Baca (1) Wakil Tuhan (1) Wali Kota (1) Wanita Kartini (1) Wewenang (1) Yusril Blakblakan (1)